BAB II TRANSFORMASI EKONOMI DAN KERANGKA MAKRO FISKAL JANGKA MENENGAH
2.3. Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan
Indonesia memiliki peluang untuk melakukan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa strategi pembangunan ekonomi tidak bisa dilakukan secara BaU. Ke depan, pertumbuhan ekonomi sebaiknya didorong dari sumber yang lebih berkualitas, tidak bergantung pada komoditas, dan lebih didorong oleh investasi yang berwawasan lingkungan. Dalam jangka menengah dan panjang, transisi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan memberikan dampak positif tidak hanya terhadap ekonomi, namun juga terhadap aspek sosial yakni distribusi pendapatan, serta penanganan isu perubahan iklim.
Dari sisi ekonomi, pertumbuhan diharapkan dapat lebih didorong oleh sumber yang berkelanjutan seperti investasi, terutama investasi hijau. Pertumbuhan ekonomi saat ini masih relatif tergantung pada konsumsi rumah tangga dan ekspor komoditas, sehingga masih rentan terhadap terjadinya gejolak harga komoditas. Langkah strategi investasi hijau dapat dimulai dari hilirisasi logam mineral yang akan meningkatkan nilai tambah perekonomian dan mengurangi ketergantungan akan ekspor bahan mentah. Hilirisasi logam mineral juga dapat mendukung pertumbuhan energi baru dan terbarukan, contohnya melalui pengembangan industri baterai terutama untuk kendaraan listrik. Pengembangan industri baterai dapat mendorong pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik sehingga terjadi substitusi dari penggunaan bahan bakar dan energi fosil ke sumber energi yang lebih renewable.
Dari aspek sosial, pertumbuhan ekonomi harus didorong agar lebih inklusif dan terdistribusi secara merata ke rumah tangga. Transformasi ekonomi harus dapat memberikan dampak yang lebih merata terhadap masyarakat, yang dapat dilakukan dengan dua strategi. Pertama, meningkatkan pendapatan rumah tangga kurang mampu melalui penciptaan lapangan pekerjaan yang bersumber dari investasi hijau. Kedua, meningkatkan bantuan sosial yang fokus pada rumah tangga yang kurang mampu untuk mengurangi dampak negatif dari pertumbuhan ekonomi yang eksklusif.
Transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan juga diharapkan akan memberikan dampak positif kepada lingkungan. Dampak positif kepada lingkungan ini dapat dicapai dengan adanya program investasi hijau dan pengembangan industri rendah karbon. Investasi hijau merupakan salah satu tren yang saat ini sedang berkembang melalui penanaman modal pada sektor yang rendah karbon serta berorientasi Environment, Social, and Governance (ESG). Selain dari investasi hijau, pengembangan industri berbasis energi baru dan terbarukan juga merupakan sebuah langkah krusial dalam transformasi ekonomi, yang akan mendorong terciptanya pertumbuhan yang memiliki jejak karbon rendah.
Pandemi Covid-19 secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi terhadap munculnya beberapa tren kunci. Setidaknya terdapat tiga tren yang muncul di masa pandemi, yaitu penerapan pola hidup new normal yang permanen, potensi perubahan pola perdagangan dan investasi dunia, dan peningkatan minat pada sektor-sektor yang ramah lingkungan. Tren ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong sektor-sektor potensial sebagai sumber pertumbuhan baru di masa depan.
Tren kunci utama selama pandemi adalah penerapan pola hidup new normal seperti kesadaran akan pentingnya kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup dan adopsi
66
digital. Saat ini masyarakat telah memberikan prioritas lebih tinggi terhadap aspek kesehatan, seperti melakukan pengeluaran untuk menggunakan layanan kesehatan, mengonsumsi produk farmasi, dan meningkatkan biaya preventif seperti asuransi kesehatan. Semakin meningkatnya kesadaran dan kualitas kesehatan masyarakat diharapkan akan mendukung target Pemerintah dalam memperpanjang angka harapan hidup menjadi 75,5 tahun pada tahun 2045. Selain itu, pandemi juga telah meningkatkan adopsi digital, terutama peningkatan aktivitas e-commerce yang telah meningkatkan resiliensi perekonomian. Dampak ini terutama didorong oleh percepatan adopsi TIK digital yang meningkatkan ketergantungan pada produk-produk mesin dan peralatan penunjang informasi dan komunikasi. Selain itu, proses adopsi digital ini juga mendorong perluasan dan pemerataan akses internet di Indonesia.
Disrupsi suplai di masa pandemi juga telah mendorong para produsen global untuk melakukan diversifikasi rantai pasok. Selama pandemi, penyebab utama terjadinya disrupsi suplai disebabkan adanya ketergantungan pada mitra dagang utama tertentu, seperti Tiongkok. Tren pemetaan perdagangan yang muncul adalah regionalisasi dan hilirisasi terutama untuk produk-produk yang memiliki global value chain yang tinggi seperti produk mesin dan peralatan, komputer, barang elektronik, dan peralatan komunikasi. Regionalisasi merupakan salah satu inisiasi yang dapat meningkatkan daya tahan perekonomian di suatu kawasan. Regionalisasi dilakukan dengan mencari sumber substitusi barang impor, meningkatkan persediaan produk-produk yang kritikal, dan rantai pasok dalam satu kawasan saja. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia adalah dengan pengembangan hilirisasi nikel.
Pandemi Covid-19 juga mendorong perubahan pada pola investasi yang berorientasi sektor-sektor yang ramah lingkungan dengan menerapkan konsep ESG baik swasta maupun Pemerintah. Di Indonesia, minat investor terhadap perusahaan yang berorientasi pada ESG semakin meningkat ditunjukkan dengan kinerja saham pada indeks IDX ESG Leaders. Selain itu, dukungan terhadap penerapan integrasi investasi ESG ini dicantumkan dalam pengembangan taksonomi hijau dalam kurun waktu 2021-2023. Dari sisi Pemerintah, penerbitan Green Bond dan Green Sukuk merupakan bentuk nyata penerapan konsep pembiayaan hijau. Program pembiayaan hijau ini merupakan komitmen jangka panjang Indonesia untuk memelopori pembiayaan yang mengurangi dampak perubahan iklim.
Revitalisasi Industri
Peran sektor manufaktur sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi (growth driver) perlu dioptimalkan kembali. Perkembangan sektor manufaktur mengalami tekanan atau berada di bawah pertumbuhan agregat setelah krisis 1997, sebelumnya sektor manufaktur terus konsisten mencatatkan pertumbuhan di atas pertumbuhan agregat. Meskipun secara agregat mengalami penurunan, beberapa industri mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan tumbuh di atas tingkat pertumbuhan ekonomi, seperti industri kimia, farmasi, dan obat tradisional; industri logam dasar; serta industri makanan dan minuman. Bahkan di awal masa pandemi di tahun 2020, ketiga industri tersebut tetap tumbuh positif, yaitu industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 9,4 persen; industri logam dasar tumbuh 5,9 persen; serta industri makanan dan minuman tumbuh 1,6 persen. Jika dilihat dari distribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi, selama periode 2017 hingga 2021 rata- rata sebesar 19,8 persen, dimana industri makanan dan minuman mendominasi dengan rata- rata sebesar 6,4 persen.
67 Revitalisasi industri diharapkan dapat membuka ruang perbaikan bagi produktivitas dan daya saing perekonomian nasional. Dengan mengembalikan peran sektor manufaktur sebagai mesin pertumbuhan, tujuan untuk keluar dari Middle Income Trap dan berkembang menjadi negara maju dapat dicapai di jangka panjang. Perbaikan kualitas dan nilai tambah sektor manufaktur juga krusial dalam meningkatkan daya saing produk ekspor, yang pada akhirnya dapat memperkuat daya tahan ekonomi nasional dari tekanan eksternal. Terlebih, sektor manufaktur merupakan sektor strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja yang masif dan berkualitas. Akselerasi penyerapan tenaga kerja dalam jangka pendek- menengah akan mampu mendorong laju perbaikan tingkat pengangguran ke tren pra- pandemi.
Setidaknya terdapat tiga strategi yang perlu dikembangkan lebih lanjut dalam revitalisasi industri. Pertama, keberlanjutan hilirisasi perlu distimulus dan diperkuat. Hilirisasi mineral logam melalui pembangunan pemurnian komoditas unggulan nasional seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah dapat mendorong daya saing produk terkait dalam pasar global. Selain itu, pengembangan dan promosi industri farmasi lokal perlu dilakukan untuk memperkuat kemandirian farmasi nasional di tengah peluang semakin tingginya kesadaran masyarakat akan produk-produk kesehatan. Kedua, perlunya kemudahan berinvestasi, khususnya investasi asing yang dapat mendorong implementasi transfer teknologi ke dalam negeri.
Pengembangan SDM, infrastruktur, sistem logistik, serta kepastian hukum memegang peranan krusial dalam peningkatan daya tarik investasi. Selain itu, investasi pada kegiatan riset juga perlu menjadi perhatian utama, mengingat aspek ini krusial dalam menopang pertumbuhan TFP di masa depan. Saat ini, pelaku usaha dapat memanfaatkan fasilitas Super Deduction Tax bagi pengembangan pendidikan vokasi dan kegiatan riset. Ketiga, penguatan fungsi intermediasi keuangan juga menjadi faktor utama dalam pengembangan industri.
Seiring dengan pemulihan ekonomi, appetite perbankan dalam menyalurkan pembiayaan yang diharapkan terus membaik dapat turut mendukung upaya revitalisasi industri.
Pemanfaatan pembiayaan kreatif melalui venture capital juga perlu terus dioptimalkan untuk menyokong pengembangan industri startup.
Ekonomi Digital
Ekonomi digital memberikan harapan baru akan transformasi ekonomi, yang diharapkan menjadi prime mover ekonomi Indonesia. Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke- 4 di dunia yang didominasi oleh penduduk usia produktif sebanyak lebih dari 191 juta.
Dengan populasi generasi Z dan generasi milenial mencapai 70,7 persen, Indonesia memiliki faktor pendukung penting untuk pengembangan ekonomi digital. Perkembangan ekonomi digital yang pesat terlihat dari peningkatan signifikan penggunaan internet, dari sekitar 32,34 persen di tahun 2017 menjadi 53,73 persen di tahun 2020. Kenaikan penggunaan internet ini diikuti pula oleh pertumbuhan penduduk yang menggunakan telepon seluler yang mencapai 62,84 persen di tahun 2020.
Pengembangan ekonomi digital memiliki tantangan yang cukup besar. Berdasarkan laporan IMD World Digital Competitiveness Ranking tahun 2020, peringkat daya saing digital Indonesia masih tertinggal yakni di posisi 56 dari 63 negara. Dalam indeks lainnya, yaitu Global Innovation Index yang mengukur kemampuan inovasi suatu negara, sejak 2018 sampai 2020 posisi Indonesia tidak berubah dan berada pada urutan ke-85 dari 131 negara. Dalam upaya memperbaiki peringkat daya saing digital Indonesia tersebut, Pemerintah telah
68
menyusun Peta Jalan Indonesia Digital 2021-2024 yang secara garis besar memberikan penjelasan mengenai arah kebijakan, implementasi, dan pedoman strategis untuk memfasilitasi transformasi digital Indonesia di empat sektor yaitu infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital.
Pandemi Covid-19 mempercepat lompatan adaptasi dan inovasi digital di Indonesia.
Peningkatan jumlah transaksi di berbagai platform e-commerce mengalami peningkatan yang sangat pesat selama masa pandemi. BI mencatat total nilai transaksi uang elektronik terus meningkat dari Rp12 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp305 triliun di tahun 2021.
Perubahan perilaku masyarakat ke arah penggunaan e-commerce dan transportasi daring menjadi salah satu alasan kuat terus berkembangnya ekonomi digital di Indonesia. Sektor informasi dan komunikasi (infokom) muncul sebagai salah satu sektor yang menjadi tulang punggung (backbone) ekonomi nasional dalam menghadapi pandemi Covid-19, sehingga mampu tumbuh 10,58 persen pada tahun 2020, meningkat dibandingkan dengan tahun 2019 yang tumbuh 9,42 persen.
Grafik 38 (a) Transaksi Uang Elektronik (Rp triliun); (b) Pertumbuhan Sektor Infokom (%)
Sumber : BPS dan BI
Pengembangan ekonomi digital dilakukan melalui berbagai kebijakan percepatan transformasi digital. Beberapa kebijakan yang diambil antara lain pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan informatika, yang merata dan berkualitas serta pengembangan teknologi pendukung mempercepat transformasi digital. Pemerintah akan memberikan dukungan penting seperti melalui kebijakan, regulasi, penyediaan infrastruktur, dukungan pembiayaan, mendigitalkan UMKM, perlindungan konsumen, hingga pengembangan sumber daya manusia. Di sisi lain, program pendukung ekonomi digital diantaranya dilakukan melalui review peraturan perundang-undangan, penyaluran bantuan sosial secara non-tunai, pengembangan Sistem Informasi Kredit Program (SIKP), pembiayaan Ultra Mikro dan penjualan SBN secara daring. Berbagai kebijakan ini dilakukan untuk mendukung integrasi kegiatan ekonomi, meningkatkan produktivitas, peningkatan keuangan inklusif, dan penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ekonomi Hijau
Pemerintah berkomitmen untuk mendukung dan melaksanakan transformasi ekonomi hijau secara inklusif dan berkelanjutan. Strategi pembangunan rendah karbon menjadi tulang punggung menuju ekonomi hijau. Strategi ini akan disinergikan lebih lanjut dengan Kebijakan Pengembangan Ekonomi Baru yakni revitalisasi industri, ekonomi hijau digital
12 47
145
205
305
2017 2018 2019 2020 2021
- 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0
2017 2018 2019 2020 2021
69 (green digital economy) dan berbagai kebijakan lain yang saling terkait dan mendukung.
Harapannya, transformasi ke ekonomi hijau tidak hanya mendorong Indonesia dapat keluar dari “middle income trap”, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan sosial dengan tetap menjaga kualitas lingkungan sejalan dengan arah menuju Visi Indonesia Emas 2045.
Tantangan transformasi ke ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon tidaklah mudah dan menimbulkan biaya tidak sedikit. Kebutuhan pendanaan untuk mencapai target NDC 2030 diperkirakan mencapai USD247,2 miliar atau sekitar Rp3.461 triliun, setara dengan Rp266,2 triliun per tahun (Second Biennial Update Report/BUR 2018), yang secara berkala akan terus dikalibrasi secara cermat. Dari sisi kapasitas pendanaan Pemerintah, rata- rata belanja APBN untuk penanganan perubahan iklim dalam lima tahun terakhir sebesar Rp89,6 triliun per tahun, atau sekitar 34 persen dari total kebutuhan dana. Kapasitas fiskal yang terbatas, mengharuskan investasi swasta perlu didorong agar pencapaian target NDC dapat tercapai. Selain itu, untuk mencapai 41 persen penurunan emisi secara conditional, komitmen negara-negara maju sangat diperlukan.
Meski secara kapasitas terbatas, kebijakan fiskal saat ini juga telah diarahkan untuk mendukung pembangunan ekonomi hijau. Pemerintah memberikan insentif Perpajakan untuk pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan teknologi bersih. Penguatan Belanja K/L melalui Penerapan Climate Budget Tagging dan juga penerapan Mainstreaming Climate Budget Tagging dalam APBD. Selain itu, Pemerintah juga melakukan penguatan transfer fiskal berbasis ekologi dan penerbitan Indonesia’s Green Bond/Sukuk Framework.
Ke depan, Pemerintah akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendukung transformasi ekonomi hijau secara inklusif dan berkelanjutan. Bauran kebijakan tersebut meliputi (i) penyiapan instrumen fiskal terkait pungutan atas karbon (pajak karbon). (ii) penyusunan Climate Change Fiscal Framework (updating Mitigation Fiscal Framework). (iii) integrasi Sistem Perencanaan, Penganggaran, dan MRV Perubahan Iklim nasional, dan (iv) bauran kebijakan pajak karbon, pasar karbon dan mekanisme transisi energi (ETM).
Sejalan dengan bauran kebijakan tersebut, Pemerintah mencoba mengoptimalkan peluang dari potensi Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Untuk sektor kehutanan (Forest and Land Use/FOLU), diperkirakan akan melampaui target NDC di 2030 sekaligus mencapai net zero emission (Net-Sink) di tahun 2030. Target tersebut diantaranya melalui penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan restorasi tata air gambut. Seraya mencapai target Net-Sink di 2030, sektor kehutanan Indonesia sebenarnya berpeluang menghasilkan pengurangan emisi lebih jauh (“beyond NDC”).
Seraya mencapai target Net-Sink di 2030, sektor kehutanan Indonesia sebenarnya masih berpeluang untuk menghasilkan pengurangan emisi lebih jauh. Ini disebut sebagai “beyond NDC”. Kredit karbon dari “beyond NDC” diperkirakan cukup besar dan dapat diperdagangkan di pasar global. Per saat ini sebenarnya sudah ada nilai potensi ekspor karbon kredit dari proyek-proyek “beyond NDC” ini sekitar Rp2,6 triliun per tahun dengan luas hutan sebesar 434.811 Ha. Kesepakatan COP26 akan semakin menaikkan permintaan global terhadap karbon kredit dan harganya akan semakin tinggi. Hutan kita yang sangat luas berpotensi menghasilkan karbon kredit yang dapat dibeli oleh global untuk pencapaian target penurunan emisi mereka.
70
Merujuk kepada dokumen NDC, Pemerintah menjalankan strategi “beyond NDC” yang lain seperti pemanfaatan ekosistem blue carbon pesisir yang meliputi hutan bakau, padang lamun serta terumbu karang. Ekosistem blue carbon Indonesia menyimpan sekitar 75 - 80 persen dari jumlah karbon dunia yang berarti bahwa kita memiliki potensi ekonomi besar dari ekosistem pesisir, yang juga akan menghasilkan kredit karbon. Secara umum, pemanfaatan skema nilai ekonomi karbon (NEK) dapat dilakukan melalui perdagangan karbon (carbon trading), pengimbangan karbon (carbon offset), pembayaran berbasis kinerja (result based payment) serta pungutan atas karbon.
Sejalan dengan implementasi perdagangan karbon, Pemerintah juga akan menjalankan mekanisme pajak karbon. Penerapan pajak karbon diharapkan dapat dimulai dengan menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. Namun demikian, di tahun 2025 penerapan pajak karbon berpotensi diperluas ke sektor lainnya di dalam NDC dengan tetap memperhatikan kesiapan sektoral serta kondisi perekonomian secara menyeluruh.
Penerapan pajak karbon sendiri memiliki tujuan mengubah perilaku, mendukung strategi penurunan emisi, mendorong inovasi serta investasi dengan tetap memperhatikan prinsip keadilan, keterjangkauan serta bertahap dalam pelaksanaan.
Selanjutnya, dalam rangka mendukung transformasi ke ekonomi hijau maka Pemerintah juga perlu melakukan transisi energi. Di sektor energi, Pemerintah fokus pada sektor energi ketenagalistrikan. Saat ini, Indonesia mulai beralih menuju listrik berbasis renewable energy, yang ditandai dengan RUPTL 2021-2030 sebagai RUPTL paling green sepanjang sejarah PLN.
Sekitar 51 persen tambahan pembangkit sampai dengan 2030 menggunakan energi terbarukan. Mengacu ke roadmap PLN, ke depan proporsi pembangkit fosil akan terus dikurangi (phasing down), sementara bauran pembangkit EBT akan terus meningkat. Namun demikian, peningkatan pembangkit listrik EBT harus juga memperhatikan kondisi supply listrik oleh PLN dan demand listrik oleh perekonomian. Saat ini, PLN sedang dalam kondisi over-supply.
Pemerintah merencanakan proses phasing down PLTU dilakukan melalui skema Energy Transition Mechanism (ETM). Saat ini sekitar 70 persen supply listrik PLN berasal dari PLTU batu bara, dan ini menghasilkan emisi yang tinggi. Peta jalan pencapaian net zero emission di sektor energi dapat dipercepat dengan mengkombinasikan pembangunan pembangkit EBT dengan phasing down lebih awal (early retirement) PLTU batu bara secara hati-hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah berencana akan membentuk mekanisme pendanaan dan pembiayaan yang menggabungkan berbagai sumber pendanaan yang sah untuk menjalankan transisi energi secara just and affordable. Sumber-sumber pendanaan ini akan menargetkan dan memanfaatkan tren pasar keuangan global yang semakin memerlukan proyek-proyek decarbonization untuk dibiayai dengan dana yang relatif murah. Sebagai contoh, Pemerintah sedang menghitung dengan cermat peluang dan juga biaya dari ETM ini.
Direncanakan sudah ada PLTU yang berhasil dilakukan early retirement dalam jangka pendek di tahun 2022.
Sejalan dengan transisi energi di sektor ketenagalistrikan, Pemerintah juga akan memperkuat pengembangan industri berbasis baterai (elektronik dan otomotif). Hal ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa di Indonesia, sektor transportasi menjadi sektor penyumbang konsumsi energi fosil terbesar. Tahun 2019, total konsumsi energi final (tanpa biomassa tradisional) sekitar 133 MTOE (Million Tonnes of Oil Equivalent), dan sektor transportasi menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar yaitu sebesar 36,84 persen.
71 Secara global, kebutuhan energi transportasi diperkirakan terus meningkat sehingga akan berdampak pada permintaan konsumsi energi transportasi di masa depan. Mengingat potensi sumber daya yang dimiliki, maka pengembangan industri berbasis baterai akan memiliki dampak strategis bagi transformasi ekonomi hijau Indonesia dimasa depan.