• Tidak ada hasil yang ditemukan

15K/Ag/2017 PROGRAM STUDI HUKUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "15K/Ag/2017 PROGRAM STUDI HUKUM"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Untuk tinjauan hukum Islam tentang pembatalan perkawinan, Putusan Kasasi Mahkamah Agung, Nomor Perkara: 15K/Ag/2017. Anda dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan ke Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal suami atau istri atau

Tujuan dan Mafaat Penelitian

Penelitian Terdahulu

Metode Penelitian

  • Jenis Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Analisa Data

Sistematika Penulisan

KAJIAN TEORI

Putusan

Putusan akhir dalam suatu sengketa yang diputus oleh hakim penyidik ​​persidangan pada umumnya memuat sanksi berupa hukuman bagi pihak yang kalah dalam suatu persidangan di pengadilan. Hukum acara pidana dapat dijatuhkan tanpa pandang bulu terhadap pelanggar hak, bedanya hanya dalam KUHAP pidananya berupa pemenuhan prestasi dan/atau pemberian ganti rugi kepada pihak-pihak yang dirugikan atau dimenangkan dalam proses peradilan. dalam suatu perselisihan, sedangkan pidana dalam KUHAP umumnya penjara dan/atau denda 28.

Mahkamah Agung Republik Indonesia

  • Fungsi Mahkamah Agung Republik Indonesia
  • Kedudukan Mahkamah Agung Republik Indonesia

Tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Lebong Utara Kabupaten Rejang Lebong merupakan perkawinan poligami yang tidak melalui prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dibaca dengan. Sehubungan dengan kejadian tersebut, maka perkawinan antara tergugat dengan suami penggugat (Syafarudin bin Rahidin) yang dilangsungkan pada tanggal 25 April 2001 adalah tidak patut dan melanggar Undang-undang No.

FASAKH PERKAWINAN DAN SHAD AD-DHARIAH

Pengertian Fasakh

Fasakh ialah talak yang dikabulkan oleh hakim berdasarkan sebab-sebab yang ditentukan oleh syarak terhadap salah seorang pasangan yang menghidap penyakit gila, sopak (belang), lebra (kusta). Menurut Ensiklopedia Islam, fasakh ialah penamatan perkahwinan oleh hakim atas permintaan suami atau isteri atau kedua-duanya disebabkan berlakunya masalah yang dirasakan berat oleh masing-masing atau seorang suami isteri dan tidak dapat mencapai matlamat. perkahwinan40. Pada dasarnya, hak antara pasangan diketahui dicabul selepas proses akad nikah.

Misalnya ada ketidakjujuran dalam perkawinan suami/istri, misalnya sebelum perkawinan dilangsungkan sang istri mengaku masih perawan, kemudian setelah dibuat akad nikah antara keduanya ternyata sang istri tidak perawan. lagi perawan. , atau mungkin disebabkan oleh penyakit yang diderita salah satu pihak laki-laki, pihak perempuan tidak mau jujur, namun setelah terjadi pernikahan antara keduanya, semuanya diketahui dan dia merasa telah dibohongi oleh pasangannya. . . Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan fasakh adalah salah satu bentuk perceraian yang diperintahkan oleh hakim karena suatu hal yang dirasa serius oleh masing-masing atau salah satu suami istri, sehingga tujuan perkawinan tidak dapat terwujud.

Dasar Hukum Fasakh Nikah

Fasakh artinya batalnya perkawinan, hal ini terjadi akibat pertengkaran antara suami dan istri yang tidak mungkin dapat didamaikan. Menurut ulama golongan Hanafiyyah tidak menjelaskan perbedaan perceraian melalui proses talak dan perceraian melalui proses fasakh. Golongan Hanafiyyah berpendapat bahwa kerusakan perkawinan berasal dari suami dan tidak ada tanda-tanda kerusakan yang berasal dari istri, karena segala sesuatu yang berasal dari suami disebut talak, dan segala kerusakan yang berasal dari istri disebut fasakh. 43.

Hal-hal yang Menyebabkan Fasakh Nikah

Terjadi Kecacatan atau Penyakit Apabila kecacatan atau penyakit itu menimpa salah satu pihak, baik suami atau isteri, sehingga mengganggu kelangsungan hubungan baik antara suami isteri atau menimbulkan penderitaan batin pada pihak yang lain, membahayakan nyawanya. , maka yang bersangkutan berhak mengajukan banding kepada hakim. , kemudian pengadilan menyatakan pernikahan mereka final. Sedangkan apabila suami istri bercerai karena fasakh, bukan berarti angka perceraiannya berkurang, meskipun fasakh terjadi karena khiyar baligh, kemudian suami istri tersebut menikah lagi dengan akad yang baru, maka suami mempunyai kesempatan. untuk tiga perceraian. Para ulama fiqih Hanafi telah membuat rumusan umum untuk membedakan makna talak antara suami istri karena talak dan karena fasha, mereka mengatakan: “Perceraian suami istri karena suami sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap istri disebut talak” dan Setiap perceraian antara suami dan dia adalah istri demi istri, bukan demi suami, dan dia sederajat, sekali tidak ada pengaruh istri maka disebut perceraian.

Dan perpisahan antara laki-laki dan perempuan karena perempuan, bukan karena laki-laki, atau karena laki-laki tetap berada di bawah pengaruh perempuan disebut fasakh. Namun Jamhur Ulama menyatakan fasakh tidak terjadi di tempat tinggal suami istri yang berbeda (Darul Islam dan Darul Harbi).

Akibat Fasakh Nikah

Maka penceraian itu kerana berpunca daripada fasakh, jika ingin kembali dengan kesedaran dan kerelaan hati untuk menerima sepenuh hati segala keadaan seadanya, maka terpaksalah melalui perkahwinan baru antara kamu berdua. Kemudian, jika perceraian yang berlaku kerana fasha berlaku sebelum hubungan seksual antara suami dan isteri, maka menurut hukum isteri tidak berhak untuk mahar. Kerana jika fasak itu berasal dari pihak isteri, maka hak isteri terhadap mahar menjadi batal, tetapi jika fasak itu datang dari pihak suami dan kerana kesalahan yang disembunyikan oleh isteri daripada suami, maka isteri tidak berhak mendapat mahar daripada pihak suami. suami mengikut undang-undang.

Tetapi jika perceraian yang disebabkan oleh fasakh berlaku selepas persetubuhan antara suami dan isteri, maka isteri berhak mendapat mas kahwin daripada suaminya.

Pembatalan Perkawinan

Pembatalan perkawinan adalah suatu perbuatan pengadilan berupa putusan yang menyatakan batalnya perkawinan (tidak mempunyai kekuatan hukum atau batal) sehingga perkawinan dianggap tidak pernah ada (tidak pernah ada). Pembatalan perkawinan diatur dalam UU Perkawinan yaitu pada UU No. 1 Tahun 1974, dimuat dalam Bab IV Pasal 22 sampai dengan 28, diatur lebih lanjut dalam pelaksanaannya (PP Nomor 9 Tahun 1975) dalam Bab IV Pasal 37 dan 38 serta diatur dalam Kumpulan Hukum Islam (Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991) bab, h.

Hal-hal yang berkaitan dengan pemanggilan, penyidikan pembatalan perkawinan dan putusan pengadilan dilaksanakan menurut tata cara yang tercantum dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 36 Peraturan Pemerintah ini (ayat 3). Suami atau isteri yang beritikad baik, kecuali harta bersama, apabila perkawinan itu batal karena adanya perkawinan lain yang terdahulu.

Shad Ad-Dhariah

  • Pengertian Shad Ad-Dhariah
  • Dasar Hukum Shad Ad-Dhariah
  • Klasifikasi Shad Ad-Dhariah

Bahwa terdapat tindakan kelambanan dari pihak Termohon/Penggugat Kasasi terkait akad nikah antara Syafarudin bin Rahidin dan. Bahwa perkawinan penggugat dengan Syafarudin bin Rahid (kini telah meninggal dunia) telah didaftarkan dan/atau dicatatkan pada Kantor Urusan Agama Kabupaten Lebong Utara, dengan akta nikah No. NOAKTN tanggal 3 Juni 1983 (Bukti P.1); Pembatalan perkawinan antara Syafarudin bin Rahid dengan terdakwa dengan akta nikah nomor 168/13/VIII/2005;.

bahwa Terdakwa III menjalankan tugasnya sebagai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama Kabupaten Lebong Utara sejak tahun 2000 dan mengetahui pernikahan Terdakwa dengan Syafarudin bin Rahidin pada tahun 2001; Membatalkan perkawinan terdakwa (Suwanti binti A. Rozak) dengan Syafarudin bin Rahidin yang dilangsungkan pada tanggal 25 April 2001, dengan kutipan akta nikah nomor: 168/13Nlll/2005, tanggal 20 Agustus 2005, yang dikeluarkan oleh Kantor Kejaksaan. Urusan Agama Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Rejang Lebong;.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembatalan Perkawinan Putusan Kasasi Mahkamah Agung

Terdakwa II diketahui selaku Kepala Biro Agama Kecamatan Lebong Utara, Kabupaten Lebong. Menyatakan bahwa terdakwa, tersangka I, tersangka II, dan tersangka III telah melakukan perbuatan melawan hukum; Sementara dalam persidangan, Terdakwa I juga memberikan jawabannya secara tertulis dengan tambahan keterangan yang pada pokoknya sebagai berikut: 1.

Bahwa Terdakwa II mengajukan tanggapan tertulis dengan tambahan keterangan sebagaimana tercatat dalam berita acara persidangan yang pada pokoknya sebagai berikut. Bahwa sejak tahun 2013, Terdakwa II menjalankan tugasnya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Lebong Utara;

Analisa Kasus

ROZAK; Membebankan pemohon kasasi untuk membayar biaya hukum di tingkat kasasi sebesar Rp. lima ratus ribu rupiah); Hal itu diputuskan Dr dalam musyawarah Mahkamah Agung pada Senin, 27 Februari 2017. Dalam hal ini, pihak laki-laki menunjukkan statusnya sebagai duda dengan melampirkan akta kematian pihak perempuan, agar KUA tidak habis masa berlakunya pada saat itu. dari perkawinan tersebut, mengetahui adanya penipuan identitas yang dilakukan oleh pihak laki-laki. Bahwa Tergugat menikah dengan suami Penggugat (Syafarudin bin Rahidin) tanpa persetujuan dan/atau persetujuan Penggugat sebagai istri Syafarudin bin Rahidin.

Berkenaan dengan kejadian tersebut, maka perkawinan antara tergugat dan suami penggugat (Syafarudin bin Rahidin) yang dilangsungkan pada tanggal 25 April 2001 melanggar ketentuan Undang-undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada Bab I Pokok-Pokok Perkawinan dan Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 yang pada dasarnya menjelaskan bahwa seorang laki-laki hanya boleh mempunyai satu isteri dan seorang perempuan hanya mempunyai satu suami, bagi suami yang ingin mempunyai lebih dari satu isteri. satu isteri, bila pihak-pihak yang bersangkutan menghendakinya yaitu isteri pertama atau isteri kedua - isteri, dalam hal ini wajib mengajukan gugatan ke pengadilan, dalam hal mengajukan gugatan ke pengadilan, sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia tentang Perkawinan, dia harus memenuhi persyaratan. Berdasarkan uraian data di atas maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa putusan pembatalan perkawinan Perkara Kasasi Mahkamah Agung Nomor: 15K/Ag/2017 adalah tergugat menikah dengan suami penggugat (Syafarudin bin Rahidln) tanpa adanya persetujuan dan/atau izin penggugat selaku istri Syafarudina bin Rahidina, di bawah ini terbukti suami memalsukan keterangan dan dokumen.

Tinjauan hukum Islam terhadap pembatalan perkawinan

Pihak-pihak yang dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan adalah para sanak saudara dalam garis keturunan langsung dari suami-istri serta orang-orang yang mempunyai kepentingan langsung terhadap perkawinan itu. Dalam praktik di Pengadilan Agama, sebagaimana telah kita ketahui, pembatalan perkawinan dilakukan terhadap perkawinan yang sudah ada. Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama di daerah tempat tinggal suami atau istri atau tempat perkawinan.

Pembatalan perkawinan tidak boleh dilakukan karena pembatalan perkawinan sama saja dengan perceraian yaitu memisahkan suatu ikatan perkawinan yang sah menurut agama dan negara. Pihak-pihak yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan adalah; Pertama, keluarga dalam garis lurus dari suami atau istri. Kedua, suami atau istri.

PENUTUP

Saran

Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta: Gema Insani Press, 1994. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), Bapak Martiman Prodjohamidjojo, Bapak Martiman Prodjohamidjojo, Hukum. Jakarta, Indonesia Legal Center Publishing, 2001, Muchlis Marwan dan Thoyib Mangkupranoto, Hukum Islam II, Surakarta, Buana.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian diatas Tergugat selaku Notaris telah melakukan perbuatan melawan hukum yang diatur dalam Pasal 1365 KUHPer, karena Tergugat selaku Notaris telah melanggar ketentuan