Apakah ketentuan terkait pencucian uang mampu mengantisipasi berkembangnya tindak pidana pencucian uang? Bagaimana peran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebagai lembaga independen dalam menangani berbagai kasus pencucian uang. Apakah tugas dan wewenang PPATK yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 juncto Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang telah memenuhi fungsinya dalam memberantas tindak pidana pencucian uang?
Susunan Personalia Tim
NASIONAL
Pokok-pokok Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UUPU) Nomor 15 Tahun 2002
Bank dan lembaga keuangan bukan bank yang dimaksud dalam undang-undang ini adalah penyedia jasa keuangan. Oleh karena itu undang-undang ini menentukan keberadaan, peran dan kegiatannya dalam pemberantasan pencucian uang. UU No. 15 Tahun 2002 tentang UUPU mengatur bahwa penyidikan, penuntutan, dan penyidikan di pengadilan dilakukan berdasarkan ketentuan KUHAP, kecuali undang-undang ini menentukan lain (Pasal 30).
Sistem yang sama juga dianut oleh UU No. 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi yang diatur secara jelas dalam Pasal 38. Sistem pembuktian terbalik dalam tindak pidana pencucian uang ini bukan kali pertama diterapkan dalam peraturan perundang-undangan kita. . Selain itu, asas pembuktian terbalik juga diatur dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Pasal 22).
Pasal 34 UUPU mengatakan, dalam hal diperoleh bukti yang cukup di dalam pemeriksaan sidang pengadilan, hakim memerintahkan
Pasal 37 UUPU menyatakan, dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan hakim dijatuhkan di mana terdapat bukti-bukti
INTERNASIONAL
- Amerika Serikat
- Australia
Amerika Serikat beroperasi di bawah sistem pemerintahan federal di mana kekuasaan dibagi antara pemerintah federal dan 50 negara bagian. Jauh sebelum lahirnya Konvensi PBB Menentang Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika tahun 1988, Amerika Serikat diketahui telah memberlakukan berbagai undang-undang anti pencucian uang. Banyak pihak yang menilai Amerika Serikat paling berpengalaman dalam menangani masalah pencucian uang dibandingkan negara lain.
Pengalaman tersebut tidak hanya dalam bidang ketentuan hukum pencucian uang saja, namun juga dalam penegakannya yang tercermin dalam putusan pengadilan yang cukup kaya sebagai komponen penting dalam pemberantasan praktik pencucian uang. Jaksa percaya bahwa dokumen yang disyaratkan oleh BSA dan amandemennya merupakan alat penting untuk melakukan penyelidikan dan menuntut pelanggaran pencucian uang. Undang-undang tersebut memberi wewenang kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk mengumumkan undang-undang yang mewajibkan lembaga keuangan untuk menyimpan catatan tertentu dan menyampaikan laporan tertentu serta menerapkan program anti pencucian uang dan mengikuti prosedur yang ditetapkan.
Sebelum tahun 1986, upaya penegakan hukum berdasarkan undang-undang AS yang ada untuk memberantas obat-obatan terlarang hanya ditujukan pada narkoba itu sendiri, yaitu melalui perintah pengadilan yang melarang masuknya narkoba ke Amerika dan memenjarakan mereka yang mengedarkan dan menggunakannya. Menanggapi kurangnya ketentuan hukum ini, pada tahun 1986 Kongres Amerika Serikat memberlakukan Undang-Undang Pengendalian Pencucian Uang tahun 1986 (MILCA), yang untuk pertama kalinya berupaya mendefinisikan dan mengkriminalisasi kegiatan pencucian uang. Berbagai peraturan telah dibuat untuk menanggulangi tindak pidana pencucian uang yang dituangkan dalam sistem peraturan, dan praktik penerapannya selalu dipantau dari waktu ke waktu.
Ketentuan tersebut adalah sebagai berikut: barang yang digunakan dalam: barang yang digunakan dalam tindak pidana yang bersangkutan; barang-barang yang digunakan secara langsung atau tidak langsung sehubungan dengan kejahatan; adanya tindak pidana kekayaan yang nilai yang disita sama dengan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana tersebut; terhadap tindakan kriminal serius seperti perdagangan narkoba, penipuan terorganisir, pencucian uang.
Hongkong
Jepang
Inggris
Swiss
Asosiasi dan aparat penegak hukum, di bawah koordinasi Bank of England, untuk mengantisipasi pola praktik perbankan yang dapat dimanfaatkan untuk pencucian uang. Melakukan verifikasi ulang apabila timbul keraguan dalam bertransaksi mengenai rekan kontraktor atau pemilik manfaat;
Tugas dan Wewenang PPATK
Untuk mencegah dan memberantas pencucian uang, akses terhadap informasi keuangan sangat penting untuk melakukan investigasi keuangan. Sementara itu, Petunjuk Pencucian Uang Eropa menyebutkan otoritas yang bertanggung jawab untuk memberantas pencucian uang dan mewajibkan anggota Uni Eropa untuk memastikan bahwa otoritas tersebut mempunyai kewenangan untuk meminta laporan dari penyedia jasa keuangan. Konvensi PBB Menentang Korupsi (2003) mengamanatkan bahwa setiap negara anggota harus membentuk FIU yang berfungsi di tingkat nasional sebagai pusat pengumpulan, analisis dan penyebaran informasi mengenai dugaan pencucian uang.
FlU tidak hanya menerima informasi mengenai transaksi keuangan saja, namun FlU juga dapat mengontrol informasi tersebut. Dalam kapasitasnya, FIU memfasilitasi pertukaran informasi mengenai transaksi keuangan yang tidak biasa atau transaksi keuangan yang mencurigakan. PPATK secara berkala telah berkomunikasi untuk meminta informasi transaksi keuangan dari banyak otoritas pencucian uang di luar negeri.
82 Tahun 2003, PPATK dapat menerima informasi dari pihak ketiga, baik perorangan maupun badan, mengenai adanya dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan suatu pihak. Pertama, perlunya tenaga ahli transaksi keuangan yang dikumpulkan dalam satu tempat, dimana keahlian tersebut umumnya tidak dimiliki oleh penegak hukum. Langkah konkrit yang dilakukan PPATK dalam upaya implementasi Undang-Undang tentang tindak pidana pencucian uang adalah dengan menerbitkan serangkaian ketentuan pelaksanaan dalam rangka operasionalisasi undang-undang tersebut.
Sejalan dengan amanat undang-undang agar PPATK dapat melaksanakan kerja sama dalam dan luar negeri, pengembangan rezim anti pencucian uang juga ditandai dengan memperkuat kerja sama dengan instansi pemerintah terkait dan memperluas kerja sama internasional, khususnya dengan sesama FIU.
Kerjasama Internasional
EGMONT dapat dieksekusi dengan sangat cepat karena menggunakan informasi database yang disediakan oleh EGMONT. Hingga saat ini, PPATK telah menandatangani sebelas MOU dengan FIU dari negara lain, yaitu Malaysia, Thailand, Filipina, Korea, Romania, Australia, Spanyol, Belgia, Polandia, Polandia dan Peru. Kerjasama internasional juga dapat dilaksanakan untuk membantu proses bantuan hukum timbal balik.
Bantuan hukum timbal balik terjadi baik dalam rangka meminta bantuan dari negara lain maupun dalam memenuhi permintaan dari negara lain. Bantuan yang dapat diberikan oleh PPATK dalam rangka pelaksanaan mutual legal assistance adalah bantuan dalam penetapan harta kekayaan tersangka yang diminta oleh negara lain.
Pelaporan
Otoritas lembaga keuangan menetapkan sanksi administratif apabila penyedia jasa keuangan tidak menyampaikan laporan transaksi keuangan mencurigakan kepada PPATK. Pertimbangan penerapan undang-undang dan ketentuan KYC bagi penyedia jasa keuangan adalah karena penyedia jasa keuangan menghadapi berbagai risiko dalam menjalankan usahanya. Kurangnya pemahaman penyedia jasa keuangan terhadap ketentuan UU Pencucian Uang dan KYC;
Keengganan untuk menerapkan kewajiban pelaporan karena kekhawatiran akan berdampak negatif terhadap hubungan antara penyedia jasa keuangan dan pelanggan; Persaingan antar penyedia jasa keuangan dan persepsi bahwa tidak semua penyedia jasa keuangan menerapkan ketentuan sebagaimana mestinya; Terdapat beberapa pandangan yang salah mengenai laporan transaksi keuangan mencurigakan yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan.
Beberapa penyedia jasa keuangan beranggapan bahwa transaksi yang dilaporkan sudah pasti merupakan tindak pidana, sehingga PPATK akan meneruskan laporan yang disampaikan kepada aparat penegak hukum. Ancaman pidana denda dirasakan sangat serius oleh penyedia jasa keuangan, karena denda yang dikenakan cukup besar. Sejauh ini, dua penyedia jasa keuangan telah dituntut karena tidak melaporkan pajak.
Kedua penyedia jasa keuangan tersebut diperiksa di PN Jakarta Pusat karena tidak menyampaikan laporan transaksi keuangan mencurigakan kepada PPATK dan terkait peretasan PT.
Penyidikan
Tujuan KUHAP adalah mencari dan mengumpulkan alat bukti, dimana alat bukti tersebut harus dapat menjelaskan tindak pidana yang dilakukan dan memungkinkan tersangka dapat dilacak (Pasal 1 angka 2 KUHAP). Berita acara acara ditandatangani tidak hanya oleh peneliti, tetapi juga oleh semua pihak yang terlibat dalam aksi. Pada tahap pertama, penyidik hanya menyerahkan berkas, setelah itu Kejaksaan menunjuk Jaksa Penyidik untuk menyelidiki apakah berkas sudah lengkap atau belum.
Apabila hasil pencarian berkas tidak lengkap dikembalikan kepada penyidik untuk dilengkapi (P-18), atau dapat pula dikembalikan disertai petunjuk (P-19). Sedangkan jangka waktu pemeriksaan berkas perkara oleh Jaksa Penuntut Umum paling lama adalah 14 (empat belas) hari, artinya apabila lewat batas waktu tersebut tanpa pemberitahuan/pengembalian berkas, maka berkas perkara dianggap lengkap. Penyerahan tahap kedua adalah penyerahan tanggung jawab berkas perkara dan tersangka kepada Jaksa Penuntut Umum oleh penyidik.
Penuntutan
Alasan penggabungan perkara dapat dilakukan adalah apabila beberapa tindak pidana dilakukan oleh orang yang sama dan kepentingan penyidikan tidak menjadi halangan untuk menggabungkannya. Atau beberapa tindak pidana yang saling berkaitan, dan beberapa tindak pidana yang tidak berkaitan satu sama lain, tetapi berkaitan, dalam hal ini perlu dilakukan penggabungan untuk kepentingan penyidikan (Pasal 141 KUHAP). Misalnya, dalam kasus perhubungan yang pelaku tindak pidananya terdiri dari orang-orang yang mempunyai wilayah hukum yang berbeda, misalnya 1 (satu) tersangka warga sipil berada di wilayah peradilan umum, sedangkan tersangka lainnya adalah militer, berada di bawah yurisdiksi pengadilan militer.
Putusan Pengadilan
Putusan kedua terkait kasus atas nama Jasmarwan di Pengadilan Negeri Medan. Terdakwa Jasmarwan divonis 3,5 tahun penjara dengan dakwaan melakukan tindak pidana seperti penipuan, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen. Jasmarwan maupun JPU tidak mengajukan banding sehingga putusan PN Medan mempunyai kekuatan hukum tetap.
Berdasarkan pemantauan terhadap perkembangan persidangan tindak pidana pencucian uang, dapat dikatakan bahwa hakim yang memahami tindak pidana pencucian uang masih sangat sedikit. Hal ini wajar mengingat undang-undang terkait tindak pidana pencucian uang masih tergolong baru di Indonesia dan masih terbatasnya referensi terkait pencucian uang dan tindak pidana sektor keuangan di daerah. Hakim juga umumnya tidak memperhatikan perlindungan khusus terhadap saksi dan pelapor.
Jika hakim tidak dibujuk untuk menerapkan perlindungan khusus ini, terdapat kekhawatiran bahwa rezim anti pencucian uang tidak akan dapat ditegakkan secara efektif di Indonesia.
KESIMPULAN
SARAN
Oleh karena itu, kewenangan PPATK sangat terbatas, terutama terkait kerja sama dengan otoritas yang disebut financial Intelligence Unit (FIU) di luar negeri. Aparat penegak hukum dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang masih minim pengalaman dalam menerapkan undang-undang tersebut, dengan kata lain belum memiliki pemahaman yang luas dan mendalam terhadap Nomor 25 Tahun 2003 tentang tindak pidana pencucian uang, khususnya ketentuan kerahasiaan saksi/pelapor. dan bukti-bukti perkara pencucian uang yang berkaitan dengan tindak pidana asal pencucian uang (predicate crime). Di dalam negeri juga memerlukan koordinasi yang baik antar lembaga terkait, seperti Bea Cukai, Bank Indonesia, penegak hukum (polisi, kejaksaan, pengadilan) bahkan Kementerian Luar Negeri.
Harus ada koordinasi antar lembaga yang berperan dalam penegakan hukum anti pencucian uang, seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), kepolisian dan kejaksaan, serta lembaga jasa keuangan perbankan dan non-bank. Permasalahan Hukum Seputar Tindak Pidana Pencucian Uang, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jakarta. Sudarmadji. Artikel berjudul Esensi dan Ruang Lingkup Undang-Undang Tentang Pencucian Uang di Indonesia disampaikan pada Seminar Nasional Sosialisasi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 Kerjasama Kajian Hukum dan Bisnis, Fakultas Hukum UNSRI dan PT.