3.1 Metode Penelitian
3.1.1 Pendekatan/Paradigma Penelitian
Menurut Clandinin dan Connelly dalam Creswell, “pendekatan kualitatif adalah membuat deskripsi komprehensif tenang apa yang harus dilakukan oleh seorang naratif”. Di sini, peneliti kualitatif berusaha membangun makna tentang suatu fenomena berdasarkan pandangan-pandangan dari partisipan, yakni meneliti tentang suatu komunitas dan mengembangkan pola-pola perilaku yang berbeda dalam suatu waktu dengan mengobservasi perilaku partisipan dengan cara terlibat langsung dalam aktivitas-aktivitas mereka; untuk menilai perilaku dengan menggumpulkan data dari informasi yang dianalisis, menggunakan prosedur- prosedur statistik dan pengujian hipotesis; menyelidiki suatu isu yang berhubungan dengan menganalisasi individu-individu tertentu, menggunakan pendekatan naratif.
Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2004:4), mendefinisikan
“metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur.
Disebut naturalistik karena situasi lapangan penelitian bersifat natural atau wajar, sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi, diatur dengan eksperimen atau test (Nasution, 1996:18).
David Williams (dalam Moleong, 2004: 5), menulis bahwa “penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar ilmiah, dengan menggunakan metode ilmiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara ilmiah”. Definisi ini memberi gambaran bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar ilmiah, metode ilmiah, dan dilakukan oleh orang yang mempunyai perhatian ilmiah.
Menurut Mulyana (2008: 150), “yang membedakan metode penelitian kualitatif dengan kuantitatif adalah tidak mengandalkan bukti berdasarkan logika matematis, prinsip angka, atau metode statistik”. Pembicaraan yang sebenarnya, isyarat, dan tindakan sosial lainnya adalah bahan mentah untuk analisis kualitatif.
Penelitian ini bertujuan mempertahankan bentuk dan isi perilaku manusia dan menganalisis kualitas-kualitasnya, bukan mengubahnya menjadi entitas-entitas kuantitatif.
Dalam penelitian kuantitatif, pengamatan berperan-serta, wawancara mendalam dan analisis dokumen (metode historis) juga dikenal tetapi dianggap tidak terlalu penting. Sementara dalam penelitian kualitatif ketiga metode tersebut bersifat fundamental dan sering digunakan bersama-sama.
3.1.2 Karakteristik Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif mempunyai kekhasan yang membedakannya dengan penelitian lainnya. Berikut adalah karakteristik penelitian kualitatif yang dikutip dari Moleong (2004: 8):
a. Latar Alamiah: penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan- kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Hal tersebut didasarkan atas beberapa asumsi; tindakan pengamatan mempengaruhi apa yang dilihat;
konteks sangat menentukan dalam menetapkan apakah suatu penemuan mempunyai arti bagi konteks lainnya.
b. Manusia Sebagai Instumen (alat): dalam penelitian kualitatif peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama. Hal ini dilakukan agar ada penyesuaian terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan. Hanya manusia yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya, dan hanya manusia yang mampu memahami kaitan menyataan-kenyataan di lapangan.
c. Metode Kualitatif: penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara atau penelaah dokumen.
Metode ini digunakan karena menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak; metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antar peneliti dan responden; metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
d. Analisis Data Secara Induktif: analisis data ini digunakan karena proses induktif lebih dapat menemukan kenyataan-kenyataan jamak seperti yang terdapat dalam data; analisis induktif lebih dapat membuat hubungan peneliti-responden menjadi eksplisit, dapat dikenal dan akuntabel; analisis ini dapat lebih menguraikan latar secara penuh dan dapat membuat keputusan tentang dapat-tidaknya pengalihan pada suatu latar lainnya; analisis induktif dapat lebih menemukan pengaruh bersama yang mempertajam hubungan- hubungan; analisis ini dapat memperhitungkan nilai-nilai secara eksplisit sebagai bagian dari struktur analitik.
e. Deskriptif: data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.
f. Lebih Mementingkan Proses daripada Hasil: penelitian kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil, hal ini disebabkan oleh
hubungan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses.
g. Adanya batas yang ditentukan oleh fokus: penelitian kualitatif menghendaki ditetapkan adanya batas dalam penelitian atas dasar fokus yang timbul sebagai masalah dalam penelitian. Hal ini dilakukan untuk mempertajam fokus dan peneliti lebih mengetahui lokasi penelitian.
h. Adanya Kriteria khusus untuk Keabsahan Data: penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, reliabilitas dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
i. Desain yang Bersifat Sementara: penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus-menerus disesuaikan dengan kenyataan di lapangan. Jadi tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi.
j. Hasil Penelitian Dirundingkan dan Disepakati Bersama: penelitian kualitatif lebih menghendaki agar pengertian dan hasil interpretasi yang diperoleh disepakati dan dirundingkan oleh manusia yang dijadikan sumber data. Karena susunan kenyataan merekalah yang diteliti, hasil penelitian bergantung pada hakikat dan kualitas hubungan antara pencari dengan yang dicari, serta konfirmasi hipotesis kerja akan lebih baik verifikasinya apabila diketahui dan dikonfirmasikan oleh orang-orang yang ada kaitannya dengan yang diteliti.
Penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus turun ke lapangan dan berada di sana dalam waktu yang cukup lama. Alhamdulillah dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti terjun langsung karena peneliti adalah bagian dari organisasi dan mengenyam empat tahun pendidikan di Pondok Gontor.
3.1.3 Penelitian Studi Kasus
Studi kasus adalah uraian serta penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program atau situasi sosial. Juga merupakan pengujian secara rinci terhadap
satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. pada dasarnya peneliti yang menggunakan metoda penelitian studi kasus bertujuan untuk memahami obyek yang ditelitinya. Meskipun demikian, berbeda dengan penelitian yang lain, “penelitian studi kasus bertujuan secara khusus menjelaskan dan memahami obyek yang ditelitinya secara khusus sebagai suatu kasus yang patut dteliti” (Creswell, 2013 : 20).
Ini juga merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktifitas, proses atau sekelompok individu. “Kasus-kasus dibatasi oleh aktivitas dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan” (Creswell, 2013 : 20).
Setiap analisis mengandung data berdasarkan wawancara, data berdasarkan pengamatan data dokumenter, kesan dan pernyataan orang lain mengenai kasus tersebut. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi; sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar dan dokumen; sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.
3.2 Subjek-Objek, Wilayah Penelitian dan Sumber Data 3.2.1 Subjek dan Objek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah para pimpinan pondok yang menjadi informan utama, para pengajar yang telah mewakafkan diri serta keluarga dari pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Para santri yang mengetahui tentang budaya organisasi perwakafan diri di pondok untuk menambah informasi.
Pondok Modern Darussalam Gontor adalah tempat terbentuk budaya organisasi perwakafan diri.
3.2.2 Wilayah Penelitian
Penelitian ini meneliti budaya organisasi yang muncul di Pondok Gontor, yaitu budaya organisasi perwakafan diri. Pondok pesantren Gontor adalah termasuk pondok besar yang dimiliki Indonesia yang terletak lebih kurang tiga km sebelah timur Tegalsari dan sebelah tenggara dari kota Ponorogo. Di mana budaya organisasi tersebut telah ada sejak pondok berdiri dan melekat sampai sekarang yang menjadikan instansi pendidikan ini berbeda dengan organisasi lainnya.
Dengan menggunakan metode studi kasus, penelti ingin mengetahui komunikasi yang terjalin sehingga terbentuk budaya organisasi perwakafan diri di pondok.
3.3 Sumber Data
Data-data yang didapat untuk penelitian ini terdapat data primer juga data sekunder. Data primer didapat dari hasil observasi dan wawancara para pimpinan pondok, yang menjadi key informan, yakni Ust. Amal Fathullh Zarkasyi, Ust.
Syahruddin, Ust. Mustar dan sekretaris pimpinan, Ust. Arya Brahmana serta para
pewakaf diri lainnya, Usth. Jaziela Huwaida dan Usth. Farika Saputri di Pondok Gontor . Lalu dokumen-dokumen para pewakaf yang telah diajukan untuk memenuhi standar prosedur perwakafan diri.
Data-data sekunder bisa dilihat dari buku atau pustaka yang merujuk pada budaya organisasi perwakafan diri di Pondok Gontor. Selain itu melalui wawancara dengan sebagian pengajar dan santri.
3.4 Uji Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, validitas kualitatif mengindikasi bahwa pendekatan yang digunakan dengan mendokumentasikan prosedur-prosedur sebanyak mungkin dan mendokumentasikan sebanyak mungkin langkah-langkah dalam prosedur tersebut. maka peneliti menggunakan teknik triangulasi untuk menguji keabsahan data. “Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data tersebut” (Moleong, 2004: 330). Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang telah diperoleh melalui hasil wawancara dengan para narasumber pewakaf diri, tetapi di luar organisasi, akan dicocokkan dengan data yang diperoleh melalui observasi dan dokumentasi.