3.1. Pendekatan atau Paradigma Penelitian 3.1.1. Penelitian Kualitatif
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 1996: 2003), metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data perspektif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Pendekatannya diarahkan pada latar dan individu secara holistic. Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller (1989: 3) mendefinisikan metode kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya (Moleong, 2002: 3).
3.1.2. Pendekatan Semiotika Roland Barthes
Model yang digunakan dalam penelitian semiotika ini adalah model dari Roland Barthes, dalam model tersebut terdapat unsur yang terdiri dari:
signifier atau penanda, signified atau penanda, denotative sign atau tanda
denotatif dan connotatif signifier atau penanda konotatif.
Menurut Barthes yang dikutip oleh Kurniawan (2001: 53) dalam gambar atau film konotasi dapat dibedakan dari denotasi. Denotasi adalah apa yang terdapat di film sedangkan konotasi adalah bagaimana foto itu diambil. “Semiotika adalah suatu ilmu atau metoda analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia.
Pemetan perlu dilakukan pada tahap-tahap konotasi. Tahapan konotasi pun dibagi menjadi 2. Tahap pertama memiliki 3 bagian, yaitu:
efek tiruan, sikap (pose), dan objek. Sedangkan 3 tahap terakhir adalah:
fotogenia, estetisme, dan sintaksis.
Konstruksi penandaan pertama adalah bahasa sedang konstruksi penandaan kedua merupakan mitos. Konstruksi penandaan tingkat kedua ini dipahami oleh Barthes sebagai metabahasa (metalanguage). Perspektif Barthes tentang mitos ini menjadi salah satu ciri khas semiologinya yang membuka ranah baru semiologi yakni penggalian lebih jauh penandaan untuk mencapai mitos yang bekerja dalam realitas keseharian masyarakat (Kurniawan, 2001:2-23).
Teori ini dikemukakan oleh Roland Barthes (1915-1980), dalam teorinya tersebut Barthes mengembangkan semiotika menjadi 2 tingkatan pertandaan, yaitu tingkat denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini, 2006).
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat
yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.
Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.
Gambar 3.1
Peta Signifikansi Dua Tahap Roland Barthes Sumber: (Sobur, 2001: 12)
Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified,
tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus.
Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah mitos.
3.2. Subjek-Objek, Wilayah Penelitian, dan Sumber Data 3.2.1. Subjek-Objek
3.2.1.1. Subjek Penelitian
Sinopsis Film “Eat Pray Love”
Eat Pray Love adalah film drama Amerika Serikat tahun 2010
berdasarkan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert. Syuting film ini dimulai pada Agustus 2009. Lokasi syuting Eat Pray Love meliputi New York, Napoli (Italia), Pataudi (India), dan Bali (Indonesia). Film yang disutradai oleh Ryan Murphy dan diproduseri oleh Brad Pitt ini menggunakan studio serta distributor Columbia Pictures. Selain itu film ini juga menggunakan studio Plan B Entertainment yang merupakan studio
milik Brad Pitt. Film yang dirilis tanggal 13 Agustus 2010 ini mengeluarkan anggaran sebesar $ 60 juta, namun film ini berhasil meraup keuntungan sebesar $ 195,654,010.
Elizabeth Gilbert (Julia Roberts) atau yang akrab dipanggil Liz, merindukan kehidupan yang seimbang. Karir sebagai penulis, memiliki rumah indah serta suami yang setia dan baik hati rupanya tak membuat hidupnya terasa 'cukup'. Ia merindukan sesuatu, yang bisa membuatnya kembali bergairah. 'Sesuatu' yang ia sendiri pun tak pernah tahu. Selain itu salah satu alasan mengapa pernikahannya gagal adalah gagalnya Liz memiliki keturunan. Setelah bercerai dari suaminya, Stephen (Billy Crudup), Liz berpacaran dengan seorang aktor panggung bernama David (James Franco). Sayang, percintaannya lagi-lagi kandas di tengah jalan.
Liz merasa begitu frustasi hingga ia ingin memulai merancang sebuah perjalanan panjang ke luar negeri. Tujuan pertama Liz adalah Italia. Aksen Itali yang seksi ditambah makanan yang lezat membuatnya sangat terpesona karena menemukan kenikmatan kuliner di Italia.
Dalam film 'Eat Pray Love', Italia diartikan sebagai Makanan (Eat).
Berbagai macam makanan yang digambarkan dalam film itu memang terlihat menggiurkan, mulai dari pizza hingga pasta tersaji di sudut-sudut romantis Italia.Berikutnya adalah pemandangan kumuh di seputar India.
Di tempat itu Liz ingin menemukan kekuatan doa (Pray) dari seorang Guru. Di India ia belajar dari seorang pria, Richard from Texas (Richard Jenkins) agar dapat melupakan masa lalunya. Selanjutnya keindahan Pulau
Dewata menjadi tujuan Liz yang terakhir. Di Bali (Indonesia), ia ingin bertemu lagi dengan Ketut Liyer (Hadi Subiyanto), seorang dukun Bali yang sudah tua dan ompong. Sebelumnya, Ketut Liyer pernah meramal tentang kehidupannya.
Di Indonesia pula, ia jatuh cinta pada duda Brazil bernama Felipe (Javier Bardem). Indonesia diartikan sebagai 'Love' dalam film besutan Ryan Murphy itu. Sutradara Ryan Murphy rupanya sengaja menyorot pemandangan indah Italia dan Indonesia. Dia ingin memanjakan mata para penonton dengan sudut-sudut indah yang dilalui sepanjang perjalanan Liz.
Selain Hadi Subiyanto (Ketut Liyer), ada pula aktris legendaris Indonesia yang berperan dalam film ini. Christine Hakim dipercaya sebagai Wayan, sahabat Liz di Bali yang berprofesi sebagai tabib memiliki nasib yang sama dengan Liz. Wayan diceritakan mengalami perceraian setelah suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga, dan anak perempuannya Tutti (Anakia Lapae) yang saat itu berumur 4 tahun meminta ibunya untuk bercerai.
Sehingga tidak heran jika setelah menonton film ini yang terkenang adalah lezatnya makanan Italia, potret pemandangan Bali yang indah, dan pelajaran hidup yang bisa diambil dari perjalanan hidup Liz. Sosok Liz yang modern mungkin terlihat sedikit egois dalam film ini. Namun Julia Robert berhasil memerankan karakter Elizabeth Gilbert dengan penuh penghayatan, sehingga drama film ini tidak terkesan membosankan. Film yang diangkat dari kisah hidup Elizabeth Gilbert ini adalah film yang
ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia pada tahun 2010, sebab lokasi pengambilan gambar untuk film Eat Pray Love sendiri banyak dilakukan di Bali, Indonesia.
Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti, maka ditemukan sebanyak 21 scenes yang berkaitan dengan warisan budaya Indonesia di dalam film Eat Pray Love. Di dalam film tersebut terdapat potongan scene mengenai rumah adat sebanyak 8 buah dan potongan scene mengenai sesajen sebanyak 13 buah. Sedangkan potongan scene mengenai falsafah budaya Bali terdapat pada beberapa scene yang sama dengan sesajen. Karena mengenai falsafah hidup Budaya Bali, dapat terlihat melalui beberapa dialog antara pemain film pada film Eat Pray Love.
Untuk saat ini peneliti membatasi hanya menggunakan 7 scenes yang telah ditetapkan, namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi penambahan atau bahkan pengurangan scene yang nantinya peneliti teliti. Berikut adalah scene yang peneliti tetapkan untuk dapat diteliti:
Tabel 3.1
Tabel Potongan Scene Film “Eat Pray Love” yang memiliki unsur
“Representasi Warisan Budaya Indonesia”
No Jam/Menit/Detik Potongan Scene Film Keterangan
1. 00:02:08 Rumah Adat dan
Sesajen
2. 01:29:27 Rumah Adat tampak
depan
3. 01:31:16 Sesajen
4. 01:33:40 Sesajen
5. 01:33:41 Falsafah Budaya Bali
6. 01:46:01 Sesajen dan
Falsafah Budaya Bali
7. 02:06:13 Sesajen
3.2.1.2. Objek Penelitian Hindu
Ketika membahas elemen dalam suatu budaya dan institusi sosial yang ada di dalamnya, agama merupakan salah satu dari struktur tersebut. Kimball (2002: 196), memberikan poin penting berikut ini
Bagi kebanyakan orang di dunia ini, tradisi agama-seperti keluarga, suku atau negara-menjadi identitas mereka di dunia. Tradisi agama menyediakan struktur, disiplin, dan partisipasi sosial dalam suatu komunitas.
Osborne (1996: vii) menyatakan, “Kata agama (religion) berasal dari bahasa Latin religare yang berarti “untuk mengikat.” Hal ini dengan jelas menandakan bahwa agama mengikat manusia dengan hal-hal sakral.
Hal yang menarik dari agama adalah bahwa hal tersebut telah mengikat orang bersama-sama dalam dan memelihara cara pandang budaya mereka selama ribuan tahun.
Confusius membahas mengenai ritual agama dengan melihat salah satu otoritas yang telah disebutkan. Confusius menuliskan nilai ritual sebagai berikut, “Tanpa ritual, kesopanan itu berarti membosankan, kebijaksanaan itu berarti menakutkan; tanpa ritual, keberanian itu berarti suka bertengkar; tanpa ritual, keterusterangan itu menyakitkan.” Ritual, baik itu kecil maupun penting, dipraktikkan dalam semua agama. Dalam pengertian yang tepat, “Ritual terdiri atas tindakan simbolis yang mewakili arti religious.” Peranan ritual bagi agama dan budaya dengan jelas dinyatakan oleh Malefijt (1968: 193) yaitu,
Ritual mengingatkan masa lalu, memelihara, dan menyampaikan dasar suatu masyarakat. Peserta dalam ritual tersebut diidentifikasi dengan masa lalu yang suci, sehingga mengabadikan tradisi ketika mereka menetapkan kembali prinsip dimana suatu kelompok hidup dan berperan.
Hindu, dengan lebih dari 1 miliar pengikut, merupakan agama tertua di dunia. Ada mitos bahwa Hindu ditemukan hanya di India, karena sekitar 80 persen dari populasi India adalah penganut agama Hindu. Pada kenyataannya, ada sekitar 1,5 juta umat Hindu di Amerika Serikat. Di luar penganut dan sejarah panjangnya, umat Hindu tetap
menjadi agama yang orientasinya paling sulit dimengerti oleh bangsa Barat. Seperti yang dituliskan oleh Scarborough (1998: 131), “Menurut dunia Barat, Hindu bukanlah iman kepercayaan atau institusi agama, namun hanya kumpulan dari sejumlah aturan dan dewa-dewa.” Alasan perbedaan pandangan Barat dan agama Hindu dinyatakan oleh Narayanan (1998: 126), “Agama Hindu sulit untuk dijelaskan. Agama ini tidak memiliki pendiri, pernyataan iman, guru atau Nabi yang diakui oleh semua umat Hindu, dan tidak ada kitab suci yang secara universal diakui penting.”
Seperti juga agama yang lain, agama Hindu juga mempengaruhi kehidupan seseorang. Hal ini karena agama Hindu memercayai banyak budaya dan dewa. Perpaduan antara pandangan agama dan peradaban ini menghasilkan pandangan yang sama seperti sistem sosial.
3.2.2. Wilayah Penelitian
Wilayah Penelitian yang penulis bahas berada di daerah Bandung yaitu tempat para pengamat film, tempat pemuka agama Hindu (Pura), tempat pengamat Budaya Bali serta tempat pemukiman warga Bali yang tinggal di Bandung.
3.2.3. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah analisis berdasarkan film, hasil wawancara dengan narasumber serta berbagai dokumen terkait.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data adalah langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesa yang sudah dirumuskan.
Teknik penulisan data menggunakan dua sumber yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer yang peneliti dapat berasal dari metode penelitian dan analisis terhadap tanda-tanda yang terdapat di dalam film Eat Pray Love. Sedangkan sumber data sekunder berasal dari literatur, jurnal ilmiah dan sumber-sumber terkait dengan penelitian.
Untuk lebih menjelaskan tentang proses teknik pengumpuan data yang peneliti gunakan, maka peneliti membaginya menjadi :
• Sumber Data Primer
- Melakukan Observasi.
- Menonton secara mengulang.
- Memasukan Opini dalam penelitian.
• Sumber Data Sekunder
- Hasil observasi dan catatan kaki (footnote).
- Kajian literatur.
3.4. Teknik Analisis Data
Sebagaimana metode penelitian lainnya, metode penelitian kualitatif pula memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan metode yang terdekatnya yaitu kuantitatif. Metode penelitian kualitatif menekankan pada metode penelitian
observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik meskipun tidak selalu harus menabukan penggunaan angka. Namun karena penelitian yang peneliti lakukan disini adalah penelitian meggunakan metode semiotika, maka peneliti lebih berfokus kepada penggalian pesan dalam film dengan cara mengamati terus menerus, mencari tanda yang muncul dalam setiap adegan (scene by scene), dan melakukan pencatatan dari data yang diambil.
Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan- ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden.
Mengenai ciri-ciri penelitian kualitatif Nasution mengemukakan sebagai berikut:
1. Sumber data ialah situasi yang wajar atau “natural setting”. Peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar, sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi dengan sengaja.
2. Peneliti sebagai instrumen penelitian. Peneliti adalah “key instrument”
atau alat penelitian utama. Dialah yang mengadakan pengamatan atau wawancara tak berstruktur, sering hanya menggunakan buku catatan.
3. Sangat Deskriptif. Dalam penelitian ini diusahakan mengumpulkan data deskriptif yang banyak dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak menggunakan angka-angka dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif.
4. Mementingkan proses. Jadi juga memperhatikan bagaimana perkembangan terjadinya sesuatu.
5. Mencari makna di belakang kelakuan atau perbuatan, sehingga dapat memahami masalah atau situasi.
6. Mengutamakan data langsung atau “first hand”. Untuk itu peneliti sendiri terjun ke lapangan untuk mengadakan observasi atau wawancara.
7. Triangulasi. Data atau informasi dari satu pihak harus di check kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain. Cara ini bertujuannya adalah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak. Juga mencegah bahaya subjektivitas
8. Menonjolkan rincian kontekstual. Peneliti mengumpulkan dan mencatat data yang sangat terinnci mengenai hal-hal yang dianggap bertalian dengan masalah yang diteliti.
9. Subjek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti.
10. Mengutamakan perspektif emic. Artinya mementingkan pandangan responden, yakni bagaimana ia memandang dan menafsirkan dunia dari segi pendiriannya.
11. Verifikasi, antara lain melalui kasus yang bertentangan atau negatif.
12. Sampling yang purposif.
13. Menggunakan “audit trail”. Peneliti selalu mencatat metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data, “audit trail”
digunakan untuk mengecek apakah laporan penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan.
14. Partisipasi tanpa menganggu. Untuk memperoleh situasi yang
“natural” atau wajar, peneliti tidak menonjolkan diri dalam melakukan observasi.
15. Mengadakan analisis sejak awal penelitian, dan selanjutnya sepanjang melakukan penelitian itu. Analisis dengan sendirinya timbul bila penelti menafsirkan data yang diperolehnya.
16. Tujuan penelitian kualitatif bukanlah untuk menguji hipotesis yang didasarkan atas teori tertentu, melainkan untuk menemukan pola-pola yang mungkin dapat dikembangkan menjadi teori.
17. Desain penelitian muncul dalam penelitian. Penelitian kualitatif pada awalnya belum dapat direncanakan disain yang terinci lengkap dan pasti, yang menjadi pegangan selanjutnya selama penelitian (Nasution, 1992 : 9).
Dari 17 ciri diatas, peneliti hanya menggunakan beberapa poin dari butir- butir yang dijabarkan beserta alasan mengapa peneliti menggunakan poin tersebut, seperti dibawah ini :
1. Sumber data ialah situasi yang wajar atau “natural setting”. Peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi yang wajar, sebagaimana adanya, tanpa dipengaruhi dengan sengaja. Alasan mengapa peneliti mengambil alasan tersebut karena sumber data yang
peneliti ambil disini adalah film, dimana pada film ini hal-hal yang mempengaruhi/noise lebih sedikit dan dapat di reduksi. Sehingga proses penelitia dan pengumpulan data tidak mendapat pengaruh dari pihak manapun.
2. Sangat Deskriptif. Dalam penelitian ini diusahakan mengumpulkan data deskriptif yang banyak dituangkan dalam bentuk laporan dan uraian. Penelitian ini tidak menggunakan angka-angka dan statistik, walaupun tidak menolak data kuantitatif. Peneliti melakukan pencatatan dan mengamati secara berulang-ulang guna mendapatkan validitas dan data yang akurat. Dari uraian yang peneliti lakukan, lalu di olah dan dijabarkan kembali dalam laporan yang peneliti kerjakan.
3. Mementingkan proses. Jadi juga memperhatikan bagaimana perkembangan terjadinya sesuatu. Karena objek yang peneliti amati disini adalah film maka peneliti lebih berfokus kepada adegan per adegan yang terdapat dalam film Eat Pray Love, dan proses observasi dilakukan dengan cara mengulang secara terus-menerus mengamati objek yang diteliti guna mendapatkan data terperinci dari objek yang teliti.
4. Mencari makna di belakang kelakuan atau perbuatan, sehingga dapat memahami masalah atau situasi. Karena tujuan dari penelitian semiotika adalah mencari makna dari sebuah tanda, maka disini peneliti benar-benar berfokus kepada detil yang terdapat dalam adegan guna mendapatkan pemahaman, untuk dijabarkan dalam penelitian.
5. Triangulasi. Data atau informasi dari satu pihak harus di check kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain. Cara ini bertujuannya adalah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak. Juga mencegah bahaya subjektivitas. Proses triangulasi peneliti lakukan untuk mendapatkan arahan dan meyakinkan bahwa data yang peneliti peroleh telah dilakukan dan di proses secara benar. Sehingga tidak akan terjadi kesalahan paham dan konsepsi terhadap hasil penelitian yang peneliti lakukan nantinya. Peneliti juga melakukan kajian literatur dengan cara mencari sumber-sumber yang berkaitan dengan permasalahan yang peneliti lakukan.
6. Menonjolkan rincian kontekstual. Peneliti mengumpulkan dan mencatat data yang sangat terinnci mengenai hal-hal yang dianggap bertalian dengan masalah yang diteliti. Dalam hal ini, peneliti mencatat hal-hal terpenting selama proses penelitian berlangsung. Hal tersebut dilakukan karena penelitian yang peneliti lakukan adalah penelitian dengan konteks kualitatif dengan menggunakan metode semiotika.
Artinya dengan metode ini peneliti harus benar-benar memperhatikan setiap tanda, mencatat, dan melakukan croschek terhadap hal yang peneliti amati.
7. Menggunakan “audit trail”. Peneliti selalu mencatat metode apa yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data, “audit trail”
digunakan untuk mengecek apakah laporan penelitian sesuai dengan
data yang dikumpulkan. Hal ini berkaitan dengan proses triagulasi data yang peneliti lakukan. Proses “audit trail” dilakukan di awal pada saat penelitian masih berbentuk proposal. Setelah itu proposal yang telah disetujui peneliti periksa kembali agar tidak menghasilkan kesalahan baik dalam penyusunan maupun penjelasan fakta dan data yang peneliti peroleh.
8. Tujuan penelitian kualitatif bukanlah untuk menguji hipotesis yang didasarkan atas teori tertentu, melainkan untuk menemukan pola-pola yang mungkin dapat dikembangkan menjadi teori. Hal ini juga serupa dengan yang peneliti lakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjabarkan makna yang terdapat dalam suatu film, serta menjabarkan pola-poa yang terdapat dalam objek untuk di subjektivikasi, dikaitkan dengan teori dan metode yang peneliti gunakan, lalu di analisis serta dijabarkan.
Setelah itu kemudian data-data dianalisis sehingga terbentuk sebuah kesimpulan, dan selanjutnya peneliti menghubungkan hasil data-data pendukung tersebut dengan hasil temuan yang peneliti peroleh.
3.5. Uji Keabsahan Data
Untuk mendapatkan tingkat kepercayaan atau kebenaran hasil penelitian, penulis menggunakan beberapa point dari uji realibilitas yang mengacu pada (Nasution, 2003: 114-118):
1. Memperpanjang masa observasi
Memperpanjang masa observasi adalah menambah atau meningkatkan waktu pengamatan atau observasi terhadap subjek penelitian yaitu sebuah Film yang berjudul “Eat Pray Love” dimana data yang dicari adalah kemunculan tanda yang berkaitan dengan representasi warisan budaya Indonesia, agar lebih tepat dan lebih jelas letak atau kemunculan tanda tersebut untuk membuktikan bahwa data yang diperoleh benar-benar dapat dipercaya.
2. Menggunakan Referensi
Menggunakan Bahan Referensi yang dimaksud dengan bahan referensi di sini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Referensi dalam penelitian ini adalah bukti wawancara dan pemberitaan yang tersebar melalui media massa baik media cetak maupun media elektronik yang berkaitan dengan data yang diambil oleh peneliti.
3. Triangulasi Data
Tujuannya adalah mengecek kebenaran data tertentu dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain, pada berbagai fase penelitian lapangan, pada waktu yang berlainan, dan dengan menggunakan metode yang berlainan. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan membandingkan antarahasil dua penelitian atau lebih,
serta dengan teknik yang berbeda, misalnya observasi, wawancara dan dokumentasi. (Nasution dalam Elvinaro, 2011: 197)