C. Tujuan Penelitian
5. Upacara Adat Rambu Solo
Konsep budaya ditampakkan dalam berbagai pola tingkah laku yang dikaitkan dengan kelompok-kelompok masyarakat tertentu, seperti adat atau cara hidup masyarakat. Kebudayaan selalu menunjukkan adanya derajat menyangkut tingkatan hidup dan penghidupan manusia. Masyarakat dan kebudayaan merupakan suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, karena tidak ada kebudayaan yang tidak bertumbuh kembang dari suatu masyarakat. Sebaliknya, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan karena tanpa kebudayaan tidak mungkin masyarakat dapat bertahan hidup.
Kebudayaan merupakan hasil dari ide-ide dan gagasan-gagasan yang akhirnya mengakibatkan terjadinya aktivitas dan menghasilkan suatu karya (kebudayaan fisik) sehingga manusia pada hakikatnya disebut mahkluk sosial.
Kebudayaan juga mencakup aturan, prinsip, dan ketentuan-ketentuan kepercayaan yang terpelihara rapi yang diwariskan secara turun-temurun pada setiap generasi.
Upacara Rambu Solo’ adalah salah satu fenomena budaya yang mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong orang Toraja yang terkenal dengan semboyan “misa’ kada di potuo pantan kada di po mate” (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena mencari harta untuk dihabiskan dalam upacara kematian, unsur gotong royong dan tolong-menolong yang terlihatmasih sangatlah jelas, contohnya dalam menyediakan hewan kurban, menyumbang modal, dan juga membantu berjalannya prosesi upacara seperti mendirikan lantang bersama- sama, menyiapkan jamuan bagi para tamu, mempersiapkan keperluan upacara mengarak jenazah, dll.
Secara harfiah upacara adat kematin dan pemakaman Toraja disebutnya dengan Aluk Rambu Solo’ terdiri tas tiga kata, yakni Alu berarti keyakinan atau aturan, Rambu berarti asap atau sinar dan solo ‘(‘ = k, kata aksen dalam bahasa Toraja) berarti turun. Berdasarkan makna tu, maka pengertian Aluk Rambu Solo’, adalah upacara yang dilaksanakan pada waktu sinar matahari mulai trbenam atau turun. Kata lain Rambu Solo’ dalam bahasaToraja, adalah Aluk Rampe Matampu’
yakni Aluk berarti keyakinan, aturan; Rampe berarti sebelah, bahagian; M atampu’ berarti barat. Jadi Aluk Rampe Matampu’ berarti upacara yag dilakukan pada sebelh barat dari rumah atau Tongkonan. Secara leksikal atau makna, Aluk Rambu Solo’ adalah upacara pemujaan dengan kurban persemabahan berupa hewan yang dilakukan pada bahagian barat dari rumah tongkonan yang pelaksanaanya waktu matahari mulai terbenam. banyak menyinggung tentang stratifikasi sosial atau lapisan masyarakat seperti di jelaskan di atas bahwa
pelaksanaan upacara Rambu solo’ menjamin gengsi sosial atau menjunjung tinggi kehormatan keluarga dan seluruh rumpun keturunan yang meninggal, juga terselenggaranya upacara ini turut menentukan seberapa tinggi tingkat dan martabat keluarga dalam masyarakat yang dapat dilihat dari tingkatan bangsawan, rakyat menengah, dan kalangan bawah, serta menimbulkan banyak pandangan yang berbeda dari berbagai lapisan masyarakat.
Rambu Solo’ adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka, di sebuah tempat peristirahatan yang disebut dengan puya. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurna kematian. Dikatakan demikian karena, orang yang meninggal dikatakan benar-benar meninggal setelah prosesi upacara ini digenapi atau dilaksanakan dengan sempurna. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut dikatakan hanya orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan ditempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman, bahkan selalu diajak berbicara. Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap acara ini sangat penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (Bombo), arwah yang mencapai yingkat dewa (To membali Puang), atau menjadi dewa pelindung (Deata). Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo’ menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannya sebagai bentuk pengabdian kepada orangtua mereka yang meninggal dunia.
Kemeriahan upacara Rambu Solo’ ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak hewan disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara24 -100 ekor.
Dulu upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan atau kemampuan ekonomi. Saat ini sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial masyarakat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar acara ini.
Puncak dari upacara Rambu Solo’ disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma’tudan mebalun), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan (ma’popengkalao alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma’palao). Selain itu, juga terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, seperti misalnya adu kerbau (mappasilaga tedong). Kerbau-kerbau yang akan dikorbankan, diadu terlebih dahulu sebelum disembelih. Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik daerah, seperti pa’pompan, pa’ dali-dali, pa’badong dll.
Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang sangat unik, dan merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja yaitu menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan kerbau biasa,
tetapi kerbau bule (Tedong Bonga), yang harganya berkisar antara 10-50 juta per ekor. Nilai yang terkandung nilai moral.
Upacara Rambu Solo’ adalah salah satu fenomena budaya yang mencerminkansemangat kebersamaan dan gotong royong orang Toraja yang terkenal dengan semboyan “misa’ kada di potuo pantan kada di po mate” (artinya kurang lebih sama dengan “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh). Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena mencari harta untuk dihabiskan dalam upacara kematian, unsur gotong royong dan tolong-menolong yang terlihatmasih sangatlah jelas, contohnya dalam menyediakan dan menyumbang modal dan hewankurban dan juga dalam membantu berjalannya prosesi upacara seperti mendirikan lantang bersama-sama, menyiapkan jamuan bagi para tamu, mempersiapkan keperluan upacara mengarak jenazah, dll. Ada juga pembagian daging kerbau dan babi kepada orang-orang yang tidak mampu sehingga upacara ini dapat dianggap sebagai perekat hubungan kekeluargaan tidak hanya antar sesama keluarga sendiri atau sesama kelas sosial tetapi juga antar kelas-kelas sosial lainnya nilai religius.
Suku Toraja dikenal sebagai suku yang religius dan memiliki integritas yang tinggi dalam menjunjung dan melestarikan budayanya. Setiap kegiatan dan pekerjaan mereka memiliki nilai sakral dan dilaksanakan menurut adat yang berlaku karena mereka percaya bahwa melanggar adat adalah suatu pantangan.
Demikian halnya keberadaan manusia dari lahir sampai mati, aturan-aturan etis dan ritus serta simbol-simbol yang berhubungan dengan kesakralan itu selalumengiringi keberadaan masyarakat Toraja. Hal inilah yang membentuk way of thinking dan way of living Toraja dan menjadi budaya yang melekat dengan
begitu kuatnya. Begitu juga yangterlihat dalam pelaksanaan upacara Rambu Solo’
yang kental dengan nilai religinya. Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal yang tidak untuk ditakuti karena mereka percaya bahwa ada kehidupan yang kekal setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dariritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraanyang membawa manusia kembali menuju kehidupan kekal, tempat leluhur berasal.
Nilai Sosial Saat ini, upacara Rambu Solo’ merupakan peristiwa sosial yang dijadikan sebagai ajang pembuktian status sosial bagi masyarakat Toraja.
Melalui upacara ini, telah terjadi pergeseran standar dalam menentukan status sosial masyarakat Toraja. Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan, namun seiring dengan perkembangan ekonomi dan jaman, status sosial tidak lagi berdasarkan pada darah, keturunan atau kedudukan (bangsawan atau tidak) melainkan berdasarkan tingkat kemapanan ekonomi bahkan pendidikan. Masyarakat Toraja beranggapan bahwa semakin meriah upacara tersebut dan semakin banyak harta yang dikeluarkan, maka semakin baik pula nilai upacara tersebut dan semakin tinggi pula status sosial yang dimiliki (terlepas dari status berdasarkan darah kebangsawanannya). Nilai ekonomi Saat ini, upacara Rambu Solo’ tidak hanya dipandang semata-mata sebagai ritual suci melainkan juga sebagai salah satu objek wisata budaya dan aset ekonomi penting bagi masyarakat Toraja dan Indonesia pada umumnya. Selain makna religius yang dikandung, sebagai salah satu budaya Toraja, upacara ini juga telah membuka lapangan pekerjaan dan jalan perekonomian yang baik bagi masyarakat
Toraja. Toraja beserta aset budayanya telah menjadi objek wisata terlaris kedua setelah Bali dimana pendapatan utama daerahnya berasal dari bidang pariwisata.
Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis yang memiliki kekayaan budaya. Dengan adanya makam-makam Tana Toraja beserta upacara-upacara adat dan budaya-budayanya yang unik sebagai sumber wisata baik dalam maupun luar negeri, perekonomian yang dimiliki Tana Toraja jelas terangkat. Sebagian besar dari masyarakat Toraja bekerja di bidang pariwisata, menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata, dll. Agama dan budaya rambu solo Saat ini, sebagian besar masyarakat Toraja beragama Kristen, disusul oleh Islam di urutan kedua. Meskipun masyarakat Toraja telah memeluk agama dan meninggalkan bentuk-bentuk animisme dan dinamisme, namun dalam prakteknya, bagi sebagian masyarakat, agama tetap berada di anak tangga kedua di bawah adat istiadat.
Dalam budaya nenek moyang orang Toraja, ada stratifikasi sosial yang cukup menonjol. Ketika perbudakan masih berlaku di Toraja, dikenal golong puang (penguasa, tuan) dan kaunan (budak). Namun pada zaman kolonial Belanda hal itu dilarang. Tetapi dalam prakteknya, masyarakat adat Toraja tetap membedakan empat kasta dalam masyarakat yang diurut dari yang tertinggi yaitu Tana’ Bulaan (keturunan Raja), Tana’ Bassi (keturunan bangsawan), Tana’
Karurung (bukan bangsawan, tetapi bukan juga orang kebanyakan, tokoh masyarakat) dan yang terendah adalah Tana’ Kua-Kua (rakyat jelata). Dalam hubungan dengan upacara-upacara adat, dikenal pula golongan imam (to minaa atau to parenge’) dan orang awam (to buda).
Dengan masuknya agama Islam, masyarakat diajarkan untuk tidak lagi menggunakan kasta-kasta dalam hubungan sosial. Masyarakat Toraja mulai bisa menerima pengaruh pemuka agama melebihi dominasi keturunan raja dan bangsawan. Namun, di sinilah terjadi dualisme dalam masyarakat Toraja. Mereka tetap menghormati pemuka agama sebagai bentuk penerimaan mereka terhadap agama baru, namun tetap pula menjunjung tinggi prinsip Tana’ Bulaan dan Tana’
Bassi, juga adat Rambu Solo’. Dengan kata lain, bagi sebagian masyarakat Toraja, tidak ada istilah “konversi” agama dari animisme dinamisme ke Islam dan Kristen, yang ada adalah “akulturasi” agama antara animisme dinamisme dengan Islam dan Kristen. Meskipun, pada sebagian masyarakat yang lain hal ini tidak berlaku. Sebagian masyarakat yang lain tersebut pada umumnya sudah menjadi muslim dan pengikut Kristus yang baik.
Dalam situs Corlena. Kampung Londa Tana Toraja dari http://wordpress.com (diakses 4 januari 2013, pukul 22:20 Wita) Pada masyarakat Toraja terdapat perbedaan status sosial yang berbeda-beda, mulai dari yang tinggi, sedang dan rendah. Stratifikasi tersebut dikenal dengan tingkatan berikut:
a. Tana’ Bulaan/Toparenge yang merupakan kasta tertinggi. Pada umumnya golongan bangsawan ini memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat karena mereka bertugas menciptakan aturan-aturan yang kemudian menjadi ketua pemerintahan adat tertinggi dalam masing-masing adat/kelompok adat, misalnya raja dan kaum bangsawan. Mereka juga menguasai tanah persawahan di Toraja.
b. Tana’ Bassi/ Tomakaka. Tana’ bassi adalah bangsawan menengah yang sangat erat hubungannya dengan Tana’ Bulaan. Mereka adalah golongan bebas, mereka memiliki tanah persawahan tetapi tidak sebanyak yang dimiliki oleh kaum bangsawan, mereka ini adalah para tokoh masyarakat, orang-orang terpelajar, dan lain-lain.
c. Tana’ Karurung/. Kasta ini merupakan rakyat kebanyakan atau sering di sebut paktondokan. Golongan ini tidak mempunyai kuasa apa-apa tetapi menjadi tulang punggung bagi masyarakat toraja.
d. Tana’ Kua-Kua/Kaunan. Golongan kasta ini merupakan pengabdi atau hamba bagi Tana’ Bulaan dengan tugas-tugas tertentu. Misalnya membungkus orang mati dan lain-lain, mereka sangat dipercaya oleh atasannya karena nenek moyang mereka telah bersumpah turun-temurun akan mengabdikan dirinya, akan tetapi atasannya juga mempunyai kewajiban untuk membantu mereka dalam kesulitan hidupnya. Golongan ini tidak boleh kawin dengan kelas yang lebih tinggi, seperti Tana’ Bulaan dan Tana’ Bassi.
Sesuai dengan ruang lingkup strata sosial yang mana mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, maka pada akhirnya masalah yang menarik untuk dipelajari dan dibahas lebih jauh ada hubungannya dengan upacara Rambu Solo’.
Dalam hal budaya upacara Rambu solo’, Rambu solo’ bagi orang toraja merupakan budaya yang paling tinggi nilainya dibandingkan dengan unsur budaya lainnya. Upacara Rambu solo’ diatur dalam Aluk Rampe Matampu dan mempunyai sistem serta tahapan sendiri. Lebih banyak dinyatakan dalam upacara
pemakaman dan kedukaan. Masyarakat Toraja dalam ajaran Todolo memberikan perhatian pada upacara pemakaman, karena upacara ini diyakini sangat istimewa serta mengandung dimensi religi, kemampuan ekonomi, dan dimensi sosial.
Dalam kehidupan sehari-harinya, setiap manusia mempunyai suatu pandangan yang berbeda-beda. Begitupula dengan masyarakat Toraja dalam melaksanakan upacara kematian. Bagi sebagian orang, tradisi ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Bahkan, ada yang sampai tertunda berbulan-bulan untuk mengumpulkan biaya pelaksanaan upacara ini, bahkan ungkapan bahwa orang toraja mencari kekayaan hanya untuk dihabiskan pada pesta rambu solo’.
Pandangan lain pun sering muncul, bahwa sungguh berat acara ini dilaksanakan.
Sebab, orang yang melaksanakannya harus mengeluarkan biaya besar untuk pesta.
Bagi masyarakat Toraja, berbicara pemakaman bukan hanya tentang upacara, status, jumlah kerbau yang dipotong, tetapi juga soal malu (siri’), dan hal inilah yang menyebabkan upacara Rambu solo’ terkait dengan tingkat stratifikasi sosial.
Dulunya, pesta meriah hanya dilakukan oleh kalangan bangsawan dalam masyarakat ini. Akan tetapi, sekarang sudah mulai bergeser, siapa yang kaya itulah yang pestanya meriah. Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya.
Biasanya, untuk keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor, sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.
Dengan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa upacara rambu solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang betujuan utuk mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka, disebuah tempat peristirahatan yang disebut dengan puya. Dimana semua masyarakat Tana Toraja yang percaya terhadap Aluk wajib mengadakan upacara rambu solo, tetapi pelaksanaannya dibedakan atas stratifikasi sosialnya.