• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBIAYAAN

4.1 INTEGRITAS PROGRAM KARTU SEHAT JAMINAN KESEHATAN

4.1.1 REGULASI

1. Undang-Undang Dasar tahun 1945 Pasal 28 H dan Pasal 34 2. Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan

3. Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional

4. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang mengamanatkan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional dilaksanakan oleh BPJS Kesehatan;

5. Peraturan Pemerintah 76 Tahun 2015 perubahan atas PP No 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.

6. Peraturan Presiden Republik Indonesia No 64 tahun 2020 Perubahan kedua atas Peraturan Presiden Republik Indonesia No 82 tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

7. Permenkeu Nomor 78 tahun 2020 tentang pelaksanaan pembayaran kontribusi iuran peserta penerima bantuan iuran jaminan kesehatan,

iuran peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan pekerja dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III, dan bantuan iuran bagi peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan pekerja dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III oleh pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah

8. Peraturan Bupati Tangerang Nomor 38 Tahun 2016 Tentang Integrasi Program Kartu Sehat Kabupaten Tangerang Ke Dalam Jaminan Kesehatan Nasional.

9. Peraturan Bupati No 102 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jaminan Kesehatan.

4.2. Progress Pencapaian Universal Health Coverage

Dalam rangka mendukung Universal Health Coverage Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banten , seluruh penduduk Kabupaten Tangerang harus memiliki Jaminan Kesehatan Nasional JKN-KIS yang dilakukan secara bertahap.

Sesuai Peraturan Bupati Nomor : 38 tahun 2016 tentang Integrasi program Kartu Sehat Kabupaten Tangerang Kedalam Jaminan Kesehatan Nasional, sejak tahun 2016 secara bertahap peserta program Kartu Sehat Pada Jamkesda Kabupaten Tangerang diintegrasikan ke BPJS Kesehatan. Dengan jumlah peserta sebagai berikut :

Tabel IV.2

JUMLAH PESERTA JKN PUSKESMAS TIGARAKSA TAHUN 2022

Sumber : UPT PJK Dinas Kesehatan Kab. Tangerang 2022

4.3. JAMINAN PERSALINAN 4.3.1. Latar Belakang

Masalah kesehatan ibu dan anak (KIA) masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Tangerang, hal ini dikarenakan masih tingginya jumlah kematian ibu dan kematian bayi. Penyebab kematian bayi dan kematian ibu antara lain

komplikasi neonatal, keterbatasan fasilitas intensif (ICU, HCU, NICU dan PICU), keterbatasan pemahaman masyarakat tentang tanda bahaya kegawatdaruratan pada ibu hamil, bersalin dan nifas

Periode persalinan merupakan salah satu periode yang mengandung resiko bagi ibu hamil terutama apabila ibu hamil/bersalin mengalami komplikasi.

Kematian ibu, kematian bayi dan juga berbagai komplikasi lainnya pada umumnya terjadi pada masa persalinan, hal ini dikarenakan setelah melahirkan dan 1 minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode yang berbahaya bagi ibu dan bayi.

Kondisi Sosial ekonomi, tingkat pengetahuan masyarakat dan masih banyak masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan jaminan kesehatan nasional (JKN) atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) menyebabkan kurangnya akses ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Jaminan persalinan merupakan upaya untuk mendekatkan akses dan mencegah terjadinya keterlambatan penanganan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi dengan mendorong pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan untuk menurunkan kematian ibu dan bayi dimana salah satunya adalah dengan memberikan jaminan persalinan kepada masyarakat miskin dan tidak mampu yang tidak memiliki jaminan apapun.

Jaminan persalinan merupakan upaya untuk mendekatkan akses dan mencegah terjadinya keterlambatan penanganan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi dengan mendorong pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan, terutama untuk masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan.

4.3.2. Dasar Hukum

a) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2020

b) Permenkes Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Perubahan ketiga atas PMK 52 tahun 2016 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam

Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan

c) Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Tangerang Nomor 51 Tahun 2013 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Program Kartu Sehat Pada Jaminan Kesehatan Daerah Kabupaten Tangerang.

d) Peraturan Bupati Nomor 69 Tahun 2017 Tentang Pelaksanaan Jaminan Persalinan di Kabupaten Tangerang.

4.3.3. Penerima Manfaat : Masyarakat miskin/tidak mampu yang tidak memiliki jaminan apapun di Puskesmas Tigaraksa

4.3.4. Pihak-Pihak Yang Terlibat - UPTD Puskesmas Tigaraksa - RSU Tangerang

- RSUD Balaraja dan - RSUD Pakuhaji

4.3.5. Pelayanan Pasien Jampersal

Pada tahun 2022 Jumlah pasien jampersal di Puskesmas Tigaraksa sebanyak 5 orang berasal dari Desa Cileles, Tapos, Bantar Panjang dan Kelurahan

Tigaraksa.

KESEHATAN KELUARGA

Pembangunan keluarga dilakukan dalam upaya untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan yang sehat. Selain lingkungan yang sehat, kondisi kesehatan dari tiap anggota keluarga sendiri juga merupakan salah satu syarat dari keluarga yang berkualitas. Sebagai komponen yang tidak terpisahkan dari masyarakat, keluarga memiliki peran signifikan dalam status kesehatan. Keluarga berperan terhadap optimalisasi pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas seluruh anggotanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi dan menjamin kesehatan anggota keluarga. Di dalam komponen keluarga, ibu dan anak merupakan kelompok rentan. Hal ini terkait dengan fase kehamilan,

persalinan dan nifas pada ibu dan fase tumbuh kembang pada anak. Hal ini yang menjadi alasan pentingnya upaya kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan di Indonesia. Program Kesehatan Keluarga meliputi kesehatan ibu, Pelayanan Keluarga Berencana, Kesehatan anak yang meliputi pelayanan kesehatan bayi, balita, anak usia sekolah, Pelayanan

Kesehatan Peduli Remaja dan pelayanan kesehatan lanjut usia. Terdapat 6 jenis pelayanan dasar pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan di Program Kesehatan Keluarga, yaitu pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin, pelayanan kesehatan bayi baru lahir, pelayanan Kesehatan balita, pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan pada usia lanjut.

5.1. KESEHATAN IBU

BAB V

Keberhasilan program kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator Angka Kematian Ibu (AKI). Kematian ibu adalah kasus kematian perempuan yang diakibatkan oleh proses yang berhubungan dengan kehamilan (termasuk hamil ektopik), persalinan, abortus (termasuk abortus mola), dalam kurun waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan tanpa melihat usia gestasi, dan tidak termasuk di dalamnya sebab kematian akibat kecelakaan atau kejadian insidental (Pedoman AMP Kemenkes 2010).

AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup. Indikator AKI mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berdasarkan SDKI tahun 2012 sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup dan menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan SUPAS tahun 2015. Upaya menurunkan angka kematian ibu adalah salah satu prioritas dalam target SDGs yaitu pada tahun 2030 mengurangi angka kematian ibu hingga dibawah 70 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan RPJMN tahun 2024 target AKI menjadi 183 per 100.000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2022 di Puskesmas Tigaraksa terdapat (1) satu kasus kematian ibu di Kelurahan Kadu Agung.

5.1.1. PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL

Ibu hamil mendapatkan pelayanan oleh tenaga kesehatan di fasilitas

pelayanan kesehatan. Pelayanan ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang jnis pelayanannya dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut:

1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.

2. Pengukuran tekanan darah.

3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA).

4. Pengukuran tinggi puncak rahim (fundus uteri).

5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status imunisasi.

6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan.

7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).

8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana).

9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya).

10. Tatalaksana kasus.

Selain elemen tindakan yang harus dipenuhi, pelayanan kesehatan ibu hamil juga harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimester, yaitu minimal dua kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), minimal 2 kali pada trimester kedua (usia kehamilan 12-24 minggu), dan minimal dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Penilaian terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan ibu hamil dapat dilakukan dengan melihat cakupan K1 dan K4. Cakupan K1 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Sedangkan cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

Grafik V.1

Cakupan Pemeriksaan Ibu Hamil (K1) Tahun 2022

Object 39

Sumber Data : Program ibu 2022

Dari grafik diatas diperoleh cakupan K1 pada tahun 2022 adalah 100 %. Hal ini dikarenakan adanya Peraturan Pemerintah nomer 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal, Permendagri nomer 100 tahun 2018 tentang Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan secara teknis diatur oleh Permenkes nomer 4 tahun 2019 tentang Standar teknis pemenuhan mutu pelayanan dasar pada SPM bidang kesehatan. Sehingga pencapaian layanan K1 ibu hamil meningkat sebagai upaya pencapaian SPM pada ibu hamil yaitu K4.

Grafik V.2

Cakupan Pemeriksaan Ibu Hamil (K4) Tahun 2022

Object 41

Sumber Data : Program Kesehatan ibu tahun 2022

Dari grafik diatas diperoleh persentase kunjungan ibu hamil K4 adalah 100% tahun 2022. Namun capaian ini belum mencapai target SPM pelayanan kesehatan pada ibu hamil sebesar 100%, cakupan K4 pada tahun 2022 meningkat dibandingkan tahun 2021, peningkatan ini oleh karena ibu hamil dan keluarga sudah tidak khawatir berkunjung ke fasilitas kesehatan dibandingkan tahun

sebelumnya, dan sudah tersosialisasi dengan baik terkait protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan cakupan K1 dan K4 antara lain pendataan ibu hamil, kunjungan rumah bagi ibu hamil yang tidak mematuhi jadwal ANC, optimalisasi Kelas ibu hamil, optimalisasi MOM (Mobile Obstetri Monitoring), Penyuluhan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) dan peningkatan kualitas pelayanan ANC serta peran aktif dari MKIA (Motivator Kesehatan Ibu dan Anak).

5.1.2. PELAYANAN KESEHATAN IBU BERSALIN

Selain pada masa kehamilan, upaya lain yang dilakukan untuk

menurunkan kematian ibu dan kematian bayi yaitu dengan mendorong agar setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih yaitu dokter spesialis kebidanan dan kandungan (SpOG), dokter umum, dan bidan, serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Keberhasilan program ini diukur melalui indikator persentase persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam rangka menjamin ibu bersalin mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, sejak tahun 2015 setiap ibu bersalin diharapkan melakukan persalinan dengan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten di fasilitas pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2020-2024 menetapkan persalinan ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (PF) sebagai salah satu indikator upaya kesehatan keluarga, menggantikan indikator pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (PN). Dari grafik dibawah terlihat bahwa cakupan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan pada tahun 2022 telah mencapai target SPM pelayanan kesehatan ibu bersalin sebesar 100% yaitu mencapai 100,0%.

Grafik V.3

Cakupan Persalinan di Fasilitas Pelayanan kesehatan oleh Tenaga Kesehatan Tahun 2022

Object 43

Sumber Data : Program ibu tahun 2022

Pada grafik di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2022, cakupan persalinan adalah sebanyak 94,1%. Hal ini karna masyarakat sudah mengetahui untuk meminta pertolongan persalianan adalah ke Puskesmas penanganan komplikasi kebidanan di Puskesmas Tigaraksa 80,6%. Menurun dibandingkan cakupan penanganan komplikasi kebidanan tahun 2021 sebesar 90,7%. Cakupan penanganan komplikasi kebidanan di wilayah Puskesmas Tigaraksa Kabupaten Tangerang pada tahun 2022 digambarkan pada grafik dibawah ini:

Grafik V.4

Cakupan Penanganan Komplikasi di Puskesmas Tigaraksa Tahun 2022

Sumber Data : Program ibu tahun 2022 5.1.3. PELAYANAN KESEHATAN IBU NIFAS

Object 45

Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan pada ibu nifas sesuai standar, yang dilakukan sekurang-kurangnya tiga kali sesuai jadwal yang dianjurkan, yaitu pada enam jam sampai dengan tiga hari pasca persalinan, pada hari keempat sampai dengan hari ke-28 pasca persalinan, dan pada hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 pasca persalinan. Masa nifas dimulai dari

enam jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan.

Jenis pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan terdiri dari : a) pemeriksaan tanda vital (tekanan darah, nadi, nafas, dan suhu);

b) pemeriksaan tinggi puncak rahim (fundus uteri);

c) pemeriksaan lokhia dan cairan per vaginam lain;

d) pemeriksaan payudara dan pemberian anjuran ASI eksklusif;

e) pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kesehatan ibu nifas dan bayi baru lahir, termasuk keluarga berencana;

f) pelayanan keluarga berencana pasca persalinan.

Ibu bersalin yang telah melakukan kunjungan nifas sebanyak 3 kali dapat dihitung telah melakukan kunjungan nifas lengkap (KF lengkap).

Cakupan pelayanan ibu nifas KF 1 Tahun 2022 dapat dilihat pada grafik di bawah :

Grafik V.5

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF1 Tahun 2022

Sumber Data : Program ibu tahun 2022 Grafik V.6

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF2 Tahun 2022

45

Object 47

Sumber Data : program Kesehatan ibu tahun 2022 Grafik V.7

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF3 Tahun 2022

Sumber Data : program Kesehatan ibu tahun 2022 Grafik V.8

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF4 Tahun 2022

Sumber Data : program Kesehatan ibu tahun 2022 Grafik V.9

Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF Lengkap Tahun 2022

46

Object 51

Object 53

Sumber Data : program Kesehatan ibu tahun 2022

Dari grafik tersebut diatas terlihat bahwa cakupan pelayanan ibu nifas KF1 sampai dengan KF Lengkap di tahun 2022 sebesar 100%.

5.1.4. Puskesmas Melaksanakan Kelas Ibu Hamil Dan Program Perencanaan Persalinan Dan Pencegahan Komplikasi (P4k)

Penurunan kematian ibu dan anak tidak dapat lepas dari peran

pemberdayaan masyarakat, yang salah satunya dilakukan melalui pelaksanaan kelas ibu hamil dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang

kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, nifas, KB pasca persalinan, pencegahan komplikasi, perawatan bayi baru lahir dan aktivitas fisik atau senam ibu hamil.

Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip Chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, dan Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil.

Puskesmas dikatakan telah melaksanakan kelas ibu hamil apabila telah melakukan kelas ibu hamil sebanyak 4 kali. Seluruh Desa yang ada di puskesmas Tigaraksa Kabupaten Tangerang telah melaksanakan kelas ibu hamil.

Grafik V.10 Jumlah Kelas Ibu hamil

Tahun 2022

Object 57

Sumber Data : Proram kesehatan Ibu tahun 2022

Jumlah kelas ibu hamil pada tahun 2022 masih berjumlah 10 kelas masing masing Desa yakni Desa Sodong yang terbanyak kelas ibu hamil yaitu 3,

kemudian Desa Bantar Panjang yaitu 2, dan kelurahan kadu agung.

Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)

merupakan suatu program yang dijalankan untuk mencapai target penurunan AKI yaitu menekan angka kematian ibu melahirkan. Program ini menitiberatkan fokus totalitas monitoring terhadap ibu hamil dan bersalin.

Dalam pelaksanaan P4K, bidan diharapkan berperan sebagai fasilitator dan dapat membangun komunikasi persuasif dan setara di wilayah kerjanya agar dapat terwujud kerjasama dengan ibu, keluarga dan masyarakat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya peningkatan

kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

Indikator Puskesmas melaksanakan orientasi P4K menghitung Persentase Puskesmas yang melaksanakan Orientasi P4K. Adapun yang dimaksud orientasi tersebut adalah Pertemuan yang diselenggarakan oleh Puskesmas dengan

mengundang kader dan/atau bidan desa dari seluruh desa yang ada di wilayahnya dalam rangka pembekalan untuk meningkatkan peran aktif suami, keluarga, ibu hamil serta masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas. Pada tahun 2022 seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Tangerang telah melaksanakan P4K.

5.1.5. PELAYANAN KONTRASEPSI

Pelayanan Kontrasepsi adalah serangkaian kegiatan meliputi pemberian KIE, konseling, penapisan kelayakan medis, pemberian kontrasepsi, pemasangan atau pencabutan, dan penanganan efek samping atau komplikasi dalam upaya mencegah kehamilan. Pelayanan kontrasepsi yang diberikan meliputi kondom, pil, suntik, pemasangan atau pencabutan implan, pemasangan atau pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim, pelayanan tubektomi, dan pelayanan vasektomi. KB Pascapersalinan (KBPP) adalah upaya pencegahan kehamilan dengan

menggunakan metode/alat/obat kontrasepsi segera setelah melahirkan sampai dengan 42 hari/6 minggu setelah melahirkan.

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu dengan kondisi 4T yaitu Terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun),Terlalu sering melahirkan, Terlalu dekat jarak melahirkan, dan Terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun). Selain itu, program KB

juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tentram,dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan

kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

KB juga merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta perempuan.

Pelayanan KB meliputi penyediaan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi keluarga untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak, berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan

berhenti mempunyai anak.

Cakupan Peserta KB Aktif pada tahun 2022 sebesar 67,6% Permasalahan dalam pencapaian peserta KB aktif antara lain karena masih tingginya kasus Drop Out (DO) KB dan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang masih kurang pada peserta KB aktif.

5.1.6. Imunisasi pada Wanita Usia Subur dan Ibu Hamil

Ibu hamil merupakan populasi yang rentan terhadap infeksi penyakit menular, oleh karena itu program imunisasi juga ditujukan bagi kelompok tersebut. Salah satu penyakit menular yang berakibat fatal dan berkontribusi

terhadap kematian ibu dan kematian anak adalah Tetanus Maternal dan Neonatal.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan berkomitmen terhadap program Eliminasi tetanus Maternal dan Neonatal. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan status eliminasi tetanus maternal dan Neonatal jika terdapat satu kasus tetanus neonatal per 1.000 kelahiran hidup di setiap kabupaten di suatu negara.

Maternal and Neonatal Tetanus Elimination (MNTE) merupakan program eliminasi tetanus pada neonatal dan wanita usia subur termasuk ibu hamil.

Sebelum imunisasi, dilakukan penentuan status imunisasi T(Screening) terlebih dahulu, terutama pada saat pelayanan antenatal.

Tabel V.1

Cakupan Imunisasi Rutin pada Ibu hamil dan wanita usia subur Tahun 2022

No Jenis Imunisasi Cakupan (%)

Td 1 Td 2 Td 3 Td 4 Td 5 Td 2+

1 Puskesmas 125,3 121,4 29,1 17,4 13,4 181,3

Sumber Data: Program Imunisasi tahun 2022

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa cakupan TT II+ tahun 2022 sebesar 181,3 %.

5.2. KESEHATAN ANAK

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sehingga perlu dilakukan upaya kesehatan anak secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan. Upaya kesehatan anak dilakukan sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 18 (delapan belas) tahun.

Upaya pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta untuk menurunkan

angka kematian anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan, dan sampai berusia 18 tahun. Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yakni Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA).

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai belum berusia tepat satu tahun, yang terbagi menurut usia kematiannya.

Kematian Neonatal yaitu kematian bayi lahir hidup yang kemudian meninggal sebelum 28 hari kehidupannya. Kematian Neonatal dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kematian Neonatal dini merupakan kematian bayi yang terjadi pada 7 hari pertama kehidupannya dan kematian Neonatal lanjut adalah kematian bayi yang terjadi pada masa 8-28 hari kehidupannya.(Pedoman AMP Kemenkes 2010).

Angka Kematian Bayi atau Infant Mortality Rate (IMR) adalah jumlah kematian bayi dibawah satu tahun per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini

merupakan indikator yang sensitif terhadap ketersediaan, pemanfaatan pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal disamping juga merupakan indikator terbaik untuk menilai pembangunan sosial ekonomi masyarakat secara menyeluruh.

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebesar 24/1000 kelahiran hidup (SDKI 2017). Target RPJMN tahun 2024 untuk AKB adalah 16/1.000 kelahiran hidup. Grafik di bawah ini menunjukkan jumlah kematian bayi tahun 2018 s/d tahun 2022

Grafik V.11 Jumlah Kematian Bayi

Tahun 2018-2022

Dalam dokumen PROFIL PKM TIGARAKSA THN 2022 (Halaman 42-46)