• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Pelaksanaan Layanan Profesional Konseling HIV/Aids

Persentas

2. Tujuan Pelaksanaan Layanan Profesional Konseling HIV/Aids

Tujuan dari Konseling HIV/Aids adalah adanya perubahan perilaku bagi orang yang terinfeksi HIV/Aids dan adanya dukungan sosial dan psikologis kepada Odha dan keluarganya sehingga dapat mencegah dan penularan infeksi virus HIV/Aids. Berdasarkan perumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuan pelaksanaan layanan profesional konseling HIV/Aids adalah untuk mengembangkan Model Layanan Profesional Konseling HIV/Aids di Provinsi Bali Berbasis Front-end Analysis dapat dikemukakan sebagai berikut:

Pertama, tujuan jangka pendek. Diharapkan setelah pelaksanaan layanan profesional konseling HIV/Aids yang dikembangkan dalam penelitian ini, orang yang terinfeksi HIV positif dapat memecahkan permasalahannya agar tidak mengalami stress dan tekanan mental akibat dari perlakuan deskriminasi sosial di masyarakat. Program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/Aids memerlukan pertimbangan keagamaan, adat istiadat, dan norma-norma masyarakat yang berlaku disamping pertimbangan kesehatan. Penularan dan penyebaran virus HIV/Aids sangat berhubungan dengan perilaku beresiko, oleh karena itu penanggulangan harus memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tersebut. Perlu adanya kesediaan model layanan konseling yang komprehensif kepada masyarakat bagi yang belum terjangkit HIV/Aids agar tumbuh kesadaran tidak melakukan perbuatan beresiko melalui program-program pencegahan HIV/Aids yang efektif dan memiliki jangkauan layanan yang semakin luas dan program-program pengobatan, perawatan dan dukungan yang komprehensif bagi Odha untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Orang yang terinfeksi HIV dapat saling bertukar informasi dan pengalamannya dengan didampingi oleh konselor yang ahli HIV/Aids untuk menemukan solusi yang tepat untuk tetap berobat agar jumlah CD4 tetap berada di zona yang aman. Konselor memiliki peran yang sangat penting mengubah pesan pencegahan untuk memfokuskan pada orang yang menderita HIV positif – orang yang tahu lebih baik dari pada

100

siap-pun betapa penting mencegah penularan dan mereka harus memikul tanggungjawab paling besar untuk tidak menyebarkan infeksi HIV ini kepada siapa-pun.

Kedua, tujuan jangka menengah. Setelah menerima perlakuan dengan model ini diharapkan orang yang terinfeksi HIV positif untuk bisa memastikan Anda tidak pernah menulari siapa-pun, termasuk pasangan anda yang negatif. “Infeksi ini berhenti pada diri saya” adalah kata-kata yang seharusnya menjadi pegangan klien (Odha). Tentu saja, orang dewasa yang HIV negatif harus waspada mengenai risikonya dan harus melindungi diri sendiri juga. Merupakan kewajiban moral pasangan yang positif HIV untuk tidak bekerja sama dengan tingkah laku merusak diri seperti itu, untuk memastikan bahwa HIV mereka tidak pernah menyebar. “Setiap orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri” bukan falsafah yang memajukan dunia yang kita inginkan. Kita hidup bermasyarakat dan harus saling mengawasi. Mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara lembaga pemerintah, sekolah/kampus, sektor swasta dan dunia usaha, organisasi profesi, dan mitra internasional di pusat dan di daerah untuk meningkatkan respon nasional terhadap pencegahan HIV/Aids.

Ketiga, tujuan jangka panjang. Perlakuan model layanan profesional konseling HIV/Aids ini berupaya membantu orang yang menderita Aids (ingat setiap orang yang menderita Aids pasti terinfeksi HIV, namun tidak semua orang dengan infeksi HIV menderita Aids). Diharapkan orang yang terinfeksi Aids dapat diberikan pengarahan awal (advance directives) yang berbicara mengenai kematian dan prosesnya dan membantu klien untuk membuat keputusan di akhir kehidupannya. Menganjurkan kepada klien, teman-teman, dan anggota keluarganya untuk membuat rencana dan mendiskusikan keinginan klien mengenai kematian dan prosesnya dengan orang-orang yang penting bagi klien. Waktu yang paling baik untuk memikirkan hal ini dalam proses konseling adalah ketika klien sedang sehat dan tidak mempunyai rencana dalam waktu dekat untuk meninggalkan dunia ini.

3. Primsip-primsip Pokok Layanan Profesional Konseling HIV/Aids berbasis Front- end Analysis.

Berdasarkan beberapa kemungkinan dan pertimbangan Proses layanan profesional Konseling HIV/Aids, maka primsip-primsip pokok layanan profesional Konseling HIV/Aids berbasis Front-End Analysis, yaitu sebagai berikut:

a. Pembukaan (pembentukan kelompok): merupakan tahap yg paling critical, artinya

101

keberhasilan pada tahap pembukaan akan menentukan tahap penanganan dan tahap penutupan kelompok., bahkan akan menentukan tercapai tidaknya tujuan layanan profesional konseling HIV/Aids.

Tabel 02: Penentuan Tujuan dan Kegiatan Layanan Profesional Konseling HIV/Aids

TUJUAN KEGIATAN

1. Klien (odha) memahami tujuan, manfaat dan peranannya di dalam layanan konseling HIV/Aids;

2. Tumbuhnya minat klien untuk mengikuti kegiatan kelompok;

3. Tumbuhnya suasana saling menge- nal dan saling memberi respon yang dibutuhkan oleh klien

4. Terumuskannya tujuan bersama yang kurang dicapai

5. Disepakatinya sesi pertemuan berikutnya

1. Menciptakan suasana saling mengenal, hangat dan rileks;

2. Memberi penjelasan singkat tentang tujuan, manfaat dan peranan klien (odha) dan konselor di dalam konseling HIV/Aids;

3. Menjelaskan aturan kelompok dan mendorong anggota untuk berpe- ran dalam kegiatan kelompok;

4. Memotivasi klien (odha) untuk saling mengungkapkan diri secara terbuka;

5. Mendorong setiap klien (odha) untuk mengungkapkan ha-rapannya dan membantu merumuskan tujuan bersa-ma;

6. Mereviu hasil yang dicapai dan menentukan agenda pertemuan selanjutnya.

b. Penanganan (Tahap Inti): Tahap penanganan (working) merupakan kegiatan inti, karena terkait langsung dengan upaya-upaya perubahan sikap dan perilaku yang beresiko tertular HIV/Aids untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tahap pembukaan. Pada tahap ini konselor membantu membuat keputusan untuk mengubah perilaku itu dan mengantikan perilaku-perilaku yang beresiko lebih rendah/aman dan mempertahankan perilaku tersebut, membantu menyadarkan klien untuk mengambil keputusan sendiri melakukan uji tes HIV/Aids dengan membuat suatu pernyataan persetujuan (Imformed Consent) tampa paksaan dan

102

bersifat rahasia (Confidentiality). dan memberikan motivasi, penguatan serta penilaian keberhasilan mereka.

Tabel 03:Tahap Penanganan Masalah dalam Layanan Profesional Konseling HIV/Aids

TUJUAN KEGIATAN

1. Terungkapnya masalah atau topik yang relevan dengan kebutuhan klien (odha).

2. Terbahasnya topik/masalah secara mendalam /tuntas sesuai dengan kesepakatan kelompok;

3. Keterlibatan aktif (pikiran dan perasaan) seluruh klien (odha) dalam pembahasan/

Pemecahan masalah;

4. Disepakatinya sesi pertemuan berikutnya

1. Mendorong tiap klien (odha) untuk mengungkapkan masalahnya/topik yang perlu dibahas

2. Menetapkan topik/masalah yang akan ditangani sesuai dengan tujuan

bersama;

3. Mendorong setiap klien untuk terlibat aktif saling membantu

4. Kegiatan selingan yang bersifat menyenangkan mungkin perlu diadakan;

5. Mereviu hasil yang dicapai dan menetapkan pertemuan selan-jutnya.

c. Penutupan: Jika konselor sudah melihat adanya indikator keberhasilan yang cukup berarti mengenai keberhasilan tahap penanganan terutama pemahaman klien terhadap masalah/topik tertentu, atau berupa perubahan sikap dan perilaku berisiko tertular HIV/Aids dan membuat keputusan untuk mengubah perilaku berisiko yang lebih rendah atau aman, maka tahap pengakhiran atau penutupan harus dilakukan dengan tujuan dan kegiatan sebagai berikut:

Tabel 04 : Tujuan Penutupan dalam Layanan Profesional Konseling HIV/Aids

TUJUAN KEGIATAN

1. Klien (odha) mengungkapkan kesan-kesan tentang kegiatan kelompok;

2. Klien (odha) mengungkapkan

1. Mengungkap kesan dan

keberhasilan yang dicapai oleh setiap klien (odha);

2. Merangkum proses dan hasil yang

103 keberhasilan (pemahaman atau

pemecahan masalah) yang dicapainya;

3. Terumuskannya rencana kegiatan lebih lanjut;

4. Suasana hubungan yang baik antar klien (odha) tetap terpelihara sekalipun kegi-atan hampir diakhiri.

dicapai;

3. Mengungkapkan kegiatan lanjutan yang penting bagi klien (odha);

4. Menyatakan bahwa kegiat-an akan segera berakhir;

5. Menyampaikan pesan dan harapannya kepada klien (odha).

d. Tindak Lanjut : Kegiatan ini disamping bertujuan untuk melihat dan

memonitor perubahan perilaku yang berisiko tertular HIV/Aids dan keputusan yang telah disepakati klien dan memberikan suatu rujukan untuk dukungan dan pengobatan Antiretroviral (ARV) serta memberikan suatu jaminan kerahasiaan klien yang terinfeksi virus HIV melalui teknik kelompok, juga untuk

memberikan bantuan konseling individual yang dipandang perlu menyadarkan klien untuk memberitahukan kepada pasangan hidupnya.