F. Manifestasi Klinis
I. Terapi
9. Terapi medikamentosa
Berbagai macam obat telah digunakan untuk pengobatan diare seperti: antibiotika,antidiare, adsorben, antiemetik dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat mempunyai lebih dari satu mekanisme kerja, banyak diantaranya mempunyai efek toksik sistemik dan sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak umur kurang dari 2– 3
44 tahun. Secara umum dikatakan bahwa obat-obat tersebut tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.
a) Antibiotik
Antibiotika pada umumnya tidak diperlukan pada semua diare akut oleh karena sebagian besar diare infeksi adalah rotavirus yang sifatnya self limited dan tidak dapat dibunuhdengan antibiotika.Hanya sebagian kecil (10 – 20%) yang disebabkan oleh bakteri patogen seperti V.
cholera,Shigella, Enterotoksigenik E. coli, Salmonella, Camphylobacter dan sebagainya.
b) Obat antidiare
Obat-obat ini meskipun sering digunakan tidak mempunyai keuntungan praktis dan tidakdiindikasikan untuk pengobatan diare akut pada anak.
Beberapa dari obat-obat iniberbahaya. Produk yang termasuk dalam kategori ini adalah :
Adsorben
(Contoh: kaolin, attapulgite, smectite, activated charcoal, cholestyramine).
Obat-obat inidipromosikan untuk pengobatan diare atas dasar kemampuannya untuk mengikat danmenginaktifasi toksin bakteri atau bahan lain yang menyebabkan diare serta dikatakan mempunyai kemampuan melindungi mukosa usus. Walaupun demikian, tidak ada bukti keuntungan praktis dari penggunaan obat ini untuk pengobatan rutin diare akut pada anak.
Antimotilitas
45 (Contoh: loperamide hydrochloride, diphenoxylate dengan atropine, tinctura opii,paregoric, codein). Obat-obatan ini dapat mengurangi frekuensi diare pada orang dewasaakan tetapi tidak mengurangi volume tinja pada anak. Lebih dari itu dapat menyebabkan ileus paralitik yang berat yang dapat fatal atau dapat memperpanjang infeksi dengan memperlambat eliminasi dari organisme penyebab. Dapat terjadi efek sedatif pada dosis normal. Tidak satu pun dari obat-obatan ini boleh diberikan pada bayi dan anak dengan diare.
Bismuth subsalicylate
Bila diberikan setiap 4 jam dilaporkan dapat mengurangi keluaran tinja pada anak dengandiare akut sebanyak 30% akan tetapi, cara ini jarang digunakan.
c) Kombinasi obat
Banyak produk kombinasi adsorben, antimikroba, antimotilitas atau bahan lain. Produsenobat mengatakan bahwa formulasi ini baik untuk digunakan pada berbagai macam diare.Kombinasi obat semacam ini tidak rasional, mahal dan lebih banyak efek samping daripada bila obat ini digunakan sendiri-sendiri. Oleh karena itu tidak ada tempat untuk menggunakan obat ini pada anak dengan diare.
d) Obat-obat lain : Anti muntah.
Termasuk obat ini seperti prochlorperazine dan chlorpromazine yang dapatmenyebabkan mengantuk sehingga mengganggu pemberian terapi
46 rehidrasi oral. Olehkarena itu obat anti muntah tidak digunakan pada anak dengan diare, muntah karena biasanya berhenti bila penderita telah terehidrasi.
Cardiac stimulan
Renjatan pada diare akut disebabkan oleh karena dehidrasi dan hipovolemi. Pengobatanyang tepat adalah pemberian cairan parenteral dengan elektrolit yang seimbang. Penggunaan cardiac stimulan dan obat vasoaktif seperti adrenalin, nicotinamide, tidak pernah diindikasikan.
Darah atau plasma
Darah, plasma atau plasma expander tidak diindikasikan untuk anak dengan dehidrasioleh karena diare. Yang dibutuhkan adalah penggantian dari kehilangan air dan elektrolit. Walaupun demikian, terapi rehidrasi tersebut dapat diberikan untuk penderita dengan hipovolemia oleh karena renjatan septik.11
Steroid
Tidak memberikan keuntungan dan tidak diindikasikan.11 J. Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (autput) lebih banyak dari pada pemasukan air(input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam-basa ( Metabolik asidosis) Metabolik asidosis ini terjadi karena:
47 a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunann asam laktat karena adanya anoksia jaringan.
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dapat dikeluarkan oleh ginjal(terjadi oligouri/anuria)
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. Pernafasan bersifat cepat, teratur, dan dalam, yang disebut pernafasan Kuszmaull. Menurut penelitian sutato (1974), kehilangan komponen basa ini (base defisit) pada penderita dehidrasi berat mencapai 17,7 mEq/L.
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare. Pada anak-anakdengan gizi cukup /baik, hipoglikemia ini jarang terjadi , lebih serig terjadi pada anak yang sebelumna sudah menderita KKP.
Hal ini terjadi karena:
a. Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu b. Adanya gangguan absorpsi glukosa(walaupun jarang terjadi).
Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40mg% pada bayi dan 50% pada anak.
48 Gejala: lemah, apatis, peka rangsangan, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma.
Terjadinya hipoglikemia ini perlu dipertimbangkan jika terjadi kejang yang tiba-tiba tanpa adanya panas atau enyakit lain yang disertai kejang, atau penderita dipuaskan dalam waktu yang sama-sama.
4. Gangguan Gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akibat teradinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat.
Hal ini disebabkan :
a. Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan/
atau muntahnya akan bertambah hebat. Orang tua sering hanya memberikan air teh saja(teh diit)
b. Walaupun susu diteruskan, sering dibiarkan dengan pengenceran dan susu yang encer ini dibiarkan terlalu lama.
c. Makanan yang dibiarkan sering tidak dicerna dan diabsorpsi dengan baik dengan adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berua renjatan syok hipovolemik. Akibanya perfusi jaringan berkembang an terjadi hipoksia , asidosis bertambah hebat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak,kesadaran menurun (soporokomenteus) dan bila tidak segera di tolong penderita dapat meninggal.
49 K. Pencegahan
Tujuh intervensi pencegahan diare yang efektif adalah:
1. Pemberian ASI
2. Memperbaiki makanan sapihan
3. Menggunakan air bersih yang cukup banyak 4. Mencuci tangan
5. Menggunakan jamban keluarga
6. Cara membuang tinja yan baik dan benar 7. Pemberian imunisasi campak
50 L. Kerangka Teori
Ket:
Variabel yang diteliti Variabel yang tidak ditelit Skema 3.1
INFEKSI
Endokrinopati
Defek anatomi NON INFEKSI
Malabsorpsi
Keracunan makanan
Pengetahuan orang tua
Pemberian ASI Gangguan di
usus
Diare Anak
Neoplasma Bakteri
Parasit Virus
inflamasi Malabsorpsi Proses
sekresi Proses absorpai Gangguan peristaltik
Immunologi
F a k t o r R e s i k o
Immunologi
51 BAB III
KERANGKA KONSEP