7. Pengawasan Orang Tua
15.59 WIB)
Iswarati, Prihyugiarto, I, 2018.
Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pra Nikah pada Remaja di Indonesia.
BKKBN
13. Kementerian Agama Kabupaten Kuningan. 2020. Angka Pernikahan Anak di Kabupaten Kuningan.
(Tidak di Publikasikan).
14. Kinnaird. 2013. Keluarga Makin Baik Hubungan Orang-Tua Remaja Makin Rendah Perilaku Seksual Pranikah.
http://www.kr.co.id./web/detail.php
?si d=186024&actmenu.html . (Diakses pada 25 Agustus 2021, Pukul: 15.59 WIB)
15. Monks, F. J. 2016. Psikologi Remaja
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
: Pengantar dalam Berbagai Bidangnya.
16. Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
17. Notoatmodjo. 2014. “Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku”.
Jakarta:Rineka Cipta.
18. Prihyugiarto, T. Y., dan Iswarati.
2018. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Terhadap Perilaku Seksual Pra Nikah Pada Remaja Di Indonesia.Jurnal Ilmiah Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Tahun II, No.
2. Puslitbang KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN.
19. Santrock, John W. 2013. “ AdoloncePerkembangan Remaja:. Jakarta: Erlangga.
20. Sarwono, S. W. 2017. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
21. Sarwono, Sarlito W. 2016.
“Psikologi Remaja”. Jakarta:
Rajawali.
22. Siyoto, Sandu dan Sodik, M. Ali.
2015. Dasar Metodologi
Penelitian.Yogyakarta : Literasi Media Publishing.
23. Soetjiningsih. 2016. “Tumbuh
Kembang Remaja
Dan Permasalahnnya”. Jakarta:
Sagung Seto Hal 20-23.
24. Suryoputro, A. 2019.” Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja di Jawa Barat: implikasinya terhadap kebijakan dan layanan
Kesehatan seksual dan
reproduksi”.journal.ui.ac.id. Volume 10 No 1, Juni 2019: 29-40.
25. Taufik. 2015. Perilaku seks
di Surakarta.
http://elfarid.multiply.com/journal/it e m/306.html . (Diakses pada 25 Agustus2021, Pukul: 15.55 WIB).
26. Umaroh, Dkk. 2015. Hubungan antara Faktor Internal dan factor Eksternal dengan Perilaku Seksual Pranikah Remaja di Indonesia.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas
27. World Health Organization. 2018.
Usia Remaja.
(Online).
https://pusdatin.kemkes.go.id/resour ce
s/download/pusdatin/infodatin/infod ati n-reproduksi-remaja.pdf.
(Diakses pada 1 September 2021, Pukul : 20.02WIB)
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA SISWA TINGKAT SEKOLAH DASAR: TINJAUAN PUSTAKA
1Alya Shafira Rahmadhani, 2Tiara Faudylawati, 3Yuri Nurdiantami Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Sarjana
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Jl. Raya Limo, Kec. Limo, Kota Depok 16515 E-mail korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Pendidikan Kesehatan reproduksi pada siswa tingkat sekolah dasar sangat dibutuhkan dikarenakan pada masa ini siswa mengalami masa peralihan yang dimana sudah mulai munculnya berbagai perubahan. Pendidikan yang diberikan mencakup pengenalan alat reproduksi, pengetahuan pubertas, serta hal lainnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Penelitian ini menggunakan informasi serta tinjauan sebagai dasar literatur dalam pendidikan kesehatan reproduksi pada siswa tingkat sekolah dasar. Literatur yang digunakan mencakup Garba Rujukan Digital (Garuda) dan Google scholar. Kami mengevaluasi penelitian yang dipublikasi pada tahun 2016-2021 yang menggunakan siswa tingkat sekolah dasar sebagai subjek serta menggunakan Bahasa Indonesia. Dalam pencarian, kami menemukan empat penelitian yang masuk ke dalam kriteria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak metode yang dapat dilakukan dalam menyampaikan pendidikan kesehatan reproduksi dan terdapat hasil tingkatan pengetahuan para siswa yang mengalami peningkatan pada saat sebelum dan sesudah diberikannya pendidikan kesehatan reproduksi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi memiliki dampak yang positif terhadap para siswa dengan dapat mengetahui dan memahami terkait kesehatan reproduksi. Dalam penggunaan metode yang digunakan juga harus diperhatikan agar penyampaian dapat dilakukan secara tepat.
Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Pendidikan, Sekolah Dasar
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
ABSTRACT
Reproductive health education at the elementary school level is needed because at this time students experience a period of diversion where there have begun to be various changes. The education provided includes the introduction of reproductive organs, knowledge of puberty, as well as other matters related to reproductive health. This study uses information as well as review as the basis of the literature in Reproductive Health Education in elementary school level students. The literature used includes Garba Rujukan Digital (Garuda) and Google scholar. We evaluated research published in 2016-2021 that used elementary school level students as subjects as well as using Bahasa Indonesia. In the search, we found four studies that fit into the criteria. The results showed that many methods can be done in delivering reproductive health education and there are results of the level of knowledge of students who experience improvements in the time before and after the granting of reproductive health education. This shows that reproductive health education has a positive impact on students by being able to know and understand related reproductive health. In the use of the methods used must also be considered so that the delivery can be done appropriately.
Keywords: Reproductive Health, Eduction, Elementary School
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
PENDAHULUAN
Pada masa Sekolah Dasar (SD) sering kali disebut sebagai periode intelektual, dimana pada umumnya usia anak di sekolah dasar berumur antara 6- 12 tahun. Hal ini menjadikan bahwa di Sekolah dasar merupakan perpindahan seseorang mulai beralih dari masa kanak-kanak ke remaja (1).
Remaja menurut WHO adalah penduduk dalam rentang usia antara 10- 19 tahun. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah rentang usia remaja antara 10-24 tahun dan belum menikah. Pada masa ini terdapat berbagai perubahan yang terjadi, mulai dari aspek fisik, sosial, emosional, kognitif, dan mental.
Banyaknya kasus remaja seperti seks bebas, aborsi, HIV/AIDS merupakan salah satu faktor karena minimnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, karena masa remaja biasanya disebut sebagai masa pubertas yang merupakan proses kematangan dan pertumbuhan yang terjadi ketika organ-organ reproduksi mulai berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai mucul (2).
Melalui cara berpikir yang konkret dapat menjadikan usia di sekolah dasar mudah untuk memberikan materi terkait beberapa bidang pendidikan, salah satunya adalah pendidikan reproduksi. Pengetahuan ini dapat dijadikan bekal bagi anak usia sekolah dasar untuk mengenali organ reproduksi milik mereka serta masa pubertas yang akan datang, karena dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa kurangnya pengetahuan reproduksi terkait organ reproduksi dan perubahannya, serta perubahan fisik dan sosialnya (3).
METODE
Penelitian ini menggunakan dua sumber data artikel. Sumber data yang digunakan ialah Garba Rujukan Digital (Garuda) dan Google Scholar. Artikel yang digunakan haruslah dipublikasi antara tahun 2006 sampai 2021 dan menggunakan Bahasa Indonesia. Kata kunci yang digunakan adalah
“Kesehatan Reproduksi”, “Sekolah dasar”, dan “Pendidikan”. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis Protocols) diagram.
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
Screening artikel dengan rentang waktu 2016-2021
n = 15.900
Artikel dikeluarkan karena setelah dibaca sesai dengan
kriteria ekslusi n= 2 Kata kunci muncul pada
judul dan sesuai dengan kriteria inklusi
Artikel yang tidak sesuai dengan judul
n= 15.890
Figur 1. PRISMA (Preferred Reporting Items for systematic review and Meta-Analysis Protocols) diagram
HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan kriteria yang telah diidentifikasi dan ditentukan, telah
ditemukan 4 arikel yang sesuai dengan kriteria. Hasil pemilihan artikel dijelaskan pada tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Penelitian No. Penulis Judul Artikel Desain
Penelitian
Ukuran Sampel
Hasil
1 Tjahjono, Soepri.
dkk (2019)
Penerapan Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Sekolah dasar
Quasi eksperimental
34 siswa Pada masa sekolah dasar merupakan masa yang tepat untuk diberikan materi Kesehatan reproduksi dikarenakan pada masa ini anak mencari kecakapan- kecakapan baru. Hasil pretest dan postest yang dilakukan peneliti terkait kesehatan reproduksi meningkat dari rata-rata persentase 19,22 menjadi 23,16.
pendidikan kesehatan reproduksi yang dapat diterapkan ialah dengan metode partisipatif di sekolah dasar.
2 Astri, Letisa.
dkk (2016)
Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi terhadap Tingkat
Eksperimental 54 siswa Penelitian ini melakukam berbagai metode yang dilakukan dalam pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dan menemukan perbedaan tingkat pengetahuan tertinggi. Metode tersebut adalah metode diskusi kelompok pada Isi artikel sesuai dengan
kriteria inklusi Pencarian menggunakan kata kunci melalui google
scholar dan Garuda n = 28.500
Inklu siKelay akan Penyar ingan
Artikel yang dikeluarkn dari kriteria tahun 2016-2021
n= 12.600 Identif ikasi
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021 Pengetahuan
Remaja Awal Sekolah dasar di Daerah Wisata Bandungan, Kabupaten Semarang Tahun 2016
materi organ reproduksi dan merode brainstorming pada materi pubertas.
3 Dewiani, Pendidikan Deskriptif 55 siswa Pemberian pendidikan reproduksi pada Kurni. Seks Dini dan SD Negeri 24 Lingkar Timur dan SD
dkk Kesehatan Negeri 83 Teluk Simpang ini dilakukan
(2019) Reproduksi selama satu bulan. Metode
Anak untuk penyampaiannya adalah dengan diskusi,
Siswa Sekolah presentasi, role play¸ dan penayangan
dasar video terkait seks dini. Hasilnya adalah
terjadi peningkatan pada pengetahuan pada kesehatan reproduksi dan hal-hal terkait seks dini dari rata-rata 90% lalu naik menjadi rata-rata 100%.
4 Soepri Pencegahan Quasi 34 siswa Pada pemberian pendidikan kesehatan Tjahjono Bullying di Eksperimental reproduksi pada rentang usia 11 tahun
Moedji Sekolah dasar menghasilkan penurunan rata-rata
Widodo, Melalui perilaku bullying pada responden.
Vio Nita Pendidikan (2019) Kesehatan
Reproduksi
Berdasarkan laporan penelitan yang sudah didapat, ditemukan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi memiliki hubungan yang positif terhadap dampaknya pada siswa sekolah dasar. Hal ini dibuktikan oleh Tjahjono Soepri dan kawan-kawan, bahwa masa sekolah dasar merupakan masa yang tepat untuk diberikan kesehatan reproduksi (4). Hal ini dikarenakaan siswa sekolah dasar memiliki kecakapan yang baik dalam mencari segala sesuatu yang baru. Dengan kecakapan tesebut, peneliti menggunakan metode partisipatif untuk mengajak para siswanya mengenal tentang kesehatan reproduksi.
Hasilnya adalah tingkat pengertahun siswa meningkat dari persentase 19,22 saat sebelum dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi menjadi 23,156 setelah pendidikan.
Penelitian juga dilakukan dengan metode pengajaran yang berbeda. Peneliti Astri, Letisa dan kawan-kawan menggunakan tiga metode dalam pelaksanaannya yaitu ceramah, diskusi kelompok. Dan brainstorming (5).
Berdasarkan metode pengajaran terdapat perbedaan yang cukup berbeda-beda.
Karena materi yang dibawakan berbeda yaitu pengenalan organ repdroduksi dan
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
pubertas maka terjadi perbedaan pula pada hasilnya. Keseluruhan hasilnya memiliki peningkatan terhadap pengetahuannya, namun yang paling tinggi adalah metode diskusi kelompok pada materi pengenalan organ reproduksi sebanyak 21,33 serta metode brainstorming pada materi pubertas sebanyak 16,33.
Selain pemberian materi pengenalan organ reproduksi dan pubertas, terdapat beberapa materi yang bisa diampaikan terkait kesehatan reproduksi yaitu seks dini dan bullying. Pada penelitian lain mencoba untuk memberikan materi terkait seks dini dengan metode penyampaian diskusi, presentasi, role play, dan penayangan video (6). Pemberian materi diberikan selama satu bulan. Hasilnya para pengetahuan siswa terkait seks dini dan seks dini dapat
bertambah dengan bukti hasil pretest yaitu dengan rata-rata 90 persen menjadi rata- rata posttest 100 persen. Selain pengetahuan seks dini, siswa dapat mengenali dan mencegah terjadinya pelcehan dan kekerasan yang dapat mengancam jiwa mereka.
Pada pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dengan materi bullying memiliki dampak yang baik pula bagi siswa sekolah dasar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Widodo dan Nita menjelaskan bahwa pemberian Pendidikan kesehatan reproduksi dapat mengurangi terjadinya perilaku bullying di tingkat sekolah dasar (7). Peneliti memberikan bukti dengan hasil pengukuran berdasarkan pretest yaitu dengan rata-rata 34,33 dan posttest 24,41.
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
KESIMPULAN
Pendidikan kesehatan reproduksi yang diberikan kepada para siswa di sekolah dasar memberikan dampak yang positif. Para siswa menjadi lebih memahami terkait kesehatan reproduksi seperti organ reproduksi, masa pubertas, pelecehan seksual, dan lain- lain. Metode yang digunakan pun harus diperhatikan untuk dapat menarik minat para siswanya sehingga materi dapat tersampaikan secara maksimal.
SARAN
Saran yang direkomendasikan oleh penulis adalah
1. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut terkait pendidikan kesehatan reproduksi pada sekolah dasar.
2. Penerapan kurikulum terkait Pendidikan Kesehatan reproduksi ke berbagai sekolah dasar.
DAFTAR PUSTAKA
1. Jatmika H. Pemanfaatan Media Visual dalam Menunjang Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. J Pendidik Jasm Indones. 2005;
2. BKKBN. Kajian Penduduk
Remaja. Kaji Profil Pendud Remaja (10-24 Tahun) Ada Apa Dengan Remaja? 2011;(6):1–
44.
3. Fadila W, Nugroho DNA. Masa Remaja dan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi : Analisis Survei Demografi Kesehatan Indonesua 2007 dan 2012 Survei Demografi Kesehtan Indonesia (SDKI). J Kesehat Reproduksi.
2018;9(1):15–25.
4. Tjahjono Moedji Widodo S, Nita V. Penerapan Pendidikan Kesehatan Reproduksi Di Sekolah Dasar. J Kesehat Karya
Husada [Internet].
2019;7(1):50–6. Tersedia pada:
http://jurnal.poltekkeskhjogja.a c.id/index.php/jkkh/article/view /256
5. Astri L, Winarni S, Dharmawan Y. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Reproduksi Terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Awal Sekolah Dasar Di Daerah Wisata Bandungan, Kabupaten Semarang Tahun 2016. J Kesehat Masy. 2016;4(4):213–
9.
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
6. Dewiani K, Purnama Y, Yusanti L. Pendidikan Seks Dini Dan Kesehatan Reproduksi Anak Untuk Siswa Sekolah Dasar.
Dharma Raflesia J Ilm Pengemb dan Penerapan IPTEKS. 2020;17(2):1–6.
7. Widodo STM, Vio N.
Pencegahan Bullying di Sekolah Dasar melalui Pendidikan Kesehatan Reproduksi. J Komun Pendidik.
2019;3(1):67–75.
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF GENDER
1Frieda Farchiyah, 2Rifqy Fikri Sukmawan, 3Tiar Septika Kurniawati Purba, 4Anisa Bela, 5Imtinan
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sahid Jakarta Jl. Prof. DR. Soepomo, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, 12870
E-mail korespondensi: [email protected] ABSTRAK
Kesehatan reproduksi perempuan merupakan hal yang penting bagi perempuan di Indonesia.
Masalah reproduksi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seksual dan tubuh manusia yang melibatkan masalah kesehatan biologis bagi perempuan. Seperti dalam data Catatan Tahunan (CATAHU) 2020, Komnas Perempuan menyebutkan terjadi peningkatan perempuan terinfeksi HIV hingga 203 kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Kesehatan reproduksi juga berkaitan dengan hal non biologis seperti pemenuhan hak reproduksi perempuan, ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan reproduksi, serta sikap dan perilaku di lingkungan sekitar yang cenderung mengutamakan laki-laki. Isu gender sangat erat kaitannya dengan kesehatan reproduksi perempuan. Perempuan yang mengalami penyakit reproduksi cenderung mendapat perlakuan kekerasan fisik dan seksual hingga diskriminasi yang dihadapi perempuan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun kesadaran baik dari sisi laki-laki maupun perempuan tentang kesehatan reproduksi perempuan dan pemenuhan hak reproduksi perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif melalui studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan di Indonesia masih belum sempurna dalam mengontrol kesehatan reproduksi dan hak-hak reproduksi. Perspektif gender berkaitan dengan kesehatan reproduksi perempuan. Perempuan sangat dirugikan karena sulitnya memperoleh dukungan dan rendahnya partisipasi mereka dalam kesehatan reproduksi perempuan.
Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi, Perempuan, Gender
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
ABSTRACT
Women's reproductive health is important for women in Indonesia. Reproductive problems cannot be separated from sexual life and the human body which involves biological health problems for women. As in the 2020 Annual Records (CATAHU), Komnas Perempuan stated that there was an increase in women infected with HIV up to 203 cases compared to the previous year. Reproductive health is also related to non-biological matters such as the fulfillment of women's reproductive rights, women's inability to make reproductive decisions, and attitudes and behavior in the surrounding environment that tend to prioritize men. Gender issues are closely related to women's reproductive health. Women who experience reproductive diseases tend to be treated with physical and sexual violence to discrimination faced by women. The purpose of this study is to build awareness from both men and women about women's reproductive health and the fulfillment of women's reproductive rights. This research was conducted with a descriptive approach through literature study. The results show that women in Indonesia are still not perfect in controlling reproductive health and reproductive rights. The gender perspective is related to women's reproductive health. Women are greatly disadvantaged because of the difficulty of obtaining support and their low participation in women's reproductive health.
Keyword: Reproductive Health, Women, Gender
75 ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
PENDAHULUAN
Kesehatan reproduksi perempuan menjadi salah satu hal penting bagi perempuan di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO, 2007) kesehatan reproduksi merupakan kondisi sehat secara fisik, mental, dan sosial yang utuh, dan bukanlah bebas dari penyakit atau cacat yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan operasi reproduksi.
Masalah reproduksi tidak dapat dipisahkan dari seksualitas dan tubuh manusia yang melibatkan masalah kesehatan biologis bagi perempuan.
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2020, jumlah kasus HIV di Indonesia hingga 2009-2019 cenderung menjadi 50.282. Selain itu, dalam Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020 (1), dilaporkan terjadi peningkatan perempuan terinfeksi HIV hingga 203 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
Kesehatan reproduksi juga terkait dengan isu non biologis seperti pemenuhan hak-hak reproduksi perempuan. Disebutkan dalam Deklarasi Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) bahwa ada 4 hak reproduksi bagi perempuan, yaitu kesehatan reproduksi sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, hak untuk mengambil keputusan terkait
reproduksi, dan hak atas kesetaraan serta keadilan antara laki-laki dan perempuan, hak atas keamanan seksual dan reproduksi.
Banyak faktor terkait pelaksanaan prokreasi perempuan yang masih tertinggal, salah satunya dari segi gender. Gender memiliki perbedaan dengan jenis kelamin (seks). jenis kelamin (seks) berhubungan dengan perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki sedangkan gender berhubungan dengan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki.
Isu gender berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi perempuan, seperti ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan reproduksi serta sikap dan perilaku di lingkungan yang cenderung mengutamakan laki-laki. Stigma yang muncul di masyarakat Indonesia terhadap penyakit reproduksi pada wanita.
Penyakit yang sama yang diderita pria dan wanita memiliki efek yang berbeda dalam masyarakat untuk perlakuan diskriminasi secara fisik dan seksual.
Memperhatikan pentingnya kesehatan reproduksi, khususnya bagi perempuan, karena kesehatan reproduksi menjamin kelangsungan hidupnya. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk membangun kesadaran dari sudut pandang laki-laki dan perempuan tentang kesehatan
ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
reproduksi perempuan dan realisasi hak- hak reproduksinya.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulan data atau karya ilmiah yang berkaitan dengan subjek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat perpustakaan, sedangkan menurut Sujionno, sastra adalah kajian teoritis, referensi dan kepustakaan ilmiah lainnya yang berkaitan dengan budaya, nilai-nilai.
dan norma yang berkembang dalam situasi sosial yang diteliti (2).
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan hasil yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara kuantitatif (3).
Data yang digunakan berasal dari buku teks, jurnal, artikel ilmiah, dan literature review yang memuat konsep- konsep yang dipelajari. Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari jurnal, buku, artikel, dan berbagai sumber lain yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi wanita.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan hubungan antar individu, sehingga tidak hanya sekedar memberikan penyuluhan dan pelayanan terhadap proses reproduksi dan penyakit menular seksual (4).
Kesehatan reproduksi perempuan memegang peranan penting dalam menopang kehidupan manusia dari generasi ke generasi, sehingga menjamin tercapainya kesehatan reproduksi merupakan suatu keharusan bagi setiap negara (5).
Masalah kesehatan reproduksi perempuan tidak dapat dipisahkan dari dua hal, masalah kesehatan reproduksi medis dan masalah gender dan gender, seperti kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), kekerasan terhadap perempuan dan penyakit menular seksual (Apriani, 2012).
Penyakit kelamin yang disebabkan oleh aktivitas seksual dapat ditularkan melalui aktivitas seksual, salah satunya adalah HIV/AIDS.
Kasus HIV/AIDS pada perempuan menurut dalam data Catatan Tahunan (CATAHU) 2020 (1), Komnas Perempuan menyebutkan terjadi peningkatan perempuan terinfeksi HIV hingga 203 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, penyakit reproduksi yang dialami perempuan juga mengakibatkan angka kematian ibu (AKI) berkaitan erat
77 ISBN 978-623-92728-6-9
Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPNVJ 2021
dengan kesehatan reproduksi seperti kehamilan di bawah umur, jarak kehamilan yang dekat, aborsi, dan komplikasi pascapersalinan.
Gambar 1 Angka Kematian Ibu Sumber: Kementrian Kesehatan, 2016
Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Reproduksi
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2016:7), faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan reproduksi dikategorikan menjadi empat, yaitu:
1. Faktor Demografi - Ekonomi Faktor ekonomi yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan reproduksi adalah tingkat kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya pengetahuan tentang perkembangan seksual dan proses reproduksi.
Sedangkan faktor demografi yang berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi adalah akses pelayanan kesehatan, proporsi remaja putus sekolah, dan tempat tinggal yang terpencil.
2. Faktor budaya dan lingkungan Faktor budaya dan lingkungan yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan reproduksi seperti kepercayaan bahwa banyak anak yang beruntung, status perempuan, ketidaksetaraan gender, lingkungan tempat tinggal dan bagaimana mereka bersosialisasi, persepsi masyarakat tentang fungsi reproduksi individu, hak dan tanggung jawab.
3. Faktor psikologis
Faktor psikologis seperti kekerasan di rumah/lingkungan terdekat, depresi, dan perasaan tidak berharga perempuan terhadap laki-laki yang membeli kebebasan materi.
4. Faktor biologis
Faktor biologis meliputi pada cacat organ reproduksi dan cacat sistem reproduksi setelah penyakit menular seksual.
Hak Reproduksi
Menurut Peraturan Bupati Bondowoso (2018:3) Hak reproduksi adalah komponen dari hak asasi manusia yang melekat pada jiwa manusia sejak lahir dan dilindungi (6). Sehingga, membatasi hak reproduksi berarti membatasi hak asasi manusia.
Perwujudan mengenai hak reproduksi perempuan berkaitan dengan