• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA

6. Pelayanan Publik

Pelayanan Publik adalah Pengertian pelayanan publik atau pelayanan umum menurut Ratminto dan Atik Septi Winasih (dalam Hardiyansyah, 2011) dapat didefinisikan sebagai :

“segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Daerah, dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Pelayanan publik dilakukan untuk memberikan kepuasan bagi pengguna jasa, oleh karena itu pada proses penyelenggaraannya dibutuhkan asas-asas pelayanan. Dengan kata lain, dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, instansi penyedia pelayanan publik harus memperhatikan asas pelayanan publik.

Lain halnya dengan yang disampaikan oleh Basri (2012:33) tentang Jenis pelayanan publik adalah sebagai berikut:

“Pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama, yaitu: pertama, pelayanan kebutuhan dasar, meliputi; kesehatan, pendidikan dan bahan kebutuhan pokok masyarakat. Kedua, pelayanan umum yang termasuk adalah pelayanan administratif umum, pelayanan barang dan pelayanan jasa”.

Maka tuntutan pelayanan publik dalam birokrasi pemerintahan yang seharusnya dilakukan oleh birokrasi telah membuat peta dan domain pelayanan menjadi sangat penting, namun secara praktis masih cenderung dilaksanakan dalam mekanisme yang berbasis mekanistik sehingga birokrasi cenderung dinilai sebagai suatu organisasi yang tidak merespon pelayanan sektok publik. Namun sektor public dituntut untuk memberikan pelayanan bukan hanya pada aspek yang berkaitan dengan pelanggan (customers), tetapi juga seharusnya lebih luas daripada itu warga Negara (citizen) sebagaimana paradigma “New public service”.

(Basri, 2012:235)

24

7. Pelayanan Kesehatan di Puskesmas

Menurut Satrianegara (2014), Puskesmas adalah suatu kegiatan organisasi fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

Menurut Satrianegara (2014:74), fungsi puskesmas terbagi 3 (tiga), yaitu:

a. Sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya melalui :

1) Upaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha diwilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.

2) Keaktifan memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayah kerjanya.

3) Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan dan pemulihan.

b. Pusat pemberdayaan masyarakat

1) Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat memiliku kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan serta memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat diwilayah kerjanya.

2) Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.

c. Pusat pelayanan kesehatan pertama

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan, melalui pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat

Bentuk upaya pelayanan kesehatan di puskesmas menurut Satrianegara (2014:76), terdiri dari beberapa upaya, yaitu :

a. Upaya Kesehatan Wajib seperti :

1) Promosi Kesehatan di dalam gedung puskesmas dan 2) Promosi Kesehatan luar gedung puskesmas

25

3) Kesehatan lingkungan meliputi, penyehatan air, TPS dan limbah, lingkungan pemukiman, jamban keluarga, pengawasan sanitasi tempat-tempat umum,pengamanan tempat pengelolaan pestisida serta pengendalian vector 4) Kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana

meliputi, kesehatan ibu, bayi, kesehatan balita, anak prasekolah, kesehatan anak usia sekolah dan remaja,serta pelayanan keluarga berencana.

5) Upaya perbaikan gizi masyarakat

6) Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular meliputi, penyakit tuberculosis, diare, ispa, malaria, dan penyakit menular lainnya serta pelayanan imunisasi.

7) Upaya pengobatan, meliputi : a) Pengobatan dan

b) Pemeriksaan laboratorium.

b. Upaya kesehatan pengembangan, meliputi : 1) Puskesmas rawat inap dan non rawat inap 2) Upaya kesehatan usia lanjut

3) Upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaan

4) Upaya kesehatan telinga/pencegahan gangguan pendengaran, Kesehatan Jiwa dan Kesga

c. Upaya penggerakan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembinaan dan pengembangan desa siaga melalui:

1) Forum kesehatan desa

2) Adanya upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang dikembangkan

3) Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.

4) Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat (surveilans berbasis masyarakat) 5) Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya prilaku

hidup bersih dan sehat (PHBS) serta lingkungan sehat 6) Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya keluarga

sadar gizi.

d. Upaya kesehatan inovasi

Puskesmas dapat menetapkan atau mengembangkan suatu kegiatan upaya kesehatan inovatif yang belum dilaksanakan secara menyeluruh, upaya kesehatan inovatif seperti:

1) Upaya kesehatan dasar

2) Pola pengembangan kesehatan bersumber daya masyarakat (PPKBM)

3) Pendanaan kesehatan bersumber daya masyarakat 4) Pola pelayanan kesehatan berbasis dokter keluarga, dan

lain-lain.

Upaya Kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global serta mempunyai

26

daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Upaya kesehatan wajib meliputi program yang harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di diwilayah Indonesia.

8. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (ANC)

Pelayanan antenatal adalah suatu program yang terdiri dari:

pemeriksaan kesehatan, pengamatan, dan pendidikan kepada ibu hamil secara terstruktur dan terencana untuk mendapatkan suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan. Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil beserta janin yang dikandungnya Pelayanan antenatal yang dilakukan secara teratur dan komprehensif dapat mendeteksi secara dini kelainan dan risiko yang mungkin timbul selama kehamilan, sehingga kelainan dan risiko tersebut dapat diatasi dengan cepat dan tepat (Depkes RI,2008).

Menurut Marniyati dan Saleh (2016:10), bahwa pelayanan antenatal sesuai standar (10T) merupakan alat untuk melakukan deteksi risiko tersebut. Deteksi risiko pada ibu hamil dengan cara hindari 4 Terlalu yaitu:

a. Terlalu muda hamil, pada usia dibawah 20 tahun b. Terlalu tua hamil, pada usia diatas 36 tahun

c. Terlalu rapat, jarak antara kehamilan kurang dari 3 Tahun d. Terlalu banyak, jumlah anak yang dilahirkan lebih dari 2

Semua bidan mengetahui faktor risiko apa saja yang dapat membahayakan kehamilan sehingga diharapkan bila diketahui dengan cepat maka dapat ditangani dengan cepat dan tepat sehingga dapat menurunkan kematian ibu dan anak. Semua bidan juga dapat menyebutkan faktor risiko yang dapat membahayakan kehamilan.

Kegiatan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.Indikator yang digunakan untuk menggambarkan akses ibu hamil terhadap pelayanan antenatal yaitu cakupan K1 (Kunjungan pertama) adalah kontak pertama

27

ibu hamil dengan tenaga kesehatan dan K4 adalah kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, sesuai standar. (Marniyati dan Saleh, 2016:11).

Dalam deteksi dini resiko tinggi kehamilan dukungan sosial untuk wanita hamil pada umumnya dapat diwujudkan dengan adanya tingkat toleransi yang tinggi pada wanita hamil. dukungan sosial merupakan bantuan yang diberikan oleh sekelompok individu terhadap individu atau kelompok individu yang lain. Dukungan sosial (social support) ketika dihadapkan pada kondisi stress yang sama, akan dapat membantu individu mengatasi suatu permasalahan secara lebih baik jika dibandingkan dengan orang lain yang tidak mendapat dukungan sosial.

Melalui dukungan sosial, individu akan merasakan adanya kelekatan, perasaan memiliki, penghargaan, serta adanya ikatan yang dapat dipercaya dan mampu memberikan bantuan dalam berbagai keadaan (Astuti,2000).

Kegiatan deteksi dini risiko tinggi ibu hamil oleh masyarakat merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Tugas kader kesehatan dalam deteksi dini ibu hamil dengan faktor risiko adalah mengidentifikasi ibu hamil, penyuluhan selama kehamilan, serta melakukan rujukan ke fasilitas kesehatan (Puskesmas/Rumah Sakit) sesuai risiko yang ditemukan. Keberhasilan dalam deteksi dini pelayanan ibu hamil risiko tinggi tergantung pada diri ibu sendiri dan kader kesehatan dan masyarakat (Depkes RI,2008).

9. Kegiatan Surveilans Epidemiologi

Surveilans epidemiologi ialah pekerjaan praktis yang utama dari

“ahli epidemiologi”. Perkembangan surveilans epidemiologi dimulai dengan surveilans penyakit menular, yang meluas ke penyakit tidak menular. Saat ini surveilans epidemiologi digunakan untuk menilai, memonitor, mengawasi, dan merencanakan program-program kesehatan pada umumnya. (Rajab,2009:21).

28

Sedangkan menurut Langmuir (1963), mengemukakan bahwa dikutip dibawah ini :

“surveilans sebagai suatu kegiatan perhatian yang terus menerus pada distribusi dan kecenderungan penyakit melalui pengumpulan data, konsolidasi, evaluasi laporan mortalitas dan morbiditas, dan data lain yang sesuai kemudian disebarkan kepada mereka yang ingin tahu” (Murti, 2003)

istilah surveilans mula-mula arti yang diberikan adalah suatu macam observasi terhadap seseorang atau orang-orang yang disangkan menderita suatu penyakit menular dengan cara mengadakan sebagai pengawasan medis, tanpa mengawasi kebebesan gerak dari orang yang bersangkutan.

Maksud dari pengamatan ini agar segera diisolasi penyakitnya dan diberi pengobatan. Pada tahun 1950 arti surveilans berkembang lebih luas, karena melihat penyakit seluruhnya dan bukan penderitanya saja. Dan pada tahun ini juga dijalankan program dua pemberantasan penyakit dan evaluasi program tersebut, karena surveilans memerlukan ilmu epidemiologi sehingga disebut surveilans epidemiologi.

(Murti,2003:12).

Menurut Detels (2008) dalam Murti (2003:26) mengemukakan 6 (enam) unsur kunci surveilas epidemiologi, yaitu:

a) Pengumpulan data kesehatan secara jelas b) Pengumpulan data yang terus menerus c) Analisis sewaktu-waktu

d) Desiminasi hasil

e) Bertindak berdasarkan hasil f) Evaluasi periodik dan sistem

Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit

Tujuan Surveilans Epidemiologis menurut WHO, dalam (Murti, 2003) ada 5 (lima) tujuan yaitu sebagai berikut :

a. Memprediksi dan mendeteksi dini Epidemi (Outbreak).

29

b. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalian penyakit.

c. Sebagai sumber informasi untuk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi, dan alokasi sumber daya kesehatan.

d. Monitoring kecenderungan penyakit Endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang.

e. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Kesehatan dalam pasal 4 ayat (1) bahwa jenis dan program surveilans kesehatan terdiri atas surveilans penyakit menular, surveilans penyakit tidak menular, surveilans kesehatan lingkungan, surveilans kesehatan matra dan surveilans masalah kesehatan lainnya.

Pada pasal 4 ayat (6) huruf e, surveilans masalah kesehatan lainnya sebagaiamana dimaksud yang berbunyi surveilans kesehatan ibu dan anak termasuk refroduksi meliputi pencatatan pelaporan,PWS, dan audit maternal perinatal.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 Tentang pelayanan kesehatan masa sebelum hamil, masa hamil, persalinan, dan masa sesudah melahirkan tertuang pada pasal 31 ayat (2) bahwa kegiatan surveilans kesehatan ibu dan anak sebagaimana dimaksud meliputi yaitu :

a. pencatatan dan pelaporan;

b. pemantauan wilayah setempat; dan c. audit maternal perinatal;

d. respon tindak lanjut

Yang dimaksud kegiatan pencatatan dan pelaporan seperti pencatatan pelayanan kesehatan dan kesakitan ibu, kelahiran bayi, serta kematian, dan untuk kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS) dilakukan melalui kegiatan mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterprestasi data serta menyebarluaskan informasi ke penyelenggara program dan pihak terkait untuk tindak lanjut. Sedangkan audit maternal perinatal dilakukan terhadap setiap kasus kematian dan kesakitan ibu masa hamil, persalinan, dan masa sesudah melahirkan dan deteksi bumil resiko.

30

Menurut Rasmaniar dan Mahawati (2020:19), ada 7 (tujuh) tahap kegiatan surveilans epidemiologi secara umum sesuai dengan mekanisme kerja yang sistematis sebagai berikut :

1) Melakukan identifikasi masalah dan kasus kesehatan didukung oleh ketersediaan informasi yang dibutuhkan.

2) Melakukan perekaman, pengelohan dan pelaporan data.

3) Melakukan analisis dan interpretasi terhadap hasil pengelohan dan pelaporan data.

4) Menindaklanjuti hasil analisis data dengan melakukan studi epidemiologi.

5) Menyebarluaskan informasi hasil surveilans kesehatan kepada pihak-pihak terkait yang membutuhkan.

6) Merumuskan rekomendasi dan alternative tindak lanjut kegiatan surveilans kesehatan.

7) Memberikan umpan balik kepada pohak-pihak terkait.

Kegiatan Surveilans mendukung proses pencatatan dan pelaporan (recording & reporting) berjalan dengan baik. Selain itu kegiatan ini sangat bermanfaat dalam melakukan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) terhadap suatu masalah kesehatan, surveilans memungkinkan pengambil keputusan untuk memimpin dan mengelola dengan efektif.

Surveilans kesehatan masyarakat merupakan instrument penting untuk mencegah outbreak penyakit dan mengembangkan respon segera ketika penyakit mulai menyebar. Sehingga Puskesmas, Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan dapat menerima Informasi dari surveilans untuk dapat memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik (Nangi dan Yanti, 2019:5).

10. Sistem Informasi Puskesmas

Menurut Darmawan dan Sjaaf (2016), Setiap Puskesmas wajib melakukan kegiatan sistem informasi Puskesmas, baik secara elektronik atau pun non-elektronik. Sistem Informasi Puskesmas paling sedikit dibagi menjadi 4 (empat) mencakup yaitu :

a) Pencatatan dan Pelaporan kegiatan Puskesmas dan jaringannya.

b) Survei lapangan;

c) Laporan lintas sektor terkait; dan

d) Laporan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di wiliayah kerjanya.

31

Sistem informasi Puskesmas merupakan bagian dari sistem informasi kesehatan kabupaten/kota. Dalam menyelenggarakan sistem informasi Puskesmas, Puskesmas wajib menyampaikan laporan kegiatan Puskesmas secara berkala kepada dinas kesehatan kab/kota.

Laporan Kegiatan Puskesmas tersebut akan dipergunakan sebagai sumber data dari pelaporan data kesehatan prioritas yang diselenggarakan melalui komunikasi data (Darmawan dan Sjaaf, 2016:217).

B. MODEL PENELITIAN

Permasalahan yang ditemukan setelah penelitian dilakukan akan dibuatkan salah satu solusi penangganan ibu hamil beresiko serta rekomendasi perbaikan terhadap solusi yang ditawarkan berupa suatu model pemberdayaan masyarakat seperti dibawah ini :

Gambar 4

Tahapan Pemberdayaan

C. Definisi Konsep Dalam Model Penelitian

Menurut Wrihantolo dan Dwidjowijoto (2007:146), menyebutkan bahwa proses pemberdayaan dilakukan melalui dua (dua) tahapan yaitu :

1. Tahap penyadaran ini target hendak diberdayakan dan diberi pencerahan dalam bentuk penyadaran bahwa mereka mempunyai hak untuk mempunyai sesuatu. Pada tahap pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan kapasitas diri. Pada tahap ini juga masyarakat dibuat mengerti bahwa proses pemberdayaan itu harus berasal dari diri mereka Pemberdayaan

Masyarakat Pada Pelayanan Ibu Hamil

Tahapan : 1. Penyadaran 2. Pengkapasitasan

Penurunan Angka Kematian Ibu

Melalui Aplikasi

SI-PIL

32

sendiri, yang upayakan pula agar komunitas ini mendapat cukup informasi. Proses ini dapat dipercepat dan dirasionalkan hasilnya dengan hadirnya upaya pendampingan dari pemerintah untuk memberikan sosialisasi dan penyuluhan dalam program-program pelayanan kesehatan.

Pada implementasi proses penyadaran masyarakat diberikan pemahaman pentingya peran serta mereka dalam pelayanan kesehatan ibu hamil dengan program surveilans epidemiologi kesehatan ibu hamil. masyarakat telah mengalami proses penyadaran dan tahap pembentukan perilaku yang disadari melalui adanya kasus kesehatan di lapangan yang berdampak negative dan membahayakan bagi kemaslhatan hidup mereka jika hal tersebut tidak mendapatkan perhatian khususnya dari kalangan masyarakat sendiri.

Dengan kesadaran dan mereka dianggap berdaya yang dimiliki oleh masing-masing individu terhadap pentingnya nilai kesehatan bagi diri sendiri maupun bagi sekelompok masyarakat tertentu, maka keberdaaan program surveilansi epidemiologi terpadu berbasis masyarakat mempunyai nilai yang lebih di lingkungan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan masyarakat sebagai key informan yang menjadi subyek dan obyek pemberdayaan dapat merasakan secara langsung terkait manfaat dan keuntungan terhadap proses pembangunan kesehatan dan jaminan kesehatan mereka. berupa

2. Tahap pengkapasitasan yaitu transformasi kemampuan wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan. Tahap ini dilakukan dengan memberikan program pelatihan, lokakarya dan kegiatan sejenis yang bertujuan untuk meningkatkan life skil. Pada tahap pelatihan program surveilans epidemiologi terpadu ini bertransformasi kemampuan dan ikut melaporkan kejadian-kejadian kasus penyakit dan kondisi

33

kesehatan ibu hamil beresiko. Kegiatan tersebut dilakukan dengan tujuan memberikan bekal keterampilan dan kemampuan bagi kader sutera emas dalam mendeteksi berbagai gejala penyakit yang tersebar dalam masyarakat, sehingga nantinya dapat dilakukan pendeteksian dan penanganan secara dini masalah kesehatan ibu hamil.

34 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Pendekatan Penelitian

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,tehnik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono,2011).

Pada penelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif karena peneliti ingin mengekplorasi secara langsung , menganalisis, dan mendiskripsikan suatu fenomena. Pada penelitian ini peneliti ingin mengekplorasi secara langsung dan menganalisis, serta mendiskripsikan pemahaman yang mendalam dan spesifik berkaitan dengan konsep pemberbayaan masyarakat melalui program surveilans epidemiologi terpadu berbasis masyarakat, permasalahan angka kematian ibu dalam pelayanan kesehatan ibu hamil yang belum optimal.

B. Teknik Pengumpulan Data

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam uraian di atas, bahwa sumber data adalah berupa orang, peristiwa, lokasi, dan dokumen, untuk dapat memperoleh data secara holistic dan integrative.Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu;

35

1. Wawancara mendalam (Indepth Interview)

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah dengan wawancara langsung dan telaah dokumen.

Sumber data yang penting dalam penelitian kualitatif adalah berupa manusia yang bertindak sebagai informan atau narasumber. Untuk mengumpulkan informasi dari narasumber diperlukan sebuah teknik wawancara. Pada penelitian kualitatif mutlak adanya metode wawancara, karena dibutuhkan informasi yang lengkap dan mendalam.

Dalam penelitian kualitatif, metode wawancara yang digunakan adalah metode wawancara mendalam (indepth interview) yaitu percakapan yang dilakukan untuk memperoleh pendapat, persepsi, perasaan, pengetahuan, dan pengalaman dari informan mengenai masalah-masalah yang diteliti. Adapun informan yang di wawancarai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Kepala Puskesmas 1 Orang

2) Peng. Program Surveilans Dinkes 1 Orang 3) Peng. Program KIA Dinkes 1 Orang 4) Peng. Program Surveilans Puskesmas 1 Orang 5) Peng. Program KIA Puskesmas 1 Orang 6) Pengelola Promkes Puskesmas 1 Orang

7) Bidan 2 Orang

8) Kader Kesehatan 5 Orang

9) Ibu hamil beresiko 2 Orang

10) Tokoh Masyarakat 2 Orang

Jumlah 17 Orang

2. Observasi

Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan yang sedang diamati atau digunakan sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data. Observasi dilakukan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat, benda serta rekaman dan gambar. Dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi partisipan. Observasi

36

partisipan diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak dalam objek penelitian.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan menyelediki benda – benda tertulis seperti telaah dokumen ,peraturan – peraturan, Juknis, Buku Pedoman, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya Data yang di dapatkan dari tehnik dokumenter (pengumpulan dokumen/laporan) adalah data Angka Kematian Ibu dan Jumlah Kunjungan Ibu Hamil di Puskesmas Biau serta data Kegiatan Program – Program Puskesmas Biau yang berkaitan dengan Kemitraan dalam Pemberdayaan Masyarakat.

Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data sebelumnya yang didapat dari indepth interview dan observasi dilapangan. Dokumen disini bisa berupa foto, transkip wawancara. Sedangkan instrumen dalam penelitian ini, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif maka instrumen pokoknya adalah peneliti sendiri dibantu dengan alat seperti, kamera, tape recorder serta alat-alat lain yang mendukung tercapainya data yang diinginkan.

C. Sumber Data

Menurut Silalahi (2012;289) Data untuk suatu penelitian dapat dikumpulkan dari berbagai sumber, Data juga dapat bersumber dari dalam organisasi yang dinamakan sumber data intern dan dari luar organisasi yang dinamakan sumber data ekstern. Dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh, Sumber data (ekstern) dalam penelitian ini dibedakan jadi dua, yaitu:

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer diperoleh dalam bentuk kata-kata atau ucapan

lisan dan perilaku dari subyek (informan), yang didapatkan melalui observasi dan interview dari Organisasi seperti Kepala

37

Puskesmas, Pengelola Data Surveilans, Koordinator Bidan, Staf dan Masyarakat.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder diperoleh dari dokumen, benda-benda dan Foto-foto yang dapat digunakan sebagai pelengkap sumber data primer. Karakteristik sumber data sekunder yaitu berupa dokumen seperti Jurnal-jurnal ilmiah, Laporan-laporan, buku pedoman, juknis, atau arsip-arsip organisasi yang relevan dengan penelitian ini. Sumber data sekunder lainnya adalah dokumentasi foto-foto kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Buol dan Puskesmas Biau.

D. Teknik Pengelohan dan Analisa Data

Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang telah dihimpun oleh peneliti. Kegiatan analisis dilakukan dengan menelaah data, menata, membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesis, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang akan diteliti dan dilaporkan secara sistematis

Analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Proses analaisis data yang berlangsung selama penelitian di tempatkan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Reduksi data

Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan- catatan yang muncul di lapangan dengan langkah membuang atau mengurangi data yang tidak perlu seperti membuang data wawancara

Dokumen terkait