BAB II LANDASAN TEORI
7. Tingkatan Bacaan Al-Qur‟an
Dilihat dari sisi cepat atau lambat bacaan Al-Qur‟an, atau temponya, para ulama qira‟ah mengklasifikasikannya menjadi tiga: tahqiq, tadwir, dan hadr.
a. Tahqiq
Menurut bahasa, tahqiq
) ِقْيِق ْحَّتلا
( adalah tarqiq dan ta‟kid (teliti dan menguatkan). Adapun menurut istilah, tahqiq adalah:ْنِم ِهِّق َح ىَلَع ٍء ْيَّشلاِب ِناَيْتِلأا يِف ٍةَغَلاَبُمْلا َعَم ٍناَنْئِمْطا َو ٍةَد ُؤَتِب ُةَءاَرِقْلا ال َو ٍةَداَي ِز ِرْيَغ ِمْيِلْعَّتلا ِماَقَم يِف ُحُلْصَي َوُه َو ,ٍناَصْقُن
“Membaca dengan lambat dan tenang dengan benar-benar memberikan haknya secara benar dan maksimal tanpa ada tambahan dan pengurangan. Tingkatan ini cocok digunakan dalam proses belajar-mengajar.”
Tahqiq adalah tempo bacaan yang paling lambat. Menurut ulama tajwid, tempo bacaan ini diperdengarkan/diberlakukan sebagai metode dalam proses belajar mengajar, sehingga diharapkan murid dapat melihat dan mendengarkan cara guru membaca huruf demi huruf menusrut semestinya sesuai dengan makhrajnya dan sifatnya serta hukum-hukumnya, seperti panjang, samar, sengau, dan lain sebagainya.44
b. Tadwir
Menurut bahasa, tadwir
)ُرْي ِوْدَّتلا(
adalah menjadikan sesuatu dengan bentuk melingkar. Adapun menurut istilah, tadwir adalah:ِرْدَحْلا َو ِقْيِق ْحَّتلا َنْيَب ِةَءاَرِقْلا ُطُسا َوَت
“Bacaan yang sedang yaitu antara tahqiq (perlahan) dan hadr (cepat).”
44Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-qur‟an & Pembahasan Ilmu Tajwid, ..., cet. II, 2018, hlm. 29.
c. Hadr
Menurut bahasa, hadr )
ُر ْد َحلا(
adalah as-sur‟ah (cepat). Adapun menurut istilah adalah:َوُه َو َع ِةَظَفا َحُمْلا َعَم ِةَءا َرِقْلا يِف ُعا َر ْسِلأا ,ِدْيِو ْجَّتلا ِدِعا َوَق ىَل
ِباَهَذ ْوَأ ِّدَملا ِف ْر َح ِرْتَب ْنِم ِهْيِف ُئِةاَقلا ِرَذ ْحَيْل َو ,ٍةَّقِدِب اَهِتاَعاَرُم و ِتاَك ْر َحْلا ِس َلَِت ْخا ِوَأ ِةَّنُغْلا ِت ْوَص
“Bacaan cepat dengan tetap menjaga dan memperhatikan kaedah- kaedah tajwid dengan sangat cermat, dan hendaknya seorang qari berhati-hati dari memotong huruf mad, menghilangkan suara ghunnah, atau ikhtilas (membaca sebagian) harakat.”
Perlu diketahui bahwa istilah tartil mencakup tiga tingkatan bacaan di atas. Pendapat inilah yang dipilih oleh penulis (Abu Ya‟la Kurnaedi) dari beberapa pendapat ulama tentang tingkatan membaca Al-Qur‟an.45
Namun, ada sedikit perbedaan dalam pembagian tempo bacaan ini.
Dalam buku karya Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafidz, Lc. yang berjudul Pedoman Daurah Al-Qur‟an: Panduan Ilmu Tajwid Praktis di mana penulis membagi tempo bacaan menjadi 4 karena tartil masuk dari salah satu tempo.
Berikut penjelasan empat tempo yang dikelompokkan:
1. Tahqiq, yaitu bacaan Al-Qur‟an yang sangat lambat dan bertajwid, yang lazim digunakan untuk mengajarkan Al-Qur‟an dengan sempurna.
2. Tartil, yaitu bacaan lambat dan bertajwid yang sesuai dengan standar, yakni pertengahan antara tahqiq dan taqwir.
3. Taqwir, yaitu bacaan yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, yakni pertengahan antara hadr dan tartil namun masih bertajwid.
4. Hadr, yaitu bacaan yang dilakukan dengan tingkatan paling cepat namun tetap mempraktikkan tajwidnya.46
45Abu Ya‟la Kurnaedi, Tajwid Lengkap As-Syafi‟i, Jakarta: Pustaka Imam Asy- Syafi‟i, 2014, hlm. 28-29.
Kemudian, perlu diketahui pula ada beberapa cara membaca Al- Qur‟an yang dilarang yaitu:
a) At-Tarqish yaitu Qari‟ sengaja berhenti pada huruf matinamun kemudian dihentakkannya secara tiba-tiba, seakan-akan ia sedang melompat atau berjalan cepat (menari).
b) At-Tar‟id yaitu Qari‟ menggeletarkan suaranya, laksanaka suara yang menggelitir karena kedinginan atau kesakitan.
c) At-Tathrib yaitu Qari‟ mendendangkan dan melagukan Al-Qur‟an sehingga membaca panjang (mad) bukan pada tempatnya atau menambahnya bila kebetulan pada tempatnya (menyanyi).
d) At-Tahrif yaitu dua orang Qari‟ atau lebih membaca ayat yang panjang secara bersama-sama dengan bergantian berhenti untuk bernafas, sehingga jadilah ayat yang panjang itu bacaan yang tak terputus-putus.
e) At-Tarji‟ yaitu Qari‟ membaca dengan nada rendah kemudian tinggi, dengan nada rendah lagi dan tinggi lagi dalam satu mad.47
B. Metode Ummi 1. Pengertian
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.48 Sedangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 103 Tahun 2014 Tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Pasal 2 ayat 6 disebutkan bahwa: Metode pembelajaran sebagaimana yang dimaksud pada ayat 2 merupakan cara atau teknik yang digunakan oleh
46Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafidz, Pedoman Daurah Al-qur‟an: Panduan Ilmu Tajwid Praktis, ..., hlm. 14-15.
47Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-qur‟an & Pembahasan Ilmu Tajwid, ..., hlm. 30-31.
48Tutik Rachmawati dan Daryanto, Teori Belajar dan Proses Pembelajaran Yang Mendidik, ..., hlm. 176.
pendidik untuk menangani suatu kegiatan pembelajaran yang mencangkup antara lain ceramah, tanya jawab, dan diskusi.49
Dalam praktik pembelajaran, saat seorang guru sudah menemukan metode apa yang akan digunakan, maka seorang guru memerlukan pemahaman tentang latar belakang pengetahuan siswanya, lingkungan pembelajarannya, dan tujuan pembelajarannya. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda di dalam menyerap informasi dan berbeda dalam cara menunjukkan kemampuan memahami pengetahuannya. Dalam kaitan ini, guru berusaha menggunakan berbagai macam gaya dan cara mengajar untuk membantu para siswa menyerap informasi dan memperkuat pemahamannya.50
Sedangkan yang dimaksud dengan metode Ummi menurut salah satu Ustadzzah STP Khoiru Ummah lewat wawancara yang bernama Ustadzah Alwi yaitu:
“Cara pembelajaran dengan kelembutan seorang ibu untuk memudahkan pemahaman peserta didik dalam belajar Tahsinul Qur‟an karena secara bahasa Ummi artinya ibu. Sehingga pengajar (Ustadz/Ustadzzah) diharuskan memiliki kelembutan dan kasih sayang seperti ibu ketika mengajar peserta didik. Metode ini terdiri dari jilid 1 hingga jilid 6, di mana diajarkan tentang cara membaca gabungan huruf atau potongan ayat Al-Qur‟an dengan benar tanpa ada banyak istilah tajwid. Kemudian dilanjutkan ke bab ghorib dan tajwid yang di mana baru diajarkan nama istilah-istilahnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami pembelajaran Tahsinul Qur‟an.”51
Maka dapat disimpulkan oleh penulis bahwa metode Ummi adalah suatu cara yang mencontohkan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu
49Syafruddin Nurdin dan Adriantoni, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta:
Rajawali Pers, 2016, hlm. 340.
50Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, cet. ke-3, 2012, hlm. 213.
51Wawancara dengan Ustadzah Hawilawati, S. Pd. yang dilakukan pada hari Jum‟at tanggal 13 Juli 2018 di STP Khoiru Ummah Ciledug.
dalam sebuah kegiatan pembelajaran sehingga apa yang disampaikan pendidik tentang Tahsinul Qur‟an mudah diterima dan dimengerti oleh peserta didik yang diharapkan bacaan Al-Qur‟an peserta didik tidak hanya bagus tetapi juga benar sesuai dengan tajwid.