• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. 20221212 Materi Kebijakan Pemerintah tentang Keselamatan Konstruksi 12.25

N/A
N/A
ari hakim

Academic year: 2024

Membagikan "1. 20221212 Materi Kebijakan Pemerintah tentang Keselamatan Konstruksi 12.25"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI

Disampaikan oleh:

Direktorat Keberlanjutan Konstruksi Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR

Surabaya, 12 Desember 2022

“MODUL KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG

KESELAMATAN KONSTRUKSI”

(2)

Nama : Aji Hafid Laksana S.T, M.T.

Jabatan : Pembina Jasa Konstruksi Ahli Pertama Unit Kerja : Direktorat Keberlanjutan Konstruksi

Pendidikan : Sarjana Teknik Sipil Universitas Indonesia (2011)

Magister Rekayasa Keselamatan Konstruksi Universitas Hasanuddin (2020)

Nomor Kontak (Telp/WA) : 08111113351

Linkedin : Aji Hafid Laksana Instagram akun : @Ajihafidzz

Kompetensi Profesional : Ahli Madya K3 Konstruksi (PAKKI)

(3)

3

Penerapan SMKK dalam IKN

Regulasi terkait Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

Permen PUPR No. 10 Tahun 2021

tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK)

UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi

UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja

1 2 3 4 5

7

9 8

Permen PUPR No. 09 Tahun 2021

tentang Penyelenggaraan Konstruksi Berkelanjutan

Peraturan LKPP No. 12 tahun 2021

tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Melalui Penyedia

UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung

UU No. 2 Tahun 2022 tentang Jalan UU No. 3 Tahun 2022

tentang Ibu Kota Negara

11

Permen PUPR No. 1 Tahun 2022

tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang PUPR

SE Menteri PUPR No. 10 Tahun 2022 tentang Panduan Operasional Tertib Penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi

di Kementerian PUPR IKN

PP No. 22 tahun 2020 &

6

PP No. 14 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PP No. 22

Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No. 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi

10

Peraturan Teknis Terkait Lainnya

12

(4)

4

STANDAR KEAMANAN, KESELAMATAN, KESEHATAN, KEBERLANJUTAN

UU No. 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja

Pemerintah Pusat bertanggung jawab atas terselenggaranya Jasa Konstruksi yang sesuai dengan Standar Keamanan, Keselamatan,

Kesehatan, dan Keberlanjutan

Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (l) huruf c, Pemerintah Pusat memiliki kewenangan a. mengembangkan Standar Keamanan, Keselamatan,

Kesehatan, dan Keberianjutan dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksi

b. menyelenggarakan pengawasan penerapan Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan dalam penyelenggaraan dan pemanfaatan Jasa Konstruksi oleh badan usaha Jasa Konstruksi;

UU 2 tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi

Ps. 4 ayat 1 huruf c

UU 11 tahun 2020

tentang Cipta Kerja Pasal 52

Perubahan Ketentuan UU 2/2017 Ps. 5 ayat 3

Dalam setiap penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Pengguna Jasa dan

Penyedia Jasa wajib memenuhi Standar Keamanan, Keselamatan,

Kesehatan, dan Keberlanjutan.

Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan Jasa Konstruksi, Pengguna Jasa, dan Penyedia Jasa

wajib memenuhi standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Ayat 2 Ayat

1 Ps 59

(5)

5

STANDAR KEAMANAN, KESELAMATAN, KESEHATAN, KEBERLANJUTAN

PP No. 14 Tahun 2021 tentang Perubahan PP Nomor 22 Tahun 2020

Pasal 84

84F

84G

Ayat (1)

84I

Ayat (1)

84H

Ayat (1)

84H

Ayat (2)

Setiap Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa dalam penyelenggaraan Jasa Konstruksiharus menerapkan SMKK.

• Penyelenggaraan Usaha Jasa Konstruksi harus menerapkan prinsip Konstruksi Berkelanjutan.

• Dalam setiap Penyelenggaraan Usaha Jasa Konstruksi, Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa wajib memenuhi Standar K4.

• Penyedia Jasa termasukSubpenyedia Jasa dan pemasok.

Dalam memenuhi Standar K4 Pengguna Jasa dan/atau Penyedia Jasa harus memberikan pengesahan atau persetujuan atas:

a. hasil pengkajian, perencanaan, dan/atau perancangan;

b. rencana teknis proses pembangunan, pemeliharaan, pembongkaran, dan/atau pembangunan kembali;

c. pelaksanaan suatu proses pembangunan, pemeliharaan, pembongkaran, dan/atau pembangunan kembali;

d. penggunaan material, peralatan dan/atau teknologi;

dan/atau,

e. hasil layanan Jasa Konstruksi

Standar K4 setiap produk Jasa

Konstruksi diatur oleh menteri teknis terkait sesuai dengan kewenangannya Dalam menyusun Standar K4 untuk setiap produk Jasa Konstruksi, menteri teknis terkait memperhatikan kondisi geografis yang rawan gempa dan kenyamanan lingkungan terbangun

(6)

Pasal 163

Menteri, Gubernur, atau Bupati/Wali Kota mengenakan sanksi peringatan tertulis kepada Penyedia Jasa dan/atau Pengguna Jasa yang tidak memenuhi Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan

STANDAR KEAMANAN, KESELAMATAN, KESEHATAN, KEBERLANJUTAN

PP Nomor 22 Tahun 2020

(7)

1

SMKK

PMPM: RMPK, Program Mutu

RKPPL RMLLP

Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3)

Mutu

Lingkungan Lalu LIntas

Spesifikasi Teknis, SNI Pedoman SOP

Keselamatan Konstruksi adalah segala kegiatan keteknikan untuk mendukung Pekerjaan Konstruksi dalam mewujudkan pemenuhan standar keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan (K4) yang menjamin keselamatan keteknikan konstruksi, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, keselamatan publik dan lingkungan

Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi merupakan pemenuhan terhadap Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan dengan menjamin keselamatan keteknikan konstruksi, keselamatan dan Kesehatan kerja, keselamatan publik, dan keselamatan lingkungan

“ “

“ “

Substansi Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

PP Nomor 14 Tahun 2021 Pasal 84I ayat (4) PP Nomor 14 Tahun 2021 Pasal 1 angka 39

(8)

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 10 TAHUN 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

PENYELENGGARAAN USAHA JASA KONSTRUKSI

KESELAMATAN KONSTRUKSI

PENERAPAN KONSTRUKSI BERKELANJUTAN

PENJAMINAN MUTU DAN PENGENDALIAN

MUTU (PMPM) PEKERJAAN KONSTRUKSI PENERAPAN

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN

KONSTRUKSI (SMKK)

PENGKAJIAN

PERENCANAAN

PERANCANGAN

MANAJEMEN

PENYELENGGARAAN KONSTRUKSI/MK

SUPERVISI/PENGAWASAN

PEKERJAAN KONSTRUKSI (Pembangunan,pengoperasia n, pemeliharaan,

pembongkaran atau pembangunan kembali)

PEKERJAAN KONSTRUKSI TERINTEGRASI

PEMENUHAN STANDAR KEAMANAN, KESELAMATAN, KESEHATAN, DAN

KEBERLANJUTAN (Standar K4) Keselamatan

Keteknikan Konstruksi

Keselamatan &

Kesehatan Kerja

Keselamatan Lingkungan Keselamatan

Publik

Bangunan/aset konstruksi

Peralatan, material

Pemilik/pemberi pekerjaan

Tenaga kerja konstruksi

Pemasok, tamu, subpenyedia jasa

Lingkungan kerja

Lingkungan

terdampak proyek

Lingkungan alam

Lingkungan terbangun

Masyarakat di sekitar proyek

Masyarakat terpapar Pasal 1–2

PP No. 14 tahun 2021 dan Permen PUPR No.10 Tahun 2021

Substansi & Penerapan SMKK

(9)

Matriks Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

Keselamatan

Keteknikan Konstruksi

Standar Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan

Keselamatan Publik Keselamatan &

Kesehatan Kerja Keselamatan

Lingkungan

Identifikasi bahaya, penilaian risiko, penentuan pengendalian risiko, dan peluang (IBPRP), Prosedur Kerja Aman, Analisis Keselamatan Konstruksi (AKK), Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK),

Rencana Mutu Pekerjaan Konstruksi (RMPK), Rencana Kerja Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (RKPPL), Program Mutu, dan Rencana Manajemen Lalu Lintas Pekerjaan (RMLLP)

Bangunan/aset konstruksi

Peralatan, material

Pemilik/pemberi pekerjaan

Tenaga kerja konstruksi

Pemasok, tamu, Subpenyedia Jasa

Masyarakat di sekitar proyek

Masyarakat terpapar

Lingkungan kerja

Lingkungan terdampak proyek

Lingkungan alam

Lingkungan terbangun

Menjamin

Objek yang Diselamatkan

Pencegahan Terhadap

Metode

Pencegahan

Kecelakaan

Keteknikan Konstruksi Kecelakaan Kerja,

Penyakit Akibat Kerja Kecelakaan pada Masyarakat

Kecelakaan Lingkungan Kecelakaan Konstruksi

(10)

STRATEGI PEMENUHAN STANDAR K4 DALAM SMKK

1

4 3

PEMENUHAN SMKK PADA TIAP TAHAPAN JASA

KONSTRUKSI

2

STRUKTUR ORGANISASI

KESELAMATAN KONSTRUKSI

BIAYA PENERAPAN SMKK

OPERASIONAL PENERAPAN SMKK

1. UU 2 TAHUN 2017 2. UU 11 TAHUN 2020 3. PP 22 TAHUN 2020 4. PP 14 TAHUN 2021

5. PERMEN PUPR 10 TAHUN 2021 6. PERMEN PUPR NO. 1 TAHUN 2022 7. SE PUPR 10 TAHUN 2022

5

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

(11)

PENGKAJIAN atau PERENCANAAN

Informasi awal dan Rekomendasi Teknis - Aspek Lokasi,

- Aspek lingkungan fisik, - Aspek sosio-ekonomi,

dampak lingkungan

PERANCANGAN

- Metode Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, - Standar pemeriksaan dan

pengujian,

- Rekomendasi rencana pengelolaan lingkungan hidup,

- Rencana manajemen lalu lintas,

- Identifikasi bahaya dan pengendalian risiko (IBPRP),

- standar/ ketentuan desain, - penetapan tingkat risiko,

- biaya SMKK dan

kebutuhan personil,

- rancangan panduan keselamatan operasi dan pemeliharaan

PEMILIHAN

- Identifikasi dan pengendalian risiko (IBPRP),

- Biaya penerapan SMKK

- Personil Manajerial Keselamatan

- Kebutuhan

Subpenyedia jasa

- Gambar Kerja,

- Rencana Metode Pelaksanaan Kerja (Work Method Statement), - Identifikasi Bahaya dan

Pengendalian hingga Sisa Risiko (IBPRP),

- Rencana Pengujian dan Pemeriksaan (ITP),

- Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup,

- Manajemen Lalu Lintas,

- Sumber Daya (Peralatan, Material, Biaya Dan Personil),

- Pengendalian Subpenyedia dan Pemasok,

- Prosedur Kerja, - Audit dan Inspeksi,

- Panduan Keselamatan dan Pemeliharaan Konstruksi Bangunan

PELAKSANAAN KONSTRUKSI

SERAH TERIMA

- Gambar Terlaksana dan Laporan

Pelaksanaan (As-Built document),

- Completion Test

- Panduan keselamatan dan pemeliharaan konstruksi bangunan yang dimutakhirkan

Rancangan Konseptual SMKK, DED dan Spesifikasi Teknis, Engineer Estimate

KAK/TOR, Dok.

Pemilihan dan Penawaran (termasuk RKK Penawaran dan

Biaya)

Penyusunan dan Penerapan RKK, RMPK, RKPPL, RMLLP, Program

Mutu

Pelaporan dan Dokumentasi

PEMENUHAN SMKK PADA TIAP TAHAPAN JASA KONSTRUKSI

Pasal 21-23

1

(12)

STRUKTUR ORGANISASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Struktur Organisasi Penyedia jasa Pekerjaan Konstruksi (Penyelenggara Proyek)

Anggota Unit Keselamatan Konstruksi, terdiri atas:

a. ahli Keselamatan Konstruksi;

b. ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi;

c. petugas Keselamatan Konstruksi atau Petugas K3 Konstruksi;

d. petugas tanggap darurat;

e. petugas pemadam kebakaran;

f. petugas pertolongan pertama pada kecelakaan;

g. petugas pengatur lalu lintas;

h. tenaga kesehatan; dan

i. petugas pengelolaan lingkungan.

2

Memposisikan Personil Manajerial Keselamatan Konstruksi sebagai pimpinan UKK yang berkoordinasi sejajar dengan kepala proyek/ pimpinan tertinggi di proyek, terutama untuk pekerjaan dengan risiko KK sedang dan besar

(13)

STRUKTUR ORGANISASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Struktur Organisasi Penyedia jasa Pekerjaan Konstruksi (Penyelenggara Proyek)

2

RISIKO KK BESAR

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Utama;

atau

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Madya pengalaman minimal 3 (tiga) tahun

RISIKO KK SEDANG

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Madya; atau

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Muda pengalaman minimal 3 (tiga) tahun

RISIKO KK KECIL

Ahli

Keselamatan/K3 Konstruksi Muda;

atau

Petugas keselamatan konstruksi

KEBUTUHAN KUALIFIKASI PERSONIL MANAJERIAL KESELAMATAN KONSTRUKSI

RISIKO KK BESAR

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Utama;

atau

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Madya pengalaman minimal 3 (tiga) tahun

RISIKO KK SEDANG

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Madya;

atau

Ahli Keselamatan/K3 Konstruksi Muda pengalaman minimal 3 (tiga) tahun

RISIKO KK KECIL Ahli

Keselamatan/K3 Konstruksi Muda

KEBUTUHAN KUALIFIKASI TENAGA AHLI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Untuk Bangunan Tidak Sederhana

(14)

1) Biaya Penerapan SMKK dalam pekerjaan Konsultansi Konstruksi paling sedikit mencakup rincian:

a. penyiapan RKK dan/atau rancangan konseptual SMKK;

b. fasilitas sarana, prasarana, dan alat kesehatan;

dan

c. kegiatan dan peralatan terkait pengendalian risiko Keselamatan Konstruksi.

2) Biaya Penerapan SMKK dalam pekerjaan Konsultansi Konstruksi terkait biaya asuransi kesehatan, asuransi profesi, biaya pendidikan, pelatihan, asuransi, dan biaya keselamatan dan kesehatan kerja dalam pekerjaan Konsultansi Konstruksi sudah termasuk dalam komponen remunerasi tenaga ahli sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

KONSULTANSI KONSTRUKSI

1) Biaya Penerapan SMKK dalam Pekerjaan Konstruksi mencakup rincian:

a. Penyiapan RKK, RKPPL, dan RMLLP;

b. sosialisasi, promosi, dan pelatihan;

c. alat pelindung kerja dan alat pelindung diri*;

d. asuransi dan perizinan;

e. personel Keselamatan Konstruksi;

f. fasilitas sarana, prasarana, dan alat Kesehatan*;

g. rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan atau manajemen lalu lintas*;

h. konsultasi dengan ahli terkait Keselamatan Konstruksi; dan

i. kegiatan dan peralatan terkait dengan pengendalian Risiko Keselamatan Konstruksi, termasuk biaya pengujian/pemeriksaan lingkungan*.

2) Huruf c,f,g,dan i merupakan barang habis pakai

3) Huruf h tidak wajib untuk pekerjaan dengan risiko keselamatan konstruksi kecil

PELAKSANA KONSTRUKSI

Ps. 21 (8) Permen PUPR 10/2021: Biaya Penerapan SMKK harus dimasukkan pada daftar kuantitas dan harga dengan besaran biaya sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pengendalian dalam RKK

BIAYA PENERAPAN SMKK

3

(15)
(16)

1616

LAMPIRAN

1. Penerapan Panduan Operasional

a. Paket-paket pek. konstruksi infrastuktur di PUPR b. Paket-paket pek konstruksi infrastruktur di IKN 2. Tugas dan Tanggung Jawab Para Pihak

a. PPK;

b. Penyedia Jasa Kons. Perancangan;

c. Penyedia Jasa Pekerjaan Konstruksi;

d. Penyedia Jasa Kons. Pengawasan/MK;

3. Panduan Operasional:

a.Keselamatan Keteknikan Konstruksi;

b.Keselamatan dan Kesehatan Kerja;

c.Keselamatan Publik;

d.Keselamatan Lingkungan.

Panduan Operasional Tertib Penyelenggaraan Keselamatan Konstruksi di Kementerian PUPR RUANG LINGKUP

SE MENTERI PUPR NO. 10 TAHUN 2022 PERMEN PUPR NO. 10 TAHUN 2021

A. SUBLAMPIRAN A TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB B. SUBLAMPIRAN B PMPM PK

C. SUBLAMPIRAN C RANCANGAN KONSEPTUAL D. SUBLAMPIRAN D RKK

E. SUBLAMPIRAN E RMPK

F. SUBLAMPIRAN F PROGRAM MUTU

G. SUBLAMPIRAN G RKPPL (LINGKUNGAN) H. SUBLAMPIRAN H RMLLP (LALU LINTAS)

I. SUBLAMPIRAN I FORMAT LAPORAN PELAKSANAAN RKK J. SUBLAMPIRAN J KRITERIA PENETAPAN RISIKO

K. SUBLAMPIRAN K KOMPONEN KEGIATAN RUANG LINGKUP

Bab II Penerapan SMKK

Paragraf 2 Tahap Pemilihan Penyedia Jasa Paragraf 3 Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi

Paragraf 4 Tahap Serah Terima Pekerjaan Bab III Komponen Kegiatan Penerapan SMKK BAB IV Pembinaan dan Pengawasan

LAMPIRAN

OPERASIONAL PENERAPAN SMKK

4

(17)

1717

01 02 03

KESELAMATAN KETEKNIKAN

KESELAMATAN

DAN KESEHATAN KERJA

PANDUAN OPERASIONAL

04

KESELAMATAN PUBLIK

KESELAMATAN LINGKUNGAN

a. Rapat Persiapan Pelaksanaan Pekerjaan (Pre-Construction Meeting/PCM);

b. Permohonan Izin Kerja;

c. Pemeriksaan Bahan Material;

d. Pemeriksaan/Kalibrasi Peralatan;

e. Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Risiko;

f. Rencana Pemeriksaan dan

Pengujian (Incoming, Inspection and Test Plan/ITP);

g. Pelaksanaan Pemeriksaan dan Pengujian Pekerjaan Konstruksi;

h. Perubahan Pelaksanaan Pekerjaan;

i. Tes dan Pengujian Kelaikan Fungsi (Testing and

Commissioning).

a. Aturan Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Basic Safety) di Proyek;

b. Komunikasi Keselamatan Konstruksi;

c. Pemeriksaan/Pengelolaan Kesehatan Tenaga Kerja;

d. Pengaturan Lingkungan Tempat kerja;

e. Pengaturan Jam Kerja;

f. Pengaturan Berkendara;

g. Mes Pekerja (Hunian Sementara Pekerja) dan Kawasan Pekerja;

h. Pelatihan Keselamatan Konstruksi bagi Tenaga Kerja;

i. Penggunaan APD;

j. Ketentuan Keselamatan dalam Pekerjaan Konstruksi

k. Tanggap Darurat;

l. Audit Keselamatan Konstruksi.

a. Manajemen Lalu Lintas;

b. Manajemen Transportasi;

c. Manjemen Pengamanan;

d. Manajemen Sosial Ekonomi.

a. Penanganan Bahan Kimia;

b. Pemanfaat Air;

c. Pengelolaan Limbah (Padat, Cair, Udara);

d. Transportasi Limbah;

e. Kebersihan

(Housekeeping);

f. Efisiensi Energi;

g. Perlindungan Flora dan Fauna;

h. Perlindungan Ekosistem dari Spesies Tumbuhan Invasif;

i. Penanganan Benda Kepurbakalaan.

SE PUPR 10/2022

(18)

18

REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

(19)

19

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

REKOMENDASI PENINGKATAN BUDAYA KESELAMATAN

1

PENERAPAN

SMKK INVESTIGASI KOMUNIKASI KOMITMEN

2 3 4

MANAJEMEN KESELAMATAN KONSTRUKSI

1. Perencanaan dan Pengkajian

2. Desain & Spektek Perancangan 3. SOP

4. Tahapan 5. Metode

6. Identifikasi Risiko

Keselamatan Konstruksi

RELIABILITY (4M + KK) 1. DED & Spektek 2. Standarisasi

3. Kalibrasi & Kelaikan 4. Nonconformity dan

Corrective Action 5. Pengujian Tambahan 6. Rencana Tanggap

Darurat

7. Pemenuhan Personel (Jumlah dan Kompetensi)

LIABILITY

Komunikasi / alur

koordinasi, instruksi dan persetujuan

Tugas, tanggung jawab dan wewenang para pihak: konsultan

pengawas, mk, pmi & ces, perancang, kontraktor, subkon spesialis,

pemasok/ vendor

KONSITENSI 1. Pengawasan 2. Pengendalian 3. Approval

4. Inspeksi dan Audit

5. Pelaksanaan Operasional dan Pemeliharaan

(20)

20

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Sistem Manajemen

Keselamatan Konstruksi

Manajemen Proyek Teknis

Keberlanjutan Konstruksi

(21)

21

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

Perlunya perbaikan dalam sistem penyelenggaraan jasa konstruksi di Indonesia, di antaranya pada:

1. Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi

a. Minimnya pemahaman Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Pengawas/MK dalam melakukan identifikasi dan penetapan isu eksternal dan interal yang berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan.

b. Minimnya pemahaman Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Pengawas/MK dalam menyusun Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Peluang (IBPRP) dengan menerapkan analisis multi risiko secara rinci (multiple risk analysis) pada setiap langkah kerja di dalam Work Breakdown Structure (WBS) untuk keselamatan pekerja, properti/ harta benda, publik, dan lingkungan.

c. Minimnya pemahaman Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Pengawas/MK dalam menyusun Analisa Keselamatan Konstruksi (AKK) sesuai dengan risiko pekerjaan di tiap tahapan pekerjaan sesuai dengan nilai kekerapan (probability) kejadian bahaya dan keparahan (severity) atas potensi dampak terhadap manusia (pekerja dan/atau publik), harta benda, dan lingkungan.

d. Menyusun dokumen RKK Pengawasan oleh Konsultan Pengawas yang diintegrasikan dengan RKK Pelaksanaan sebagai alat (tools) dalam melaksanakan pengawasan yang lebih teknis, termasuk apabila terjadi ketidaknormalan pada saat pelaksanaan pekerjaan.

(22)

22

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

e. Menyusun indikator kriteria pelaksanaan pekerjaan secara jelas dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, hujan, petir, kecepatan angin, antrian kendaraan, dll, sehingga tim lapangan dapat melakukan penanganan yang tepat dan tindak lanjutnya.

f. Menyusun indikator kriteria pelaksanaan pekerjaan mencakup kondisi lingkungan (cuaca, kecepatan angin, hujan) yang dituangkan dalam dokumen kerja.

g. Mempekerjakan Pimpinan Unit Keselamatan Konstruksi (UKK) dengan kualifikasi sesuai dengan risiko keselamatan konstruksi, serta memperhatikan jumlah Ahli K3 Konstruksi/Petugas Keselamatan Konstruksi terhadap pekerja dalam UKK sesuai dengan Risiko Keselamatan Konstruksi.

h. Memperbaiki struktur organisasi proyek dengan memposisikan Pimpinan UKK yang sejajar dengan Manajer Proyek, bukan di bawah kendali Manajer Proyek.

i. Menempatkan Biaya Keselamatan Konstruksi pada daftar kuantitas dan harga dengan besaran biaya sesuai dengan kebutuhan berdasarkan pengendalian dalam RKK.

j. Menempatkan peralatan kerja pada tempat yang sesuai, sehingga mengurangi kejadian material jatuh, serta dalam rangka mewujudkan program Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin (5R) pada lokasi kerja.

(23)

23

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

k. Memasang rambu-rambu keselamatan yang dapat terlihat secara jelas oleh pekerja, maupun masyarakat sekitar, terutama pada saat pekerjaan sedang berlangsung. Contohnya rubber cone/concrete barrier, rambu peringatan bahaya, dan informasi (spanduk) pekerjaan sebelum lokasi kerja, pagar pengamanan pekerjaan, lampu selang, dan lainnya.

l. Melakukan penyeragaman pakaian dan helm dari para pekerja, sesuai dengan instansi dan tugas dari pekerja, serta menggunakan APD dan APK yang sesuai dengan jenis dan potensi bahaya.

m. Melakukan edukasi dan sosialisasi secara reguler kepada pekerja terampil terkait keselamatan konstruksi dan risikonya saat tool box meeting (TBM).

n. Menempelkan SILO, SIO/SIA, nama operator, dan foto operator berukuran 8R pada seluruh alat berat yang digunakan.

o. Memasang penangkal petir pada posisi tertinggi dan terendah dengan peletakan horizontal dan vertikal pada saat pelaksanaan pekerjaan.

(24)

24

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

2. Keberlanjutan Konstruksi

a. Pemilik Proyek dapat mempertimbangkan penerapan prinsip-prinsip konstruksi berkelanjutan dalam tahapan rancang bangun dan green construction termasuk adaptasi budaya local sebagaimana tertuang dalam Permen PUPR No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Konstruksi Berkelanjutan

b. Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Pengawas agar melakukan prinsip kehati-hatian untuk mewujudkan konstruksi yang zero accident dan zero fatality, yang tetap mematuhi protocol Kesehatan pada masa pandemic Covid-19

c. Dokumen seluruh proses kegiatan agar dijadikan informasi terdokumentasi sebagai pembelajaran dan referensi untuk perbaikan kegiatan sejenis pada masa yang akan datang.

d. Para pihak agar tidak membenarkan kebiasaan melainkan membiasakan kebenaran mengingat setiap pekerjaan memiliki karakteristik masing-masing.

(25)

25

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI

3. Manajemen Proyek

a. Menyampaikan SOP, Instruksi Kerja, manual book dan/atau penggunaan peralatan beserta identifikasi bahaya atau ancaman (bukan dampak resiko), sebagai acuan petugas, tenaga kerja dan operator di lapangan.

b. Melakukan monitoring terhadap pembagian shift pekerja.

c. Menyusun pembagian peran, tanggung jawab, dan kewenangan yang jelas antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa di dalam dokumen kontrak.

d. Melakukan pengawasan secara berlapis, dengan melakukan tugas pengawasan sebelum dan sesudah pekerjaan konstruksi dilaksanakan.

e. Melakukan koordinasi dengan seluruh pihak yang terlibat dan terdampak pekerjaan terkait dengan izin kerja dan manajemen lalu lintas.

f. Menyusun jadwal pelaksanaan yang menjabarkan tahap pekerjaan secara detail yang diintegrasikan dengan manajemen lalu lintas (traffic management), sehingga pihak-pihak terkait dapat melakukan pemantauan dan pengendalian.

g. Melakukan sosialisasi secara reguler kepada warga sekitar yang terdampak pekerjaan, jauh sebelum pekerjaan dimulai dan pada saat pekerjaan dilaksanakan.

(26)

26

ACTION PLAN SMKK

Rekomendasi Komite Keselamatan Konstruksi

EVALUASI DAN REKOMENDASI KESELAMATAN KONSTRUKSI 4. Teknis

a. Memperhatikan safety factor dari seluruh peralatan dan komponen dengan telah memasukkan gaya- gaya yang timbul akibat pekerjaan.

b. Melakukan uji beban dari seluruh alat angkat dan angkut dengan durasi 2 (dua) kali dari perkiraan total durasi pekerjaan.

c. Memastikan seluruh platform dari alat angkat dan angkut dalam keadaan rata dan padat, serta melakukan monitoring penurunan pada saat pengangkatan beban tertentu.

d. Melakukan analisis keselamatan keteknikan dalam dokumen keselamatan konstruksi sesuai dengan metode pelaksanaan pekerjaan.

e. Tidak membenarkan kebiasaan sebagai pembiasaan atas pekerjaan konstruksi, tetapi membiasakan

melakukan hal yang benar karena pekerjaan konstruksi memiliki karakteristik dan perlakuan yang

berbeda.

(27)

2727

DAMPAK POSITIF

IMPLEMENTASI KESELAMATAN KONSTRUKSI DALAM PROYEK

Jadwal Biaya ROI* Kecelakaan

43% 39%

51%

71%

13% 15%

5% 6%

Positif Negatif

Sumber : Safety Management in The Construction Industry : Identifying Risk and Reducing Accident to Improve Site Productivity and Project ROI, 2013, McGrawHill

* ROI : Return of Investment

MEMPERCEPAT JADWAL PROYEK SELAMA 1 MINGGU ATAU LEBIH

MENURUNKAN BIAYA PROYEK SEBESAR 1% ATAU LEBIH

MENINGKATKAN ROI* PROYEK SEBESAR 1% ATAU LEBIH

50%

73%

73%

50% lebih cepat kurang dari 1 minggu 31% lebih cepat satu minggu

27% turun sebesar kurang dari 1%

49% turun sebesar 1%-5%

27% meningkat sebesar kurang dari 1%

53% meningkat sebesar 1%-5%

MENINGKATKAN NAMA BAIK PERUSAHAAN

82%

MENINGKATKAN KUALITAS PROYEK

66%

12% lebih cepat dua minggu

7% lebiih cepat 3 minggu atau lebih

17% turun sebesar 6%-10%

7% turun sebesar 11% atau lebih

15% meningkat sebesar 6%-10%

5% meningkat sebesar 10% atau lebih

Dampak Positif Pemenuhan Standar K4 pada Sektor Konstruksi

(28)

LESSON LEARNED KECELAKAAN KONSTRUKSI

(29)

Lesson Learned

Kecelakaan Konstruksi & Kegagalan Bangunan

Pemeriksaan dan Pengujian ??

Rona Awal Lingkungan ??

Metode ??

Tahapan ??

Desain dan Spesifikasi ??

Peralatan dan Material??

Surabaya, Desember 2018

a. Sebagian badan Jalan Raya Gubeng Surabaya mengalami longsor/amblas selebar ±20 m dan sepanjang ±50 m dengan kedalaman ± 15 meter.

b. Sebagian halaman Gedung Bank BNI mengalami longsor.

c. Sebagian halaman Gedung Toko Elizabeth mengalami longsor.

Investigasi lapangan dan wawancara:

- Catatan kegempaan tidak menunjukkan mekanisme pergeseran batuan, bukan akibat gempa bumi (aktivitas tektonik). BMKG

- Dinding Penahan Tanah (DPT) sisi timur pada pembangunan Mix- Used Development mengalami Keruntuhan

- DPT merupakan bagian dari proses pembangunan basement 2 lantai dan konstruksi gedung 24 lantai

- Putusnya strand pada ground anchor dan/atau kegagalan block anchor sebagai akibat dari kombinasi pergerakan lateral DPT dan adanya penurunan tanah.

(30)

Lesson Learned

Kecelakaan Konstruksi

Cengkareng, November, 2021

Bangunan 4 lantai mengalami keruntuhan pada saat pembongkaran scaffolding di lantai 3 dan lantai 4

Investigasi lapangan dan wawancara:

- Adanya kolom menerus lantai 1 dan 2 dengan dimensi 40x60 cm setinggi 7 meter lebih

- Umur beton plat lantai dan kolom di lantai 3 dan 4 belum cukup (11 hari)

- Beton yang digunakan K-300

- Tumpukan Scaffolding terpusat di tengah lantai 3

- Tidak didapat prosedur dan/ atau metode pekerjaan dan persetujuan izin kerja

- Sisa waktu pekerjaan terbatas

- Kontrak Desain Build dengan Perencana dan Kontraktor berbeda

Metode dan Prosedur ??

Desain dan Spesifikasi ??

Identifikasi Bahaya & Pengendalian Risiko??

Komunikasi Perencana dan Pelaksana ??

(31)

Lesson Learned

Kecelakaan Konstruksi

Pulau Bintan, April, 2021

Penurunan seketika secara drastis (immediate settlement), setelah terjadinya curah hujan sebesar 150 mm, di tanah pada ke-2 sisi dalam dan luar Retaining Wall yang sudah ditimbun dan dipadatkan.

Investigasi lapangan dan wawancara:

- Pada Oktober 2021 sudah terjadi penurunan Oprit yang dilakukan perbaikan dengan perkuatan pada abutment dan retaining wall dengan tie rod dan tie beam

- retaining wall menggunakan tiang pancang ukuran 30x30,

- Penimbunan oprit menggunakan urugan timbunan biasa dari sumber galian setinggi 2m (layer 1) dan 0,75 (layer 2) dan dengan lapisan geotek.

- Meminta pertimbangan pemutusan/ pengakhiran/

perpanjangan kontrak Penyelidikan tanah ??

Analisis desain perancangan??

Metode dan Prosedur ??

Identifikasi Bahaya & Pengendalian Risiko??

Dokumen kontrak ??

(32)

Lesson Learned

Kecelakaan Konstruksi

JU Bekasi, November, 2021

launcher terpuntir dan terjatuh pada pengangkatan PCI- Girder G15 dengan panjang girder 50.8 meter dan tinggi 2,3 m, dengan kecepatan Launching 2,35 m/min

Investigasi lapangan dan wawancara:

- Girder yang dilaunch adalah Girder tepi (terluar)

- Positioning girder (kurang 5 cm dari bearing pad) menggunakan sistem tekel katrol

- Balok LCB tempat perletakan stopper berada di super elevasi, maka dilakukan pergeseran titik stopper ke arah luar sehingga maintruss melampaui batas aman - Balok LCB dengan super elevasi tanpa

penguat/shoring/penopang

- Pergeseran titik stopper tanpa analisis, atas inisiatif pelaksana lapangan

- Eksekusi launching girder tanpa pendampingan Metode dan Prosedur ??

Desain dan Spesifikasi ??

Identifikasi Bahaya & Pengendalian Risiko??

Pengawasan ??

Komunikasi Pelaksana dengan subkon spesialis, pengawas, dan engineer kontraktor ??

(33)

TERIMA KASIH

v

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Jenderal Bina Konstruksi

Referensi

Dokumen terkait

Pedoman sistem manajemen keselamatan konstruksi diperlukan untuk mewujudkan tertib penyelenggaraan Jasa Konstruksi yang sesuai dengan standar keamanan, keselamatan,

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2021 Tentang Standar Kegiatan Usaha Dan Produk Pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum RI No: 05/PRT/M/2014 tentang Pedoman SMK3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum & Perumahanan Rakyat RI No:

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DIREKTORAT JENDERAL BINA KONSTRUKSI PERATURAN PEMERINTAH NO 14 TAHUN 2021 tentang Perubahan atas PP Nomor 22 Tahun 2020 tentang

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2014 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan Perumahan

 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 2 Tahun 2018 yang membahas mengenai Perubahan atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/Prt/M/2014 tentang Pedoman

Dokumen ini berisi pedoman untuk mengembangkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) cho dự án khảo sát/perencanaan

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 8 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat