BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori
12
Syariah dan BRI Syariah dalam pelaksanaan Good Corporate Governance kedepannya harus berjalan lebih efektif dan tentunya memiliki score/rating yang tinggi. Untuk memenuhi harapan tersebut maka perusahaan-perusahaan di Indonesia wajib melakukan: pengelolaan perusahaan secara professional dan tidak memiliki hubungan afiliasi antara pemilik. Terciptanya hubungan yang simetris, melakukan proteksi hokum bagi pemegang saham minoritas, meningkatkan score/rating ketebukaan.13
Pada penelitian di atas memiliki persamaan antara lain menggunakan metode penelitian kualitatif yang secara deskriptif dan lebih menekankan pada perkiraan dari pada pengukuran. Peneliti terdahulu memilih studi deskriptif karena penyediaan informasi yang dibutuhkan berupa referensi-referensi terkait dan data yang diambil berupa laporan tata kelola perusahaan periode 2015. Perbedaan peneliti ini dan terdahulu yaitu pada populasi yang diambil adalah Bank Umum Syariah milik BUMN. Sampel yang digunakan adalah BTN Syariah.
B. Tinjauan Teori
13
dilakukan agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Van Horn dan Van Meter teori penerapan merupakan segala tindakan yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok yang diarahkan pada tercapainya tujuan yang telah digariskan dalam keputusan. Dalam hal ini penerapan adalah pelaksanaan sebuah cara agar dapat dipraktekkan kedalam masyarakat.14
Teori penerapan menurut kamus besar merupakan perbuatan menerapkan.
Sedangkan menurut beberapa ahli berpendapat bahwa penerapan adalah suatu perbuatan mempratekkan suatu teori, metode dan hal lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh suatu kelompok ataupun golongan yang telah tersusun dan terencana sebelumnya.15
b. Unsur-Unsur Teori Penerapan
Menurut Wahab mendefenisikan bahwa penerapan adalah sebuah kegiatan yang memiliki tiga unsur penting untuk menjalankannya.
a) Adanya program yang dilaksanakan
b) Adanya kelompok target, yaitu masyarakat yang menjadi sasaran dan diharapkan akan menerima manfaat dari program tersebut
c) Adanya pelaksanaan baik organisasi maupun perorangan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan, pelaksanaan maupun pengawasan dari proses penerapan tersebut
Berdasarkan penjelasan unsur-unsur penerapan diatas maka penerapan dapat terlaksana apabila adanya program-program yang memiliki sasaran serta dapat
14 Riant Nugroho, ‘Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi’, (Jakarta: Elex
Media Komputindo, 2003), hal. 158.
15 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), https://kbbi.web.id/terap-2. Di akses pada tanggal
5 agustus 2022.
14
memberi manfaat pada target yang ingin dicapai dan dapat dipertanggung jawabkan dengan baik oleh target.16
2. Teori Bank a. Pengertian Bank
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia pokok Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 Tanggal 10 November 1998, Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank adalah Dana atau uang yang dihimpun dalam bentuk simpanan disalurkan dalam bentuk kredit dan dalam usahanya bank juga memberikan jasa keuangan lainnya.17
Bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan. Bank adalah badan usaha dibidang keungan yang menarik dan mengeluarkan uang dalam masyarakat, terutama memberikan kredit dan jasa lalulintas pembayaran dan peredaran uang.18
Mengingat bank merupakan lembaga keuangan yang selalu berkaitan dengan masalah keuangan, begitu sensitifnya urusan ini maka dibutuhkan sikap saling percaya antara penyimpan dana, penampung dana, maupun penerima dana agar semua pelaku dalam perbankan merasa aman dan saling diuntungkan.
16 Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta:
Modern English Pers, 2002), h. 1598
17 Frianto Pandia, Lembaga Keuangan, (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2005), h. 10
18 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 25-26.
15
Dalam dunia perbankan terbagi atas dua, yaitu bank konvensional dan bank syariah. Spesifik kepada bank syariah, Adapun penjelasan mengenai bank syariah diuraikan sebagai berikut.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2008 Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan usahanya.Tata kelola, prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko perbankan syariah Pasal 34 ayat satu menyebutkan bahwa bank syariah dan unit usaha syariah wajib menerapkan tata kelola yang baik yang mencakup prinsip transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, professional dan kewajaran dalam menjalankan usahanya.19
Definisi Bank Syariah sebagai bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba atau bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Dijelaskan pula bahwa Bank Syariah merupakan suatu lembaga keuangan dimana usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Disamping itu berfungsi memperlancar mekanisme ekonomi di sektor riil melalui aktivitas usaha (jual beli, investasi dan lain-lain) sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, yakni aturan perjanjiannya berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain baik dari segi penyimpanan dana atau pembiayaan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip syariah.20
19 Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
20 Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi dan Ilustrasi, (Yogyakarta: Ekomisia, 2008), h. 45.
16
Bank syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum islam, dan dalam kegiatannya tidak membebankan bunga, maupun tidak membayar bunga kepada nasabah. Imbalan yang diterima oleh bank syariah, maupun yang dibayarkan kepada nasabah terhitung dari akad dan perjanjian antara nasabah dan bank.
Perjanjian tersebut didasarkan pada hukum syariah baik perjanjian yang dilakukan bank dengan nasabah dalam penghimpunan dana, maupun penyalurannya. Perjanjian (akad) yang terdapat di perbankan syariah harus tunduk pada syarat dan rukun akad tersebut. Dibandingkan dengan bank konvensional bank syariah memiliki tujuan lebih luas namun tetap mencari keuntungan dimana keuntungan tersebut didapatkan dengan cara-cara yang syariah dan bersal dari sektor riil sehingga tidak adanya unsur riba.21 3. Teori Good Corporate Governance
a. Pengertian Teori Good Corporate Governance
Menurut Bank Indonesia dalam PBI nomor 11/33/PBI/2009, Good Corporate Governance, yang selanjutnya disebut GCG, adalah suatu tata kelola Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggung jawaban (responsibility), profesional (professional), dan kewajaran (fairness).22
Definisi Good Corporate Governance atau yang dikenal GCG menurut Bank Dunia adalah aturan, standar dan organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan, direktur dan manajer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta pertanggung jawabannya kepada investor (pemegang saham dan kreditur).
21 Ismail, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Kencana, 2010), h. 20.
22 Republik Republik Indonesia, Undang Undang RI Nomor 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah Dan Unit Usaha Syariah.
17
GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggung jawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.23
Menurut Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI) Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan esktern lainnya yang berkaitan dengan hak- hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.24
Konsep GCG dari berbagai definisi yang ditemukan, dapat disimpulkan bahwa corporate governance ialah :
a) Sebuah struktur yang mengatur pola hubungan yang harmonis tentang peran Dewan Komisaris, Direksi, RUPS dan para stakeholder lainnya.
b) Suatu sistem Check and balance mencakup perimbangan kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang:
pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
c) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian dan pengukuran kinerjanya.
23 Zarkasyi Wahyudin, Good Corporate Governance (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 38.
24 FCGI, Corporate Governance (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), h. 133.
18
b. Prinsip-prinsip Corporate Governance a) Transparansi (Transparency)
Pengertian prinsip transparansi menurut peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009 adalah keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut OECD (2004) konsep corporate governance harus menjamin adanya pengungkapan yang tepat waktu dan akurat untuk setiap permasalahan yang berkaitan dengan perusahaan. Pengungkapan ini meliputi informasi mengenai keadaan keuangan, kinerja perusahaan, kepemilikan, dan pengelolaan perusahaan.
Disamping itu, informasi yang diungkapkan harus disusun, diaudit, dan disajikan sesuai dengan standar yang berkualitas tinggi. Manajemen juga diharuskan meminta auditor eksternal melakukan audit yang bersifat independen atas laporan keuangan.
Prinsip transparasi meliputi pengungkapan informasi yang bersifat penting, informasi harus disiapkan, diaudit dan diungkapkan sejalan dengan pembukuan yang berkualitas, penyebaran informasi harus bersifat adil, tepat waktu dan efisien. Sehingga para pengelola perbankan syariah harus meletakkan tanggung jawab yang sebesar-besarnya terhadap keselamatan dana yang telah dipercayakan oleh nasabah kepada mereka.25
b) Pertanggung jawaban (Resposibility)
Menurut peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009, pertanggung jawaban adalah kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat.
25 Trisadini, Transaksi Bank Syariah, 2nd edn (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), h. 78.
19
Responsibilitas adalah adanya tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggung jawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham. Prinsip ini tercermin dalam kerangka corporate governance harus memberikan pengakuan terhadap hak-hak stakeholders, seperti yang telah ditentukan dalam undang-undang, dan mendorong kerjasama yang aktif antara perusahaan dengan para stakeholders tersebut dalam rangka menciptakan lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat dan kesinambungan usaha.26
Menurut Linan dalam Hastuti, prinsip pertanggung jawaban ini meliputi antara lain, menjamin hak pihak-pihak berkepentingan, para pihak yang berkepentingan hasrus mempunyai kesempatan untuk mendapatkan ganti rugi yang efektif atas pelanggaran hakhak mereka, dibukanya mekanisme pengembangan prestasi bagi keikut sertaan pihak yang berkepentingan, dan jika perlu, para pihak yang berkepentingan harus memiliki akses terhadap informasi yang relevan.27
c) Akuntabilitas (Accountability)
Menurut peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009, akuntabilitas adalah kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggung jawaban organ bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif. Menurut OECD (2004) prinsip ini dapat dijalankan dengan cara adanya kejelasan fungsi pelaksanaan dan pertanggung jawaban dari organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan dapat terlaksana secara efektif. Konsepsi corporate governance harus menjamin
26 Republik Republik Indonesia, Undang Undang RI Nomor 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah Dan Unit Usaha Syariah.
27Hastuti Tresia, ‘Hubungan Antara Good Corporate Governance Dan Strutur Kepemilikan Dengan Kinerja Keuangan (Studi Kasus Pada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Jakaerta)’
(Skripsi Sarjana: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Batik, 2016), h. 38.
20
adanya pedoman stategis perusahaan, pemantauan yang efektif terhadap manajemen perusahaan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris, dan akuntabilitasnya terhadap perusahaan dan pemegang saham dan anggota direksi harus bertindak mewakili kepentingan perusahaan dan pemegang saham.
Prinsip akuntabilitas ini meliputi perngetian bahwa anggota Dewan Direksi harus bertindak mewakili kepentingan perusahaan dan para pemegang saham, penilaian yang bersifat independen terlepas dari manajemen, dan adanya akses terhadap informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.28
d) Profesional (Professional)
Menurut peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009, profesional adalah memiliki kompetensi, mampu bertindak obyektif dan bebas dari pengaruh/tekanan dari pihak manapun (independen) serta memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan lembaga perbankan.
Prinsip ini menekankan agar pengelolaan lembaga perbankan sebaiknya dikelola secara profesional ataupun tanpa adnya tekanan atau pengaruh dari pihak lain sehingga conflict of interest dapat dihindari sejauh mungkin. Jadi sikap seluruh jajaran bank sebagai entitas ekonomi yang mandiri, bebas dari kepentingan sepihak terutama yang berpotensi merugikan stakeholders dan mampu mengambil keputusan secara obkektif.
28 Ismail, Manajemen Perbankan (Jakarta: Kencana, 2010), h.77.
21
e) Kewajaran (Fairness)
Menurut peraturan Bank Indonesia nomor 11/33/PBI/2009, kewajaran adalah keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.29
Menurut FCGI prinsip kewajaran ini meliputi, Perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, perilaku perusahaan (corporate conduct) dan atau kebijakan-terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam (insider trading).
Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan membuat peraturan korporasi yang melindungi kepentingan minoritas; membuat pedoman kebijakan yang melindungi korporasi terhadap perbuatan buruk orang dalam, self-dealing, dan konflik kepentingan; menetapkan peran dan tanggung jawab Dewan Komisaris, Direksi, dan Komite, termasuk sistem remunerasi, menyajikan informasi secara wajar atau pengungkapan penuh material apa pun, mengedepankan Equal Job Opportunity.30
4. Islamic Corporate Governance
a. Pengertian Islamic Corporate Governance
Menurut Najmudin Islamic Corporate Governance (ICG) adalah merupakan suatu sistem atau kebijakan yang mengatur dan mengendalikan jalannya suatu perusahaan yang dimana dengan cara melindungi hak–hak para stakeholders dan
29 Peraturan Bank Indonesia, Undang Undang Nomor 11/33/PBI/2009 Tentang Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance Bagi Bank Umum Syariah (Jakarta, 2009).
30 FCGI, Corporate Governance, Edisi 3, (Jakarta: Rajawali Pers, 2001), h 98.
22
mengontrol proses yang terjadi pada suatu perusahaan untuk dapat mencapai tujuan awal perusahaan berdasarkan ketentuan-ketentuan Allah SWT.31
Menurut Lewis mendefenisikan Islamic Corporate Governance (ICG) sebagai teori pengembangan pengembangan stakeholders yang diterapkan berdasarkan prinsip islam, kegiatan dan operasional yang dijalankan berdasarkan nilai moral dan nilai-nilai Islam.32
Islamic Corporate Governance adalah perkembangan lanjut dari konsep Good Corporate Governance. Yang disebut terakhir ini terkait dengan seperangkat aturan atau sistem yang memastikan perusahaan bekerja dengan prinsip-prinsip dan kebijakan yang benar. Langkah menuju terbentuknya Islamic Corporate Governance diawali dengan spiritualisasi perusahaan, sebuah sistem tata kelola perusahaan yang dalam perspektif Islam berdasarkan pada paradigma tauhid (monoteisme murni), dan digagas untuk menjadi alternatif Corporate Governance dalam perusahaan kapitalis yang didasarkan pada pemikiran syirik (pseudi monotheism dan politheism). Islamic Corporate Governance merupakan konsep organisasi dan manajemen profetik yang serba melingkupi semua kegiatan, baik internal maupun eksternal, bisnis perusahaan.
Di dalamnya terkandung makna sistem, struktur, proses atau mekanisme, perilaku dan budaya yang mengarahkan dan mengontrol perusahaan sehingga bekerja secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan para stakeholder.
Menurut Abdullah Islamic Corporate Governance adalah perkembangan lanjut dari konsep Good Corporate Governance. Yang disebut terakhir ini terkait
31 Asrori, ‘Implementasi Islamic Corporate Governance Dan Implikasinya Terhadap Kinerja Bank Syariah’, Jurnal Dinamika Akuntansi, 6.1 (2014).
32 Muhammad Yasir Yusuf, Islamic Corporate Social Responsibility (I-CSR) (Depok:
Kencana, 2017), h. 52.
23
dengan seperangkat aturan atau sistem yang memastikan perusahaan bekerja dengan prinsip-prinsip dan kebijakan yang benar. Langkah menuju terbentuknya Islamic Corporate Governance diawali dengan spiritualisasi perusahaan, sebuah sistem tata kelola perusahaan yang dalam perspektif Islam berdasarkan pada paradigma tauhid (monoteisme murni), dan digagas untuk menjadi alternatif Corporate Governance dalam perusahaan kapitalis yang didasarkan pada pemikiran syirik (pseudi monotheism dan politheism). Islamic Corporate Governance merupakan konsep organisasi dan manajemen profetik yang serba melingkupi semua kegiatan, baik internal maupun eksternal, bisnis perusahaan. Di dalamnya terkandung makna sistem, struktur, proses atau mekanisme, perilaku dan budaya yang mengarahkan dan mengontrol perusahaan sehingga bekerja secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan para stakeholder.33
Menurut perspektif Islamic Corporate Governance yang dimaksudkan adalah perusahaan dan manusia yang menjadi penggeraknya memililki peran yang berbeda dari konsepsi perusahaan dalam perspektif kapitalis. Perusahaan bukan saja alat untuk mengakumulasi kekayaan (a place of wealth), tapi juga menjadi tempat untuk menghambakan diri kepada Allah SWT (a place of worship) dan tempat berjuang meninggikan kalimat tauhid (a place of warfare).34
Nilai-nilai spiritualitas dalam perusahaan akan menempatkan karyawan pada posisi yang tepat sebagai manusia. Demikian pula karyawan mampu memaknai kerja sebagai ibadah dan perwujudan pertanggungjawaban kepada the ultimate stakeholder (Allah SWT). Hal ini akan berdampak pada komitmen organisasi yang tinggi.
33 Sanerya Hendrawan, Spritual Management (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2009), h. 201.
34 A. Riawan Amin, The Celestial Management (Jakarta: Senayan Abadi Publishing, 2004), h.
15.
24
Gozhali menemukan bukti bahwa konstruk religiusitas dimensi belief, dimensi komitmen, dimensi behaviour berhubungan positif terhadap komitmen organisasi dan keterlibatan kerja. Selanjutnya juga ditemukan bukti bahwa komitmen organisasi dan terlibatan kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Konstruk religiusitas yang digunakan ini lebih mengarah pada kualitas penghayatan dan sikap hidup seseorang berdasarkan nilai-nilai keagamaan yang diyakini. Jadi lebih menekankan pada substansi nilai-nilai luhur keagamaan dan cenderung memalingkan diri dari formalisme keagamaan.35
Islam mempunyai konsep yang jauh lebih lengkap dan lebih komprehensif serta akhlaqul karimah dan ketaqwaan pada Allah SWT yang menjadi tembok kokoh untuk tidak terperosok pada praktek ilegal dan tidak jujur dalam menerima amanah.36 b. Prinsip-prinsip Islamic Corporate Governance
Muqorobin menyatakan bahwa Good Corporate Governance dalam Islam harus mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini :
a) Transparansi (Shiddiq)
Transparansi merupakan pengungkapan (disclosure) setiap kebijakan atau aturan yang (akan) diterapkan perusahaan, sebab kepercayaan investor dan efisiensi pasar sangat tergantung dari pengungkapan kinerja perusahaaan secara adil, akurat, dan tepat waktu. Pelaku bisnis syariah harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan
35 Ghozali, ‘Pengaruh Religiositas Terhadap Komitmen Organisasi, Keterlibatan Kerja, Kepuasan Kerja Dan Produktivitas’, Jurnal Bisnis Strategi, Vol. 9.(2), (2002), h.13.
36 Asrori, ‘Pengungkapan Syariah Compliance Dan Kepatuhan Bank Syariah Terhadap Prinsip Syariah’, Jurnal Dinamika Akuntansi, 3.1 (2011), h. 7.
25
perundangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan yang sesuai dengan ketentuan syariah. Oleh karena itu, maka:
1. Pelaku bisnis syariah harus menyediakan informasi tepat waktu, memadai, jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh semua pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
2. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada, visi, misi, sasaran usaha dan strategi organisasi, kondisi keuangan, susunan pengurus, kepemilikan, sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian internal, sistem dan pelaksanaan good governance bisnis syariah serta tingkat kepatuhannya, dan kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi entitas bisnis syariah.
3. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh pelaku bisnis syariah tidak mengurangi kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan organisasi sesuai dengan peraturan perundangan, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
4. Kebijakan organisasi harus tertulis dan secara proporsional dikomunikasikan kepada semua pemangku kepentingan.37
Keakuratan juga menjadi prinsip penting dalam pelaksanaan Islamic Corporate Governance. Informasi yang akurat dapat diperoleh jika sistem yang ada di perusahaan dapat menjamin terciptanya keadilan dan kejujuran semua pihak. Kondisi ini dapat dicapai jika setiap perusahaan menjalankan etika bisnis
37Ahmad Fadli, ‘Penerapan Good Corporate Government (GCG) Pada Perbankan Syariah’, Jurnal Al-Mashraf, 2.1 (2016), h. 9.
26
yang Islami dan didukung dengan sistem akuntansi yang baik dalam pengungkapan yang wajar dan transparan atas semua kegiatan bisnis.38
b) Akuntabilitas (Amanah)
Akuntabilitas yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Akuntabilitas didasarkan pada sistem internal checks and balances yang mencakup praktik audit yang sehat dan dicapai melalui pengawasan yang efektif yang didasarkan pada keseimbangan kewenangan antara pemegang saham, komisaris, manajer, dan auditor. Pelaku bisnis syariah harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu bisnis syariah harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan pelaku bisnis syariah dengan tetap memperhitungkan pemangku kepentingan dan masyarakat pada umumnya. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. Oleh karena itu, maka:
1. Pelaku bisnis syariah harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab masingmasing organ dan semua karyawan secara jelas dan selaras dengan visi, misi, nilainilai, dan strategi bisnis syariah.
2. Pelaku bisnis syariah harus meyakini bahwa semua elemen organisasi dan semua karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan perannya dalam pelaksanaan good governance bisnis syariah.
38 Masyudi Muqorobin, ‘Fikih Tata Kelola Organisasi Laba: Sebuah Pengantar’, Jurnal Universitas Muhammadiyah Purwekerto, (2011), h. 17.
27
3. Pelaku bisnis syariah harus memastikan adanya sistem pengendalian yang efektif dalam pengelolaan organisasi.
4. Pelaku bisnis syariah harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran organisasi yang konsisten dengan sasaran bisnis yang digeluti, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment system).
5. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap elemen organisasi dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis syariah dan pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
6. Pelaku bisnis syariah harus meyakini bahwa semua prosedur dan mekanisme kerja dapat menjamin kehalalan, tayib, ikhsan dan tawazun atas keseluruhan proses dan hasil produksi.39
Akuntabilitas tidak hanya terbatas pada pelaporan keuangan yang jujur dan wajar, tetapi yang lebih mengedepankan esensi hidup manusia yang merupakan bentuk pertanggungjawaban manusia kepada Allah SWT sebagai Dzat pemilik seluruh alam semesta. Konsep Islam yang fundamental meyakini bahwa alam dan seluruh isinya sepenuhnya milik Allah dan manusia dipercaya untuk mengelola sebaik-baiknya demi kemaslahatan umat.
Konsep akuntansi Islam adalah menekankan kepada aspek pertanggungjawaban atau accountability. Jika dilihat dari penjelasan di atas, prinsip accountability (akuntabilitas) dalam nilai-nilai Islam disebut dengan shiddiq dan amanah. Amanah berarti dapat dipercaya, tidak ingkar janji dan bertanggung jawab. Apa yang telah disepakati akan ditunaikan dengan sebaik-
39 Ghozali, ‘Pengaruh Religiositas Terhadap Komitmen Organisasi, Keterlibatan Kerja, Kepuasan Kerja Dan Produktivitas’, … h.17.