BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Teknik Analisis Data
Pekerjaan analisis data merupakan usaha untuk memberikan interpretasi terhadap data yang telah diperoleh dan disusun untuk mendapatkan kesimpulan yang
64 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Makalah dan Skripsi), Edisi Revisi.
(Parepare: STAIN Parepare, 2013), h. 34.
40
valid. Dalam pengelolaan ini penulis menempuh beberapa cara yang dapat digunakan dalam menganalisa data yang telah diperoleh diantaranya sebagai berikut :
3.6.1 Analisis Induktif
Analis induktif adalah suatu proses yang dapat digunakan untuk menganalisis data berdasarkan pada atau pendapat yang sifatnya khusus kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum.65
3.6.2 Analisis Deduktif
Dalam menganalisis data yang menggunakan analisis deduktif yaitu cara berfikir dengan cara menganalisis data-data yang bersifat umum yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi beserta dokumentasi, kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum mengenai suatu fenomena dan mengeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berindikasi sama dengan fenomena yang bersangkutan. Dalam memproses data dengan cara mengumpulkan semua semua data yang didapatkan dari kegiatan observasi dan wawancara dilapangan, setelah itu kemudian data akan dibaca dan diamati secara mendalam dan analisis data dapat dilakukan ketika peneliti menemukan data dilapangan data tersebut kemudian dianalisa sesuai dengan rumusan masalah.
65 Mardania, Analisis Etika Bisnis Iislam terhadap unsur Tadlis pada Pedagang Buah (Studi
di Desa Mirring Kab.Polewali Mandar), (Parepare: Institut Agama Islam Negeri Parepare, 2016), h.
40.
41
syariat, karena manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri.
Dalam hubungan manusia lainnya, manusia dibatasi oleh syariat tersebut, yang terdiri dari hak dan kewajiban. Hal ini pun yang terjadi dikalangan masyarakat di sekitar Pasar sentral Pinrang, dimana dalam melakukan transaksi jual beli sayur-mayur harus menerapkan syarat sah dalam jual beli.
4.1.1 Ketidakjelasan (Al-Jahalah)
Yang dimaksud disini adalah ketidakjelasan yang serius yang mendatangkan perselisihan yang sulit untuk diselesaikan. Seperti ketidakjelasan dalam barang yang dijual, ketidakjelasan harga, ketidakjelasan masa (tempo), dan ketidakjelasan dalam langkah-langkah penjaminan. Dalam jual beli segala sesuatunya harus jelas mulai dari barang yang dijual, akadnya serta subjeknya semuanya harus jelas.66
Berdasarkan hasil wawancara dengan nindong salah satu pedagang sayur- mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“kualitas sayur-mayur saya jual disini sudah jelas kualitasnya karena saya membedakan sayur-mayur mayur yang saya jual sesuai dengan kualitasnya seperti cabai merah besar, cabai keriting, tomat dan lainnya dan menjualnya dengan harga yang berbeda jadi pembeli tidak perlu khawatir lagi terhadap kualitas dagangan saya”.67
Jadi pedagang tersebut telah berusaha melakukan yang terbaik dalam transaksi jaul beli sehingga sayur-mayur yang dijualnya kualitasnya sudah tidak diragukan lagi.
66 Ahmad wardi muslich, Fiqh Muamalat, h. 191
67 Nindong, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
42
Hal tersebut membuktikan kejelasan dari barang yang dijual, hal ini tentunya sesuai dengan salah satu syarat sah dalam jual beli yaitu ketidakjelasan (Al-Jahalah) yang dimana kejelasan terhadap barang yang dijual sudah terpenuhi.
Namun tidak menutup kemungkinan masih ada beberapa pedagang yang kurang memperhatikan kejelasan dalam transaksi jual beli. Namun menurut salah pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa kejelasan transaksi jual beli sayur-mayur pada pedagang sayur-mayur di pasar sentral pinrang sudah jelas baik itu meliputi objeknya, subjeknya serta akadnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Erna salah satu pembeli di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“saya rasa kejelasan yang meliputi barang yang dijual, akad serta subjeknya sudah jelas pada pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang”.68
Hal tersebut menunjukkan kepuasan pada konsumen karena kejelasan dari transaksi jual beli yang telah dilakukan oleh pembeli dan pedagang. Hal ini tentunya sejalan dengan salah satu syarat sah jual beli yakni ketidakjelasan (Al-Jahalah) yang dimana kejelasan dalam bertransaksi sudah jelas.
4.1.2 Pemaksaan (Al-Ikrah)
Pengertian pemaksaan adalah mendorong orang lain (yang dipaksa) untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak disukainya. Paksaan ini ada dua macam yakni paksaan absolut yaitu paksaan dengan ancaman yang sangat berat, seperti akan dibunuh atau dipotong anggota badannya. Dan paksaan relatif yaitu paksaan dengan ancaman yang lebih ringan, seperti dipukul. Kedua ancaman tersebut mempunyai
68 Erna, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
pengaruh terhadap jual beli, yakni menjadikannya jual beli yang fasid menurut jumhur Hanafiah, dan mauquf menurut Zufar.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Sannati salah satu pedagang sayur- mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“kami tidak pernah memaksa pembeli untuk membeli sayur-mayur kami, kalaupun mereka datang hanya untuk melihat-lihat saja tanpa membeli sayur-mayur kami, kami tidak mempermasalahkan hal tersebut”.69
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada unsur paksaan dalam jual beli sayur-mayur yang dilakukan oleh pedagang sayur- mayur kepada pembeli di pasar sentral pinrang. Hal ini selaras dengan yang dikatakan oleh salah satu pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pahima salah satu pembeli di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“saya membeli sayur-mayur disini tanpa paksaan dari pihak manapun saya membeli atas kehendak sendiri. Saya tidak pernah mendapat paksaan dari pedagang disini mereka semuanya ramah dan baik dalam melayani pedagang.” 70
Hal tersebut membuktikan bahwa tidak adanya unsur paksaan (Al-Ikrah) dalam transaksi jual beli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang.
4.1.3 Pembatasan dengan Waktu (At-Tauqit)
Yaitu jual beli dengan dibatasi waktunya. Seperti “saya jual baju ini kepadamu untuk selama satu bulan atau satu tahun.” Jual beli semacam ini hukumnya
69 Sannati, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
70 Pahima, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
44
fasid, karena kepemilikan atas suatu barang, tidak bisa dibatasi dengan waktunya. Di pasar sentral Pinrang Penulis tidak menemukan hal semacam ini karena tidak ada pedagang sayur-mayur yang memberikan batasan waktu kepada pembeli terhadap barang yang telah dijualnya.
4.1.4 Penipuan (gharar)
Yang dimaksud disini gharar (penipuan) dalam sifat barang. Seperti seseorang menjual sapi dengan pernyataan bahwa sapi itu air susunya sehari sepuluh liter, padahal paling banyak kenyataannya dua liter. Akan tetapi apabila ia menjualnya dengan pernyataan bahwa air susunya lumayan banyak tanpa menyebutkan kadarnya maka termasuk syarat yang shahih. Akan tetapi apabila gharar (penipuan) pada wujud (adanya) barang maka ini membatalkan jual beli. Dalam agama Islam penipuan dalam bentuk apapun dilarang dapat merugikan salah satu pihak. Dan juga menimbulkan Kezhaliman.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nursia salah satu pedagang di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“sayur yang kami jual kualitasnya baik dan segar karena kami mengambilnya langsung dari petani di daerah kami jadi pembeli tidak perlu khawatir terhadap sayur- mayur yang kami jual, kami memilih yang terbaik untuk pelanggan kami.” 71
Jadi pedagang menyatakan bahwa sayur-mayur yang dijualnya adalah sayur- mayur kualitas baik dan segar namun hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikatakan oleh salah satu pembeli.
71 Nursia, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Vina salah satu pembeli di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Saya pernah mendapatkan sayur-mayur model bauran (campuran) walaupun pedagang sudah mengatakan sayur-mayur yang ia jual kualitasnya baik namun saya masih mendapatkan hal yang seperti ini.”72
Jadi hal dikatakan pedagang tidak sejalan dengan apa yang dikatakan oleh pembeli, bahwasannya masih ada unsur penipuan dalam jual sayur-mayur di pasar sentral Pinrang. Hal ini tentunya merugikan salah satu pihak yaitu pembeli.
4.1.5 Kemudaratan (Adh-Dharar)
Kemudaratan ini terjadi apabila penyerahan barang yang dijual tidak mungkin dilakukan kecuali dengan memasukkan kemudaratan kepada penjual, dalam barang dalam objek akad. Seperti seseorang (kain 1m, yang tidak bisa dibagi dua.dalam pelaksanaanya terpaksa baju (kain) tersebut dipotong. Walaupun hal itu merugikan penjual.73
Dikarenakan kerusakan ini untuk menjaga bukan hak syara’ maka fuqaha menetapkan, apabila penjual melaksaan kemudaratan atas dirinya, dengan cara memotong baju (kain) dan menyerahkan kepada pembeli maka akan berubah menjadi shahih. Jadi kemudaratan yang dimaksud disini adalah bukan hanya kemudaratan yang kita berikan kepada orang lain tetapi kemudaratan terhadap diri sendiri apabila kita melakukan sesuatu yang merugikan diri kita sendiri seperti menjual sesuatu bukannya mendapatkan keuntungan justru sebaliknya merugikan usaha sendiri.
Keuntungan yang diperoleh dari pedagang sayur-mayur yang menanam sendiri sayur-
72 Vina, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
73 Ahmad wardi muslich, Fiqh Muamalat, h. 192.
46
mayurnya lalu menjualnya sendiri lebih banyak dibandingkan dengan pedagang yang membeli sayur-mayur kepada pemasok lalu menjualnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nursia salah satu pedagang sayur- mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Kami tidak pernah mendapatkan pembeli yang menawar harga terlalu murah, dan biasanya juga ada yang tidak menawar karena sayur-mayur merupakan bahan makanan yang terbilang cukup murah jadi kami juga tidak menjualnya dengan harga yang tinggi pula.”74
Hal ini tentunya tidak memberikan efek kemudaratan kepada pedagang karena pedagang tidak merugi melainkan mendapat keuntungan. Walaupun keuntungan yang didapatkan tidak seberapa namun pedagang tersebut setidaknya tidak merugi atau mendatangkan kemudaratan bagi dirinya sendiri.
4.1.6 Syarat yang Merusak
Yaitu setiap syarat yang ada manfaatnya bagi salah satu pihak yang bertransaksi, tetapi syarat tersebut tidak ada dalam syara’ dan adat kebiasaan, atau tidak dikehendaki oleh akad, atau tidak selaras dengan tujuan akad seperti seseorang menjual mobil dengan syarat ia (penjual) akan menggunakannya selama satu bulan setelah terjadinya akad jual beli, atau seseorang menjual rumah dengan syarat ia (penjual) boleh tinggal dirumah itu selama masa tertentu setelah terjadinya akad jual beli. Yang dimaksud disini ialah ketika ada syarat yang merusak dalam akad transaksi dalam jual beli ada hal yang terjadi diluar dari kesepakatan bersama.75
74 Nursia, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
75 Ahmad wardi muslich, Fiqh Muamalat, h. 193.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Pahima salah satu pedagang di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Saya pernah mendapatkan sayur-mayur yaitu cabe rawit dan cabai merah besar yang saya beli di pasar sentral Pinrang, ketika masih di pasar pedagang mengatakan bahwa sayur-mayurnya masih segar dan kualitasnya baik serta yang saya lihat juga begitu, akan tetapi setelah tiba dirumah Saya melihat kualitas dari sayur-mayur tersebut bercampur (model bauran) ada yang baik dan ada pula yang buruk, hal ini tentunya merugikan Saya.”76
Hal ini tentunya tidak sesuai dengan kesepakatan dan merusak syarat akad karena tidak sesuai dengan apa yang dikatakan pedagang dan hal ini tentunya merugikan pembeli. Karena syarat utama dalam transaksi jual beli beli ialah suka sama suka saling ikhlas dan meridhoi satu sama lain dan tentunya tidak ada pihak yang dirugikan.
4.2 Penerapan Etika Bisnis Islam terhadap Perilaku Pedagang sayur-mayur di Pasar Sentral Pinrang
Etika merupakan ilmu yang berisi patokan-patokan mengenai apa-apa yang benar atau salah, yang baik atau buruk, yang bermanfaat atau tidak bermanfaat.77 Konsep sosial Islam sangat jelas memberikan batasan dan kemampuan manusia untuk berekspresi dan berinovasi yang tidak keluar dari norma etika moral yang dikenal dengan istilah akhlak karimah yang juga didalamnya berhubungan dengan bagaimana umat manusia itu mejalankan sistem kemasyarakatannya yang disebut dengan bermuamalah. Dalam bermuamalah ini kemudian secara mikro mengatur tentang
76 Pahima, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
77 Muhammad & Alimin,, Etika & Perlindungan Konsumen dalam Ekonomi Islam, (Yogyakarta : BPFE , 2004), h. 61.
48
perpindahan kepemilikian yang disebut dengan jual beli. Seorang pengusaha muslim tidak akan mencekik konsumen dengan mengambil laba sebanyak-banyaknya.78
Penerapan etika bisnis Islam oleh pedagang sayur-mayur di Pasar Sentral Pinrang haruslah sesuai dengan prinsip-prinsip etika bisnis Islam agar terciptanya kesejahteraan di dunia mapun diakhirat. Prinsip-prinsip tersebut ialah prinsip Tauhid (kesatuan/Unity), prinsip keseimbangan (equilibrium/adil), prinsip kehendak bebas (free will), prinsip tanggung jawab (responbility) dan prinsip kebenaran, kebajikan dan kejujuran.
4.2.1 Prinsip Kesatuan (Tauhid/Unity)
Dalam hal ini adalah kesatuan sebagaimana terefleksikan dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh.
Dari konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis menjadi terpadu, vertikal maupun horizontal, membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.79
Tauhid merupakan fondasi ajaran Islam. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa “Tiada sesuatupun yang layak disembah selain Allah swt.”, dan
“tidak ada pemilik langit, bumi dan seisinya, selain daripada Allah swt.” Karena Allah swt pencipta alam dan seisinya dan sekaligus pemiliknya, termasuk pemilik
78Yusuf Qordhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam (Jakarta: Gema
Insani, 1997), h. 36.
79 Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam (implementasi Etika Islami untuk Dunia Usaha), h. 46.
manusia dan seluruh sumber daya yang ada. Karena itu, Allah swt adalah pemilik hakiki. Manusia hanya diberi amanah untuk “memiliki” untuk sementara waktu, sebagai ujian bagi mereka. Karena itu segala aktivitas manusia dalam hubungannya dengan alam dan sumber daya manusia (muamalah) dibingkai dengan kerangka hubungan dengan Allah swt. Karena kepada-Nya manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan, termasuk aktivitas ekonomi dan bisnis.80
Berdasarkan hasil wawancara dengan Hj. Jumaisah salah satu pedagang sayur- mayur di Pasar Sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Dalam menjual sayur-mayur kami bersaing secara sehat kami tidak pernah menghasut pembeli atau menjelek-jelekkan pedagang lain agar sayur-mayur kami lebih laku dibanding pedagang yang lain karena kami tahu bahwa rezeki itu tidak akan tertukar dan setiap orang memiliki rezekinya masing-masing.”81
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat dilihat bahwa pedagang sayur- mayur di Pasar sentral Pinrang bersaing secara sehat, mereka tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri dan tidak hanya mencari keuntungan untuk duniawi saja, mereka juga menjual semata-mata karena Allah swt bukan hanya mencari keuntungan semata-mata untuk duniawi saja. Hal ini menunjukkan sikap dan ketauhidan para pedagang sayur-mayur di pasar di Pasar sentral Pinrang. Selain itu ketika adzan dhuzur dikumandangkan semua peadagang sayur-mayur menyempatkan shalat. Hal ini tentunya selaras dengan prinsip Kesatuan (Tauhid/Unity) yang dimana kita harus
80Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam (Sejarah, konsep, instrumen, negara dan Pasar), h. 25.
81Hj. Jumaisah, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar sentral Pinrang, 25 November 2019.
50
mengerjakan segala sesuatu karena Allah swt sehingga kita mendapatkan manfaat di dunia maupun diakhirat.
4.2.2 Prinsip Keseimbangan (Equilibrium/Adil)
Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah Saw diutus Allah swt untuk membangun keadilan. Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang- orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi.
Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. Adapun yang yang dimaksud seimbang/adil dalam transaksi jual beli sayur-mayur adalah tidak ada unsur penipuan, paksaan ataupun berbuat dzholim antara pedagang sayur-mayur dan pembeli.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Sannati dari salah satu pedagang sayur- mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“kami melayani/memperlakukan pembeli disini dengan baik, tanpa membeda- bedakannya, tanpa memandang agama, umur, dan pekerjaan. Kami memandang setiap pembeli atau pelanggan itu sama harus diperlakukan dengan baik”82
Jadi pedagang sayur-mayur di pasar sentral pinrang memperlakukan pembeli atau konsumen secara adil tanpa memandang kasta dari sipembeli. Namun selain hal itu ada beberapa pedagang yang lalai terhadap kualitas sayur-mayur yang dijualnya seperti yang dikatakan salah satu narasumber yang merupakan pembeli di pasar sentral Pinrang.
82 Sannati, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar
sentral Pinrang, 25 November 2019.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mariani salah satu pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Saya pernah mendapati cabai dan tomat yang saya beli kualitasnya kurang baik waktu saya lihat di pasar cabai dan tomat yang diperlihatkan pedagang kualitasnya baik namun setelah sampai di rumah saya membuka kantong plastiknya ternyata ada beberapa cabai dan tomat dengan kualitas yang kurang baik bercampur dengan cabai dan tomat yang kualitasnya baik (model bauran) dan dijual dengan harga yang sama”.83
Jadi masih ada beberapa pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang yang lalai terhadap kualitas sayur-mayur yang dijualnya sehingga merugikan pembeli, hal ini tentunya bertentangan dengan prinsip keseimbangan (Equilibrium/adil) dalam etika bisnis Islam yang dimana dalam jual beli tidak ada pihak yang dirugikan atau didzholimi.
4.2.3 Kehendak bebas (free will)
Dalam pandangan Islam, manusia memiliki kebebasan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk memperoleh kemashlahatan yang tertinggi dari sumber daya yang ada pada kekuasaannya untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk mencapai kesejahteraan hidup, namun kebebasan dalam Islam dibatasi oleh nilai-nilai Islam.84 Namun, sekali lagi perlu ditekankan bahwa kebebasan yang ada dalam diri manusia bersifat terbatas, sedangkan kebebasan yang tak terbatas hanyalah milik Allah swt semata. Oleh karena itu perlu disadari setiap muslim, bahwa dalam situasi apa pun, ia dibimbing oleh aturan-aturan dan prosedur-prosedur yang
83 Mariani, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar sentral
Pinrang, 25 November 2019.
84 Pusat Pengkajian Dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Atas Kerja Sama Dengan Bank Indonesia (Ekonomi Islam) (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2014), h. 68.
52
didasarkan pada ketentuan-ketentuan Tuhan dalam syariat-Nya yang dicontohkan melalui Rasul-Nya.85 Konsep free will ini pada hakikatnya merupakan refleksi dari wewenang yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia dalam hubungan perwalian antara Allah swt dan manusia.86 Kebebasan manusia dalam berdagang memiliki batas dan memiliki aturan sesuai yang syariat islam yang dimana segala sesuatu dilakukan harus dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Banca salah satu pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Sayur-mayur sisa kemarin atau yang tidak laku kemarin kami membuangnya dan tidak menjualnya lagi pada esok harinya, kami menggantikannya dengan yang baru yang masih segar yang kami ambil langsung dari petani.”87
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, penulis melihat bahwa dalam menjual sayur-mayur pedagang tidak hanya menjual dengan kehendak bebas tanpa batas mereka juga tetap memperhatikan tanggung jawab sebagai seorang pedagang. Namun hal ini bertolak belakang dengan yang dikatakan dengan salah satu pembeli.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Vina salah satu pembeli di pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“Terkadang Saya menemukan pedagang yang mengatakan bahwa sayur- mayurnya masih segar dan baru namun yang saya dapatkan justru berbeda sayur- mayurnya justru layu.”88
85Muhammad Djakfar, Etika Bisnis (Jakarta: Penebar Plus, 2012), h. 25.
86Yadi Janwari, Pemikiran Ekonomi Islam (Dari masa Rasulullah hingga Masa Kontemporer) (Bandung : Rosda, 2016), h. 14.
87 Banca, Pedagang sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar sentral
Pinrang, 25 November 2019.
88 Vina, Pembeli sayur-mayur di pasar sentral Pinrang wawancara oleh Peneliti di pasar sentral
Pinrang, 25 November 2019.
Hal ini tentunya bertentangan dengan prinsip kehendak bebas karena pedagang membohongi pembeli, pedagang tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, dan berbuat semaunya. Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis menyimpulkan masih ada beberapa pedagang yang tidak menerapkan prinsip kehendak bebas dalam berdagang.
4.2.4 Prinsip tanggung jawab (responbility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban dan akuntabilitas. untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertanggungjawabkan tindakannya secara logis prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya.89 Para pedagang sayur mayur di pasar sentral Pinrang mengartikan prinsip tanggung jawab adalah ketika pedagang dapat mempertanggungjawabkan segala aktivitas yang dilakukannya. Seperti bertanggung jawab terhadap sayur-mayur yang kualitasnya yang buruk dengan menggantikannya dengan kualitas yang baik. Pertanggungjawaban yang dilakukan para pedagang untuk menjaga kepercayaan pembeli agar tetap menjadi pelanggan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Nursia salah satu pedagang sayur- mayur di Pasar sentral Pinrang menyatakan bahwa:
“biasanya kami mempersilahkan pembeli untuk memilih cabai atau tomat yang akan dibelinya sesuai dengan yang mereka inginkan kalaupun mereka
89Syed Nawad Haider Naqvi., Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), h. 46.