• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Bahasa dan Kajian Politik 1. Bahasa dan Wacana

2. Wacana Politik

Menurut Collins (1975: 114) secara umum, semua percakapan adalah negosiasi. Dalam telaahnya, terdapat enam jenis percakapan, yaitu: percakapan praktis, percakapan ideologis, diskusi intelektual, percakapan hiburan, gosip dan percakapan pribadi. Di antara sejumlah percakapan tersebut, maka yang paling serius dan menekan adalah percakapan ideologis (ideology of legitimizing talks).

Percakapan ideologis membuat masyarakat terpilah menjadi dua kubu.

Karena itu, orang akan cenderung memilih untuk berbicara dengan orang lain yang memiliki kemiripan dengan dirinya, serta menghindarkan diri dari berbicara dengan orang lain yang memiliki pandangan bertentangan (Collins, 1975: 121).

Dalam percakapan ideologis itu pula, ada kecenderungan untuk terjadi persaingan antarberbagai pandangan.

Terkait dengan persaingan antarberbagai pandangan tersebut, Michel Foucault, salah satu tokoh penting dalam pendekatan post-strukturalis, melihat realitas sosial sangat baik dipahami sebagai arena diskursif (discursive field) yang di dalamnya terjadi persaingan bahkan pertikaian makna-makna, serta bagaimana

proses ataupun institusi sosial diberi makna tertentu. Dengan demikian, menurut Weedon, 1987 (dalam Sparringa, 2001). "wacana merujuk pada berbagai cara yang tersedia untuk berbicara atau menulis untuk menghasilkan makna yang di dalamnya melibatkan beroperasinya kekuasaan untuk menghasilkan objek dan efek tertentu.

Karena itu, wacana bisa pula dipandang sebagai perekat antara pengetahuan (knowledge) dan kekuasaan (power). Melalui metode genealogi, Foucault (1972) ingin mengungkap hubungan timbal balik antara sistem kebenaran dengan mekanisme kuasa. Teknologi kuasa, misalnya, menurut Foucault, semakin mencapai sasarannya dalam rejim disiplin. Pendisiplinan merupakan cara kuasa melaksanakan kontrol terhadap individu agar patuh dan berguna. Secara ringkas, semakin individu diketahui, maka semakin mudah ditaklukkan. Demikian pula sebaliknya, semakin individu ditaklukkan maka semakin individu itu diketahui. Secara unik, Foucault merasa hanya perlu memberi tanda garis miring (/) antara kuasa dan pengetahuan, sehingga tertulis kuasa/pengetahuan.

Dalam dalil perspektif kuasa/pengetahuan Foucault, mustahil menyelenggarakan kekuasaan tanpa suatu entitas pengetahuan, sebagaimana halnya mustahil entitas pengetahuan tidak mengandung efek kuasa. Pengetahuan di sini salah satunya termanifestasikan dalam wacana, sehingga menurut Foucault mustahil pula suatu kekuasaan terselenggara tanpa berfungsinya suatu wacana kebenaran (Sudibyo, 2001: 124-125). Dalam konteks ini Aditjondro (1994: 59-64) menyimpulkan bahwa untuk melihat dinamika suatu kekuasaan diperlukan kajian

mendalam terhadap bentuk-bentuk wacana resmi yang menjadi produk kekuasaan itu.

Bagi Foucault (1972), kekuasaan adalah relasi yang dibentuk dan disebarluaskan melalui banyak saluran, dalam cara yang kadang-kadang bersifat kontradiktif dan penuh persaingan, serta pada umumnya tumpang tindih.

Kekuasaan, dengan demikian, tidaklah semata mekanisme yang berfungsi melayani ‘reproduksi relasi produksi’---sebagaimana yang digambarkan Althusser (1971)---, akan tetapi kekuasaan itu sendiri bersifat produktif (Ritzer, 2001: 325), kekuasaan menghasilkan dan menyebabkan munculnya objek-objek pengetahuan baru, serta mengakumulasikan kawasan informasi baru. Karena itu, kekuasan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan. Tidak ada kekuasaan tanpa menghasilkan pengetahuan, sebaliknya tidak ada pengetahuan yang tidak secara terus-menerus memberikan efek pada kekuasaan.

Pandangan Foucault (1972) di atas sejalan dengan Barthes bahwa kekuasaan modern telah lahir dengan begitu lembut melalui mekanika sosial dan sangat mungkin masuk dalam relung-relung kepentingan, tidak hanya negara, kelas, grup, tetapi juga di dalam fashion, opini publik, hiburan, olahraga, berita, informasi, keluarga dan hubungan pribadi. Realitas demikian oleh Barthes disebut sebagai wacana kekuasaan (discourse of power). Barhes menyatakan: “You carry out a revolution to destroy power, and it will be reborn, within the new state of affairs” (Eco, 1986: 240).

Itu sebabnya ketika melihat wacana, permasalahan yang penting bukan sekadar memahami bagaimana satu peristiwa dan objek wacana dipahami

maknanya sebagaimana dikemukakan van Dijk dan Stubbs di muka---walaupun ini merupakan bagian dari studi wacana dengan menyingkap kode-kode yang tersembunyi---tetapi juga memahami jenis kekuasaan apa yang beroperasi dan apa efek dari kekuasaan tersebut (Piliang, 1999: 58-61). Di sini menjadi jelas bahwa wacana merupakan tempat beroperasinya relasi antara kekuasaan dan pengetahuan. Dengan demikian studi wacana hakikatnya adalah upaya memahami apa yang dikatakan orang (Stubbs, 1983: 30).

Karena merupakan penghubung antara kuasa dan pengetahuan, maka wacana pun bisa berperan sebagai rejim diskursif (discursive regime). Sebagai rejim kekuasaan, suatu wacana berfungsi seperti struktur. Hasilnya, menurut Flax (dalam Sparringa, 2001), setiap wacana selalu memuat sesuatu yang memungkinkan (enabling) dan membatasi (limiting). Dengan memahami wacana yang bisa memberdayakan sekaligus mengendala, tampak bahwa analisis wacana telah menerapkan sejumlah pandangan mutakhir tentang fungsi struktur, dan meninggalkan pandangan strukturalis Durkheimian yang hanya menempatkan struktur sebagai semata-mata kendala.

Menurut Easton (1990), misalnya, struktur bisa diartikan dalam dua cara, yaitu: (1) sebagai sifat dasar yang melekat pada sesuatu, dan (2) sebagai kenyataan fisik yang dapat dipisahkan dari unsur lain. Sebagai sifat dasar yang melekat pada sesuatu, maka struktur dapat dipisahkan dari kenyataan hanya secara analitik. Sedangkan sebagai kenyataan fisik, struktur dipandang benar-benar memiliki status ontologik tersendiri. Bagi Giddens, struktur bukan sesuatu yang di luar, bukan pula kekuatan yang mengendala yang membuat manusia menjadi

robot dan penurut. Struktur tersertakan di dalam, dan direproduksi oleh keajekan sehari-hari interaksi antarmanusia.

Berbeda dengan pandangan sebelumnya, teori strukturasi Giddens didasarkan pada proposisi bahwa struktur bisa memberdayakan maupun mengendala, sebagai sifat yang melekat dalam hubungan antara struktur dengan agensi. Mirip dengan penggambaran teori strukturasi, menurut Easton (1990), struktur bisa berfungsi: (1) sebagai penentu (as determinant), (2) sebagai kendala (as constraint), dan (3) sebagai pelancar (as facilitative) tindakan agen.

Struktur berfungsi sebagai penentu tindakan apabila struktur diperlakukan sebagai faktor penjelas, atau memiliki pengaruh kuat dan langsung, terhadap peristiwa sosial. Struktur berfungsi sebagai kendala apabila struktur ternyata membatasi pilihan tindakan individu dan kelompok. Sebaliknya, struktur berfungsi sebagai pelancar apabila struktur justru memberi peluang atau kemungkinan bagi individu atau kolektiva untuk bertindak (Easton, 1990).

Flax (dalam Sparringa, 2001), melihat bahwa aturan-aturan yang terdapat dalam sebuah wacana memungkinkan orang memroduksi sebuah pernyataan dan menghasilkan klaim kebenaran atasnya. Implikasinya, setiap wacana berpotensi untuk memasukkan atau mengeluarkan (inclusion/exclusion). Secara sistematis, operasi proses ini akan menjadi penentu apakah sesuatu itu dianggap baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau keliru. Akhirnya, ketika suatu wacana menjadi begitu dominan, maka wacana itu pun menjadi rejim kekuasaan. Pada titik ini pula ada titik temu antara analisis wacana menurut pendekatan post-strukturalis dengan berbagai pendekatan strukturalis lain.

Ditinjau dari perspektif Marxian, maka rejim wacana tidak lain adalah super-struktur atau ideologi dominan yang telah bekerja secara efektif, yang menghasilkan "kesadaran palsu". Ditilik dari perspektif Althusserian, maka rejim wacana setali tiga uang dengan aparat ideologis yang berfungsi melestarikan kekuasaan. Demikian pula, bila ditilik dari perspektif Gramscian, rejim wacana akan menghasilkan hegemoni.

Memang, permasalahan kurang menarik lagi bila salah satu elit politik berhasil menundukkan berbagai tema sentral yang diperjuangkan oleh elit politik lain. Justru karena dalam masa transisi, Indonesia menjadi kancah persaingan antarberbagai wacana yang diperjuangkan oleh para elit politik. Tidak bisa dihindari, dalam dunia politik Indonesia telah dan sedang berlangsung persaingan wacana.

Satu wacana (prior discourse) mengajukan klaim kebenaran, sedangkan wacana lain melakukan kritik atau penyerangan (counter-discourse), untuk selanjutnya dibalas lagi oleh wacana pertama dalam bentuk pembelaan (apollogetic discourse), atau malah serangan balik (counter-counter discourse).

Karena perang wacana tersebut dilakukan oleh para elit politik yang relatif memiliki massa, maka bisa diramal bahwa kejadian tersebut pun membawa akibat-akibat tertentu bagi massanya.

Mengingat wacana adalah ucapan atau tulisan sebagai ungkapan pemikiran (Alvesson, 2000: 203), maka bahasa merupakan sarana dalam proses wacana, dan kalimat merupakan bagian terkecil dalam wacana (Stubbs, 1983: 1; Baso, 1994:

44). Wacana selalu mengandaikan adanya pembicara atau penulis, objek yang

dibicarakan, dan pendengar atau pembaca. Ini berarti wacana mengandaikan adanya subjek (pembicara, penulis), objek yang dibicarakan, dan bahasa yang digunakan. Melalui kerangka kerja semiotika sosialnya sebagai pisau analisis wacana, Halliday (1992: 12) telah memberi sumbangan yang berharga untuk membedah interaksi antara teks dan situasi (konteks) yang didasarkan pada tiga konsep, yaitu medan wacana (field of discourse), pelibat wacana (tenor of discourse), dan mode wacana (mode of discourse).

Medan wacana merujuk pada tindakan sosial yang sedang terjadi atau dibicarakan, aktivitas di mana para pelaku terlibat di dalamnya, serta praktik- praktik yang terlibat dalam teks. Pelibat wacana mengindentifikasikan pihak- pihak---pembicara dan sasaran---yang terlibat dalam pembicaraan, serta hubungan dan kedudukan di antara mereka. Sedangkan mode wacana merujuk pada pilihan bahasa, termasuk apakah gaya bahasa yang dipergunakan bersifat eksplanatif, deskriptif, persuasif, metaforis, hiperbolis, dan lain-lain, serta bagaimana pengaruhnya. Dengan kata lain, medan wacana merupakan jawaban atas pertanyaan “Apa yang sedang terjadi atau dibicarakan dalam teks?”, Pelibat wacanamerupakan jawaban pertanyaan “Siapa yang sedang berbicara dan siapa sasarannya?”, sedangkan mode wacana merupakan jawaban pertanyaan

“Bagaimana gaya bahasa yang dipergunakan beserta akibat-akibat yang ditimbulkannya?” (Sudibyo, 2001: 129).

Berkaitan dengan konsep di atas, studi wacana adalah kajian tentang bahasa dalam fungsinya sebagai sarana untuk mengomunikasikan pemikiran, ideologi, dan tindakan sosial dalam interaksi sosial. Sebagaimana dikemukan oleh

Harbermas (dalam Waters, 1994: 24) masyarakat manusia berkembang dalam komunitas yang harus berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol.

Bahasa adalah simbol yang terpenting dalam interaksi sosial. Begitu penting peran dan keberadaan bahasa dalam interaksi sosial, Heidegger (dalam Gibbons, 2002:

xiv) menyatakan “we think with and within the language, and therefore there is nothing beyond the language”. Apa yang bisa dipetik dari uraian Heidegger adalah tanpa bahasa manusia tak mungkin bisa berpikir dan memahami realitas di sekitarnya.

Dalam komunikasi sosial yang ditandai oleh kesenjangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, bahasa adalah alat dalam mereproduksi kesenjangan tersebut, sehingga bahasa bukan hanya merupakan alat komunikasi, tetapi juga media dominasi dan kekuatan sosial. Bahasa memberikan legitimasi hubungan- hubungan kekuasaan dalam masyarakat serta media untuk menanamkan ideologi.

Pemilihan dan penggunaan kata-kata tertentu dalam komunikasi sosial dapat menunjukkan adanya kekuasaan dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial dapat menunjukkan hubungan kekuasaan (Warsono, 2002: 35-36).

Bahasa juga memperoleh perhatian serius Antonio Gramsci. Dalam pandangannya, tindakan manusia, termasuk tindakan politik, dilakukan dengan menggunakan bahasa. Dalam kenyataannya bahasa tidak lagi hanya sebagai alat dan medium yang netral untuk menjelaskan realitas sosial, tetapi bahasa juga tampil sebagai representasi dari berbagai macam kuasa. Dalam komunikasi sosial, bahasa adalah alat kekuasaan dalam mereproduksi kesenjangan sosial. Bahasa

juga sebagai salah satu ruang tempat terjadinya konflik berbagai kepentingan, kekuatan, kuasa, proses hegemoni dan hegemoni tandingan (counter hegemony).

Pandangan Gramsci di atas dipertegas Foucault (1972: 216) bahwa bahasa sebagai

“wacana” tidak pernah netral. Menurutnya “Language as a discourse is never neutral and is always laden with rules, privileging a particular group of knowledge while exluding others”.

Dalam konsep hegemoni Gramsci, penanaman ideologi secara terus- menerus untuk menghasilkan kepemimpinan (dominasi) intelektual dan moral dilakukan lewat bahasa, terutama bahasa lokal. Menurut Rakhmat (1996: 50) ideologi adalah serangkaian preferensi yang dimiliki bersama oleh komunitas politik. Karena ideologi itu “socially shared”, maka ia pasti terbentuk melalui proses sosial. Ia harus dirumuskan secara jelas oleh elit intelektual dan disebarluaskan kepada anggotanya. Dalam perumusan dan penyebaran ideologi tersebut, peranan bahasa sangat menentukan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ideologi membentuk dan dibentuk oleh bahasa. Dengan ideologi, orang memaknai sebuah realitas. Untuk memudahkan penyimpanan, pemeliharaan, pengolahan, dan penyimpanan makna diperlukan bahasa. Pada gilirannya, bahasa tertentu---yang ditampakkan pada pemilihan kata dan kalimat---membentuk realitas sosial tertentu.

Selain itu, menurut Gramsci setiap bahasa mengandung unsur-unsur budaya dan filosofi yang dipahami dan dijunjung tinggi oleh masyarakat. Bahasa sebagai simbol di dalamnya mengandung makna dan nilai-nilai kultural, yang berlaku dan dijunjung tinggi oleh masyarakat pemakainya. Dengan demikian,

penggunaan bahasa “lokal” untuk menanamkan ideologi akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Itu sebabnya para pemimpin Indonesia pasca- kemerdekaan sangat aktif memroduksi idiom-idiom lokal untuk menanamkan ideologi politiknya.