• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.2 Tinjauan Teoritis .1 Zikir .1 Zikir

2.2.2 Tarekat Khalwatiyah

Secara bahasa tarekat berarti jalan yang ditempu seorang alim yang mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau “sufisme” dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan “haqiqah” atau kebenaran sejati, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penuntut ilmu agama akan melalui pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau duniawi Islam, dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk “tariqah”. Dengan demikian tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi.

Tarekat adalah suatu cara mendidik secara sederhana (jumlah murid sangat terbatas) kemudian diangkat menjadi kelompok keluarga yang menganut satu ajaran sufi yang sefaham dan sealiran guru memudahkan menerima ajaran dan melakukan latihan dari pimpinannya dalam suatu perkumpulan.33

Dalam sejarah perkembangan tarekat yang ada di Indonesia bermunculan berbagai macam jenis dan aliran tarekat yang menjadi sumber penyebaran Islam yang ada di Nusantara adapun diantaranya, tarekat Qadariyah yang didirikan oleh Abd al-Qadir Jailani, tarekat Syadziliyah oleh Abu al-Hasan al-Syadzili, tarekat Naqsabandiyah oleh Muhammad bin Muhammad Baha’ al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsabandi, tarekat Khalwatiyah, tarekat Syattariyyah, dan tarekat Sammaniyah

32Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tejemahnya, h. 518.

33Salamattang, Tarekat Khalwatiah “Samman”, h. 4.

yang di dirikan oleh Muhammad bin ‘Abd al-Karim al-Madani al-Syafi’i al-Samman.

Dengan demikian penulis akan membahas mengenai tarekat Khalwatiyah.

Khalwatiyah adalah nama sebuah aliran tarekat yang berkembang di Mesir.

Pada umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat yang bersangkutan, seperti Qadariyah dari Syekh Qadir al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Udding Naqsyaband. Bahkan dalam tarekat Khalwatiyah diambil dari kata

Khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung di tempat yang sepi atau sunyi.

Hal ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Samman al-Khalwati sang pendiri tarekat Khalwatiyah melakukan khalwat (merenung) di tempat- tempat sunyi.34

Berdasarkan uraian diatas maka penulis dapat menyatakan bahwa tarekat aalah suatu jalan yang ditempuh oleh para sufi, dengan cara beramal yang diajarkan secara turun temurun berawal dari nabi kemudian ke sahabat kemudian tabiin, hingga sampai kepada murid dan mengikat kepada suatu mazhab tertentu yang pada dasarnya menjalankan sunnah Rasulullah. Tarekat dapat juga diartikan sebagai suatu cara untuk mensucikan diri dari sifat-sifat yang tercela kemudian digantikan dengan sifat-sifat yang terpuji.

Tarekat Khalwatiyah terbagi atas dua golongan, yang pertama tarekat Khalwatiyah Yusuf dan kedua tarekat Khalwatiyah Samman. Tarekat Khalwatiyah Yusuf disandarkan kepada Syaikh Yusuf al-Makassari dan tarekat Khalwatiyah Samman diambil dari nama seorang sufi Madinah abad ke-18 Muhammad Samman.

Perbedaan keduanya secara garis besar, sebagai berikut:

1. Tarekat Khalwatiyah Samman melakukan zikir dan wiridnya dengan (jahr) suara keras dan ekstatik. Sedangkan tarekat Khalwatiyah Yusuf dalam berdzikir

34Tamsir T, Zikir (Maddate’) dan Implementasinya (Tarekat Khalwatiyah Samman Dusun Cempa Desa Betao Riase Kecematan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap), (Makassar, 2017).

mewiridkan nama- nama Tuhan dan kalimat- kalimat secara singkat dan secara sirr (dalam hati)

2. Khalwatiyah Samman sangat sentralistik, semua guru (mursyd) tunduk di bawah satu komando yang berpusat di Kabupaten Maros, sedangkan Khalwatiyah Yusuf tidak memiliki otoritas sentral, bahkan keturunan Syekh Yusuf sendiri tidak memiliki otoritas terhadap para pengikutnya.

3. Cabang-cabang lokal Khalwatiyah Samman pada umumnya memiliki tempat peribadatan tersendiri, misalnya mushallah atau langgar, sedangkan Khalwatiyah Syekh Yusuf tidak memiliki tempat peribadatan khusus, melainkan bercampur dengan yang lain meskipun bukan anggota tarekat.

4. Khalwatiyah Samman lebih merakyat baik dalam hal gaya maupun komposisi, sebagian besar pengikut tarekat Khalwatiyah Samman orang desa, sedangkan Khalwatiyah Yusuf berasal dari kalangan bangwasan Makassar termasuk penguasa kerajaan Gowa.35

Tarekat Khalwatiyah, sebuah tarekat biasanya terdiri dari:

1. Latihan rohani (penyucian batin)

2. Kehidupan kelompok (kekeluargaan tarekat) 3. Upacara keagamaan

4. Kesadaran sosial.36

Yang dimaksud dengan latihan ruhani adalah usaha penyucian jiwa hidup zuhud, menghilangkan sifat-sifat jelek yang menyebabkan dosa dan mengisi dengan sifat-sifat terpuji, taat menjalankan perintah agama, menjauhi larangan-larangannya.

35Hamka, Menelusuri Jejak Khalwatiyah di Toli-Toli Sulawesi Tengah, (Yogyakarta:

Rausyan Fiqr, 2014), h. 5-6.

36Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, h. 129.

Kekeluargaan tarekat biasanya terdiri dari Syaikh Tarekat, Syaikh Mursyid (khalifahnya, wakilnya), mursyid sebagai guru tarekat dan murid sebagai pengikut tarekat, serta ribath (zawiyah) tempat latihan, kitab-kitab, sistem dan metode zikir.

Upacara keagamaan bisa berupa baiat, ijazah atau khirqah, silsilah, latihan amal-amal tarekat, talqin, wasiat yang diberikan dan dilatihkan dari seorang syaikh tarekat kepada murid-muridnya.37

Dalam tarekat ada dua macam anggota:

a. Anggota yang hanya mengambil tarekat. Sesudah dibaiat, mengambil sumpah setia kepada mursyid, diharuskan melaksankan dzikir qalbi (menyebut kalimat la ilah illa Allah) setiap hari sebanyak 300 kali, maka ia sudah terikat dengan aturan-aturan dan adab tarekat.

b. Anggota yang mengambil tarekat dan melaksanakan suluk. Selain terikat dengan aturan-aturan anggota tarekat, ia juga harus melaksanakan suluk, yaitu ber- khalwat (mengasingkan diri) untuk berzikir selama 10,20, atau 40 hari.38

Dalam tarekat Khalwatiyah zikir yang diajarkan ada tiga macam ditambah satu zikir khusus.

1. Zikir la ilaha illa Allah yang disebut zikir nafi itsbat: la ilaha sebagai yang dinafikan atau ditiadakan dan illah Allah sebagai itsbat-nya atau penegasan yang merupakan satu-satunya yang abadi. Zikir ini biasanya diberikan pada murid yang berada pada tingkat permulaan dengan latihan zikirnya sebanyak 10-100 kali setiap hari. Bisa ditambah menjadi 300 kali setiap hari apabila tingkatnya atau maqam-nya sudah lebih tinggi.

37Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, h. 130.

38Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, h. 130.

2. Zikir Allah-Allah yang disebut zikir ismu al-jalalah. Zikir ini biasanya diajarkan pada murid yang telah mencapai tingkat khusus. Zikir dilakukan antara 40, 101, atau 300 kali setiap hari.

3. Zikir Huwa-huwa yang disebut zikir ismu dhamir. Zikir ini diberikan kepada murid yang telah mencapai tingkat tinggi atau yang sudah menjadi mursyid atau guru. Jumlah latihan dzikirnya antara 100-700 kali setiap hari. Biasanya sebanyak 300 kali setiap hari. Ditambah satu zikir khusus yakni, zikir Ah-ah.

Zikir ini hanya diberikan kepada murid yang telah menjadi mursyid atau guru yang sudah mencapai maqam atau tingkat tertinggi dan tidak diragukan lagi keilmuannya karena diketahui sudah ma’rifatullah (mengenal Allah). Jumlah zikirnya wajib 100-700 kali setiap hari.39

Zikir yang dilakukan oleh penganut tarekat Khalwatiyah Samman adalah dengan menghadap kiblat, kaki dilipat kebelakang dan duduk di atas dua lutut, kosong daripada segala pengaruh duniawi dan berpegang teguh kepada syariat Allah swt. dengan demikian para pengikut diharapkan untuk fokus dalam melakukan zikir agar terhindar dari hal-hal yang tercela.

Pelaksanaan zikir (maddate’) yang dilakukan oleh tarekat Khalwatiyah dikerjakan pada saat malam hari setelah sholat Isya dan setiap subuh setelah melakukan shalat fardhu. Melakukan zikir (maddate’) setiap malam dan subuh merupakan keharusan yang dilakukan kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah serta sebagai introfeksi diri terhadap kesalahan yang di perbuat dalam sehari sehingga pelaksanaannya seseorang betul-betul menyadari segala kesalahan

39Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, h.135.

dan mengharap pengampunan dari Allah untuk mengangkat derajat mereka dan membersihkan mereka dari segala pengaruh duniawi.40

Tarekat Khalwatiyah dalam melakukan zikir disertai dengan gerakan-gerakan khusus. Seperti gerakan ratib yang dimaksud seperti gerakan kepala, sikap, serta tarikan nafas pada saat melakukan zikir;

a. Sikap duduk seperti duduk diantara dua sujud ketika sholat dan menghadap kiblat,

b. Ketika mengucapkan la nafas ditarik dari pusat ke atas tanpa dibatasi harus sampai mana, ditandai dengan gerakan kepala ke arah pundak kanan, sejajar lurus mengikuti nafas, ke arah pundak kiri dengan menahan nafas,

c. Ketika mengucapkan ilaha’ kepala bergerak dari pundak kiri ke pundak kanan dan tetap menahan nafas,

d. Ketika mengucapkan illa kepala bergerak dari pundak kiri ke pundak kanan menuju ke pusat (ulu hati),

e. Ketika mengucapkan Allah gerakan kepala dibantingkan dengan nafas terhunjam ke tempat sanubari yang terletak tiga jari di bawah rusuk.41

Dengan demikan zikir yang dilakukan oleh penganut tarekat Khalwatiyah Samman adalah dengan menghadap kiblat, kaki dilipat kebelakang dan duduk di atas dua lutut, kosong daripada segala pengaruh duniawi dan berpegang teguh kepada syariat Allah swt. dengan demikian para pengikut diharapkan untuk fokus dalam melakukan zikir agar terhindar dari hal-hal yang tercela.

Dokumen terkait