• Tidak ada hasil yang ditemukan

1) Retribusi Pelayanan Kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "1) Retribusi Pelayanan Kesehatan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

9 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Retribusi Daerah (Variabel Penelitian X1)

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, “Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan”.

Menurut Halim dkk (2014:3), “Retribusi adalah pembayaran rakyat untuk negara sehubungan dengan penggunaan atau pemanfaatan jasa-jasa yang disediakan oleh negara”.

Resmi (2014:2) mengungkapkan bahwa “Retribusi adalah pungutan yang dikenakan sehubungan dengan suatu jasa atau fasilitas yang diberikan oleh pemerintah secara langsung dan nyata kepada pembayar. Contohnya parkir, pasar, jalan tol, dan lain-lain”.

Objek Retribusi Daerah

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 108, Objek Retribusi Daerah terdiri dari :

1. Retribusi Jasa Umum

Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.

Jenis Retribusi Jasa Umum :

1) Retribusi Pelayanan Kesehatan;

2) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;

3) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akte;

4) Retribusi Pelayanan Pasar;

5) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;

6) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran;

7) Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta;

8) Retribusi Pengolahan Limbah Cair;

9) Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang adalah : 10) Retribusi Pelayanan Pendidikan;

11) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.

(2)

2. Retribusi Jasa Usaha

Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi :

pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan Daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal; dan/atau pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta

Jenis Retribusi Jasa Usaha :

1) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah;

2) Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan;

3) Retribusi Tempat Pelelangan;

4) Retribusi Terminal;

5) Retribusi Tempat Khusus Parkir;

6) Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa;

7) Retribusi Rumah Potong Hewan;

8) Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan;

9) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga;

10) Retribusi Penyeberangan di Air; dan

11) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.

3. Retribusi Perizinan Tertentu

Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.

Jenis-Jenis Retribusi Perizinan Tertentu :

1) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan;

2) Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol;

3) Retribusi Izin Gangguan;

4) Retribusi Izin Trayek;

5) Retribusi Izin Usaha Perikanan.

Kriteria Retribusi

Menurut UU No. 8 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, kriteria retribusi adalah sebagai berikut :

1. Retribusi Jasa Umum

1) Retribusi Jasa Umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Usaha atau Retribusi Perizinan Tertentu;

2) Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi;

3) Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau Badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum;

4) Jasa tersebut hanya diberikan kepada orang pribadi atau Badan yang membayar retribusi dengan memberikan keringanan bagi masyarakat yang tidak mampu;

5) Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai

(3)

penyelenggaraannya;

6) Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah yang potensial; dan

7) Pemungutan Retribusi memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih baik.

2. Retribusi Jasa Usaha

1) Retribusi Jasa Usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa Umum atau Retribusi Perizinan Tertentu; dan 2) Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang

seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya hartayang dimiliki/dikuasai Daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh Pemerintah Daerah.

3. Retribusi Perizinan Tertentu:

1) Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka asas desentralisasi;

2) Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum; dan

3) Biaya yang menjadi beban Daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan;

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa Retribusi Daerah adalah pungutan daerah yang dikenakan kepada orang pribadi atau badan berdasarkan objek dan kriteria tertentu sesuai dengan Undang-Undang No.8 Tahun 2009 sehubungan dengan pemanfaatan jasa atau fasilitas pemerintah secara langsung

Perhitungan Retribusi Daerah :

2.2 Dana Alokasi Umum (Variabel Penelitian X2)

Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah “Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disingkat DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi”.

Rasio Retribusi Daerah = Total Retribusi Daerah

Total Pendapatan Daerah x 100 %

(4)

Menurut Halim (2017:127), “Dana Alokasi Umum adalah transfer yang bersifat “block grant”, sehingga pemerintah daerah mempunyai keluluasaan di dalam penggunaan DAU sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masing-masing daerah”.

Menurut Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Negara (2016), “Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu transfer dana pemerintah kepada pemerintah daerah yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana transfer yang dialokasikan dari APBN dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai setiap pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Perhitungan Rasio Dana Alokasi Umum

2.3 Dana Alokasi Khusus (Variabel Penelitian X3)

Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, “Dana Alokasi Khusus selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional”.

Menurut UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, “Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untu membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah”.

Halim (2017:139) mengungkapkan bahwa :

Rasio Dana Alokasi Umum = Total Dana Alokasi Umum Total Pendapatan Daerah

x 100 %

(5)

“Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. DAK dialokasikan untuk membantu daerah mendanai kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang merupakan prioritas nasional”.

Arah Kegiatan DAK

Bidang-bidang yang menjadi arah kegiatan DAK menurut Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan tahun 2016 sebagai berikut :

1. Bidang Pendidikan. DAK dialokasikan untuk mendukung program penuntasan wajib belajar 12 tahun yang bermutu dan merata.

2. Bidang Kesehatan. DAK dialokasikan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang difokuskan pada penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak, penanggulangan masalah gizi, serta pencegahan penyakit dan penyehatan lingkungan terutama untuk penduduk miskin dan penduduk di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan dan daerah bermasalah kesehatan.

3. Bidang Infrastruktur Jalan. DAK dialokasikan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja pelayanan prasarana jalan provinsi, kabupaten dan kota serta menunjang aksebilitas keterhubungan wilayah dalam mendukung pengembangan koridor ekonomi wilayah/kawasan.

4. Bidang Infrastruktur Irigasi. DAK dialokasikan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja layanan jaringan irigasi/rawa yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi/kabupaten/kota dalam rangka mendukung pemenuhan sasaran prioritas nasional di bidang ketahanan pangan.

5. Bidang Infrastruktur Air Minum. DAK dialokasikan untuk meningkatkan cakupan pelayanan air dalam rangka percepatan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs), yaitu penyediaan air minum di kawasan perkotaan dan perdesaan termasuk daerah tertinggal.

6. Bidang Infrastruktur Sanitasi. DAK dialokasikan untuk meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan sanitasi, terutama dalam pengelolaan air limbah dan persampahan secara komunal/terdesentralisasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

7. Bidang Prasarana Pemerintahan Desa. DAK dialokasikan untuk meningkatkan kinerja pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pelayanan publik, yang diprioritaskan kepada daerah pemekaran dan daerah tertinggal.

8. Bidang Sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan. DAK dialokasikan untuk mendukung kebijakan pembangunan kawasan perbatasan untuk mengatasi keterisolasian wilayah yang dapat menghambat upaya pengamanan batas wilayah, pelayanan sosial dasar, serta pengembangan kegiatan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

9. Bidang Kelautan dan Perikanan. DAK dialokasikan untuk sarana prasarana produksi, pengolahan, mutu, pemasaran, pengawasan, penyuluhan, data statistik untuk mendukkung industrialisasi, serta penyediaan sarpras terkait

(6)

pengembangan kelautan dan perikanan di pulau-pulau kecil.

10. Bidang Pertanian. DAK dialokasikan untuk mengembangkan sarana dan prasarana air, lahan, pembangunan dan rehabilitasi balai penyuluhan pertanian serta pengembangan lumbung masyarakat untuk meningkatkan produksi bahan pangan.

11. Bidang Keluarga Berencana. DAK dialokasikan untuk mendukung kebijakan peningkatan akses dan kualitas pelayanan keluarga berencana yang merata melalui berbagai program dan kegiatan.

12. Bidang Kehutanan. DAK dialokasikan untuk peningkatan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) terutama di daerah hulu dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan daya dukung wilayah.

13. Bidang Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal. DAK dialokasikan untuk mendukung kebijakan pembanguan daerah tertinggal.

14. Bidang Sarana Pedagangan. DAK dialokasikan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana perdagangan untuk mendukung pasokan dan ketersediaan barang sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakat, terutama di daerah tertinggal, perbatasan, daerah pemekaran, dan daerah yang minim sarana perdagangan.

15. Bidang Energi Pedesaan. DAK dialokasikan untuk memanfaatkan sumber energi terbaru setempat untuk meningkatkan akses masyarakat pedesaan, termasuk masyarakat di daerah tertinggal dan kawasan perbatasan terhadap energi modern.

16. Bidang Perumahan dan Pemukiman. DAK dialokasikan untuk meningkatkan penyediaan sarana, prasarana, utilitas perumahan dan kawasan pemukiman dalam rangka menstimulan pembangunan perumahan dan pemukiman.

17. Bidang Keselamatan Transportasi Darat. DAK dialokasikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, terutama keselamatan bagi penggunan transportasi jalan guna menurunkan tingkat fatalitas (korban meninggal dunia) akibat kecelakaan lalu lintas.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana transfer yang dialokasikan dari APBN kepada daerah tertentu untuk membiayai kegiatan yang sifatnya khusus dan merupakan prioritas nasional yang menjadi kewenangan daerah.

Perhitungan Rasio Dana Alokasi Khusus

2.4 Dana Bagi Hasil (Variabel Penelitian X4)

Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, “Dana Bagi Hasil adalah dana yang

Rasio Dana Alokasi Khusus = Total Dana Alokasi Khusus Total Pendapatan Daerah

x 100 %

(7)

bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi”.

Menurut UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, “Dana Bagi Hasil yang selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada Daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan anatara Pemerintah Pusat dan Daerah.”

Menurut Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Negara (2017) :

“Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Tujuan DBH adalah untuk memperbaiki keseimbangan vertikal antara pusat dan daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil”.

Komponen Dana Bagi Hasil :

Dana Bagi Hasil menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pasal 11:

1. Penerimaan Pajak

1) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Penerimaan negara dari pajak bumi dan bangunan dibagi dengan imbalan 10% untuk pemerintah pusat dan 90% untuk daerah. Dana bagi hasil PBB untuk daerah sebesar 90% sebagaimana dimaksud diatas dibagi dengan rincian sebagai berikut:

a. 16,2 % untuk daerah provinsi yang bersangkutan.

b. 64,8% untuk kabupaten/kota yang bersangkutan c. 9% untuk biaya pemungutan.

Selanjutnya 10% penerimaan pajak bumi dan bangunan bagian pemerintah pusat sebagaimana pembagian diatas dialokasikan kepada seluruh kabupaten dan kota dengan rincian sebagai berikut :

a. 6,5% dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota.

b. 3,5% dibagikan secara intensif kepada kabupaten dan atau kota yang direalisasi penerimaan pajak bumi dan bangunan sektor perdesaaan dan perkotaan sebelumnya mencapai atau melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.

2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Penerimaan negara dari bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dibagi dengan imbalan 20% untuk pemerintah pusat 80% untuk pemerintah daerah. DBH BPHTB untuk pemerintah daerah 80% dibagi dengan rincian:

(8)

a. 16% untuk provinsi yang bersangkutan.

b. 64% untuk daerah atau kota yang bersangkutan.

Selanjutnya bagian pemerintah pusat 20% dialokasikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.

3) Pajak Penghasilan PPh Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21

DBH dari penerimaan PPh pasal 25 dan pasal 29 wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21 yang merupakan bagian dari daerah adalah sebesar 20% dengan rincian:

a. 60% untuk daerah dan kota.

b. 40% untuk provinsi.

2. Penerimaan Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) 1) Sektor Kehutanan

Penerimaan kehutanan yang berasal dari penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang dihasilkan dari daerah yang bersangkutan dibagi imbalan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah. Penerimaan kehutanan yang berasal dari dana reboisasi dibagi dengan imbangan sebesar 60% untuk pemerintah dan 40% untuk daerah.

2) Sektor Pertambangan Umum

Penerimaan pertambangan umum yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan, dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah.

3) Sektor Pertambangan Minyak Bumi

Penerimaan sektor pertambangan minyak bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan 84,5% untuk pemerintah dan 15,5% untuk daerah.

4) Sektor Pertambangan Gas Bumi

Penerimaan pertambangan gas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi dengan komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan 69,5% untuk pemerintah dan 30,5% untuk daerah.

5) Sektor Perikanan

Penerimaan perikanan yang diterima secara nasional dibagi dengan perimbangan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah.

6) Sektor Pertambangan Panas Bumi

Pertambangan panas bumi yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan yang merupakan penerimaan negara bukan pajak, dibagi dengan imbangan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk daerah.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa bahwa Dana Bagi Hasil adalah dana APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu berupa dana bagi hasil pajak dan dana bagi hasil sumber daya alam untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan Pemerintah Pusat dan

(9)

Pemerintah Daerah.

Perhitungan Rasio Dana Bagi Hasil :

2.5 Belanja Modal (Variabel Penelitian X5)

Menurut PP No. 71 Tahun 2010, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan 03 tentang Laporan Realisasi Anggaran Paragraf 37, “Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan, aset tak berwujud”.

Menurut Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 54 Ayat 1, “Belanja Modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.”

Menurut Halim (2017:214), Belanja Modal merupakan belanja yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara rill. Infrastuktur yang dibiayai dengan belanja modal nantinya akan mempercepat roda perekonomian sehingga kegiatan perekonomian dapat dilakukan dengan lancar dikarenakan distribusi barang dan jasa dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Komponen Belanja Modal

Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 65 mengelompokkan belanja modal sebagai berikut :

1. Belanja tanah, digunakan untuk menganggarkan tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap dipakai;

2. Belanja peralatan dan mesin, digunakan untuk menganggarkan peralatan dan mesin mencakup mesin dan kendaraan bermotor, alat elektronik, inventaris Rasio Dana Bagi Hasil = Total Dana Bagi Hasil

Total Pendapatan Daerah x 100 %

(10)

kantor, dan peralatan lainnya yang nilainya signiifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan dan dalam kondisi siap pakai;

3. Belanja bangunan dan gedung, digunakan untuk menganggarkan gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap dipakai;

4. Belanja jalan, irigasi dan jaringan, digunakan untuk menganggarkan jalan, irigasi dan jaringan yang dibangun oleh Pemerintah Daerah serta memiliki dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Daerah dan dalam konsidi siap dipakai;

5. Belanja aset tetap lainnya, digunakan untuk menganggarkan aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional Pemerintah Daerah dan dalam kondisi siap dipakai.

6. Belanja aset lainnya, digunakan untuk menganggarkan aset tetap yang tidak digunakan untuk keperluan operasional Pemerintah Daerah, tidak memenuhi definisi aset tetap, dan harus disajikan di pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa belanja modal adalah pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai belanja aset yang memiliki masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk dimanfaatkan secara jangka panjang baik untuk kegiatan operasional pemerintahan maupun pembangunan infrastruktur guna meningkatkan roda perekonomian.

Perhitungan Rasio Belanja Modal

2.6 Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah (Variabel Penelitian Y)

Menurut Halim dan Kusufi (2014:277), “Kemandirian Keuangan Daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah”.

Mahmudi (2016:140) mengungkapkan bahwa, “Rasio kemandirian keuangan daerah dihitung dengan cara membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi dengan jumlah pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi serta pinjaman daerah”.

Rasio Dana Alokasi Umum = Total Belanja Modal Total Belanja Daerah

x 100 %

(11)

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disintesakan bahwa Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah adalah kemampuan suatu Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota/Provinsi dalam membiayai sendiri pengeluarannya yang baik itu yang sifatnya kegiatan pemerintahan, pembangunan maupun sarana dan prasarana publik. Besar atau kecilnya tingkat keandirian keuangan suatu daerah dapat dilihat dari besar kecilnya Pendapatan Asli Daerah dibandingkan dengan pendapatan transfer pemerintah pusat. Rumus Rasio Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah :

Tabel 2.1.6

Kriteria Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Kemampuan Keuangan Kemandirian (%)

Rendah Sekali 0% - 25%

Rendah 25% - 50%

Sedang 50% - 75%

Tinggi 75% - 100%

Sumber : Mahsun, 2016 (dalam Ernawati dan Riharjo (2017)

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No. Nama/Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

1 Eve Ida Malau, Eka Pratiwi Septania Parapat /

Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal Terhadap Kemandirian Keuangan Daerah

X5 : Belanja Modal Y :

Kemandirian Keuangan Daerah

X1 : Retribusi Daerah X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus X4 : Dana Bagi Hasil

Belanja modal berpengaruh negatif terhadap kemandirian keuangan daerah.

Rasio Kemandirian Daerah

Pendapatan Asli Daerah Transfer Pusat + Provinsi + Pinjaman

= x 100 %

(12)

No. Nama/Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

Jurnal EK&BI (Ekonomi dan Bisnis Islam) Volume 3 No. 2 (2020)

Sekolah Tinggi Akuntansi dan Manajemen

P-ISSN : 2620 – 7443 E-ISSN : 2621-4695

2 Afifah Fauziah Amalia N, Haryanto / Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Belanja Modal Terhadap Tingkat

Kemandirian Keuangan Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012- 2017

Diponegoro Journal of Accounting Volume 8, No.

2, hal 1-13 (2019)

Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro ISSN (Online) : 2337- 3806.

X2 : Dana Alokasi Umum X5 : Belanja Modal

X1 : Retribusi Daerah X3 : Dana Alokasi Khusus X4 : Dana Bagi Hasil

DAU berpengaruh signifikan negatif terhadap terhadap tingkat

kemandirian keuangan daerah.

Belanja modal tidak berpengaruh signifikan

terhadap terhadap tingkat

3 Maya Novitasari dan Lita Novitasari / Pengaruh Pajak, Retribusi, Dana Bagi Hasil, Belanja Modal, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemandirian Keuangan Daerah

Inventory : Jurnal Akuntansi Vol. 3 No. 2 Oktober 2019

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Madiun

ISSN : 2597-7202 E-ISSN: 2613-912X

X1 : Retribusi Daerah

X4 : Dana Bagi Hasil

X5 : Belanja Modal Y :

Kemandirian Keuangan Daerah

X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus

Retribusi berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah.

DBH tidak berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah.

Belanja modal berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah.

(13)

No. Nama/Judul Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian

4 Aryadhani Prasetyo dan Dewi Rahayu / Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil dan Fiscal Stress terhadap Tingkat

Kemandirian di Provinsi Kalimantan Selatan

: JIEP : Jurnal Ilmu Ekonomi dan Pembangunan Vol.2 No. 4 Tahun 2019 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat

E-ISSN : 2746-3249

X2 : Dana Alokasi Umum X4 : Dana Bagi Hasil

Y : Tingkat Kemandirian

X1 : Retribusi Daerah X3 : Dana Alokasi Khusus X5 : Belanja Modal

DAU tidak berpengaruh terhadap Tingkat Kemandiriann

DBH berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Tingkat Kemandirian

5 Nurafni Kustianingsih, Muslimin dan Abdul Kahar / Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus Terhadap Kemandirian Keuangan Daerah Pemerintah

Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Tengah

Katalogis, Volume 6 No. 6, hal. 82-91 (2018)

Magister Manajemen Program Pascasarjana Universitas Tadulako ISSN: 2302-2019

X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus Y :

Kemandirian Keuangan Daerah

X1 : Retribusi Daerah

X4 : Dana Bagi Hasil

X5 : Belanja Modal

DAU berpengaruh signifikan negatif terhadap

kemandirian keuangan daerah.

DAK berpengaruh signifikan negatif terhadap

kemandirian keuangan daerah

6 Ernawati dan Ikhsan Budi Riharjo / Pengaruh Kinerja Pendapatan Asli Daerah dan Belanja Modal Terhadap Kemandirian Keuangan

Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi Volume 6 No. 2 (2017)

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya ISSN : 2460-0585

X5 : Belanja Modal Y : Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

X1 : Retribusi Daerah X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus X4 : Dana Bagi Hasil

Belanja modal berpengaruh positif terhadap kemandirian keuangan daerah

(14)

7 Dian Budi Susanti, Sri Rahayu, Siska P. Yudowati / Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah (Studi Pada

Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Tahun 2010- 2014).

e-Proceeding of

Management Volume 3 No.

3 hal. 3308 (2016) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Telkom ISSN : 2355-9375

X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus Y : Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

X1 : Retribusi Daerah

X4 : Dana Bagi Hasil

X5 : Belanja Modal

DAU berpengaruh positif terhadap kemandirian keuangan daerah.

DAK tidak berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah

8 Rizka Lutfita Novalistia / Pengaruh Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah dan Dana Bagi Hasil Pajak Terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur

Journal Of Accounting Volume 2 No. 2 Maret 2016, Universitas Pandanaran Semarang E-ISSN : 2502-7697

X1 : Retribusi Daerah

X4 : Dana Bagi Hasil

Y : Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

X2 : Dana Alokasi Umum X3 : Dana Alokasi Khusus X5 : Belanja Modal

Retribusi tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.

DBH berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.

(15)

2.3 Kerangka Berpikir

Hardani, dkk (2020:321) menjelaskan bahwa kerangka berpikir adalah sebuah model atau gambaran yang berupa konsep yang didalamnya menjelaskan tentang hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya.

Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran

Sumber : Data yang diolah, 2021.

Keterangan :

H1

H4

H5 H3 H2 Retribusi Daerah (X1)

Dana Alokasi Umum (X2)

Dana Alokasi Khusus (X3)

Dana Bagi Hasil (X4)

Belanja Modal (X5)

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah (Y)

H6

: Secara Parsial : Secara Simultan

(16)

2.4 Hipotesis

Sugiyono (2017:63) menjelaskan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.

2.4.1 Pengaruh Retribusi Daerah terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, retribusi adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Kemandirian dapat tercipta apabila suatu daerah memiliki tingkat ketergantungan yang rendah terhadap dana transfer pemerintah pusat. Hal ini ditandai dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dimana Retribusi Daerah yang merupakan salah satu komponen di dalamnya. Oleh karena itu, peningkatan Retribusi Daerah tentu akan berpengaruh terhadap besaran jumlah PAD dan tingkat kemandirian suatu daerah.

H1 : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Retribusi Daerah terhadap

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara parsial.

2.4.2 Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Dana Alokasi Umum sesuai dengan UU No. 33 Tahun 2004, merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. Meski sifatnya pendapatan, namun kontribusi DAU yang terlalu besar dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah tanpa diiringi dengan pemanfaatan secara optimal maka akan menciptakan ketergantungan terhadap DAU. Namun di sisi lain, jika dimanfaatkan secara baik dan benar untuk pembangunan masyarakat, maka DAU dapat meningkatkan perekonomian dan meningkatkan kemandirian keuangan daerah.

H2 : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Dana Alokasi Umum

terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara parsial.

(17)

2.4.3 Pengaruh Dana Alokasi Khusus terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Sejalan dengan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Dana Alokasi Khusus dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya pembangunan sarana dan prasarana di suatu daerah yang belum mencapai standar tertentu ataupun untuk meningkatkan pembangunan daerah. DAK memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah dengan kemampuan mengintervensi belanja daerah agar sesuai dengan kepentingan pemerintah pusat sehingga dapat terjadi harmonisasi dalam tujuan pembangunan. Besarnya DAK tidak selalu berdampak pada menurunnya tingkat kemandirian suatu daerah. Menurut Kustianingsih, Muslimin dan Kahar (2018) jika dikelola dengan baik dan benar, DAK yang secara khusus digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana fisik ini dapat membantu menanggulangi kemiskinan dan secara umum dapat digunakan untuk membangun perekonomian nasional.

H3 : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Dana Alokasi Khusus

terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara parsial.

2.4.4 Pengaruh Dana Bagi Hasil terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Menurut UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan tertentu APBN yang dialokasikan kepada daerah penghasil berdasarkan angka persentase tertentu dengan tujuan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dana bagi hasil temasuk ke dalam jenis dana perimbangan. Menurut Novalistia (2016), semakin tinggi suatu daerah mendapat DBH, maka akan meningkatkan kemampuan keuangan daerah dan meningkatkan kemandirian keuangan daerah.

H4 : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Dana Bagi Hasil terhadap

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara parsial.

(18)

2.4.5 Pengaruh Belanja Modal terhadap Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Belanja modal sesuai dengan PP No. 71 Tahun 2010, Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan 03 tentang Laporan Realisasi Anggaran Paragraf 37, belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntans. Belanja modal biasanya memiliki nominal yang besar dikarenakan belanja ini diperuntukan untuk pembelian tanah, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan. Belanja modal berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah, dimana besaran belanja modal akan ikut berpengaruh terhadap besaran nominal belanja daerah. Besarnya belanja daerah akan bergantung kepada cara pemenuhan kebutuhan belanja tersebut dan apabila tidak mampu dipenuhi dengan PAD maka transfer adalah salah satu cara pemenuhannya.

Namun di sisi lain, belanja modal mempunyai perananan yang strategis.

Dikatakan strategis, karena belanja modal merupakan investasi jangka panjang pemerintah terutama yang sifatnya pembangunan infrastruktur dan peningkatan sarana dan prasarana publik. Menurut Ernawati dan Riharjo (2017), belanja modal berpengaruh positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah yang artinya apabila belanja modal meningkat maka kemandirian keuangan daerah akan meningkat. Semakin baik insfrastruktur dan sarana prasarana publik yang ada maka akan meningkatkan kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat yang pada akhirnya akan berdampak pada tingkat kemandirian keuangan daerah.

H5 : Diduga terdapat pengaruh positif dan signifikan Belanja Modal terhadap

Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah secara parsial.

Referensi

Dokumen terkait

selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus

Dana alokasi umum, yang selanjutnya disingkat DAU, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan

Dana alokasi umum, yang selanjutnya disingkat DAU, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan

a) Dana Bagi Hasil yang selanjutnya disingkat DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APB N yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase

Dana Alokasi Khusus selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu

DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka

Dana bagi hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah

Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu