• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vaksin yang Mengandung Zat Haram

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kajian Teori

6. Vaksin yang Mengandung Zat Haram

31

Keempat, dari penyebab lain (al-`Amil al-Kharijah), misalnya, mengunggulkan hadis yang berupa ucapan daripada hadis yang berupa perbuatan.65

Adapun syarat-syarat tarjih itu ada dua macam, yaitu:

a) Terdapat kesamaan pada dua hadis terkait status diterimanya sebagai dalil. Oleh sebab itu tidak terjadi Ta’arud antara al-Qur’an yang Qat’i al-thubut dengan hadis ahad yang zanni al-thubut, kecuali jika ada perbedaan dari segi dalalah-nya.

b) Terdapat kesamaan pada kualitasnya, jadi tidak ada ta`arud antara hadis mutawatir dengan hadis ahad, karena dalam hal ini hadis mutawatir-lah yang diunggulkan.66

4) Metode Tawaqquf

Tawaqquf, (Menghentikan atau mendiamkan). Yaitu, tidak mengamalkan hadis tersebut sampai ditemukan adanya keterangan lebih lanjut terkait hadis mana yang lebih diunggulkan. Namun menurut Abdul Mustaqim sikap Tawaqquf sebenarnya tidak menghasilkan penyelesaian pertentangan antara dua hadis melainkan membiarkan atau mendiamkan masalah tersebut tanpa adanya solusi. Padahal sangat memungkinkan untuk ditemukannya penyelesakan melalui ta’wil.

Sebab itu, teori tawaqquf harus dipahami sebagai metode yang bersifat sementara, sehingga ketika ditemukan ta’wil yang rasional mengenai suatu hadis sebab penemuan baru, maka metode tawaqquf tidak berlaku lagi.67

penyakit tertentu. Produk/zat yang dimasukkan (suntikan/oral) ke dalam tubuh untuk menstimulasi sistem imun tubuh.68 Terdapat beberapa vaksin di Indonesia yang mengandung zat yang diharamkan oleh syari’at islam. Salah satunya adalah vaksin Covid-19 yang bernama Astrazeneca.

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah varian baru penyakit dari coronavirus, keluarga besar virus yang menyerang sistem pernapasan, dengan gejala yang dapat berkisar dari ringan (seperti demam, sakit tenggorokan) hingga parah seperti sesak napas Virus penyebab COVID-19 disebut SarsCoV-2. COVID-19 menjadi semakin berbahaya, membunuh jutaan orang, membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global yang telah menyebar ke lebih dari 230 negara. Pandemi COVID-19 tetap menjadi masalah global di seluruh dunia, membuat pemerintah bekerja lebih keras untuk mengatasi pandemi tersebut.

Hal ini dikarenakan pandemi COVID-19 yang saat ini telah menjangkiti banyak orang di seluruh dunia, juga telah berdampak pada berbagai bidang kehidupan seperti politik, masyarakat, ekonomi bahkan pendidikan, sehingga sangat merugikan dalam banyak hal. Tingkat infeksi COVID-19 semakin meningkat dan update terakhir (30 Maret 2022) menegaskan bahwa jumlah pasien COVID-19 di Indonesia telah mencapai 6.005.646 kasus dan 154.882 kematian. Hal ini berimplikasi pada kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut, dengan tujuan untuk meminimalkan kontaminasi COVID- 19 yang semakin meningkat dengan menerapkan peraturan 3M yakni, menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak (Physical distancing, social distancing) serta mengeluarkan berbagai regulasi seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar, WFH (Work From Home), hingga PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Untuk di Indonesia telah tercatat berdasarkan data terbaru pada tanggal 30 Maret 2022 vaksinasi COVID-19 mencapai angka 157.974.507.

Hal ini masih dapat dikatakan jauh dari target sasaran vaksinasi nasional

68 Lula Asri Octavia, Vaksin Covid-19: Perdebatan, Persepsi, dan Pilihan, Jurnal Emik, Vol 4, No 2, 2021.

33

yakni 208.265.720 dosis vaksin. Detail varian vaksin di Indonesia berupa vaksin Novavax, Pfizer, Sinovac, AstraZeneca, dan yang lain. Peredaran Produksi Vaksin COVID-19 AstraZeneca mengalami pemberhentian beberapa waktu pada kategori Batch CTMAV547 dengan peranan BPOM untuk melakukan pemeriksaan sterilitas dan toksisitas demi meyakinkan bahwa Vaksin COVID-19 AstraZeneca terjaga, aman untuk digunakan oleh masyarakat.

Secara filosofis, AstraZeneca merupakan perusahaan farmasi dari Inggris yang telah melakukan pengembangan Vaksin COVID-19 bersama Oxford University, dan pemerintah Indonesia telah melakukan kerjasama dalam rangka penyediaan vaksin yang disebut dengan nama AZD1222 atau yang lebih dikenal dengan Vaksin AstraZeneca. Secara Umum, terdapat dua versi vaksin yang telah terdaftar untuk penggunaan darurat oleh WHO yakni yang diproduksi oleh AstraZeneca-SKBio (Republik Korea) dan Serum Institute of India, hal ini telah menjalani peninjauan oleh European Medicines Agency (EMA). Vaksin AstraZeneca dibuat dari versi lemah virus flu biasa yang berasal dari simpanse yang telah dimodifikasi supaya tidak tumbuh pada manusia dan hingga saat ini uji coba masih terus berlangsung dengan melibatkan sebanyak sekitar 20.000 relawan.69

Adanya perdebatan di antara kaum ahli, ulama bahkan masyarakat mengenai penggunaan vaksin AstraZeneca ini tentunya tidak terlepas dari tahapan/langkahlangkah pembuatan vaksin ini sendiri, antara lain :

a) Sel Persiapan Inang Virus ditumbuhkan pada medium Fetal Bovine Serum yang dilengkapi dengan asam amino, sumber karbon, aditif lain dan antibiotik. Langkah ini cukup kontroversial, pada tahap ini diperoleh dari pankreas babi dengan menggunakan tripsin babi sebagai subjeknya.

Benda/bahan ini digunakan untuk tujuan menghilangkan sel inang dari pembawa mikronya.

69 Rahayu, R.N dan Sensiyati. Vaksin COVID-19 di Indonesia. Intelektiva: Jurnal Ekonomi, Sosial

& Humaniora. 2021; 2 (7) (E-ISSN: 2686-5661): 39-49.

b) Penyiapan bibit vaksin rekombinan (Research Virus Seed) hingga siap digunakan untuk produksi (tahap master seed dan working seed).

Organisme rekombinan disiapkan dengan menyelipkan replication- deficient chimpanzee adenovirus (chAdOx1) kepada Chromosome bakteri E.coli. Pada tahap ini terdapat penggunaan tripsi dari babi sebagai salah satu komponen pada media yang digunakan untuk menumbuhkan E. coli.

c) Produksi vaksin terdiri dari penyiapan sel inang HEK 293, pengembangan inoculum bibit vaksin rekombinan (chAdOx1-S [recombinant]), penyiapan media produksi vaksin, produksi vaksin menggunakan inoculum bibit vaksin ChAdOx1-S [recombinant] padai seli inangi HK 293i padai mesini steril, iproses pemisahani serta pemurniani produksi vaksini iformulasi vaksini dengani penambahani eksipien, filtrasi secarai aseptisi sertai pengisian ke dalam ampul.

Terkait penggunaan tripsin babi yang dilaksankan oleh kelompok Thermo fisher yakni supplier yang akhirnya di ambil oleh Oxford- AstraZeneca, penjelasan yakni tripsin babi tersebut digunakan ketika metode pengembangan berlangsung semata-mata dimanfaatkan untuk menyisihkan sel inang dari wadah dalam hal ini tripsin babi tidak digunakan sebagai bibit sel ataupun gabungan bahan. Pelepasan sel inang dari pelat atau media pembiakan sel yang dilakukan dalam proses produksi AstraZeneca tidak lagi mengunakan tripsin babi melainkan lewat enzyme TrypLE TM Select yang dibuat dari bahan berupa jamur. Kemudian dilakukan proses sentrifugasi untuk mengendapkan sel dan memisahkan dari medianya. Media yang sudah terpisah itu dibuang dan sel yang sudah diendapkan kemudian ditambahkan media pertumbuhan baru untuk dikembangkan pada tempat yang tak lagi menggunakan tripsin babi. Sementara pada tahap selanjutnya, pembuatan bahan aktif vaksin skala besar dilakukan dengan cara menginfeksikan sel inang dengan bibit adenovirus dalam media berbasis air. Tahapan ini berguna

35

untuk memastikan telah terjadi penyucian secara sempurna jika dalam proses sebelumnya dianggap ada unsur yang bersentuhan dengan babi.70

70 Muhammad Nazar, Keabsahan Penggunaan Vaksin Astrazeneca di Tengah Wabah Pandemi COVID-19 : Ditinjau dari Hukum Islam, Vol. V, No. 2, (Halu Oleo Law Review; Fakultas Hukum, 2021), 168-169

36