BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Hasil Penelitian
8. Teknik Olah Sukma Berbasis Video
. Baik dan mendukung makna Baik Bentuk puisi indah dan
mendukung makna 15
Cukup Bentuk puisi cukup indah
dan mendukung makna 10
Kurang
Bentuk puisi kurang indah dan kurtang mendukung makna
5 (Diadaptasi dari: Waluyo, 2007)
tertentu yang pengucapan batin dengan puisi dan saat-saat lain yang menuntut pengucapan batin. Bahasanya, selain indah juga padat, artinya kata-kata yang digunakan mewakili banyak pengertian. Konsentrasi berarti pemusatan. Seorang penyair akan mengalami proses konsentrasi dalam menciptakan puisinya. Dalam proses konsentrasi, setiap komponen dalam puisi harus berpusat, bertumpuh dan terfokus pada satupermasalahan atau satu kesan. Proses konsentrasi terlihat dalam pemilihan kata, penyusunan larik, dan pembentukan bait yang diperhitungkan dengan cermat untuk mengungkapkan satu permasalahan atau yang diperhitungkan dengan cermat untuk mengungkapkan satu permasalahan atau satu kesan. Oleh karena itu, pemakaian kata dalam setiap puisi selalu cermat dan padat tidak ada satu kata pun yang mubazir. Bahkan, dengan sengaja penyair melakukan pelanggaran terhadap kaidah bahasa tertentu untuk mengonsentrikan puisinya pada satu permasalahan atau satu kesan.
Akibat dari proses konsentrasi, dalam karya puisi sering ditemukan penghilangan imbuhan, kata depan, dan tanda baca. Hal ini sangat berbeda dengan karya bukan puisi. Dalam cerpen atau drama misalnya, dapat ditemukan permasalahan sampingan (anak tema) sebagai penunjang permasalahan utama. Selain itu, kalimat, dan kaidah bahasa juga harus utuh dan benar.
Proses intensifikasi adalah proses pengungkapan satu permasalahan secara mendalam, mendasar, dan substansial. Semua
komponen yang ada dalam puisi saling menunjang dalam pengungkapan tersebut. Pada puisi semua permasalahan diungkap secara intens dan mendalam sebagai hasil dari suatu perenungan atau kontemplasi. Imaji berarti juga citra. Jadi, pengimajian disebut juga pencitraan.
Pencitraan berarti pembentukan gambaran tentang sesuatu di dalam pikiran. Sebuah puisi mencerminkan adanya proses pengimajian. Artinya semua komponen puisi mulai rima, ritme, larik, dan pilihan kata berfungsi untuk membangun suatu imaji atau gambaran tertentu yang terbentuk dalam pikiran pembaca. Penyair membentuk imaji dengan menggunakan kata konkret dan khas, majas dan idiom, serta gaya bahasa tertentu.
Pengimajian adalah penggunaan kata yang konkrit dan khas. Penataan kata-kata dalam larik dan bait dilakukan sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji.
Pandangan lain sekaitan dengan teknik olah sukma adalah penataan perasaan sebagai pengalaman pribadi. Arsyidin (2001) menyatakan puisi lahir dari suatu pengalaman. Akan tetapi pengalaman tidak cukup pengalaman membutuhkan manajemen perasaan atau penataan jiwa yang mendalam. Oleh karena itu, upaya mengelolah perasaan mendalam dapat menjadi jembatan melahirkan puisi. Selain itu, dalam mengapresiasi sebuah karya puisi, dibutuhkan ketajaman estetika serta konsentrasi yang sempurna dari apresiator. Oleh karena itu, fantasi estetika dan nilai rasa siswa harus ‘digali’ dicerahkan dan ‘dikibarkan’ seluas-luasnya
dalam mengapresiasi sebuah karya sastra puisi. Bernanrd Vercy (dalam Anwar, 2001) mengemukakan bahawa mengapresiasi puisi membutuhkan imajinasi yang sempurna, estetika, dan intuisi yang halus serta bermakna. Dari beberapa pandangan di atas, maka penulis telah mengujicobakan sebuah strategi yang dapat mengembangkan nilai-nilai estetika siswa melalui pengolahan rasa dan sukma berbasis video, serta merangsang daya imajinasi siswa dengan baik. Secara teoritis, jika ‘perangsangan’ dan penggalian imajinasi dilakukan dengan baik, maka akan memudahkan siswa dalam mengembangkan idenya sesuai dengan ‘pengembaraan’
imajinasinya tersebut, yang pada akhirnya siswa mampu menuangkannya dalam bentuk karya puisi.
Menurut Gazali (1990) Imajinasi atau daya fantasi merupakan faktor utama bagi seorang seniman dalam menciptakan hasil karya besar mereka. Dengan daya fantasi dan imajinasi itu pulalah siswa mampu menulis dan menikmati karya sastra yang indah. Adalah hal yang mustahil Chairil Anwar menciptakan puisi-puisi yang heroik tanpa melalui pergumulan imajinasi yang mendalam. Juga kita tidak akan menikmati sajak-sajak Khalil Gibran, Rabinranath Tagore, Taufik Ismail, atau Sutardji Calsoum Bachri tanpa imajinasi mereka yang kaya. Oleh karena itu, melatih dan mengembangkan daya imajinasi, cita rasa dan daya fantasi siswa merupakan langkah penting dalam upaya memparkaya ide siswa yang berujung pada
kemampuannya dalam mencipta dan mengapresiasi karya sastra termask menulis sebuah puisi sebagai sebuah perguluman imajinasi yang diolah secara mendalam.
Secara hakikik olah sukma berbasis video adalah membiasakan diri berkonsentrasi untuk mengingat kembali kejadian yang pernah dialami untuk membantu penjiwaan melalui refleksi terhadap video. Pemusatan pikiran atau olah sukma perlu latihan seperti (1) Olah rasa dari panca indera. Mengingat pengalaman panca indera seperti rasa panas, dingin, luka, manis (3) pahit, lezat, melihat pemandangan indah, dan lain-lain (2) Olah rasa dari jiwa. Mengingat pengalaman emosi dan jiwa seperti kagum, percaya diri, sakit hati, kesal, bangga, geli, dan sebagainya. (4) Olah ingatan. Mengingat kesan yang ditangkap dari seorang tokoh yang pernah dilihat atau dibaca sesuai dengan karakter peran kita. Contohnya kesan dari seorang raja yang gagah perkasa seperti pernah dibaca di komik.
Langkah-langkah untuk menumbuhkan sukma yang siap (a) Konsentrasi dan fokus, (b) Observasi dan penyerapan (lingkungan-suasana-waktu) (c) Imajinasi, (d) Penghayatan, (e) Improvisasi, (f) Pembangunan karakter (Nurrobi. 2013).
b. Langkah-langkah pembelajaran olah sukma
Teknik olah sukma berbasis video, terdiri dari langkah atau tahap, yakni: 1) persiapan; 2) pelaksanaan; dan 3) evaluasi. Berikut ini akan dipaparkan langlah-langkah tersebut secara sistematis
1) Persiapan
Sebelum pembelajaran dimulai, terlebih dahulu dilakukan persiapan. Yang dilakukan oleh guru sebelum melaksanakan strategi ini adalah mempersiapkan materi olah sukma dan jelajah ruang imajinasi, materi-materi tersebut. Berupa puisi dan instrumen- instrumen serta instruksi-instruksi yang merangsang imajinasi. Untuk lebih jelasnya akan digambarkan secara secara lengkap pada tahap pelaksanaan proses pembelajaran.
2) Pelaksanaan
Adapun tahap pelaksanaan strategi olah sukma dalam pembelajaran apresasi sastra (puisi) siswa adalah sebagai berikut:
a) Langkah pertama, guru menjelaskan secara singkat proses pembelajaran, dengan memberi penekanaan agar siswa berkonsentrasi dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
b) Langkah kedua, siswa diperintahkan untuk berdiri tegak di tempat masing-masing lalu menyaksikan video sesuai tema.
c) Langkah ketiga, guru memberikan instruksi-intruksi pendahuluan, seperti seluruh siswa merentangkan tangan beberapa saat lamanya, kemudian menurunkan tangan perlahan-lahan.
Selanjutnya, siswa diminta menengadah-kan kepala ke langit- langit kelas, kemudian menatap langit-langit tersebut dengan santai. Selanjutnya menurunkan pandangan perlahan-lahan
hingga menatap ujung kaki. Tujuannya agar siswa dilatih untuk memusatkan perhatian.
d) Langkah keempat adalah pemusatan konsentrasi. Siswa memejamkan mata kemudian guru memberikan instruksi-instruksi seperti berikut ini:
“Pejamkan mata perlahan-lahan, kemudian rasakan kegelapan yang tiba-tiba datang itu (irama suara guru harus menghayutkan).
Nikmati kegelapan itu… nikmati… Selanjutnya konsentrasikan pikiran pada titik putih yang nampak. Perhatikan dengan baik titik putih itu. Pusatkan perhatian semaksimal mungkin. (pemusatan pikiran pada titik putih itu dilakukan ± 2 menit)”.
e) Langkah kelima adalah tahapan olah sukma dan penjelajahan ruang imajinasi. Siswa masih berdiri dan memejamkan mata dan terus memperhatikan titik putih yang tampak pada saat siswa memejamkan mata, sementara pendengarannya dipusatkan pada instruksi guru. Selanjutnya guru mulai mengolah sukma siswa dengan memberikan instruksi-instruksi sesuai perencanaan yang telah disiapkan oleh guru di rumah, misalnya seperti berikut ini:
“Sekarang bayangkan kalian sedang berada di pantai…
Bayangkan burung-burung camar terbang berkejar- kejaran di atas ombak
Bayangkan kalian sedang berdiri di bibir laut yang landai dengan pasir putih yang indah…
Bayangkan air laut menjilat-jilat kaki kalian…
Dingin… dingin…
Bayangkan sebatang pohon nyiur melambai- melambaikan dahannya ditiup angin.
Rasakan seakan-akan angin sepoi-sepoi membelai rambutmu
Rasakan kedamaian, ketentrama mengalir di sukmamau Rasakan keindahan liukan ombak. Kepak sayap burung camar…
Rasakan begitu agungnya ciptaan Tuhan. Begitu agungnya (dan seterusnya sesuai dengan keinginan guru).
Boleh juga guru memberikan instruksi sesuai dengan tema pembelajaran. Contoh di atas sesuai dengan tema lingkungan.
f) Langkah keenam, siswa terus dibuai dengan olahan-olahan imajinasi yang menyentuh jiwanya secara langsung dan diberikan sentuhan-sentuhan estetika pada diri siswa secara terus- menerus. Dengan demikian, daya hayal, imajinasi, sukma, rasa, dan karsanya terangsang. Guru mengupayakan adanya gugahan terhadap pikiran dan perasaan yang keterakitannya lebih erat pada imajinasi, sehingga membuat siswa mudah menerima sugesti dan peka terhadap persoalan-persoalan dalam imajinasinya.
g) Langkah ketujuh adalah perenggangan. Pada tahap ini siswa dengan santai mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam imajinasinya. Guru dapat memberikan instruksi seperti berikut ini:
“Rekam kembali peristiwa-peristiwa yang meuncul dalam imajinasi kalian tadi. Ingat kembali keadaan pantai, suasana laut, burung camar, nyiur melambai, pasir putih, deburan ombak, kapal nelayan, dan sebagainya (± 2 menit) selanjutnya perlahan-lahan buka mata kembali!”
Setelah siswa membuka mata, berrati siswa telah kembali dari
‘pengembaraannya’. Siswa kini mempunyai kenangan indah di pantai. Siswa telah memiliki pengalaman dan angan-angan tentang pantai, laut, burung camar, perahu nelayan, pasir putih, pohon nyiur dan sebagainya. Siswa kini telah memiliki ‘modal besar‘ untuk menulis puisi tentang lingkungan (pantai)
h) Tahap kedelapan adalah penulisan (Compossing)
Setelah siswa memiliki ide dan gagasan untuk menulis puisi, maka selanjutnya perintahkanlah siswa untuk mulai menulis puisi berdasarkan imajinasi yang telah diolah melalui “pengembaraan sukma” yang baru saja mereka lalui
i) Tahapan kesembilan adalah perbaikan (editing)
Pada tahap ini, siswa membacakan puisinya satu persatu, dan siswa yang lain menanggapi puisi dan penampilan temannya.
Tanggapan siswa berkisar pada isi, bahasa, diksi, dan proses kreatifnya. Guru bertugas sebagai moderator dan mengarahkan jalannya diskusi. Selanjutnya, berdasarkan masukan dari teman- temannya dan guru, siswa menulis kembali puisi tersebut. (rewriting)
Cara di atas hanya salah satu contoh, mengolah sukma dan penjelajahan ruang imajinasi siswa. Bentuk dan variasinya boleh dikembangkan guru sesuai dengan materi yang ingin diberikan.
Materi-materi tersebut bisa sesuai dengan tema pembelajaran, seperti lingkungan, disiplin, olahraga, transportasi, teknologi dan sebagainya. Dapat pula keluar dari tema, seperti tentang orang tua, pengalaman pribadi yang menarik, binatang kesayangan, dan sebagainya.
3) Evaluasi
Dalam pembelajaran ini, evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi proses belajar dan evaluasi hasil belajar. Evaluasi proses belajar dilihat dari tingkat keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran, dan membacakannya. Sementara penialaian hasil diperoleh dari memberikan soal-soal evaluasi, dan menulis puisi. Adapun hal-hal yang dinilai dalam penilaian puisi adalah, bahasa, kesesuaian dengan tema, irama, diksi, estetika dan pesan yang ingin disampaikan.