• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Bunga Riil Dan Nominal

Dalam dokumen BELAJAR TENTANG MANAJEMEN KEUANGAN (Halaman 129-134)

BAB 5 TINGKAT BUNGA

D. Tingkat Bunga Riil Dan Nominal

Model-model dana pinjaman dan preferensi likuiditas berlandaskan asumsi bahwa tingkat harga tetap konstan hingga jatuh tempo dari sekuritas yang diperdagangkan dalam sistem keuangan. Akan tetapi pada kenyataannya, orang mengantisipasi terjadinya perubahan harga dimasa mendatang, dan harapan ini merupakan bagian dari proses yang menentukan suku bunga. Sehubungan dengan kenyataan tersebut, dapatlah dibedakan antara tingkat bunga riil dan tingkat bunga nominal (pasar) untuk menggambarkan peran yang dimainkan oleh antisipasi harga.

Tingkat bunga riil adalah tingkat bunga keseimbangan yang ditentukan melalui kedua model tersebut diatas, dimana para pelaku pasar beranggapan tidak ada perubahan harga dimasa yang akan datang. Sedangkan tingkat bunga nominal adalah tingkat bunga yang benar-benar diamati dalam sistem

121 keuangan dan sama dengan tingkat bunga riil plus penyesuaian mengingat kenyataannya para pemain di pasar mengantisipasi terjadinya perubahan harga dimasa mendatang.

Sejauh ini dalam pembahasan kita mengenai suku bunga, kita telah mengabaikan pengaruh inflasi terhadap biaya peminjaman. Suku bunga yang tidak terpengaruh oleh adanya inflasi, bisa kita sebut dengan suku bunga nominal (nominal interest rate) yang dibedakan dari suku bunga riil (real interest rate) yaitu suku bunga yang disesuaikan dengan mengurangi perubahan yang diharapkan dalam tingkat harga (inflasi) sehingga lebih akurat untuk mencerminkan biaya peminjaman yang sesungguhnya.

Suku bunga riil yang telah didefinisikan diatas lebih tepat disebut sebagai suku bunga riil ex ante karena suku bunga tersebut disesuaikan dengan perubahan yang diharapkan dalam tingkat harga. Ini adalah suku bunga riil yang paling penting bagi keputusan ekonomi, dan ini yang oleh para ekonom dimaksudkan ketika mereka mengacu pada suku bunga riil. Suku bunga yang disesuaikan terhadap perubahan actual dalam tingkat harga disebut sebagai riil ex post. Suku bunga tersebut mendeskripsikan seberapa baik seorang pemberi pinjaman telah melakukan kegiatannya dalam arti riil setelah kenyataan.

Tingkat bunga riil adalah tingkat nominal dikurangi inflasi. Dengan kata lain, ini adalah tingkat yang diharapkan oleh pemberi pinjaman setelah memperhitungkan inflasi.

Tingkat bunga riil adalah pengembalian sebenarnya yang dihasilkan oleh dana yang dipinjam atau dipinjamkan.

Suku Bunga Riil = Suku Bunga Nominal - Tingkat Inflasi Kegunaan yang paling penting dari suku bunga riil adalah memfasilitasi investor dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memperhitungkan 'nilai waktu uang' dalam keputusan keuangan mereka. Ketika uang diinvestasikan, salah satu faktor utama yang mempengaruhi nilainya dari waktu ke

122

waktu adalah inflasi. Dengan inflasi, nilai waktu uang menurun seiring waktu. Mempertimbangkan tingkat bunga riil membantu mengidentifikasi 'pengembalian riil' dari investasi tidak termasuk efek inflasi.

Misalnya. Asumsikan bahwa 5 produk dapat dibeli seharga $ 1.500 dari supermarket hari ini. Dalam waktu dua tahun lagi, jumlah produk yang dapat dibeli mulai dari $ 1.500 akan lebih rendah karena harga mungkin telah naik. Suku Bunga Nominal dan Riil saling bergantung satu sama lain dimana satu-satunya variabel diantara keduanya adalah tingkat inflasi. Hubungan Suku Bunga Nominal dan Riil dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan di bawah ini.

(1 + r) (1 + i) = (1 + R) r = Suku Bunga Riil

i = Tingkat inflasi

R = Suku Bunga Nominal

Misalnya. Jika bunga riil = 5% dan tingkat inflasi = 2% maka tingkat nominalnya adalah,

(1 + 5%) (1 + 2%) = (1 + R) (1+0.05%) (1+0.02%) = (1+0.071)

= 7.1%

Karena tingkat bunga riil tidak mengandung pengaruh inflasi, maka lebih rendah daripada tingkat bunga nominal.

Persamaan di atas pertama kali diperkenalkan oleh Irving Fisher; oleh karena itu, ini juga disebut sebagai 'Persamaan Fisher’. Mengapa Investor penting untuk mengetahui tingkat suku bunga riil merupakan Suku bunga riil yang bernilai positif menggambarkan peningkatan daya beli (purchasing power) anda akan sebuah aset dari waktu ke waktu. Sebaliknya suku bunga riil yang negatif menggambarkan penurunan daya beli (purchasing power) yang anda miliki.

123 Dengan demikian ketika memutuskan untuk berinvestasi pada sebuah perusahaan, selain memperhitungkan suku bunga nominal yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut anda juga harus memperhitungkan inflasi. Agar real interest rate atau suku bunga riil yang anda dapatkan tidak bernilai negatif. Selain itu, biasanya suku bunga nominal (nominal interest rate) juga mewakili tingkat risiko yang harus anda hadapi ketika anda membeli produk investasi tertentu. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat suku bunga, maka semakin tinggi pula risiko yang harus anda hadapi.

Contoh Indonesia saat ini memiliki inflasi bulanan sebesar 0,07% dan anda memiliki sertifikat deposito pada sebuah Bank Indonesia mempublikasikan yang menawarkan suku bunga nominal bulanan sebesar 4%. Dengan demikian anda dapat memperoleh suku bunga riil sebesar 3,93%.

Sehingga daya beli anda akan meningkat.

Sebaliknya jika Bank yang sama beberapa tahun kedepan tetap menawarkan suku bunga 5% sementara inflasi di Indonesia pada saat itu mencapai 6% artinya anda akan mengalami penurunan daya beli (purchasing power). Sebab anda akan mendapatkan real interest rate yang negatif yaitu sebesar -1%.

Mengetahui bahwasanya menyimpan uang di Bank dalam bentuk deposito di Bank kurang menguntungkan meskipun memiliki risiko yang rendah, anda lantas berpindah dan menjadikan pasar modal sebagai tempat investasi anda.

Sebab pada saat yang sama, investasi dengan membeli produk pasar modal seperti saham dan obligasi lebih memiliki tingkat return yang lebih tinggi meskipun risiko yang harus anda hadapi lebih tinggi pula.

Suku bunga nominal vs tingkat bunga riil

Suku bunga nominal sama dengan suku bunga riil ditambah ekspektasi tingkat inflasi. Kita dapat merumuskannya sebagai berikut:

124

Suku bunga nominal = Suku bunga riil + Tingkat inflasi

Karena terkikis oleh inflasi, pemberi pinjaman dan investor biasanya fokus pada suku bunga riil karena memberikan gambaran aktual tentang pengembalian riil yang mereka dapatkan. Misalkan bank komersial membebankan tingkat bunga nominal pada pinjaman dua tahun sebesar 5%, setelah menilai profil kredit peminjam dan faktor inflasi.

Tingkat inflasi selama periode ini diperkirakan 2%. Tingkat bunga riil bank sebenarnya adalah 3%. Jika realisasi inflasi berada pada 7%, maka pengembalian riilnya akan terkikis 2%.

Perubahan tingkat bunga nominal mencerminkan perubahan dalam beberapa faktor. Itu termasuk pengembalian riil yang diperlukan oleh pemberi pinjaman, ekspektasi inflasi, dan biasanya juga, premi risiko untuk mengimbangi ketidakpastian. Ketidakpastian ini dapat dikaitkan dengan kemampuan peminjam untuk membayar atau faktor risiko ekonomi makro lainnya seperti nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Ketidakpastian yang lebih tinggi terkait dengan inflasi di masa depan, misalnya, menyebabkan pemberi pinjaman menuntut premi risiko yang lebih tinggi, yang mana menaikkan suku bunga nominal.

Suku bunga nominal dan pertumbuhan ekonomi

Salah satu alat moneter yang digunakan bank sentral adalah suku bunga kebijakan. Suku bunga kebijakan adalah dasar bagi bank dan lembaga keuangan lainnya untuk membebankan suku bunga nominal, yang pada gilirannya mempengaruhi kegiatan ekonomi dan inflasi di masa depan.

Suku bunga kebijakan dapat dipertahankan pada tingkat rendah ketika ekonomi berkontraksi. Suku bunga rendah mendorong permintaan pinjaman dari sektor rumah tangga dan bisnis. Mereka menghabiskan uang pinjaman untuk membeli barang tahan lama dan aset modal, yang kemudian dapat merangsang kegiatan ekonomi.

125 Sebaliknya, selama pertumbuhan ekonomi tinggi, bank sentral cenderung menetapkan suku bunga nominal yang tinggi untuk mengekang inflasi dan menghindari ekonomi yang terlalu panas. Itu membuat biaya pinjaman lebih mahal dan membuat rumah tangga dan bisnis enggan untuk mengambil pinjaman baru. Seperti yang diharapkan, ekonomi melambat dan inflasi menjadi moderat.

Dalam dokumen BELAJAR TENTANG MANAJEMEN KEUANGAN (Halaman 129-134)