BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Objek Penelitian
2. Keadaan Sistem Sosial
Terbentuknya struktur pelapisan masyarakat Enrekang berawal dari konsep to manurung, dimana cara kedatangan to manurung yang tiba-tiba turun dari langit dianggap luar biasa dan memberikannya kewibawaan yang ampuh dalam menghadapi rakyat, hal ini pula memberikan satu anggapan bahwa status sosial to manurungdan keturunannya lebih tinggi dari masyarakat biasa. Pada umumnya masayarakat Enrekang mengenal tiga lapisan masyarakat, yaitu :
a. Golongan To Puang atau Arung (Bangsawan) bagi masyarakat Enrekang, keturunan To Puangdianggap titisan dewa sehingga mereka mempunyai
37
peranan dalam memegang pucuk pimpinan yang tertinggi dalam suatu daerah kekuasaan.
b. Golongan To Merdeka (Rakyat Biasa) golongan ini mempunyai golongan tengah dimana mereka tidak sebagai kaum bangsawan (penguasa) dan bukan juga orang yang diperhamba.
c. Golongan To Kaunan (Hamba milik To Puang) golongan yang diperhamba atau abdi dari orang lain.
3. Pemerintahan
Pada mula terbentuknya Kabupaten Enrekang telah beberapa kali mengalami pergantian Bupati sampai sekarang.Pelantikan Bupati Enrekang yang pertama yaitu pada tanggal 19 Februari 1960 dan ditetapkan sebagai hari terbentuknya Daerah Kabupaten Enrekang.Berikut adalah daftar Bupati Kabupaten Enrekang yang menjabat sejak pembentukan pada tahun 1960.
1. Andi Babba Mangopo (1960-1963) 2. Muhammad Nur (1963-1964)
3. Muhammad Cahtif Lasiny (1964-1965) 4. Bambang Soetrisna (1965-1969) 5. Abullah Rachman, B.A (1969-1971) 6. Drs. Mappatoeran Parawansa (1971-1973) 7. Mochammad Daud (1973-1978)
8. H. Abdullah Dollar, B.A (1978-1983)
9. Muhammad Saleh Nurdin Agung (1983-1988) 10. Mayjend. TNI H.M. Amin Syam ( 1988-1993)
38 11. Andi Rachman (1993-1998)
12. Drs. Andi Iqbal Mustafa (1998-2003) 13. Ir.H.La Tinro La Tunrung (2003-2013)
14. Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd (2013-Sekarang) 4. Keadaan Penduduk
Adapun jumlah penduduk di Kabupaten Enrekang di beberapa Kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Di Kabupaten Enrekang
No Nama Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Cendana 4254 4579 8833
2 Baraka 11347 11108 22455
3 Buntu Batu 6955 6647 13602
4 Anggeraja 12643 12687 25330
5 Malua 3989 4178 8167
6 Alla 11380 10821 22201
7 Curio 8243 7865 16108
8 Masalle 6593 6288 12881
9 Baroko 5444 5139 10583
39 1
0
Enrekang 15727 16494 32221
1 1
Bungin 2264 2187 4451
1 2
Maiwa 12358 12424 24782
Sumber : BPS Kabupaten Enrekang
5. Visi Misi Kabupaten Enrekang
Enrekang sebagai daerah yang cukup potensial dilihat dari segi sumber daya alam, tingkat aksesbilitas dukungan sarana dan prasarana sesungguhnya memungkinkan untuk mencapai daerah argopolitan dimana pola pengembangan sektor pertanian selanjutnya akan memberikan efek eksternal terhadap tumbuh kembangnya berbagai sektor lainnya seperti industri pemgolahan perdagangan, lembaga keuangan dan sebagainya. Pengembangan daerah argopolitan dimaksud harus tetap mengacu pada prinsip otonomi dan kemandirian melalui pengembangan interkoneksitas antar daerah baik di Sulawesi Selatan maupun diluar Sulawesi Selatan. Pembangunan daerah harus dipandang dalam perspektif masa depan sehingga pelaksanaan pembangunan akan selalu ditempatkan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, kerangka pembangunan seperti itu akan menempatkan aspek kelestarian lingkungan sebagai persyaratan utama.
Merupakan proses untuk mencapai Visi yang telah di tetapkan. Adapun Misi Kabupaten Enrekang adalah :
40
1. Pilar pendukung perekonomian bagi pengembangan perekonomian Sul-Sel melalui pengembangan berbagai komoditas unggulan, khususnya sektor pertanian.
2. Mengembangkan kerja sama kawasan dan keterkaitan fungsional antara daerah agar tetap mengacu pada semangat kemandirian dan otonomi.
3. Mengembangkan implementasi pembangunan yang lebih menekankan pada pengembangan Kawasan Timur Enrekang (KTE) dalam rangka mewujudkan keseimbangan pembangunan antara wilayah di Kabupaten Enrekang.
4. Melakukan penataan tata ruang yang mampu memberikan peluang bagi terciptanya struktur ekonomi dan wilayah yang kuat sehingga memungkinkan munculnya interkoneksitas dan antara wilayah.
5. Mengedepankan norma dan nilai-nilai budaya tradisional dan keagamaan seperti kejujuran, keadilan, keterbukaan, saling menghormati, semangat gotong royong, dan kerja sama, dalam berbagai aktifitas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
6. Tujuan
Merupakan penjabaran dari misi dan bersifat operasional tentang apa yang dicapai.
1. Komoditas unggulan Kabupaten Enrekang mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, regional, maupun untuk kebutuhan ekspor.
2. Pembangunan sumber daya yang menjadi pilar pendukung ekonomi kerakyatan.
41
3. Tercapainya kerja sama antar wilayah dan antar kawasan dalam Kabupaten Enrekang.
4. Terwujudnya kerja sama antar pemerintah Kabupaten Enrekang dengan berbagai pihak.
5. Meningkatkan pengolahan potensi dikawasan timur Kabupaten Enrekang.
6. Terwujudnya penataan wilayah/kawasan yang berdaya guna dan berhasil guna.
7. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan sosial.
8. Terwujudnya ketahanan budaya dan spiritual.
9. Terwujudnya kepemerintahan yang baik partisipatif transparan dan akuntabel.
10. Tercapainya peraturan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat.
7. Sasaran
Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan dapat terukur tentang apa yang akan dicapai atau dihasilkan. Fokus utama sasaran adalah tindakan dan alokasi sumber daya daerah dalam kegiatan kepemerintahan Kabupaten Enrekang yang bersifat spesifik dapat dinilai, dikur, dan dapat dicapai dengan berorentasi pada hasil yang dicapai dalam kurun waktu 5 (lima) tahun. Sasaran pemerintah Kabupaten Enrekang adalah :
1. Meningkatkan daya saing komoditas unggulan Kabupaten Enrekang.
2. Berkembangnya sistem perekonomian dan perdagangan.
3. Meningkatnya sarana dan prasarana fisik pemerintah.
4. Meningkatnya sarana dan prasarana perhubungan.
42 5. Meningkatnya kemampuan pembiayaan.
6. Meningkatnya kualitas pelaku ekonomi.
7. Terjalinnya kerja sama dengan pihak luar negeri dalam berbagai bidang pembangunan.
8. Terwujudnya pemberdayaan Kecamatan dan Desa/Kelurahan.
9. Meningkatnya kerja sama dengan pemerintah Provinsi dalam berbagai bidang pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan.
10. Meningkatnya kerja sama dengan pemerintah Kabupaten dalam berbagai bidang pembangunan.
11. Meningkatnya kerja sama dalam berbagai bidang.
12. Terwujudnya pemanfaatan lahan sesuai peruntukannya atau kesesuaian lahan.
13. Terciptanya pelestarian alam dan lingkungan hidup.
14. Meningkatnya penyelenggaraan pendidikan.
15. Meningkatnya ketahanan budaya dan kehidupan keagamaan.
16. Meningkatnya status sosial masyarakat.
17. Meningkatnya derajat kesejahteraan masyarakat.
18. Terwujudnya supremasi hukum atau penegakan hukum.
19. Meningkatnya kualitas aparatur.
20. Meningkatnya wawasan kebangsaan.
8. Profil Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kab. Enrekang
Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang dibentuk berdasarkan peraturan Daerah Kabupaten Enrekang Nomor 11 Tahun 2016
43
tentang pembentukan dan susunan organisasi perangkat Daerah Kabupaten Enrekang dan pokok, fungsi, uraian tugas dan tata kerja Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang, maka tugas, fungsi dan struktur organisasi berikut : “ Badan Kepegawaia dan Diklat Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Badan, yang mempunyai tugas pokok membantu Bupati dalam membina, mengkoordinasi dan melaksanakan penyususnan dan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang kepegawaian
1. Fungsi Badan Kepegawain Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang
Dalam melaksanakan tugas pokok maka Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis di bidang mutasi, data dan informasi kepegawain, Bidang Diklat serta bidang pengembangan dan pembinan pegawai.
b. Pelaksanaan tugas dukungan teknis di bidang mutasi, data dan informasi kepegawaian, Bidang Diklat serta bidang pengembangan dan pembinaan pegawai.
c. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis di bidang mutasi, data dan infotmasi kepegawaian, Bidang Diklat serta bidang pengembangan dan pembinaan pegawai.
d. Pembinaan teknis penyelanggaraan fungsi-fungsi urusan pemerintahan Daerah di bidang mutasi, data dan informasi kepegawaian, Bidang Diklat serta bidang pengembangan dan pembinaan pegawai.
44
e. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya.
2. Struktur Organisasi Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang
1. Kepala Badan 2. Sekertaris
3. Jabatan Fungsional
a. Kabid mutasi, Data & Info Kepegawaian a) Kasubid Mutasi Jabatan
b) Kasubid Kepangkatan Dan Pensiun c) Kasubid Data Informasi Kepegawaian b. Kabid Pendidikan Dan Latihan
a) Kasubid Diklat Stuktural b) Kasubid Diklat Teknis c) Kasubid Diklat Fungsional
c. Kabid Pengembangan Dan Pembinaan a) Kasubid Perc dan pendidikan Pegawai b) Kasubid Pengembangan Pegawai c) Kasubid Pemb dan kesj Pegawai
B. Hasil Penelitian Tata Cara Penempatan Pegawai Di Badan kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang
Didalam Peraturan Pemerintah No. 100 tahun 200 menyebutkan bahwa penempatan pegawai adalah mereka yang telah memenuhi syarat-syarat yang
45
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang, dan diserahi tugas dalam suatu jabatan Negri atau diserahi tugas Negara yang lainnya, yang ditetapkan berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kegiatan penempatan pegawai dalam fungsi kepegawaian, dimulai setelah organisasi melaksanakan kegiatan penarikan seleksi, yaitu pada saat seorang calon pegawai dinyatakan diterima dan siap untuk ditempatkan pada jabatan atau unit kerja yang sesuai dengan kualifikanya. Namun ternyata permasalahannya tidak sesederhana itu. Karna justru keberhasilan dari keseluruhan program pengadaan tenaga kerja terletak pada ketetapan dalam menempatkan pegawai yang bersangkutan.
Dalam membentuk komitmen dan kepribadian pegawai secara efektif dan efisien maka dapat terwujud apabila didukung dengan prinsip “ the right man, the right place”. Hal ini juga berusaha dilakukan oleh Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kab. Enrekang. Menurut Sekertaris Badan Kepegawaian mengatakan bahwa :
”Proses penempatan pegawai mulai dari rekrutmen, Dimana penempatan pegawai harus berdasarkan sesuai dengan kebutuhan oleh Badan Kepegawaian,namun belum berjalan dengan maksimal. tetapi sudah ada arahan untuk melaksanakan sesuai dengan kebutuhan,pendidikan seorang pegawai”.
( wawancara AF pada tanggal 29 juni 2019)
Sementara itu ada daftar kebutuhan pegawai yang diterima Badan Kepegawain dari instansi yang lain untuk mengatur penempatan pegawai, inilah yang akan dijadikan sebagai pemasukan dalam formasi pendaftaran Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS).
46 Sedangkan
“Ada pendaatan di instansi lain untuk dijadikan daftar kebutuhan pegawai yang dilihat dari latar belakang pendidikan apa saja yang akan dibutuhkan, pengajuan inilah yang akan dijadikan sebagai pemasukan dalam formasi calon pegawai negri sipil, formasi pendataan .
( wawancara AM pada tanggal 29 juni 2019)
Sedangkan Menurut Informan staf BKD Kabupaten Enrekang mangatakan bahwa:
”Proses awal pada formasi ini setelah diterima SK bupati, dimana para pegawai akan memiliki analisis pegawai setelah mengikuti prajabatan.
(wawancara ST pada tanggal 29 juni 2019)
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa dalam mengadakan rekrutmen seleksi, pengumuman bagi CPNS lolos, dan penempatan bagi pegawai baru berdasarkan surat keputusan (SK) Bupati. Dalam hal ini, penempatan pegawai telah ditentukan langsung oleh Badan Kepegawaian bahwa kualifikasi seperti ini ditempatkan di instansi tersebut kemudian mengikuti prajabatan untuk meresmikan jabatan mereka sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Barulah dibuatkan analisis jabatan. Sementara dalam proses penempatan pegawai biasannya, ada penempatan yang kekurangan sehingga membutuhkan pegawai hal ini akan diadukan kepada instansi yang memiliki kekurangan pegawai yang akan mengurus pendistribusian atau pemindahan pegawai tersebut, maka ada surat pemindahan yang telah di ajukan ke Badan Kepegawaian.
Pengadaan pegawai Negri Sipil adalah untuk mengisi formasi yang lowong.
Lowong nya formasi dalam suatu organisasi pada umumnya disebabkan oleh dua hal, yaitu adanya pegawai yang berhenti, pensiun dan meninggal dunia atau adanya perluasan organisasi. Karna pengadaan Pegawai Negri Sipil adalah mengisi formasi yang lowong.
47
Maka penerimaan Pegawai Negri Sipil harus berdasarkan kebutuhan.
Kedudukan Pegawai Negri Sipil adalah sebagai Aparatur Sipil Negara yang bertugas untuk pelayanan kepada masyarakat secara profesinal, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas Negara, pemerintah dan pembangunan.
Prinsip pokok dari seluruh proses pengadaan pegawai adalah penempatan orang yang tepat yang telah ditentukan, berhasilnya suatu proses pencapaian tujuan organisasi sangat tergantung dari unsur manusia yang memimpin dan melaksanakan tugas.Tata cara dalam penempatan pegawai memiliki empat sub bagian yakni pendidikan, pengetahuan kerja, keterampilan kerja dan pengalaman kerja.
1. Pendidikan
Suatu organisasi pada dasarnya memerlukan penempatan pegawai yang sesuai latar belakang pendidikan yang dimiliki untuk kebutuhan organisasi, sebab pegawai merupakan unsur pelaksanaan dari program-program kerja yang akan dilaksanakan, juga sebagai Aparatur Negara yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara fungsional,jujur, adil dan merata.
Sehubungan dengan penempatan pegawai dengan tingkat pendidikan oleh setiap pegawai sebagaimana diatur dalam peraturan pemerintah nomor 13 tahun 2012 tentang perubahan atas aturan pemerintah Nomor 100 tahun 2000 tentang pengangkatan Pegawai Negri Sipil dalam jabatan Struktural menjelaskan “ untuk mewujutkan tujuan pembagunan Nasional, diperlukan Pegawai Negri Sipil yang netral, mampu menjaga kesatuan dan persatuan Bangsa, professional, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas serta penuh kesetiaan dan ketaatan
48
kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Dan Pemerintah Republik Indonesia.
Tidak adanya aturan yang terlalu mengikat terhadap disiplin ilmu pegawai Negri Sipil membuat alur karier pegawai kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Telah disadari dengan jelas bahwa penempatan pegawai yang didasarkan dengan disiplin ilmu akan membawa angin segar terhadap organisasi dan akan mampu mewujudkan pencapaian tujuan akan terhambat jika pelaksanaan tidak mengetahui atau kurang memahami langkah-langkah yang harus dilakukan agar pencapaian tersebut terwujud.dalam tata cara penempatan pegawai.
Pada rung lingkup Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kab. Enrekang terdapat 33 pegawai sejak tahun 2018-2019 dan memiliki tugas atau bagian- bagaian masing-masing. Adapun penempatan berdasarkan latar belakang pendidikan pada Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang adalah sebagai berikut :
Dalam penempatan pegawai perlu diperhatikan tingkat pendidikan yang dimiliki seorang pegawai. Terkhusus pada ruang lingkup Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang. Untuk mengetahui apakah tingkat pendidikan Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang sangat menentukan penempatan atas jabatan dengan tingkat pendidikan yang dimiliki sudah sesuai dengan pendidikan sebelumnya,maka dilakukan wawancara dengan informan sekertaris BKD AF yang mengemukakan bahwa :
“Tingkat pendidikan memang tentu diperhatikan apalagi untuk pegawai yang bagian administrasi dan pelayanan harus memang ditempatkan yang sesuai dengan keahliannya. Kemudian untuk tammatan SMA ditempatkan sesuai kebutuhan”.
49
( hasil wawancara AF, tanggal 26 juli 2019)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penempatan pegawai pendidikan dijadikan sebagai salah satu prasyarat. Menurut salah satu informan diatas , pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kinerja seseorang, dengan pentingnya pendidikan tersebut, maka dalam penempatan pegawai pendidikan merupakan salah satu indikator yang dijadikan bahan pertimbangan kualitas yang dimilikinya. Menurut Schuler (1997), mengemukakan bahwa: “ penempatan pegawai berkaitan dengan pencocokan seseorang dengan
jabatan yang akan dipegangnya.
Sedangkan menurut informan selaku Kasudid Data dan Informasi Kepegawaian mengemukakan bahwa :
“Saya lulusan sarjana komputer di kantor ini dan saya di tempatkan di bagian penyajian data dan penginputan data”.
(Hail Wawancara AL , tanggal 30 juli 2019)
Sejalan dengan pernyataan dari sekertaris umum Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang “AF” juga mengemukakan hal yang sama , bahwa pendidikan yang dimiliki memang sangatlah diperhatikan. Adapun hasil wawancara dengan informan selaku sekertaris umum Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang menemukakan bahwa :
“Bahwa badan kepegawaian memang sudah memiliki pembagian lokasi kerja yang jelas, kecuali untuk Tammatan SMA ya harus di tempatkan sesuai dengan kemampuan dan keahliannya”.
(hasil wawancara af tanggal 27 juni 2019).
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan sangat diperhatikan Dalam penempatan pegawai negri sipil, karna keberhasilan
50
atau tercapainya tujuan instansi ditentukan oleh keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh pegawai tersebut. Pendidikan merupakan cerminan kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan secarah baik dan benar, dengan latar belakang pendidikan seseorang dianggap mampu atau tidak mampu untuk menduduki atau menempati jabatan tertentu terutama untuk bagian administrasi dan pelayanan di Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang harus ditempatkan sesuai dengan keahlianya, sedangkan untuk tammatan SMA ditempatkan sesuai kebutuhan dan kemampuannya.
Pada penempatan pegawai di Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang Penempatan pegawai sekertaris Badan Kepegawaian dan Kasudid Data dan Informasi Kepegawaian, sudah ditempatkan sesuai dengan pendidikan dan keahlian yang dimiliki karna Dengan pendidikan yang tepat, seorang pegawai pada umumnya akan mampu menyelasaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya secarah baik dan benar sesuai dengan profesionalisme dan intelektualitas yang dimiliki.
Namun terdapat juga pegawai yang tidak ditempatkan sesuai dengan pendidikannya. Berikut wawancara dengan informan MN, pegawai yang penempatannya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya mengemukakan bahwa :
”Kalau saya itu, lulusan Hukum jabatan saya sekarang sebagai kasubid pengadaan pegawai, awalnya saya bingung dengan tugas saya karna pendidikan saya belajar tentang hukum pidana. Tetapi lama kelamaan saya bisa menyelesaiakan tugas yang diberikan sesuai yang diharapkan”.
( Hasil Wawancara MN, tanggal 27 juli 2019).
51
Dari hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa pada Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang masih memiliki pegawai yang tidak ditempatkan sesuai dengan pendidikannya, pegawai di Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang yang tidak di tempatkan sesuai dengan pendidikannya hanya menyesuaikan dengan pekerjaan yang diberikan.
Penempatan pegawai dapat dilihat bahwa penempatan pegawai, seperti pada badan kepegawaian dan diklat daerah Kabupaten Enrekang pada staff pengembangan dan pembinaan di temukan pegawai dengan lulusan sarjana hukum yang menjabat sebagai staff pada bagian pengembangan dan pembinaan.
Jika dilihat lebih jauh jabatan ini seharusnya diisi oleh orang-orang yang memiliki pendidikan dan pengetahuan kerja yang berhubungan dengan SDM tentang kepegawaian tetapi malah diisis oleh pegawai yang sarjana hukum.hal ini dapat berpengaruh pada tugas dan wewenang yang di emban pegawai tersebut.
Informan diatas berpendapat bahwa pendidikan bukanlah menjadi prasyarat utama dalam penempatan pegawai, hal ini dikarnakan banyaknya pegawai yang tidak memiliki pendidikan yang berkaitan dengan suatu jabatan, akan tetapi justru menempati jabatan tersebut, hal ini dikarnakan adanya unsur politis, contohnya pada saat penerimaan pegawai, sebenarnya formasi yang seharusnya ada pada bidang teknik, akan tetapi setelah penempatan justru di tempatkan pada bidang humas inilah mengapa tidak selamnya pendidikan dijadikan patokan dalam penempatan pegawai.
52
perlahan pemerintah harus mengubah pola dari paradigma penempatan, karena daerah masih baru, maka yang paling penting sekarang ini yaitu menjaga suasana pemerintah agar tetap kondusif, sehingga pembangunan dapat dilaksanakan secara baik bersama-sama anatara pemerintah dan masyarakat, jika pemerintah tidak merubah pola penempatan pegawai yng terkadang tidak sesuai aturan, maka sangat sulit daerah akan maju dan juga berkembang.
Namun AL juga mengatakan bahwa :
“dalam menempatkan pegawai harus dipertimbangkan kesesuaaian antara pendidikan dengan jabatan seorang pegawai”.
( Hasil Wawancara AL, tanggal 30 juli 2019).
Menurut informan hal ini penting, karena banyak pegawai yang pada saat ditempatkan tidak sesuai dengan pendidikannya, banyak mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan dan juga pegawai tersebut terlihaat tidak menikmati pekerjaannya, berbeda dengan tingkat pendidikannya, pegawai tersebut terlihat sangat menikmati pekerjaannya, dengan demikian hasil kkinerja pegawai tersebut terbilang sangat baik, akan tetapi ada juga informan yang berpendapat bahwa tingkat pendidikannya dengan jabatannya, hal ini antara lain dikarnakan masih kurangnya sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Enrekang di tempatkan pada posisi mana saja, walaupun tidak sesuai dengan pendidikannya.
Penempatan seseorang semata-mata hanya berdasarkan kompetensi atau kesesuaian pendidikannya dengan jabatan sementara yang memiliki kompetensi tersebut merupakan aparatur-aparatur yang masih baru, maka aparatur yang sudah
53
lama bekerja akan merasa tidak dihargai, mereka akan berpenadapat untuk apa mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan yang [ada akhirnya tidak bermanfaat. Kondisi ini tentu akan kontraproduktif dengan maksud dan tujuan penempatan itu sendiri yang pada dasarnya untuk dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah secara keseluruhan. Kinerja pemerintah tidak hanya ditentukan oleh satu atau beberapa orang saja, melaikan ditentukan oleh gerak semua aparatur yang kita miliki. Untuk itulah saat ini pemerintah masih menekankan pada aspek konsolidasi aparatur terlebih dahulu, meskipun pada saat ini kita juga sudah memikirkan dan memberi tempat pada aparatur yang memiliki kompetensi atau keahlian sesuai dengan bidang tugasnya (Sastrohadiwiryo,2002).
Dalam pelaksanaan tuga dan fungi Badan Kepegawain dan Diklat Daerah Kabupaten Enrekang yang didukung, dengan sumber daya manusia dengan jumlah pegawai sebanyak 40 orang dengan rincian sebagai keadaan pegawai dapat diuraikan sebagai berikut :
Tabel 4.2 : Keadaan Pegawai Menurut Kualifikai Pendidikan NO Tingkat Pendidikan Formasi Jumlah
1 S2 ( Magister ) 6
2 S1 ( Sarjana ) 19
3 D3 ( Diploma ) 3
4 SLTA 6
Jumlah 34 orang
Sumber: Kantor Badan Kepegawaian dan Diklat Daerah Kab.Enrekang
54 2. Pengetahuan Kerja
Penempatan berdasarkan pengetahuan kerja merupakan penempatan dengan mempertimbangkan pemahaman terhadap prosedur kerja, maupun aturan-aturan yang terdapat pada lokasi kerja yang sesuai. Di badan kepegawaian dan diklat daerah Kabupaten Enrekang masih kurang memperhatikan pengetahuan kerja yang dimiliki oleh seorang pegawai. Sehingga penempatan yang dilakukan pada kantor Badan kepegawaian dan diklat daerah masih di temukan penempatan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya, sehingga penempatan yang dilakukan harus sesuai dengan pendidikannya tetapi masih ada yang kurang diperhatikan.
Hal ini dapat mengindikasi terjadinya kurang pemahaman terhadap prosedur kerja maupun aturan-aturan yang terdapat pada lokasinya bekerja sehingga dapat menyebabkan ketidak efektifan dalam memulai bekerja. Hal tersebut sesuai hasil wawancara dengan sekertaris pada Badan Kepegawaian Dan Diklat Daerah yang mengatakan bahwa :
“Dalam hal penempatan kerja itu tidak terlalu diperhatikanji pengetahuan kerja yang na miliki. Karna nanti itu akan bertahap dia akan paham dengan sendirinya kalau dia sudah paham dengan tugas-tuganya untuk bekerja.
Tetapi untuk pegawai yang dimutasi akan berpengaruh pada pengalaman kerjanya”.
(hasil wawancara af tanggal 27 juni 2019).
Pengetahuan kerja merupakan hal yang nantinya akan dipahami secara alamiah oleh pegawai yang telah diterima. Dengan menjalankan tugas yang diberikan, dianggap pengetahuan kerja akan bertambah dan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Sesuai yang dikemukakan oleh “AS” pada tanggal 27 juli 2019 juga mengemukakan hal yang sama yakni :