• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PRAKTIK LELANG BARANG GADAI JATUH

B. Sistem Lelang Barang Gadai Jatuh Tempo Di Pegadaian

1. Tata Cara Melakukan Transaksi di Pegadaian Syariah

dnegan cara sebagai berikut:

a. Proses gadai

1) Nasabah datang ke pegadaian dengan membawa persayaratn yang telah ditentukan, seperti; fotokopi KTP dan marhun (barang yang dijadikan jaminan gadai).

2) Nasabah mengisi form permohonan gadai yang disediakan oleh pegadaian/SBG (Surat Bukti Gadai)

3) Marhun dari nasabah akan ditaksir oleh penaksir atau petugas pegadaian.

4) Marhun bih diserahkan kepada nasabah melalui transfer ataupun cash.

36Ibid

26 b. Proses penebusan obyek gadai

1) Nasabah datang ke pegadain dengan membawa KTP asli dan Surat Bukti Gadai (SBR)

2) Diserahkan kepada kasir dan melakukan pembayaran 3) Kemudian barang jaminan diserahkan kepada nasabah.37 2. Jangka waktu yang diberikan oleh pihak pegadain untuk nasabah

bisa menebus/melunasi utangnya.

Dalam Surat Bukti Gadai telah diterangkan bahwa pegadaian memberi waktu selama 4 bulan / 120 hari dan akan diberi kelonggaran selama 1 minggu agar nasabah bisa melunasi utangnya.38

3. Tindakan pegadaian jika nasabah belum melunasi utangnya/pada saat barang jaminan gadai jatuh tempo.

Setiap perjanjiannya sudah tertuang di surat bukti gadai, jika sampai waktu yang telah ditentukan, nasabah tidak melunasi hutangnya maka pihak pegadaian melakukan penjualan/pelelangan terhadap barang jaminan nasabah untuk membayar utang- utangnya. Namun, sebelum melakukan pelelangan pihak pegadaian melakukan beberapa upaya diantaranya:

a. 1 minggu sebelum tanggal jatuh tempo, pegadaian memberikan peringatan pada nasabah bahwa masa gadai barang jaminannya akan berakhir.

b. Apabila telah jatuh tempo, barang jaminan tidak langsung dilelang, pihak pegadaian akan memberitahukan kepada nasabah secara lisan melalui telepon, memberikan surat peringatan secara tertulis, dan meminta nasabah untuk datang kekantor agar di bicarakan dan mencari solusi, apakah barang jaminan akan di gadai ulang, menebus, atau menjual/melelangnya (dilelang oleh pegadaian/dilelang oleh nasabah sendiri).

c. Jika sampai pada waktu yang telah ditentukan dan nasabah melunasi utangnya, maka terpaksa pegadaian akan melelang

37Alamsyah, Wawancara, (Kasir Pegadaian Syariah Bima), Bima, 10 Juni 2022

38Ibid.

27

barang jaminan tersebut untuk membayar utangnya termasuk biaya penyimpanan dan pemeliharaan.39

4. Praktik prosedur penetapan harga lelang.

a. Melihat harga dasar lelang

Pihak Pegadaian Syariah Bima melakukan survei ke harga pasar setempat dan harga pasar pusat untuk mengetahui berapa harga barang dipasar tersebut, setelah melakukan survey pihak pegadaian melakukan taksiran ulang dan menetapkan harga lelang.

b. Melakukan taksiran ulang

Ini dilakukan pihak pegadaian syariah untuk mengetahui berapa harga yang akan diberikan kepada pembeli lelang.

c. Mengupayakan penjualan lelang setinggi-tingginya

Dikarenakan pihak pegadaian melakukan penjualan lelang yang setinggi-tingginya dimana hal tersebut untuk melindungi nasabah dari kerugian karena barang jaminan nasabah sudah dilelang.40

5. Posedur pelaksanaan lelang barang jaminan gadai di Pegadaian Syariah Bima.

a. Menetapkan tanggal pelaksanaan lelang (ditentukan oleh pimpinan wilayah berdasarkan usulan dari manager cabang) b. Memperhatikan barang, mempengaruhi calon pembeli,

menetapkan harga akhir dan penyerahan barang c. Harga lelang ditetapkan pada saat pelelangan

d. Hasil penjualan digunakan untuk menutup uang pokok pinjaman ditambah jasa penyimpanan dan biaya pelanggan.41 6. Penggunaan hasil lelang barang jaminan jika ada kelebihan dan

yang bertanggungjawab atas kekuranagn nilai lelang barang jaminan.

Jika harga lelang lebih besar daripada harga dasar gadai, maka kelebihannya akan di kembalikan kepada nasabah.

39Ibid.

40Akbar Satryantho, Wawancara, (Pengelola Unit Pegadaian Syariah Bima), 22 Juni 2022.

41Ibid.

28

Apabila harga lelang lebih kecil dari harga dasar gadai, dan hasilnya tidak cukup untuk melunasi hutang nasabah, maka pihak pegadaian bertanggungjawab penuh atas kerugian tersebut.42

Data dari nasabah diantaranya menjelaskan bahwa:

1. Faktor yang menyebabkan barang jaminan dilelang adalah:

a. Kesengajaan nasabah tidak mau menebus barang jaminan gadai dan dilepas saja, karena belum ada uang untuk menebus atau memperpanjangnya.

b. Kekeliruan nasabah dalam menghitung masa gadainya, nasabah lupa cek surat gadai. Setelah nasabah melihat surat gadai ternyata masa gadai barang jaminannya sudah lama berakhir, kemudian nasabah mendatangi kantor pegadaian untuk menanyakan barang jaminannya ternyata sudah dilelang.

c. Nasabah tidak mampu menebus barang jaminannya dan memperpanjang masa gadainya, jadi nasabah meminta kepada pihak pegadaian untuk dilelang saja barang jaminannya.43 2. Jenis barang jaminan gadai yang dilelang, data dilapangan

perhiasan berupa

a. 2 gram emas berupa cincin b. 3,5 gram emas berupa gelang.

c. 2 gram emas berupa cincin.44

3. Upaya yang telah dilakukan oleh pihak pegadain sebelum melelang barang jaminan.

a. Memberi informasi pada nasabah melalui via sms/telpon, tapi nasabah tidak menghiraukan karena nasabah berniat untuk melelang saja barang jaminannya.

b. Nasabah tidak mendapatkan informasi mengenai pelelangan barang jaminannya. Setelah nasabah mendatangi kantor pegadaian, nasabah diberikan bukti bahwa pihak pegadaian mengirimi pesan melalui sms, namun nomor tersebut tidak gunakan lagi sehingga nasaha tidak mendapatkan informasi bahwa barang jaminannya telah jatuh tempo.

42Ibid.

43Sita, Wawancara, (Nasabah), 15 Juni 2022.

44Fatimah, Wawancara, (Nasabah), Bima, 20 Juni 2022.

29

c. Pihak pegadaian menelpon ke nasabah dan memberitahu nasabah untuk menebus atau memperpanjang masa gadai.

Namun nasabah meminta kepada pihak pegadaian untuk dilelang saja barang jaminan tersebut, karena nasabah belum bisa memperpanjang dan menebusnya.45

45Aini, Wawancara, (Nasabah), Bima 22 Juni 2022.

30 BAB III

ANALISIS PRAKTIK LELANG BARANG GADAI JATUH TEMPO DI PEGADAIAN SYARIAH BIMA BERDASARKAN TINJAUAN HUKUM EKONOMI

SYARIAH

A. Analisis Pelaksanaan Lelang Barang Gadai Jatuh Tempo Di Pegadaian Syariah Bima

1. Analisis Rukun Syarat Lelang Jaminan Barang Gadai

Lelang merupakan salah satu upaya eksekusi terhadap barang jaminan gadai yang juga dilakukan oleh pegadain syariah. Hal tersebut merupakan upaya terakhir yang dilakukan oleh pegadaian syariah apabila nasabahnya tidak dapat melunasi hutangnya.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Alamsyah selaku Kasir Pegadaian Syariah Bima, beliau mengatakan:

Adapun rukun syarat lelang diantaranya; terdapat objek barang yang dilelangkan, barang jaminan bukan merupakan barang terlarang yang mengandung mudharat. Peserta maupun pejabat lelang tentunya orang yang sudah baligh dan berakal.46

Berdasarkan diatas dijelaskan bahwa dalam melakukan pelelangan harus ada objek/barang yang dilelangkan dan dilengkapi dengan bukti kepemilikan. Barang-barang yang dijadikan sebagai objek jaminan ialah memiliki manfaat atau dapat diperjualbelikan, bukan merupakan barang terlarang seperti narkoba sehingga membatalkan suatu akad. Pejabat lelang maupun peserta lelang merupakan orang-orang yang telah dikatakan cakap hukum atau bisa dikatakan mereka adalah orang-orang cakap hukum.

Berdasarkan fakta yang terjadi dilapangan, pejabat lelang merupakan orang yang sudah masuk dalam usia dewasa, tentunya memiliki akal dan memiliki kecakapan akan

46Alamsyah, Wawancara, (Kasir Pegadaian Syariah Bima), Bima, 10 Juni 2022.

31

hukum. Begitu juga dengan peserta lelang, orang dewasa yang sudah baligh dan berakal.

2. Analisis Prosedur Pelaksanaan Lelang Barang Jaminan Gadai Salah satu pegadaian syariah yang melakukan lelang barang jaminan gadai gadai yaitu Pegadaian Syariah Bima.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Alamsyah selaku kasir Pegadaian Syariah Bima, beliau mengatakan:

Adapun prosedur pelaksanaan lelang barang gadai jatuh tempo di Pegadaian Syariah Bima yaitu: pertama yang dilakukan oleh pihak pegadaian adalah menetapkan tanggal pelaksanaan lelang. Tanggal pelaksanaan lelang ditentukan oleh pimpinan wilayah berdasarkan usulan dari manager cabang. Minimal dua bulan sebelum tahun anggaran berakhir, manager cabang harus mengusulkan rencana tanggal lelang untuk tanggal akad pinjaman tahun anggaran berikutnya.

Setelah tanggal pelaksanaan lelang ditetapkan, langakah selanjutnya dalam prosedur pelelangan barang jaminan gadai dipegadaian syariah Bima diantaranya meliputi cara memperlihatkan barang, mempengaruhi calon pembeli, cara menetapkan harga akhir, cara melaksanakan ijab qabul dan penyerahan barang.47

Sebelum transaksi lelang terjadi pihak pegadaian akan menentukan harga lelang. Sesuai dengan data yang diperoleh, berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Akbar Satryantho selaku pengelola unit pegadaian syariah bima mengatakan:

“Menentukan harga dalam proses lelang barang gadai di pegadaian syariah harganya harus menuju pada keadilan yang tidak menimbulkan penindas kepada

47Ibid

32

pihak nasbaah dimana pihak pegadaian melakukan terlebih dahulu survey kepasar setempat dan harga pasar pusat. Konsep harga dalam sistem lelang mengacu pada harga pusat sedangakan proses penetapan harga dilakukan oleh juru lelang yaitu pihak pegadaian syariah”. Dan adapun mekanisme menetapan harga lelang barang gadai yang digunakan pihak pegadaian adalah sebagai berikut:

a. Melihat dari harga dasar lelang

Pihak pegadaian syariah Bima melakukan survei ke harga pasar setempat dan harga pasar pusat untuk mengetahui berapa harga barang dipasar tersebut, setelah melakukan survei baru pihak pegadaian melakukan taksiran ulang dan penetapan harga lelang.

b. Melakukan taksiran ulang

dilakukan pihak pegadaian syariah untuk mengetahui berapa harga yang akan diberikan kepada pembeli lelang.

c. Mengupayakan penjualan lelang setinggi-tingginya Dikarenakan pihak pegadaian melakukan

penjualan lelang yang setinggi-tingginya dimana hal tersebut untuk melindungu nasbaah dari kerugian karena barang jaminan nasabha sudah dilelang.48

Berdasarkan hasil wawancara diatas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa dalam menetapkan harga lelang barang gadai jatuh tempo yang harus diperhatikan adalah melihat harga pasar lelang, melakukan taksir ulang, mengupayakan penjualan yang setinggi-tingginya dengan tujuan untuk melindungi nasabah dari kerugian karena barang jaminannya sudah dilelang.

48Akbar Satryantho, Wawancara, (Pengelola Unit Pegadaian Syariah Bima), Bima, 22 Juni 2022.

33

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Akbar Satryantho selaku Pengelola unit pegadaian syariah bima, beliau mengatakan:

Pelelangan barang jaminan gadai bertujuan untuk melindungi nasabah dan juga pihak pegadaian dari kerugian. Jika hasil penjualan marhun tidak cukup untuk melunasi hutang rahin, maka murtahin akan menanggung kerugian dan apabila hasil penjualan marhun lebih besar dari harga dasar gadai, maka sisanya akan dikembalikan kepada rahin.49

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti menyimpulkan bahwa kerugian yang dialami jika harga lelang tidak menutupi hutang nasabah akan ditanggung oleh pihak pegadain, itulah sebabnya dalam mekanisme pelelangan itu diupayakan penjualan yang setinggi-tingginya untuk menghindari kerugian yang dialami oleh pegadaian maupun nasabah. Namun apabila harga lelang lebih besar dari harga dasar gadai, maka sisanya akan dikembalikan kepada nasabah.

3. Analisis Waktu/Masa Jatuh Tempo Barang Jaminan Gadai Adanya kredit gadai merupakan salah satu kredit yang diberikan oleh pegadaian dalam jangka waktu tertentu dengan barang jaminan. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan oleh pegadaian, rahin tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam menebus barang jaminan, maka pegadaian wajib menjual atau melelang barang jaminan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Alamsyah selaku kasir Pegadaian Syariah Bima, mengatakan:

“Rahin dalam menggadaikan barangnya telah diberikan jangka waktu untuk melunasi hutangnya agar dapat menebus barangnya selama 4 bulan (120 hari). Selain itu juga diberi masa tenggang atau perpanjangan waktu selama 1 minggu, apabila dalam waktu demikian rahin tidak mampu untuk melunasi hutangnya dan menebus

49Ibid.

34

barang jaminannya maka barang tersebut akan dilelang.50

Berdasarkan diatas dijelaskan jika dalam peringatan kepada nasabah, baik berupa melunasi, memperpanjang masa tenggang maupun gadai ulang, maka pihak pegadaian dengan berat hati akan melakukan eksekusi barang jaminan atau melelang barang jaminan.

4. Analisis Jenis Barang Jaminan Yang Dilelang

Barang yang dijadikan sebagai jaminan gadai harus memiliki nilai dan dapat diperjualbelikan, sesuai dengan data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Alamsyah selaku Kasir di Pegadaian Syariah Bima mengatakan:

Ada banyak produk yang ditawarkan oleh pegadaian, tapi dilihat dari keadaan masyarakat yang lebih memilik menginvestasikan hartanya dengan membeli dan mengoleksi perhiasan dalam bentuk emas. Jadi barang yang dijadikan sebagai jaminan gadai itu kebanyakan emas dan tentu saja barang yang sering dilelang juga merupakan perhiasan dalam bentuk emas juga.51

Dilihat dari data diatas bahwa masyarakat sekitar lebih banyak bahkan hampir semua masyarakat yang melakukan transaksi di pegadaian syariah bima mereka menjadikan jaminannya utangnya berupa emas, karena masyarakat sekitar berpikir bahwa selain dijadikan untuk menyimpan uang, emas juga bisa digunakan untuk bergaya dan dijadikan perhiasan.

5. Pemberitahuan Kepada Nasabah Sebelum Barang Jaminan Dilelang

Meskipun waktu/masa gadai akan segera berakhir, pihak pegadaian tidak langsung melelang barang jaminan milik nasabah. Sesuai dengan data yang diperoleh, berdasarkan hasil

50Alamsyah, Wawancara, (Kasir Pegadaian Syariah Bima), Bima, 10 Juni 2022.

51Ibid.

35

wawancara dengan Bapak Alamsyah selaku Kasir Pegadaian Syariah Bima, mengatakan:

1 minggu sebelum pelelangan dilakukan, pihak pegadaian akan memberitahukan kepada rahin bahwa barang jaminanya akan dilelang. Dalam memberi tahu pihak nasabah kalau barang gadai sudah jatuh tempo, petugas akan menyampaikan dengan semaksimal mungkin kepada nasabah yaitu dengan pemberitahuan melalui via sms/wa, jika nasabah tidak menanggapi maka petugas akan menghubungi lewat telpon. Jika masih belum ada tanggapan dari pihak nasabah petugas akan mengirimkan surat kemudian petugas akan mendatangi rumah nasabah apabila masih dalam jangkauan untuk melakukan negosiasi mencari solusi alternatif dari maslaah tersebut apakah barang jaminan akan ditebus atau diperpanjang. Apabila masih belum ditanggapi oleh nasabah dengan terpaksa petugas akan melelang barang yang menjadi jaminan gadai tersebut”.52

Berdasarkan di atas dijelaskan bahwa pihak pegadaian sudah mencoba sebaik mungkin dalam memberitahukan kepada pihak nasabah jika barang jaminannya sudah jatuh tempo baik melalui via sms, telepon, dll. Jika dalam peringatan kepada nasabah yang dilakukan oleh pegadaian belum ada respon yang baik oleh nasabah, baik berupa melunasi, memperpanjang masa tenggang maupun gadai ulang, maka pihak pegadaian dengan berat hati akan melakukan eksekusi barang jaminan atau melelang barang jaminan. Maka pihak pegadaian akan mengumumkan pelaksanaan lelang tersebut agar nasabah masih bisa berkesempatan untuk memiliki barang jaminan tersebut.

Namun berbeda dengan pendapat nasabah yang barang jaminannya dilelang. Pihak pegadaian tidak sepenuhnya melaksanakan berbagai upaya penginformasian kepada nasabah terkait pelelangan barang jaminan milik nasabah.

52Ibid.

36

B. Analisis Hukum Lelang Barang Gadai Jatuh Tempo di Pegadaian Syariah Bima Berdasarkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah

1. Analisis Syarat Lelang di Pegadaian Syariah Bima Berdasarkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah

Para ulama sepakat bahwa suatu jual beli sah apabila akad tersebut belum memenuhi rukun dan syarat yang berlaku. Dan suatu akad yang belum memenuhi syarat dan rukunnya belum memiliki kekuatan hukum yang mengikat antara pihak dari penjual dan pembeli dalam suatu transaksi jual beli atau dalam transaksi lainnya. Setiap orang yang melakukan perbuatan dalam keadaan sehat akal dan bebas menentukan pilihan pasti memiliki tujuan tertentu yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan. Tujuan dari akad merupakan memperoleh tempat penting untuk mennetukan apabila suatu akad sipandang sah atau tidak, dan dipandang halal atau haram.

Ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal tersebut adalah dalam firman Allah SWT surat Al-Baqarah ayat 280.53































Artinya: “Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, amka berilah tangguh sampai sia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui,...”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersabar terhadap orang yang berada dalam kesulitan, dimana orang tersebut belum bias melunasi hutangnya. Memberi tenggat waktu terhadap orang yang dalam keadaan kesulitan adalah wajib, tetapi jika ingin membebaskan hutangnya maka hukumnya sunnah. Orang yang berhati baik seperti inilah yang akan mendapatkan kebaikan dan pahala

53QS. Al-Baqarah 2:280

37

yang melimpah. Begitupun dalam hadis yang disebutkan keutamaan orang yang memberi tenggat waktu bagi orang yang sulit melunasi hutangnya.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “barang siapa yang memberi tenggat waktu bagi orang yang berada dalam kesulitan untuk melunasi hutangnya atau bahkan membebaskan hutangnya maka dia akan mendapatkan naungan Allah (HR.

Muslim No.3006).

2. Analisis Prosedur Lelang di Pegadaian Syariah Bima Berdasarkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah

Hasil penelitian dalam pembahasan ini telah dijelaskan dipaparkan dalam proses pelaksanaan pelelangan barang jaminan gadai pada Pegadaian Syariah Bima masih tetap menggunakan sumber-sumber Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini bertujuan untuk menghindari praktek-praktek yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan kecurangan- kecurangan yang ada. Serta menghindari kelalaian dalam sistem operasional dan pelayanannya yang mengakibatkan kerugian pada rahin, sehingga dalam hal ini keseluruhan praktik pada Pegadaian Syariah Bima tersebut tidak menyalahi aturan syariat yang ada, dengan kata lain praktik pelaksanaan pelelangannya telah sesuai dengan ketentuan Hukum Islam.

Hal tersebut didasarkan pada ketiadaan unsur penipuan yang merugikan orang lain, baik dari segi cara memperlihatkan barangnya, maupun proses dari tawar menawar barang. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pelaksanaan lelang, karena rawan dengan penipuan terhadap bentuk barang yang tidak sesuai dengan harganya.

Hasil dari analisis dari pembahasan ini telah dijelaskan dan dipaparkan dalam proses pelaksanaan pelelangan barang jaminan gadai di Pegadaian Syariah bima ini masih tetap menggunakan sumber-sumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Hal ini bertujuan untuk menghindari praktik-praktik yang

38

menimbulkan kerugian bagi masyarakat dan kecurangan yang ada. Serta menghindari kelalaian dalam system operasional dan pelayanannya yang mengakibatkan kerugian pada rahin.

Sehingga dalam hal keseluruhan praktik di Pegadaian Syariah Bima tersebut tidak menyalahi aturan yang ada dalam syariah, dengan kata lain praktik pelaksanaan pelelangannya telah sesuai dengan ketentuan Hukum Islam. Hal tersebut didasarkan pada ketentuan unsur penipuan yang merugikan orang lain, baik dari segi memperlihatkan barangnya, maupyn dari proses tawar menawar barang. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dalam pelaksanaan lelang, karena rawan dengan penipuan terhadap bentuk barang yang tidak sesuai dengan syariah, serta pelaksanaannya meninggalkan dan tidak menggunakan system bunga. Bunga bersifat berlipat ganda dalam jumlah nilainya. Bunga dalam Islam mengandung unsur riba dan riba sangat di haramkan dalam Islam sebab bersifat merugikan.

3. Analisis Masa Gadai di Pegadaian Syariah Bima Berdasarkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah

Dalam praktik di Pegadaian Syariah Bima, ketika rahin tidak mampu untuk melunasi hutangnya atau mengambil barangnya maka pihak pegadaian langsung melelang barang jaminan tersebut. Maka dari pelelangan tersebut sebagai upaya dalam pengembalian uang pinjaman beserta jasa simpan yang tidak ditebus dalam waktu sekian lama, maka penerima gadai berhak untuk menjualnya. Menuurt ulama Malikiyah dan Hanafiah, hakim bisa memaksa walkil rahin untuk menjual marhun. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hambaliyah hakim tidak bias memaksa wakil rahin untuk menjual marhun.

Fatwa Dewan Syariah Nasional memberikan ketentuan apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi hutangnya. Dilihat dari praktiknya, dalam hal ini maka dikatakan Pegadaian Syariah Bima telah sesuai dengan ketentuan fatwa Dewan Syariah Nasional

39

No.25/DSN-MUI/III/20002 dalam hal pemberitahuan tentang jatuh tempo.

Terkait praktik di Pegadaian Syariah Bima ketika rahin tidak lagi mampu untuk melunasi hutangnya ataupun mengambil barangnya maka pihak pegadaian langsung melleang barang jaminan tersebut. Maksud dari penjualan tersebut adalah sebagai upaya dalam pengembalian uang pinjaman beserta jasa simpan yang tidak dapat dilunasi.

Berdasarkan praktiknya kaidah fiqh tentang muamalah yang berkaitan dengan hal tersebut adalah sebagai berikut yang artinya: : ”setiap syarat untuk kemaslahatan akad atau diperlukan oleh akad tersebut maka syarat tersebut diperbolehkan,...”54

Kaidah tersebut dapat diambil kesimpulannya yaitu, bahwa apabila barang gadai yang tidak ditebus dalam waktu sekian bulan, maka penerima gadai berhak menjualnya. Menuurt ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambali, hakim langsung menjualkannya tanpa perlu memkasa wakil rahin untuk menjual marhun. Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional dijelaskan apabila rahin tetap tidak dpaat melunasi hutangnya, maka marhun dijual/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah.

Jika dilihat dari praktiknya dalam hal ini Pegadaian Syariah Bima sudah sesuai dengan kaidah hokum Islam dan sudah sesuai dengan Fatwa Dewan syariah Nasional No. 25/DSN- MUI/III/2002.

Dalam praktiknya di Pegadaian Syariah Bima, memberi waktu gadai selama 4 bulan (120) hari di tambah dengan kelonggaran waktu selama 1 minggu. Sayyid Sabiq tidak menjelaskan secara rinci mengenai berapa waktu yang diberikan oleh penerima gadai kepada penggadai, itu tergantung kesepakatan orang yang melakukan akad gadai. Jadi terdapat perbedaan penetapan waktu masa gadai di Pegadaian Syariah Bima dengan Sayyid Sabiq, bahwa di Pegadaian

54A. Djazuli, Kaidah-Kaidah Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grou, 2010), hlm.137.

40

Syariah Bima sudah ditetapkan bahwa semua orang yang melakukan akad gadai sudah ditetapkan waktu yang sama, namun jika dilihat dari pemikiran Sayyid Sabiq waktunya tidak ditentukan secara merata melainkan tergantung kesepakatan antara orang yang memberi gadai dan orang yang menerima gadai, bisa lebih dari 120 hari seperti yang ditetapkan oleh Pegadaian bisa juga kurang dari Waktu yang ditentukan oleh Pegadaian.

4. Analisis Pemanfaatan Sisa Penjualan Marhun Di Pegadaian Syariah Bima Berdasarkan Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Hasil penjualan rahin dalam praktiknya di Pegadaian Syariah Bima, hasil penjualan dari marhun digunakan untuk melunasi kewajiban rahin berupa marhun bih, ujrah, bea lelang dan bea pembeli. Ulama Syafi’iyah berpendapat jika hasil dari marhun dan segala sesuatu yang dihasilkan dirinya adalah termasuk rahin. Hasil gadaian tersebut adalah hak rahin selama murtahin tidak ada mensyaratkannya. Seorang murtahin hanya berhak menahan marhun sebagai jaminan saja.

Terkait dengan hasil penjualan marhun ketika ada kelebihan dan kekurangan, berdasarkan penelitian yang penulis ditemukan di dalam praktik di Pegadaian Syariah Bima, hasil penjualan marhun diakui dan dicatat pada saat terjadi transaksi sebesar lakunya marhun tersebut. Jika ada uang kelebihan hasil penjualan tersebut, pegadaian akan memberikan jangka waktu 1 tahun kepada rahin untuk pengambilannya. Apabila selama jangka waktu yang telah ditentukan tersebut rahin tidak dapat mengambil, maka uang kelebihan hasil penjualan tersebut menjadi milik pegadaian, kemudian uang tersebut digunakan untuk dana kebijakan umat yang dikelola oleh pegadaian sendiri. Sedangkan jika terjadi kecurangan dalam arti hasil penjualan tidak dapat menutupi hutangnya serta biaya-biaya yang dibutuhkan maka rahin tidk diwajibkan untuk membayarnya.

Dokumen terkait