• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Tindak Pidana Pada Anak

4.) Untuk dapat dengan bebas berserikat dan berkumpul.

5.) Bebas untuk beristirahat, bermain, membuat karya dan budaya.

6.) Memperoleh area bermain yang memenuhi standar kesehatan dan keselamatan.49

demikian dalam undang-undang sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

d. Pelakunya dapat diancam dengan pidana dalam UU untuk memastikan bahwa mereka yang melanggar hukum dan dimintai pertanggungjawaban, setiap orang dianggap bertanggung jawab atas tindakan mereka. Pernyataan dari psikiater diperlukan untuk menilai kondisi mental penjahat jika ada keraguan tentang jiwanya. 50

Tindak pidana merupakan sebuah tindakan yang tidak boleh dilanggar oleh suatu peraturan hukum dan akan diberikan hukuman bagi yang melanggar, anak kerapkali menjadi korban adanya tindak pidana yang pelakunya sendiri dari orang terdekat dari korban yaitu keluarga, anak yang dianggap belum memiliki kematangan fisik dan mental menyebabkan anak berada pada posisi yang rentan sebagai korban terjadinya tindakan kekerasaan dalam kehidupannya, Menurut WHO menjelaskan mengenai definisi anak yaitu dihitung dari seseorang dalam kandungan sedangkan menurut UU No 23 Tahun 2002 menjelaskan mengenai definisi anak yaitu seseorang yang belum mencapai usia 18 Tahun, termasuk juga yang masih dalam kandungan. 51 Selain itu juga anak yang masih bergantung secara ekonomi dengan orang lain menjadi penyebab mengapa anak mengalami tindakan kekerasan dari keluarga maupun orang lain.

50 Laurensius Arliman S, Perlindungan HAM dan Perlindungan Anak Pelaku Tindak Pidana, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hlm 21-24.

51 Titik Suwarti, Mendidik Anak Tanpa Kekerasan, (Jakarta: Indocamp, 2022), hlm 6.

Anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut dengan anak korban adalah anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang menderita secara fisik, mental dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana. Kekerasaan anak memiliki definisi sebuah perlakuan yang salah yang dilakukan dengan sengaja dan berdampak bahaya untuk anak-anak baik berbahaya secara fisik maupun secara psikis.

Kekerasaan pada anak juga sering dikenal dengan istilah child abuse yaitu macam-macam tingkah laku dari perilaku ancaman yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh orang yang lebih dewasa. Sedangkan menurut Barker menjelaskan mengenai definisi kekerasan pada anak yaitu sebuah tindakan yang dilakukan secara berulang dengan tujuan melukai fisik maupun psikis kepada anak melalui sebuah tindakan-tindakan yang merugikan pada anak.52

Setiap anak yang mengalami perampasan atas kebebasannya secara hukum juga memiliki opsi untuk berhasil mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya pada semua tahap tindakan peradilan yang bersangkutan, serta hak untuk mempertahankan diri dan kesetaraan.

.Perlindungan khusus yang diberikan kepada anak korban tindak pidana bagi anak yang berhadapan dengan hukum maupun korban tindak pidana antara lain perlakuan yang manusiawi terhadap anak sesuai dengan martabat dan haknya, penyediaan petugas pendamping khusus bagi anak sejak dini, penyediaan sarana dan prasarana khusus, penunjukan saksi

52 Alicia Sandra Dina Andhini, dkk, Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Tindak Kekerasaan Pada Anak di Indonesia, (Semarang: Ajudikasi Vol 3 No 1, 2019), hlm 46.

yang tepat untuk kepentingan yang terbaik untuk anak, jaminan terpeliharanya hubungan dengan orangtua atau keluarga dan perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan pencegahan pelabelan, upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga, jaminan keamanan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental, maupun sosial dan pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan perkara.53

2. Bentuk-Bentuk Tindak Pidana Pada Anak

Anak korban tindak pidana kerap kali mendapatkan kerugian secara mental, fisik sosial dari tindakan aktif atau pasif orang lain baik dari kelompok maupun dari pemerintah. Anak kera kali mendapatkan perlakuan-perlakuan yang tidak baik dari orang lain anak adapun bentuk- bentuk perlakuan tindak pidana yang sering dialami anak pada menurut pendapat Terry E. Lawson sebagai berikut:

a. Anak kerap kali mendapatkan perlakuan kekerasan berbentuk fisik yaitu penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan terhadap anak baik menggunakan benda-benda tertentu yang menimbulkan luka fisik, lebam bahkan kematian.

b. Kekerasaan anak secara Psikis anak seringkali mendapatkan tindakan- tindakan yang baik seperti penghardikan, penyampaian kata-kata kasar, memperlihatkan hal-hal yang tidak baik berupa, gambar, video pornografi pada anak.

53 Robert, Hukum Perlindungan Saksi, (Yogyakarta: Thafa Media, 2019), hlm 93.

c. Kekerasaan anak secara seksual tindakan ini berupa perlakuan- perlakuan pra-kontak seksual seperti melalui kata-kata, sentuhan gambar, visual atau exhibitionism antara anak dengan orang yang lebih dewasa dan perlakuan secara langsung antara anak dengan orang dewasa seperti inhest, perkosaan, eksploitasi seksual.

d. Kekerasaan anak secara sosial bentuk tindak pidana pada anak ini yaitu mencangkup perlakuan penelantaraan yaitu memberikan sikap dan perlakuan yang dilakukan oleh orang tua kepada anak yang tidak memberikan sebuah perhatian yang layak atas proses tumbuh kembang anaknya kemudian kekerasan anak secara sosial selanjutnya yaitu eksploitasi maksudnya orang orangtua melakukan tindakan pada anak tanpa adanya persetujuan dan adanya sikap diskriminasi atau adanya perlakuan sewenang-wenangnya pada anak yang meliputi mengharuskan anak untuk melakukan tugas untuk keuntungan politik, ekonomi atau sosial untuk maju secara finansial tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk mendapatkan rasa aman sesuai dengan usianya.54 Kekerasaan yang dialami oleh anak masih banyak dialami anak kerap kali kekerasaan yang dilakukan oleh keluarga dianggap sebagai tindakan yang wajar yang bertujuan untuk mendisiplinkan anak, namun seringkali pola asuh orang tua dalam mendisiplinkan pada anak oleh orangtuanya kerap kali menggunakan pola-pola yang salah dengan menggunakan kekerasaan dan pada tindakan ini anak akan mengalami sebuah gejala

54 Abu Hurairah, Kekerasaan Terhadap Anak, ( Bandung: Nuansa Cendekia, 2018), hlm 49-50.

yang akan berdampak pada tumbuh kembang si anak di masa depan adapun gejala yang dialami oleh anak dari adanya tindakan KDRT yaitu:

a. Gejala kekerasaan jasmaniah

1) Kekerasaan fisik pada bentuk kekerasaan ini maka perlu adanya pengamatan atas luka fisik yang dialami pada anak akan meninggalkan sebuah bukti yang nyata biasanya bentuk kekerasaan fisik ini akan menimbulkan sebuah luka, memar, tanda kemerahan, memar di mata dan lain.

2) Anak yang mengalami sebuah tindakan kekerasan maka perlu diamati mengenai perilaku biasanya anak yang mengalami tindak kekerasan akan mengalami sebuah perubahan pada anak, amati apakah anak mengalami sebuah perubahan pada anak karena anak yang mengalami tindak kekerasaan akan cenderung membatasi diri untuk dirumah. Anak juga akan memiliki sebuah kekhawatiran atau ketakutan, anak akan memiliki sifat yang agresif atau akan memiliki sifat suka berkelahi dan memiliki rasa tidak bersalah sesudahnya.

b. Gejala kekerasan emosional.

1) Anak yang mengalami sebuah kekerasan emosional akan memiliki gejala selalu cenderung menolak untuk bekerjasama karena mereka terlalu takut tidak dapat untuk melakukan pekerjaan tersebut dengan baik.

2) Anak yang mengalami kekerasaan fisik biasanya memiliki gejala yang yaitu dapat melakukan penindasan kepada teman-temanya, berbohong dan melakukan sebuah tindakan yang dapat beresiko tinggi.

c. Gejala kekerasaan seksual

1) Anak yang mengalami sebuah kekerasaan fisik akan memiliki gejala yang cenderung memiliki ketakutan yang dan cenderung memiliki kecemasan yang berlebih. Jika anak dengan mudah dikejutkan maka di mungkinkan anak mengalami kekerasaan seksual.

2) Anak akan memiliki tingkat kecurigaan yang tinggi pada orang disekitarnya.

3) Anak yang mengalami kekerasaan seksual akan mengalami gejal memar pada fisik yang biasanya pada tempat yang tidak biasa(pangkal paha).

d. Gejala pengabaian 1) jasmani

a) Anak yang mengalami kekerasaan bentuk pengabaian maka bisa diamati melalui kebersihan si anak biasanya akan memiliki penampilan yang kurang bersih maka hal ini kemungkinan mengalami pengabaian dari orangtuanya.

b) Anak yang mengalami pengabaian biasanya sering sakit dan tidak dibawa kerumah sakit maka ada kemungkinanan anak ini mengalami pengabaian.

2) Mental

a) Anak yang mengalami pengabaian mental biasanya bisa dilihat dari ketersediaan orang tua untuk menghadiri kegiatan yang bersangkutan dengan anak jika mereka hadir maka mereka peduli dengan anaknya namun hal ini berbanding terbalik jika orangtuanya tidak hadir.

b) Anak yang mengalami pengabaian biasanya cenderung malas untuk membahas tentang keluarganya pada orang lain.

c) Anak akan memiliki rasa kesulitan untuk menangkap atau menunjukan emosi, akibatnya tingkat empati terhadap orang sekitarnya sangat rendah.55

3. Akibat Kekerasan terhadap Anak

Anak yang mengalami tindak kekerasan dalam masa pertumbuhan yang diakibatkan karena adanya pola asuh orang tua yang menggunakan dengan kekerasaan, ini akan mengakibatkan anak percaya bahwa mereka tidak akan memiliki masa depan yang cerah karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, adanya kekerasaan pada anak akan berdampak buruk pada pertumbuhan si anak dimana anak akan kehilangan hal-hal yang mendasari masa depan kehidupan anak, adapun akibat adanya

55 Zen Santosa, Mengenali Kekerasaan Pada Anak, (Yogyakarta: Alfa Media, 2019), hlm 1.

kekerasaan dalam pola asuh si anak pada masa tumbuh anak akan berakibat sebagai berikut:

a. Anak bisa mengalami sebuah kecacatan yang permanen yang diakibatkan adanya kekerasaan secara fisik maupun secara psikologi.

b. Anak akan mengalami sebuah pertumbuhan yang kurang baik adanya kegagalan belajar karena anak tidak mendapatkan bimbingan belajar yang baik dari orangtuanya dan sekitarnya.

c. Anak akan mengalami gangguan secara emosional bahkan akan mengalami gangguan yang menyerang pada pribadi si anak tersebut.

d. Anak akan mempunyai perilaku yang pasif dan menjauh dari lingkungan dikarenakan anak mendapatkan rasa ketakutan ketika membina hubungan dengan lingkungan yang baru dengan orang lain.

e. Anak akan memiliki rasa agresif bakan dapat melukai orang-orang disekitar karena meniru perbuatan yang dia terima dari orangtua dan sekitarnya dan dia tirukan kepada orang lain.

f. Anak akan menjadi penganiayaan ketika sudah dewasa.

g. Anak akan menggunakan obat-obat atau alkohol karena dirasa bisa meredakan rasa takut dan mengurangi permasalahan yang mereka alami dalam keluarga.

h. Kematian.56

56 Nursariani Simatupang Faisal, Hukum Perlindungan Anak,…., hlm 93.

D. Tindak Kekerasaan dalam Rumah Tangga

Dokumen terkait