• Tidak ada hasil yang ditemukan

17694 1 33513 1 10 20160113

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "17694 1 33513 1 10 20160113"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT INSOMNIA PADA LANJUT USIA

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RENDANG JUNI-JULI 2013

AA Ratna Purnama Santhi

1Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ABSTRAK

Insomnia merupakan salah satu bentuk gangguan pola tidur yang umum terjadi pada lanjut usia (lansia) dimana prevalensinya bertambah tinggi seiring meningkatnya usia seseorang.

Beberapa faktor risiko insomnia pada lansia antara lain: faktor sosiodemografi dan ekonomi, morbiditas fisik dan mental, nyeri kronis, menopause, dan faktor stress fisik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rendang. Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif cross- sectional dengan jumlah sampel 64 orang yang dipilih secara consecutive sampling. Data diperoleh dengan metode wawancara terstruktur menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner).

Dari 64 sampel lansia, sebagian besar mengalami insomnia dengan sebaran proporsi insomnia ringan 42,2%, insomnia sedang 29,7%, dan insomnia berat 4,7%. Pada kelompok lansia tanpa depresi, 37,1% tidak mengalami insomnia, pada kelompok depresi ringan, 57,7% mengalami insomnia ringan, sedangkan pada kelompok depresi berat 66,7% mengalami insomnia berat.

Berdasarkan ada tidaknya penyakit dasar, kelompok dengan penyakit dasar terbanyak memiliki proporsi terjadinya insomnia ringan 47,4%. Simpulan pada penelitian ini adalah tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rendang tergolong cukup tinggi dan kejadian insomnia terbanyak terjadi pada kelompok depresi ringan dan lansia dengan penyakit dasar.

Kata Kunci: insomnia, lansia, depresi, penyakit dasar.

FACTORS THAT AFFECT THE RATE OF INSOMNIA IN ELDERLY

AT RENDANG PUBLIC HEALTH CENTRE WORKING AREA

(2)

JUNI-JULY 2013

ABSTRACT

Insomnia is one of sleep disorders which are common in elderly where a high prevalence increases along with the increasing age. Some risk factors for insomnia in the elderly include:

socio-demographic and economic factors, physical and mental morbidity, chronic pain, menopause, and physical stress factors. Aim of this study was to describe the factors that affect the level of insomnia in the elderly in Rendang Public Health. This research was a descriptive cross-sectional study with 64 samples who were selected by consecutive sampling. Data obtained by the method of structured interviews using questionnaires. Of the 64 samples of the elderly, most experienced insomnia with distribution of 42.2% of mild insomnia, 29.7% of moderate insomnia, and 4.7% severe insomnia. In the elderly group without depression, 37.1% did not experience insomnia, in mild depression group, 57.7% had mild insomnia, whereas in the group of major depression, 66.7% had severe insomnia. Based on the underlying disease, the group with the underlying disease, 47.4% had mild insomnia. The conclusions of the study are the level of insomnia in the elderly in Rendang Public Health was quite high and the incidence of insomnia occurred in the group with underlying disease.

Keyword: insomnia, elderly, depression, underlying disease

(3)

PENDAHULU AN

Insomnia merupakan salah satu gangguan tidur yang umum terjadi pada lansia.1 Seiring dengan

bertambahnya

usia akan

terdapat

penurunan dalam periode tidur, sehingga

kebutuhan kebutuhan tidur juga tentunya akan berkurang.

Umumnya kelompok lansia memiliki

kecenderungan lebih mudah untuk terbangun dari tidurnya.1,2 Pada kelompok usia 65 tahun ke atas, lansia yang tinggal di rumah diperkirakan

setengahnya akan mengalami gangguan tidur dan dua per tiga dari lansia yang tinggal di tempat perawatan lansia akan mengalami gangguan pola tidur.2 Insomnia yang dilaporkan pada lansia umumnya

dikarakteristikka

n dengan

kesulitan untuk memulai dan mempertahankan tidur. Suatu studi menunjukkan bahwa 40-50%

orang dewasa yang berusia di atas 60 tahun dilaporkan mengalami gangguan tidur.3 Insiden insomnia secara

keseluruhan sama antara laki-

laki dan

perempuan tetapi insiden lebih tinggi terjadi pada laki-laki dengan usia 85

tahun atau

lebih.1,4

Beberapa studi yang telah dilakukan

sebelumnya menunjukan hubungan

beberapa faktor risiko terjadinya gangguan pola tidur pada lansia.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa gangguan pola tidur pada lansia

kemungkinan diakibatkan oleh faktor risiko yang bervariasi baik faktor psikososial dan faktor biologis.

Banyak lansia

yang memiliki penyakit yang mendasari atau kondisi

kesehatan

lainnya, seperti:

nokturia, artritis, nyeri kepala, gangguan

gastrointestinal, bronchitis, gejala kardiovaskuler, diabetes, menopause, stroke,

demensia, dan depresi, telah ditentukan bahwa semua faktor tersebut dapat

mempengaruhi

pola tidur

lansia.5 Selain itu, efek samping dari pengobatan, ketidakmampuan secara fisik, gangguan

kognitif,

(4)

kematian

,ketidakmampua

n pasangan

hidup, masalah ekonomi dan finansial, dan stress kehidupan, seluruhnya dapat menimbulkan keadaan disforia yang kemudian dapat

mengakibatkan gangguan pola tidur.2-5 Baik perubahan maupun

gangguan pola tidur yang terjadi pada lansia dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup lansia.

Di

wilayah kerja Puskesmas Rendang,

terdapat 2812 lansia. Dimana berdasarkan

survey yang peneliti lakukan pada beberapa lansia yang

datang ke

Puskesmas Rendang dengan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai

gangguan tidur, didapatkan 8 dari 10 lansia yang

datang ke

Puskesmas Rendang mengalami gangguan pola tidur. Sehingga berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan

penelitian

mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas

Rendang, Kabupaten Karangasem.

METODE Penelitian ini menggunakan rancangan

penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.

Penelitian

dilakukan di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, dari Juni 2013 sampai dengan

Juli 2013.

Variabel terikat (dependent) dalam penelitian

ini adalah

insomnia. Data ini didapat dengan

menggunakan

kuisioner

Insomnia Rating Scale (IRS) yang digolongkan dalam 4 skor.

Skor 1: (11-19)

= tidak ada keluhan

insomnia, skor 2:

(20-27) =

insomnia ringan, skor 3: (28-36) = insomnia sedang, dan skor 4: (37- 44) = insomnia berat. Variabel

bebas pada

penelitian ini adalah depresi yang

digolongkan dalam 3 kriteria, yaitu: normal (0- 9), ringan (10- 19), dan berat (20-30) yang dialami oleh lansia yang berusia 60 tahun ke atas yang diukur dengan

(5)

kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) yang terdiri dari 30 pertanyaan.

Penyakit dasar yaitu adanya penyakit kronis yang dialami oleh lansia di Kecamatan Rendang.

Populasi penelitian ini adalah semua

lansia di

Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem.

Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang datang ke Puskesmas Rendang dimana memenuhi kriteria inklusi yaitu lansia yang bersedia menjadi

sampel, sedangkan kriteria eksklusi adalah lansia

yang tidak

bersedia

dijadikan sampel penelitian.

Sampel dipilih dengan metode consecutive sampling dari populasi

terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi tanpa ada kriteria eksklusi. Apabila ada sampel yang menolak atau tidak memenuhi kriteria, maka akan digantikan sampel lain yang dipilih secara consecutive sampling juga sampai jumlah sampel

terpenuhi, sehingga

didapatkan jumlah sampel sebanyak 64 orang.

Alat yang digunakan dalam pengumpulan data untuk tiap variabel

menggunakan kuisioner IMR dan GDS. Data diperoleh dengan mewawancarai lansia yang

datang ke

Puskesmas Rendang, Kabupaten Karangasem yang

sebelumnya telah ditetapkan menjadi sampel.

Analisa data dilakukan

dengan cara deskriptif

meliputi distribusi frekuensi

berdasarkan data yang diperoleh

dari hasil

wawancara lalu ditabulasi. Hasil penelitian

dijabarkan dengan menggunakan

tabel dan

dijelaskan secara naratif.

HASIL Karakteristik Sampel

Sampel penelitian ini adalah lansia berusia 60 tahun ke atas di Kecamatan Rendang dan telah

memberikan persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian.

Sampel dalam penelitian ini

(6)

berjumlah 64 orang.

Dari 64 sampel

berdasarkan jenis kelamin didapatkan distribusi sampel terbanyak

terdapat pada kelompok laki- laki yaitu 56,7%

sedangkan perempuan 43,7%

Tabel 1. Karakteristik Sampel Penelitian berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Frekuensi Laki-laki 36

Perempuan 28

Total 64

Distribusi Tingkat Depresi pada Sampel Penelitian

Berdasar kan penilaian

melalui

kuesioner GDS didapatkan hasil bahwa lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Rendang, Kabupaten Karangasem sebagian besar tidak mengalami depresi atau dengan kata lain berada pada kategori normal (54,7%),

sedangkan hanya 45,3% yang mengalami depresi yang dikelompokkan

dalam dua

kategori yaitu depresi ringan (40,6%) dan depresi berat (4,7%)

Tabel 2. Distribusi Tingkat

Depresi pada Sampel Penelitan Tingkat

Depresi

Frekuensi Normal 35

Ringan 26

Berat 3

Total 64

Distribusi Frekuensi Riwayat

Penyakit Dasar pada Sampel Penelitian

Dari 64 sampel lebih dari setengah total sampel memiliki penyakit dasar yaitu 59,4%, dimana sebagian besar tersebar pada penyakit kardiovaskuler, penyakit metabolik, penyakit paru, penyakit

psikiatri, serta penyakit radang tulang dan sendi.

Tabel 3. Distribusi

Frekuensi Riwayat Penyakit Dasar

pada Sampel

Penelitian Penyakit Dasar

Frekuensi Persentase (%)

Ya 38 59,4

Tidak 26 40,6

Total 64 100

Distribusi Tingkat

Insomnia pada Sampel

Penelitian Tingkat insomnia pada peneltian ini diukur dengan mengguanakan

IRS dan

dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

tidak insomnia, insomnia ringan, insomnia sedang, dan insomnia berat.

(7)

Pada penelitian ini berdasarkan hasil pengukuran dengan

menggunakan

IRS yang

dijawab oleh sampel,

didapatkan persentase yang paling tinggi berada pada kategori

insomnia ringan yaitu 40,6%.

Tabel 4. Distribusi Tingkat Insomnia pada Sampel Penelitian Tingkat

Insomnia

Frekuensi

Tidak 15

Ringan 27

Sedang 19

Berat 3

Total 64

Hasil Tabulasi Data

Gambara n distribusi frekuensi dan persentase tingkat insomnia berdasarkan variabel-variabel lainnya pada

table 5,

didapatkan bahwa apabila tingkat insomnia dilihat dari variabel tingkat depresi, maka pada kelompok lansia yang tidak mengalami depresi persentase tertinggi terdapat pada kategori tidak insomnia (40,0%),

sedangkan kategori

insomnia justru lebih banyak terdapat pada

kelompok yang mengalami depresi ringan maupun berat dengan distribusi terbanyak

insomnia ringan pada kelompok lansia dengan depresi ringan (57,7%) dan insomnia berat pada kelompok dengan depresi berat (66,7%).

Tingkat insomnia yang dilihat

berdasarkan ada tidaknya

penyakit dasar pada sampel, persentase tingkat insomnia lebih tinggi terjadi pada sampel yang memiliki

penyakit dasar yaitu dengan distribusi

terbanyak pada tingkat insomnia ringan (44,7%).

Tabel 5. Tingkat Insomnia

Sampel Berdasarkan Tingkat Depresi dan Penyakit Dasar.

(8)

PEMBAHASA N

Prevalens

i kejadian

insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rendang,

Kabupaten Karangasem cukup tinggi yaitu 76,6%.

Angka tersebut tergolong sangat tinggi dimana hanya 23,4%

lansia pada penelitian ini

yang tidak

mengalami

insomnia. Hal ini sesuai dengan beberapa studi prevalensi yang telah dilaporkan bahwa

prevalensi

insomnia pada lansia cukup tinggi yaitu dapat mencapai 30-60%.4 Pada penelitian ini, kejadian

insomnia

tersebar dalam beberapa

proporsi yaitu:

tidak insomnia 23,4%, insomnia ringan 42,2%,

insomnia sedang

29,7%, dan

insomnia berat 4,7%.

Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatri yang dapat memicu terjadinya

insomnia. Pada penelitian ini 40,6% lansia mengalami depresi ringan.

Dari keseluruhan lansia yang mengalami depresi, hampir sebagian besar mengalami insomnia,

dimana pada kelompok

dengan depresi berat seluruhnya mengalami insomnia yang terdistribusi pada insomnia sedang (33,3%) dan

insomnia berat (66,7%). Hal ini sejalan dengan penelitian

Saparwati (2014) yang meneliti mengenai

hubungan

tingkat depresi dengan kejadian insomnia,

dimana dari hasil penelitian

didapatkan bahwa frekuensi insomnia

tertinggi terjadi pada kelompok dengan depresi ringan yaitu 77,1% dengan nilai p=0,000 yang

menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dengan kejadian insomnia.6

Variabel

Tingkat Insomnia

Total Tidak (%)

(%)

Ringan (%)

Sedang (%)

Berat (%) Depresi

Normal Ringan Berat

13 (37,1)

2 (7,7)

0 (0)

12 (34,3)

15 (57,7)

0 (0)

10 (28,6)

8 (30,8)

1 (33,3)

0 (0)

1 (3,8)

2 (66,7)

35 (100)

26 (100)

3 (100) Penyakit

Dasar

Ya Tidak

4 (10,5)

11 (42,4)

18 (47,4)

9 (34,6)

14 (36,8)

5 (19,2)

2 (5,3)

1 (3,8)

38 (100)

26 (100)

(9)

Berbeda dengan

penelitian yang dilakukan oleh Raharja (2013)

yang juga

melakukan penelitian mengenai

hubungan antara tingkat depresi dengan kejadian insomnia pada lansia di Jember, menunjukkan hasil frekuensi insomnia

tertinggi terjadi pada kelompok penelitian

dengan kategori depresi berat yaitu dengan frekuesi

mencapai 100%.7 Selain itu, kejadian

insomnia pada lansia juga ditemukan pada penelitian

Patelaros (2004) yang

mengatakan bahwa prevalensi

insomnia secara keseluruhan yaitu 42,78%

dimana 23,88%

terjadi pada sampel dengan gangguan

psikiatri, salah satunya adalah depresi.8

Penelitian

lainnya yang dilakukan oleh Siversten (2012) menunjukkan bahwa sebanyak

31,0% dari

sampel yang mengalami depresi menderita insomnia,

dengan nilai p<0,001.9

Hasil yang serupa juga

didapatkan oleh

Wu (2012)

dimana kualitas tidur lansia berkurang pada kelompok lansia yang mengalami depresi dengan nilai p=0,001.10 Stress

merupakan faktor penting

yang ada

kaitannya dengan

insomnia. Stress pada seseorang dapat

menimbulkan suatu depresi, sehingga dapat meningkatkan gangguan pada kualitas tidur, dan gangguan tidur yang kronis sebaliknya dapat menjadi suatu stressor,

sehingga mengakibatkan

lingkaran setan antara insomnia dan stress.11,12

Selain depresi, faktor penyakit kronis atau penyakit yang mendasari yang dialami oleh lansia, dapat memberi suatu kontribusi untuk terjadinya insomnia pada lansia. Pada penelitian ini, kejadian

insomnia

sebagian besar terjadi pada kelompok lansia yang memiliki penyakit dasar yaitu dengan distribusi

tertinggi pada insomnia ringan (47,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian

Patelaros (2004),

(10)

yang

mendapatkan bahwa kejadian insomnia pada lansia dengan penyakit kronis berada pada proporsi

18,90%.8 Selain itu menurut Taylor (2007) yang melakukan penelitian

terhadap beberapa

penyakit dasar dengan adanya kejadian

insomnia,

didapatkan hasil yang signifikan dengan nilai p<0,001.13 SIMPULAN

Simpulan

yang dapat

ditarik dari penelitian ini adalah dari 64 sampel lansia yang dilakukan

penelitian, terdapat 76,6%

yang mengalami insomnia,

dimana kejadian insomnia ini terbagi dalam beberaa proporsi yaitu: insomnia ringan (42,2%), insomnia sedang (29,7%), dan insomnia berat (4,7%).

Berdasarkan variabel depresi, sebagian besar lansia pada kelompok

depresi ringan mengalami insomnia ringan (57,7%), dan pada variabel ada tidaknya penyakit dasar, kejadian

insomnia lebih banyak terjadi pada kelompok yang memiliki

penyakit dasar.

Pada penelitian ini, perlu diuji lebih lanjut mengenai

variabel

rambang lainnya terhadap

kejadian

insomnia pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rendang,

Kabupaten Karangasem.

Selain itu

Puskesmas Rendang perlu memiliki suatu program

penyuluhan mengenai sleep hygiene untuk mengurangi kejadian

insomnia pada lansia.

DAFTAR PUSTAKA 1. Wroble R,

Nagle BA,

Cataldi LA, Monane M.

Insomnia in elderly:

assessment and

management in primary care setting.

JCOM. 2000;

7(3): 50-58.

2. Prayitno A.

Gangguan pola tidur pada

kelompok usia lanjut dan

penatalaksan aannya.

Jurnal Kedokteran Trisakti.

2002; 21(1):

23-30.

3. Roepke SK, Ancoli-Israel S. Sleep disorders in elderly.

Indian J Med. 2010;

131: 302- 310.

4. Kamel NS, Gammack JK. Insomnia

in the

elderly:

cause, approach, and treatment.

The American Journal of

(11)

Medicine.

2006; 119:

463-469.

5. Liu X, Liu L.

Sleep habits and insomnia in a sample of elderly persons in China. Sleep.

2005;

28(12):

1579-1587.

6. Saparwati M, Rosalina.

Hubungan antara depresi dengan kejadian insomnia pada lansia

di desa

trembulrejo kecamatan ngawen kabuaten blora. Stikes Ngudi

Waluyo Ungaran.

2014; 1-9.

7. Raharja EA.

Hubungan antara tingkat depresi dengan kejadian insomnia pada lanjut

usia di

karang werdha semeru jaya kecamatan

sumbersari kabupaten jember [skripsi].

Universitas Jember.

2013: 1-125.

8. Patelaros E, Argyriadou S.

Investigation of insomnia among the elderly in primary care settings in Greece: the efficient collaboration of GPs and psychiatrists.

Primaty Care Mental Health. 2004;

2: 1-8.

9. Siversten B,

Salo P,

Mykletun A, dkk. The bidirectional association between depression and

insomnia: the HUNT study.

Psychosomat ic Medicine.

2012; 74: 1- 8.

10. Wu CY, Su TP, Fang CL, Chang MY.

Sleep quality among community-

dwelling elderly people and its

demographic , mental, and physical correlates.

Journal of Chinese Medical Association.

2012; 75: 75- 80.

11. Lopes CS, Robaina JR, Rotenberg L.

Epidemiolog

y of

insomnia:

prevalence and risk factor.

University of

Rio de

Janeiro.

2013: 1-22.

12. Woodward MC.

Managing insomnia in older people.

Journal of Pharmacy and Research.

2007; 37(3):

236-241.

13. Taylor DJ, Mallory LJ, Lichstein KL, dkk.

Comorbidity of chronic insomnia with medical

problems.

Sleep. 2007;

30(2): 213- 218.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa depresi dan insomnia pada lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Surakarta memiliki hubungan.. Hasil ini sesuai dengan sumber

Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah adakah hubungan antara tingkat depresi dengan kejadian insomnia pada

Wulandari (2011) melakukan penelitian tentang kejadian tingkat depresi pada lansia dengan 52 responden di panti dan 50 responden di komunitas disimpulkan bahwa berbagai faktor

Penelitian ini membuktikan bahwa depresi yang dialami lansia berhubungan dengan kasus Insomnia dengan tingkat risiko yang cukup besar.. Berbagai penelitian mendukung pernyataan

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara depresi, cemas dan konsumsi kopi dengan kejadian insomnia pada mahasiswa PSPD Fakultas Kedokteran

Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisa hubungan tingkat depresi dengan terjadinya insomnia pada lansia di Desa Mayanggeneng Kecamatan Kalitidu Kabupaten

Hasil penelitian mengenai kejadian insomnia pada Lansia di Panti Werdha Tresno Mukti Turen Malang didapatkan data bahwa dari 34 responden yang diteliti, sebanyak 10 responden

Gambaran Kejadian Depresi Pada Lansia Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lansia cenderung mengalami derajat depresi yang paling sering dialami oleh wanita usia lanjut ialah