• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Tinjauan Konseptual

Penelitian proposal ini berjudul Efektivitas Dakwah Bil- Lisan Terhadap Jamaah Ta’lim Masjid Ar-Rasyid Yaji (Studi Program Kajian Rutin Mingguan Yayasan Amal Jariyah Indonesia Soreang Kota Parepare). Ada beberapa hal yang perlu dipaparkan dalam judul penelitian proposal ini untuk mengkaji fokus penelitian agar tidak terjadi salah paham dan penafsiran dalam memahami penelitian sipeneliti yakni :

2.3.1 Efektivitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia efektif berarti dapat membawa hasil, berhasil guna, manjur atau mujarab, ada efeknya (akibat, pengaruhnya dan kesannya).23

Efektivitas suatu kegiatan dapat dikatakan efektif apabila menghasilkan pengaruh terhadap orang yang ditujukan, ada hasil yang di dapatkan dari kegiatan tersebut

Efektivitas adalah konsistensi kerja yang tinggi untuk mencapai tujuan yang telah disepakati.24

Maksud dari konsistensi kerja yang tinggi adalah adanya usaha yang lebih besar dalam mewujudkan suatu tujuan yang hendak dicapat sesuai dengan kesepakatan awal yang telah direncanakan bersama dalam suatu kelompok orang.

Dengan kata lain, penilaian efektivitas harus berkaitan dengan masalah, sasaran maupun tujuan. Selanjutnya Steers mengemukakan bahwa Efektivitas

23M. Ridwan, Kamus Ilmiah Populer, (Jakarta: Pustaka Indonesia, 1999), h. 207.

24Choirul Fuad Yusuf, Efektifitas Pokjawas dan Kinerja Pengawas, (Jakarta: PT. Pena Citasatria, 2008), h. 6.

18

adalah jangkauan usaha suatu program sebagai suatu sistem dengan sumber daya dan sarana tertentu untuk memenuhi tujuan dan sasarannya tanpa melumpuhkan cara dan sumber daya itu serta tanpa memberi tekanan yang tidak wajar terhadap pelaksanaannya.25

Suatu kegiatan dikatakan efisien apabila dikerjakan dengan benar dan sesuai dengan prosedur sedangkan dapat dikatakan efektif bila kegiatan tersebut dilaksanakan dengan benar dan memberikan hasil yang bermanfaat.

2.3.2 Dakwah

Keberadaan dakwah dalam agama Islam, secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam dua hal, yaitu nomatif (syar’i) dan material (fungsional).

Secara normatif, baik al-Qur’an maupun hadis Nabi Saw. berulang- ulang menekankan, bahwa agama Islam adalah agama dakwah dan umat Islam adalah umat da’i. Agama Islam menuntut didakwahkan secara intensif dan kontinyu dengan mendudukkan umat Islam sebagai penanggungjawabnya, baik secara individual maupun kolektif. Dengan kata lain, dakwah menjadi tanggung jawab besar seluruh umat Islam dari generasi ke generasi. Tugas dan tanggung jawab dakwah telah dilaksanakan Rasulullah Saw,, para sahabat, para tabi’in dan para tabi tabi’in dengan baik dan sempurna.

Sedangkan secara material (fungsional), dakwah mempunyai fungsi kognitif, fungsi attitude dan fungsi behavioral. Fungsi kognitif, yaitu dakwah berfungsi membangun ilmu pengetahuan seluas- luasnya ke tengah- tengah masyarakat. Fungsi attitude yaitu dakwah berfungsi membangun penghayatan masyarakat untuk mengaktualisasikan nilai- nilai sebuah ilmu pengetahuan. Fungsi behavioral, yaitu

25Steers Richard M, Efektivitas Organisasi, (Jakarta: Erlangga, 1985), h. 87.

dakwah berfungsi membangun masyarakat untuk memiliki kepribadian yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah.26

Dakwah didalam agama islam sangatlah penting karena dengan adanya dakwah dapat menambah ilmu pengetahuan kepada banyak orang dan membantu masyarakat bagaimana caranya agar mampu memperoleh ilmu supaya dapat diamalkan kepada orang lain juga.

Dakwah bertujuan mengembangkan dan mengaktualisasikan watak dasar manusia sebagai makhluk yang mencintai kebenaran serta keinginan yang menjadikan kebenaran sebagai dasar, cara dan tujuan hidupnya.27

Menjadikan dakwah salah satu jalan yang dapat ditempuh oleh makhluk untuk meningkatkan kecintaannya serta keinginannya akan kebenaran sebagai dasar, cara dan tujuan hidupnya.

Tujuan utama dari ragam aktivitas dakwah adalah terciptanya perubahan kondisi masyarakat kepada kondisi yang lebih baik sesuai dengan norma dan nilai- nilai ajaran Islam.28

Kegiatan berdakwah yang terjadi saat ini telah menghadirkan perubahan terhadap kondisin kehidupan masyarakat menjadi lebih baik lagi sesuai dengan peraturan-peraturan yang di ajarkan dalam agama Islam. Menjadikan masyarakat mengetahui lebih jauh seperti apa hal-hal yang hendak di kerjakan sesuai dengan ajaran agama Islam.

26Dr. M. Nasri Hamang Najed, Dakwah Efektif (Public Speaking), ( Parepare: Lembah Harapan Pers, 2012), h. 1

27Chatib Saefullah, Kompilasi Hadis Dakwah, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2018), h. 7.

28Moch. Fakhruroji, Dakwah Di Era Media Baru, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2017), h. 6.

20

2.3.2.1 Pengertian Dakwah

Dakwah berasal dari bahasa Arab, dari akar kata da’a, yad’u, da’watan yang bermakna seruan, panggilan, undangan atau do’a. Apabila dikaitkan dengan kata Islam, menjadi kegiatan mengajak, menyeru dan memanggil seseorang kepada Islam.29

Dakwah adalah ajakan atau seruan untuk mengajak kepada seseorang atau sekelompok orang untuk mengikuti dan mengamalkan ajaran nilai-nilai islam. Individu yang belum islam diajak menjadi muslim dan yang sudah Islam diajak menyempurnakan keislamannya. Hamba yang sudah mendalam didorong untuk mengamalkan dan menyebarkannya.

Secara substansial filisofis, dakwah merupakan segala rekayasa dari rekadaya untuk mengubah segala bentuk penyembahan kepada selain Allah Swt. menuju keyakinan tauhid, mengubah semua jenis kehidupan yang timpang ke arah kehidupan yang lempang, yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahteraan lahir berdasarkan nilai-nilai islam.30

Dakwah yang menjadikan keyakinan tauhid sebagai tujuan utamanya, menyakini semua ketentuan-ketentuan yang di ajarkan dalam agama Islam bahwa dakwah yang disampaikan harus berlandaskan sesuai dengan al- Qur’an dan hadist, tidak hanya di dengarkan saja dakwah juga perlu di praktekkan agar ilmunya tidak hilanh tapi akan tersimpan dengan kita melakukannya sendiri.

Prof. Thoha Yahya Oemar, M.A berpendapat dakwah menurut Islam adalah Mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar

29Syamsuddin, Sejarah Dakwah, ( Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2016), h. 3

30Syamsuddin, Pengantar Sosiologi Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2016), h. 7- 8.

sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.31

Islam menjadikan dakwah sebagai denyut nadi maka dari itu kita di tuntut untuk merangkul dan terus mengajak umat islam lainnya untuk terus berada di jalan yang benar, menjauhi segala tingkah laku yang bisa saja menghapus amal jariyah kelak di akhirat.

Prof. Dr. Abu Bakar berpendapat dakwah ialah perintah mengadakan seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah Swt. yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasihat yang baik.32

Dari berbagai pendapat mengenai dakwah dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah perintah seruan kepada makhluk Allah Swt. untuk selalu kembali dengan ajaran Allah Swt.

Dalam pengertian lebih luas dakwah dapat didefinisikan sebagai upaya menciptakan suatu kondisi dan tatanan sosial yang dilandasi oleh nilai dan ajaran Islam agar umat manusia memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.33

Dakwah selalu di kaitkan dengan bagaimana menciptakan suatu keadaan dan tatanan sosial yang berlandaskan nilai sesuai ajaran agama Islam sehingga menghasilkan kebahagian di dunia dan akhirat, mendapatkan bekal amal jariyah kelak di hari akhir.

31Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah Dari Dakwah Konvensional menuju Dakwah Profesional, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 25.

32Totok Jumantoro, Psikologi Dakwah Dengan Aspek-Aspek Kejiwaan yang Qur’ani, (Wonosobo: Amzah, 2001), h. 18

33Ropingi el Ishaq, Pengantar Ilmu Dakwah, (Malang: Madani, 2016), h. 11.

22

Dakwah dalam pengertian lain misalnya merujuk pada hakikat tugas diutusnya Rasulullah Saw.34 sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al- Ahsab: 33/45

















Terjemahnya:

“Hai Nabi, (Muhammad) sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan”35 Dari ayat ini pengertian dakwah tidak terlepas dari tujuan diutusnya Rasulullah Saw. ke muka bumi yakni:

Pertama, dakwah adalah syahidan (saksi) dalam konteks ini dapat dimaknaik bahwa dakwah adalah sebagai saksi dalam arti memberi jalan keluar terhadap realita kehidupan umat, sebab da’i menyaksikan (memahami) apa yang sedang dibutuhkan oleh umat dakwah.

Kedua, dakwah adalah basyiran (pembawa kabar gembira) artinya dakwah harus mampu memberi motivasi (dorongan) kepada umat dalam menjalani hidup dan kehidupan mereka agar ke depan mereka bisa lebih baik sehingga bisa meraih kebahagiaan di dunia dan keselamatan akhirat.

Ketiga, dakwah adalah nadziran (peringatan) artinya dengan kehadirannya dakwah harus mampu memberi peringatan kepada umat akan dampak negatif dari kemaksiatan yang mereka lakukan dan begitu pula sebaliknya dampak positif dari tindakan yang mereka perbuat.36

Dari ketiga tujuan diutusnya Rasulullah Saw. diatas, dapat di simpulkan bahwa dakwah adalah saksi dalam memberi jalan kehidupan umat, dakwah

34Abdul Wahid, Gagasan Dakwah Pendekatan Komunikasi Antarbudaya, (Jakarta: Kencana, 2019), h. 3

35Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Diponegoro: CV Penerbit Diponegoro, 2010), h. 424

36Abdul Wahid, Gagasan Dakwah Pendekatan Komunikasi Antarbudaya, h. 4

adalah pembawa kabar bahagia bagi umat dalam menjalani hidup dan dakwah adalah peringatan untuk umat akan semua perbuatannya baik, perbuatan negatif maupun perbuatan positif dari semua tindakan yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan.

Istilah dakwah dalam al-Qur’an diungkapkan dalam bentuk Fi’il maupun mashdar sebanyak lebih dari seratus kata, al-Qur’an menggunakan kata dakwah untuk mengajak kepada kebaikan yang disertai dengan risiko masing- masing pilihan. Dalam al-Qur’an, dakwah dalam arti mengajak ditemukan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan.37

Dakwah yang telah diartikan sebagai mengajak umat menuju jalan yang lebih baik sudah diterangkan sebanyak-banyak di dalam al-Qur’an, dakwah dalam arti mengajak diterangkan sebanyak 46 kali, 39 kali dalam arti mengajak kepada Islam dan kebaikan, dan 7 kali mengajak ke neraka atau kejahatan jadi sudah sangat jelas di sebutkan di dalam al-Qur’an.

Muncul pemikiran baru bahwa dakwah merupakan pengetahuan praktis yang berarti tugas budaya dakwah sebagian keilmuan kebudayaan adalah menyalurkan dan melestarikan nilai-nilai aspek kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya untuk dikembangkan ke arah yang lebih baik dan sempurna.38

Dakwah dan budaya bisa di kaitkan karena dakwah sudah di ketahui artinya mengajak, artinya siapapun bisa kita ajak untuk berdakwah begitupun dengan budaya, setiap daerah selalu melestarikan budaya-budayanya masing-

37M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 17.

38Tata Sukayat, Ilmu Dakwah Perspektif Filsafat Mabadi Asyarah, (Bandung: Simbiosa, 2015), h. 11.

24

masing kepada generasi-generasinya agar supaya budaya tersebut tidak hilang. Akan tetapi itu bisa saja dilanjutkan ataupun tidak semuanya dikembalikan kepada individu masing-masing.

Dakwah hendaklah difungsikan untuk meningkatkan kualitas umatnya yang pada akhirnya akan membawa adanya perubahan sosial, karena pada hakikatnya Islam menyangkut tataran kehidupan manusia sebagai individu dan masyarakat (sosio-kultural).39

Sama dengan penjelasan sebelumnya bahwa dakwa difungsikan untuk meningkatkan kualitas umatnya. Dan benar, pada akhirnya masyarakat dituntut untuk mengalami perubahan utamanya kepada masyarakat sekitar tempat individu tersebut tinggal. Menjalin hubungan baik kepada semua tetangganya.

Dakwah meliputi seluruh kegiatan untuk mendorong seseorang berbuat kebajikan dan menjauhkan diri dari kejahatan, baik dengan lisan dan tulisan, lewat rekaman kaset, maupun dengan contoh perbuatan dan akhlak yang mulia oleh karena itu, tablig itu sebagian dari bentuk pelaksanaan dakwah.40

Berdasarkan beberapa pengertian dakwah diatas, dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah mengajak seseorang atau kelompok orang untuk menuju kepada segala hal kebaikan yang tentunya dapat membahagiakan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

39Munzier Suparta dan Harjani Hefni, Metode Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 217.

40Muhammad Qadaruddin, Cetak Biru Mahir Berdakwah Mengubah Dakwah Biasa jadi Wah

!, ( Parepare: CV. Kaffah Learning Center, 2018), h. 50

2.3.2.2 Prinsip- prinsip Dakwah

Secara etimologis, ulama kaudah mengatakan bahwa kata “dakwah” berasal dari akar kata bahasa Arab da’aa, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah memanggil atau panggilan.41

Dakwah yang efektif khususnya da’i harus memahami prinsip-prinsip dakwah. Prinsip-prinsip dakwah tersebut menurut Ahcmad Mubarok dalam pengantarnya di buku Psikologi Dakwah yakni :

1. Berdakwah itu harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian menjadikan keluarganya sebagai contoh masyarakat.

2. Secara mental da’i harus siap menjadi ahli waris para nabi yakni mewarisi perjuangan yang berisiko. Semua nabi harus mengalami kesulitan dalam berdakwah kepada kaumnya meski sudah dilengkapi mukjizat.

3. Da’i harus menyadari bahwa masyarakat membutuhkan waktu untuk dapat memahami pesan dakwah. Oleh karena itu, dakwah pun harus memperhatikan tahapan-tahapan sebagaimana dahulu Nabi Muhammad harus melalui tahapan periode Mekkah dan periode Madinah.

4. Da’i harus juga menyelami alam pikiran masyarakat sehingga kebenaran Islam tidak disampaikan dengan menggunakan logika masyarakat, sebagaimana pesan Rasul khatib an- nas al qadri ‘uqulihim.

5. Dalam menghadapi kesulitan, dai harus bersabar, jangan bersedih atas kekafiran masyarakat dan jangan sesak napas terhadap tipu daya mereka [QS 16:27], karena sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap pembawa kebenaran akan dilawan oleh orang kafir, bahkan setiap nabi-pun harus

41Kustadi Suhandang, Strategi Dakwah Penerapan Strategi Komunikasi dalam Dakwah, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), h. 21

26

mengalami diusir oleh kaumnya. Seorang da’i hanya bisa mengajak, sedangkan yang memberi petunjuk adalah Allah Swt.

6. Citra positif akan sangat melancarkan komunikasi dakwah, sebaliknya citra buruk akan membuat semua aktivitas dakwah menjadi kontradiktif.

Citra positif bisa dibangun dengan kesungguhan dan konsisten dalam waktu lama, tetapi citra buruk dapat dibangun seketika hanya oleh satu kesalahan fatal. Dalam hal ini, keberhasilan membangun komunitas Islam, meski kecil akan sangat efektif untuk dakwah.

7. Da’i harus memperhatikan tertib urutan pusat perhatian dakwah, yaitu prioritas pertama berdakwah dengan hal-hal yang bersifat universal yakni al-khair (kebijakan), yad’una ila al-khair, baru kepada amr ma’ruf dan kemudian nahi mungkar (QS. 3:104). Al-khair adalah kebaikan universal yang datangnya secara normatif dari tuhan, kemudian keadilan dan kejujuran sedangkan al-ma’ruf adalah sesuatu yang secara sosial dipandang sebagai kepantasan.42

Berdasarkan ketujuh prinsip-prinsip dakwah diatas, dapat kita simpulkan bahwa untuk menjadi seorang Da’i tidaklah mudah ada beberapa prinsip yang harus diketahui untuk menghasilkan dakwah yang efektif. Banyak hal harus dipenuhi sebelum berdakwah.

2.3.2.3 Unsur- unsur Dakwah

Unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang terdapat dalam setiap kegiatan dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah da’i (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (metode), dan atsar (efek dakwah) sebagai berikut:

42Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah, h. 22-23.

1. Da’i (Pelaku Dakwah)

Da’i adalah orang yang melaksanakan dakwah baik lisan, tulisan, maupun perbuatan yang dilakukan baik secara individu, kelompok atau organisasi/lembaga. Secara umum kata da’i ini sering disebut dengan sebutan mubaligh (orang yang menyampaikan ajaran islam), namun sebenarnya sebutan ini konotasinya sangat sempit karena masyarakat cenderung mengartikannya sebagai orang yang menyampaikan ajaran islam melalui lisan seperti penceramah agama, khatib (orang yang berkhotbah) dan sebagainya.43

Berdasarkan pengertian di atas, Da’i dapat diumpamakan sebagai komunikator (pengirim) yang menyampaikan pesan (dakwah) kepada komunikan (penerima/ mad’u) baik secara verbal maupun non verbal ataupun melalui suatu media seperti televisi, radio dan alat elektronik lainnya

2. Mad’u (Penerima Dakwah)

Mad’u yaitu manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak atau dengan kata lain, manusia secara keseluruhan.44

Seluruh umat manusia memiliki hak untuk menerima dakwah baik laki-laki maupun perempuan, semua berhak menerima ajakan dan seruan ke jalan Allah Swt. mendengarkan dakwah juga termasuk salah satu cara mendapat pahala jariyah karena kita mau datang mendengarkan ajaran- ajaran yang sesuai dengan aturan Allah Swt.

43M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 21-22.

44M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 23

28

Demi mengetahui keadaan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, maka kita perlu mengklasifikasikan mereka menurut derajat pemikirannya. Pada klasifikasi mereka ini, menurut Hamzah Ya’qub dibagi dalam beberapa kelompok, antara lain:

1. Umat yang berpikir kritis yaitu tergolong di dalamnya adalah orang-orang yang berpendidikan dan berpengalaman. Orang-orang pada level ini hanya dapat dipengaruhi jika pikirannya mampu menerima dengan baik.

Dalam kata lain, berhadapan dengan kelompok ini, harus mampu menyuguhkan dakwah dengan gaya dan bahasa yang dapat diterima oleh akal sehat mereka, sehingga mereka mau menerima kebenarannya.

2. Umat yang dipengaruhi yaitu suatu masyarakat yang mudah untuk dipengaruhi oleh paham baru tanpa menimbang-nimbang secara matang apa yang dikemukakan kepadanya.

3. Umat yang bertaklid yaitu golongan masyarakat yang fanatik buta bila berpengangan pada tradisi dan kebiasan yang turun-menurun.45

Berdasarkan pengertiannya Mad’u ialah seseorang yang menjadi tujuan penyampaian suatu pesan atau dakwah baik itu individu maupun kelompok, seseorang yang akan menerima pesan dakwah yang disampaikan da’i dan menurut Hamzah Ya’qub mad’u dibagi menjadi 3 kelompok yaitu umat yang berpikir kritis, umat yang dipengaruhi dan umat yang bertaklid. Ketiga macam kelompok penerima dakwah di atas memiliki perbedaan masing-masing sesuai dengan kadar pemahaman masing-masing yang sekiranya itu tidak bisa di ubah oleh manusia karena sudah menjadi bagian dari pemahaman setiap individu.

45Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, ( Jakarta:

Amzah, 2008), h. 231

3. Maddah (Materi) Dakwah

Maddah dakwah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i kepada mad’u. Secara umum materi dakwah dapat diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok, yaitu :

1. Masalah Akidah

Masalah pokok yang menjadi materi dakwah adalah akidah Islamiah. Aspek akidah ini yang akan membentuk moral (akhlaq) manusia. Oleh karena itu, yang pertama kali dijadikan materi dakwah Islam adalah masalah akidah atau keimanan. Akidah yang menjadi materi utama dakwah ini mempunyai ciri-ciri yang membedakan dengan kepercayaan agama lain, yaitu :

a. Keterbukaan melalui persaksian (syahadat).

b. Cakrawala pandangan yang luas dengan memperkenalkan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam, bukan Tuhan kelompok atau bangsa tertentu. Dan soal kemanusiaan juga diperkenalkan kesatuan asal usul manusia. Kejelasan dan kesederhanaan diartikan bahwa seluruh ajaran akidah baik soal ketuhanan, kerasulan, ataupun alam gaib sangat mudah untuk dipahami.

c. Ketahanan antara iman dan Islam atau antara iman dan amal perbuatan. Dalam ibadah-ibadah pokok yang merupakan manifestasi dari iman dipadukan dengan segi-segi pengembangan diri dan kepribadian seseorang dengan kemaslahatan masyarakat yang menuju pada kesejahteraannya karena akidah memiliki keterlibatan dengan soal-soal kemasyarakatan.46

46M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 24-25.

30

Dari pengertian aqidah, mencakup bagaimana keimanan seseorang baik itu mengenai ketuhanan, kerasulan ataupun alam gaib yang kiranya mudah untuk kita pahami.

Dalam rangka pembinaan akidah, kaum muslimin haris secara sungguh-sungguh mempelajari Islam dari sumbernya yang asli yaitu al- Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw.47

Berdasarkan makna dari aqidah dapat disimpulkan bahwa aqidah inilah yang akan membentuk moral setiap manusia baik itu mengenaik ketuhanan dan kerasulan.

2. Masalah Syariah

Hukum atau syariah sering disebut sebagai cermin peradaban dalam pengertian bahwa ketika ia tumbuh matang dan sempurna, maka peradaban mencerminkan dirinya dalam hukum-hukumnya. Pelaksanaan syariah merupakan sumber yang melahirkan peradaban Islam, yang melestarikan dan melindunginya dalam sejarah. Syariah inilah yang akan selalu menjadi kekuatan peradaban di kalangan kaum muslim.

Materi dakwah yang bersifat syariah ini sangat luas dan mengikat seluruh umat Islam, ia merupakan jantung yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam diberbagai penjuru dunia dan sekaligus merupakan hal yang patut dibanggakan.

Kelebihan dari materi syariah Islam antara lain adalah bahwa ia tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Syariah ini bersifat universal, yang menjelaskan hak-hak umat muslim dan nonmuslim, bahkan hak

47Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, ( Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 100

seluruh umat manusia. Dengan adanya materi syariah ini, maka tatanan sistem dunia akan teratur dan sempurna.48

Mengenai tujuan utama dari syariah yaitu bagaimana menebarkan nilai-nilai keadilan antara sesama manusia. Membuat hubungan yang baik antara satu sama yang lain.

3. Masalah Mu’amalah

Ibadah dalam mu’amalah di sini, diartikan sebagai ibadah yang mencakup hubungan dengan Allah dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. Cakupan aspek mu’amalah jauh lebih luas daripada ibadah.

4. Masalah Akhlak

Secara terminologi, pembahasan akhlak berkaitan dengan masalah tabiat atau kondisi temperatur batin yang memengaruhi perilaku manusia.

Ilmu akhlak bagi al-Farabi, tidak lain dari bahasan tentang keutamaan- keutamaan yang dapat menyampaikan manusia kepada tujuan hidupnya yang tertinggi, yaitu kebahagiaan dan tentang berbagai kejahatan atau kekurangan yang dapat merintangi usaha pencapaian tujuan tersebut.

Ajaran akhlak dalam Islam pada dasarnya meliputi kualitas perbuatan manusia yang merupakan ekspresi dari kondisi kejiwaannya.

Akhlah dalam Islam bukanlah norma ideal yang tidak dapat diimplementasikan dan bukan pula sekumpulan etika yang terlepas dari kebaikan norma sejati. Dengan demikian, yang menjadi materi akhlak dalam Islam adalah mengenai sifat dan kriteria perbuatan manusia serta berbagai kewajiban yang harus dipenuhinya.49

48M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 26-27.

49M. Munir dan Wahyu Ilaihi, Manajemen Dakwah, h. 28-29.

Dokumen terkait