Tujuan dilakukannya Mini Research ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas KKNI pada Mata Kuliah Konseling Keluarga dan sebagai bahan pembelajaran. Penulis sangat berharap buku ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai konseling keluarga. Dalam konteks ini, konseling keluarga muncul sebagai pendekatan yang efektif untuk membantu keluarga menghadapi dan menyelesaikan masalah yang mereka alami.
Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian mini ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna dan penerapan konseling keluarga dalam keluarga modern. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagaimana konseling keluarga dapat berkontribusi dalam menciptakan keluarga yang lebih sehat secara psikologis dan emosional. Oleh karena itu berdasarkan penjelasan diatas peneliti tertarik untuk mengetahui dampak konseling keluarga dalam mengatasi permasalahan keluarga pada siswa di MAN 2 Model Medan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimana pengaruh konseling keluarga dalam mengatasi permasalahan keluarga yang dihadapi siswa MAN 2 Model Medan?”. Rumusan masalah ini berfokus pada bagaimana konseling keluarga berdampak pada penyelesaian permasalahan keluarga yang mungkin mempengaruhi keadaan siswa di sekolah. Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan, tujuan penelitian ini adalah agar siswa mengetahui dan menganalisis peran layanan bimbingan keluarga dalam mengatasi permasalahan keluarga pada siswa di MAN 2 Model Medan.
Dari sinilah muncul bimbingan dan konseling keluarga sebagai upaya memberikan bantuan agar tercipta keluarga bahagia.
Pengertian Konseling Keluarga
10 Menyikapi keluarga sebagai suatu sistem bertujuan untuk membantu anggota keluarga mengembangkan potensi dirinya agar menjadi manusia yang berguna bagi keluarga dan bangsa. Artinya, setiap anggota keluarga memberikan kontribusi positif dan pemahaman mendalam tentang sifat gangguan tersebut. 11 Berbeda dengan Crane (dalam Latipun, 2001) yang mengartikan konseling keluarga sebagai suatu proses pelatihan yang menitikberatkan pada orang tua klien sebagai orang yang paling mempunyai pengaruh dalam membangun sistem dalam keluarga.
Hal ini dilakukan bukan untuk mengubah kepribadian atau karakter anggota keluarga yang terlibat, melainkan untuk mengubah sistem keluarga dengan mengubah perilaku orang tua. Jika perilaku orang tua berubah maka akan berdampak pada anggota keluarga, sehingga maksud dari uraian tersebut adalah orang tua memerlukan bantuan dalam menentukan arah perilaku anggota keluarganya. Konseling keluarga memandang keluarga sebagai satu kesatuan kelompok yang tidak dapat dipisahkan sehingga diperlukan sebagai satu kesatuan.
Maksudnya adalah jika salah satu anggota keluarga mempunyai masalah, maka hal tersebut dianggap sebagai gejala penyakit keluarga, karena keadaan emosi salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi semua anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga yang mengalami gejala-gejala ini disebut "pasien teridentifikasi", yang merupakan produk dan kontributor gangguan interpersonal keluarga. Berdasarkan informasi tersebut, Hasnida (repository. usu.ac.id/bitstream) mendefinisikan konseling keluarga sebagai proses interaktif yang berupaya membantu keluarga mencapai keseimbangan homeostatis (kemampuan menjaga keluarga dalam keadaan seimbang) sehingga anggota keluarga dapat merasakan merasa nyaman.
Untuk lebih memahami tentang konseling keluarga, dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam konseling akan menanamkan dalam diri setiap anggota keluarga rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah bersama. Konselor harus berusaha membangkitkan keberanian setiap anggota keluarga untuk berani mengemukakan pendapat dan mampu bekerja sama satu sama lain, sehingga menjadi “inside the family terlibat”. Hubungan konselor dengan anggota keluarga bersifat sementara, karena hubungan yang permanen akan berdampak buruk pada akhir konseling.
Dengan memahami prinsip-prinsip konseling keluarga, maka perbedaan antara konseling keluarga dan konseling individu akan menjadi lebih jelas. Pada konseling individual lebih ditekankan pada permasalahan klien sehingga ia memandang klien sebagai pribadi yang otonom, sedangkan pada konseling keluarga penekanannya pada permasalahan klien sebagai suatu permasalahan.
Konflik Keluarga
Dalam upayanya, konselor harus melibatkan diri sepenuhnya sebagai bagian dari dinamika keluarga klien. Konflik merupakan bagian integral dari kehidupan sosial yang harus dianggap penting, merangsang pemikiran baru, mendorong perubahan sosial, mempertegas hubungan dalam kelompok, membantu kita membentuk rasa identitas pribadi, dan memahami berbagai hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Karakteristik Konflik dalam Keluarga
Namun hasil akhir dari adanya suatu konflik, baik deduktif maupun konstruktif, sangat bergantung pada strategi yang digunakan untuk menyelesaikannya. 14 Karena konflik bersifat normatif yang berarti tidak dapat dihindari, maka kelangsungan hubungan dalam keluarga sangat bergantung pada respon individu terhadap konflik tersebut. Keluarga dengan interaksi yang hangat menggunakan pemecahan masalah yang konstruktif, sedangkan keluarga dengan interaksi yang bermusuhan menggunakan pemecahan masalah yang destruktif.
Dalam pandangan ini, konflik orang tua-anak tidak boleh terjadi karena orang tua akan selalu berkorban demi anaknya. Selain aspek tanggung jawab dalam menyikapi kebutuhan anak, terdapat juga aspek tuntutan yang mencerminkan harapan orang tua terhadap sikap dan perilaku anak. Konflik Pada Masa Anak-Anak Ketika seorang anak dilahirkan dan berkembang di luar tubuh ibunya, salah satu konflik yang pertama kali muncul dalam hubungan orang tua-anak adalah konflik pada masa penyapihan, biasanya setelah anak berumur satu tahun.
Proses penyapihan dimulai oleh anak karena kehamilan bayi berikutnya, atau karena anak dianggap sudah cukup umur untuk mulai mengalami perpisahan sementara dengan ibunya. Pada perkembangan selanjutnya, yang banyak mendapat perhatian dalam kajian konflik orangtua-anak adalah ketika anak memasuki usia dua tahun (balita). Pada masa ini, anak mulai banyak mengalami perkembangan dalam kemampuan bahasa dan motoriknya, serta mulai banyak berkembang.
Konflik Pada Masa Remaja Konflik antara remaja dengan orang tua merupakan salah satu hal yang banyak menarik perhatian para peneliti. Hal-hal yang menjadi perhatian para jenderal mencakup frekuensi konflik, isu-isu yang memicu konflik, dan metode yang digunakan untuk menyelesaikan konflik. Beberapa perhatian menunjukkan pola lengkung dalam intensitas konflik orang tua-anak, meningkat pada masa remaja awal, memuncak pada masa remaja pertengahan, dan menurun pada masa remaja akhir.
Sementara itu, beberapa penelitian lain11 mengungkapkan tren penurunan yang linier dengan intensitas konflik yang lebih tinggi terjadi pada masa remaja awal dan menurun pada masa remaja akhir.
Tujuan Konseling Keluarga
16 konseling keluarga adalah (1) memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota keluarga; (2) substitusi gangguan, ketidakfleksibelan peran dan kondisi; (3) memberikan pelayanan sebagai teladan dan pendidik peran tertentu yang ditunjukkan kepada anggota lainnya. Sedangkan Minuchin (Latipun, 2008) menyatakan bahwa tujuan konseling keluarga adalah untuk mengubah struktur dalam keluarga, dengan melakukan restrukturisasi unit dan penyembuhan perpecahan di antara dan di sekitar anggota keluarga. Diharapkan keluarga dapat menantang persepsi untuk melihat kenyataan, mempertimbangkan alternatif jika memungkinkan, dan pola transaksional.
Dari uraian tersebut, tujuan konseling keluarga dapat dibedakan menjadi: tujuan umum dan tujuan khusus. Membantu anggota keluarga belajar menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah hubungan antar anggota keluarga. Untuk membantu anggota keluarga menyadari bahwa jika salah satu anggota keluarga mempunyai masalah maka akan mempengaruhi persepsi, harapan dan interaksi anggota lainnya.
Membantu anggota keluarga belajar menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah hubungan antar anggota keluarga. Meningkatkan toleransi dan dorongan anggota keluarga terhadap budi pekerti khusus dan kelebihan anggota lainnya. Mengembangkan toleransi terhadap anggota keluarga yang mengalami frustasi atau kekecewaan, konflik, dan perasaan sedih yang terjadi karena faktor dalam sistem keluarga maupun di luar sistem keluarga.
Mengembangkan motif dan potensi setiap anggota keluarga dengan cara memberi semangat, memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut.
Peran Konselor dalam Konseling Keluarga
Sebagai konselor pernikahan dan keluarga, konselor secara serius mengembangkan hubungan yang jujur dan terapeutik dengan seluruh anggota keluarga. Hubungan tersebut dilakukan secara netral, menghindari pemberian julukan negatif, mengajukan pertanyaan yang bersifat sirkular dan terstruktur, mengukur struktur keluarga dan menilai permasalahan yang mempengaruhi proses keluarga dan proses bimbingan keluarga. Sebagai pemimpin, konselor menjadi pengarah dan mitra kerja bagi pasangan dan anggota keluarga dalam proses pernikahan dan terapi keluarga.
Sebelum mengembangkan kemitraan terapeutik, konselor terlebih dahulu bekerja dengan pasangan dan anggota keluarga untuk menciptakan ketidakseimbangan dalam sistem keluarga dan kemudian membawa perubahan.
Identifikasi Masalah
Data Siswa a) Data Diri Siswa
Diagnosis
Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang mendasari munculnya permasalahan siswa. Menurut Sjarkawi, faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar, biasanya dari lingkungan yaitu: Keluarga, teman, tetangga dan pengaruh berbagai media audiovisual seperti TV dan VCD atau media cetak seperti koran, majalah dan lain sebagainya.
Tekanan Akademik yang Tinggi
Hubungan Keluarga yang Kurang Dekat
Beban Tanggung Jawab yang Berlebihan
Kesulitan dalam Hubungan Sosial
Gejala Stres Emosional dan Burnout
Prognosis
Prognosis Positif (Dengan Intervensi yang Tepat)
Prognosis Moderat (Intervensi Terbatas atau Tidak Konsisten)
Upaya penanganan Masalah
Konseling Individu
Konseling Keluarga
Pengelolaan Stres dan Keterampilan Coping
Dukungan Akademik
Pengurangan Beban Tanggung Jawab
Fasilitasi Kegiatan Sosial
Evaluasi/ Tindak Lanjut
Evaluasi Berkala
Diskusi Kemajuan dengan SPM
Identifikasi area perbaikan: Bantu SPM mengidentifikasi area yang masih memerlukan perhatian atau perbaikan, seperti keterampilan manajemen waktu, pengurangan stres, atau komunikasi dengan orang tua.
Penyesuaian Intervensi
Dukungan Keluarga Berkelanjutan
Monitoring Kesehatan Mental
Dukungan Teman Sebaya
Memfasilitasi kegiatan sosial: Mendorong SPM untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sekolah atau di masyarakat yang dapat meningkatkan keterampilan sosial dan dukungan teman sebaya. Bentuklah kelompok pendukung: Pertimbangkan untuk membentuk kelompok pendukung di sekolah untuk memungkinkan siswa berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain.
Pelaporan Hasil
Perencanaan Jangka Panjang
Kesimpulan
Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa SPM banyak mengalami tekanan akademis dan kurangnya dukungan emosional dari keluarga, terutama karena orang tua tinggal terpisah dan menuntut mereka untuk selalu mencapai hasil. Akibatnya SPM merasa tertekan, kesepian dan kurang memiliki kedekatan dengan orang tua. Kemudian, penilaian dan pemantauan secara berkala juga akan memastikan bahwa SPM mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan akademis dan emosional mereka.
Saran