JURNAL
D. Hasil Penelitian
6. Uji T-hitung
1. Pengaruh Price To Book Value terhadap Harga Saham
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada variabel Price To Book Value terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020. Pada hasil uji secara parsial untuk pengaruh Price To Book Value terhadap Harga Saham didapatkan nilai sebesar thitung -1,609 dan ttabel yaitu 2,036 atau (-1,609 <
2,036), dan tingkat signifikansi sebesar 0.117 sehingga lebih tinggi dari 0.05.
Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, maka dapat disimpulkan H0 diterima Ha ditolak, hal ini menunjukan pada variabel Price To Book Value tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat dilihat bahwa Price To Book Value mengalami penurunan. Sebab Price To Book Value tidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Harga Saham. Maka dari sini perusahaan harus berhati-hati pada penambahan dan pengurangan Price To Book Value, oleh sebab pada penelitian nilai koefisien regresi sebesar -0.089, jika ada penambahan nilai Price To Book Value sebesar 1%
maka akan menurunkan harga saham sebesar 8.9%, sementara jika ada penuruana nilai Price To Book Value sebesar 1% maka akan meningkatkan harga saham sebesar 8.9%. Pada nilai ini tentunya investor harus cermat
dalam melihat nilai ini sebab pada idealnya nilai Price To Book Value semakin rendah maka perusahaan itu semakin baik.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat disimpulkan Price To Book Value tidak berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini sejalan dengan penelitian Hana Tamara, 2018 yang menyimpulkan bahwa Price To Book Value tidak berpengaruh terahadap Harga Saham.
2. Pengaruh Debt Equity terhadap Harga Saham
Berdasarkan penelitian diatas pada variabel Debt Equity terhadap harga saham pada perusahaan sektor Consumergoods pada periode 2016- 2020. Dari hasil uji statistik menggunakan uji t secara parsial Debt Equity berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan hal ini menunjukan bahwa nilai thitung mendapatkan nilai sebesar -7.637 dan ttabel mendapatkan nilai sebesar 2,036, artinya nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel (-7.637 <
2,036) dan tingkat signifikansi sebesar sebesar 0.000 sehingga lebih tinggi dari 0.005
Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukan pada variabel Debt Equity berpengaruh negatif secara signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020.
Pada hasil penelitian diatas bahwa Debt Equity berpengaruh negatif tehadap harga saham hal ini sejalan dengan penelitian Dede Hendra, 2019 bahwa Debt Equity memiliki pengaruh negatif terhadap Harga Saham.
3. Pengaruh Return On Asset terhadap Harga Saham
Berdasarkan penelitian diatas pada variabel Retrun On Asset terhadap harga saham pada perusahaan sektor Consumergoods pada periode 2016- 2020. Dari hasil uji statistik menggunakan uji t secara parsial Return On Asset tidak berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan hal ini menunjukan bahwa nilai thitung mendapatkan nilai sebesar -.682 dan ttabel
mendapatkan nilai sebesar 2,036, artinya nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel
(-.682 < 2,036), dan tingkat signifikansi sebesar sebesar 0.500 sehingga lebih tinggi dari 0.005
Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, maka dapat disimpulkan H0 diterima Ha ditolak, hal ini menunjukan pada variabel Return On Asset tidak berpengaruh negatif signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020.
Dari hasil penelitian diatas bahwa Return On Asset tidak berpengaruh negatif dan memiliki nilai negatif pada koefisien dari ROA hal ini menunjukan semakin kecil nilai ROA maka semakin kecil perusahaan mendapatkan keuntungan, begitupun sebaliknya semakin besar nilai ROA maka semakin besar keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan itu sendiri. Namun pada penlitian ini Return On Asset tidak berpengaruh terhadap Harga Saham. Sebab pada kenyataannya investor hanya menginginkan keuntungan yang akan diterima, maka hal ini investor kerap
tidak melihat nilai Return On Asset dalam mengambil keputusan untuk membeli sebuah saham. Secara tidak langsung investor tidak menilai secara fundamentalisme saja tetapi melihat pergerakan secara teknikal analisis pada candle harga saham pada bursa. Hal ini selaras dengan penelitian Yasmin Aulia dkk, 2021 yang menyimpulkan bahwa Retrun On Asset tidak berpengaruh terahadap Harga Saham.
4. Pengaruh Earning Per Share terhadap Harga Saham
Berdasarkan penelitian diatas pada variabel Earning Per Share terhadap harga saham pada perusahaan sektor Consumergoods pada periode 2016-2020. Dari hasil uji statistik menggunakan uji t secara parsial Earning Per Share berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan hal ini menunjukan bahwa nilai thitung mendapatkan nilai sebesar 10.886 dan ttabel
mendapatkan nilai sebesar 2,036, artinya nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel
(10.886 < 2,036) dan tingkat signifikansi sebesar sebesar 0.000 sehingga lebih tinggi dari 0.005
Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukan pada variabel Earning Per Share berpengaruh postif secara signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020.
Berdasarkan hasil penelitian diatas bahwa Earning Per Share berpengaruh positif secara signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini menunjukan semakin tinggi nilai Earning Per Share maka semakin tinggj pula tingkat Harga Saham yang ditawarkan pada suatu perusahaan. Tidak hanya itu, Earning Per Share mempu menggambarkan tingkat profitabilitas pada perusahaan yang terdapat pada setiap lembar saham perusahaan tersebut, sehingga investor dapat dapat berminat ketika melihat nilai Earning Per Share yang besar dan fluktuasi nilai ini. Pada Earning Per Share merupakan salah satu indikator yang dapat mempengaruhi terhadap permintaan pasar terhadap perusahaan itu sendiri, sehingga akan mempengaruhi nilai harga saham. Idealnya semakin tinggi nilai Earning Per Share maka perusahaan tersebut cenderung cukup baik sebab perusahaan mampu mengelolah keuangan salah satunya laba per lembar saham, sehingga kemampuan ini bisa mengelolah dana para investor dan besar laba yang dibagikan kepada investor. Hal ini selaras dengan penelitian Yasmin Aulia dkk, 2021 yang menyimpulkan bahwa Earning Per Share berpengaruh terahadap Harga Saham.
5. Pengaruh Enterprise Value terhadap Harga Saham
Berdasarkan penelitian diatas pada variabel Enterprise Value terhadap harga saham pada perusahaan sektor Consumergoods pada periode 2016- 2020. Dari hasil uji statistik menggunakan uji t secara parsial Enterprise Value berpengaruh terhadap Harga Saham secara signifikan hal ini menunjukan bahwa nilai thitung mendapatkan nilai sebesar 5.371 dan ttabel
mendapatkan nilai sebesar 2,036, artinya nilai thitung lebih kecil dari nilai ttabel
(5.371 < 2,036) dan tingkat signifikansi sebesar sebesar 0.000 sehingga lebih tinggi dari 0.005
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 20.405 5 4.081 42.369 .000b
Residual 3.179 33 .096
Total 23.584 38
a. Dependent Variable: Harga Saham
b. Predictors: (Constant), PBV X1, DER X2, ROA X3, EPS X4, EV X5
Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, maka dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha diterima, hal ini menunjukan pada variabel Enterprise Value berpengaruh positif secara signifikan terhadap Harga Saham pada perusahaan sektor Consumergoods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020.
Pada hasil penelitian tersebut bahwa Enterprise Value merupakan indikator analisis fundamental yang dipakek untuk melihat seberapa besar kapitalisasi pasar serta utang jangka pendek maupun jangka panjang dan mencermikan nilai pasar suatu bisnis. Pada nilai Enterprise Value menunjukan pengaruh yang positif artinya semakin tinggi nilai Enterprise Value maka semakin tinggi pula harga saham yang ditawarkan serta keuntungan investor juga semakin tinggi namun tentu saja memiliki resiko yang cukup besar.