BAB II PEMBAHASAN
2.5 Teori Belajar Neo-Behavioristik Gagne
Robert Mills Gagne adalah seorang professor dan ahli psikologi yang telah banyak membuat penyelidikan mengenai fase dalam rangkaian pembelajaran dan jenis pembelajaran. Gagne lahir di Andover Utara, Massachusetts. Gagne dan L. J.
Briggs ada diantara pengembangan awal dari teori desain sistem instruksional yang menunjukkan bahwa semua komponen dari pelajaran atau periode instruksi dapat dianalisis dan semua komponen yang dapat dirancang untuk beroperasi bersama-sama sebagai suatu rencana untuk pengajaran.
Teori belajar yang dikemukakan Robert M. Gagne merupakan perpaduan yang seimbang antara behaviorisme dan kognitivisme, yang berpangkal pada teori pemrosesan informasi. Menurut Gagne (1975), belajar merupakan sesuatu yang terjadi dalam benak seseorang, di dalam otaknya. Belajar disebut suatu proses karena secara formal ia dapat dibandingkan dengan proses-proses organik manusia lainnya, seperti pencernaan dan pernapasan. Namun belajar merupakan proses yang rumit dan kompleks. Belajar terjadi ketika seseorang merespon dan menerima rangsangan dari lingkungan eksternalnya. Belajar merupakan proses yang memungkinkan manusia memodifikasi tingkah lakunya secara permanen, sedemikian hingga modifikasi yang sama tidak akan terjadi lagi pada situasi baru.
Gagne berpendapat pengajaran adalah upaya guru menyakinkan siswa bahwa setiap siswa mempunyai kemampuan persyaratan untuk tugas-tugas belajarnya, menstimulir penggunaan kemampuan siswa sehingga siap menyelesaikan dan mengatur persyaratan belajar. Dengan demikian pengajaran adalah faktor eksternal bagi siswa. Inti dari belajar bagi Gagne adalah perkembangan kemampuan untuk perubahan sikap peserta didik.
2.5.2 Prinsip-prinsip belajar
Prinsip belajar Gagne berbeda dengan prinsip-prinsip dari teoritisi sebelumnya yang menemukan prinsip belajar melalui studi belajar laboratorium.
Gagne lebih memusatkan perhatiannya pada kompleksitas belajar manusia yang
memiliki keunikan yang membedakannya dengan spesies yang lain. Beberapa prinsip pembelajaran dari teori Gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
1. Perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
2. Keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/ pengalaman dalam belajar, 3. Pengulangan belajar,
4. Tantangan semangat belajar,
5. Pemberian balikan dan penguatan belajar, serta 6. Adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain itu, yang terpenting menurut Gagne adalah penciptaan kondisi belajar, termasuk lingkungan belajar, khususnya kondisi yang berbasis media, yaitu meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada peserta didik dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasiannya (Gagne, 1990:3). Semua ini akan berpengaruh atau berimplikasi pada pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB) atau Learning Resource Center (LRC).
2.5.3 Kondisi belajar
Untuk dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori belajar dengan sebaik-baiknya ada sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan oleh para pendidik.
Ada kondisi belajar internal, yang timbul dari memori peserta didik sebagai hasil dari belajar sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi eksternal ditinjau dari peserta didik. Kondisi eksternal ini bila diatur dan dikelola dengan baik merupakan usaha untuk membelajarkan. Misalnya pemanfaatan atau penggunaan berbagai media dan sumber belajar.
2.5.4 Kategori Belajar
Gagne (1985) mengkaji masalah belajar yang kompleks dan menyimpulkan bahwa informasi dasar atau keterampilan sederhana yang dipelajari mempengaruhi terjadinya belajar yang lebih rumit. Menurut Gagne ada lima kategori kemampuan belajar, yaitu:
1. Keterampilan intelektual atau kemampuan seseorang untuk berinteraksi
2. Strategi/siasat kognitif yaitu keterampilan peserta didik untuk mengatur proses internal perhatian, belajar, ingatan, dan pikiran;
3. Informasi verbal yaitu kemampuan untuk mengenal dan menyimpan nama atau istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan kumpulan pengetahuan;
4. Keterampilan motorik yaitu keterampilan mengorganisasikan gerakan sehingga terbentuk keutuhan gerakan yang mulus, teratur, dan tepat waktu;
dan
5. Sikap yaitu keadaan dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas) pilihan untuk bertindak.
2.5.5 Jenis belajar dan kondisinya
Gagne mengelompokan jenis media pembelajaran menjadi tujuh macam, yaitu benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Ketujuh kelompok media ini dikaitkan dengan kemampuan memenuhi fungsi menurut tingkat hirarki belajar yang dikembangkannya (Sadiman, dkk, 1986: 23). Gagne juga dikenal untuk teori stimulus-responnya yang muthakir dari delapan jenis pembelajaran yang dibedakan dalam hal kualitas dan kuantitas dari respon stimulus yang mempunyai keterkaitan. Dari yang paling mudah hingga yang paling sulit atau komplek, diantaranya adalah
1.Signal Learning(Belajar Isyarat)
Signal learning ini mirip dengan conditioning menurut Pavlov dan timbul setelah sejumlah pengalaman tertentu. Respon yang timbul bersifat umum, kabur, emosional dan timbulnya refleks dan tak dapat dikuasai. Contohnya:
melihat ular timbul rasa takut, melihat orang tersenyum timbul rasa senang.
2.Stimulus-respon Learning(Belajar stimulus-respon)
Dalam pola belajar ini, dibentuk hubungan antara suatu perangsang dan suatu reaksi, berdasarkan efek yang mengikuti pemberian reaksi tertentu.
Pola ini hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Skinner.
3.Chaining(Rantai atau rangkaian)
Rangkaian terjadi jika terbentuk hubungan antara beberapa S-R oleh sebab yang satu terjadi setelah yang satu lagi, berdasarkan continuity (pembiasaan).
4.Verbal association(Assosiasi verbal)
Terbentuknya hubungan antara suatu perangsang dengan suatu reaksi verbal.
Contohnya: jika anak diperlihatkan suatu bangun geometris, maka dia akan bisa mengatakan”persegi” atau ”jajar genjang” karena dia sudah mengenal bentuk bentuk geometris.
5.Discrimination learning(belajar diskriminasi)
Hasil dari cara belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antara objek-objek yang terdapat dalam lingkungan fisik yang real.
Contohnya: siswa dapat mengenal berbagai merk mobil berdasarkan ciri-cirinya sehingga siswa mampu mendiskriminasikan jenis-jenis mobil tersebut.
6.Concept learning(belajar konsep)
Untuk memahami suatu konsep, seseorang harus bisa mendiskriminasi untuk membedakan apa yang masuk dan apa yang tidak masuk dalam konsep itu. Misalnya, orang yang tidak mempunyai persepsi yang jelas tentang variasi dalam bentuk ukuran, dan warna tanaman, akan mengalami kesulitan dalam menggolong-golongkan suatu tanaman.
7.Rule learning(belajar aturan)
Cara belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep. Pengungkapan hubungan atau relasi tetap di antara konsep-konsep itu, biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat.
8.Problem solving(pemecahan masalah)
Cara belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat dipergunakan dalam pemecahan suatu problem. Problem yang dihadapi akan dapat dipecahkan dengan menghubung-hubungkan beberapa kaidah sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi, yang oleh Gagne disebut”higher- order rule” dan kerap dilahirkan sebagai hasil berpikir, bila orang
Sistematika ”delapan tipe belajar” kemudian diganti oleh Gagne dengan Neobehaviorisme, namun tetap mempunyai suatu nilai historis, karena di dalamnya terkandung dua keyakinan yaitu bentuk/jenis belajar berjumlah lebih dari satu dan hasil belajar yang satu menjadi landasan belajar hasil yang lain
2.6 Teori Belajar Humanistik