• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha menerjemah adalah langkah awal memahami makna dan fungsi teks BK. Menerjemah merupakan langkah menemukan arti teks secara heuristik [kebahasaan]. Kata- kata teks BK berbahasa Jawa Kuno sedapat mungkin dicari sinonimnya dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, tidak semua kosa kata teks BK Jawa Kuno dapat dicari padanannya dalam kosa kata bahasa Indonesia. Oleh karena itu,

padanannya juga dilacak dalam perbendaharaan kosa kata bahasa Sanskåta. Sebab, sebagaimana diketahui bahwa kosa kata bahasa Jawa Kuno sungguh banyak berasal dari bahasa Sanskåta. Terjemahan yang dikerjakan tidak sepenuhnya terjemahan kata perkata, tetapi lebih merupakan terjemahan kalimat menurut tata bahasa Indonesia. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk mendapat keselarasan bahasa dan kejelasan arti teks Jawa Kuno BK dalam Bahasa Indonesia.

Dengan lebih jelasnya arti teks maka akan lebih memudahkan pemahaman lebih lanjut. Pemahaman lebih lanjut adalah pemaknaan melalui interpretasi hermeneutis. Teori hermeneutik sekiranya dapat dipadankan dengan teori småti.

Kata småti dalam bahasa Sanskerta berarti ingatan, kenangan, kesadaran; seluruh kumpulan tradisi (dharma), seperti diingat dan diajarkan guru-guru manusia (sebagai lawan dari úruti, yang diwahyukan dan didengar langsung oleh para åûi); meditasi atau konsentrasi pikiran.

Småtisambhodana berarti pencerahan ingatan (Zoetmulder, 1995). Sebagai sebuah konstruk teori, arti kata småti terakhirlah yang terdekat, yaitu konsentrasi pikiran sampai memperoleh pencerahan melalui penjelasan (explanation) dan pemahaman (understanding) melalui interpretasi.

Penjelasan berarti memaknai teks yang belum ada campur tangan interpretasi. Penjelasan masih mengandalkan data- data tekstual. Setelah data-data ditemukan, diklasifikasikan, baru dijelaskan atas dasar temuan data itu. Jadi bersifat objektif. Menurut Madison (dalam Endraswara, 2002) penjelasan objektif ini disebut tafsir naturalisme. Artinya bahwa penafsir memandang makna apa adanya, tergantung data. Sementara pemahaman harus dilakukan dengan mengkonstruksi makna. Langkah penafsirannya dilakukan dengan pertama-tama memahami arti harfiah teks, baru

kemudian peneliti dapat menafsirkan makna kiasnya berdasarkan konvensi yang berhubungan dengan teks yang ditafsirkan.

Langkah kerja hemeneutik tersebut sejalan dengan langkah kerja teori småti. Teori ini sudah populer diterapkan oleh para mahàåûi sejak jaman weda akhir atau jaman upaóisad dan darúana ‘pemikiran filosofis’. Teori småti diterapkan dalam rangka menerangkan dan memahami makna mantra-mantra kitab Weda dan sùtra ‘kitab-kitab aforisme Hindu’. Asumsi teoretisnya dirumuskan:

paivàparyàparàmåûþaá úabdo’nyàý kurute matim” ‘Teks suci akan memberikan pandangan yang salah bila tidak dipelajari semuanya sebagai suatu yang berkaitan secara keseluruhan’ (viresvarananda, 2002). Keseluruhan teks dimaksud pertama-tama adalah keseluruhan dalam satu kitab. Jadi, teks bersifat otonom. Pandangan ini jelas bersifat strukturalis. Akan tetapi, dalam tradisi Hindu satu kitab memiliki hubungan terkait dengan kitab-kitab yang lain, terutama kitab dalam satu madzab. Contoh, secara intertekstualitas bahwa Kitab Bhagawadgìta dan Saracamuúcaya bersumber atau merupakan saripati dari epos Mahàbharata. Kitab Mahàbharata memiliki hubungan dengan Kitab Bhagawata Puràóa dan Manawa Dharmaúàstra. Kesemua kitab tersebut berindukkan kitab Weda-Wedànta. Demikian pula, teks BK diduga kuat bersumber dari teks tradisi Úaiwa India Selatan. Beberapa bagian menunjukkan kesamaan dengan bagian kitab Úiwa Pùraóa dan wacana ideologisnya memiliki kesamaan dengan wacana monistik Upaniûad. Lalu secara resepsi, BK menjadi sumber inspirasi penulisan teks lontar tattwa dan kakawin Jawa Kuno. Mengingat jalinan teks seperti dimaksud, maka kajian haruslah bersifat intrinsik-ekstrinsik.

Tanpa melakukan kajian ekstrinsik, makna teks tidak dapat

dipahami secara mendalam.

Umumnya setiap karya otoritas filosofis Hindu digubah dalam bentuk sūtra (aforisme), yakni doktrin yang bersifat filosofis atau pernyataan ringkas, padat, dan mudah diingat. Sebuah sùtra merupakan wahyu atau cetusan nurani orang suci yang bersifat puitis yang kaya metaforis.

Ungkapannya mencitrakan makna berlapis tentang pengalaman mistis pengampu sùtra. Apa yang dikatakan belum tentu itu maksudnya. Artinya, maknanya tidak mudah dimengerti. Oleh sebab itu, diterapkanlah metode bhāṣya untuk dapat menyingkap maknanya. Kata bhàsya berasal dari akar kata bhàû, artinya berbicara. Kata bhàûya berarti komentar, ulasan, catatan, penjelasan dari orang suci terpelajar atas sebuah karya asli. Maka, karya-karya suci dalam bahasa Sansekåta umumnya memiliki bhāṣya yang ditulis oleh seorang sarjana yang diakui jasa dan kesuciannya (Munir, 1999).

Misalnya, sùtra-sùtra dalam kitab Bràhmà Sùtra sangatlah singkat. Satu contoh: athàto bràhmàjijñàsà (I,I:1): atha ‘sekarang’; ataá ‘karena itu’; brahmajijñàsa

‘penyelidikan (ke dalam sifat sejati) dari Brahman’. Dari arti kata itu maka arti leksikal sùtra adalah ‘sekarang, karena itu, penyelidikan dari Brahman’. Pembaca yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang isi kitab- kitab upaniûad tentu mengalami kesulitan menangkap maksud ungkapan itu. Oleh karena itu ungkapan itu dibahasakan kembali oleh penerjemah: ‘Sekarang (setelah pencapaian dari sifat-sifat spiritual yang diperlukan), karena itu (sebagai akibat yang diperoleh dari yajña dan lain-lain, bersifat sementara, sedangkan akibat dari pengetahuan tentang Brahman adalah abadi), penyelidikan (ke dalam sifat sejati) dari Brahman (yang diliputi oleh keraguan karena adanya pandangan yang saling bertentangan dari

berbagai kelompok aliran filsafat, harus dilakukan) (viresvarànanda, 2002). Barangkali terjemahan dengan tambahan keterangan itupun belum jelas maksudnya. Oleh karena itu, para penafsir menjelaskan kembali secara lebih panjang lebar. Komentar-komentar yang diberikan tentulah sebuah interpretasi berdasarkan konvensi-konvensi yang melatari keberadaan teks, dan tentu juga dari sudut pandang kebenaran yang diyakini oleh sang komentator.

Penafsiran yang dibenarkan didasarkan pada (1) pratyakûa pramaóa (data empirik), (2) anumàna pramaóa (pemikiran logis disebut juga tarka, yakni menafsirkan atau mendiskusikan untuk memahami kebenaran), (3) upamana pramaóa (perbandingan), dan (4) úabda pramaóa (teks otoritas, wahyu). Langkah pemahaman dilakukan peneliti pertama-tama melakukan penghayatan sehingga teks menjadi sahådaya (sehati). Baru kemudian mengadakan jarak untuk dapat berdialog secara kritis dengan teks yang diteliti (sahådaya samvada). Dengan demikian diperolehlah pemahaman lebih mendalam.

Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa oprasional teori småti dilaksanakan secara bertahap: (1) menerjemahkan kata perkata sùtra; (2) menerjemahkan secara leksikal sùtra atau langsung diberi kata, frase atau kalimat tambahan untuk memperjelas arti sùtra; (3) dan akhirnya meng- interpretasi sùtra melalui bacaan bagian-bagian, mencermati relasi bagian-bagian dalam membangun keseluruhan teks, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Hal itu dilakukan agar mendapat pemahaman yang lebih luas dan mendalam.

Hasil pemahaman adalah makna. Makna yang didapat dapat berupa (1) makna tekstual, artinya makna yang diperoleh dari yang tertulis dalam teks; (2) makna referensial, artinya makna yang diperoleh melalui refrensi-refrensi kritis yang berkaitan dengan fakta-fakta historis; (3) makna kontekstual,

artinya makna yang telah dikaitkan dengan konteks apa saja yang dibutuhkan; dan (4) makna aktual, artinya makna teks sastra yang berkaitan dengan era kekinian (Endraswara, 2022). Sejalan dengan tahapan itulah (walau tidak taat sepenuhnya seperti itu) pemahaman BK kami lakukan.

Dalam dokumen Repositori UNHI: File Pendukung IGB Wirawan (Halaman 32-39)

Dokumen terkait