• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Hipotesis Pemahaman Konsep Peserta Didik

KELAS XI SMA NEGERI 5 MALANG

3. Uji Hipotesis Pemahaman Konsep Peserta Didik

Berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan analisis varian dua jalur (Two way Anova) disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Uji Hipotesis Analisis Varian Dua Jalur Tests of Between-Subjects Effects

Dependent Variable:NILAI_POSTTEST

Source Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Corrected Model 372.236a 3 124.079 1.007 .398

Intercept 182450.920 1 182450.920 1.481E3 .000

MODEL_LC5E 1.477 1 1.477 .012 .913

KEMAMPUAN_AWAL 257.314 1 257.314 2.089 .155

MODEL_LC5E *

KEMAMPUAN_AWAL 106.663 1 106.663 .866 .357

Error 5666.264 46 123.180

Total 191479.000 50

Corrected Total 6038.500 49

Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa tulisan “KEMAMPUAN_AWAL”

menunjukkan bahwa pemahaman konsep peserta didik yang ditinjau dari kemampuan awal dengan

166|Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri

perolehan nilai signifikansi sebesar (0,155) > 0,05, sehingga H0 diterima. Artinya tidak ada perbedaan pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E menggunakan real laboratory dan virtual laboratory pada materi kesetimbangan kimia.

Tidak adanya perbedaan ini mungkin disebabkan karena kemampuan awal dari kedua kelompok sampel, baik yang memiliki kemampuan awal tinggi maupun yang memiliki kemampuan awal rendah, tidak signifikan berbeda. Hal ini mungkin dikarenakan jumlah pertemuan untuk pembelajaran laboratorium yang masih sedikit membuat pengaruh pembelajaran laboratorium kurang maksimal terhadap pemahaman konsep peserta didik. Selain itu seperti dikemukakan sebelumnya bahwa kedua kelompok diberikan perlakuan menggunakan model pembelajaran yang sama, yaitu model pembelajaran LC 5E, dan hanya berbeda pada media laboratorium yang digunakan. Hal ini akan membawa dampak bahwa informasi yang didapatkan oleh peserta didik didapatkan melalui serangkaian pembelajaran yang sama, sehingga pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan oleh peserta didik relatif tidak berbeda. Pengalaman dan pengetahuan yang relatif tidak berbeda ini akan memberikan dampak yang relatif tidak berbeda pula pada pemahaman konsep peserta didik. Hasil penelitian ini didukung oleh Jaakkola (2012:4) yang menyimpulkan bahwa semua peserta didik dapat memanfaatkan dari laboratorium simulasi (laboratorium virtual), laboratorium riil dan kombinasinya tanpa memperhatikan tingkatan kemampuan awal.

Namun hasil yang berbeda ditunjukkan pada perbandingan rata-rata perolehan nilai pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah, yang dapat diperoleh dari estimated marginal means dari nilai pemahaman konsep peserta didik. Estimated marginal means dari nilai posttest peserta didik disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Estimated Marginal Means dari Nilai Posttest Peserta Didik

Gambar 2 menunjukkan bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah memiliki nilai pemahaman konsep yang lebih tinggi jika dibelajarkan menggunakan virtual

Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri |167 laboratory. Hal ini mungkin terjadi karena pembelajaran menggunakan virtual laboratory memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mempelajari secara berulang-ulang, dimanapun dan kapanpun, melalui komputer atau laptop, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga memberikan peluang waktu yang lebih lama bagi peserta didik untuk memahami materi (Kresnanto, 2013:90), peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang kurang berpengalaman dengan peralatan laboratorium dan melaksanakan praktikum dapat lebih leluasa dalam proses belajar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing (Georgiou, dkk, 2007:312), serta peserta didik dengan kemampuan awal rendah membutuhkan bantuan secara visual yang menarik, seperti gambar dan grafik dalam memahami suatu konsep agar lebih mudah untuk memahami konsep tersebut (Hegarty, dkk, 1991).

Saat proses pembelajaran dilaksanakan, peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan virtual laboratory merasa sangat antusias dari awal sampai akhir pembelajaran. Hal ini terjadi karena praktikum menggunakan virtual laboratory membuat mereka dapat mengulang-ulang sampai mereka benar-benar memahami materi. Pengalaman dan pengetahuan yang minim membuat peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah dapat percaya diri menggunakan virtual laboratory tanpa harus takut melakukan kesalahan dan dapat menggunakan virtual laboratory untuk belajar dimanapun dan kapanpun sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing peserta didik. Berbeda dengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan real laboratory yang merasa canggung dan banyak melakukan kesalahan mendasar, yaitu terlalu asyik praktikum tanpa melakukan pengamatan dengan baik, akibatnya harus melakukan praktikum ulang dan menyita banyak waktu. Selain itu menurut Mayer (1999) dalam Hitipiew (2009:83) menyatakan bahwa hands-on activities (kegiatan olah tangan) tidak menjamin minds-on activities (kegiatan olah pikir).

Gambar 2 juga menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan awal tinggi memiliki nilai pemahaman konsep lebih tinggi jika dibelajarkan menggunakan real laboratory. Hal ini mungkin disebabkan karena pembelajaran menggunakan real laboratory memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksperimen dengan menggunakan alat dan bahan kimia secara konkret sehingga pembelajaran ini menyediakan pengalaman nyata yang menantang dan memenuhi keingintahuan (curiosity) peserta didik (Wahyuni, 2014:70), serta peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi akan merasa tertantang menggunakan kemampuan berpikirnya untuk menemukan masalah dan penyelesaian masalah dengan cara penyelesaiannya sendiri sehingga dapat menemukan konsep yang diharapkan dengan caranya sendiri (Solihin, 2010:103).

Hal ini terlihat saat proses pembelajaran dilaksanakan. Peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan real laboratory terlihat sangat antusias saat masuk ke laboratorium. Peserta didik mengikuti proses pembelajaran menggunakan real laboratory sesuai dengan prosedur dan aturan yang telah diberikan. Peserta didik sangat antusias

168|Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri

ketika melihat perubahan warna yang terjadi pada setiap faktor yang mempengaruhi arah pergeseran kesetimbangan. Hal ini berbeda dengan peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan virtual laboratory. Awalnya peserta didik terlihat antusias saat berhasil mengoperasikan program virtual laboratory dengan baik dan melihat perubahan warna yang terjadi pada setiap faktor yang mempengaruhi arah pergeseran kesetimbangan. Namun ketika peserta didik telah mengulang-ulang kembali program virtual laboratory yang dipelajari, peserta didik merasa bosan.

Berdasarkan uraian di atas diperoleh bahwa baik real laboratory dan virtual laboratory sama-sama meningkatkan pemahaman konsep peserta didik, namun hanya berbeda pada kemampuan awal peserta didik. Pada real laboratory lebih baik bagi peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi, sedangkan pada virtual laboratory lebih baik bagi peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah. Meskipun tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep peserta didik berdasarkan hasil uji hipotesis statistik, namun secara faktual sudah sesuai dengan hipotesis awal, yaitu terdapat perbedaan pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E menggunakan real laboratory dan virtual laboratory pada materi kesetimbangan kimia.

Hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa tulisan “MODEL_LC5E*KEMAMPUAN _AWAL” menunjukkan bahwa interaksi kemampuan awal dengan model pembelajaran terhadap pemahaman konsep peserta didik memiliki perolehan nilai signifikansi sebesar (0,357) > 0,05, sehingga H0 diterima. Artinya tidak terdapat interaksi antara kemampuan awal peserta didik dan model pembelajaran terhadap pemahaman konsep peserta didik pada materi kesetimbangan kimia.

Hasil analisis tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran LC 5E menggunakan real laboratory dan virtual laboratory dengan kemampuan awal peserta didik yang berbeda tidak memberikan pengaruh secara bersamaan terhadap pemahaman konsep peserta didik.

Hasil penelitian didukung penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa motivasi belajar dan hasil belajar tidak dipengaruhi oleh interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan awal siswa pada materi laju reaksi (Setyowati, 2012:131) dan hasil belajar peserta didik tidak dipengaruhi oleh interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan awal peserta didik pada materi laju reaksi (Suryati, 2011).

Hasil ini membuktikan bahwa terdapat faktor lain yang mempengaruhi pemahaman konsep peserta didik selain model pembelajaran yang menggunakan laboratorium berbeda dan kemampuan awal siswa. Pengaruh faktor lain ini mungkin muncul karena karakteristik materi kesetimbangan kimia yang sangat kompleks, melibatkan pendengaran, perhitungan matematis, pengamatan visualisasi, melakukan praktikum pada real laboratory atau mengoperasikan komputer pada virtual laboratory. Hal ini membuat proporsi pengaruh faktor selain model pembelajaran dan kemampuan awal siswa sangat mempengaruhi pemahaman konsep peserta didik.

Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri |169 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut : (1) tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi dan kemampuan awal rendah yang dibelajarkan dengan model pembelajaran LC 5E menggunakan real laboratory dan virtual laboratory pada materi kesetimbangan kimia. Namun berdasarkan hasil perbandingan rata-rata perolehan nilai pemahaman konsep peserta didik menunjukkan bahwa pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi yang dibelajarkan menggunakan real laboratory lebih tinggi daripada yang menggunakan virtual laboratory, dan sebaliknya pemahaman konsep peserta didik yang memiliki kemampuan awal rendah yang dibelajarkan menggunakan virtual laboratory lebih tinggi daripada yang menggunakan real laboratory, serta (2) tidak terdapat interaksi antara kemampuan awal peserta didik dengan model pembelajaran terhadap pemahaman konsep peserta didik pada materi kesetimbangan kimia.

DAFTAR RUJUKAN

Baser, M. & Durmus, S. 2010. The Effectiveness of Computer Supported Versus Real Laboratory Inquiry Learning Environments on The Understanding of Direct Current Electricity Among Pre-Service Elementary School Teachers. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 6(1) : 47-61.

Budiningsih, C. A. 2010. Pengaruh Strategi Pembelajaran Deep Dialogue dan Kemampuan Awal Terhadap Pemahaman Materi Kuliah Teori Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 3(2) : 1-120.

Bybee, R. W., Taylor, J. A., Gardner, A., Scotter, P. V., Powell, J. C., Westbrook, A., & Landes, N.

2006. The BSCS 5E Instructional Model : Origins, Effectiveness and Applications. Journal of Biological Science Curriculum Study (BSCS).

Cohen, L., Manion, L, & Morrison, K. 2007. Research Methods in Education : Sixth Edition.

London : Routledge Tailor and Francis Group.

Dahar, R. W. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Dasna, I. W. & Sutrisno. 2005. Model-Model Pembelajaran Konstruktivistik dalam Pengajaran Sains/Kimia. Malang : Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang.

Dona, M.M., Yeni, L.F., & Nurdini, A. 2013. Pengaruh Media Animasi dan Kemampuan Awal Siswa SMA Karya Terhadap Hasil Belajar Sistem Gerak Manusia. Pontianak : Prodi Pendidikan Biologi, Jurusan PMIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura.

Fraenkel, J.R. & Wallen, N.E. How to Design and Evaluate Research in Education : Seventh Edition. USA : McGraw-Hill Higher Education.

Georgiou, J., Dimitropoulus, K., & Manitsaris, A. 2007. A Virtual Reality Laboratory for Distance Education in Chemistry. International Journal of Social and Human Science,(306-313).

Gorghiu, L.M., Gorghiu, G., Alexandrescu, T., & Borcea, L. 2009. Exploring Chemistry Using Virtual Instrumentation : Challenges and Successes, (Online), (www.vccsse.ssai.valahio.ro/pdfs), diakses tanggal 15 Pebruari 2015.

Hegarty,M., Carpenter, P., & Just, M.A. 1991. Diagram in The Comprehension on Scientific Text.

In R. Barr, M.L. Kamil, P.B. Mosenthal & Pearson, P.D. (Eds). Handbook or Reading

170|Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri Research, Vol. 2 (pp. 641-668).

Herawati, R. F., Mulyani, S., & Redjeki, T. 2013. Pembelajaran Kimia Berbasis Multiple Representasi Ditinjau dari Kemampuan Awal terhadap Prestasi Belajar Laju Reaksi Siswa SMA Negeri 1 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan Kimia, 2(2) : 113-118.

Herga, N. R. & Dinevski, D. 2012. Virtual Laboratory in Chemistry- Experimental Study of Understanding, Reproduction and Application of Acquaired Knowledge of Subject‟s Chemical Content. Organizacija Reasearch Papers, 45(3) : 108-116.

Hitipiew, I. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Malang : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.

Ibnu, S., Mukhadis, A., & Dasna, I.W. 2003. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. Malang : Universitas Negeri Malang.

Iskandar, S. M. 2011. Pendekatan Pembelajaran Sains Berbasis Konstruktivis. Malang : Bayumedia Publishing.

Jaakkola, T. 2012. Thingking Outside The Box : Enhancing Science Teaching by Combining (Instead of Contrasting) Laboratory and Simulation Activities. Finland : Centre of Learning Research and Department of Teacher Education, University Turku.

Johnstone, A.H., MacDonald, J.J., & Webb, G. 1977. Chemical Equilibrium and Its Conceptual Difficulties. Education in Chemistry, 14(6) : 169-171.

Kirna, I. M. 2010. Pengaruh Penggunaan Hypermedia dalam Pembelajaran Menggunakan Strategi Siklus Belajar Terhadap Pemahaman dan Aplikasi Konsep Kimia pada Siswa SMP dengan Dua Gaya Belajar Berbeda. Disertasi tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Kresnanto, M. 2013. Keefektifan Virtual Laboratory dan Real Laboratory dalam Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing terhadap Hasil Belajar Siswa SMK dengan Gaya Belajar Visual dan Kinestetik. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Mukhlis, M. M. 2013. Identifikasi Pemahaman Konseptual, Algoritmik,Grafik dan Gambaran Mikroskopik Siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 2 Malang pada Materi Kesetimbangan Kimia. Skripsi tidak diterbitkan. Malang : Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang.

Nakhleh, M. B. 1993. Are Our Student Conceptual Thinkers or Algoritmic Problem Solvers?

Identifying Conceptual Student in General Chemistry. Journal of Chemical Education, 70 (1) : 52-55.

Raviolo. 2001. Assessing Student‟s Conceptual Understanding of Solubility Equilibrium. Journal of Chemical Education, 78 (5) : 629-631.

Renner, J. W. & Abraham, M. R. 1986. The Sequence of Learning Cycle Activities in High Scholl Chemistry. Journal of Research in Science Teaching, 23 (2) : 121-143.

Rohmah, M. 2012. Pengembangan e-module dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E pada Pokok Bahasan Kesetimbangan Kimia untuk SMA Kelas XI IPA Semster Ganjil. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang : Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang.

Rokhimulloh, M. 2010. Pembelajaran Kimia Menggunakan Laboratorium Virtuil dan Laboratorium Riil melalui Metode Eksperimen dengan Memperhatikan Emotional Spiritual Quotient (ESQ) dan Kemampuan Awal Siswa (Studi Kasus Laju Reaksi pada Madrasah Aliyah PPMI Assalaam Sukoharjo Kelas XI Tahun Ajaran 2009-2010). Tesis Tidak Diterbitkan. Surakarta : Program Studi Pendidikan Sains, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret.

Setiawan, N.C. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran dan Kemampuan Awal terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Turen pada Materi Kesetimbangan Kimia. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Setyowati, I. 2012. Pengaruh Variasi Media pada Cooperative Learning Cycle 5E (CLC 5E) dan Kemampuan Awal terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Materi Laju Reaksi.

Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana,

Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri |171 Universitas Negeri Malang.

Sirhan, G. 2007. Learning Difficulties in Chemistry : An Overview. Journal of Turkish Science Education, 4(2) : 2-20.

Solihin, I. 2010. Keefektifan Model Pembelajaran Inkuiri Terbuka dan Learning Cycle dalam Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Bontang. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Suryati. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle Dipadu dengan Diagram Alir terhadap Kualitas Proses, Hasil Belajar dan Kemampuan Metakognitif Kimia Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

Suyanti, R. D. 2010. Strategi Pembelajaran Kimia. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Suyono & Haryanto. 2014. Belajar dan Pembelajaran : Teori dan Konsep Dasar. Bandung : PT.

Remaja Rosdakarya.

Tatli, Z. & Ayas, A. 2013. Effect of A Virtual Chemistry laboratory on Student‟s Achievement.

Educational Technology and Society, 16(1) : 159-170.

Wahyuni, T. S. 2014. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Menggunakan Real-Lab dan Virtual-Lab terhadap Pemahaman Representasi Kimia dan Motivasi Siswa pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Tesis tidak diterbitkan. Malang : Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang.

172|Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri

KETERLAKSANAAN COMMUNITY OF INQUIRY (COI) PESERTA DIDIK MELALUI STRATEGI BLENDED LEARNING PADA MATERI KIMIA ANALISIS

KUANTITATIF

Mohammad Alex Firdaus, Surjani Wonorahardjo, dan Munzil Arif Prodi S2 Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Malang

Jl. Semarang no. 5 Malang 65145

E-mail: [email protected]

ABSTRAK: tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlaksanaan Community of Inquiry (CoI) peserta didik melalui strategi blended learning pada materi Analisis Kuantitatif.Penelitian ini menggunakan rancangan pra-eksperimental dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Data penelitian adalah persentase distribusi untuk setiap tahapan inkuiri dalam pembelajaran Analisis Kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap eksplorasi dan integrasi lebih mendominasi jika dibandingkan dengan tahap yang lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik mampu memfokuskan dirinya terhadap pertanyaan yang diajukan peserta didik lain terkait materi ajar dengan mencari informasi melalui berbagai sumber.

Selain itu, peserta didik juga mampu memahami berbagai informasi yang berkaitan dengan pemecahan masalah atau pertanyaan. Pada penelitian ini diketahui juga bahwa tahap resolusi memiliki aktivitas yang paling rendah dibandingkan tahap yang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta didik (khususnya penanya) sudah memahami jawaban atas pertanyaan melalui berbagai informasi yang diberikan oleh peserta didik lain maupun penguatan jawaban oleh pendidik.

Kata Kunci: blended learning, Community of Inquiry (CoI), Analisis Kuantitatif, Pendidikan Kimia.

ABSTRACT: the purpose of this study was to know determine the feasibility CoI learners through blended learning strategy in Quantitative Analysis. This study used a pre-experimental design with one group pretest-posttest. The data is the percentage distribution for each phase in the inquiry learning Quantitative Analysis. The results showed that the exploration and the integration phase are more dominating compared to other stages. This indicated that learners are able to devoted themselves to the question posed other learners related teaching materials to find information through various sources. In addition, learners are also able to understod a variety of information related to problems or questions solving. In this study also known that the resolution phase has a very low activity compared to another phase. This indicatedthat learners(particularly the questioner) alreadyunderstod the answers throughinformation providedbyother learnersorstrengthening theresponse byeducator.

Keywords:blended learning, CommunityofInquiry (CoI), Quantitative Analysis, chemistry education.

PENDAHULUAN

Ilmu kimia merupakan pusat dari sains karena menjembatani ilmu pengetahuan yang lain, seperti fisika dan biologi [1]. Fungsi ilmu kimia terhadap ilmu pengetahuan lain adalah untuk

Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri |173 membantu menjelaskan fenomena dan memecahkan masalah. Ilmu kimia diperoleh dan dikembangkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana, khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur, sifat, dan perubahan materi [2]. Ilmu kimia sebagai bagian dari sains, terdiri dari aspek teoritis (produk kimia) dan empiris (proses kimia). Belajar kimia harus mencakup aspek teoritis dan empiris. Aspek teoritis berhubungan dengan penalaran peserta didik dalam memahami konsep, teori, dan prinsip. Sedangkan aspek empiris berhubungan dengan cara suatu produk kimia diperoleh melalui keterampilan berupa eksperimen. Oleh karena itu, dalam pembelajarannya, kimia mempelajari segala sesuatu mengenai materi dan perubahannya yang melibatkan penalaran dan keterampilan.

Tujuan pembelajaran kimia tidak hanya pada peningkatan kualitas pengembangan bahan ajar, kegiatan laboratorium, dan penerapan penilaian otentik, tetapi juga penekanan pada strategi pembelajaran dan aktivitas sosial peserta didik di dalam kelas [3]. Dalam hal ini, tujuan pembelajaran kimia tidak hanya pada aspek kognitif saja, tetapi juga pada sikap. Peningkatan aktivitas sosial peserta didik dimaksudkan untuk memaksimalkan pemahaman perihal berbagai fakta, kemampuan memecahkan masalah, keterampilan dalam laboratorium, serta sikap ilmiah yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pembelajaran kimia menyarankan pengalihan pusat pembelajaran dari berpusat kepada pendidik menjadi berpusat kepada peserta didik.

Pembelajaran dengan pendekatan berpusat kepada peserta didik menekankan pada partisipasi dan aktivitas dari peserta didik. Hal ini berarti bahwa proses belajar terjadi jika peserta didik secara aktif terlibat dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di ruang kuliah yang dilakukan pendidik (dosen) sebenarnya mensyaratkan peserta didik (mahasiswa) untuk selalu aktif dan menjadi bagian proses perkuliahan. Keaktifan peserta didik tidak hanya bermakna dengan kehadiran di dalam ruang kuliah, melainkan juga kegiatan-kegiatan belajar, seperti mencatat, menanya, diskusi, mengkritik, maupun merangkum. Namun hal tersebut ternyata tidak selalu nampak pada peserta didik,khususnya yang mempelajari materi Analisis Kuantitatif pada matakuliah Dasar-dasar Kimia Analitik.

Ketidakaktifan peserta didik dalam mempelajari materi Analisis Kuantitatif dikhawatirkan dapat mempengaruhi pemahaman terhadap materi ajar. Hal ini dibuktikan dari hasil angket dimana hampir semua sampel (30 peserta didik) menyatakan bahwa tingkat pemahamannya kurang. Hal ini dikarenakan interaksi peserta didik dengan materi yang belum efektif, yang diakui oleh 67%

sampel. Faktor lain adalah peserta didik kurang siap untuk menerima materi baru yang dibuktikan dengan tidak terbiasanya peserta didik untuk mencermati tujuan pembelajaran (80%), serta rendahnya kemauan peserta didik (67%) untuk terbuka atau bertanya ketika menemui suatu konsep yang dianggap sulit (Dokumen pribadi, Agustus 2014). Hal-hal yang menyebabkan peserta didik kesulitan dalam mempelajari materi Analisis Kuantitatif adalah konsep dalam materi ini sebagian

174|Riset Kimia dan Pembelajarannya Bersinergi Membangun Negeri

besar bersifat abstrak, melibatkan hitungan matematis yang kompleks (penentuan nilai pH selama titrasi), bahasa yang digunakan dalam literatur sulit dimengerti, serta rendahnya kemampuan representasi yang dimiliki peserta didik [4].

Materi Analisis Kuantitatif merupakan salah satu pokok bahasan dalam matakuliah Dasar- dasar Kimia Analitik (DKA). Melalui analisis kuantitatif kita dapat mengidentifikasi jumlah dari komponen penyusun bahan yang dianalisis atau disebut sebagai analit. Tujuan utama analisis kuantitatif adalah untuk mengetahui kuantitas dari setiap komponen yang menyusun analit. Analisis kuantitatif menghasilkan data numerik yang memiliki satuan tertentu. Data hasil analisis kuantitatif umumnya dinyatakan dalam satuan volume, satuan berat, maupun satuan konsentrasi dengan menggunakan metode analisis tertentu [5]. Oleh karena itu, dalam mempelajari materi Analisis Kuantitatif tidak cukup dengan menghafal pengertian suatu konsep dan aplikasinya, tetapi juga perlu dengan menggunakan proses berfikir.

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pada pembelajaran Analisis Kuantitatif adalah dengan menghidupkan pembelajaran berbasis inkuiri. Pembelajaran berbasis inkuiri menekankan pada kemandirian peserta didik dalam hal pencarian dan penggunaan berbagai sumber belajar atau informasi. Tujuan dari pembelajaran berbasis inkuiri adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi ajar [6-7]. Pembelajaran berbasis inkuiri dikatakan baik jika mampu membangan keterlibatan peserta didik dalam aktivitas dan proses berfikir selayaknya seorang ilmuwan [8]. Keterlibatan tersebut berupa menumbuhkan sikap keingintahuan, keterbukaan terhadap gagasan baru, motivasi diri, serta ketekunan.

Pembelajaran berbasis inkuiri dapat dilaksanakan secara individu (individual inquiry) maupun kelompok (group/collaborative inquiry). Individual inquiry dilaksanakan atas dasar bahwa setiap peserta didik itu unik dan memiliki cara belajar yang berbeda [7]. Sedangkan collaborative inquiry dilaksanakan dikarenakan mampu memaksimalkan keterampilan memecahkan masalah (problem solving) [9]. Beberapa penelitian [6,10] menyatakan bahwa collaborative inquiry lebih efektif daripada individual inquiry baik dari segi proses maupun hasil belajar. Hal ini dikarenakan dengan adanya kolaborasi atau interaksi dalam belajar, peserta didik mampu meningkat-kan rasa percaya diri dan memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran.

Upaya memaksimalkan collaborative inquiry dapat dilakukan dengan membentuk komunitas belajar. Komunitas belajar ini digunakan sebagai media untuk mengembangkan penalaran peserta didik dalam memahami materi ajar. Komunitas belajar dalam hubungannya dengan inkuiri dikenal dengan istilah Community of Inquiry (CoI). Pengembangan CoI ini didasarkan pada karakteristik pembelajaran di perguruan tinggi, yaitu community dan inquiry [11].

Community lebih mengedepankan sisi sosial pendidikan, seperti interaksi atau kerja sama dalam membangun pengetahuan. Community dikembangkan untuk mendukung proses pembelajaran dan peningkatan keterampilan mengidentifikasi sampai dengan memecahkan masalah. Sedangkan

Dokumen terkait