• Tidak ada hasil yang ditemukan

21448 48063 1 PB

N/A
N/A
Dinda Trisnawati

Academic year: 2023

Membagikan "21448 48063 1 PB"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

162

ASUHAN KEPERAWATAN PERSALINAN NORMAL RUPTUR PERINEUM

DERAJAT II DAN POST CERVICAL CERCLAGE: SUATU STUDI KASUS

Nursing Care For Second-Degree Perineal Tears In Normal Delivery and Post Cervical Cerclage : A Case Study

Aina Hariana1, Dewi Hermawati2, Mariatul Kiftia2

1Mahasiswa Program Studi Profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

2Bagian Keilmuan Keperawatan Maternitas, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Email: [email protected]

ABSTRAK

Penjahitan serviks (cervical cerclage) adalah tindakan yang dilakukan pada ibu hamil dengan inkompetensi serviks untuk mencegah persalinsan prematur. Penjahitan serviks ini dilakukan dengan menempatkan jahitan keliling serviks setinggi ostium uteri internum yang dibiarkan sampai kehamilan cukup bulan, kemudian dilepas dan persalinan dibiarkan terjadi secara spontan. Tujuan dari studi kasus ini adalah mengetahui penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan persalinan normal ruptur perineum derajat II dan post cervical cerclage di Ruang Bersalin RSUDZA Banda Aceh. Diagnosa keperawatan yang diangkat adalah ansietas, nyeri melahirkan, resiko perdarahan dan resiko infeksi. Intervensi yang diterapkan berdasarkan evidance based practices seperti terapi murotal al-qur’an untuk menurunkan ansietas, nyeri dengan teknik nafas dalam, massage counterpressure, edukasi latihan pernafasan dan cara meneran untuk mencegah manuver valsava, resiko perdarahan dengan manajemen aktif kala III dan inisiasi menyusui dini, resiko infeksi dengan pendidikan kesehatan mengenai vulva hygiene dan edukasi pemberian putih telur untuk mempercepat keringnya luka perineum. Hasil evaluasi selama dilakukan perawatan yaitu pada diagnosa ansietas teratasi, nyeri melahirkan teratasi sebagian, resiko perdarahan teratasi sebagian, dan resiko infeksi teratasi sebagian. Disarankan kepada perawat untuk dapat menjadikan tulisan ini sebagai salah satu sumber rujukan dalam menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan persalinan normal ruptur perineum derajat II dan post cervical cerclage.

Kata kunci : Asuhan Keperawatan, Cervical Cerclage, Persalinan Normal, Ruptur Perineum.

ABSTRACT

Cervical cerclage is a procedure performed on pregnant women with cervical incompetence to prevent preterm labor. This procedure involves suturing the cervical area at the level of the internal uterine ostium, which was left until the full term of pregnancy. The suture was then removed, and labor occurred spontaneously. This study aimed to determine the implementation of nursing care on the normal delivery patient with the 2nd degree of perineal rupture and post cervical cerclage at the delivery room of dr. Zainoel Abidin Regional Public Hospital of Banda Aceh. The nursing diagnoses raised were anxiety, childbirth pain, bleeding risk, and infection risk. Interventions implemented were based on evidence-based practices such as Al-Quran murottal therapy to reduce anxiety, deep breathing technique for pain, counter pressure massage, education on breathing exercises and how to push to prevent Valsalva maneuver, risk of bleeding with active management of the third stage and early initiation of breastfeeding, risk of infection with health education on vulvar hygiene and education on giving egg whites to accelerate the perineal wound healing. The treatment result was that the diagnosis of anxiety, childbirth pain, bleeding risk, and infection risk was partially resolved. The nurses are recommended to use this paper as a reference source in nursing care for mothers with normal labor with second-degree perineal rupture and post cervical cerclage.

Keywords : Nursing care, Cervical Cerclage, Normal Delivery, Perineal Tear.

(2)

163 PENDAHULUAN

Persalinan adalah proses keluarnya janin, plasenta dan membran dari dalam rahim melalui jalan rahim (Bobak, Lowdermilk & Jasen, 2010). Persalinan harus dimulai dengan interaksi yang singkron antara passanger, passageway, powers, position, dan psychology untuk terjadinya persalinan pervaginam secara spontan (Lockhart & Saputra, 2014). Hal ini penting, dikarenakan banyaknya kasus kematian ibu dan bayi terjadi karena adanya penyulit pada 5 faktor tersebut (Perry, Hockenbarry, Lowdermilk, & Wilson, 2014).

Kasus kematian ibu di Indonesia masih tergolong tinggi (Apriani, 2019). Angka Kematian Ibu (AKI) didunia yaitu sebanyak 303.000 jiwa dan di ASEAN sebanyak 235 per 100.000 kelahiran hidup (ASEAN Secretariat, 2020). Pada tahun 2020, AKI di Aceh dilaporkan mengalami peningkatan mencapai 172/100.000 kelahiran hidup dan ini menunjukan kondisi tidak baik dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 139/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2020).

WHO (2019) mengatakan bahwa kematian ibu disebabkan oleh komplikasi selama dan setelah kehamilan dan persalinan.

Salah satu masalah yang dapat mengganggu dan mengancam kehamilan adalah inkompetensi serviks. Inkompetensi serviks dapat terjadi pada trimester kedua kehamilan, dan bisa menyebabkan terjadinya keguguran atau persalinan prematur. Inkompetensi serviks merupakan keadaan dimana serviks tidak mampu untuk menahan janin yang disebabkan oleh kelainan fungsional atau struktural. Salah satu cara yang dapat dilakukan pada ibu hamil dengan inkompetensi serviks adalah dengan melakukan penjahitan serviks.

Penjahitan serviks (cervical cerclage) adalah tindakan yang dilakukan dengan menempatkan jahitan keliling serviks setinggi ostium uteri internum yang dibiarkan sampai kehamilan cukup bulan, kemudian dilepas dan persalinan dibiarkan terjadi

secara spontan (Bobak, Lowdermilk & Jasen, 2010).

Pada pascapersalinan, salah satu masalah yang sering terjadi adalah ruptur perineum. Ruptur perineum merupakan robekan di daerah perineum yang terjadi ketika lahirnya bayi baik dengan cara spontan maupun menggunakan alat atau tindakan (Prawirohardjo, 2014). Diduga 0,6-11% dari ibu dengan persalinan normal mengalami ruptur perineum (Cola et al., 2016).

Berdasarkan studi pendahuluan data kasus partus normal di Ruang Bersalin RSUDZA Banda Aceh dari bulan Januari – April 2022 dengan ruptur perineum derajat I sebanyak 2 orang dan ruptur perineum derajat II sebanyak 4 orang. Sedangkan pada kasus pasien persalinan normal dengan post cervical cerclage baru ditemukan 1 kasus.

Penulisan studi kasus ini memiliki tujuan untuk melihat bagaimana penerapan

“Asuhan Keperawatan pada Ny. F Dengan Persalinan Normal Ruptur Perineum Derajat I dan Post Cervical Cerclage di Ruang Bersalin RSUDZA Banda Aceh”.

GAMBARAN KASUS

Pasien umur 25 tahun datang ke ruang bersalin dengan G3P1A1 dengan keluhan mules-mules yang dirasakan sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien mengatakan air ketuban belum pecah, gerakan janin aktif dirasakan, usia kehamilan pasien 37 minggu dengan HPHT 13/09/2021 dan HPL 20/06/2022. Sebelumnya pasien pernah dilakukan penjahitan serviks (cervical cerclage) pada saat usia kehamilan 28 minggu. Penjahitan serviks ini dilakukan karena pasien memiliki serviks pendek dan memiliki riwayat obstetrik yang buruk yaitu pernah keguguran sebanyak 2 kali. Pertama intrauterine fetal death (IUFD) di usia kehamilan 20 minggu dan kedua abortus dengan usia kehamilan 19 minggu.

Hasil pengkajian pada tanggal 31 Mei 2022 didapatkan bahwa pasien mengatakan

“saya khawatir dengan kondisi saya, kapan ya akan dibuka pengikatan serviksnya, saya

(3)

164 merasakan mules”. Pasien juga mengatakan

”saya berharap dapat melakukan persalinan dengan normal”. K/U baik. Tampak gelisah dan tidak tenang di tempat tidur, sering menanyakan tentang kondisinya secara berulang, TD: 110/70 mmHg, RR: 20x/menit, HR: 86x/menit, T: 36,5oC. Berdasarkan data yang sudah didapatkan, maka diagnosa pertama yang diangkat yaitu ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

Pada kala I persalinan, pasien mengatakan “saya merasa sakit di perut bagian bawah”. Pasien tampak memegangi perutnya, pengkajian nyeri PQRST (P: nyeri kontraksi, Q: seperti ditusuk tusuk, R: perut, S: 6, T: hilang timbul), His 3 kali dalam 10 menit durasi 25 detik, DJJ ; 135 x/menit, tampak berkeringat, pemeriksaan VT pukul 12.10 WIB dengan pembukaan 2 cm, TTV (TD : 110/70 mmHg, RR: 20x/menit, HR:

88x/menit, T: 36,5oC). Dari data tersebut, maka diagnosa yang diangkat adalah nyeri melahirkan berhubungan dengan dilatasi serviks.

Kemudian pada kala II persalinan pasien mengatakan ”sakit sekali, rasanya seperti mau buang air besar”. Pasien juga mengatakan “saya ingin meneran”. Pasien tampak meringis. Pembukaan serviks 10 cm (14.00 WIB). Ada usaha mengedan dari ibu. His 4 kali dalam 10 menit dengan durasi 45 detik. Kontraksi uterus kuat. DJJ:

146x/menit, skala nyeri 8-9 NRS, ketuban sudah pecah warna jernih, TD: 120/80 mmHg, RR: 20x/menit, HR: 92x/menit, T:

36,5oC. Sehingga diagnosa yang diangkat yaitu nyeri melahirkan berhubungan dengan kontraksi uterus.

Kemudian pada kala III persalinan pasien mengatakan “saya merasa lelah”.

Luka tampak mengeluarkan darah. Pasien tampak lemah dan pucat karena kehilangan darah dari proses melahirkan kala II: + 150 cc. Persiapan kelahiran plasenta. TD: 110/80 mmHg, Nadi: 84x/menit, Suhu: 36,5oC, Hb:

10 g/dl. Dari data tersebut, maka diagnosa yang diangkat yaitu resiko perdarahan

berhubungan dengan persalinan kala III.

Setelah itu, pada kala IV persalinan, pasien mengatakan “saya merasa nyeri di luka jahitan”. Tampak adanya luka jahitan (ruptur derajat II), bekas jahitan berwarna kemerahan dan tidak ada edema, keadaan luka masih basah. TD: 110/80 mmHg, Nadi:

84x/menit, Suhu: 36,5oC. Sehingga diagnosa yang diangkat yaitu resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.

HASIL Ansietas

Hasil evaluasi didapatkan bahwa pasien mengatakan perasaanya sudah lebih tenang dan rileks dengan mendengarkan murotal Al-Qur’an yaitu surah Ar-Rahman selama 25 menit dan pasien juga mengatakan ikhlas akan takdir Allah SWT dengan apapun yang akan terjadi selama proses persalinannya nanti. Tampak keluarga terutama suami terus mendampingi pasien, TD: 110/80 mmHg, nadi: 84x/menit, RR:

20x/menit, Suhu: 36,4oC. Pasien mengalami penurunan ansietas dan menunjukkan respon yang lebih tenang.

Nyeri Melahirkan (Kala I)

Hasil evaluasi didapatkan pasien mengatakan nyerinya sudah sedikit berkurang dengan tarik nafas dalam sebanyak 5 kali dan pasien juga mengatakan nyerinya berkurang setelah di massage di area punggung. Tingkat skala nyeri pada pasien setelah 1 jam implementasi berkurang dari skala nyeri 6 menjadi 3-4. Pasien telah mampu mempraktekan teknik relaksasi nafas dalam. Hasil temuan dari permeriksaan TTV dalam batas normal. TD: 110/80 mmHg, HR: 84x/menit, RR: 20x/menit, Suhu : 36,4oC.

Nyeri Melahirkan (Kala II)

Hasil evaluasi didapatkan pasien mengatakan nyeri semakin berat serta adanya rasa ingin mengedan. Hasil dari tindakan terapeutik yakni memantau air ketuban, VT,

(4)

165 his dan lainya didapatkan bahwa air ketuban

sudah pecah dengan warna jernih, pembukaan sudah lengkap yakni 10 cm, his 4x dalam 10 menit dengan kekuatan lebih dari >40 detik. Dari hasil evaluasi, didapatkan untuk melakukan perencanaan intervensi selanjutnya dengan latih pernafasan dan bimbing ibu untuk persalinan lahiran kepala dan bahu.

Resiko Perdarahan

Hasil evaluasi didapatkan bahwa tidak terjadi perdarahan setelah dilakukan pemantauan dan implementasi untuk mencegah terjadinya perdarahan seperti memastikan plasenta lahir lengkap 5 menit setelah kala II, kontraksi uterus kuat, darah yang keluar setelah pelepasan plasenta yaitu + 100 cc, pasien diberikan terapi RL untuk menggantikan cairan yang hilang, tanda tanda vital dalam batas normal. Seperti yang diketahui bahwa dikatakan terjadinya perdarahan jika pasien mengalami kehilangan darah lebih dari 500 cc dalam proses persalinan normal. Kemudian tampak bayi sedang melakukan IMD.

Resiko Infeksi

Hasil evaluasi didapatkan bahwa pasien dan keluarga mengetahui beberapa cara untuk mencegah terjadinya infeksi yaitu dengan melakukan perawatan perineum (vulva hygiene), melakukan pengosongan kandung kemih setiap 2 jam sekali, melakukan pemeriksaan pada luka jahitan, dan pasien mengatakan akan mengkonsumsi putih telur untuk mempercepat penyembuhan luka dan pasien juga mengatakan tidak ada nyeri yang hebat di area bekas jahitan perineum.

PEMBAHASAN Ansietas

Dalam menghadapi persalinan, kecemasan dapat membuat ibu stres yang dapat menyebabkan pelepasan hormon yang berlebihan seperti katekolamin dan steroid.

Kedua hormon ini mengakibatkan terjadinya

ketegangan otot polos dan vasokonstriksi pada pembuluh darah. Hal ini dapat mengakibatkan kontraksi uterus menurun, sirkulasi uteroplasenta menurun, aliran darah dan oksigen ke uterus berkurang, dan juga dapat menimbulkan iskemia uterus sehingga membuat impuls nyeri semakin bertambah (Handayani, Fajarsari, Asih & Rohmah, 2017).

Implementasi yang diberikan perawat untuk mengatasi ansietas yaitu dengan terapi murrotal. Terapi murotal dilakukan dengan memutar bacaan ayat suci Al-Quran berupa surat Ar-Rahman yang didengar oleh pasien selama 25 menit. Penelitian yang dilakukan oleh Nurqalbi & Kamaruddin (2019) mengatakan bahwa murotal Al-Qur’an surah Ar-Rahman berdampak dalam menurunkan urat saraf reflektif yang mengalami ketegangan, membuat pikiran menjadi tenang sehingga mampu mengontrol dan juga menurunkan kecemasan (Nurqalbi &

Kamaruddin, 2019).

Hasil evaluasi dari implementasi murotal Al-Qur’an sejalan dengan hasil penelitian Azis, Nooryanto & Andarini (2018) yang menunjukkan bahwa pemberian terapi murotal Al-Qur’an surah Ar-Rahman selama 25 menit pada ibu bersalin kala I dapat meningkatkan kadar β-Endorphin sehingga menurunkan kecemasan ibu.

Selain itu, implementasi yang dilakukan yaitu menganjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien. Dukungan dari suami ataupun keluarga dapat mengurangi kecemasan pada pasien. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Arifin, Kundre & Rompas (2015) yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara dukungan dari keluarga dengan tingkat kecemasan ibu dalam menghadapi proses persalinan.

Dukungan penuh dari keluarga yang diberikan saat menghadapi persalinan membuat ibu menjadi tenang sehingga ibu bisa menghadapi persalinan dengan baik.

(5)

166 Nyeri Melahirkan (Kala I)

Implementasi yang diberikan adalah melakukan pengkajian tingkat nyeri, melakukan pemeriksaan TTV, memantau DJJ, menganjurkan pasien melakukan relaksasi nafas dalam agar mengurangi nyeri, menganjurkan pasien untuk tidur dalam posisi miring, melakukan teknik distraksi (massage counter pressure) dan mengontrol lingkungan yang dapat memperparah rasa nyeri (mencegah kebisingan).

Pada kala I persalinan normal, penyebab nyeri yang terjadi dikarenakan kontraksi involunter otot uteri. Kontraksi tersebut dirasakan di punggung bagian bawah. Kontraksi umumnya berlangsung selama 45-90 detik. Saat ada kemajuan persalinan, intensitas setiap kontraksi mengalami peningkatan sehingga ibu merasakan intensitas nyeri yang lebih besar (Mulyani, 2018).

Relaksasi nafas dalam adalah salah satu teknik non farmakologis dalam mengurangi nyeri pada ibu bersalin.

Teknik ini dilakukan dengan cara menarik nafas dalam-dalam saat terjadinya kontraksi dengan menggunakan pernapasan dada melalui hidung sehingga mengalirkan oksigen ke darah hingga ke seluruh tubuh dan juga mengeluarkan hormon endorphin sebagai penghilang nyerialami di dalam tubuh (Novita, Rompas & Bataha, 2017).

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Taqwin (2020) yang mengatakan bahwa terdapat pengurangan intensitas nyeri pada persalinan kala I fase laten sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi nafas dalam.

Selain itu, perawat juga melakukan teknik distraksi (massage counter pressure).

Massage counter pressure dilakukan dengan cara pasien diposisikan dalam kondisi tidur miring ke kiri selanjutnya perawat menekan area sacrum atau punggung menggunakan kepalan tangan. Penelitian yang dilakukan oleh Yulianingsih, Porouw & Loleh (2019) mengatakan bahwa massage counterpressure adalah teknik masase yang berpengaruh

dalam mengurangi nyeri persalinan yang dilakukan 2-3 kali saat terjadi kontraksi selama 20menit.

Massage counterpressure dilakukan selama ibu mengalami kontraksi dengan memberikan penekanan pada area nyeri.

Metode ini sangat efektif karena penekanan yang dilakukan di pusat paling nyeri sehingga mampu mengurangi nyeri saat kontraksi ibu bersalin (Sa'diyah, Purwanti &

Syukur, 2020).

Nyeri Melahirkan (Kala II)

Implementasi yang diberikan mengatur pernafasan pada saat terjadinya kontraksi dan cara meneran untuk mencegah terjadinya manuver valsava. Manuver valsava digunakan untuk mengelola tahap kedua persalinan. Ibu diminta untuk menarik napas dalam-dalam, tahan nafas (glotis tertutup), dan mendorong kebawah ketika kontraksi uterus dimulai. Pada saat dilakukan manuver valsava ini, ibu dalam posisi terlentang dan didorong untuk menarik lututnya ke perut bagian bawah dan mengejan (Cunningham et all., 2014).

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Nigeria, latihan pernapasan diamati sebagai metode yang paling umum untuk mengatasi nyeri persalinan secara nonfarmaokolgis di antara wanita. Dimana 28% wanita mengetahui penggunaan metode ini (Anarado et all., 2015). Tarik dan hembuskan napas dalam-dalam dilakukan dalam latihan pernapasan selama persalinan memberikan mobilisasi otot-otot dasar panggul, dan perut secara aktif berkontraksi dan teroksigenisasi (Lothian, 2011).

Latihan pernapasan dapat menjadi metode yang efektif dalam memfasilitasi kontrol nyeri untuk mengurangi tekanan yang diberikan pada perineum, serta mengontrol dorongan untuk mendorong kepala bayi.

Kepala bayi mendorong dan memperluas otot-otot rahim, dan tekanan kepala bayi yang menyebabkan kontraksi. Pada saat yang sama, meningkat tekanan yang dihasilkan

(6)

167 dari kontraksi uterus selama dorongan

dilawan dengan pernapasan dalam.

Resiko Perdarahan (Kala III)

Manajemen aktif persalinan kala III adalah tindakan yang dilakukan agar mempercepat pelepasan plasenta dan mencegah perdarahan postpartum dengan meningkatkan kontraksi rahim sehingga terhindar dari atonia uteri. Maka dari itu perlu dilakukan pemantauan pada kala III untuk mencegah terjadinya perdarahan dengan melakukan pemantauan tanda-tanda perdarahan, menganjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan untuk mengganti cairan yang hilang akibat kelelahan dan kehilangan darah dan juga melakukan suntik oksitosin. Hormon oksitosin diharapkan dapat merangsang uterus berkontraksi sehingga dapat mempercepat pelepasan plasenta (Triwidiyantari, 2021).

Kemudian perawat melakukan massage fundus uteri untuk merangsang kontraksi uterus. Kontraksi uterus dikatakan normal ketika fundusuteri teraba keras.

Selanjutnya dilakukan pemotongan tali pusat segera yang dilanjutkan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Dalam proses menyusui, oksitosin berperan besar dalam menghasilkan produksi ASI. Aktifitas oksitosin tidak hanya menyebabkan kontraksi otot-otot myoepitel disekitar alveoli mammae, namun juga memberikan reflek neuroendokrin, memproduksi analgetik, mengurangi cemas atau stres dan menyebabkan uterus berkontraksi secara optimal sehingga plasenta terdorong keluar secara alami dan mempercepat proses involusi uteri (Purwarini, Rustina &

Nasution, 2016).

Hal ini dapat menurunkan resiko perdarahan pasca persalinan dan juga mempercepat uterus kembali ke bentuk semula. Penelitian yang dilakukan oleh Nurianti, Karo, Bangun, & Yana (2020) juga menunjukkan bahwa Inisiasi Menyusui Dini

(IMD) memiliki pengaruh yang signifikan mencegah terjadinya perdarahan post partum.

Resiko Infeksi (Kala IV)

Menurut Lestari (2016), penyebab dari infeksi postpartum salah satunya adalah terjadinya perlukaan pada perineum. Luka pada perineum yang diakibatkan karena ruptur maupun laserasi adalah daerah yang tidak mudah kering. Diperkirakan 70% ibu yang melahirkan normal banyak mengalami trauma luka perineum yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi.

Perawat menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan terutama di area perineal dengan vulva hygiene. Vulva hygiene bertujuan untuk menjaga kebersihan vulva, mencegah masuknya mikroorganisme pada urogenital tractus dan mencegah agar tidak terjadi infeksi (Wati, Utami & Triana, 2021).

Semakin baik vulva hygiene maka semakin cepat pula kesembuhan luka jahitan perineum. Hal ini dikarenakan perawatan yang baik dapat mencegah terjadinya infeksi (Puspita, 2016).

Selain itu, perawat juga menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi putih telur. Protein dari telur diperlukan sebagai zat pembangun yang membentuk jaringan otot tubuh sehingga mempercepat pulihnya luka jahitan perineum (Walyani & Purwoastuti 2017).

Proses penyembuhan luka perineum salah satunya dipengaruhi oleh faktor nutrisi terutama dari asupan protein. Protein berperan sebagai bahan baku untuk pembentukan fibrin dan kolagen, serta merangsang terjadinya angiogenesis yang penting dalam proses penyembuhan luka (Wigati & Sari, 2020).

Salah satu sumber protein yang mudah diperoleh dan mudah dicerna tubuh adalah putih telur. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana & Fauziah (2021) mengatakan bahwa konsumsi putih telur dapat mempercepat penyembuhan luka perineum.

(7)

168 KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil studi kasus, penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Masalah keperawatan ansietas berhubungan dengan krisis situasional teratasi. Pasien mengalami penurunan ansietas dan menunjukkan respon yang lebih tenang.

2. Masalah keperawatan nyeri melahirkan (kala I) berhubungan dengan dilatasi serviks teratasi sebagian. Nyeri pada pasien mengalami penurunan dari skala nyeri 6 menjadi 3-4.

3. Masalah keperawatan nyeri melahirkan (kala II) berhubungan dengan dilatasi serviks teratasi. Nyeri berkurang ketika bayi lahir.

4. Masalah keperawatan risiko perdarahan berhubungan dengan persalinan kala III teratasi sebagian. Hasil evaluasi yang ditemukan bahwa tidak terjadi perdarahan setelah dilakukan pemantauan.

5. Masalah keperawatan risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif teratasi sebagian. Perawat menganjurkan ibu agar menjaga kebersihan area perineal, menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi putih telur agar luka perineum menjadi cepat pulih dan menganjurkan ibu agar minum obat teratur.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih penulis tunjukan kepada pembimbing dan pihak Rumah Sakit khususnya ruang bersalin yang telah membantu selama studi kasus serta kepada pasien dan keluarga pasien yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan studi terhadap kasus Ny. F.

REFERENSI

Anarado, A., Ali, E., Nwonu, E., Chinweuba, A., & Ogbolu, Y. (2015). Knowledge and willingness of prenatal women in Enugu Southeastern Nigeria to use in labour non-pharmacological pain reliefs.

African health sciences, 15(2), 568–575.

https://doi.org/10.4314/ahs.v15i2.32 Azis, W., Nooryanto, M., & Andarini, S.

(2018). Terapi murotal al-qur'an surat arrahman meningkatkan kadar β- endorphin dan menurunkan intensitas nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif.

Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(3), 213-216.

https://doi.org/10.21776/ub.jkb.2015.02 8.03.9

Bobak, Lowdermilk & Jasen (2010). Buku ajar keperawatan maternitas edisi 4.

Jakarta: EGC

Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S.

L., Hauth, J. C., Gilstrap, L., &

Wenstrom, K. D. (2014). Pregnancy Hypertension. Dalam, Williams Obstetrics (24th Edition ed.). New York : The McGraw-Hill Companies.

Cola, A., Frigerio, M., Manodoro, S., Verri, D., Interdonato, M. L., Nicoli, E., ... &

Milani, R. (2016). Third and fourth degree perineal tears: incidence and risk factors in an Italian setting. European Journal of Obstetrics and Gynecology and Reproductive Biology, 206, e27.

https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2016.07.

095

Handayani, R., Fajarsari, D., Asih, D. R. T.,

& Rohmah, D. N. (2017). Pengaruh terapi murottal Al-Quran untuk penurunan nyeri persalinan dan kecemasan pada ibu bersalin kala I fase aktif. Jurnal ilmiah kebidanan, 5(2), 1- 15.

http://ojs.akbidylpp.ac.id/index.php/Prad a/article/view/147

Kemenkes, RI (2020). Profil kesehatan indonesia tahun 2019. Jakarta:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Lockhart, A., & Saputra, L. (2014).

Asuhan kebidanan kehamilan fisiologis

& patologis. Tanggerang Selatan : Binarupa Aksara

Lothian J. A. (2011). Lamaze breathing: what every pregnant woman needs to know.

(8)

169 The Journal of Perinatal Education,

20(2), 118–120.

https://doi.org/10.1891/1058- 1243.20.2.118

Mulyani, A. (2018). Pengaruh aplikasi kontraksi nyaman terhadap perubahan intensitas nyeri pada persalinan kala 1 fase aktif di wilayah kerja Puskesmas Cibeureum Kota Tasikmalaya tahun 2017. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi, 17(2), 202-211.

http://dx.doi.org/10.36465/jkbth.v17i2.2 23

Novita, K. R., Rompas, S., & Bataha, Y. B.

(2017). Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam trhadap respon nyeri pada ibu inpartu kala I fase aktif di Puskesmas Bahu Kota Manado. Jurnal

Keperawatan, 5(1).

https://doi.org/10.35790/jkp.v5i1.15894 Nurianti, I., Karo, T. M. K., Bangun, S. M .

B., & Yana, S. (2020). Pengaruh inisiasi menyusui dini (IMD) terhadap jumlah darah kala IV persalinan. Jurnal Kebidanan Kestra. 2(2), 2655-0822.

https://doi.org/10.35451/jkk.v2i2.394 Nurqalbi, S. R. & Kamaruddin, M. (2019).

Pengaruh terapi murottal al-qur’an terhadap tingkat kecemasan ibu menghadapi persalinan di Rumah Sakit Siti Khadijah III Makassar. Medika Alkhairaat: Jurnal Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, 1(2), 69-73.

https://doi.org/10.31970/ma.v1i2.30 Perry, S. E., Hockenbarry, M. J.,

Lowdermilk, D. L., & Wilson, D.

(2014). Maternal child nursing care 6th edition. Canada : Elsevier

Purwarini, J., Rustina, Y., & Nasution, Y.

(2016). Lama persalinan kala III dan proses involusi uteri mempengaruhi inisiasi menyusu dini pada ibu post partum. Jurnal Keperawatan Indonesia,

15(2), 97-102.

https://doi.org/10.7454/jki.v15i2.33

Puspita, E & Dwi, K (2016). Asuhan kebidanan masa nifas (post natal care).

Jakarta: Trans Info Media.

Prawirohardjo, S (2014). Ilmu kebidanan sarwono prawirohardjo. Jakarta: PT.

Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sa'diyah, U. N., Purwanti, S., & Syukur, N.

A. (2020). Efektifitas effleurage massage dan teknik counterpressure terhadap tingkat nyeri ibu bersalin kala I fase aktif: Systematic Review.

http://repository.poltekkeskaltim.ac.id/1 032/1/MANUSKRIP%20UMI%20NUR

%20S.pdf.

Taqwin. (2020). Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap intensitas nyeri ibu bersalin kala I fase laten di Praktik Bidan Mandiri Anatapura. Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan, 12(2), 102–108.

https://doi.org/10.33860/jik.v12i2.19 Triwidiyantari, D. (2021). Peran IMD

terhadap kala III persalinan (studi literatur). Jurnal Sehat Masada, 15(1), 169-173.

https://doi.org/10.38037/jsm.v15i1.176 Yuliana, S., & Fauziah, S. F. (2021). Studi

kasus: konsumsi putih telur untuk mempercepat penyembuhan luka perineum. Jurnal Kebidanan, 1(2), 59- 68.

https://www.jurnalpoltekkesmaluku.com /index.php/JBD/article/view/322.

Yulianingsih, E., Porouw, H. S., & Loleh, S.

(2019). Teknik massage

counterpressure terhadap penurunan intensitas nyeri kala l fase aktif pada ibu bersalin di RSUD. Dr. MM Dunda Limboto Kabupaten Gorontalo. Gaster, 17(2), 231-242. http://jurnal.aiska- university.ac.id/index.php/gaster/article/

view/374.

Walyani, E & Purwoastuti, E. (2017). Asuhan kebidanan masa nifas dan menyusui.

Yogyakarta: Pustaka Baru Press

Wati, E., Utami, T., & Triana, N. (2021).

Asuhan Keperawatan pada Ny.W dengan Risiko Infeksi Luka Robekan Perineum Ibu Post Partum di RSUD dr.

(9)

170 R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.

Seminar Nasional Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 324-

329. Retrieved from

https://prosiding.uhb.ac.id/index.php/SN PPKM/article/view/979

Wigati, P. W., & Sari, D. K. (2020). The effect of egg white consumption on the healing process of perineum wounds.

STRADA Jurnal Ilmiah Kesehatan, 9(2), 1285-1290.

https://doi.org/10.30994/sjik.v9i2.458 WHO (2019). Maternal mortality.

Retrieved from

https://www.who.int/news- room/fact- sheets/detail/maternal-mortality

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Anda, apa resiko yang terjadi apabila prosedur sebelum tindakan perawatan gigi tidak dilakukan dengan benar.. Terjadinya infeksi silang

Perawatan organ reproduksi khususnya pelaksanaan vulva hygiene pada remaja putri merupakan salah satu upaya dalam perawatan organ reproduksi yang bertujuan untuk mencegah

Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan vulva hygiene dengan pencegahan infeksi luka perineum pada ibu post partum di Rumah Sakit Pancaran Kasih GMIM Manado,

Setelah dilakukan asuhan keperawatan didapatkan hasil evaluasi subyektif: pasien mengatakan sudah bisa melakukan perawatan perineum dengan benar, obyektif: tidak ada

Perawatan luka perineum pada masa nifas merupakan suatu perilaku yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu dalam masa nifas dimana perawatan luka perineum akan dapat mencegah

Bagi Peneliti Menambah wawasan dengan adanya hasil penelitian baru mengenai pencegahan infeksi luka perineum setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang vulva hygiene pada ibu post

Jalan lahir merupakan yang paling rentan terjadinya infeksi pada masa nifas, untuk mencegah terjadinya infeksi perlu diperhatikan kebersihan perineum khususnya dihari pertama postpartum

Fokus Studi Fokus studi kasus dalam penelitian ini adalah pencegahan infeksi luka perineum pada ibu post partum setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang vulva hygiene dengan