ORGAN PERUSAHAAN DAN STAKEHOLDER
PELAKU GOOD CORPORATE GOVERNANCE
SESI 13
HES Pasca 2024
Organ Perusahaan
1. RUPS
2. Komisaris
3. Direksi
GCG dan Organ Perusahaan
Pelaku GCG
Dewan Syariah berada sejajar dengan dewan Komisaris.
Bagaimana jika dalam RUPS pemegang saham pengendali, mentoleransi Perusahaan melenceng dari ketentuan Bisnis Syariah, yg ditentang Dewan Pengawas Syariah?
Organ Perusahaan (Bisnis Syariah)
1. RUPS
2. DEWAN KOMISARIS
3. DEWAN PENGAWAS SYARIAH 4. DEWAN DIREKSI
5. STAKEHOLDER
1. RUPS
RUPS merupakan Organ Perusahaan yang memiliki wewenang yang tidak diberikan kepada Dewan Komisaris dan Direksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan Anggaran Dasar Perusahaan.
RUPS diikuti oleh pemegang saham, secara langsung atau perwakilan
Wewenang Pemegang Saham (dalam RUPS):
a. Menyetujui dan mengesahkan laporan tahunan perusahaan.
b. Mengesahkan laporan keuangan.
c. Mengangkat dan memberhentikan Dewan Komisaris dan Direksi (RUPS) d. Menetapkan penggunaan laba bersih perusahaan (ditahan, dibagi, bonus)
e. Remunerasi Direksi dan Dewan Komisaris
Shareholder
Kewajiban Pemegang saham:
a. Mematuhi ketentuan Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan.
b. Tidak memanfaatkan Perusahaan.
c. Melakukan evaluasi kinerja.
Hak Pemegang saham:
d. Menghadiri dan memberi suara dalam RUPS
e. Memperoleh penjelasan tentang penerapan GCG f. Menerima pembagian keuntungan
g. Memperoleh informasi material mengenai perusahaan secara tepat waktu dan teratur.
2. DEWAN KOMISARIS
Dewan Komisaris adalah salah satu Organ Perusahaan yang diangkat melalui RUPS yang bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap manajemen dalam mengelola perusahaan.
Tugas Dewan Komisaris:
a. Pengawasan
b. Memberikan nasihat
c. Melaporkan kepada RUPS
d. Mengikuti perkembangan kegiatan perusahaan
Tugas Dewan Komisaris
1. Menilai dan mengarahkan strategi perusahaan, garis-garis besar rencana kerja, kebijakan pengendalian risiko, anggaran tahunan dan rencana usaha.
Menetapkan sasaran kerja. Mengawasi pelaksanaan dan kinerja perusahaan.
Memonitor penggunaan modal perusahaan, investasi dan penjualan asset.
2. Menilai sistem penetapan penggajian pejabat pada posisi kunci dan penggajian anggota Dewan Direksi, serta menjamin proses pencalonan anggota Dewan
Direksi yang transparan dan adil.
3. Memonitor dan mengatasi masalah benturan kepentingan pada tingkat
manajemen, anggota Dewan Direksi dan anggota Dewan Komisaris, termasuk penyalahgunaan aset perusahaan dan manipulasi transaksi perusahaan.
4. Memonitor pelaksanaan Governance, dan mengadakan perubahan yg diperlukan
5. Memantau proses keterbukaan dan efektifitas komunikasi dalam perusahaan.
Dalam Corporate Governance terdapat tiga komite dibawah Dewan Komisaris, yang
memiliki peranan penting, yaitu
1. Komite Kompensasi/ Remunerasi; membuat rekomendasi terhadap keputusan- keputusan yang menyangkut remunerasi untuk Dewan Direksi dan kebijakan kompensasi lainnya, termasuk hubungan antara prestasi perusahaan dengan kompensasi bagi eksekutif perusahaan/ CEO.
2. Komite Nominasi; mengawasi proses pencalonan komisaris dan direksi,
menyeleksi para kandidat yg akan dicalonkan, dan mengusulkan kebijakan dan prosedur tentang struktur dewan dan proses nominasinya.
3. Komite Audit; memberikan suatu pandangan tentang masalah akuntansi,
laporan keuangan dan penjelasannya, sistem pengawasan internal serta auditor independen.
Komite tersebut masing-masing diketuai oleh Komisaris Independen (sesuai keahlian), dipilih oleh Rapat dewan Komisaris.
Dalam perusahaan Besar
Dewan Komisaris mempunyai kelengkapan organisasi:
1. Sekretaris
2. Komite Audit
3. Komite Nominasi dan Remunerasi 4. Komite Kebijakan Resiko
5. Komite Kebijakan Corporate Governance
(lihat Struktur Dewan Komisaris di Perusahaan Publik)
Susunan direksi dan komisaris Semen Indonesia 2020:
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama: Rudiantara
Komisaris: Lydia Silvanna Djaman
Komisaris Independen: Nasaruddin Umar Komisaris Independen: Aas Asikin Idat Komisaris: Astera Primanto Bhakti
Komisaris: Hendrika Nora O. Sinaga Komisaris: Sony Subrata
Dewan Direksi:
Direktur Utama: Hendi Prio Santoso Dir. Produksi: Benny Wendry
Dir. Strategi Bisnis & Pengemb Usaha: Fadjar J Dir. Keuangan: Doddy Sulasmono D
Dir. Pemasaran dan Supply Chain: Adi Munandir
Dir. Engineering dan Project: Tri Abdisatrijo Dir. SDM dan Hukum: Tina T Kemala Intan.
CONTOH: Direksi dan Dewan Komisaris BSI
Komposisi, Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota Dewan Komisaris
a. Jumlah anggota Dewan Komisaris harus disesuaikan dg kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektivitas dalam pengambilan keputusan.
b. Dewan Komisaris dapat terdiri dari Komisaris yang tidak berasal dari pihak terafiliasi yang dikenal sebagai Komisaris Independen dan Komisaris yang
terafiliasi. Terafiliasi; mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham pengendali, anggota Direksi dan Dewan Komisaris lain, serta dengan perusahaan itu sendiri,
termasuk Mantan pengelola perusahaan.
c. Jumlah Komisaris Independen harus dapat menjamin agar mekanisme
pengawasan berjalan secara efektif dan sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Salah satu dari Komisaris Independen harus mempunyai latar
belakang akuntansi atau keuangan.
Komposisi, Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota Dewan Komisaris
d. Anggota Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS melalui proses yang transparan. Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, BUMN/
BUMD, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat,
perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan, proses penilaian calon anggota Dewan Komisaris dilakukan sebelum
dilaksanakan RUPS melalui Komite Nominasi dan Remunerasi. Pemilihan Komisaris Independen harus memperhatikan pendapat pemegang saham minoritas yg dapat disalurkan melalui Komite Nominasi dan Remunerasi.
e. Pemberhentian anggota Dewan Komisaris dilakukan oleh RUPS berdasarkan alasan yang wajar dan setelah anggota Dewan Komisaris diberi kesempatan untuk membela diri.
3. DEWAN PENGAWAS SYARIAH
Dewan Syariah Nasional; MUI tahun 1999 membentuk DSN. Lembaga ini, beranggotakan ahli hukum Islam (fuqaha') serta ahli dan praktisi ekonomi terutama sektor keuangan baik bank maupun non-bank berfungsi untuk
melaksanakan tugas-tugas MUI dalam mendorong dan memajukan ekonomi umat.
Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dibentuk dalam rangka mewujudkan aspirasi umat Islam mengenai masalah
perekonomian.
Ide pemberlakuan HES sebagai Hukum Positip, bisa mulai diinisiasi melalui Lembaga ini.
Dewan Pengawas Syariah (DPS); adalah suatu badan yang bertugas
mengawasi pelaksanaan keputusan DSN di lembaga keuangan syariah. DPS diangkat dan diberhentikan di lembaga keuangan syariah melalui RUPS
setelah mendapat rekomendasi dari DSN.
Anggota DPS direkomendasikan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) di bawah MUI dan diangkat melalui RUPS. DPS menjadi perwakilan dari DSN-MUI yang ditempatkan di lembaga ekonomi dan atau di Industri Keuangan Syariah.
Sertifikasi anggota DPS oleh MUI. Maka DPS diangkat oleh RUPS dengan rekomendasi MUI.
Tugas DPS:
Tugas: memberikan nasihat dan saran kepada pimpinan perusahaan sekaligus mengontrol aktivitas Perusahaan agar tetap menerapkan prinsip Syariah.
DPS bertugas mengawasi pelaksanaan fatwa DSN tersebut dilapangan pada lembaga ekonomi dan lembaga keuangan syari’ah. Yaitu menilai dan
memastikan pemenuhan prinsip syariah atas pedoman operasional dan produk yang dikeluarkan lembaga keuangan syariah.
Untuk memastikan kesesuaian Syariah, maka DPS melakukan pengawasan, baik secara aktif maupun pasif, terutama dalam pelaksanaan fatwa DSN serta memberikan pengarahan/pengawasan atas produk/jasa dan kegiatan usaha agar sesuai dengan prinsip Syariah.
meminta fatwa kepada DSN untuk produk baru Lembaga keuangan yang belum ada fatwanya.
Ada juga Biro Pengembangan Perbankan Syariah Bank Indonesia, yang lebih aktif dalam memberikan teguran, pembinaan pada BUS atau UUS.
Untuk direnungkan
Ada juga Biro Pengembangan Perbankan Syariah Bank Indonesia, yang lebih aktif dalam memberikan teguran, pembinaan pada BUS atau UUS. Apa komentar anda, sehubungan dengan kedudukan DPS dan atau DSN ?
Jika perusahaan dijalankan tidak sesuai dengan Prinsip DSN, apa konsekwensinya ?
Bagaimana bobot rekomenadasi RUPS dengan rekomendasi DPS-
DSN, tentang pelaksanaan Bank Umum Syariah/ BUS atau Unit
Usaha Syariah/UUS ?
4. DIREKSI
Direksi merupakan organ Perusahaan yang diangkat melalui RUPS
yang bertanggung jawab penuh atas kepengurusan Perusahaan serta mewakili Perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan.
Fungsi Direksi: Kepengurusan, Manajemen Resiko, Pengendalian Internal, Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial.
Jumlah dan Komposisi Direksi sesuai dengan ukuran Perusahaan.
Susunan Dewan Komisaris dan Direktur
MINIMAL
• Komisaris
• Direktur
UMUMNYA
• Komisaris
• Dirut
• Dir. Operasional
LENGKAP
• Komisaris Utama
• Komisaris
• Dirut
• Dir. Operasional
• Dir. Keuangan
• Dir. Pemasaran
Dewan Fidusia
Fidusia adalah orang atau organisasi yang bertindak atas nama orang lain atau Pengelola asset orang lain.
Fidusia bertindak atas nama orang lain, atau seseorang, untuk mengelola aset. Tugas mereka etis dan legal.
Fidusia investasi adalah siapa pun yang memiliki tanggung jawab hukum untuk mengelola uang orang lain, seperti anggota komite investasi sebuah amal.
Penasihat investasi yang terdaftar memiliki kewajiban fidusia kepada
klien; broker-dealer hanya harus memenuhi standar kesesuaian yang
tidak terlalu ketat, yang tidak mengharuskan kepentingan klien di atas
kepentingan mereka sendiri.
Tugas fidusia muncul dalam berbagai hubungan bisnis yang umum, termasuk:
1. Wali amanat dan penerima manfaat (tipe yang paling umum) 2. Anggota dewan direksi dan Pemegang saham
3. Pelaksana dan Ahli waris 4. Wali dan Penerima wali
5. Promotor dan Pelanggan stok 6. Pengacara dan Klien
7. Perusahaan investasi dan Investor
5. STAKEHOLDER
Pemangku kepentingan merupakan kelompok atau organisasi yang memiliki kepentingan langsung atau tidak langsung dalam sebuah organisasi karena dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh
tindakan organisasi, tujuan, dan kebijakan.
Stakeholder didefinisikan sebagai suatu kelompok atau individu yang menanggung suatu jenis risiko baik karena mereka telah melakukan investasi (material ataupun manusia) di perusahaan tersebut
(‘stakeholder sukarela’), ataupun karena mereka menghadapi risiko
akibat kegiatan perusahaan tersebut (‘stakeholder non-sukarela’).
Stakeholder
Teori Stakeholder-Shareholder-Agensi
Adalah Tiga pendekatan untuk memahami dinamika Pengelola/
Manajemen dan Pemilik Perusahaan
Berlaku pada perusahaan besar, yang umumnya ada di Pasar Modal, dimana Pemilik saham berorientasi pada bisnis saham, daripada
pengelolaan perusahaan.
Untuk mengefektifkan pengawasan dan pengendalian oleh pemilik, yg tidak mengelola langsung Perusahaannya.
Memudahkan pengelola mengidentifikasi dan memenuhi
kepentingan pemilik dan atau Stakeholder.
Stakeholder teori
Stake holders merupakan individu atau kelompok yang bisa mempengaruhi dan dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktifitasnya.
1. Stake holders Internal dan Stakeholders Eksternal.
2. Stakeholders primer, sekunder dan marjinal; Paling, Kurang, Tidak penting
3. Stakeholders Tradisional dan stakeholders masa depan; Tradisonal = Karyawan dan konsumen. Masa depan = Peneliti, Mahasiswa, Potensial buyer
4. Proponents (memihak organisasi), opponents (menentang), dan uncommited (tidak peduli).
5. Silent Majority dan vokal minority; dalam menyuarakan komplain perusahaan
memudahkan perencanaan sikap dan penanganan.
Shareholder Teori
Shareholder berarti pemegang saham dalam sebuah perusahaan, yg minoritas / mayoritas, biasanya berada di luar perusahaan.
Pemegang saham adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut.
Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya.
Konsep pemegang saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya
memiliki tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka.
Agency Theory
Agency Theory menunjukkan bahwa perusahaan dapat dilihat sebagai suatu hubungan kontrak (loosely defined) antara pemegang sumber daya.
Suatu hubungan agency muncul ketika satu atau lebih individu, yang disebut pelaku (principals), mempekerjakan satu atau lebih individu lain, yang disebut agen, untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada agen.
Hubungan utama agency dalam bisnis adalah: antara pemegang saham dengan manajer dan antara debtholders dengan pemegang saham.
Hubungan ini tidak selalu harmonis, memang, teori keagenan berkaitan dengan konflik agency, atau konflik kepentingan antara agen dan pelaku. Hal ini memiliki implikasi untuk, antara lain, tata kelola perusahaan dan etika bisnis.
o Debt Holder merupakan pihak ketiga dalam lingkaran bisnis anda yang akan membantu anda dalam memperoleh pinjaman dana
sebagai kebutuhan pengembangan bisnis dengan agunan dan analisis kelayakan bisnis.
o Stock Holder merupakan para investor yang siap menyuntikan dana pada bisnis anda dan membantu manajemen perusahaan anda
menjadi lebih professional.
Beranekaragam fihak yg berkepentingan dengan perusahaan, maka muncul kesepakatan bersama antar stakeholder tentang bagaimana mengukur prestasi/ kinerja Perusahaan.
Tatakelola perusahaan lahir, dipelopori oleh Lembaga keuangan dan
Pemerintah
Ada tiga fitur utama dari teori pemangku kepentingan (Donaldson, 2002).
1. Pertama, manajer seharusnya mengenali dan memantau semua pemangku kepentingan yang sah, ketika membuat keputusan dan menjalankan mereka harus mempertimbangkan secara adil kepentingan semua pemangku
kepentingan.
2. Kedua, manajer harus menghindari potensi konflik antara kelompok yang berbeda dan mengatasi masalah melalui komunikasi dan dialog terbuka.
3. Ketiga, manajer perlu mempertahankan Friendly Corporation dengan entitas lain, baik publik maupun swasta, untuk menghindari risiko dari lingkungan yang tidak stabil.
6 prinsip Teori Stakeholder Friedman
1. Prinsip masuk dan keluar: Menurut prinsip ini, harus ada aturan yang jelas yang menjelaskan, Misalnya, aturan terkait perekrutan karyawan dan pemutusan
hubungan kerja harus jelas dan transparan.
2. Prinsip tata kelola: Prinsip ini berkaitan dengan bagaimana aturan yang
mengatur hubungan antara pemangku kepentingan dan perusahaan dapat diubah. Dengan persetujuan suara bulat, semua perubahan
3. Prinsip eksternalitas: Ini berkaitan dengan bagaimana sebuah kelompok yang tidak mendapatkan keuntungan dari tindakan korporasi harus mengalami
kesulitan tertentu karena tindakan korporasi tersebut. Prinsip eksternalitas menunjukkan bahwa siapa pun yang harus menanggung biaya pemangku
kepentingan lainnya juga berhak menjadi pemangku kepentingan berdasarkan teori pemangku kepentingan. Siapapun yang terpengaruh oleh bisnis menjadi pemangku kepentingan.
6 prinsip Teori Stakeholder Friedman…..
4. Prinsip biaya kontrak: Setiap pihak dalam kontrak harus menanggung jumlah
yang sama dalam hal biaya, atau biaya yang mereka tanggung harus proporsional dengan keuntungan yang mereka miliki di perusahaan.
5. Prinsip keagenan: Prinsip ini menyatakan bahwa manajer suatu perusahaan adalah agen perusahaan dan karena itu memiliki tanggung jawab kepada pemangku kepentingan serta pemegang saham.
6. Prinsip keabadian terbatas: memastikan keberhasilan organisasi dan pemiliknya, organisasi perlu hidup lama. Jika perusahaan hidup dalam periode waktu yang sangat terbatas, bisa jadi menguntungkan beberapa pemangku kepentingan dan merugikan yg lain. Hal ini melanggar konsep teori pemangku kepentingan.
Perusahaan harus hidup dlm jangka waktu yang lama, dan harus dikelola dengan cara yang menjamin kelangsungan hidupnya.
Jenis Stakeholder
Clarkson membagi stakeholder menjadi dua:
Stakeholder primer adalah ‘pihak di mana tanpa partisipasinya yang berkelanjutan organisasi tidak dapat bertahan.’ Contohnya adalah pemegang saham, investor, pekerja, pelanggan, dan pemasok.
Mereka adalah kelompok-kelompok kepentingan yang mempunyai hak, tujuan, harapan, dan tanggung jawab yang berbeda.
Stakeholder sekunder didefinisikan sebagai ‘pihak yang
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan, tapi mereka tidak terlibat dalam transaksi dengan perusahaan dan tidak begitu penting untuk kelangsungan hidup perusahaan.’ Contohnya adalah media
dan berbagai kelompok kepentingan tertentu.
Pemangku kepentingan dapat dikelompokkan berdasarkan atas jenis dan sejauh mana kepentingan kelompok tersebut terhadap
perusahaan. Freman membagi dua menjadi :
Lingkungan eksternal terdiri atas:
1. Pemerintah 2. Kompetior
3. Advokasi konsumen 4. Pemerhati lingkungan
5. Special Interest group (SIG) 6. Media
Lingkungan Internal:
1. Pemilik perusahaan 2. Konsumen
3. Karyawan
4. Pemasok
Penggolongan Stakeholder
1. Stakeholder Internal; yang berada di dalam lingkungan perusahaan, misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder).
Stakeholder Eksternal = ada diluar lingkungan perusahaan, seperti penyalur, pemasok, konsumen, masyarakat, pemerintah, pers,
kelompok investor, licening partner dll.
2. Stakeholder Primer; merupakan stakeholder yang harus diperhatikan oleh perusahaan dan Stakeholder Sekunder = kurang penting.
Stakeholder Marjinal = yg sering diabaikan oleh perusahaan.
3. Stakeholder Tradisional; adalah karyawan dan konsumen karena saat
ini sudah berhubungan dengan perusahaan. Stakeholder Masa Depan
stakeholder pd masa yg akan datang diperkirakan akan memberikan
pengaruh pada perusahaan, seperti peneliti, konsumen potensial,
calon investor potensial) dll.
Penggolongan Stakeholder…..
4. Stakeholder Prononents; merupakan stakeholder yang berpihak kepada perusahaan, stakeholder Opponents merupakan
stakeholder yang tak memihak perusahaan. Stakeholder
Uncommited adalah stakeholder yang tak peduli lagi terhadap perusahaan.
5. Silent majority dan vocal minority; stakeholder dalam melakukan komplain atau mendukung perusahaan, tentu ada yang menyatakan penentangan atau dukungannya secara vokal (aktif), namun ada
pula yang menyatakan secara silent (pasif).
Manfaat penerapan teori Stakeholder
Manfaat bagi Perusahaan:
a. Produktivitas yang lebih tinggi melalui kepuasan karyawan b. Meningkatkan retensi / rujukan dari pelanggan yang puas c. Peningkatan investasi dari pemodal yang bahagia
d. Peningkatan akuisisi bakat dari citra positif di masyarakat
.
Manfaat bagi Person:
Kesempatan untuk bekerja dengan orang-orang hebat yang berpikiran sama dan yang saling percaya dalam membuat perbedaan.
Mendapatkan rasa senang, dengan menjadi bagian dari perubahan positif di sudut kecil dunia Anda.
Manfaat bagi Tenaga kerja dan Sosial:
a. Peningkatan kesehatan mental tenaga kerja melalui kepuasan kerja b. Kemajuan ilmiah yang bermanfaat bagi semua
c. Peningkatan status sosial ekonomi masyarakat lokal
d. Kontribusi terhadap ekosistem persaingan yang sehat dimana
perusahaan lain juga dapat berkembang dan membawa manfaat
bagi pemangku kepentingan mereka sendiri.
Cara menggunakan Stakeholder Theory:
untuk identifikasi dan bersikap
1. Tentukan siapa saja Pemangku Kepentingan - disini Anda harus membuat daftar semua orang yang terlibat dalam proyek.
2. Identifikasi Kepentingan Pemangku Kepentingan: nilai-lah kepentingan
pemangku kepentingan Anda pada apa yang mereka harapkan untuk dapat dimasukkan ke perusahaan, terutama terkait dengan hasil yg mereka peroleh.
3. Pengetahuan Pemangku Kepentingan - Tentukan tingkat pengetahuan yang dibawa setiap pemangku kepentingan ke perusahaan.
4. Keputusan Pemangku Kepentingan - disinilah teori pemangku kepentingan benar-benar berperan. Jika setiap pemangku kepentingan bukan bagian dari proses pengambilan keputusan, Anda tidak mempraktikkan dasar-dasar teori pemangku kepentingan dan keputusan penting yang tidak disampaikan atau didengar, dapat mengakibatkan kegagalan sasaran perusahaan.
-end-
Teori-teori Stakeholder, Shareholder dan Agensi adalah alternatif pendekatan yang digunakan untuk mengidentifikasi sejauhmana kepentingan fihak-fihak diluar pengelola perusahaan yang berpotensi
berpengaruh terhadap operasional perusahaan, dan bagaimana Pengelola harus bersikap, dalam melayani kepentingan mereka.
Dalam perusahaan yg TIDAK sehat, kepentingan Stakeholder dapat langsung memerintah Pengelola. Dalam perusahaan yg SEHAT akan memutuskan melalui
RUPS. Tetapi dari manapun mekanisme keputusan/ perintahnya, asalkan tidak bertentangan dengan Tujuan perusahaan, kepentingan tersebut harus diperhatikan
oleh pengelola.
Ngono…
Teori Stakeholder dengan GCG
Tata kelola perusahaan menggunakan teori stakeholder sebagai kerangka kerja administrasi, menjaga etika ketika perusahaan yg terus menerus mengejar
penciptaan nilai. Teori Stakeholder telah membuktikan keunggulannya dalam membantu perusahaan mencapai keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Melalui interaksi positif dengan berbagai pemangku kepentingan, perusahaan dapat memperoleh lebih banyak informasi dan mengurangi kesalahan
pengambilan keputusan dalam lingkungan bisnis yang kompleks.
Teori Stakeholder tidak membutuhkan distribusi kepentingan Stakeholder yang benar-benar merata. Tetapi memperlakukan Stakeholder secara adil dan wajar, dan hanya dengan cara ini, perusahaan dapat memainkan peran penting dalam tata kelola perusahaan kontemporer.
STAKEHOLDER PENTING UNTUK GCG
1) Ketika pemangku kepentingan diperlakukan dengan baik oleh
organisasi atau perusahaan, mereka cenderung merespon dengan bersikap dan berperilaku positif.
2) Perusahaan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, mengambil tanggung jawab sosial dapat membantu meningkatkan citra dan reputasinya
3) Pemangku kepentingan yang berpartisipasi dalam proses
pengambilan keputusan perusahaan dapat mengurangi konflik antara kelompok pemangku kepentingan yg berbeda dan
meningkatkan kualitas keputusan untuk memastikan keunggulan
kompetitif.
Bahan Diskusi
1. Kepemilikan Bisnis Syariah; bagaimana jika dimiliki oleh non Muslim?
Melalui pasar modal, atau investor secara tidak langsung. Contoh Indofood, Bank Muamalat.
2. Dewan Pengawas Syariah Vs Dewan Komisaris. Dewan komisaris
mempunyai perangkat berupa Komite Kebijakan Governance Bisnis Syariah, bagaimana dengan Tugas DPS ?
3. Jika temuan DPS, menyatakan bahwa perusahaan melanggar Syariah, bagaimana pertanggung jawabannya ? Jika mempertanggung
jawabkan ke RUPS, bagaimana jika RUPS didominasi pemegang
saham yg tidak memahami Syariah.
Perbedaan Antara Board of Director, Board Committes, Board Power dan Board Composition Dalam Implementasi Konteks Good Corporat Governance di Indonesia.
Baca Kliping Stakeholder hal 21
Implementasi dan Jebakan Teori Stakeholder. Hal 32-33