Kejadian Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Penderita Pneumonia Komuniti Berdasarkan Panduan PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) di Poliklinik Paru RSUD Jendral Ahmad Yani Periode April
2014−Maret 2015 Kota Metro
Enjel santoso simanjuntak1, Tri Umiana Soleha2, Khairun Nisa Berawi3
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2
Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3
Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial. Drug related problems (DRPs) merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan seperti pneumonia komuniti yang diteliti di RSUD Pusat H. Adam Malik Medan pada tahun 2010, kategori indikasi tanpa obat sebesar 3,33%, obat tanpa indikasi sebesar 10,00%, dosis salah sebesar 6,67%, dan interaksi obat sebesar 53,33%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat Drug related problems (DRPs) pada pasien pneumonia komuniti dan hubungan indikasi,dosis,golongan obat terhadap DRPs Total. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik korelatif bivariate yang bersifat retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro. Hasil penelitian didapatkan pasien pneumonia komuniti pria 32 orang dan wanita 31 orang dengan rentangan umur dari ≤ 34 sampai
≥ 85 dan ditemukan Adanya DRPs total pada pasien dengan persentase 71% dengan DRPs masing masing kategori yakni pemilihan golongan (29%), pemilihan jenis obat (13%), dosis dan signature obat (13%), indikasi tanpa obat (49%), obat tanpa indikasi (10%). DRPs Indikasi obat dan DRPs golongan obat terhadap DRPs total dengan sig.<0,05.
DRPs dosis obat terhadap DRPs total dengan sig.>0,05. simpulan dari penelitian didapatkan bahwa terdapat Drugs Related problems (DRPs) pada pasien pneumonia komuniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro dan terdapat hubungan yang bermakna antara indikasi, golongan obat terhadap DRPs total. tidak ada hubungan yang bermakna antara DRPs dosis obat dengan DRPs total.
Kata kunci: drugs related problems (DRPs), pneumonia komuniti, terapi.
The Events Of Drug Related Problems (DRPs) Comunity Pneumonia In Patients Under The Guidelines PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) In The Lungs Polyclinic Hospital General Ahmad Yani Period
April 2014-March 2015 Metro City
Abstract
Pneumonia is an acute infection of the lung parenchyma that includes the alveoli and interstitial tissue. Drug related problems (DRPs) is an event or condition in which drug therapy has the potential or can significantly affect the desired therapeutic results such as community pneumonia studied in RSUD H. Adam Malik Central Medan in 2010, the category of indication without drugs amounted to 3.33% , drugs without indication of 10.00%, incorrect dose of 6.67%, and drug interactions of 53.33%. The purpose of this study was to find out whether there are Drug related problems (DRPs) in patients with community pneumonia and indication, dosage, drug classes relative to Total DRPs.
The research method used is correlative bivariate correlative which is retrospective by using secondary data taken from RSUD General Ahmad Yani Metro City. The results of the study showed that patients with pneumonia of male community 32 people and 31 women with an age range from ≤ 34 to ≥ 85 and found total DRPs in patients with percentage of 71% with DRPs in each category ie group selection (29%), drug selection 13%), drug dose and signature (13%), indication without drug (49%), drug without indication (10%). DRPs Indication of drug and DRPs class of drugs against total DRPs with sig. <0.05. DRPs dose of drug against total DRPs with sig.> 0,05. conclusions from the study found that there are Drugs Related problems (DRPs) in patients with community pneumonia in RSUD General Ahmad Yani Metro City and there is a significant relationship between indication, class of drug to total DRPs. there was no significant association between DRPs of drug dose and total DRPs.
Keywords: drug related problems (DRPs), pneumonia community, therapy.
Korespodensi: Enjel Santoso Simanjuntak, alamat Jalan Abdul Muis 6 Podok Abass Alqindi 3 Bandar Lampung, HP 082281293705, e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Pneumonia adalah penyakit infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli), dengan gejala batuk pilek yang disertai nafas sesak atau nafas cepat.
Penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Secara klinis pada anak yang lebih tua selalu disertai batuk dan nafas cepat dan tarikan dinding dada kedalam.
Namun pada bayi seringkali tidak disertai batuk.1 Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitial dan WHO (World Health Organization) mengatakan bahwa pneumonia hanya beradasarkan penemuan klinis yang didapat pada pemeriksaan inspeksi dan frekuensi pernapasan (IDAI, 2009).2
Menurut UNICEF dan WHO pada tahun 2006, Pneumonia merupakan penyebab kematian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS, malaria dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak meninggal karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang balita meninggal di dunia.3 Pneumonia merupakan penyebab kematian yang paling sering, terutama di negara dengan angka kematian tinggi. Hampir semua kematian akibat pneumonia (99,9%), terjadi di negara berkembang dan kurang berkembang.4
Menurut UNICEF dan WHO pada tahun 2006, Pneumonia merupakan penyebab kematian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS, malaria dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak meninggal karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang balita meninggal di dunia.3 Pneumonia merupakan penyebab kematian yang paling sering, terutama di negara dengan angka kematian tinggi. Hampir semua kematian akibat pneumonia (99,9%), terjadi di negara berkembang dan kurang berkembang.4
Data Kemenkes tahun 2013 menyatakan bahwa Provinsi Lampung menjadi penderita pneumonia yang cukup banyak yaitu untuk pneumonia dibawah 1 tahun sebanyak 2198 balita, pneumonia pada usia 1-4 tahun sebanyak 3997 balita, pneumonia berat pada usia 1-4 tahun sebanyak 202 balita, dan peneumonia berat
pada usia dibawah 1 tahun sebanyak 101 balita.5
Penilaian terhadap suatu terapi telah banyak dilakukan oleh peneliti dengan berupa sebuah skor, kesesuaian, keefektifan, dan lain-lain. Salah satu penilaian terhadap suatu terapi adalah drug related problems (DRPs) yang merupakan bentuk dari kesesuaian terapi. Drug related problems (DRPs) merupakan suatu peristiwa atau keadaan dimana terapi obat berpotensi atau secara nyata dapat mempengaruhi hasil terapi yang diinginkan.
Identifikasi DRPs pada pengobatan penting dalam rangka mengurangi morbiditas, mortalitas dan biaya terapi obat.6
Hal ini akan sangat membantu dalam meningkatkan efektivitas terapi obat terutama pada penyakit-penyakit yang spesifik dengan pengunaan antibiotik seperti pneumonia. Dan apabila terjadi kesalahan pada pengunaan obat antibiotik dapat menimbulkan efek samping hingga berakibat fatal. Dalam klasifikasi Pharmaceutical Care Network Europe Foundation (PCNE) pada tahun 2006 dikatakan bahwa yang termasuk dalam Drugs Related Problems (DRPs) adalah adverse reaction(S), drug choise problem, dosing problem, drug use/admistration problem and interactions. Dalam pelayanan kesehatan sering terjadi kesalahan terapi salah satunya dalam pengunaan obat seperti yang dikatakan dalam klasifikasi PCNE sehingga memicu banyak peneliti untuk meneliti hal itu.7Sebagai salah satu contoh frekuensi kejadian DRPs pada pasien pneumonia komuniti yang diteliti di RSUD Pusat H. Adam Malik Medan pada tahun 2010, kategori indikasi tanpa obat sebesar 3,33%, obat tanpa indikasi sebesar 10,00%, dosis salah sebesar 6,67%, dan interaksi obat sebesar 53,33% sedangkan tahun 2011 kejadian DRPs kategori indikasi tanpa obat sebesar 0,00%, obat tanpa indikasi sebesar 9,52%, dosis salah sebesar 14,29%, dan interaksi obat sebesar 66,67%.8 Hasil penelitian tersebut menyatakan masih terdapat kesalahan terapi.
Maka dari latar belakang dan fenomena tersebut penulis tertarik untuk membuat suatu penelitian yang berjudul
Kejadian Drug Related Problems (DRPs) pada pasien pneumonia komuniti berdasarkan panduan PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia) di Poliklinik Paru RSUD Jenderal Ahmad Yani periode april 2014-maret 2015 Kota metro.
Metode
Desain pada penelitian ini menggunakan analisis korelatif dengan correlate bivariate yang bersifat retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari Poliklinik Paru RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro periode April 2014- Maret 2015. Penelitian ini mengunakan total sampel yaitu pengambilan data pada seluruh sampel tanpa ada perbedaan perlakuan sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. data yang telah didapatkan telah sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Yang menjadi kriteria inklusi pada penelitian ini adalah : Semua rekam medik pasien komuniti periode April 2014 – Maret 2015, Semua rekam medik dalam keadaan baik, Semua rekam medik pasien yang jelas dan tertulis dari anamnesis sampai pengobatan yang diberikan pada pasien pneumonia komuniti.
Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah:
Rekam medik rusak (sobek atau basah) dan tidak lengkap, Rekam medik pasien pneumonia komuniti di luar periode yang ditentukan.
Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas pada penelitian ini adalah DRPs Pemilihan obat, DRPs Dosis obat (dosis tinggi dan dosis rendah), DRPs Indikasi obat (indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi). Semua data yang telah didapatkan dalam penelitian dikumpulkan, kemudian dilakukan pemaparan pada setiap variabel yang diperoleh. Setelah itu disusun dan dikelompokan dan dianalisis menggunakan correlate bivariate. Hasil penelitian disajikan dan dijabarkan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisa dilakukan secara kualitatif dengan menarik kesimpulan umum pada penelitian yang dilakukan.
Hasil
Jumlah pasien pneumonia rawat jalan di sistem administrasi RSUD Jenderal Ahmad Yani yaitu sebesar 136 Orang.
Setelah ditelusuri lagi, pada buku registrasi pasien Poliklinik Paru hanya terdapat 77 Orang pasien pneumonia. Namun pada rekam medik hanya terdapat 63 orang dengan diagnosis pneumonia komuniti dan telah sesuai dengan kriteria ekslusi dan inklusi.
Distribusi pasien pneumonia komuniti pada penelitian ini cukup banyak dan merata yaitu dari usia ≤ 34 sampai dengan usia ≥85. Pada tabel 7 didapat usia yang paling banyak pasien pneumonia komuniti yaitu pada usia 45-49 tahun dan 55-59 tahun yang masing-masing 11 orang (17.5%). Dan urutan kedua yaitu pada usia
≤34 tahun dan 65-69 tahun yang masing- masing 10 orang (15%).
Hasil penelitian didapatkan jumlah sample sebanyak 63 orang (100%) dengan persentase perempuan sebanyak 49% yakni 31 orang dan persentase laki-laki sebanyak 51 % yakni 32 orang. Faktor modifikasi sangat berpengaruh dalam menentukan pengobatan pada pneumonia komuniti, ditemukan beberapa yang menjadi faktor modifikasi pada pasien pneumonia komuniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro yakni TB Paru, PPOK, bronkitis, Hipertensi, Bronkietaksis, efusi fleura dan lain-lain. Terdapat faktor modifikasi sebanyak 38 orang (60%) dengan faktor modifikasi dan sebanyak 25 orang (40%) tanpa faktor modifikasi.
Penggunaan obat pada pasien pneumonia kkomuniti cukup beragam dengan lebih dari dua jenis golongan yang di berikan pada pasien, semua pasien diberikan obat tunggal. Pemberian golongan obat pada pasien pneumonia kommuniti hanya terdiri dari 3 golongan yaitu golongan fluorokuinolon, beta laktam, dan makrolid. didapat bahwa golongan yang paling sering digunakan adalah golongan makrolid sebayak 40 obat dengan persentase sebesar 63% seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Kejadian DRPs pada pemberian golongan antibiotik pasien pneumonia komuniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro.
Tabel 2. Frekuensi pemilihan jenis obat pada pasien pneumonia komuniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro.
Keterangan tabel : azt: azitromisin, lvf: levofloksasin, spf : sipirofloksasin, cfx: cefixime, klt: klaritomisin, sfn : sefadine. N: Jumlah pasien.
Tabel 3. Frekuensi DRPs Total Pada pada pasien pneumonia komniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro.
Keterangan tabel : DRPs Total ; DRPs indikasi, DRPs dosis, dan DRPs golongan obat, N: jumlah pasien.
Tabel 4. Hubungan antara DRPs variabel bebas (glongan obat, dosis obat, indikasi obat) dengan variabel terikat (DRPs total).
Keterangan: Variabel bebas : Golongan obat, dosis obat, indikasi obat, varibel terikat: DRPs Total, sig: signature, CC: correlation coefficient, N:jumlah data.
Penggunaan jenis obat di poliklinik Paru sangat beragam, terdapat 6 jenis obat antibiotik yang digunakan pada pasien pneumonia komuniti seperti pada tabel 2.
Tabel 2 dapat terlihat bahwa jenis obat yang paling sering digunakan adalah Azitromisin yang merupakan golongan Makrolid dengan
jumlah sebnyak 38 obat dengan persentase sebesar 60.3%.
Obat yang paling sering mengalami DRPs pada penelitian ini adalah jenis obat azitromisin dengan jumlah kesalahan terapi sebanyak 5 obat dengan persentase sebesar 63% sedangkan jenis cefixime, sefradine,
NO KEJADIAN DRPS PADA GOLONGAN ANTIBIOTIK
Kejadian Golongan Jumlah Persentase Total
1 DRPS
Makrolid 17 27%
29%
Fluorokuinolon 1 2%
Beta Laktam 0 0%
2 TIDAK DRPS
Makrolid 23 37%
71%
Fluorokuinolon 21 33%
Beta Laktam 1 2%
Total 63 100% 100%
No Jenis Obat N Persentase
1 Azt 38 60,30%
2 Lvf 7 11,10%
3 Spf 5 7,90%
4 Cfx 10 15,90%
5 Klt 2 3,20%
6 Sfn 1 1,60%
Total 63 100,00%
Kategori DPPs Keseluruhan
Total
DRPs Tidak DRPs
N 45 18 63
Persentase 71% 29% 100%
Variabel bebas Variabel terikat (DRPs Total)
Sig. CC N
Golongan obat 0.001 0.4 63
Dosis obat 0.057 0.241 63
Indikasi obat 0.000 0.663 63
klaritomisin tidak mengalami kesalahan terapi atau DRPs. Sehingga DRPs pemilihan jenis obat sebesar 8 obat dari 63 obat antibiotik atau sebesar 13%.
Kejadian DRPs pada dosis dan signature obat pada pasien pneumonia komuniti terdapat sebanyak 8 kali dengan persentase 13%. Persentase dosis lebih dari total dosis yang DRPs sebesar 88%
sedangkan dosis kurang sebesar 12% dan untuk persentase dari keseluruhan pasien didapatkan persentase dosis kurang sebanyak 2% sedangkan dosis lebih sebanyak 11%. Untuk terapi mukolitik dokter hanya menggunakan dua obat yaitu N-Acetil Sistein dan OBH sedangkan untuk ekspektoran, obat yang paling sering digunakan adalah inadryl. Dari penggunaan tersebut terdapat beberapa kesalahan terapi dengan indikasi tanpa obat ataupun sebaliknya obat tanpa diberikan indikasi sehingga terjadi DRPs dengan persentase DRPs Indikasi tanpa obat sebanyak 32 indikasi tanpa diberikan obat dengan persentase total yaitu sebesar 49% dan ditemukan juga DRPs pada pemberian obat tanpa indikasi sebanyak 6 obat dengan persentase 10%.
Total DRPs adalah penggabungan seluruh kesalahan terapi yang ada yakni dari dosis,pemilihan obat,dan indikasi. Dari tabel 3. tersebut dapat disimpulkan bahwa pengobatan di poliklinik paru pada pasien pneumonia komniti di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro masih terdapat kesalah sebanyak 45 pasien atau sebesar 71%.
Analisis yang digunakan pada penelitian ini mengunakan analisis correlate bivariat dengan correlated spearman’s dengan melihat apakah variabel DRPs golongan obat, DRPs dosis obat dan DRPs indikasi obat berpengaruh terhadap DRPs total. analisis kata “DRPs” dikodekan menjadi “1” dan “tidak DRPs” dikodekan menjadi “0” untuk mempermudah dalam menganalisis data. Analisis tersebut menyatakan bahwa DRPs golongan obat mempuyai nilai sig. 0.001 yang berarti ada pengaruh DRPs golongan obat terhadap DRPs total dengan nilai correlation coefficient sebesar 0.4 yang berarti korelasi rendah.
Analisis tersebut menyatakan bahwa DRPs dosis obat mempuyai nilai sig. 0.057 yang berarti tidak ada hubungan atau pengaruh DRPs dosis obat terhadap DRPs total dengan nilai correlation coefficient sebesar 0.241 yang berarti korelasi rendah.
Analisis tersebut menyatakan bahwa DRPs indikasi obat mempuyai nilai sig. 0.000 yang berarti ada hubungan atau pengaruh DRPs indikasi obat terhadap DRPs total dengan nilai correlation coefficient sebesar 0.663 yang berarti korelasi tinggi.
Pembahasan
Kunjungan pasien pneumonia komuniti di RSUD Ahmad Yani Metro merupakan kunjungan terbanyak kedua setelah penyakit PPOK di poliklinik Paru. Hal ini disebabkan karena RSUD Jendral Ahmad Yani merupakan rumah sakit rujukan tipe B dengan daerah rujukan seperti Lampung Timur, Lampung Utara, Menggala, dan Way Kanan sehingga banyak pasien pneumonia yang berobat ke rumah sakit ini. Tidak hanya itu, ketersediaan tenaga medis baik dokter maupun dokter spesialis khususnya spesialis penyakit parukurang dari cukup, karena di poliklinik paru hanya terdapat 1 orang Spesialis Paru dan 2 orang dokter umum.
April tahun 2014 sampai maret 2015, tercatat 136 kunjungan untuk pasien pneumonia rawat jalan di poliklinik paru.
Sebuah penelitian menyatakan adanya risiko pneumonia yangmeningkat seiring dengan meningkatnya usia pasien. Risiko relatif bagi priausia 55-59 tahun adalah 1,94 kali jika dibandingkan dengan pria berusia
≤49tahun. Risiko ini akan meningkat menjadi 2,83 kali bagi pria berusia 60- 64tahun, 2,98 kali bagi pria berusia 65-69 tahun, hingga akhirnya 4,19 kali bagipria berusia ≥70 tahun.9 Sebuah penelitian lain di Inggris menemukan oddsratio yang meningkat menjadi 1,6 (95% CI: 1,01 - 2 ,53) pada kelompok usia40-59 tahun, serta meningkat menjadi 2,85 (95% CI: 1,83 – 4,45) padakelompok usia >60 tahun.10
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Ahmad Yani Kota metro, dimana pada penelitian ini ditemukan sebanyak 11 orang (17.5%) pada usia 45-49
tahun dan 55-59 tahun. Meningkatnya risiko dan angka kejadian pada kelompok usia yang lebih lanjut ini memiliki hubungan dengan beberapa faktor risiko serta faktor komorbiditas.11 Akan tetapi, penuruman imunitas atau fungsi paru juga dapat terjadi pada orang berusia lanjut meskipun tidak ada faktor komorbiditas.12 Pada pasien berusia lanjut, mekanisme mukosiliar dari jalan nafas telah dibuktikan menjadi kurang efisien. Penuaan memiliki efek penurunan pada berbagai mekanisme perlindungan host di paru, antara lain pada barier mekanik, aktivitas fagosit, imunitas humoral dan sel T.13 Perubahan spesifik lainnya adalah menurunnya fungsi sel B dan T perifer yang bersifat antigen spesifik. Fungsi dari sel natural killer (NK), makrofag, dan neutrofil juga menurun pada usia lanjut.14 Pada penelitian didapat bahwa laki laki (52%) yang lebih banyak mengalami pneumonia komuniti, hal ini Sesuai dengan sebuah penelitian lain yang mendapatkan bahwa risiko relatif (RR) dari CAP meningkat dari 1,87 pada priaberusia 55-59 tahun hingga 4,17 untuk pria berusia 70 tahun atau lebih.15
Pasien perbulan tidak ada perubahan yang signifikan antara bulan satu dengan bulan yang lain. Bulan oktober dan november menjadi waktu kunjungan pasien pneumonia komuniti yang paling banyak.
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh dinas kesehatan bahwa cuaca yang berubah pada bulan oktober yaitu dari cuaca panas ke cuaca dingin.16 Cuaca dingin tentunya membuat semua peralatan atau lingkungan sekitar menjadi lembat dan hal itu membuat kuman atau bakteri penyebab pneumonia mudah untuk berkembang biak dan menginfeksi manusia dan selama cuaca dingin juga keadaan tubuh manusia bisa mengalami penurunan imunitas tubuh.17 Penatalaksanaan pneumonia komuniti, karena jika faktor modifikasi tidak ada maka obat yang diberikan berbeda pula dengan pasien yang memiliki faktor modifikasi.18 Penelitian ini didapatkan faktor modifikasi yang paling banyak dan paling sering ditemui adalah peyakit paru seperti TB paru, efusi pleura, brokietaksis dan PPOK, selain penyakit paru ada juga penyakit lain yang
menjadi faktor modifikasi seperti hipertensi, DM, dan GERD. Menurut hasil wawancara dengan salah satu dokter yang memberikan pengobatan pada poli paru tersebut bahwa penyakit seperti ini yang membuat berubahnya beberapa pengobatan. Contohnya: penyakit diabetes militus, Yang seharusnya diberikan dengan jadwal 7 hari pemberian antibiotik maka ditingkatkan pemberiannya menjadi beberapa hari lagi. Hal ini dikarenakan sistem transportasi obat pada tubuh pasien tidak normal diakibatkan peningkatan kadar glukosa pada darah yang mengganggu sistem transportasi obat yang mengakitbatkan obat tidak terserap dengan dosis sempurna/ yang diharapkan.19 Beberapa penyakit juga tidak begitu berpengaruh terhadap pengobatan pneumonia komuniti pada pasien seperti penyakit PPOK.17
Pilihan antibotika yang kurang tepat Suatu daftar antibiotika yang dinyatakan efektif dalam uji sensitivitas tidak dengan sendirinya menyatakan bahwa setiap antibiotika akan memberikan aktivitas klinik yang sama. Disini dokter harus dapat mengenali dan memilih antibiotika yang secara klinis merupakan obat terpilih untuk suatu kuman tertentu.20
Kejadian DRPs menurut dokter yang memberikan pengobatan tersebut adalah pasien yang tidak terbuka dalam memberikan informasi secara lengkap.
Contohnya pasien tidak memberitahu kalau sebelumnya pasien telah mendapatkan pengobatan antibiotik sebelumnya ataupun adanya penyakit lain yang menjadi komorbid, karena hal itu sangat penting dalam menentukan dosis dan lama pemberian.7 Selain dari pasien tidak terbuka ada faktor lain yaitu dari kepatuhan, biaya asuransi yang tidak memadai.
Monoterapi Cephalosporin dan monoterapi Fluoroquinolon merupakan terapi yang sering dipakai pada pasien pneumonia komunitas. Pemberian terapi antibiotik dengan satu golongan obat atau kombinasi belum dapat ditentukan secara jelas signifikansinya. Tessmer, menunjukkan hasil penurunan tingkat mortalitas pada kombinasi terapi beta
laktam ditambah dengan makrolida. Kolditz menyatakan bahwa terapi kombinasi perlu diberikan pada pasien pneumonia berat, dan terapi dengan satu golongan obat saja dapat diberikan pada pasien pneumonia ringan.21
DRPs Dosis yang tidak berhubungan atau tidak berpengaruh terhadap DRPs Total pada penelitian ini dikarenakan dosis yang diberikan pada pasien pneumonia komuniti telah tepat dengan persentase ketepatan sebesar 87%. Hal ini sebanding dengan penelitian nurul yaitu ketepatan dosis sebesar 86%. Ketepatan pengobatan dosis pada pasien pneumonia komuniti dalam penelitian ini berbanding terbalik dengan DRPs total.8
Hasil wawancara yang dilaksanakan dengan pihak pemberi pengobatan di poliklinik paru tersebut menyatakan bahwa pemilihan dosis ini dilihat dari berbagai aspek seperti dokter dan pasien, selain dokter yang harus mempunyai kemampuan pemberian sediaan dan pengobatan. Pasien juga tentunya harus dapat meningkatkan kepatuhan dan mengkonsumsi obat serta dana yang memadai untuk mengunakan kesehatan yang lebih mendukung.
DRPs indikasi adalah variabel yang berpengaruh besar dalam menentukan DRPs total dimana nilai korelasi mencapai 0,663 yang merupakan korelasi tinggi dalam tingkatan korelasi. Hal ini disebabkan penggunaan obat mukolitik dan ekspektoran yang seharusnya diberikan pada pasien tapi tidak diberikan pada pasien sehingga mengalaimi DRPs.
Menurut Kementrian Kesehatan Indonesia bahwa penggunaan ekspektoran dan mukolitik sangat penting dalam pengobatan simptomatik batuk pada infeksi paru.
Simtomatik yang tidak diobati sangat berpengaruh terhadap kesembuhan pasien, seperti hal batuk yang tidak di berikan obat batuk maka kondisi akan semakin memburuk (kronis) yang sangat menggangu aktivitas dan psikologis serta hubungan sosial.21
Kesimpulan
Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat Drug Related Problems (DRPs)
pada pasien pneumonia komuniti poliklinik Paru rawat jalan di RSUD Jendral Ahmad Yani tahun periode April 2014-Maret 2015 dan Terdapat hubungan antara DRPs pemilihan obat terhadap DRPs total dengan sig. 0,001 <0,05 (bermakna) dengan korelasi 0,4 dan terdapat hubungan antara DRPs Indikasi obat terhadap DRPs total dengan sig.0.000 <0,05 (bermakna) dengan korelasi 0,663, tidak ada hubungan antara DRPs dosis obat terhadap DRPs total sig.
0,057>0,05.
Daftar Pustaka
1. Pamungkas, Dian Rahayu. Analisis Faktor Resiko pneumonia pada balita di 4 provinisi di wilayah indonesia timur[Skripsi]. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012:110-140.
2. IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
Pedoman pelayanan medis. Jakarta:
Unit kerja kordinasi ikatan dokter anak;
2009:1- 14.
3. World Healt Organization (WHO).
Hospital care for children Second edition. USA: WHO; 2013.
4. Kementrian Kesehatan Indonesia.
Epidemiologi. Jakarta: Indonesia; 2010.
5. Kemenkes. Jumlah kasus pneumonia balita. Jakarta: Kemenke RI; 2013:123 6. Cipolle Robert, Strand Linda, Morley
Peter. Pharmaceutical Care Practice.
New York: Mc Graw Hill; 2012:1-26.
7. Pharmaceutical Care Network Europe Foundation. Classification for Drug related problems. The Netherlands:
PCNE; 2003.
8. Nurul Hidayah. Identifikasi Drugs Related problems Pada pasien pneumonia komuniti RSUD Medan Adam Malik [skripsi]. Medan: USU.
2011:1-76.
9. American thoracic society. Guitlines for management of adults with community-acquired pneumonia.
Diagnosis, asessment of severity, antimikrobial, and prevention. Am J Respir Crit. Care Med. 2007;123:1456- 88.
10. Farr BM, Bartlett CLR, Wadsworth J, Miller DL. Risk factors for community- acquired pneumonia diagnosed upon
hospital admission. Respir Med.
2000;94:954-63.
11. Arjanardi Nur Muhammad Pola Klinis Pneumonia komunitas Dewasa di RSUD Karyadi. Jurnal of medicine infection.
Jakarta: Universitas Jakarta;
2014:22(1);12-34.
12. Brunton, L., Parker, K., Blumenthal, D., and Buxton, Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2008:751-3.
13. Nafrialdi, Setawati, A. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI; 2007.
14. Simonetti AF, Viasus D, Garcia-Vidal C, Carratala J. Management of community-acquired pneumonia in older adults. Ther Adv Infect Dis.
2014;2(1):3-16.
15. Baik I, Curhan GC, Rimm EB, Bendich A, Willett WC, Fawzi WW. A. Prospective study of age and lifesyle factors in relation to communityacquired pneumonia in US men and women.
Arch Intern Med. 2000;160:3082-88.
16. Departemen Kesehatan RI.
Pharmauceutical care untuk penyakit
infeksi saluran pernapasan. Jakarta:
Indonesia; 2005: 27-67.
17. Perhimpunan dokter paru indonesia (PDPI). Pneumonia comuniti. Jakarta:
FKUI; 2003:1-38.
18. Herdanto. Pola kuman pada pasien pneumonia di RS “X” [Skripsi]. Medan:
USU; 2010:45-7.
19. Madigan MT, Martinko JM. Brock Biology of Microorganisms. Edisi ke-11.
USA: Prentice Hall; 2000.
20. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU). Pemilihan antibiotik bagi penyakit infeksi.
Medan: USU; 2008:335-356.
21.
Kolditz, M., Halank, M., & Höffken, G. Monotherapy versus combination therapy in patients hospitalized with community- acquired pneumonia. Treatments in respiratory medicine.
2006;5(6):371-83.
22.