Anggun Chairunnisa Chrisna Putri, Ratna Dewi Puspitasari, Arif Yudho Prabowo ǀ Kematian Janin Intrauterin dan Hubungannya dengan Pre eklampsia
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|62
Kematian Janin Intrauterin dan Hubungannya dengan Preeklampsia
Anggun Chairunnisa Chrisna Putri1, Ratna Dewi Puspitasari2, Arif Yudho Prabowo3
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2
Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3
Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Kematian bayi dapat terjadi setelah dilahirkan maupun saat masih di dalam kandungan atau disebut dengan intra uterine fetal death (IUFD). Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and Gynecologists yang disebut IUFD adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya IUFD yaitu faktor ibu, faktor janin, dan faktor tali pusat. Faktor penyakit ibu salah satunya preeklampsia dipercaya berperan penting dalam kejadian kematian janin intrauterin.
Pre eklampsia dan eklampsia merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas ibu dan bayinya. Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria yang terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu sampai segera setelah persalinan. Pre eklampsia diyakini menimbulkan iskemik uteroplasenta yang dapat menurunkan suplai oksigen dan nutrisi ke janin yang dapat mengganggu pertumbuhan janin hingga kematian janin dalam kandungan. Insiden pre eklampsia adalah 7-10% dari kehamilan dan merupakan penyebab kematian ibu nomor dua di Indonesia. Berdasarkan penelitian WHO di seluruh dunia, terdapat kematian bayi sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Diantara Negara ASEAN lainnya, Indonesia merupakan Negara dengan angka kematian perinatal tertinggi.
Kata kunci: Faktor resiko IUFD, kematian janin, preeklampsia
Intrauterine Fetal Death and Its Correlation with Preeclampsia
Abstract
Infant mortality is not only occur after birth, but may also occur while still in the womb or called intrauterine fetal death (IUFD). According to WHO and The American College of Obstetricians and Gynecologists, fetal death is a dead fetus in the womb with the weight of 500 grams or more or the death of a fetus in the womb at 20 weeks or more. There are three factors that influence the occurrence of IUFD : maternal factors, fetal factors, and cord factor. Maternal disease factors, one of which preeclampsia is believed to play an important role in the incidence of intrauterine fetal death. Preeclampsia and eclampsia are the major causes of maternal and infant mortality and morbidity. Preeclampsia is a pregnancy-specific syndrome in the form of organ perfusion reduced due to vasospasm and endothelial activation, characterized by elevated blood pressure and proteinuria occurring after 20 weeks' gestation until after delivery. Preeclampsia is believed to cause uteroplacental ischemia which can decrease the supply of oxygen and nutrients to the fetus so that can cause intrauterine fetal growth restriction until intrauterine fetal death. The incidence of preeclampsia is 7% - 10% of pregnancy and is the second leading cause of maternal mortality in Indonesia. Based on WHO research, there is perinatal mortality of 10,000,000 lives per year. Among the other ASEAN countries, Indonesia is a country with the highest perinatal mortality rate.
Keywords : fetal death, IUFD risk factor, preeclampsia
Korespondensi : Anggun Chairunnisa Chrisna Putri, Jl. Pulau Legundi Gg. Sukma No. 21 Sukarame Bandar lampung, HP 08117201819, e-mail [email protected]
Pendahuluan
Intrauterine Fetal Death (IUFD) adalah kematian yang terjadi saat usia kehamilan > 20 minggu dan janin sudah mencapai ukuran 500 gram atau lebih. Umumnya, IUFD terjadi menjelang persalinan saat kehamilan sudah memasuki usia 32 minggu dan istilah lahir mati (stillbirth) yang merupakan kelahiran hasil konsepsi dalam keadaan mati yang telah mencapai usia kehamilan 28 minggu, sering digunakan bersamaan dengan IUFD.1
Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) di seluruh dunia, terdapat
kematian bayi sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Diantara negara ASEAN lainnya, Indonesia merupakan negara dengan angka kematian perinatal tertinggi. Hal ini menggambarkan pelayanan kesehatan di Indonesia masih perlu banyak perbaikan yang bersifat menyeluruh serta lebih bermutu.
Persalinan di Indonesia tiap tahunnya berkisar antara 5.000.000 jiwa dan dapat dijabarkan bahwa kematian bayi terjadi setiap 25-26 menit sekali. Berdasarkan survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012,
Anggun Chairunnisa Chrisna Putri, Ratna Dewi Puspitasari, Arif Yudho Prabowo ǀ Kematian Janin Intrauterin dan Hubungannya dengan Pre eklampsia
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|63 angka kematian bayi mencapai 32/1.000
kelahiran hidup.2
Penyebab kematian bayi diantaranya yaitu faktor maternal, fetal dan plasental . Faktor maternal yaitu, umur ibu, umur kehamilan dan penyakit yang diderita oleh ibu seperti preeklampsia, eklampsia, diabetes mellitus, dan ketuban pecah dini (KPD). Faktor fetal yaitu hamil kembar, kelainan kongenital.
Faktor plasental yaitu kelainan tali pusat, lilitan tali pusat, solusio plasenta dan plasenta previa.3
Isi
Menurut WHO dan The American College of Obstetricians and Gynecologists yang disebut kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
Kematian janin merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau infeksi.3
Belum diketahui secara pasti penyebab kematian janin di dalam kandungan. Beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan kematian janin dalam kandungan, antara lain :
1) Perdarahan : plasenta dan solusio plasenta
2) Preeklampsia dan eklampsia 3) Penyakit-penyakit kelainan darah 4) Penyakit infeksi dan penyakit menular 5) Penyakit saluran kencing
6) Penyakit endokrin : diabetes mellitus 7) Malnutrisi. 4
Untuk mendiagnosis IUFD ditentukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis, dapat ditemukan keluhan-keluhan seperti pasien tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang, pasien merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasa dan pasien merasakan belakangan ini perutnya sering menjadi keras dan merasa sakit-sakit seperti mau melahirkan. Sedangkan pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi, dan auskultasi.5
Pada inspeksi, tidak terlihat gerakan- gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada pasien yang kurus. Pada palpasi
dapat ditemukan tinggi fundus lebih rendah dari seharusnya umur kehamilan, tidak teraba gerakan-gerakan janin dan dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin. Pada auskultasi baik memakai stetoskop, monoaural maupun dengan doptone tidak terdengar denyut jantung janin (DJJ). Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.6
Adapun faktor resiko IUFD dibagi menjadi 3 yaitu : faktor resiko ibu, faktor resiko janin dan faktor tali pusat. Faktor ibu meliputi umur, paritas, pemeriksaan antenatal dan penyakit yang diderita oleh ibu (anemia, preeklampsi dan eklampsi, solusio plasenta, diabetes mellitus, rhesus iso-imunisasi, infeksi dalam kehamilan, ketuban pecah dini, dan letak lintang). Faktor janin meliputi kelainan kongenital dan infeksi intranatal. Faktor kelainan tali pusat yaitu kelainan insersi tali pusat, simpul tali pusat dan lilitan tali pusat.7
Preeklampsia sebagai penyulit kehamilan sering ditemukan dan merupakan satu dari tiga besar yang masih menjadi penyebab utama kematian ibu di dunia, selain perdarahan dan infeksi. Insiden preeklampsia 5–7% dari seluruh kehamilan. Preeklampsia menyebabkan 16% kematian maternal dan 45% kematian perinatal baik secara langsung maupun tidak langsung. Komplikasi pada ibu berupa sindroma hemolisis, elevated liver enzym, and low platelet count (HELLP), edema paru, gangguan ginjal, perdarahan, solusio plasenta bahkan kematian ibu. Komplikasi pada bayi dapat berupa kelahiran prematur gawat janin, berat badan lahir rendah dan IUFD.8
Preeklampsia didefinisikan sebagai hipertensi disertai proteinuria, merupakan suatu gangguan multisistem yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang. Preeklampsia dan eklampsia berkontribusi terhadap 10-15% dari total kematian ibu di dunia. Sebagian besar kematian di negara berkembang diakibatkan oleh eklampsia, sementara di negara maju lebih sering disebabkan oleh komplikasi dari preeklampsia.9
Adanya peningkatan risiko kematian janin pada kehamilan yang didiagnosis dengan
Anggun Chairunnisa Chrisna Putri, Ratna Dewi Puspitasari, Arif Yudho Prabowo ǀ Kematian Janin Intrauterin dan Hubungannya dengan Pre eklampsia
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|64 preeklampsia pada periode prematur.10 Risiko
janin dengan preeklampsia 86 kali lipat lebih tinggi pada minggu ke 26, hampir 50 kali lipat lebih tinggi pada minggu ke 27, dan lebih dari 35 kali lipat lebih tinggi pada minggu ke 28.
Bahkan dalam minggu ini 34, risiko janin meningkat lebih banyak dari 7 kali lipat. Risiko janin yang meningkat ini masuk akal karena adanya gangguan fungsi plasenta yang menyebabkan preeklampsia.11
Berbagai teori telah diajukan untuk memahami mekanisme pasti penyebab perubahan patologis pada preeklampsia dan eklampsia. Adapun beberapa teori tersebut yaitu teori kelainan vaskularisasi plasenta, teori kerusakan sel endotel, teori imunologis, dan teori genetik.3
Teori penyebab preeklampsia yang pertama kali dikemukakan adalah teori kelainan vaskularisasi plasenta yang menunjukkan kegagalan remodelling arteri spiralis. Invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis tidak terjadi pada preeklampsia sehingga arteri spiralis gagal bervasodilatasi. Vasodilatasi arteri spiralis ini terjadi pada kehamilan normal dan penting untuk menjaga aliran darah ke janin sehingga dapat meningkatkan perfusi jaringan dan menjamin pertumbuhan janin dengan baik.3 Kegagalan remodelling arteri spiralis terjadi pada preeklampsia, pembuluh darah tetap kaku sehingga menyebabkan hipoperfusi dan iskemia plasenta. Kondisi iskemia akan memicu plasenta menghasilkan oksidan (radikal bebas) yang dapat mengakibatkan kerusakan sel endotel. Iskemia juga dapat berkembang menjadi aterosis, nekrosis fibrin, trombosis, penyempitan arteriola, dan infark plasenta.12
Preeklampsia merupakan salah satu faktor resiko IUFD, dimana preeklampsia merupakan faktor penyakit yang diderita oleh ibu. Pada preeklampsi terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Maka aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin.4 Menurut Kotweg dkk (2008), penyebab yang paling penting
untuk IUFD adalah keterbatasan pertumbuhan janin, hal ini menekankan pentingnya peran plasenta dalam mengoptimalkan pertumbuhan janin.13
Sebuah penelitian di India yang dilakukan oleh Jayashree dkk (2017) mengungkapkan bahwa preeklampsia merupakan penyebab paling umum pada kematian janin intrauterin. Sehingga, pada wanita hamil yang terdeteksi mengalami preeklampsia harus diterapi dengan tepat.
Terapi meliputi pemantauan tekanan darah secara teratur, disertai dengan pemantauan parameter lain seperti pertumbuhan janin, fungsi hati dan fungsi ginjal, serta fungsi koagulasi. Dengan adanya pemantauan ini, diharapkan preeklampsia dapat dideteksi pada tahap awal dan jika diperlukan, dapat merujuk ke pusat kesehatan yang lebih memadai sehingga komplikasi dari preeklampsia dapat dihindari.14
Penatalaksanaan preeklampsia berat melibatkan keseimbangan antara kesejahteraan ibu dan janin. Ada dilema lebih lanjut berkenaan dengan janin, dimana persalinan dini (lebih awal) dapat mencegah kematian janin namun dapat menyebabkan bahaya morbiditas dan mortalitas neonatal.15 Sebuah tinjauan Cochrane baru-baru ini menilai konsekuensi janin dari persalinan segera dibandingkan dengan persalinan tertunda pada kehamilan dengan preeklampsia berat (sebelum 34 minggu). Rasio kelangsungan hidup janin antara persalinan segera dengan persalinan yang ditunda adalah sama. Pengambilan keputusan klinis akan bergantung pada penilaian klinis dan gambaran klinis spesifik ibu dan janin.16
Penatalaksanaan pasien IUFD dibagi menjadi 2 yaitu tatalaksana aktif dan tatalaksana pasif.
Tatalaksana aktif meliputi :
1) Untuk rahim yang usianya 12 minggu atau kurang dapat dilakukan dilatasi atau kuretase.
2) Untuk rahim yang usia lebih dari 12 minggu, dilakukan induksi persalinan dengan oksitosin. Untuk oksitosin diperlukan pembukaan serviks dengan pemasangan kateter foley intra uterus selama 24 jam.17
Anggun Chairunnisa Chrisna Putri, Ratna Dewi Puspitasari, Arif Yudho Prabowo ǀ Kematian Janin Intrauterin dan Hubungannya dengan Pre eklampsia
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|65 Sedangkan tatalaksana pasif meliputi :
1) Menunggu persalinan spontan dalam waktu 2-4 minggu
2) Pemeriksaan kadar fibrinogen setiap minggu.17
Upaya mencegah kematian janin, khususnya yang sudah atau mendekati aterm adalah bila ibu merasa gerakan janin menurun, tidak bergerak, atau gerakan janin terlalu keras, perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Perhatikan adanya solusio plasenta.3
Simpulan
Kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Adapun faktor resiko Intrauterine Fetal Death (IUFD) dibagi menjadi 3 yaitu : faktor risiko ibu, faktor risiko janin dan faktor tali pusat.
Preeklampsia merupakan salah satu faktor risiko penyakit ibu yang dapat menyebabkan komplikasi pada bayi berupa kelahiran prematur, gawat janin, berat badan lahir rendah dan IUFD.
Penatalaksanaan pasien IUFD dibagi menjadi 2 yaitu tatalaksana aktif dan tatalaksana pasif.
Daftar Pustaka
1. Norwitz E dan John S. Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Erlangga Medical Series; 2007.
2. Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar.
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2007.
3. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
Bina Pustaka; 2014.
4. Mochtar, R. Sinopsis Obstetri Fisiologi Patologi Edisi ke-3. Jakarta : EGC; 2004.
5. Llewellyn, J. Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi ke-6. Jakarta : EGC; 2005.
6. Manuaba, Ida Bagus Gde. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi Edisi ke-2. Jakarta : EGC; 2003.
7. Saifuddin. Ilmu Kebidanan Perkata Edisi Ke-3. Jakarta : EGC; 2002.
8. Aziz R, Mahboob T. Pre-eklampsia dan profil lipid. Pakistan Journal of Medical Sciences. 2007;23(5):751-754.
9. Turner, J.A. Diagnosis and Management of Preeclampsia: An Update. International Journal of Women’s health. 2010 ;(2):327- 37.
10. Ahmad AS, Samuelsen SO. Hypertensive disorders in pregnancy and fetal death at different gestational lengths: a population study of 2 121 371 pregnancies. BJOG.
2012;119:1521–8.
11. Redman CW, Sargent IL. Latest advances in understanding preeclampsia. Science.
Jun. 2005;308:1592–4.
12. Sidani, M. dan Siddik-Sayyid, S.M.
Preeclampsia, A New Perspective in 2011.
The Middle East Journal of Anesthesiology. 2011;21(2):207-16.
13. Sarah D. McDonald, MD. Risk of Fetal Death Associated With Maternal Drug Dependence and Placental Abruption A Population-Based Study. JOGC.
2007;29(7):556-9.
14. Kanavi JV, Shobha G, Kavita G. Incidence and Risk Factors for Intrauterine Foetal Demise: a Retrospective Study in a Tertiary Care Centre in India. Int J Pregn &
Chi Birth. 2017;2(2):13-6.
15. Facchinetti F, Alberico S, Benedetto C, Cetin I, Cozzolino S, Di Renzo G, et al. A multicenter, case-control study on risk factors for antepartum stillbirth. Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine. 2011;24:407–10.
16. Churchill D, Duley L, Thornton JG, Jones L.
Interventionist versus expectant care for severe pre-eclampsia between 24 and 34 weeks' gestation. [Cochrane Database of Systematic Reviews]. Birmingham Department of Obstetrics and Gynaecology. 2013;1-22.
17. Achadiat CM. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC; 2004.