BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Upah (Ijarah)
a. Pengertian Upah (Ijarah)
Dalam Islam dikenal dengan istilah Ijarah, dimana alijarah berasal dari kata al-ajru yang menurut bahasa berarti upah.
23M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam (fiqih Muamalah), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 108-109.
Secara istilah, menurut Sayyid Sabiq Pengertian upah dalam fiqh tidaklah jauh dari maknanya secara bahasa, dalam konteks akad jasa ini, upah dapat didefinisikan sebagai harga yang harus dibayarkan pada pekerja atas pelayananya dalam memperoduksi kekayaan24.
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikannya sebagaimana yang dijelaskan oleh Wahbah az-Zuhaili dalam Muslihun Muslim antara lain:25
1) Mazhab Hanafi, Ijarah adalah akad yang berisi pemberian pemanfaatan sesuatu yang jelas dengan adanya penukaran;
2) Mazhab Syafi’i, Ijarah adalah akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud dengan pengganti tertentu;
3) Mazhab Hambali, Ijarah adalah akad terhadap pemberian manfaat yang mubah dan jelas yang diambil sedikit demi sedikit dalam masa tertentu dengan pengganti tertentu pula.
4) Mazhab Maliki, Ijarah adalah menjadikan milik sesuatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti Dalam Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan disebutan bahwa upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi
24 Sayyid Sabiq, Fiqh Al-Sunnah, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1994), Jilid III. hlm. 178.
25Muslihun Muslim, Fiqh Ekonomi(Mataram: LKIM, 2005), hlm. 219.
pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan.26
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa upah adalah suatu timbal balik dari seseorang yang memberikan pekerjaan kepada yang melakukan pekerjaan yang berupa uang atau barangan sesuai dengan kesepakatan bersama.
b. Dasar Hukum Upah (Ijarah)
Dasar hukum Ijarah adalah Al-quran, hadits, dan ijtihad.
1) Dalil Al-Quran
Firman Allah. Q.S Az-Zukhruf: 32 yang berbunyi:
…
27
Yang artinya: “…Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”28(Az-Zukhruf: 32)
Ulama fikih juga berlandasan kepada firman Allah
29
Yang artinya: “Salah seorang dari wanita itu berkata; Ya
26Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.
27QS. Az-Zukhruf (43): 32.
28Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemah dengan Tranliterasi Arab-Latin, (Surabaya: Karya Agung, 2002), hlm. 910.
29QS. Al-Qashash (28): 26.
bapakku ambillah ia sebagai orang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Al- Qashash:26).
30
Yang artinya: “jika mereka telah menyusukan anakmu, maka berilah upah mereka.” (Al-Tahalaq:6)
2) Hadits
Rasulullah SAW. bersabda:
ِالله ُل ْوُس َر َلاَق : َلاَق رَمُع نب الله دْبَع ْنَع ُالله ىَّلَص
ْيَلَع مَّلَس َو ِه َرْي ِجَ ْلْا ا ْوُطْعَا :
)هجام نبا هاور( ُهَق َرَع َّف ِجَي ْنَا َلْبَق ُه َرْجَا
Artinya: Dari Abdullah bin Umar ra. berkata, Rasulullah Saw.
bersabda, “Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum keringatnya kering”. 31(HR Ibnu Majah)
Kemudian hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a ia berkata:
َر َمَجَتْحِا : َلاَق ُهْنَع ُالله َي ِض َر ساَّبَع ِنْبا ِنَع َو ْوُس
ِالله ُل ُالله ىَّلَص َمَّلَس َو ِهْيَلَع
َل اًما َرَح َناَك ْوَل َو ُه َرْجَا ُهَمَجَح يِذَّلا ىَطْعَا َو ُي ْم
ْيِطْع ِه لا هاور(
)ىرخب
Artinya: Ibnu Abbas ra.berkata, “Rasulullah Saw. berbekam dan memberikan upah kepada orang yang membekamnya. Seandainya berbekam itu haram, tidaklah beliau memberi upah”.32 (HR. Bukhari)
30QS. At-Thalaaq (65): 6.
31Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, (Jakarta: Darul Haq, 2015), hlm.
490.
32Muhammad bin Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani, Subulus Salam “Syarah Bulughul Maram”, Jilid: 3, (Jakarta: Darus Sunnah, 2017), hlm. 153.
3) Ijtihad
Dalam hukum Islam ada yang dikenal dengan ijtihad. Ini merupakan salah satu yang menjadi sumber hukum islam yang berasal dari hasil pendapat para ulama. Ijtihad ada berbagai macam dan yang digunakan dalam penelitian ini adalah al-‘urf (adat kebiasaan). Adat kebisaan bisa menjadi sumber hukum dalam islam ini didasarkan pada dalil yang disabdakan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
ُمْلا ىَأ َر اَم َو ،ٌنَسَح ِ َّاللَّ َدْنِع َوُهَف ،اًنَسَح َنوُمِلْسُمْلا ىَأ َر اَمَف ِلْس
َس َنوُم ِع َوُهَف اًئِ ي ِ َّاللَّ َدْن
ٌئِ يَس
Artinya: “Maka Apa yang dipandang oleh kaum muslimin sebagai kebaikan maka di sisi Allah sebagai sebuah kebaikan. Dan apa yang dipandang oleh kaum muslimin sebagai kejelekan maka ia di sisi Allah adalah sebagai sebuah kejelekan”.(HR. Ahmad) 33
: لق م ص الله لوسر لق :لاق هنع الله يضر ةريره ىبا نع ِْلا يِف َّنَس ْنَم
َلْس َّنُس ِم ًةَنَسَح ًة ،
ْنَأ ِرْيَغ ْنِم ،ُهَدْعَب اَهِب َلِمَع ْنَم ُرْجَأ َو ،اَه ُرْجَأ ُهَلَف َي
ُقْن ْن ِم َص ْمِه ِروُجُأ يِف َّنَس ْنَم َو ،ٌءْيَش
َك ،ًةَئِ يَس ًةَّنُس ِم َلْسِ ْلا َع ْنَم ُر ْزِو َو اَه ُر ْزِو ِهْيَلَع َنا
َل ِم اَهِب ِهِدْعَب ْنِم َصُقْنَي ْنَأ ِرْيَغ ْنِم ، ِم
ْن
ٌءْيَش ْمِه ِرا َز ْوَأ Artinya: “Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh
yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang melakukannya setelahnya; tanpa berkurang sesuatu apapun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang
33Zaenuddin Abu Qushaiy, muslim.or.id/25357-penjelasan-atsar-kebaikan-adalah-apa- yang-dianggap-baik-oleh-kaum muslimin.html, diaksesn pada tanggal 20 Agustus 2020, pukul 17:11 WITA.
yang mengerjakannya setelah dia, tanpa berkurang sesuatu pun dari dosa-dosa mereka”.(HR. Muslim, no. 1017). 34 Kaidah Fiqh
Adapun dalam kaidah fiqh berbunyi:
ْلا َر َخ ِب ُجا َّضلا َم ِنا
Yang artinya: “manfaat suatu benda merupakan faktor pengganti kerugian”.
Arti asal al-kharaj adalah sesuatu yang dikeluarkan baik manfaat benda maupun pekerjaan, seperti pohon mengeluarkan buah atau binatang mengeluarkan susu. Sedangkan al-dhaman adalah ganti rugi.35
c. Rukun dan Syarat Upah (Ijarah)
Menurut Ulama Hanifah berpendat bahwa rukun Ijarah hanyalah ijab dan kabul dengan menggunakan lafal.36 Adapun golongan syafi’iah, malik dan Hanabilah berpendirian bahwa rukun ijarah itu terdiri atas:37
1) Muajjir (pihak yang memberikan ijarah) 2) Mustajir (orang yang membayar ijarah) 3) Al-ma’qud ‘alaih
4) Shighat (Ijab dan Kabul)
34 https://almanhaj.or.id/9758-keutamaan-menunjukkan-kebaikan.html, diakses pada tanggal 20 Agustus 2020 pada pukul 17:11 WITA.
35Djazuli, Kaidah-Kaidah Fiqih, (Jakarta, Kencana, 2007), hlm. 132.
36Wahbah al-Zuhailiy, al Fiqih al-Islami wa Adillatuh (Beirut: Darul Lisan al-Arab, TT), juz IV, hlm. 24.
37Rachmat syafe’I, Fiqh Muamalah (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm, 125.
Menurut jumhur ulama rukun ijarah ada 4, yaitu:38
a) Dua orang yang berakad yaitu Muajjir dan musta’jir yaitu orang yang melakuakn akad sewa menyewa ataupun upah mengupah.
Muajjir adalah orang yang memberi upah dan yang menyewakan, sedangkan musta’jir adalah orang yang menerima barang sewa atau yang menyewa sesuatu dan yang menerina upah atas suatu pekerjaan.
b) Sighat (ijab dan kabul) antara muajjir dengan musta’jir yaitu dalam ijab dan kabul sewa menyewa atau upah mengupah.
c) Ujrah sewa atau imbalan, diisyaratkan diketahui jumlahnya oleh kedua belah pihak baik dalam sewa menyewa atau upah mengupah.
d) Manfaat, barang yang disewakan atau sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah disyaratkan:
(1) Hendaknya barang yang menjadi objek sewa menyewa dan upah mengupah dapat di manfaatkan kegunaannya.
(2) Hendaknya benda dan jasa yang menjadi objek sewa menyewa dan upah mengupah dapat diserahkan kepada penyewa dan pekerja beserta dengan kegunaannya.
(3) Manfaat benda yang disewakan adalah perkara yang mubah menurut syara’.
(4) Benda yang disewakan disyaratkan kekal ainnya (zatnya).
Adapun syarat akad ijarah ialah:
38Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada: 2002), hlm, 118.
1) Syarat bagi kedua orang yang berakad, adalah telah baligh dan berakal (Mazhab Syafi’i dan Hahanbali). Dengan demikian, apabila orang itu belum baligh atau tidak berakal, seperti anak kecil atau orang gila, maka ijarahnya tidak sah. Berbeda dengan Mazhab Hanafi dan Maliki mengatakan, bahwa orang yang melakukan akad, tidak harus mencapai usia baligh, tetapi anak yang telah mumayyiz pun boleh melalukan akad ijarah dengan ketentuan, disetujui oleh walinya.
2) Kedua belah pihak yang melakukan akad menyatakan, kerelaannya untuk melakukan akad ijarah itu. Apabila salah seorang di antara keduanya terpaksa melakukan akad, maka akadnya tidak sah, sebagai landasanya adalah firman Allah
39
Yang artinya: “Hai orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta kamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali melalui suatu perniagaan yang berlaku suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.” (An-Nisa:29).
3) Manfaat yang menjadi obyek ijarah harus di ketahui secara jelas, sehingga tidak terjadi perselisihan dibelakang hari, jika manfaatnya tidak jelas, maka akadnya tidak sah.
39QS. An-Nisa (4): 29.
4) Obyek ijarah itu dapat diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak ada cacatnya. Oleh sebab itu, ulama fikih sepakat mengatakan, bahwa tidak boleh menyewakan sesuatu yang tidak dapat di serahkan, dimanfaatkan langsung oleh penyewa.
5) Obyek ijaraah itu sesuatu yang dihalalkan oleh syara’. Oleh sebab itu ulama fikih sependapat, bahwa tidak boleh menggaji tukang sihir, tidak boleh menyewakan orang untuk membunuh (pembunuh bayaran), para ulama fikih berbeda pendapat dalam hal menyewakan (menggaji) seorang mu’azzin, menggaji imam shalat dan menggaji seorang mengajar al-Quran. Ulama Mazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan tidak boleh (haram hukumnya) menggaji mereka, karena pekerjaan seperti ini termasuk perkerjaan taat (dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), dan terdapat perbuatan taat sesorang tidak boleh menerima gaji.
6) Upah atau sewa dalam akad ijarah harus jelas, tertentu dan bernilai harta. Namun, tidak boleh barang yang diharamkan oleh syara’.40 d. Macam-macam Ijarah
Dilihat dari segi obyeknya ijarah dapat dibagi menjadi dua macam yaitu: Ijarah yang bersifat manfaat dan yang bersifat pekerjaan.
40 M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam (fiqih Muamalah), (Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 231-135.
1) Ijarah yang bersifat manfaat. Umpamanya, sewa-menyewa rumah, toko, kendaraan, pakaian (pengantin) dan perhiasan.
2) Ijarah yang bersifat pekerjaan, ialah dengan cara mempekerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Ijarah semacam ini dibolehkan seperti buruh bangunan, tukang jahit, tukang se-patu, dan lain-lain, ijarah yang bersifat kelompok yaitu (serikat). Ijarah yang bersifat pribadi juga dapat dibenarkan seperti menggaji pembantu rumah, tukang kebun dan satpam.41