• Tidak ada hasil yang ditemukan

18

sedangkan ruang lingkup dan unit analisanya adalah teks ayat-ayat Al-Qur’an berkaitan tentang zikir yang ditafsirkan oleh Ahmad Mustafa al-Marāgiy dan Muhammad Ali as-Ṣabuniy dalam kitab Tafsῑr Al-Marᾱgiy dan Tafsῑr Ṣafwah al-Tafᾱsῑr. Dengan pendekatan tafsir tematik yang difokuskan pada wacana zikir diharapkan tidak hanya arti yang tampak yang dapat dipahami, tetapi juga arti yang tersembunyi dibalik makna lahir sehingga konsep dapat dijelaskan dan dirumuskan.

19

Data yang memuat deskripsi singkat mengenai aktivitas memetakan serta menganalisis data.

Selanjutnya, pada Bab kedua, peneliti akan membahas persoalan żikir dalam al-Qur’an. Dalam bab ini juga, peneliti akan membagi beberapa sub bab diantaranya: sub bab pertama definisi zikir, menjelaskan tentang zikir, pandangan para sebagian mufasir dan ulama sufi. Sub bab kedua identifikasi ayat-ayat zikir yaitu mengungkap ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan zikir, baik yang terbentuk dari kata fi’il maḍi, fi’il muḍar’i, fi’il amar dan dari berbagai bentuk kalimat isim. Sub bab ketiga makna zikir yaitu mengungkap berbagai macam makna zikir dalam ayat-ayat Al-Qur’an, beserta dengan sebagian tafsirnya. Sub bab keempat menjelaskan fungsi atau manfa’at zikir.

Kemudian, Bab ketiga memuat latar belakang intelektual serta biografi Ahmad Mustafa Al-Marᾱgiy dan Muhammad ‘Ali al-Ṣabuniy, pada Bab ketiga ini juga memuat deskripsi penuh hal-ihwal sosok beliau sehubungan dengan ilmu Tafsῑr yang meliputi: latar belakang intelektual kedua tokoh ulama, sumbangsih pemikirannya, serta sekelumit tentang kitab Tafsîrnya yaitu Tafsῑr Al-Marᾱgiy dan Ṣafwah al-Tafᾱsῑr yang mencakup sumber kumpulan Tafsῑr keduanya; Metodologi/Manhaj dalam Tafsîr al-Qur‘ân, Hadîs Nabawî, Qoul/ucapan para Sahabat dan Tabiin; Pemahaman Tafsῑr bi al-Ra‘yi menurut keduanya.

Bab keempat, yakni terdapat dua sub. Pertama tentang penafsiran ayat- ayat zikir yang berada dalam ruang lingkup pembatasan masalah yang merujuk kitab Tafsῑr al-Marᾱgiy dan Ṣafwah al-Tafᾱsῑr, kedua telaah komperatif tentang ayat-ayat zikir dalam kitab Tafsῑr Al-Marᾱgiy dan Ṣafwah al-Tafᾱsῑr, yang berkaitan dengan metodologinya yaitu corak, metode dan sumbernya.

Terakhir bab kelima adalah bagian Penutup yang merinci sejumlah simpulan dari keseluruhan tesis ini. Simpulan disajikan dalam pernyataan singkat tentang hasil penelitian yang berpangkal dari telaah komperatif serta

20

pembahasan yang bertalian dengan pokok permasalahan. Selain simpulan, peneliti juga akan memaparkan saran yang akan diberikan kepada pembaca berdasarkan hasil temuan dalam studi yang telah dilakukan, dan bukan berupa pendapat atau tinjauan idealis peneliti secara pribadi.

Selanjutnya bab dua yang akan membahas tentang tinjauan zikir secara umum. Yang terdiri dari beberapa sub bab yaitu defini zikir, identifikasi zikir, makna zikir, macam-macam zikir dan fungdi serta manfa’at zikir.

181 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasrkan uraian-urain hasil penelitian ayat-ayat zikir di atas, maka pada bagian bab akhir ini dapat diambil kesimpulan dari hasil penelitian ini sebagai berikut:

Pertama, penafsiran pada ayat-ayat yang berkenaan dengan zikir dalam Tafsir Al-Marāgiy dan Ṣafwah al-Tafāsīr. Penafsiran Al-Marāgiy mengenai ayat-ayat zikir memiliki makna yaitu terapi jiwa yang mana dalam berzikir pada dasarnya memiliki sebuah tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan membersihkan diri dari dosa. Seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah swt maka ia akan menggantikan segala urusannya hanya kepada Allah swt, hal tersebut akan menimbulkan dampak positif terhadap jiwa untuk mencapai ketenangan. Rasa percaya diri terhadap akan ketetapan Allah Swt dan meyakini bahwa segala urusan hanya kepada Allah Swt yang dapat memberikan solusinya. Maka berzikir merupakan ibadah yang mampu memberikan dampak yang positif kepada jiwa dan dapat menghilangkan dampak negatif terhadap jiwa.

Aṣ-Ṣabuniy menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan zikir yaitu zikir melahirkan sebuah ingatan kepada Allah. Oleh karena itu zikir merupakan salah satu nikmat yang sangat besar, maka dengan berzikir seringkali dikaitkan dengan mengingat Allah swt. Oleh karena itu zikir merupakan sesuatu yang perlu direnungkan dan dipelihara dengan melafalkan tasbih, tahlil, tahmid, tamjid, takbir, istighfar dan lain sebagainya, hal ini yang menjadi hubungan antara hati dan anggota badan. Dimana anggota tidak mampu bergerak jika hati tidak mengendalikan. Oleh sebab itu antara hati dan anggota badan keduanya saling mempengaruhi dan

182

menjalankan perintah Allah. Dari kedua penafsiran yang berkaitan dengan zikir bisa diambil benang merah menjadi beberapa bagian zikir yaitu, fungsi zikir, tingkatan zikir, zikir adalah ibadah, zikir membentuk karakter dan tata cara zikir.

Fungsi zikir adalah salah satu perintah yang ada di dalam Al-Qur’an sehingga zikir memiliki peran penting yaitu mendorong manusia untuk bertindak berdasarkan pemanfa’atan dan kemaslahatan yang pada akhirnya membawa manusia kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah swt yang memiliki jiwa-jiwa yang bersih yang memancarkan sinar ma’rifatullah. Itulah fungsi zikir yaitu bisa mentrentramkan hati atau ketenangan hati.

Sedangkan tingkatan zikir memiliki dua tingkatan yaitu, pertama zikir jahr yang kedua zikir khafi. Zikir jahr yaitu zikir yang melalui pelafalan kata yang diucapkan dengan mengeluarkan suara keras yang terdengar. Zikir jahr ini dinamakan dengan zikir lisan yaitu zikir yang merupakan pelafalan kalimat ṭayyibah dengan suara keras yang jelas dan nyata. Zikir khafi yaitu zikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai zikir lisan ataupun tidak. Orang yang sudah mampu melakukan zikir seperti ini merasa dalam hatinya senantiasa memiliki hubungan dengan Allah swt. Ia selalu merasakan kehadiran Allah swt. kapan dan dimana saja.

Disamping itu zikir adalah bentuk keta’atan kepada Allah dan menegakkan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan Allah sehingga Zikir merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim dalam upaya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Dan juga zikir memberikan kemanfa’atan bukan hanya kepada hati yang tenang atau tentram akan tetapi zikir juga membentuk karakter sebagaiman yang dijelaskan oleh Al-Marāgiy bahwa zikir ada hubungannya dengan psikis seseorang, ia menafsirkan bahwa dengan zikirlah seseorang memiliki

183

akal yang rajih yang memahami ayat-ayat Allah sehingga memiliki kepribadian yang mulia begitu juga Aṣ-Ṣabuniy menyatakan bahwa dengan berzikir seseorang mampu menganalisa ayat-ayat mutasyabihat menjadi ayat-ayat muhkamat sehingga sesorang bisa memiliki konsep hidup yang terarah.

Adapun tata cara zikir yaitu, pertama zikir lisan yaitu zikir dengan cara mengucapakan kalimat-kalimat yang didalamnya mengandung mengingat Allah seperti bacaan tasbih, hamdalah, istigfar, takbir, kalimat tauhid, salawat, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya. Kedua zikir hati yaitu dengan tafakur, tadabur tentang penciptaan Allah sehingga mencapai keyakinan bahwa Allah zat yang maha besar, zat yang maha kuasa, zat yang maha pecipta dan lain sebaginya. Ketiga zikir anggota tubuh yaitu dengan cara bertaqwa sehingga seseorang menjalankan perintahnya seperti salat, puasa, zakat, haji, berbuat kebajikan lainnya, dan juga menjauhi larangan- Nya seperti berbuat kekejian, kemungkaran, kazaliman, kakafiran dan kemusyrikan dan larangan lain sebagainya.

Kedua, perbandingan penafsiran antara Tafsir Al-Marāgiy dan Ṣafwah al- Tafāsīr. Perbandingan sebagai berikut:

a. Tentang corak penafsiran keduanya Al-Marāgiy condong menggunakan corak penafsiran tasawuf, sedangkan Aṣ-Ṣabuniy condong menggunakan corak penafsiran fikih.

b. Tentang metode penafsiran Al-Marāgiy condong menggunakan tahlili.

Sedangkan Aṣ-Ṣabuniy condong menggunakan metode ijmali.

c. Tentang sumber penafsiran Al-Marāgiy menggunakan bil-ma’sur dan bil-ijtihadi serta bir-ra’yi. sedangkan Aṣ-Ṣabuniy menggunakan bir- ra’yi.

d. Tentang aviliasa mazhab fikih keduanya condong bermazhab Syafi’iyah, dan dalam mazhab kalam keduanya lebih condong kepada

184

Asy’ariyah

Dari penelitian ayat-ayat-zikir di atas bisa diambil kesimpulan bahwa antara Tafsir Al-Marāgiy dan Ṣafwah al-Tafāsīr terdapat beberapa kesamaan dan beberapa perbedaan.

Dokumen terkait