BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4. Aktivitas Utama Bank Aman Syariah Kecamatan Sekampung
Bank Aman Syariah sama seperti bank-bank pada umumnya yang memiliki aktivitas utama yaitu menghimpun dana dan menyalurkan dana. Di mana dari aktivitas penghimpunan dana dan penyaluran dana tersebut akan menghasilkan beberapa produk. Produk penghimpunan dana di BAS terdiri dari tabungan khusus wadiah (takwa), tabungan mudharabah (tambah), dandeposito mudharabah. Sedangkan untuk produk penyaluran dana yaitu pembiayaan dengan prinsip jual beli(murabahah, al-ijarah, istishna’, salam, multijasa), pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah), dan pembiayaan lainnya (qard, rahn).58
Pembiayaan-pembiayaan tersebut, di dalamnya akan memiliki beberapa variasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan dari masyarakat. Adanya berbagai produk-produk tersebut tujuannya sama dengan produk yang ada di bank syariah lainnya, yaitu untuk mensejahterakan masyarakat terutama pengusaha kecil yang ingin mengembangkan usahanya agar lebih maju.
B. Strategi Bank Aman Syariah Dalam Memanajemen Risiko Likuiditas.
Bank syariah yang mengalami perkembangan akan selalu berhadapan dengan berbagai jenis risiko dengan tingkat kompleksitas yang beragam dan melekat pada setiap kegiatan usahanya. Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kajian yang potensial, baik yang dapat diperkirakan maupun
58Dokumentasi PT. BPRS Aman Syariah Sekampung, dikutip pada tanggal 11 Februari 2019.
44
yang tidak dapat diperkirakan yang kemudian berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan. Untuk itu, dibutuhkan manajemen risiko yang gunanya untuk menganalisis dan mengendalikan setiap risiko-risiko yang terjadi di perbankan.
Agar dapat menerapkan manajemen risiko di perbankan maka perlu diketahui jenis-jenis risiko yang dihadapi oleh perbankan. Risiko-risiko yang biasa dihadapi oleh perbankan adalah risiko kredit atau pembiayaan, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik, risiko kepatuhan, dan risiko modal. Masing-masing dari risiko tersebut sama besarnya memiliki dampak negatif bagi perbankan, hanya saja pengendalian serta cara penanganannya yang berbeda. Karena dari masing-masing risiko memiliki tingkat pengaruh yang berbeda-beda.
Penerapan manajemen risiko pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah disesuaikan dengan tujuan, kebijakan usaha, ukuran dan kompleksitas usaha serta kemampuan bank umum syariah dan unit usaha syariah.
Perlu diketahui terlebih dahulu risiko apa saja yang muncul pada setiap usaha yang dijalankan oleh perbankan. Salah satu risiko yang dihadapi oleh dunia perbankan adalah risiko likuiditas. Risiko likuiditas memang sering melekat di industri perbankan, baik itu bank konvensional maupun bank syariah. Risiko likuiditas sendiri itu disebabkan karena ketidakmampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo.
Akibatnya bank akan mengalami dua risiko likuiditas yaitu kekurangan likuiditas dan kelebihan likuiditas. Sehingga perlu adanya pengelolaan likuiditas,
45
meskipun pada bank Islam sedikit lebih rumit dibandingkan jenis risiko lainnya.
Disatu sisi, tingginya likuid membuat posisi bank relatif aman dan stabil, namun disisi lain likuiditas yang terlalu dan justru membuat tingkat profitabilitas menjadi rendah karena aset-aset yang likuid biasanya tidak dapat memberikan tingkat timbal hasil yang tinggi.59
Permasalahan likuiditas pada bank Islam dapat terjadi jika beberapa faktor atau kejadian berikut ini muncul pada saat terjadi penarikan dana simpanan berjumlah besar, bank Islam tidak memiliki cukup dana dan sumber pendanaan cepat yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas tersebut, ketika bank Islam telah memiliki komitmen pembiayaan dalam jumlah besar yang belum terealisasi dengan debitur dan pada saat realisasi, bank Islam tidak memiliki dana yang cukup, terjadi penarikan simpanan yang cukup besar dan bank Islam tidak memiliki asset yang dapat segera dicairkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas nasabah, dan terjadi penurunan besar-besaran terhadap nilai asset yang bank miliki yang memicu ketidakpercayaan nasabah sehingga menarik dana simpanannya dari bank.60
Berbicara tentang risiko likuiditas, Bank Aman Syariah juga mengalami risiko likuiditas yang berupa kelebihan likuiditas. Pada dasarnya Bank Aman Syariah sama dengan bank syariah lainnya yang memberikan jasa kepada masyarakat dengan melakukan penarikan dan penyaluran dana guna untuk mensejahterakan masyarakat.
59 Imam Wahyudi, dkk.,Manajemen Risiko Bank Islam, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013), h. 217.
60 Imam Wahyudi, dkk.,Manajemen Risiko…, h. 212.
46
Bagi masyarakat yang memiliki dana lebih memilih menginvestasikan dananya pada kegiatan usaha yang menghasilkan imbal hasil dari pada hanya menyimpannya di brankas pribadi. Sementara bagi yang memiliki usaha akan membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan bisnisnya baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka panjang. Namun keduanya tidak sinkron karena di Bank Aman Syariah tingkat nasabah funding lebih banyak dibandingkan nasabah lending. Akibatnya Bank Aman Syariah mengalami risiko kelebihan likuiditas di tahun 2018.
Risiko kelebihan likuiditas di BAS disebabkan karena banyaknya dana nasabah yang masuk tetapi sulit untuk memutarkan dana tersebut sehingga dana mengendap. Hal itu terjadi karena kurang akuratnya dalam menyalurkan dana pihak ketiga kepada masyarakat.61
Menurut bapak Sugianto, risiko kelebihan likuiditas di Bank Syariah terjadi karena beberapa faktor, diantaranya tingginya tingkat kepercayaan nasabah terhadap funding dan kurangnya minat nasabah terhadap lending. Selain faktor tersebut, BAS juga memiliki faktor Internal dan Eksternal. Faktor internal meliputi kemampuan bank dalam memberikan pembiayaan masih kurang efektif dan Bank Aman Syariah masih menjaga image. Sedangkan Faktor eksternal meliputi tingkat pembiayaan yang stagnan dan keadaan ekonomi masyarakat yang kurang stabil.62
61Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 10.00 WIB.
62Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 10.00 WIB.
47
Risiko kelebihan likuiditas memiliki dampak negatif bagi setiap bank yang mengalami risiko tersebut. Dampak negatif tersebut sangatlah berpengaruh terhadap kelangsungan usaha di suatu bank. Begitupun dengan BAS, risiko kelebihan likuiditas juga memberikan dampak negatif berupa pendapatan yang didapat oleh bank berkurang, profit BAS menurun, serta dividen yang diperoleh oleh pemegang saham juga berkurang.63
Pembagian dividen oleh pemegang saham disesuaikan dengan setiap keuntungan yang didapat. Jadi, saat RUPS diadakan skema pembagiannya dihitung berdasarkan persentase saham yang ditanam oleh pemegang saham.
Untuk mengatasi risiko tersebut, BAS menggunakan beberapa strategi diantaranya:
1. BAS Menjaga Keseimbangan Antara Funding Dan Lending
Kepercayaan nasabah terhadap BAS dari segi funding memang sangat baik. Hal itu lah yang menyebabkan banyaknya nasabah funding dibandingkan dengan nasabah lending. Akibatnya banyak dana nasabah yang masuk dan mengendap, karena belum tersalurkannya kepada nasabah lending. Hal itu karena kurangnya minat nasabah dalam melakukan pembiayaan di BAS yang disebabkan karena beberapa faktor salah satunya adalah iklim.64
Untuk itu, BAS mulai menerapkan strategi fleksibel dalam penyeimbang antara funding dan lending. Strategi fleksibel di sini maksudnya adalah strategi bagi marketing yang memiliki multitalenta yang bisa ditempatkan baik itu di
63 Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 10.00 WIB.
64Wawancara dengan Bapak Miftahul Fajar selaku Account Officer di Bank Aman Syariah,13 Februari 2019 pukul 11.30 WIB.
48
bidang lending maupun funding. Jadi ketika terjadi kelebihan dana, marketing funding bisa ikut membantu mempromosikan produk pembiayaan kepada nasabah sehingga dapat mengurangi adanya dana yang menganggur. Begitu sebaliknya, jika terjadi kekurangan likuiditas marketing lending juga dapat membantu memasarkan produk funding. Jadi, strategi fleksibel itulah yang selama ini dilakukan oleh BAS.65
Kondisi perekonomian secara umum memang sangat mempengaruhi kondisi likuiditas perbankan syariah. Begitupun dengan kondisi perekonomian masyarakat di sekitar Bank Aman Syariah. Banyak masyarakat yang tidak melakukan pembiayaan karena takut tidak dapat mengembalikan pembiayaan tersebut.
Karena jika masyarakat tidak dapat mengembalikan dana pembiayaan tersebut itu hanya akan menjadi beban bagi masyarakat itu sendiri. Sehingga masyarakat lebih memilih menjalankan setiap usahanya dengan modal sendiri.
Meskipun tidak semua masyarakat berfikir demikian dan tetap melakukan pembiayaan, namun persentase keduanya tidak seimbang.
Hal itu yang menyebabkan ketidakseimbangan antara funding dan lending.
Namun, BAS tetap berusaha menyeimbangkan keduanya dengan menggunakan srategi fleksibel yang diharapkan dapat mengoptimalkan setiap tindakan yang diambil untuk meningkatkan minat nasabah dalam melakukan pembiayaan.
Sehingga jumlah nasabah antara funding dan lending tetap seimbang.
65Wawancara dengan BapakSugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
49
Sebenarnya, pangsa pasar dari BAS tidak hanya berasal dari masyarakat sekampung saja, tetapi juga dari luar sekampung seperti Metro dan Lampung Tengah. Selain itu, terdapat lembaga Keuangan Syariah yang juga mengajukan pembiayaan di BAS seperti BMT dan Koperasi.
2. Penambahan Karyawan Baru (Rekrutmen)
Strategi yang digunakan Bank Aman Syariah dalam meminimalisir risiko kelebihan likuiditas yaitu penambahan karyawan baru. Penambahan karyawan baru atau rekrutmen adalah proses untuk mencari dan menarik pelamar yang berkemampuan untuk diseleksi menjadi karyawan sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.
Rekrutmen karyawan di Bank Aman Syariah akan ditempatkan di bagian marketing, tujuannya untuk dapat membantu memasarkan produk pembiayaan supaya masyarakat lebih berminat lagi dalam melakukan pembiayaan sehingga risiko kelebihan likuiditas dapat di atasi.66
Dalam rekrutmen karyawan, Bank Aman Syariah belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) secara tertulis. Setelah merencanakan kebutuhan tenaga kerja, pihak BAS membuat pengumuman lowongan pekerjaan. Dalam pengumuman lowongan pekerjaan dicantumkan batas waktu pengajuan lamaran serta syarat dan kriteria yang dibutuhkan seperti muslim/muslimah, domisili lampung, mempunyai sepeda motor dan SIM C, pendidikan minimal D3, bisa membaca Al-Quran, dan mampu mengaplikasikan komputer. Berkas yang harus
66Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
50
dilampirkan yaitu surat lamaran pekerjaan, pas foto 4x6, fotocopy ijazah terakhir, fotocopy KTP dan SIM C, serta surat keterangan sehat.
Di tahun 2018 BAS sudah melakukan rekrutmen karyawan sebanyak 3 orang yang ditempatkan di bagian marketing. Untuk standar perekrutmennya BAS lebih menekankan pada pengalaman. Karyawan yang akan di rekrut harus memiliki pengalaman, kalaupun tidak memiliki pengalaman di bank setidaknya calon karyawan tersebut lulusan dari perbankan syariah.
Kemudian selain pengalaman, calon karyawan harus sehat jasmani dan rohani, memiliki akhlak yang baik, bagi laki-laki tidak merokok dan bagi perempuan memakai hijab. Jadi kurang lebihnya itu ketentuan-ketentuan yang digunakan BAS untuk rekrutmen karyawan selain standar tertulis yang tertera di atas.67
3. Membuka Ekspansi Kantor Pusat Dan Cabang
Membuka ekspansi kantor pusat dan cabang merupakan salah satu strategi yang dilakukan Bank Aman Syariah untuk memperluas usaha dengan membuka unit bisnis atau anak perusahaan baru yang sama dengan perusahaan yang sudah ada. Strategi yang dilakukan BAS dengan menambah produk atau jasa baru untuk membantu meningkatkan penjualan perusahaan melalui anak perusahaan yang akan didirikan.
Namun strategi ini belum terealisasikan oleh BAS karena disebabkan masalah perizinan. Adanya perizinan yang tidak mudah atau bisa dikatakan rumit
67Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
51
itulah yang menjadi kendala dari pendirian kantor cabang BAS. Sehingga sampai saat ini hanya ada satu kantor BAS yaitu yang terletak di Kecamatan Sekampung Lampung Timur.68
4. Melakukan Monitoring
Dalam mengatasi risiko kelebihan likuiditas Bank Aman Syariah juga melakukan monitoring terhadap staff nya termasuk pada bagian marketing.
Monitoring dilakukan untuk membuat perusahaan menjadi lebih produktif dalam menjalankan aktifitas bisnis perusahaan. Indikator pemantau kinerja karyawan yaitu kuantitas kerja karyawan, kualitas kerja karyawan, efisiensi karyawan, dan menguasai uraian jabatan.
Kuantitas kerja karyawan merupakan jumlah capaian kerja yang diselesaikan oleh karyawan. Kuantitas yang dihasilkan diharapkan sesuai dengan target minimal sesuai dengan tanggung jawab yang di bebankan terhadap karyawan.
Kualitas kerja karyawan, merupakan tingkatan hasil dari tanggung jawab yang dilakukan. Indikator kualitas ini dapat menunjukkan tingkat kemampuan karyawan terhadap tanggung jawab kerja. Efisiensi karyawan, misalnya penggunaan waktu, target capaian, dan juga timeline yang diberikan kepada karyawan terhadap roadmap tanggung jawab kerja yang diberikan. Menguasai uraian jabatan, merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh karyawan dalam
68Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
52
menjalankan pekerjaan dan tanggung jawabnya sesuai dengan jabatan yang dijalani.69
Monitoring yang dilakukan Bank Aman Syariah meliputi membuat target kerja dan membuat laporan. Membuat target kerja, target kerja yang diberikan akan berguna sebagai alat untuk karyawan melakukan pekerjaan sehari-hari.
Setiap karyawan akan menerima target kerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan dan setiap karyawan juga bertanggung jawab untuk pencapaian target tersebut. Membuat laporan, Karyawan membuat laporan kerja harian sesuai dengan jabatan yang berguna sebagai indikator kerja yang dilakukan oleh karyawan. Laporan kegiatan kerja ini dapat dipantau perhari, perminggu, dan perbulan.70
Menurut Bapak Miftahul Fajar selaku Account Officer, langkah yang diambil untuk menambah nasabah pembiayaan dapat dilakukan dengan dua cara.
Pertama, Lebih menggencarkan fokus kerja pada pemasaran pembiayaan agar target marketing dapat tercapai.
Tidak hanya marketing lending, marketing funding juga ikut membantu dalam memasarkan produk pembiayaan kepada nasabah funding yang kemungkinan membutuhkan dana untuk melakukan usaha. Begitu juga bagian operasional yang turut serta membantu untuk mempromosikan produk lending meskipun tidak secara langsung berhadapan dengan nasabah melainkan melalui media sosial. Kemudian bagian marketing lending juga melakukan follow up
69Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
70Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
53
kembali bagi nasabah-nasabah yang sudah jatuh tempo atau beberapa bulan lagi akan jatuh tempo supaya melakukan pembiayaan kembali. Kedua, Mendatangi majelis-majelis ta’lim untuk memberikan edukasi sekaligus menawarkan produk- produk lending yang fokusnya pada pembiayaan utamanya di pembiayaan haji.71
Untuk mengatasi risiko kelebihan likuiditas bank dapat menginvestasikan dana yang berlebih di instrumen investasi jangka pendek yang dapat digunakan untuk menempatkan dana lebih tersebut. Karena sifatnya sementara, maka sebaiknya instrumen investasi yang di pilih merupakan instrumen yang mudah ditransaksikan dipasar (marketable securities) sehingga sewaktu-waktu bank Islam membutuhkan likuiditas segera, instrumen investasi tersebut dapat segera dicairkan.
Kelebihan likuiditas yang dimiliki perbankan ditempatkan pada instrumen pasar uang, seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) jangka pendek, dan sebagainya.72
Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Indonesia berdasarkan prinsip syariah berjangka waktu pendek dalam mata uang rupiah. Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) adalah kegiatan transaksi keuangan jangka pendek antar bank berdasarkan prinsip syariah baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Untuk saat ini, instrumen
71Wawancara dengan Bapak Miftahul Fajar selaku Account Officer di Bank Aman Syariah,13 Februari 2019 pukul 11.30 WIB.
72 Imam Wahyudi, dkk.,Manajemen Risiko Bank Islam, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013), h. 219.
54
keuangan untuk Pasar Uang Syariah yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia terdiri atas Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA). 73
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) adalah surat berharga negara dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang diterbitkan oleh negara Republik Indonesia, sebagai bukti atas sebagian penyertaan terhadap aset SBSN.74
Asset SBSN ini dapat berupa tanah atau bangunan (aktiva berwujud).
Tersedianya asset ini bertujuan untuk menghindarkan dari unsur riba. Pasar uang di atas sangat likuid untuk menempatkan kelebihan dana sehingga dana yang menganggur dapat menghasilkan keuntungan bagi bank. selain itu, jika suatu bank dapat memelihara keseimbangan likuiditas maka dapat dikatakan bank tersebut termasuk bank yang sehat. Jika bank itu sehat, maka kepercayaan nasabah juga akan meningkat baik itu nasabah dalam menyimpan dana maupun nasabah pembiayaan.
Kaitannya dengan strategi bank syariah dalam mengatasi risiko kelebihan likuiditas, BAS juga menggunakan strategi investasi jangka pendek berupa simpanan Giro dan Deposito di bank syariah lain seperti Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Muamalat. Yang mana investasi ini bertujuan untuk menempatkan dana-dana pihak ketiga agar tidak terlalu banyak yang menganggur.
BAS memilih menginvestasikan dananya melalui simpanan giro dan simpanan deposito karena keduanya termasuk instrumen investasi jangka pendek yang dapat digunakan untuk menempatkan dana lebih tersebut. Keduanya juga
73 Khaerul Umam, Manajemen Perbankan Syariah, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2013), h. 194-195.
74Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Kencana, 2005), Edisi Kedua, h. 125.
55
dapat dicairkan dalam jangka waktu pendek apabila bank sewaktu-waktu membutuhkan dana.75
Dalam teori juga sudah dijelaskan bahwa, pengendalian dan mitigasi risiko likuiditas, terdapat beberapa hal yang seharusnya dilakukan oleh bank Islam, yaitu sebaiknya bank Islam melakukan diversifikasi atas sumber pendanaan yang digunakan untuk mendanai berbagai pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek bank Islam dapat menggunakan beberapa skema pendanaan jangka pendek misalnya skema mudharabah jangka pendek antar bank Islam,76 bank Islam seharusnya membuat kebijakan cadangan likuiditas dan memasukkannya pada perhitungan tingkat likuiditas optimal yang harus dijaga setiap periode.77
Terkait dengan pengendalian risiko likuiditas, BAS sudah menerapkan diversifikasi atas sumber pendanaan yang digunakan untuk mendanai berbagai pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat. Hanya saja pengendalian tersebut belum berjalan efektif karena BAS masih sangat berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada masyarakat. Sehingga pengendalian ini belum berjalan secara efektif dan optimal.
Bapak Miftahul Fajar juga mengatakan bahwasannya dalam memberikan pembiayaan pihak BAS juga menerapkan prinsip kehati-hatian. Meskipun banyak berkas nasabah pembiayaan yang masuk, pihak BAS masih mempertimbangkan untuk memberikan pembiayaan tersebut. BAS melihat dari berbagai aspek calon
75Wawancara dengan Bapak Sugianto selaku Direktur di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.00 WIB.
76 Imam Wahyudi, dkk.,Manajemen Risiko…, h. 220.
77 Ibid., h. 221.
56
nasabah yang akan melakukan pembiayaan untuk kemudian dapat disetujui dan diberikan pembiayaan. Namun BAS terlalu berhati-hati dalam memberikan pembiayaan kepada nasabah. Sehingga, dana yang seharusnya dapat tersalurkan kepada nasabah menjadi tertahan kembali di bank. Hal ini juga yang menyebabkan terjadinya risiko kelebihan likuiditas di BAS.78
Sesuai Pasal 2 Undang-Undang Perbankan Jo, UUPS menegaskan bahwa perbankan Indonesia melaksanakan usahanya berasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Pasal tersebut berlaku bagi setiap bank yang melakukan kegiatan usahanya di Indonesia, baik bank umum maupun bank perkreditan rakyat, sebab hal tersebut terkait dengan fungsi bank sebagai lembaga intermediasi.
Hal itu dapat disimpulkan bahwa bank syariah sebagai lembaga intermediasi harus selalu menerapkan prinsip kehati-hatian, meskipun bank syariah menggunakan prinsip syariah yang berdasarkan hukum Islam dalam menjalankan menjalankan usahanya. Untuk mencegah terjadinya pembiayaan yang bermasalah di kemudian hari, penilaian suatu bank syariah untuk memberikan persetujuan terhadap suatu permohonan pembiayaan syariah dilakukan dengan perpedoman pada Prinsip 5C. Prinsip-prinsip tersebut ialah character, capacity, capital, collateral, dan condition of economic.79
Penerapan prinsip kehati-hatian oleh BAS memang sangat di haruskan karena hal tersebut sesuai dengan Pasal 2 Undang-Undang Perbankan Jo. Namun
78 Wawancara dengan Bapak Miftahul Fajar selaku Account Officer di Bank Aman Syariah, 13 Februari 2019 pukul 11.30 WIB.
79Hermansyah, Hukum Perbankan…, h. 125.
57
dalam penerapannya, BAS terlalu berhati-hati dalam melakukan pembiayaan kepada nasabah.
Prinsip kehati-hatian haruslah dilakukan sesuai dengan porsinya, sehingga prinsip ini nantinya akan lebih berguna bagi kelangsungan usaha BAS sendiri.
Dan yang terpenting, risiko yang terjadi di BAS seperti risiko kelebihan likuiditas dapat teratasi dengan seimbangnya antara pemberian pembiayaan dan penghimpunan dana dari nasabahnya.
Meskipun demikian, BAS akan terus berusaha mengoptimalkan setiap strategi yang dibuat agar dapat mengatasi risiko kelebihan likuiditas dan dapat menstabilkan tingkat likuiditas di BAS. Sehingga profitabilitas BAS juga lebih stabil bahkan diharapkan akan meningkat.
58 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasi penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1. Faktor utama terjadinya risiko kelebihan likuiditas di BAS adalah tingginya minat nasabah dalam segi funding dari pada lending. Selain faktor utama tersebut, masih ada faktor-faktor lain yaitu faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal meliputi tingkat pembiayaan yang stagnan dan keadaan ekonomi masyarakat yang kurang stabil sehingga masyarakat enggan untuk melakukan pembiayaan.
Kemudian untuk faktor internal meliputi kemampuan bank dalam memberikan pembiayaan masih kurang efektif. Selanjutnya Bank Aman Syariah masih menjaga image, karena sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa BMT sama dengan Bank Syariah. Oleh sebab itu pihak bank tetap menjaga kredibilitas bank agar masyarakat percaya bahwa Bank Syariah berbeda dengan BMT.
2. Bank Aman Syariah menerapkan beberapa strategi untuk mengatasi risiko kelebihan likuiditas berupa BAS menjaga keseimbangan antara funding dan lending, penambahan karyawan baru (rekrutmen), membuka ekspansi kantor pusat dan cabang, dan melakukan monitoring. Selain itu, BAS juga menginvestasikan