http://jurnal.untan.ac.id/index.php/lk
Nuraya and Sari (2023) 158
Pengaruh Kandungan Nitrat dan Fosfat terhadap Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Sungai Bakau Besar Kabupaten Mempawah
Kalimantan Barat
Effect of Nitrate and Phosphate Content on Fitoplankton Abundance at Bakau Besar River, Mempawah Regency, West Kalimantan
Tia Nuraya1*, Dahlia Wulan Sari1
¹Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, Kubu Raya, Indonesia
*e-mail : [email protected]
Received : 14 December 2022 ; Accepted : 5 October 2023
Published: 31 October 2023 © Author(s) 2023. This article is open access Abstract
Phytoplankton abundance can be affected by nitrate and phosphate content. Nitrate plays a role in the process of protein synthesis in the growth of phytoplankton while phosphate plays a role in the process of growth and metabolism of plankton. This study aimed to analyze the effect of nitrate and phosphate content on phytoplankton abundance. The research was conducted in August - November 2022. Sampling was carried out at 3 research locations, including areas near mangroves (samples in rivers and canals in mangrove forests), areas near fish markets and areas far from the sea. The samples taken were 100 ml water samples for phytoplankton analysis. The results showed that the concentrations of nitrate and phosphate were 0.4 – 3.6 mg/l and 0.94 – 6.3 mg/l, respectively. The highest concentration of nitrate was found in the river area while the highest concentration of phosphate was found at Station 3 which is far from the sea. The highest phytoplankton abundance was at Station 2 which is in the Fish Market with an abundance of 832 ind/l, diversity index (0.31 - 1.84), uniformity index (0.17 - 0.95), and dominance index (0.22 - 0.86). The results of the identification that has been carried out, the diatoms found in the Bakau Besar River consist of 23 genera and are dominated by skletonema sp. From the results of the study showed that the effect of nitrate and phosphate on the abundance of plankton in this study was classified as very low where there were other factors that influenced the abundance of plankton such as temperature, salinity, and pH.
Keywords: Nitrate, Phosphate, Plankton
Abstrak
Kelimpahan fitoplankton dapat dipengaruhi oleh nitrat dan fosfat. Nitrat berperan dalam proses sintesis protein dalam pertumbuhan fitoplankton dan fosfat berperan dalam proses pertumbuhan dan metabolisme fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton. Penelitian dilakukan dibulan Agustus 2022. Pengambilan sampel dilakukan di 3 titik lokasi penelitian yaitu di area dekat mangrove (pengambilan sampel di sungai dan kanal di dalam hutan mangrove), area dekat pasar ikan dan area jauh dari laut. Sampel yang diambil yaitu sampel air sebanyak 100 ml untuk analisis fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi nitrat dan fosfat yaitu 0,4 – 3,6 mg/l dan 0,94 – 6,3 mg/l. Konsentrasi nitrat tertinggi terdapat di area sungai sedangkan kandungan fosfat terbanyak terdapat di Stasiun 3 yang jauh dari laut. Kelimpahan fitoplankton tertinggi di Stasiun 2 yang terletak di Pasar Ikan dengan kelimpahan fitoplankton 832 ind/l, keanekaragaman (0,31 - 1,84), keragaman (0,17 – 0,95), dominansi (0,22 – 0,86). Hasil identifikasi yang telah dilakukan, fitoplankton yang terdapat di Perairan Sungai Bakau Besar terdiri dari 23 genera dan didominasi oleh Skeletonema sp. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton pada penelitian ini tergolong sangat rendah yang mana terdapat faktor lain dalam mempengaruhi kelimpahan plankton.
Kata kunci : Nitrat, Fosfat, Plankton
Nuraya and Sari (2023) 159
1. Pendahuluan
Perairan Sungai Bakau Besar terletak di antara ekosistem mangrove yang mana ekosistem mangrove mempunyai banyak peran baik itu ekologis dan ekonomis.
Perputaran nutrien yang ada di perairan ekosistem mangrove menjadikan ekosistem mangrove kaya akan unsur hara (Muchtar, 2012). Kandungan unsur hara berpengaruh terhadap kelimpahan biota yang ada di dalamnya termasuk plankton. Fitoplankton termasuk jenis plankton yang paling banyak dijumpai di perairan yang berperan sebagai produser primer, sumber makanan, dan mampu mengubah bahan anorganik menjadi organik (Tan dan Ransangan, 2017).
Kelimpahan plankton dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur hara seperti nitrat dan fosfat (Nasir et al., 2018). Salah satu peran nitrat yaitu berperan dalam proses sintesis protein dalam pertumbuhan fitoplankton. Sedangkan fosfat berperan untuk menyediakan unsur hara dalam proses pertumbuhan dan metabolisme dalam kehidupan fitoplankton (Paiki et al., 2018).
Perairan Sungai Bakau Besar terletak tidak jauh dari pemukiman warga sehingga banyak terdapat aktivitas manusia seperti tempat buangan limbah domestik, pertanian, industri, tempat keluar masuknya kapal-kapal kecil untuk menangkap ikan. Banyaknya aktivitas manusia dapat menurunkan kualitas perairan dalam waktu jangka panjang dan dapat menyebabkan terjadinya pencemaran (Handoko et al., 2013). Lingkungan perairan sungai tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan manusia saja, akan tetapi juga pada biota-biota perairan yang terdapat di sungai.
Salah satu diantaranya yaitu fitoplankton.
Limbah dari aktivitas penduduk, baik itu limbah organik maupun limbah anorganik dapat mengubah kadar nutrien di perairan seperti nitrat dan fosfat.
Beberapa penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan plankton sebesar 0,837 yang mana dipengaruhi oleh konsentrasi nitrat dan fosfat sebesar 70,1 % dan 29,9 % dipengaruhi oleh parameter fisis kimia di sekitar lingkungan perairan (Permatasari et al., 2016). Selain itu, diperoleh juga hasil penelitian bahwa
pengaruh antara kandungan nitrat, fosfat dan silikat terhadap kelimpahan plankton adalah kuat dengan nilai negatif, semakin meningkat kandungan nitrat, fosfat, dan silikat maka kelimpahan plankton akan semakin menurun (Putri et al., 2019). Penelitian di daerah Perairan Pandawa menyatakan bahwa kadar nitrat, fosfat, dan silikat memiliki nilai di atas ambang baku mutu KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004 sehingga mengindikasikan terjadinya pengayaan nitrat, fosfat, dan silikat yang dapat memacu pertumbuhan ekosistem biota laut yang ada di Perairan Pandawa (Jeniarti et al., 2021).
Penelitian terkait kandungan nitrat dan fosfat terhadap pengaruh kelimpahan fitoplankton telah banyak dilakukan. Akan tetapi, informasi mengenai terkait kandungan nitrat dan fosfat terhadap pengaruh kelimpahan fitoplankton di Perairan Sungai Desa Bakau Besar Kalimantan Barat masih belum diketahui. Pengaruh yang ditimbulkan dari konsentrasi nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton menjadi salah satu hal yang penting untuk keberlangsungan biota-biota perairan dan dalam kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kandungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton di Perairan Sungai Desa Bakau Besar Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat.
2. Metode
Lokasi penelitian dilakukan di Perairan Sungai Bakau Besar Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat (Gambar 1). Pengambilan sampel dilakukan di 3 area lokasi yaitu di area dekat mangrove (pengambilan sampel di sungai dan kanal di dalam hutan mangrove), dan area dekat pasar ikan dan area jauh dari laut.
2.1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel air dilakukan dengan cara mengambil sampel air sebanyak 100 ml dengan menggunakan botol polyethilen untuk parameter nitrat dan fosfat. Pengambilan sampel dilakukan disiang hari bersamaan dengan pengambilan sampel fitoplankton.
Sampel nitrat dan fosfat kemudian disimpan di dalam cool box selama perjalanan menuju
Nuraya and Sari (2023) 160
laboratorium. Konsentrasi nitrat dan fosfatdilakukan di Laboratorium Kualitas dan Kesehatan Lahan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura menggunakan spectrophotometer 722AP.
Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan pada pukul 11.00 – 15.00 WIB.
Sampel fitoplankton diambil sebanyak 50 liter menggunakan plankton net berukuran 20 µm.
Hasil penyaringan menggunakan plankton net diambil sebanyak 100 ml dan disimpan dalam botol plastik. Sampel fitoplankton selanjutnya dilakukan fiksasi menggunakan larutan lugol lodine sebanyak 2-3 tetes (Faiqoh et al., 2015)
2.2. Analisis Laboratorium
Analisis nitrat dan fosfat dilakukan menggunakan metode spektofotometri (APHA, 1989). Kelimpahan plankton dihitung menggunakan Sedgwick – Rafter, sedangkan identifikasi menggunakan mikroskop Nikon Eclipse E100 perbesaran 10 x 40 dan menggunakan Buku Identifikasi Plankton (Inaba, 2020).
2.3. Pengukuran Parameter Lingkungan
Parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, dan pH dikukur menggunakan termometer alkohol, refraktometer salinity RHS 10 ATC, pH meter ATC.2.4 Analisis Data
Analisis data dilakukan untuk menghitung kelimpahan plankton, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi. Kelimpahan fitoplankton dihitung menggunakan persamaan (Odum, 1993)
𝐍 = 𝐧𝐢 𝐱 𝟏 𝐕𝐝 𝐱𝐕𝐭
𝐕𝐬 Keterangan :
N = Kelimpahan fitoplankton (ind/L) ni = Jumlah spesies fitoplankton yang
teramati (ind)
Vd = Volume air tersaring (L) Vt = Volume sampel (ml)
Vs = Volume sampel di bawah gelas penutup (ml)
Indeks Keanekaragamaan (H’) dihitung menggunakan persamaan Shanon - Wiener (Odum, 1993)
𝐇′ = ∑ 𝐏𝐢 𝐥𝐧 𝐏𝐢 Dimana 𝐏𝐢 =𝐍𝐢
H’ = Indeks Keanekaragaman 𝐍
Ni = Jumlah individu jenis ke-i N = Jumlah individu total
Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel di perairan Sungai Bakau Besar Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat
Nuraya and Sari (2023) 161
Perhitungan indeks keseragaman berdasarkan Odum (1993) yaitu :
𝒆 = 𝐇′
𝐥𝐧 𝐒 e = Indeks keseragaman H’ = Indeks Keanekaragaman
S = Jumlah Jenis
Indeks Dominansi menggunakan perhitungan (Odum, 1993) yaitu :
𝐂 = (𝐍𝐢/𝐍)𝟐 C = Indeks dominansi
Ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu 2.5 Analisis Statistika
Analisis statistika dilakukan untuk mencari hubungan nitrat, fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton. analisis yang digunakan yaitu analisis regresi.
3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Parameter Kualitas Air
Hasil parameter kualitas air yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 1. ST 1 LM
artinya pengambilan sampel air diambil di Sungai, sedangkan ST 1 DM artinya pengambilan sampel di dalam/area mangrove.
Tabel 1. Parameter Kualitas Air No. Parameter
Stasiun ST 1 LM
ST1 DM
ST 2
ST 3 1. Suhu (°C) 28 27 30 29,6 2. Salinitas (ppt) 20 10 30 0
3. pH 8,3 7,6 7,6 6,5
Keterangan:
LM (Luar Mangrove), DM (Dalam Area Mangrove)
Suhu di keempat stasiun penelitian berkisar 27 – 30 °C. Nilai salinitas pada Stasiun 1 luar mangrove bernilai 20 ppt, Stasiun 1 di area mangrove bernilai 10 ppt, Stasiun 2 bernilai 30 ppt serta Stasiun 3 bernilai 0 ppt.
Perbedaan nilai salinitas dari keempat stasiun ini disebabkan karena Stasiun 1 luar mangrove dan Stasiun 2 terletak di dekat lautan yang mana salinitas laut tergolong tinggi, Nilai 0 pada Stasiun 3 disebabkan karena letak Stasiun 3 sangat jauh dengan laut dan dominan perairan air tawar sehingga nilai salinitasnya 0 ppt. Stasiun 1 dalam mangrove bernilai 10 karena pada saat pengukuran terjadi hujan yang mana rendahnya salinitas bisa
Gambar 2. Kandungan nila nitrat dan fospat
0
1 2 3 4 5 6 7
ST 1 DM ST 1 LM ST 2 ST 3
Kandungan Nilai (Mg/l)
Stasiun Penelitian
Kandungan Nitrat Kandungan Fosfat
Nuraya and Sari (2023) 162
disebabkan adanya masukan dari curah hujan.Nilai pH pada Stasiun 1 luar mangrove bernilai 8,3 tergolong kategori basa, Stasiun 1 dalam mangrove dan Stasiun 2 bernilai sama yaitu 7,6 sedangkan Stasiun 3 bernilai 6,5 atau tergolong kategori asam.
3.2. Kandungan Nitrat dan Fosfat
Hasil nitrat dan fosfat yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil menunjukkan bahwa nilai nitrat berkisar antara 0,4 – 3,6 mg/l. Pertumbuhan optimal fitoplankton memerlukan kandungan nitrat pada kisaran 0,9 – 3,5 mg/l (Permatasari et al., 2016). Nilai nitrat tertinggi terdapat di Stasiun 1 Luar Mangrove dengan nilai 3,6 mg/l
sedangkan terendah terdapat pada Stasiun 3
yaitu 0,4 mg/l. Tingginya nilai nitrat di Stasiun 1 luar mangrove karena letaknya di daerah estuari. Adanya masukan dari daratan dan mangrove membuat nilai nitrat menjadi tinggi.
Hal ini sesuai dengan pernyataan dari (Permatasari et al., 2016) bahwa kadar nitrat semakin tinggi bila kedalaman bertambah, sedangkan untuk distribusi horizontal kadar nitrat semakin tinggi menuju ke arah pantai.
Pada Stasiun 3 nilai nitrat rendah dikarenakan pada Stasiun 3 tidak ada rumah penduduk, sehingga tidak adanya buangan limbah domestik yang dapat meningkatkan konsentrasi nitrat. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Nurhasanah, 2018) rendahnya
konsentrasi nitrat disebabkan masukan suplai Tabel 2. Kelimpahan Fitoplankton
Spesies ST1
DM ST1 LM ST2 ST3
Amphiprora sp. 16
Bacteriastrum sp. 8
Cerataulina sp. 8
Chaetoceros sp. 8
Chlorella sp. 8 128
Coscinodiscus sp. 24 8 24 32
Cyclotella sp. 24 16
Diploneis sp. 8
Ditylum sp. 8
Euglena sp 8 8
Leptocylindrus sp. 8
Melosira sp. 16
Naviculla sp. 16
Nitzschia sp. 8
Odontella sp. 16
Peridinium sp. 8
Pleurosigma sp. 32 24 16
Proboscia sp. 8
Prorocentrum sp. 8
Rhizosolenia sp. 8
Skeletonema sp. 672 696
Staurastrum sp 8
Trachelomonas sp. 8 8
Kelimpahan (ind/L) 120 712 840 224
Jumlah Spesies 7 6 13 9
Nuraya and Sari (2023) 163
nutrien nitrat sedikit dan jaraknya yang jauh dari pemukiman penduduk.
Nilai fosfat yang diperoleh berkisar antara 0,94 – 6,3 mg/l. Nilai fosfat tertinggi terdapat di Stasiun 3 dengan nilai 6,3 mg/l sedangkan terendah terdapat pada Stasiun 2 yaitu 0,94 mg/l. Hal ini disebabkan karena di daerah tersebut perairannya dangkal, yang mana berdasarkan penelitian (Permatasari et al., 2016) menyatakan bahwa kadar fosfat akan tinggi di perairan yang dangkal disebabkan arus dan pengadukan massa air yang mengakibatkan terangkatnya kandungan fosfat yang tinggi dari dasar ke lapisan permukaan. Selain itu, di Stasiun 3 nilai nitrat paling sedikit sehingga fosfat menjadi parameter yang mempengaruhi di Stasiun tersebut.
3.3. Jenis dan Kelimpahan Plankton
Hasil kelimpahan fitoplankton yang diperoleh di setiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 2. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat di Stasiun 2 dengan nilai 832 ind/l sedangkan terendah terdapat di Stasiun 1 area mangrove yaitu 120 ind/l. Diatom yang terlihat pada setiap stasiun yaitu Skeletonema sp. Hal
ini disebabkan karena Skeletonema sp. mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang luas.
3.4. Indeks Keanekaragaman, Keragaman, dan Dominansi
Indeks Keanekaragaman, Keragaman, dan Dominasi ditunjukkan pada Gambar 3.
Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan, diatom yang terdapat di Perairan Sungai Bakau Besar terdiri dari 23 genera.
Kelimpahan diatom tiap stasiun pada Perairan Sungai Bakau Besar berkisar antara 120 - 832 ind/l. Nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,31 – 1,84. Nilai indeks keseragaman berkisar antara 0,17 – 0,95. Indeks dominansi yang diperoleh berkisar antara 0,22 – 0,86.
Nilai indeks keanekaragaman pada Stasiun 1 di area mangrove yaitu 1,8 tergolong rendah.
Stasiun 2 bernilai 0,8 tergolong rendah dan Stasiun 3 bernilai 1,34 tergolong sedang. Hal tersebut didasarkan pada pernyataan (Odum, 1993) bahwa kisaran nilai indeks keanekaragaman 0-1 menunjukkan bahwa daerah tersebut dipengaruhi oleh faktor ekologis yang tinggi. Berdasarkan pernyataan Muniz & Venturini (2015) keanekaragaman yang rendah juga dapat dipengaruhi oleh ketidakstabilan nilai salinitas. Kisaran 1-3 menunjukkan indeks keanekaragaman sedang.
Nilai indeks keseragaman pada keempat stasiun tersebut berkisar dari 0,17 – 0,95. Hasil tersebut menandakan bahwa setiap jenis
Gambar 3. Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi 0
0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 2
ST 1DM ST 1LM ST 2 ST 3
Indeks Nilai
Stasiun Penelitian
Keanekaragaman (H') Keragaman (E) Dominansi (D)
Nuraya and Sari (2023) 164
diatom tergolong merata. Apabilakeseragaman mendekati nol, berarti keseragaman antar spesies di dalam komunitas tergolong rendah dan sebaliknya keseragaman yang mendekati nilai satu dapat dikatakan keseragaman antar spesies tergolong merata atau sama (Pirzan et al., 2017).
Nilai indeks dominansi pada semua stasiun pengamatan menunjukkan nilai mendekati nol (0), nilai tersebut menunjukkan bahwa tidak ada jenis diatom yang mendominasi pada lokasi sampling. Apabila nilai dominansi mendekati nilai 1 berarti di dalam komunitas terdapat spesies yang mendominansi spesies lainnya, sebaliknya apabila mendekati nilai 0 berarti di dalam struktur komunitas tidak terdapat spesies yang secara ekstrem mendominasi spesies lainnya (Basmi, 2000).
3.5. Pengaruh Nitrat dan Fosfat terhadap Kelimpahan Fitoplankton
Hasil analisis didapat melalui analisis regresi (Gambar 4) dengan nilai koefisien korelasi (R) antara nitrat terhadap kelimpahan plankton yaitu sebesar 0,02 yang berarti hubungan sangat rendah. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,0007 nilai ini menunjukkan sebesar 0,07 % kelimpahan
diatom dipengaruhi oleh konsentrasi nitrat, sisanya sebesar 99,93% dipengaruhi oleh faktor lain seperti suhu, salinitas, dan pH.
Hubungan fosfat terhadap kelimpahan plankton mempunyai nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,2 yang berarti hubungan fosfat terhadap kelimpahan diatom dikategorikan berhubungan sangat rendah. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,045 nilai ini menunjukkan sebesar 4,5 % kelimpahan diatom dipengaruhi oleh konsentrasi fosfat, sisanya sebesar 95,5% dipengaruhi oleh faktor lain. Kandungan unsur hara nitrat dan fosfat dapat mempengaruhi keberadaan fitoplankton karena unsur hara tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya (Azis, 2020). Kelimpahan fitoplankton sangat berhubungan dengan kandungan nutrien seperti nitrat dan fosfat.
Kandungan nutrien dapat mempengaruhi kelimpahan fitoplankton dan sebaliknya fitoplankton yang padat dapat menurunkan kandungan nutrien dalam air.
4. Kesimpulan
Pengaruh nitrat dan fospat terhadap kelimpahan plankton pada penelitian ini tergolong sangat rendah yang mana terdapat
R² = 0,045
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
0 2 4 6 8
Kelimpahan Plankton (ind/l)
Fosfat (mg/l) R² = 0,0007
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
0 2 4 6 8
kelimpahan Plankton (ind/l)
Nitrat (mg/l)
A B
Gambar 4. (A) Hubungan Kelimpahan Plankton terhadap Nitrat ; (B) Hubungan Kelimpahan Plankton
Nuraya and Sari (2023) 165
faktor lain dalam mempengaruhi kelimpahan plankton.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan telah mendanai penelitian ini.
Daftar Pustaka
[APHA] American Public Health Association.
1989. Standard methods for the Examination of Water and Waste Water.
American Public Health Association (APHA). American Water Works Association (AWWA) and Water Pollution Control Federation (WPCF). 17th ed.
Washington. 1193 hlm.
Azis, A., W. Nurgayah, and Salwiyah. 2020.
Hubungan Kualitas Perairan Perairan dengan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Koeno, Kecamatan Palangga Selatan, Kabupaten Konawe Selatan.
Jurnal Sapa Laut, 5(3): 221-234.
Basmi, J. 2000. Planktonologi: Sebagai Indikator Pencemaran Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Handoko, M. Yusuf, and S.Y. Wulandari. 2013.
Sebaran Nitrat dan Fospat Dalam Kaitannya dengan Kelimpahan Fitoplankton di Kepulauan Karimunjawa.
Buletin Oseanografi Marina, 2: 48-53.
Jeniarti M., I. Periwira, and I. Negara. 2021.
Kandungan Nitrat, Fospat, dan Silikat di Perairan Pantai Pandawa, Bali. Current Trends in Aquatic Science IV (2): 193-198 Muchtar, M. 2012. Distribusi Zat Hara Fospat,
Nitrat dan Silikat di Perairan Kepulauan Natuna. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 4(2):304-317.
Nasir, A., M.A. Baiduri, and Hasniar. 2018.
Nutrien N-P di Perairan Pesisir Pangkep, Sulawesi Selatan. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 10(1):135-141.
http://dx.doi.org/10.29244/jitkt.v10i1.1 8780
Nurhasanah., S.H. Siregar, and I. Nurrachmi.
2018. Hubungan Kelimpahan Diatom Epipelik dengan Konsentrasi Nitrat, Fospat dan Silikat di Zona Intertidal Perairan Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara Provinsi
Sumatera Utara. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi Ketiga (Diterjemahkan Oleh T. Samingan).
Gajah Mada University. Yogyakarta. 697 hlm.
Paiki, K., J.D. Kalor, E. Indrayani, and L. Dimara.
2018. Distribusi Kelimpahan dan Keanekaragaman Zooplankton di Perairan Pesisir Yapen Timur, Papua. Maspari Journal, 10(2): 199–205.
Permatasari R, Djuwito, and Irwani. 2016.
Pengaruh kandungan nitrat dan fospat terhadap kelimpahan diatom di muara sungai wulan, demak. Journal of maquare.
5(4): 224 – 232
Pirzan, A.M.M, M. Utojo, A. Atmomarso, Tjaronge, Tangko, and Hasnawi. 2005.
Potensi Lahan Budidaya Tambak dan Laut di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.
11(5): 43-50.
Putri WA, Purwiyanto, Fauziyah, F. Agustriani, and Y. Suteja. 2019. Kondisi nitrat, nitrit, amonia, fospat dan bod di muara sungai banyuasin, sumatera selatan. Jurnal ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 11 (1): 65 – 74
Tan, K.S. and J. Ransangan. 2017. Effects of nutrients and zooplankton on the phytoplankton community structure in Marudu Bay. Estuarine, Coastal and Shelf Science 194: 16-29.
Yamaji, I. 1986. Illustrations of The Marine Plankton of Japan. Hoikusha, Japan.