• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Teori Perilaku Menyimpang

Secara umum ada dua tipe penjelasan dalam perspektif sosiologi yang bersifat struktural dan prosesual. Pada penjelasan yang bersifat struktural ada sejumlah asumsi yang mendasarinya. Pertama, penyimpangan dihubungkan dengan kondisi-kondisi struktural masyarakat. Kedua, menjelaskan penyimpangan sosial sebagai suatu epidemiologi, yaitu suatu kondisi dimana distribusi atau penyebaran penyimpangan dapat terjadi dalam waktu dan tempat tertentu, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ketiga, menjelaskan bentuk-bentuk tertentu dari penyimpangan dari strata sosial, baik di kelas bawah maupun di kelas atas.

Sedangkan penjelasan secara prosesual, didasarkan pada: (1) gambaran tentang proses sampai pada tindakan atau perilaku yang menyimpang; (2) penjelasan tentang sebab-sebab terjadinya tindakan yang menyimpang; (3) penjelasan tentang bagaimana orang-orang tertentu sampai melakukan tindakan menyimpang.

Adapun teori-teori penyimpangan (Narkowo & Bagong, 2005: 110-117), yaitu:

a. Teori Anomie

Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Merton pada tahun 1930-an. Teori ini berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-invidu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi menyimpang. Memang pada dasarnya untuk mencapai kesuksesan hidup, seseorang harus melalui cara-cara yang sah.

Tetapi, ironisnya struktural sosial tidak dapat menyediakan kesempatan yang

20

samabagi setiap orang untuk meraih kesuksesannya. Situasi anomie tersebut, membuat seseorang melakukan penyimpangan untuk mencapai tujuan statusnya.

b. Teori Belajar atau Teori Sosialisasi

Teori ini menyebutkan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Menurut Sutherland (Atmasasmita, 1992: 13), penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atau suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau di antara teman-teman yang menyimpang. Ditingkat kelompok perilaku menyimpang adalah salah satu konsekuensi terjadinya konflik normatif. Artinya, perbedaan antara sosial, seperti sekolah, lingkungan tetangga, kelompok, teman sebaya atau keluarga, bisa memingungkan individu yang masuk dalam komunitas- komunitas tersebut.Situasi tersebut dapat mengakibatkan ketegangan yang berujung konflik normatif pada diri individu. Teori yang dikemukakan oleh Sutherland memiliki lima proposisi, yaitu:

1) Perilaku menyimpang adalah hasil dari proses belajar atau dipelajari, ini berarti penyimpangan bukan diwariskan atau diturunkan, bukan juga dari hasil intelegensi yang rendah atau karena kerusakan otak.

2) Perilaku menyimpang dilakukan seseorang dalam interaksinya dengan orang lain dengan melibatkan proses komunikasi yang intens

3) Bagian utama dari belajar tentang perilaku menyimpang terjadi dalam kelompok-kelompok personal yang intim atau akrab. Sedangkan media massa hanya memaninkan peran sekunder dalam mempelajari penyimpangan

4) Seseorang menjadi menyimpang karena menganggap lebih menguntungkan

21

untuk melanggar norma atau tidak, karena tidak ada sanksi atau hukuman yang tegas, maka mudahlah orang berperilaku menyimpang

5) Proses mempelajari penyimpangan melalui kelompok yang mempunyai pola- pola menyimpang atau sebaliknya, melibatkan semua mekanisme yang berlaku di dalam proses belajar.

c. Teori Labelling

Teori labeling menjelaskan penyimpangan terutama ketika perilaku itu sudah sampai pada tahap penyimpangan sekunder. Teori ini tidak berusaha untuk menjelaskan mengapa individu-individu tertentu tertarik atau terlihat dalam tindakan meyimpang, tetapi yang lebih ditekankan adalah pada pentingnya defenisi-defenisi sosial dan sanksi-sanksi sosial negatif yang dihubungkan dengan tekanan-tekanan individu untuk masuk dalam tindakan yang lebih menyimpang.

Ada orang-orang yang memberi defenisi, julukan, atau pemberian label pada individu-individu atau tindakan yang menurut penilaian orang tersebut adalah negatif. Melalui definisi tersebut dapat diterapkan bahwa menyimpang adalah tindakan yang diberikan kepada seseorang, atau pada siap label secara khusus telah ditetapkan. Dengan demikian, dimensi penting dari penyimpangan adalah adanya reaksi masyarakat, bukan dari kualitas dari tindakan itu sendiri atau dengan kata lain, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma, tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.

d. Teori Kontrol

Ide utama dari teori kontrol adalah bahwa penyimpangan merupakan hasil

22

dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar- dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum. Perilaku menyimpang konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk menaati hukum setiap individu harusnya belajar untuk untuk conform atau tidak melakukan tindakan menyimpang atau kriminal. Ada empat unsur utama di dalam kontrol sosial internal menurut Hirschai, yaitu:

1) Attachment, atau kasih sayang adalah sumber kekuatan yang muncul dari hasil sosialisasi dari kelompok primernya (Misalnya: Keluarga), sehingga individu punya komitmen kuat untuk patuh pada aturan.

2) Commitment atau tanggungjawab yang kuat pada aturan dapat memberikan kerangka kesadaran tentang masa depan, berupa kesadaran bahwa masa depannya akan suram apabila ia melakukan tindakan menyimpang.

3) Involvement, artinya dengan adanya kesadaran tersebut, maka individu akan terdorong berperilaku partisipatif dan terlibat di dalam ketentuan-ketentuan yang diterapkan oleh masyarakat.

4) Believe atau kepercayaan, kesetiaan, dan kepatuhan pada norma-norma sosial atau aturan masyarakat pada akhirnya akan tertanam kuat pada diri seseorang atau itu berarti aturan sosial telah self vorcing dan eksistensinya (bagi setiap individu juga semakin kokoh).

e. Teori Konflik

Lebih menitikberatkan analisisnya pada asal usul terciptanya suatu aturan atau tata tertib sosial teori ini tidak bertujuan untuk menganalisis asal usul seseorang

23

berperilaku menyimpang, tetapi lebih menekankan sifat uralistik dari masyarakat dan ketidakseimbangan distribusi kekuasaan yang terjadi diantara berbagai kelompoknya. Kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok-kelompok elit membuat kelompok tersebut dapat menciiptakan peraturan, khususnya hukum yang dapat melayani kepentigan-kepentingan mereka. Perspektif konflik memahami masyarakat sebagai kelompok-kelompok dengan berbagai kepentingan yang saling bersaing dan akan cenderung saling berkonflik melalui persaingan itu, maka kelompok-kelompok dengan kekuasaan yang berlebih akan menciptakan hukum dan aturan yang menjamin kepentingan mereka dimenangkan.

Dokumen terkait