• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELAS III KELAS III PADA MATERI PECAHAN SEDERHANA MATA PELAJARAN MAATEMATIKA DI SD NEGERI 46 SELUMA”

F. Teknik Analisis Data 1. Uji Prasyarat Hipotesis

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas merupakan salah satu bagian dari uji persyaratan analisis data atau uji asumsi klasik, artinya sebelum kita melakukan analisis yang sesungguhnya, data penelitian tersebut harus di uji kenormalan distribusinya. Dalam penelitian ini menggunakan uji lillyefors dengan pertimbangan jumlah responden dalam kelas kecil yaitu kurang dari 30 siswa dan tergolong kedalam bentuk data tunggal. Hipotesis uji normalitas adalah sebagai berikut :

H0 : sebaran data berdistribusi normal Ha : sebaran data tidak berdistribusi normal

Uji lillyfors dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : ̅

Keterangan :

̅ S = standar deviasi

50

catatan: apabila maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya sebaran data berdistribusi secara normal. Dan sebalikknya.

b. Uji Homogenitas Data

Uji homogenitas dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa data yang dianalisis merupakan data yang berasal dari populasi yang tidak jauh berbeda keragamannya atau variansnya.

Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji fisher dengan hipotesis sebagai berikut:

(varians data homogen) (varians data tidak homogen)

Uji fisher dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

Penarikan kesimpulan untuk uji fisher adalah jika

maka H0 diterima atau varians data homogen.51

50 Resy Andani dan Hendratno, “Pengaruh Penggunaan Media Wayang Toko Terhadap Keterampilan Berbicara Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar,” Jurnal PGSD, Vol 03 Nomor 02 Tahun 2015, hal 4

51 Sugiyono, Statistik untuk Penelitian (Bandung, Alvabeta, 2014), hal 140

c. Uji Hipotesis

a. Uji t (Paired Sample t-Test)

Uji t (Paired Sample t-Test) digunakan sebagai uji komparatif atau perbedaan apabila skala data kedua variabel adalah kuantitatif (interval atau rasio). Uji ini disebut juga dengan istilah pairing T-test. Uji paired t-test adalah uji beda parametris pada dua data yang berpasangan. Sesuai dengan pengertian tersebut, maka dapat dijelaskan lebih detail lagi bahwa uji ini diperuntukkan pada uji beda atau uji komparatif.

Berpasangan artinya adalah sumber data berasal dari subyek yang sama. Melakukan analisis dengan pengolahan data untuk membandingkan rata-rata sebelum dan sesudah diberikan perlakuan.52

Uji t berpasangan (paired t-test) adalah salah satu metode pengujian hipotesis dimana data yang digunakan tidak bebas (berpasangan). Ciri-ciri yang paling sering ditemui pada kasus yang berpasangan adalah satu individu (objek penelitian) dikenai 2 buah perlakuan yang berbeda. Walaupun menggunakan individu yang sama, peneliti tetap memperoleh 2 macam data sampel, yaitu data sebelum diberi perlakuan dan

52 Sahid Raharjo, Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interorestasi dengan SPS, spssindonesia.com, Diakses pada 07 Febuari 2021

data setelah diterapkannya perlakuan.53 Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan

Ha : Ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan

Rumus t-test yang digunakan untuk sampel berpasangan (paired) adalah sebagai berikut.

̅̅̅ ̅̅̅̅

( )

Keterangan :

N = jumlah responden

Penarikan kesimpulan untuk uji t (paired sampel t-test) adalah jika maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya Ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan.

53 Chriestie Montalu dan Yohanas Langi,” Pengaruh Pelatihan Dasar Komputer dan Teknologi Informasi Bagi Guru-Guru Dengan Uji T Berpasangan (Paired Sample T- Test)”, Vol 7 Nomor 01 2018, hal 45

b. N-Gain Score

Uji gain ternormalisasi (N-Gain) dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kognitif siswa setelah diberikan perlakuan. Peningkatan ini diambil dari nilai pretest dan posttest yang didapatkan siswa. Gain ternormalisasi atau yang disingkat dengan N-Gain merupakan perbandingan skor gain aktual dengan skor gain maksimum. Menurut Richard R. Hake skor gain aktual yaitu skor gain yang diperoleh siswa sedangkan skor gain maksimum yaitu skor gain tertinggi yang mungkin diperoleh siswa.

Perhitungan skor gain ternormalisasi (N-Gain) dapat dinyatakan dalam rumus berikut:

Selanjutnya keberartian skor gain ternormalisasi (N-Gain) di intepretasikan pada tabel berikut:54

Tabel 3.7 Kategori N-Gain Score

N-gain Kategori

G > 0,7 Tinggi

0,3 < G <

0,7

Sedang

G < 0,3 Rendah

Sumber : Melzer dalam Syahfitri, 2008: 33

54 Elvia Sya’bani, Cara Menghitung N-Gain Score, Scrib.com. Diakses pada 07 Febuari 2021

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Penyajian Data

1. Deskripsi Wilayah Penelitian a. Profil SD Negeri 46 Seluma

Sekolah Dasar Negeri 46 Seluma adalah sekolah yang berdiri pada tahun 1975 yang beralamatkan di Desa Talang perapat Kecamatan Seluma Barat Kabupaten Seluma. Awal berdirinya sekolah ini adalah karena adanya permintaan dan kebutuhan dari warga sekitarnya yang membutuhkan pendidikan bagi anak-anaknya. Sekolah ini memiliki luas tanah 3.224 M.

b. Letak Geografis Lokasi Penelitian

Sekolah Dasar Negeri 46 Seluma terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk di Desa Talang Perapat Kecamatan Seluma Barat Kabupaten Seluma dan letaknya Strategis karena di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau oleh kendaraan dan pejalan kaki.

Bangunan sekolah terdiri dari 3 bangunan masing-masing ruang kelas dan perpustakaan. Adapun batas wilayah lokasi Sekolah Dasar Negeri 46 Seluma sebagai berikut:

1) Sebelah Utara berbatasan dengan jalan raya.

2) Sebelah selatan berbatasan dengan lapangan bola kaki.

3) Sebelah Timur berbatasan dengan rumah warga.

4) Sebelah Barat berbatasan dengan jalan gang.

61

c. Daftar Nama Guru dan Karyawan SD Negeri 46 Seluma

Jumlah tenaga pengajar dan staf yang ada di SD Negeri 46 Seluma berjumlah 10 orang dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 4.1

Daftar Nama Guru dan Karyawan SDN 46 Seluma Tahun Ajaran 2021

No

. Nama guru dan karyawan Jenis kelamin Jabatan sekolah

1 Tasmin, S.Pd L Kepala sekolah

2 Saumudin L Guru kelas

3 Mahmudah, S.Pd P Guru kelas

4 Biksan L Guru Penjas

5 Ida Laila P Guru kelas

6 Nur Asia, S.Pd P Guru kelas

7 Paizun, S.Pd P Guru kelas

8 Yelvi Erawati P Operator

9 Wellyansary P Guru kelas

10 Mardiansyah, S.Pd L Guru agama

Sumber : Dari SDN 46 Seluma

d. Jumlah Kelas dan Keseluruhan Siswa

Secara keseluruhan jumlah di SD Negeri 46 Seluma pada Tahun 2020/2021 adalah 6 ruangan dan jumlah siswa 131 siswa dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 4.2

Jumlah Kelas dan Keseluruhan Siswa SDN 46 Seluma Tahun Ajaran 2020/2021

No Kelas Jumlah Siswa

1 I 30

2 II 15

3 III 22

4 IV 21

5 V 22

6 VI 21

131 Sumber : Dari SDN 46 Seluma

e. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana merupakan salah satu komponen yang menunjang dalam proses belajar mengajar disuatu lembaga pendidikan adapun sarana dan prasarana di SD Negeri 46 Seluma dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3

Data Sarana dan Prasarana SDN 46 Seluma Tahun Ajaran 2020/2021

No Nama/ Jenis Jumlah Keterangan

1 Ruang Kepala Sekolah 1 Baik

2 Ruang Guru 1 Baik

3 Perpustakaan 1 Baik

4 Wc Guru 2 Baik

5 WC Siswa 2 Baik

6 Papan Pengumuman 1 Baik

7 Kursi Siswa 140 Baik

8 Papan Tulis 6 Baik

9 Meja Guru di Kelas 6 Baik

10 Meja Siswa 70 Baik

11 Almari Kelas 6 Baik

12 Almari Guru 4 Baik

13 Almari Kepala Sekolah 2 Baik

14 Pengeras Suara 1 Baik

15 Kantin 1 Baik

16 Parkiran 1 Baik

17 Rak Hasil Karya Siswa 2 Baik

18 Printer 1 Baik

19 Jam Dinding 7 Baik

20 Tempat Sampah 8 Baik

21 Rak Buku Perpustakan 3 Baik

22 Tempat Cuci Tangan 5 Baik

23 Microphone 2 Baik

24 Alat olahraga : Baik

a. Matras 2

b. Bola futsal 2

c. Kaset senam 2

d. Bola Volly 2

e. Net 1

Sumber : Dari SDN 46 Seluma

f. Visi, dan Misi Sekolah Dasar Negeri 46 Seluma a. Visi

“Sekolah dengan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik secara maksimal yang di jiwai oleh nilai-nilai budaya dan karakter Bangsa.”

b. Misi

Dalam rangka mencapai visi diatas, sekolah menetapkan misi sebagai berikut :

1) Mengembangkan sikap dan perilaku religius di dalam dan diluar sekolah.

2) Mengembangkan budaya gemar membaca, rasa ingin tahu, bertoleransi, bekerjasama, saling menghargai, disiplin, jujur, kerja keras, kreatif, dan mandiri.

3) Menciptakan lingkungan sekolah yang aman, rapi, bersih, dan nyaman.

2. Deskripsi Data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media papan pecahan terhadap hasil belajar siswa kelas III pada materi pecahan sederhana mata pelajaran matematika di SD Negeri 46 Seluma. Desain penelitian ini adalah one group pre test-post test desain, yaitu penelitian eksperimen pada satu kelompok saja dan tanpa dilakukan tes kestabilan dan kejelasan keadaan kelompok sebelum diberi perlakuan. Variabel

terikat (hasil belajar) diukur sebagai satu kelompok sebelum dan sesudah perlakuan diberikan. Setelah diberi perlakuan terhadap kelompok sampel, nilai sebelum dan sesudah perlakuan dibandingkan. Alasan peneliti menggunakan desain one group pre test – post test karena peneliti mengalami hambatan dan keterbatasan, baik penentuan sampel, lokasi penelitian dan waktu yang peneliti miliki.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SD Negeri 46 Seluma. Sampel yang diambil adalah siswa kelas III SD Negeri 46 Seluma, dengan jumlah sampel 21 siswa. Nama siswa yang digunakan dalam penelitian ini terlampir (Lampiran Rekapitulasi Nilai Siswa).

Prosedur penelitian ini dimulai dengan meminta izin kepada Kepala SD Negeri 46 Seluma bahwa akan dilakukan penelitian di SD tersebut.

Berdasarkan hasil kesepakatan dengan guru kelas, maka dipilih sampel kelas III dengan jumlah sampel 21 siswa. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus sampai dengan 11 Oktober 2021. Penelitian ini berjalan sesuai dengan RPP yang telah dibuat sebagaimana terlampir.

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui metode tes dan dokumentasi. Metode tes digunakan untuk mengetahui pengaruh media papan pecahan terhadap hasil belajar matematika siswa di SD Negeri 46 Seluma. Tes berupa soal-soal berisikan materi pecahan sederhana sebanyak 20 soal pilihan ganda. Metode dokumentasi bertujuan untuk memperoleh data nama-nama siswa yang menjadi sampel penelitian berserta foto-foto dalam penelitian.

3. Analisis Data

Dalam tahapan ini, peneliti menganalisis data yang telah diperoleh.

Data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode statistik. Analisis data dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis peneliti terbukti atau tidak. Tahapan analisis data dimulai dengan pengambilan data sebelum (pretest) pemberian perlakuan pada kelas yang akan di jadikan sampel penelitian. Data pre-test digunakan untuk mengetahui kemampuan awal mata pelajaran matematika. Data post-test digunakan untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan hasil belajar pada mata pelajaran matematika siswa setelah diberikan perlakuan dengan media papan pecahan. Data skor pre-test dan skor post-test dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.4

Deskripsi Nilai Pre-test dan Post-test Siswa

Data Pretest Posttest

Nilai Tertinggi 75 95

Nilai Terendah 30 50

Rata-Rata 55,71 68,57

Varians 138,21 150,36

Standar Deviasi 11,76 12,26

Sumber: lampiran Analisis Data

Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa terdapat perbedaan antara rata-rata skor pre-test dan skor post-test. Untuk memastikan apakah media papan pecahan berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siawa secara signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik. Namun, sebelum dilakukan pengujian hipotesis perlu untuk menganalisis apakah sampel

tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan homogen.

Sehingga perlu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Adapun pengujiannya sebagai berikut:

a. Uji Normalitas

Setelah diketahui deskripsi skor pre-test langkah selanjutnya adalah melakukan uji normalitas terhadap skor pre-test dari sampel untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal. Pengujian

dilakukan dengan menggunakan uji liliefors, dengan hipotesis sebagai berikut:

sebaran data berdistribusi normal sebaran data tidak berdistribusi normal

Tabel 4.5 Uji Normalitas

Deskripsi Pretest Posttest

Nilai Tertinggi 75 95

Nilai Terendah 30 50

Rata-rata 55,71 68,57

Standar Deviasi 11,76 12,26

L hitung 0,072 0,120

Ltabel 0,1881 0,1881

Kesimpulan Terima H0 Terima H0

Sumber: lampiran Uji Normalitas

Nilai Ltabel pada taraf signifikan 0,05 dengan jumlah sampel 21 siswa adalah 0,1881. Berdasarkan data yang diperoleh pada diatas, data pretest hasil belajar matematika siswa menunjukkan bahwa nilai Lhitung sebesar 0,072. Artinya Lhitung pretest (0,072) < Ltabel (0,1881).

Hal ini memberikan indikasi bahwa data kelas sampel sebelum diberi

perlakuan berdistribusi secara normal. Sedangkan untuk data posttest diperoleh Lhitung sebesar 0,120. Artinya Lhitung posttest (0,120) < Ltabel (0,1881). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas sampel setelah diberi perlakuan tetap berdistribusi secara normal. Perhitungan uji lillyfors secara lengkap terlampir (Lampiran Uji Normalitas).

b. Uji Homogenitas

Setelah dilakukan uji normalitas dan diperoleh data yang berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan uji homogenitas pada kelas sampel untuk data pretest dan posttest. Hipotesis uji

homogenitas sebagai berikut:

Varian sama/homogen

Varian berbeda/tidak homogen Tabel 4.6 Uji Homegenitas

Deskripsi Pretest Posttest

Rata-rata 55,71 68,57

Varians 138,21 150,36

Fhitung 1,09

Ftabel 4,38

Kesimpulan Terima H0

Sumber : Lampiran Uji Homogenitas

Kriteria Pengujian Fisher (Uji-F) adalah terima , jika

. Berdasarkan tabel diatas, diperoleh nilai

Maka diterima, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa data berasal dari populasi yang

mempunyai varians yang sama atau homogen. Perhitungan uji fisher secara terperinci terlampir (lampiran uji homogenitas).

c. Uji Hipotesis

Karena kedua kelas sampel berdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen, maka dilakukan analisis untuk menguji perbedaan mean (rata-rata) nilai pre-test dan postest. Adapun hipotesis penelitian sebagai berikut :

“tidak ada perbedaan hasil belajar matematika siswa pada materi pecahan sederhana secara signifikan setelah diberi perlakuan”

“Ada perbedaan hasil belajar matematika siswa pada materi pecahan sederhana secara signifikan setelah diberi perlakuan”

Tabel 4.7

Uji-T (Paired Samples t-Test)

Deskripsi Pretest Posttest

Jumlah Nilai 1170 1440

Rata-Rata 55,71 68,57

Varians 138,21 150,36

Standar Deviasi 11,76 12,26

t-Hitung 3,468

t-Tabel 2,093

Kesimpulan Terima Ha

Sumber : Lampiran Uji-t

Kriteria penerimaan hipotesis penelitian adalah t-Hitung > t- Tabel. Berdasarkan pada tabel di atas, nilai t-Hitung (3,468) > t-Tabel (2,093). Hal ini menunjukkan bahwa nilai thitung (3,468) berada di

daerah penerimaan Ha dan penolakan H0. Artinya “Ada perbedaan hasil belajar matematika siswa pada materi pecahan sederhana secara signifikan setelah diberi perlakuan”.

Kriteria ketuntasan munimum yang telah di tetapkan untuk mata pelajaran matematika adalah minimal 60. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil ketuntasan belajar siswa pada materi pecahan sederhana matematika di kelas III sebagai berikut.

Tabel 4.8

Ketuntasan Hasil Belajar

Pre-Test Post-Test

Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas

11 10 17 4

52% 48% 81% 19%

Sumber : Lampiran Persentase Ketuntasan Hasil Belajar

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa hasil belajar pada materi pecahan sederhana mengalami peningkatan ketuntasan dari sebelum diberi perlakuan adalah 52% dan meningkat menjadi 81% setelah diberi perlakuan. Berdasarkan hasil analisis uji peningkatan ketuntasan hasil belajar maka dapat disimpulkan bahwa media papan pecahan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan sederhana siswa kelas III SD Negeri 46 Seluma.

Selanjutnya untuk menganalisis keberartian peningkatan hasil belajar tersebut dapat digunakan uji gain ternormalisasi (N-gain).

Berikut langkah-langkah perhitungan N-Gain.

1) Menghitung Nilai Gain Ternormalisai

2) Intepretasi N-Gain

Tabel 4.9

Kategori N-Gain Score

N-gain Kategori

G > 0,7 Tinggi

0,3 < G < 0,7 Sedang

G < 0,3 Rendah

Sumber : Melzer dalam Syahfitri, 2008: 33

Berdasarkan tabel diatas maka nilai N-Gain (0,29) berada pada kategori rendah. Hal ini berarti secara keseluruhan peningkatan hasil belajar matematika pada materi pecahan sederhana cenderung masih rendah. Peningkatan hasil belajar setiap siswa mengalami peningkatan yang berbeda-beda. Hasil analisis uji gain ternormalisasi tiap siswa terlampir (lampiran Rekapitulasi Nilai Siswa).

Dokumen terkait