• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Tinjauan TeoretiS

2.2.2 Teori Maqashid al-syariah

Secara etimologi maqashid syari’ah terdiri dari dua kata, yakni maqashid dan syari’ah.Maqashid adalah bentuk jama’ berarti kesengajaan atau tujuan.Al-Syari’ah secara bahasa yang berarti jalan menuju sumber air.Jalan menuju sumber air ini dapat pula dikatakan sebagai jalan ke arah sumber pokok kehidupan.Adapun tujuan syariat maqashid al-syari’ah adalah untuk kemaslahatan manusia.Al-Syatibi menulis, Sesungguhnya syari’ah itu bertujuan mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat.

Pemahaman maqashid Al-syari’ah mengambil porsi yang cukup besar dalam karya Al-Syatibi (dalam Al-Muwafadat).Sebab tidak satu pun hukum Allah swt.

Dalam pandangan Al-Syatibi yang tidak mempunyai tujuan Hukum yang tidak mempunyai tujuan sama dengan taklif ma la yutaq (membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan). Sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada hukum-hukum Tuhan.

Kemaslahatan sebagai substansi maqashid Al-syari’ah, dapat terealisasikan apabila lima unsur pokok dapat diwujudkan dan dipelihara. Kelima unsur pokok itu adalah

agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta.Dalam upaya mewujudkan dan memelihara kelima unsur pokok ini, Al-Syatibi membagi kepada tiga tingkat maqashid atau tujuan syari’ah, yaitu:

2.2.2.1 Maqashid Adh-dharuriyat, dimaksud untuk memelihara lima unsur pokok dalam kehidupan manusia di atas.

2.2.2.2 Maqashid Al-hajjiyat, dimaksudkan untuk menghilangkan kesulitan atau menjadikan pemeliharaan terhadap kelima unsur pokok menjadi lebih baik.

2.2.2.3 Maqashid At-tahsiniyat, dimaksudkan agar manusia dapat melakukan yang terbaik untuk penyempurnaan pemeliharaan kelima unsur pokok.25

Ketiga prinsip universal dikelompokkan sebagai kategori teratas dharuriyat secara epistemologi mengandung kepastian, maka mereka tidak dapat diabaikan.

Justru kesalahan apapun yang mempengaruhi kategori dharuriyat ini akan menghasilkan berbagai konsekuensi yang berada jauh dari kelima prinsip universal tadi. Dua kategori lainnya hajjiyat dan tahsiniyat. Secara substansial merupakan pelengkap dari dharuriyat akan terpengaruh, meskipun hal apapun yang mengganggu tahsiniyat akan sedikit berpengaruh pada hajjiyat.Sejalan dengan itu maka memerhatikan ketiga kategori tersebut berdasarkan urutan kepentingannya dimulai dari dharuriyat dan diakhiri oleh tahsiniyat.26

Maqashid Al-syari’ah, jugadapat terealisasikan apabila lima unsur pokok dapat diwujudkan dan dipelihara. Kelima unsur pokok tersebut ialah agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.Kelima hal ini disusun berdasarkan prioritas urgensinya.

25Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Ushul Fikih (Cet.I; Jakarta: Sinar

Grafika Offset, 2005), h. 196-197.

26Muhammad Syukri Albani Nasution, Filsafat Hukum Islam (Cet.II; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h. 106-107.

22

Pertama, Memelihara agama menempati urutan pertama karena keseluruhan ajaran syariat mengarahkan manusia untuk berbuat sesuai dengan kehendak dan keridhaan Allah (fi mardhat Allah), baik soal ibadah maupun muamalah.Karena itu, al-Qur’an dan Sunnah mendorong manusia untuk beriman kepada Allah swt.kemudian dengan imannya itu manusia harus patuh kepada-Nya yang secara khusus ditunjukkan dengan cara mereka berterima kasih kepada-Nya dalam bentuk ibadah. Manusia diciptakan pada hakikatnya untuk beribadah kepada Allah swt.27

Kedua, Memelihara jiwa karena dalam hal melaksanakan seluruh ketentuan agama hanya orang-orang yang berjiwalah yang dapat melaksanakannya.Maksudnya, syariat hanya dapat dan wajib dilaksanakan oleh mereka yang masih hidup sehat jasmani dan rohani.Karena itu, jiwa seseorang menjadi sangat penting bagi jalannya pelaksanaan syariat.Sama halnya dengan naluri beragama, melindungi kehidupan adalah hak asasi dan kewajiban asasi manusia.Martabat manusia terletak pada budaya saling melindungi jiwa.Namun, tidak semua orang yang berjiwa secara otomatis dapat melaksanakan syariat.Hal itu karena tidak memenuhi syarat bisa memahami, menghayati dan melaksanakannya.

Ketiga, Memelihara akal karena hanya akal sehatlah yang dapat membawa seseorang menjadi mukallaf.Sehingga sebagia teks syariat juga mendidik manusia untuk memelihara akalnya agar senantiasa sehat dan berpikiran jernih.Hanya pikiran jernih dan sehat saja yang dapat memenuhi tuntunan syariat untuk memahami ayat- ayat Allah swt.Dengan akal sehat pula, manusia dapat membangun kehidupan yang berbudaya.Manusia dapat mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam

27Hamka Haq, Al-Syathibi: Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam Kitab al-Muwafaqat, h. 95.

disekitarnya untuk kemakmuran hidup.Di samping itu, manusia dapat berdialog, bertukar informasi dan musyawarah.Maka dengan hal itu dengan akal manusia dapat berilmu dan bermasyarakat secara sempurna.

Keempat, Memelihara keturunan kemaslahatan duniawi dan ukhrawi ini bertujuan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia dari generasi ke generasi.Syariat juga memandang pentingnya naluri manusia untuk berketurunan.Syariat mengatur pemeliharaan keturunan baik keharusan berketurunan atau system berketurunan yang baik dalam membangun keluarga dan masyarakat.Maka al-Quran mengatur hukum keluarga yang mencakup perintah membangun keluarga diatas landasan pernikahan yang sah dan ketentuan criteria pria dan wanita yang boleh dinikahi.al-Quran juga menetapkan pihak-pihak yang bertanggungjawab atas anak-anak yang lahir dari pernikahan, baik dalam keluarga yang normal atau dalam keluarga yang bercerai.

Kelima, Memelihara harta syariat menghendaki kehidupan yang layak dan sejahtera. Maksudnya, syariat dapat terlaksana dengan baik jika manusia mempunyai kehidupan sejahtera yang sekaligus menjadi tujuan syariat.Syariat menghendaki agar manusia dalam hidupnya tidak mengalami penderitaan dan kepunahan lantaran ketiadaan harta. Karena itu, pemeliharaan harta menjadi salah satu tujuan dari syariat, dalam arti mendorong manusia untuk memperolehnya dan mengatur pemanfaatannya.Keharusan memperoleh harta sebagai sarana kehidupan berkait dengan kemampuan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.28

28Hamka Haq, Al-Syathibi: Aspek Teologis Konsep Mashlahah dalam Kitab al-Muwafaqat (Cet.I; Jakarta: Erlangga, 2007), h. 99.

24

2.3 Tinjauan Konseptual

Dokumen terkait