• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII PENUTUP

D. Indeks Gini

2.1.4 Aspek Pelayanan Umum

2.1.4.1 Urusan Pemerintahan Wajib Terkait Pelayanan Dasar

Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa urusan pemerintahan wajib dasar yang mana dalam pelaksanaannya wajib diselenggarakan oleh daerah. Lebih lanjut yang menjadi bagian dalam Layanan Urusan Wajib Dasar pilihan ini meliputi:

A. Bidang Urusan Pendidikan

Pendidikan memegang peranan yang penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan salah satu Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Undang-Undang tersebut, terdapat amanat agar Penyelenggara Pemerintahan Daerah memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar.

Pelaksanaan Pelayanan Dasar pada Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah memiliki hak

untuk mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Selain itu, Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga memiliki beberapa kewajiban diantaranya:

▪ Memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi;

▪ Menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan gratis bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2018 sudah mengimplementasikan program pendidikan gratis melalui skema biaya operasional sekolah (BOS dan BOSDA) dan pembiayaan lainnya penunjang proses pembelajaran untuk SMA/SMK/SKh Negeri dan Swasta;

▪ Memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu, serta wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Tabel 2. 42

Indikator Kinerja Urusan Pendidikan Tahun 2018-2021

NO TINGKAT PENDIDIKAN ANGKA PARTISIPASI KASAR (APK)

2018 2019 2020 2021

1 SD/MI 109,5 107,93 107,24 106,91

2 SMP/MTs 91,71 91,61 92,76 94.88

3 SMA/SMK/MA 71,7 72,92 73,35 75,66

Sumber : SIPD Provinsi Banten, 2022

Angka Partisipasi Kasar dan Angka Partisipasi Murni merepresentasikan dimensi partisipasi pendidikan pada tingkat SD/MI sampai SMA/MA. Selama periode 2018 hingga 2021, Banten telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar tingkat SMA/SMK/MA sebesar 75,66 meningkat sebesar 2,31 dari tahun sebelumnya dan Angka partisipasi murni SMA/MA sebesar 59,69 poin meningkat 0,63 poin dari tahun sebelumnya.

Tabel 2. 43

Indikator Kinerja Urusan Pendidikan Tahun 2017-2021

NO TINGKAT PENDIDIKAN ANGKA PARTISIPASI MURNI (APM) 2017 2018 2019 2020 2021

1 SD/MI 97,56 97,97 97,98 97,95 98,15

2 SMP/MTs 80,59 80,91 81,93 82,73 84,28

3 SMA/SMK/MA 57,88 58,72 58,8 59,06 59,69

Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2022

Berdasarkan tabel dan gambar di bawah, terlihat bahwa realisasi APS di Provinsi Banten sering berada di bawah rata-rata realiasi nasional. Bahkan mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2021 terlihat bahwa nilai APS Provinsi Banten konsisten di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data BPS, realisasi APS Provinsi Banten sebesar 68,94 pada tahun 2021 menduduki peringkat kelima terendah dibandingkan dengan Provinsi lainnya di Indonesia.

Berdasarkan nilai APS tahun 2021, Provinsi Banten hanya lebih baik dibandingkan Provinsi Papua, Kaliman Tengah, Jawa Barat dan Bangka Belitung.

Tahun Banten Nasional 2003 51,71 50,97 2004 52,8 53,48 2005 55,63 53,86 2006 56,79 53,92 2007 58,26 55,49 2008 58,14 55,5 2009 58,44 55,16 2010 50,9 56,01 2011 56,01 57,95 2012 59,8 61,49 2013 62,89 63,84 2014 66,25 70,31 2015 66,73 70,61 2016 67 70,83 2017 67,77 71,42 2018 68,35 71,99 2019 68,72 72,36 2020 68,76 72,72 2021 68,94 73,09

0 10 20 30 40 50 60 70 80

2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 2016 2018 2020 2022 BANTEN INDONESIA

Gambar 2. 25

Perbandingan APS Provinsi Banten dan Nasional Tahun 2003-2021 (Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2021)

Kualitas SDM yang baik dapat diwujudkan salah satunya melalui pembangunan pendidikan. Pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata menjadi target pelaksanaan pembangunan

pendidikan di Banten dan sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDG’s). Beberapa upaya dilakukan untuk mendukung pencapaian pembangunan pendidikan.

Laporan SPM bidang pendidikan tahun 2021 merupakan laporan yang menggambarkan indikator-indikator keberhasilan SPM pendidikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif sesuai dengan Visi dan Misi Gubernur Banten serta Renstra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, yang hasilnya dapat dijadikan bahan evaluasi penyelenggaraan SPM dalam Sektor Pendidikan selama Tahun Anggaran 2021.

Jenis pelayanan dasar bidang pendidikan meliputi pendidikan menengan dan pendidikan khusus, berikut capaian SPM untuk bidang pendidikan.

Tabel 2. 44

Capaian SPM Bidang Pendidikan Tahun 2020-2021

NO JENIS PELAYANAN DASAR/INDIKATOR

TAHUN 2020 TAHUN 2021

TARGET REALISASI CAPAIAN (%) TARGET REALISASI CAPAIAN (%) 1 Pendidikan

Menengah Atas Jumlah Warga Negara Usia 16 - 18

Tahun Yang

Berpartisipasi Dalam Pendidikan

Menengah

138.205 138.205 100 129.081 129.081 100

2 Pendidikan Menengah

Jumlah Warga Negara Usia 7-15

Tahun yang

Berpartisipasi Dalam Pendidikan Dasar (SD/Mi,SMP/MTs)

89.765 89.765 100 84.393 84.393 100

3 Pendidikan Khusus Jumlah Warga Negara Usia 4-18

Tahun yang

Termasuk Dalam Penduduk

Disabilitas yang Berpartisipasi Dalam Pendidikan Khusus

1.198 1.198 100 1.282 1.282 100

Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2021

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, telah berupaya maksimal menerapkan standar mutu pendidikan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 32 Tahun 2018 dan berdasarkan data capaian dapat tercapai dengan relatif baik, tetapi masih terdapat beberapa hal yang harus dibenahi diantaranya yaitu terkait mutu

pendidikan yang harus lebih ditingkatkan agar mutu dan relevansi pendidikan di Provinsi Banten dapat bersaing dan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berdaya saing serta mengurangi angka tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Banten.

Berdasarkan data capaian SPM, terdapat 2 (dua) standar yang perlu diperhatikan yaitu standar sarana dan prasarana serta Pendidik dan Tenaga Pendidikan (PTK) yang data capaiannya masih di bawah beberapa indikator standar yang lain.

B. Bidang Urusan Kesehatan

Urusan Kesehatan di Provinsi Banten mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini dapat kita lihat dari capaian indikator pada Urusan Kesehatan. Pemerintah Provinsi Banten terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan dan cakupan akses kesehatan bagi masyarakat Banten. Capaian pada indikator menunjukan capaian urusan kesehatan menunjukan ketercapaian target kinerja yang tinggi terutama pada penurunan jumlah kematian ibu yang tercatat dari 242 kematian ibu menurun menjadi 198, dan penurunan kematian bayi juga mengalami penurunan dari 1.670 menjadi 1.157 kematian bayi.

Capaian indikator urusan kesehatan pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten tergambarkan pada tabel berikut.

Tabel 2. 45

Indikator Kinerja Urusan Kesehatan Tahun 2018-2021

NO INDIKATOR 2018 2019 2020 2021

T R T R T R T R

1

Penurunan

Jumlah Kematian

Ibu (orang) 247 257 242 222 237 242 232 198 2 Penurunan

Jumlah Kematian Bayi (orang)

1149 1158 1144 1299 1139 1670 1134 1157

3

Persentase

penduduk yang memiliki Jaminan Kesehatan (%)

90 100 100 100 100 100 100 100

4

BOR (Bed

Occupancy Ratio) RSUD Banten

60 121,67 65 112,75 70 100,66 75 101,87

5

BOR (Bed

Occupancy Ratio) RSUD Malingping

60 122,15 65 127,75 65 108,40 70 101,26 Sumber : SIPD Provinsi Banten, 2022

Selanjutnya pada fasilitas sarana kesehatan tercatat data terakhir yaitu rumah sakit sebanyak 99 unit, rumah sakit bersalin 37

unit, puskesmas 252 unit, puskesmas pembantu 252 unit dan di tahun mendatang diharapkan ketersediaan infrastruktur kesehatan semakin meningkat.

Gambar 2. 26

Fasilitas Kesehatan di Provinsi Banten Tahun 2014-2020 (Unit)

(Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2021)

Tenaga Kesehatan di Provinsi Banten semakin menunjukan jumlah yang meningkat apalagi dengan terbangunnya jumlah Rumah Sakit, peningkatan terbanyak adalah tenaga kesehatan perawat yang menunjukan penambahan lebih dari 100 persen.

Gambar 2. 27

Tenaga Kesehatan di Provinsi Banten Tahun 2014-2020 (Jiwa)

(Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2021)

Selanjutnya, berkaitan dengan stunting, berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesi (SSGI) tahun 2021, telah terjadi penurunan prevalensi stunting secara nasional dari 27,67 persen pada tahun 2019 (SSGBI 2019) menjadi 24,4 persen tahun 2021 (SSGI 2021) atau turun sekitar 3,27 persen. Prevelensi Stunting di Provinsi Banten berada di atas nasional yakni 24.5 persen atau naik 1,1 persen dari tahun 2019 sebesar 23,4 persen (SSGBI 2019).

Beberapa Kabupaten/Kota menujukan kenaikan Prevalensi Stunting yaitu Kabupaten Pandeglang naik sebesar 4,8 persen, Kabupaten Tangerang naik sebesar 6,5 persen, dan Kota Tangerang Selatan naik sebesar 5,5 persen. Adapun kabupaten/kota lainnya berhasil menurunkan angka stunting dimana penurunan terbanyak adalah Kabupaten Serang.

Tabel 2. 46

Prevalensi Stunting Tahun 2018-2021 (Persen)

NO KABUPATEN/KOTA 2018 2019 2021

1 Kabupaten Pandeglang 39,47 33,00 37,80

2 Kabupaten Lebak 40,19 33,10 27,30

3 Kabupaten Tangerang 23,23 16,80 23,30

4 Kabupaten Serang 32,04 38,60 27,20

5 Kota Tangerang 19,07 16,40 15,30

6 Kota Cilegon 23,32 28,20 20,60

7 Kota Serang 24,62 28,20 23,40

8 Kota Tangerang Selatan 19,85 14,40 19,90

PROVINSI BANTEN 26,58 23,40 24,50

INDONESIA 30,80 27,67 24,40

Sumber: SIPD Provinsi Banten, 2022

Anak bebas gizi buruk merupakan komitmen bersama yang tertuang dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG’s), dimana pentignya mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi serta pertanian yang berkelanjutan. Balita dengan gizi buruk mempunyai dampak jangka pendek dan panjang berupa gangguan tumbuh kembang termasuk kognitif/stunting, kesakitan, risiko pemyakit degeneratif di kemudian hari.

1. Realisasi 29 Indikator Sesuai Perpres 72 Tahun 2021 Tabel 2. 47