Kimia Kelas XI SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
Dewi Yunia
Universitas Indraprasta PGRI [email protected]
Abstract
The purpose of this study is to investigate the influence of curiosity and interest in learning on the learning outcomes of chemistry class XI at SMAN 1 Cariu, Bogor Regency. Curiosity and interest are two of the many variables that may affect learning. This study uses quantitative regression analysis techniques. A random sampling approach is used in the sampling process.
The psychological scale consisting of 45 instruments was used as a research tool to collect information about curiosity and learning interest from 57 students. Test instruments are used to collect information about the learning outcomes of chemistry students, while questionnaire instruments are used to measure students' curiosity and interest in learning. Formative assessment using descriptive questions about chemical bond content is used to measure learning outcomes in the cognitive domain.
Curiosity and interest in learning were measured using a questionnaire using a Likert scale with response options for always (SL), often (SR), sometimes (KD), and never (TP). On the continuation of favorable statements "always" is given a score of 4, "often" is given a score of 3, "sometimes" is given a score of 2, and "never" is given a score of 1. While statements that are unfavorable, "always" is given a score of 1, "often" is given a score of 2, "sometimes" is given a score of 3, and "never" is given a score of 4. The data analysis technique used is multiple regression test. The findings of the study showed that: 1) learning interest affected student learning outcomes by 77.1% with a significance of 0.000; 2) curiosity affects student learning outcomes by 79.2% with a significance of 0.000; and 3) curiosity and interest in learning both affect student learning outcomes by 78% with a significance of 0.000.
Keywords: Curiosity, interest in learning, learning outcomes, chemistry
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh kuriositas dan minat belajar terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu, Kabupaten Bogor. Kuriositas dan minat adalah dua dari banyak variabel yang mungkin memengaruhi pembelajaran.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi secara kuantitatif. Pendekatan pengambilan sampel secara acak digunakan dalam proses pengambilan sampel. Skala psikologis yang terdiri dari 45 butir instrumen dimanfaatkan sebagai alat penelitian untuk mengumpulkan informasi tentang kuriositas dan minat belajar dari 57 siswa. Instrumen tes digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar siswa mata pelajaran kimia, sedangkan instrumen kuesioner digunakan untuk mengukur kuriositas dan minat siswa dalam belajar.
Penilaian formatif menggunakan pertanyaan deskriptif tentang konten ikatan kimia digunakan untuk mengukur hasil belajar dalam domain kognitif. Kuriositas dan minat belajar diukur menggunakan kuesioner yang menggunakan skala Likert dengan opsi respons untuk selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KD), dan tidak pernah (TP). Pada penyekoran pernyataan favorable “selalu” diberi skor 4, “sering” diberi skor 3, “kadang-kadang” diberi skor 2, dan
“tidak pernah” diberi skor 1. Sedangkan pernyataan yang bersifat unfavorable, “selalu” diberi skor 1, “sering” diberi skor 2, “kadang-kadang” diberi skor 3, dan “tidak pernah” diberi skor 4.
Teknis analisis data yang digunakan adalah uji regresi berganda.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa: 1) minat belajar mempengaruhi hasil belajar siswa sebesar 77,1% dengan signifikansi 0,000; 2) rasa ingin tahu mempengaruhi hasil belajar siswa sebesar 79,2% dengan signifikansi 0,000; dan 3) rasa ingin tahu dan minat belajar keduanya mempengaruhi hasil belajar siswa sebesar 78% dengan signifikansi 0,000.
Kata kunci: kuriositas, minat belajar, hasil belajar, kimia
(*) Corresponding Author: [email protected] (085881801318)
PENDAHULUAN
Pendidikan diartikan sebagai suatu proses eksplorasi untuk memperoleh dan menggali keterampilan yang dilakukan oleh Siswa (Astalini et al., 2019). Hakikat sebuah pendidikan adalah menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang yang sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat (U.S., 2015). Pada kenyataannya pendidikan di Indonesia telah terjadi banyak tantangan dan masalah yang mengakibatkan pendidikan harus melakukan reformasi agar bangsa Indonesia bisa mengikuti perkembangan zaman (Diki Maulansyah et al., 2023). Pendidikan akan berkualitas jika komponen yang berkaitan dengan sekolah bisa ikut memaksimalkan kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, Siswa adalah komponen inti dalam keberhasilan pembelajaran. Munculnya rasa keinginan untuk belajar adalah salah satu aspek keberhasilan dalam pembelajaran. Belajar diartikan sebagai usaha dalam mengubah perilaku, perubahan dalam hal kecakapan, sikap, harga diri, minat, dan penyesuaian diri sesuai dengan watak yang mereka miliki. Salah satu cabang ilmu pendidikan yang menjadi dasar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi (IPTEK) adalah pendidikan MIPA(Nofita Sari et al., 2016). Cabang ilmu pendidikan MIPA salah satunya adalah mata pelajaran kimia.
Ilmu kimia merupakan salah satu ilmu teoritik yang melibatkan kegiatan praktikum didalamnya. Pembelajaran yang efektif bisa menggunakan salah satu prinsip pembelajaran dengan menguatkan kegiatan praktik sehingga pembelajaran bisa berkualitas (Nehru & Irianti, 2020). Kegiatan eksperimen atau praktikum bisa dilakukan di laboratorium atau hanya di kelas bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran pengetahuan saintifik (Yunita, 2013). Melalui kegiatan eksperimen diharapkan Siswa mampu meningkatkan rasa kerjasama sehingga terjadi proses transfer pengetahuan (Prastowo, 2014). Pembelajaran kimia dapat dikembangkan melalui kegiatan eksplorasi. Kegiatan tersebut mengajak siswa untuk eksplorasi pengetahuan dan melakukan aksi sehingga mendapatkan pengalaman yang mendalam tentang suatu gejala alam.
Siswa sering melihat mata pelajaran kimia sebagai abstrak dan menantang untuk dipahami. Kurangnya minat siswa untuk belajar atau meneliti materi terkait kimia secara mandiri dipengaruhi oleh hal ini. Siswa juga mengalami ketidakpastian dan kurangnya kepercayaan diri pada keterampilan mereka sendiri. Agar berdampak pada proses ilmiah, emosional, psikomotorik, dan kognitif mereka, keinginan siswa dalam belajar adalah salah satu efek dari pemikiran yang salah ini. Salah satu komponen kunci dari proses pembelajaran kimia adalah mengembangkan minat belajar yang dapat memengaruhi hasil belajar dan meningkatkan motivasi belajar (Sari, 2019). Pergeseran minat dapat terjadi pada siswa karena berbagai alasan internal dan eksternal.
Faktor internal tidak hanya datang dari diri siswa, namun kehadiran guru pun dapat menjadi bagian dalam mempengaruhi minat belajar siswa. Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa dapat meningkatkan minat belajar siswa. Selain kompetensi guru, kreativitas guru juga mampu mempengaruhi minat belajar siswa. Semakin tinggi kreativitas guru dalam mengajar maka dengan mudah kuriositas itu muncul. Menurut Amin et al ( 2018), minat belajar siswa berkaitan dengan memiliki, mempelajari, dan mengagumi sesuatu dengan perasaan ingin tahu yang mengiringinya.
Melalui proses pembelajaran yang melibatkan kuriositas siswa dan minat yang tinggi untuk belajar akan dicapai suatu hasil belajar yang baik pula. Hasil belajar telah didefinisikan oleh Sudjana (2017) yaitu pengalaman belajar yang diterima melalui kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki oleh dirinya. Bentuk penilaian tidak hanya berbentuk kuantitatif, tetapi secara kualitatif juga seperti tingkah laku, karakter, dan sikap yang ia miliki selama proses pembelajaran.
Melalui pembelajaran kimia, diharapkan siswa mampu berkolaborasi, berpikir kritis, dan berinovasi dalam mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan kimia. Kuriositas dan minat belajar merupakan modal awal bagi siswa dalam proses pembelajaran kimia. Seperti yang telah dikemukakan oleh Mustari (2017), hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kuriositas di antaranya adalah memberikan kebebasan untuk menggali informasi.
Penelitian yang dilakukan di SMAN 1 Cariu kelas XI mata pelajaran kimia diperoleh data bahwa kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal kimia masih bergolong rendah. Hal ini terlihat dari hasil Penilaian Sumatif Tengah Semester kimia yaitu dari 36 siswa terdapat 10 orang yang belum lulus Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) dengan persentase hanya 27% dari seluruh Siswa. Sikap kuriositas dan minat belajar siswa juga terbilang kurang. Hal ini terlihat dari
sebagian besar siswa rendah literasi bahkan lembar kerja siswa yang telah diberikan oleh guru pada saat proses pembelajaran tidak dibaca dengan baik. Sehingga masih membutuhkan proses yang diberikan secara langsung oleh gurunya tanpa menggunakan inisiatif sendiri. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui tentang pengaruh kuriositas dan minat belajar terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif, khususnya menggunakan uji analisis regresi berganda untuk memastikan pengaruh kuriositas dan minat belajar terhadap hasil belajar SMAN 1 Cariu kelas XI kimia Kabupaten Bogor. Untuk tahun akademik 2024–2025, penelitian dilakukan di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor pada bulan September hingga Oktober.
Sebanyak 139 siswa yang menyelesaikan mata pelajaran pilihan kimia merupakan populasi yang diselidiki dalam penelitian ini. Perhitungan Taro Yamane, bagaimanapun, menunjukkan bahwa hanya 57 murid yang dimasukkan dalam sampel, bukan seluruh populasi. Karena dilakukan secara acak tanpa perencanaan sebelumnya, metode ini merupakan metode pengambilan sampel probabilitas menggunakan simple random sampling sehingga semuanya memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel (Setiawan Nugraha, 2005).
Instrumen uji dan instrumen kuesioner adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data. Sementara instrumen tes digunakan untuk menentukan efek belajar kimia, instrumen kuesioner dirancang untuk mengukur kuriositas dan minat dalam belajar.
Penilaian formatif yang terdiri dari 20 pertanyaan pilihan ganda tentang ikatan kimia digunakan untuk mengukur hasil belajar dalam domain kognitif. Skala Likert berupa data ordinal adalah skala pengukuran yang digunakan peneliti. Jawaban alternatif berikut digunakan untuk mengumpulkan data kuriositas dan antusiasme siswa dalam belajar: selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KD), dan tidak pernah (TP). Ada dua jenis pernyataan dalam kuesioner: positif (favorable) dan negatif (unfavorable). Penyekoran untuk pernyataan favorable yaitu 4 untuk jawaban “selalu”, skor 3 “sering”, skor 2 “kadang-kadang” dan skor 1 untuk “tidak pernah”.
Sedangkan pernyataan unfavorable yaitu kebalikannya. Skor 1 untuk jawaban “selalu”, skor 2
“sering”, skor 3 “kadang-kadang”, dan skor 4 “tidak pernah”. Instrumen kuisioner diberikan kepada semua siswa untuk diisi langsung di sekolah dan diawasi oleh guru. Instrumen penelitian yang disebar sudah melewati proses uji validasi dan reliabel dengan hasil bahwa 20 item pernyataan angket valid dari 25 item pernyataan untuk angket kuriositas, dan 25 item pernyataan angket valid dari 30 item pernyataan untuk angket minat belajar.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Data penelitian untuk ukuran deskriptif yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Data Statistik Deskriptif
Ukuran Deskriptif Rasa Ingin Tahu Minat Belajar Hasil Belajar Kimia
Mean 75.28 73.65 60.26
Median 75.00 75.00 65.00
Modus 72.36 80.21 70.00
Standar Deviasi 8.878 8.649 15.013
Varians 78.813 74.803 225.376
Minimum 55 53 25
Maksimum 93 91 90
Sumber : Diolah (2024)
Sebelum memeriksa hubungan antara keingintahuan siswa dan minat siswa pada hasil belajar mereka, sangat penting untuk memeriksa hasil tes persiapan, khususnya tes linearitas dan normalitas. Tabel 2 menampilkan hasil One Sampel Kolmogorov-Smirnov yang digunakan dalam uji normalitas penelitian ini. Adapun kriteria pengujian uji normalitas yaitu:
Data berdistribusi normal, jika nilai Sig. > 0,05 Data tidak berdistribusi normal, jika nilai Sig. < 0,05
Tabel 2. Data Uji Normalitas
Variabel yang diuji Sig. Simpulan
Rasa Ingin Tahu 0,200 Data berdistribusi normal Minat Belajar 0,200 Data berdistribusi normal Hasil Belajar Kimia 0,064 Data berdistribusi normal
Sumber : Diolah (2024)
Berdasarkan hasil interpretasi uji normalitas menggunakan aplikasi SPSS 25, dapat disimpulkan bahwa kedua data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi 0,200 > 0,05 untuk variabel keingintahuan dan minat belajar dan nilai signifikansi 0,064 > 0,05 untuk variabel hasil belajar kimia.
Hasil uji linearitas dapat dilihat pada tabel 3. Adapun kriteria pengujian uji linearitas yaitu:
Jika nilai Sig. > 0,05, maka kedua variabel bebas berhubungan linear dengan variabel terikat Jika nilai Sig. < 0,05, maka kedua variabel bebas tidak berhubungan linier dengan variabel terikat
Tabel 3. Data Uji Linearitas
Sig.
Rasa Ingin Tahu * Hasil Belajar (Combined) .071
Linearity .019
Deviation from Linearity .182
Minat Belajar * Hasil Belajar (Combined) .037
Linearity .034
Deviation from Linearity .073 Sumber : Diolah (2024)
Tabel 3 menunjukan data statistik mengenai uji linearitas dengan hasil nilai signifikansi deviations from linearity antara keingintahuan dengan hasil belajar kimia yaitu 0,182 > 0,05 dan nilai signifikansi deviations form linearity antara minat belajar dengan hasil belajar kimia yaitu 0,073 > 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara keingintahuan dengan hasil belajar dan minat belajar dengan hasil belajar. Dengan demikian persyaratan normalitas dan linearitas dalam model analisis regresi sudah terpenuhi.
Untuk memastikan dampak keingintahuan dan minat belajar terhadap hasil belajar kelas XI kimia di SMAN 1 Cariu, Kabupaten Bogor, penelitian ini dimanfaatkan analisis regresi.
Berikut ini adalah persyaratan untuk mengevaluasi analisis regresi berganda:
Jika nilai Sig. > 0,05, maka tolak Ho dan terima H1 Jika nilai Sig. < 0,05, maka terima Ho dan tolak H1
Hipotesis penelitian : Hipotesis 1
Ho : tidak terdapat pengaruh keingintahuan terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
H1 : terdapat pengaruh keingintahuan terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
Interpretasi data analisis regresi linear untuk hipotesis ini dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Data Analisis Hipotesis 1
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.424 .012 117.017 .000
Keingintahuan -.014 .001 -.911 -16.205 .000
a. Dependent Variable: Hasil Belajar
Sumber : Diolah (2024) Hipotesis 2
Ho : tidak terdapat pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
H1 : terdapat pengaruh minat belajar terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
Interpretasi data analisis regresi linear untuk hipotesis ini dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Data Analisis Hipotesis 2
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.508 .016 93.323 .000
Minat belajar -.986 .079 -.863 -12.539 .000
a. Dependent Variable: Hasil Belajar
Sumber : Diolah (2024)
Hipotesis 3
Ho : tidak terdapat pengaruh keingintahuan dan minat belajar secara bersama-sama terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
H1 : terdapat pengaruh keingintahuan dan minat belajar secara bersama-sama terhadap hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu Kabupaten Bogor
Interpretasi data analisis regresi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Data Analisis Hipotesis 3
Model Unstandardized Coefficients Standardized
Coefficients T Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 28.155 .807 34.903 .000
Rasa Ingin Tahu .383 .014 .229 28.299 .000
Minat Belajar Kimia .279 .014 .204 21.913 .000
a. Dependent Variable: Hasil Belajar
Sumber : Diolah (2024)
Pembahasan
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan bagaimana kuriositas dan minat pada materi pelajaran mempengaruhi hasil pembelajaran untuk kimia. Tes pilihan ganda formatif diberikan kepada siswa kelas XI yang mengambil mata kuliah pilihan kimia di SMAN 1 Cariu, Kabupaten Bogor. Sebanyak 57 siswa menerima skor 70 pada tes tersebut, yang dianggap cukup untuk bahan ikatan kimia. 95 menjadi skor tertinggi dan 35 menjadi yang terendah. Siswa harus memahami soal yang disediakan untuk memecahkan masalah kimia dalam bentuk pilihan ganda.
Skor angket untuk data kuriositas menghasilkan skor terendah 42 dan skor tertinggi 71.
Sedangkan skor rata-rata dari 57 siswa sebesar 57,192, median 57, modus sebesar 55, dan simpangan baku sebesar 45,472. Untuk data angket minat belajar memperoleh skor terendah 51 dan skor tertinggi 87 dengan skor rata-rata sebesar 70,736, median 72, modus 77, dan simpangan baku adalah 69,091.
Hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu, Kabupaten Bogor, dipengaruhi oleh kuriositas dan minat belajar, sesuai dengan hasil perhitungan uji analisis regresi berganda.
Sebelum menguji kedua variabel, terlebih dahulu menganalisis masing-masing variabel terhadap hasil belajar. Berdasarkan Tabel 4 hasil analisis hipotesis 1 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kuriositas dengan hasil belajar kimia dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Begitupun dengan hasil analisis hipotesis 2 yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara minat belajar dengan hasil belajar kimia dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hipotesis 3 diuji menggunakan analisis regresi ganda dengan fakta bahwa kuriositas memiliki nilai signifikansi 0,000 < 0,05 hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh secara bersama-sama antara kuriositas dan minat belajar terhadap hasil belajar kimia. Nilai thitung adalah 2,829 > 2,006 ttabel, menunjukkan bahwa kuriositas juga berdampak pada hasil belajar kimia. Sementara itu, thitung 2,191 > ttabel 2,006
menunjukkan bahwa signifikansi kuesioner minat belajar adalah 0,000 < 0,05. Dengan demikian, kuriositas dan minat belajar tentang kimia berdampak pada hasil belajar yang berkaitan dengan kimia.
Persamaan untuk regresi linier berganda dapat dituliskan sebagai Y = 28.155 + 0.383x1 + 0.279x2. Interpretasi hasil analisis nilai koefisien determiner (Rsquare) ditemukan nilai-nilai sebagai berikut: 0,792 menunjukkan bahwa kuriositas memiliki pengaruh 79,2% terhadap hasil belajar kimia; 0,771 menunjukkan bahwa minat belajar memiliki pengaruh 77,1% terhadap hasil belajar kimia siswa; dan 0,781 menunjukkan bahwa pengaruh gabungan minat belajar dan kuriositas memiliki pengaruh 78,1%. Sisanya 21,9% dipengaruhi oleh faktor-faktor selain kuriositas dan minat pada materi pelajaran yang sedang diteliti. Akibatnya, temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh antara kuriositas dan minat belajar terhadap hasil belajar kimia.
Keberhasilan belajar seorang siswa akan meningkat dan dipengaruhi oleh kuriositas yang muncul sehingga membuat dirinya menjadi lebih aktif dan berusaha belajar dengan baik (Hutagalung, 2022). Sikap dan perilaku kuriositas adalah pencarian terus-menerus untuk pemahaman yang lebih dalam dan lebih luas daripada apa yang sedang diteliti, diamati, dan didengar. Dia mengklaim bahwa kuriositas adalah emosi yang terkait dengan tindakan naluriah seperti penelitian dan penemuan (Mustari, 2017). Oleh karena itu, kuriositas merupakan komponen internal yang diperlukan agar proses pembelajaran berhasil. Keinginan siswa untuk belajar adalah faktor penting lainnya yang memotivasi mereka untuk berpartisipasi penuh dalam proses pendidikan. Menurut Ricardo & Meilani (2017), minat dan keinginan siswa untuk belajar menjadi dasar minat belajar mereka.
Sesuai temuan penelitian Phi et al (2021) yang meneliti hubungan antara kuriositas dan minat belajar siswa, terdapat korelasi atau hubungan yang patut dicatat dengan nilai signifikansi 0,006 dan nilai signifikansi 5% atau 0,05. Ha diterima sedangkan Ho ditolak karena nilai signifikansi lebih kecil dari nilai signifikansi. Hubungan antara kuriositas siswa dan minat mereka untuk belajar fisika di SMAN 11 Kota Jambi adalah pentingnya hubungan ini. Selain itu diperkuat juga oleh hasil penelitian Muldayanti (2013) yang menyebutkan bahwa terdapat interaksi antara minat belajar dan kuriositas siswa terhadap prestasi belajar dengan berbantuan metode STAD dan TGT. Kuriositas siswa selama selama proses pembelajaran meningkat seiring dengan kepercayaan diri dan minat belajar yang tinggi seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Diki Maulansyah et al (2023) dengan ditandai munculnya banyak pertanyaan dari siswa saat menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Aspek tersebut menekankan bahwa hubungan antara minat dan kuriositas akan meningkat lebih baik seiring dengan penggunaan model pembelajaran yang kreatif.
Proses pembelajaran sebagian besar dirangsang oleh elemen-elemen seperti kuriositas dan minat untuk belajar. Selain itu, secara bersamaan dapat meningkatkan efisiensi dan kaliber pengambilan keputusan (Bayuningrum, 2021). Didorong oleh hal ini, siswa mencoba untuk memperoleh apa yang tidak mereka ketahui untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang prinsip-prinsip kimia dan meningkatkan kinerja mereka di kelas kimia. Meskipun kuriositas dan antusiasme anak dalam belajar adalah kualitas intrinsik, perhatian orang tua juga dapat berdampak pada keinginan siswa untuk belajar. Kehadiran guru dapat memengaruhi antusiasme siswa dalam belajar selain pengaruh orang tua dan siswa (Harefa et al., 2020). Sesuai dengan hasil penelitian Anti et al (2017) yang telah melakukan penelitian pada siswa kelas X IPA dan IPS di SMA Muhammadiyah 1 Semarang bahwa terdapat pengaruh kompetensi profesional guru terhadap minat belajar kimia dengan nilai rata-rata sebesar 3,058.
PENUTUP
Hasil belajar kimia kelas XI di SMAN 1 Cariu, Kabupaten Bogor, dipengaruhi secara signifikan oleh kuriositas dan minat belajar, menurut analisis dan interpretasi data. Temuan uji regresi berganda pada tingkat signifikansi α=0,05, yaitu perhitungan kuriositas thitung (2,829) >
ttabel (2,006) dan perhitungan minat belajar thitung (2,191) > ttabel (2,006), menunjukkan dampak yang substansial terhadap hasil belajar untuk kimia. Karena kuriositas dan minat belajar memiliki
nilai 0,781 magnitudo determination coefficient (Rsquare), kuriositas dan minat belajar memiliki pengaruh 78,10% terhadap hasil belajar kimia, dengan faktor lain menyumbang 21,9% sisanya.
Adanya kuriositas dan minat belajar inilah yang menjadi faktor utama untuk mendorong siswa agar terus bereksplorasi terhadap pengetahuan yang belum ia miliki sehingga minat atau rasa ketertarikan dengan memperdalam pemahaman seseorang tentang prinsip-prinsip kimia pada akhirnya dapat mengarah pada hasil pembelajaran yang lebih baik di kelas
DAFTAR PUSTAKA
Amin, E. V., Andayani, Y., & Sukib, S. (2018). Hubungan antara minat belajar dan kebiasaan belajar terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA SMA Mataram tahun ajaran 2017/2018.
Anti, R. H., Astuti, A. P., & Hermanto, B. (2017). Pengaruh kompetensi profesional guru terhadap minat belajar kimia kelas X di SMA Muhammadiyah 1 Semarang. Dalam Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi.
Astalini, D., Agus, K., Perdana, R., & Pathoni, H. (2019). Identifikasi sikap peserta didik terhadap mata pelajaran fisika di Sekolah Menengah Atas Negeri 5 Kota Jambi. Unnes Physics Education Journal, 8(1). http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej
Bayuningrum, W. A. (2021). Curiosity dalam kehidupan sehari-hari. Psychological Journal:
Science and Practice, 1(1), 32–36. https://doi.org/10.22219/pjsp.v1i1.15706
Diki Maulansyah, R., Febrianty, D., & Asbari, M. (2023). Peran guru dalam peningkatan mutu pendidikan: Penting dan genting! Journal of Information Systems and Management, 02(05). https://jisma.org
Harefa, N., Sadarman Tafonao, G., Hidar, S., & Kunci, K. (2020). Analisis minat belajar kimia siswa melalui pembelajaran berbasis multimedia. 11(2), 81–86. https://doi.org/10.31764 Hutagalung, R. (2022). Pengaruh rasa ingin tahu (curiosity) dan gaya belajar visual terhadap hasil
belajar IPA di sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(2), 2892–2903.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2518
Muldayanti, N. D. (2013). Pembelajaran biologi model STAD dan TGT ditinjau dari keingintahuan dan minat belajar siswa. JPII, 2(1), 12-17.
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpii
Mustari, M. (2017). Nilai karakter refleksi untuk pendidikan. Raja Grafindo Persada.
Nehru, N., & Irianti, E. (2020). Analisis hubungan rasa ingin tahu dengan hasil belajar IPA. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 7(1), 53–59.
https://doi.org/10.21831/jppfa.v7i1.25234
Nofita Sari, I., Fajar Saputri, D., & Pendidikan Fisika IKIP PGRI Pontianak, P. (2016). Pengaruh minat dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar fisika pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Galing Kabupaten Sambas. Jurnal Basicedu, 3(2), 397-405.
https://doi.org/10.25273/jems.v4i2.691
Phi, J., Masda, F., Masion, M., & Kurniawan, D. A. (2021). Analisis hubungan karakter rasa ingin tahu siswa terhadap minat belajar fisika di SMAN 11 Kota Jambi. Dalam Rasa Ingin Tahu dan Minat, 7(2).
Prastowo, A. (2014). Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Diva Press.
Ricardo, R., & Meilani, R. I. (2017). Impak minat dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 1(1).
http://ejournal.upi.edu/index.php/jpmanper/article/view/00000
Sari, F. K. R. R. & F. Y. (2019). Hubungan minat dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika kelas VI SDN 25 Jati Tanah Tinggi. Jurnal Basicedu, 3(2), 397-405.
Setiawan Nugraha. (2005). Teknik sampling.
Sudjana, N. (2017). Penilaian hasil proses belajar mengajar (21st ed.). Rosda Karya.
U.S., S. (2015). Jurnal Formatif, 2(2), 111-121.
Yunita. (2013). Panduan pengelolaan laboratorium kimia (3rd ed.). CV. Insan Mandiri.