Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|106
Potensi Terapi Herbal yang Menjanjikan untuk Mengatasi Kelelahan
Natasha Naomi Harli Putri1, Asep Sukohar2, Gigih Setiawan2
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Kelelahan adalah perasaan lelah, mengantuk, kekurangan energi, dan kebutuhan akan usaha lebih untuk melakukan aktivitas. Kelelahan dapat merupakan kelelahan fisik maupun mental yang disebabkan oleh beban kerja yang berlebih, olahraga, dan kurang tidur. Kelelahan dapat juga merupakan sebuah gejala akibat dari penggunaan obat, penyakit, kegelisahan atau depresi. Kelelahan dapat menghambat aktivitas keseharian individu, terutama dalam pekerjaan. Akibat fatal dari kelelahan dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diingiinkan sehingga dapat menimbulkan kerugian. Penanganan kelelahan sendiri terdiri dari berbagai pendekatan, mulai dari pendekatan perilaku, pendekatan farmakologi dan nutrisi. Terdapat juga pemakaian tanaman herbal untuk mengatasi kelelahan yang sudah digunakan sejak dahulu. Tanaman herbal ini dipercaya secara turun temurun untuk mengatasi kelelahan. Minat akan tanaman herbal yang terus meningkat ini mendorong adanya penelitian untuk menguji potensi dan efikasi tanaman herbal ini dalam mengatasi kelelahan. Didapatkan berbagai tanaman herbal yang berpotensi, antara lain ginseng, Gingko biloba, Rhodiola rosea, dan Cordyceps sp. yang telah terbukti lewat berbagai penelitian klinis mengenai efikasinya dalam mengurangi kelelahan dan meningkatkan kinerja. Diduga tanaman herbal ini memilki beberapa mekanisme biologis yang dapat mempengaruhi aktivitas otak, mencegah kerusakan sel, mengurangi radikal bebas, memperbaiki mikrosirkulasi menghambat pembentukkan asam laktat, mempercepat pembentukkan energi, dan sebagainya.
Kata kunci: Ginkgo biloba, ginseng,kelelahan, tanaman herbal
The Promising Potential of Herbal Therapy to Overcome Fatigue
Abstract
Fatigue decribes the feelings of tiredness, sleepiness, reduced energy, and increased effort needed to perform tasks.
Fatigue is the physical or mental exhaustion caused by overwork, exercise, and lack of sleep. It can also be a symptom resulting from medicine, illness, anxiety or depression. Fatigue can inhibit the daily activities of the individual, especially in at work. The fatal result of fatigue can trigger the occurrence of work accidents that are not desirable and causing harm. In the management of fatigue consists of various approaches, ranging from behavioral approaches, pharmacological and nutritional approaches. There is also use of herbal plants to overcome fatigue that has been used. This herbal plant is believed to overcome fatigue. This growing interest in herbs encourages researcher to do research about the potential and efficacy of these herbs in to overcome fatigue. Those herbs are ginseng, Gingko biloba, Rhodiola rosea, and Cordyceps sp.
that have been proven through various clinical studies of their efficacy in reducing fatigue and improving performance. It is assumed that these herbs hace several biological mechanisms affecting on brain activity, preventing cell damage, reducing free radicals, improving microcirculation, inhibiting the formation of lactic acid, accelerating energy formation, etc.
Keywords: Fatigue,Ginkgo biloba, ginseng, herbs
Korespondensi: Natasha Naomi Harli Putri, alamat Pondok Arbenta, Jl. Soemantri Brodjonegoro, Gedong Meneng LK 001 Rajabasa Bandar Lampung, HP 081377963653, e-mail [email protected]
Pendahuluan
Kelelahan dapat dideskripsikan sebagai perasaan lelah, mengantuk, kekurangan energi, dan kebutuhan akan usaha lebih untuk melakukan aktivitas.1 Kelelahan mempengaruhi lebih dari 20% orang di seluruh dunia yang biasanya berhubungan dengan kelelahan fisik dan/atau psikologis.
Kelelahan dapat diakibatkan oleh aktivitas fisik atau mental yang berlebih, kurang tidur, pola makan yang buruk, atau berbagai kondisi medis seperti infeksi, gangguan kardiovaskular, metabolik, jaringan ikat, dan endokrin.2,3 Kelelahan juga merupakan gejala
yang disebabkan oleh pemakaian suatu obat, kegelisahan, dan depresi.2
Beberapa orang mungkin tidak mengenali kelelahan sebagai suatu masalah yang serius untuk mencari pengobatan yang tepat. Stimulasi seperti kopi, minuman berenergi, dan suplemen kafein atau efedrin yang banyak dikonsumsi orang hanya memberikan efek memulihkan kelelelahan untuk sementara dan bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengatasi kelelahan melalui tindakan fundamental dan konstruktif untuk
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|107 memperbaiki disfungsi sistem tubuh yang
berkaitan.2
Kelelahan sering juga ditemukan pada pekerja yang sering disebut dengan kelelahan kerja. Terkadang kelelahan kerja ini juga kurang diperhatikan dalam perspektif kesehatan karena dianggap sebagai suatu hal yang biasa jika merasa lelah setelah bekerja dan diharapkan kelelahan ini dapat pulih kembali atau dikompensasi dengan imbalan sosial dan finansial yang diberikan.
Ketertarikan kesehatan kerja akan kelelahan muncul dari adanya konsekuensi yang merugikan akibat kelelahan yang lebih serius baik dalam bentuk akut maupun kronis dan tidak adanya kesempatan atau waktu bagi pekerja untuk memulihkan dirinya dari kelelahan tersebut. Hal ini merugikan bagi perusahaan maupun pekerja itu sendiri, yaitu adanya kinerja yang buruk dari pekerja, penurunan kualitas layanan dan produk, kecelakaan kerja, dan gangguan kehidupan sosial dan pribadi.4 Karena itu, penting untuk mengatasi kelelahan untuk menghindari kerugian-kerugian yang disebabkannya.
Terdapat sejarah panjang penggunaan bahan-bahan alami atau herbal untuk mengatasi kelelahan yang biasanya diturunkan secara turun-temurun di masyarakat. Selama beberapa dekade pakar kesehatan dan ahli fisiologi atletik juga telah sering mencari bahan alami yang bisa meningkatkan kemampuan atletik, menunda kelelahan, dan mempercepat eliminasi kelelahan pada manusia, serta memiliki sedikit efek samping.5
Isi
Kelelahan diartikan sebagai keadaan saat seseorang merasa lelah secara fisik dan/atau mental. Kelelahan juga berhubungan dengan irama sirkadian tubuh. Irama sirkadian adalah jam biologis yang berfungsi sebagai
“alarm” internal tubuh yang memberitahu tubuh kapan harus tidur, kapan harus bangun, dan kapan harus makan. Irama sirkadian dapat terganggu karena adanya perubahan dalam aktivitas sehari-hari. Gangguan pada irama sirkadian ini dapat megakibatkan kelelahan.
Jenis-jenis kelelahan meliputi: (1) kelelahan fisik, yaitu kelelahan yang berpengaruh pada penurunan kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan manual. (2) kelelahan mental, yaitu kelelahan yang berpengaruh
pada penurunan tingkat konsentrasi dan kewaspadaan. Kelelahan dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu jam kerja yang panjang tanpa interval atau istirahat, aktivitas fisik yang intens dan berkelanjutan, upaya mental yang intens dan berkelanjutan, melakukan pekerjaan pada waktu alami untuk tidur (biasanya disebabkan oleh kerja shift atau jam kerja yang panjang), dan kurangnya tidur serta istirahat yang cukup.6
Kelelahan juga dapat disebabkan oleh kelainan organik pada tubuh, seperti kanker, infeksi, diabetes, hiperkalemia, anemia, rematik, cedera neurologis, gangguan pada kelenjar adrenal, tiroid, hepar, dan ginjal.7
Penanganan untuk kelelahan terdiri dari banyak cara, mulai dari terapi perilaku sampai terapi farmakologi. Terapi perilaku, yaitu perbanyak humor, melakukan teknik pernafasan dengan baik (bernafas dalam dan fokus pada aliran udara yang keluar dan masuk tubuh), menyimpan energi (dapat dilakukan dengan perbanyak duduk, mempertahankan postur tubuh yang baik dan benar, hindari peregangan otot yang berlebihan saat bekerja atau beraktifitas, bekerja di lingkungan yang nyaman, dan hindari stress dan tindakan terburu-buru), melakukan latihan, hindari dehidrasi, perbanyak rekreasi, istirahat, atur waktu tidur dengan baik, dan makan-makanan yang bergizi.8
Terdapat bahan-bahan alami atau bahan herbal yang berpotensi untuk mengurangi kelelahan. Bahan-bahan ini sudah digunakan sejak dahulu sebagai pengobatan di dunia medis. Berikut adalah bahan-bahan herbal yang sudah banyak di teliti potensinya untuk menjadi terapi dalam mengatasi kelelahan.
Ginseng merupakan salah satu tanaman obat herbal tradisional yang telah digunakan selama bertahun-bertahun terutama di Cina, Korea, dan Jepang. Di antara spesies ginseng, ginseng Korea (Panax ginseng), ginseng Cina (Panax notoginseng), dan ginseng Amerika (Panax quinqefolius) adalah yang paling umum digunakan di seluruh dunia 9. Panax ginseng C.A. Meyer adalah salah satu tanaman obat yang paling dikenal di dunia dan secara tradisional, sudah digunakan di negara-negara Asia untuk mempertahankan homeostasis tubuh dan untuk meningkatkan energi vital.10
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|108 Panax ginseng termasuk dalam keluarga
Araliaceae dan ditemukan di seluruh Asia Timur dan Rusia. Tanaman ini dibudidayakan di Korea, Cina, dan Jepang untuk diekspor dan digunakan sebagai obat herbal. Bagian akar dari tanaman ini biasanya digunakan untuk kepentingan medis, walaupun senyawa aktif juga berada pada bagian yang lainnya.
Terdapat dua bentuk berbeda dari Panax ginseng, yaitu ginseng merah dan ginseng putih. Panax ginseng mengandung tripertene glycosides, atau saponin, yang biasa disebut dengan ginsenosida.11 Sampai saat ini, terdapat sekitar 40 ginsenosida yang telah diidentifikasi dengan berbagai aktivitas farmakologis yang dimilikinya, seperti efek pada stress kimiawi, imunomodulator, antitumor, metabolisme glukosa, dan peningkatan kinerja kognitif.12,13 Penggunaan luas dari ginseng, membuat para peneliti untuk menilai lebih lanjut khasiatnya sebagai teraoi dan suplemen gizi ergogenik untuk mengatasi kelelahan dan meningkatkan kinerja fisik.13 Sampai saat ini, beberapa Randomized Control Trial telah melaporkan khasiat suplemen ginseng pada pengurangan kelelahan dan peningkatan kinerja fisik.
Ada beberapa kemungkinan mekanisme biologis dari ginseng pada pengurangan kelelahan mental dan fisik. Pada kelelahan mental, walaupun penelitian pada manusia menunjukan adanya peningkatan kinerja kognitif, mekanismenya tetap belum diketahui, diduga karena sifat glikemik ginseng. Ginseng dapat mempengaruhi aktivitas otak, terutama dengan meningkatkan dopamin, noradrenalim, serotonin, dan cAMP (cyclic adenosine monophosphate) pada korteks. Meskipun mekanisnme ginseng terhadap peningkatan kinerja fisik masih belum sepenuhnya dapat dijelaskan, terdapat beberapa teori yang mendukung hal tersebut, yaitu efek ginseng terhadap stimulasi aksis hipotalamus-hipofisis-kelenjar adrenal dan ketahanan terhadap beban latihan, peningkatan metabolisme miokard, kadar hemoglobin, vasodilatasi, pengeluaran oksigen oleh otot, dan metabolisme mitokondria pada otot. Semua efek tersebut, secara teori menunjukkan dapat menimbulkan peningkatan kinerja fisik. Sebuah studi eksperimental klinis melaporkan bahwa penggunaan suplemen ginseng sebelum
latihan aerobik dapat mengurangi kebocoran kreatin kinase selama latihan. Hal tersebut kemungkinan besar karena kemampuan ginseng untuk mengurangi kerusakan sel dan otot selama latihan.13
Metanalisis yang dilakukan mengenai efikasi suplementasi ginseng tehadap kelelahan dan peningkatan kinerja yang dilakukan secara uji acak terkontrol (Randomized Control Trial), melaporkan bahwa terdapat efikasi yang signifikan suplementasi ginseng pada penurunan kelelahan. Akan tetapi, metanalisis tersebut masih memiliki kelemahan karena kurangnya bukti klinis/RCT yang telah diterbitkan untuk mendukung konfirmasi temuan ini.13
Penelitian yang dilakukan terhadap 90 orang yang menderita kelelahan kronis idiopatik (idiopatic chronic fatigue) yang diberikan P. ginseng selama 4 minggu, melaporkan bahwa terdapat penurunan kelelahan. Hal tersebut dikarenakan adanya sifat antioksidan dari P. ginseng. Telah diketahui sebelumnya dari beberapa penelitian bahwa mekanisme kelelahan kronis berhubungan stres oksidatif. Efek antioksidan dari P. ginseng dapat dilihat dari penurunan secara signifikan total serum ROS (reactive oxygen species) yang merupakan indikator utama stress oksidatif dan penurunan MDA (malondialdehid) yang merupakan penanda kuantitatif dari peroksidasi lipid oleh ROS.
Stres oksidatif ini biasanya dihilangkan dengan mekanisme pelindung, seperti free-radical scavengers, SOD (superoxide dismutase), katalase, dan sistem oksidasi/reduksi GSH (gluthatione). Sistem GSH memiliki peran sentral dalam beberapa mekanisme pertahanan, tidak hanya melawan ROS tetapi juga terhadap produk toksinnya. Pemberian P.
ginseng pada penelitian ini juga meningkatkan kadar GSH dan aktivitas GSH-Rd yang dimana semakin membuktikan efek antioksidan ginseng yang berefek pada penurunan kelelahan.10
Ginkgo biloba berasal dari Cina dan sudah tersebar di seluruh dunia. Biji ginkgo bisa dimasak dan dimakan sebagai makanan, tumbuhan ini tekah diadopsi sebagai bahan untuk pengobatan tradisional di Cina selama bertahun-tahun. Terdapat juga beberapa sejarah pemakaian ekstrak daun ginkgo untuk pengobatan asma, bronkitis, dan kelelahan.15
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|109 Kandungan yang ditemukan pada daun ginkgo
adalah flavonoid (flavanols, flavones, flavonols), terpena (triterpenelactones, triterpenes, carotenoids, polyprenols, volatile terpenes), asam organik, senyawa turunan poliasetat (alkyl phenolic acids dan alkyl phenols, long chain hydrocarbons, lipids), dan lainnya (karbohidrat, berbagai senyawa organik dan anorganik). Konstituen bioaktif utamanya adalah flavonoid (terutama glikosida) dan terpena lakton. Ekstrak standar daun ginkgo yang sering diformulasikan mengandung 24% flavonoid dan 6% lakton.
Konstituen penting lainnya yang ditemukan pada ginkgo adalah biflavonoid dan alkifenol, seperti asam ginkgolic. Ginkgo juga mengandung ginkgotoxin yang dilaporkan terkait secara struktural dengan vitamin B6.16
Secara medis, daun dan buah ginkgo digunakan secara medis untuk beberapa kondisi, diantaranya adalah untuk pengobatan asma, bronkitis, penyakit kardiovaskular, tinnitus, demensia’, dan gangguan memori. 15 Penemuan akhir-akhir ini juga melaporkan bahwa G. Biloba telah digunakan sebagai salah satu obat herbal potensial untuk meningkatkan fungsi kognitif dan mengobati alzheimer serta gangguan serebral.17
Penelitian yang dilakukan mengenai efek ginkgo biloba dan psikoedukasi pada stres, kecemasan, dan kelelahan pengungsi, melaporkan bahwa terdapat perbaikan yang signifikan pada kecemasan dan kelelahan pengungsi. Pada penelitian, peningkatan signifikan terutama pada kelelahan mental setelah 6 minggu penambahan pemberian ginkgo biloba pada psikoedukasi untuk pengungsi. Hal ini diduga karena ginkgo biloba memiliki kemampuan sebagai antioksidan poten dan dapat meningkatkan perfusi serebrovaskular. Sifat antioksidan ini ditunjukkan dengan kemampuan G. biloba, secara efektif, dapat melindungi eritrosit dari kerusakan yang disebabkan oleh berbagai stres oksidatif.18 Sifat antioksidan G. biloba juga berhubungan dengan kemampuan pengambilan ROS (reactive oxygen species) dan peningkatan aktivitas enzim antioksidan, seperti superoksida dismutase (SOD), glutathione peroksidase (GPx), katalase (CAT), dan heme-oxygenase-1.19
Beberapa penelitian mengenai peran Ginkgo biloba dalam memperbaiki kelelahan
fisik juga sudah dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa gingko biloba dapat memperbaiki gejala kelelahan, dan meningkatkan daya tahan fisik, serta aktivitas sehari-sehari.18,20
Ginkgo biloba juga diketahui dapat meningkatkan daya tahan kinerja pada penelitian yang dilakukan. Hal tersebut dikarenakan adanya flavonoid dan terpena dalam ekstrak G. biloba yang dapat merangsang pelepasan endothelium-derived relaxing factor (EDRF) yang dapat meningkatkan aliran darah jaringan otot melalui perbaikan mikrosirkulasi sehingga dapat meningkatkan daya tahan aerobik dan produksi energi oleh otot. 19
Rhodiola rosea juga dikenal sebagai akar emas dan akar Arktik (Arctic root) merupakan suatu tumbuhan adaptogen karena kemampuannya untuk meningkatkan ketahanan terhadap berbagai bahan kimia, biologi, dan fisik. Tumbuhan ini tumbuh terutama di tanah kering dan berpasir yang berada di dataran tinggi.21
R. rosea mengandung berbagai senyawa antioksidan, yaitu p-tyrosol, asam organik ( gallic acid, caffeic acid, dan chlorogenig acid), dan flavonoid (catechins dan proanthocyanidins). Sifat stimulan dan adaptogen dari R. rosea dikaitkan dengan p- tyrosol, salidroside (sinonim: rhodioloside dan rhodosin), rhodioniside, rhodiolin, rosin, rosavin, rosarin, dan rosiridin. Rosavin adalah konstituen yang saat ini dipilih sebagai kandungan ekstrak R. rosea yang terstandarisasi.22
Tumbuhan ini juga terkenal penggunaannya dalam dunia medis di kawasan Eropa timur dan Asia dengan kemampuannya untuk menstimulasi sistem saraf, memperbaiki depresi, meningkatkan kinerja, mengeleminasi kelelahan, dan mencegah penyakit yang berhubungan dengan daerah dataran tinggi.22
Rhodiola rosea merupakan produk obat herbal tradisional yang indikasinya untuk menghilangkan sementara gejala stress, seperti kelelahan dan sensasi atau perasaan lemah.21 Di Swedia, R. rosea dikenal sebagai produk obat herbal sejak tahun 1985 dan telah dideskripsikan sebagai agen anti kelelahan (antifatigue) pada buku yang berjudul Textbook of Phytomedicine for
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|110 Pharmacists. Tumbuhan ini juga dijelaskan
dalam buku Farmasi (Lakemedelsboken 97/98) yang menyebutkan R .rosea sebagai salah satu psikostimulan umum yang terdaftar secara resmi sebagai produk obat herbal. Sediaan yang sudah terdaftar secara resmi ini banyak digunakan di Swedia dan Skandinavia untuk meningkatkan kapasitas kerja mental selama stress, sebagai psikostimulan, dan sebagai penguat secara umum.23
Sampai saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan untuk melaporkan efektivitas R. rosea dalam mengurangi kelelahan atau meningkatkan kinerja fisik dan kinerja mental.
Akan tetapi, suatu kajian sistematis mengenai efek pemberian R. rosea pada kelelahan fisik dan mental melaporkana masih belum dapat disimpulkan apakah R. rosea benar-benar efektif untuk mengatasi kelelahan. Hal ini dikarenakan masih kurangnya bukti atau penelitian RCT yang dianggap valid dalam penilaian yang dilakukan. R. rosea juga dilaporkan memiliki efek dengan toksisitas klinis rendah.3,23 Penelitian yang dilakukan mengenai efek pemberian ekstrak R. rosea pada 100 subjek dengan kelelahan kronis atau berkepanjangan melaporkan bahwa terdapat perbaikan pada kelelahan subjek serta keamanan dan tolerabilitasnya juga masih dapat diterima.24
Cordyceps merupakan jamur yang berada pada serangga. Jamur ini telah dikenal dan digunakan sebagai obat di Cina selama lebih dari 300 tahun.25 Cordyceps adalah jenis jamur obat yang penting dan termasuk dalam ascomycote, pyrenomycetes, hypocreales, dan clavicipitaceae. Cordyceps bersifat parasit pada larva dan kepompong serangga. Lebih dari 400 spesies dari genus cordyceps telah diidentifikasi, yang terutama adalah Cordyceps sinensis yang diakui sebagai tonik herbal yang paling terkenal pada pengobatan tradisional Tionghoa.26 Cordyceps memiliki berbagai aktivitas biologis yang bermanfaat dan sudah digunakan sebagai suplemen kesehatan, terutama untuk lansia, di Cina dan negara Asia lainnya. Konstituen bioaktif yang terdapat dalam cordyceps antara lain polisakarida, cordycepin, manitol, aminofenol,dan ergosterol. Studi terbaru melaporkan bahwa unsur kimia yang diekstraksi dari cordyceps memiliki berbagai tindakan farmakologis,
seperti nefroprotektif, efek inflamasi, antioksidan, dan antiapoptosis.26
Pemberian C. sinensis dilaporkan dapat meringankan kelelahan dan stres pada tes berenang pada hewan coba tikus. Terdapat juga penelitian mengenai suplementasi C.
sinensis pada subjek usia muda dan sehat selama aktivitas lari secara signifikan dapat meningkatkan pembangkit energi dan kemampuan anti kelelahan dibandingkan dengan kontrol plasebo.5
Beberapa mekanisme yang membuat Cordyceps dapat mengurangi kelelahan yang dilaporkan adalah sebagai berikut akan dijelaskan. Cordyceps dapat meringankan kelelahan otot dengan mempengaruhi asam laktat darah dan penyimpanan glikogen, kadar nitrogen urea darah, aktivitas enzim, regulator metabolik, dan ekspresi pengangkut yang relevan. Cordyceps juga dapat mengurangi kelelahan melalui penghambatan pembentukan asam laktat darah dan peningkatan penyimpanan glikogen di hati dan otot. Cordyceps dapat menstimulasi aktivitas LDH (lactate dehydronegenase) yang dimana peningkatan dari LDH dapat membantu untuk produksi ATP yang cukup pada latihan dengan keadaan anaerobik dan mempercepat pembersihan asam laktat sehingga dapat mengurangi kelelahan. Selain itu, cordyceps juga memiliki sifat antioksidan, yaitu dengan mengeleminasi stress oksidatif sehingga dapat meningkatkan metabolisme di mitokondria yang mempercepat pembentukkan energi sehingga dapat mengurangi kelelahan.2
Ringkasan
Kelelahan diartikan sebagai keadaan saat seseorang merasa lelah secara fisik dan/atau mental. Kelelahan dapat dideskripsikan sebagai perasaan lelah, mengantuk, kekurangan energi, dan kebutuhan akan usaha lebih untuk melakukan aktivitas. Jenis-jenis kelelahan meliputi kelelahan fisik, yaitu kelelahan yang berpengaruh pada penurunan kemampuan individu untuk melakukan pekerjaan manual dan kelelahan mental, yaitu kelelahan yang berpengaruh pada penurunan tingkat konsentrasi dan kewaspadaan. Kelelahan juga dapat disebabkan oleh kelainan organik pada tubuh, seperti kanker, infeksi, diabetes, hiperkalemia, anemia, rematik, cedera
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|111 neurologis, gangguan pada kelenjar adrenal,
tiroid, hepar, dan ginjal.
Kelelahan dapat menghambat aktivitas keseharian individu, terutama dalam pekerjaan. Kelelahan tersebut dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diingiinkan sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi pekerja sendiri maupun oleh perusahaan yang terlibat. Penanganan untuk kelelahan terdiri dari banyak cara, mulai dari terapi perilaku sampai terapi farmakologi dan nutrisi.
Banyaknya tanaman herbal yang dipakai untuk pengobatan berbagai penyakit sudah dimulai sejak dahulu, termasuk untuk mengatasi kelelahan. Tanaman herbal yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah ginseng, Ginkgo biloba, Rhodiola rosea, dan Cordyceps sp. yang masing-masing memiliki potensinya sendiri dalam mengatasi kelelahan melalui berbagai jalur mekanisme.
Simpulan
Terdapat berbagai tanaman herbal yang berpotensi untuk mengatasi kelelahan, yaitu ginseng, Ginkgo biloba, Rhodiola rosea, dan Cordyceps sp. yang masing-masing dapat mengurangi kelelahan meningkatkan kinerja.
Daftar Pustaka
1. National Safety Council. Fatigue in the Workplace: Causes & Consequences of Employee Fatigue. Indianapolis: National Safety Council; 2017.
2. Geng P, Siu K, Wang Z, Wu J. Antifatigue Functions and Mechanisms of Edible and Medicinal Mushrooms. Hindawi.
2017;2017(1):1-16.
3. Ishaque S, Shamseer L, Bukutu C, Vohra S.
Rhodiola rosea for physical and mental fatigue: a systematic review. BMC Complement Altern Med. 2012;12(70):1- 9.
4. Dijk FJH Van, Swaen GMH. Fatigue at work. Occup Environ Med. 2003;60(1):1- 2.
5. Yan W, Li T, Lao J, Song B, Shen Y. Anti- fatigue property of Cordyceps guangdongensis and the underlying mechanisms. Pharm Biol. 2013;51(5):614- 20.
6. Workplace Safety and Health Council.
Workplace Safety & Health Guidelines.
Singapore: Workplace and Health Council; 2010.
7. Greenberg DB. Clinical Dimensions of Fatigue. Prim Care Companion J Clin Psychiatry. 2002;4(3):90-3.
8. Franciscus A, Porter LK. Managing HCV HCSP Guides. California: HCV Advocate;
2014.
9. Lee CH, Kim J. A review on the medicinal potentials of ginseng and ginsenosides on cardiovascular diseases. J Ginseng Res.
2014;38(3):161-6.
10. Kim H-G, Cho J-H, Yoo S-R, et al.
Antifatigue Effects of Panax Ginseng C.A.
Meyer: A Randomised, Double-Blind, Placebo-Controlled Trial. 2013;8(4).
11. Thome Research. Panax ginseng. Altern Med Rev. 2009;14(2):172-176.
12. Tung NH, Uto T, Morinaga O, Kim YH, Shoyama Y. Pharmacological Effects of Ginseng on Liver Functions and Diseases:
A Minireview. 2012;2012:1-7.
13. Bach HV, Kim J, Myung S-K, Cho YA.
Efficacy of Ginseng Supplements on Fatigue and Physical Performance: A Meta-analysis. J Korean Med Sci.
2016;2016(31):1879-86.
14. Hsu C, Ho M, Lin L, Su B, Hsu M. American ginseng supplementation attenuates creatine kinase level induced by submaximal exercise in human beings.
World J Gastroenterol. 2005;11(34):5327- 31.
15. IARC. Ginkgo Biloba. In: iarc monographs on the evaluation of carcinogenic risks to humans: Some Drugs and Herbal Products. Perancis: International Agency for Research on Cancer (IARC);
2016;108:91-116.
16. Agency EM. Assessment report on Ginkgo biloba L ., folium. London: EMA;2014.
17. Alsmadi AM, Tawalbeh LI, Gammoh OS, et al. The effect of Ginkgo biloba and psycho- education on stress , anxiety and fatigue among refugees. 2012;2012:
173297.
18. Zhang-jin Z, Yao T, Jun ZOU. Dietary Supplement with a Combination of Rhodiola Dietary Supplement with a Combination of Rhodiola Crenulata and Ginkgo Biloba Enhances the Endurance Performance in Healthy Volunteers. Chin J Integr Med. 2009;15(3):177-83.
Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|112 19. Sadowska-Krepa E, Klapcinska B, Pokora I,
Domaszewski P, Kempa K, Podgorski T.
Effects of Six-Week Ginkgo biloba Supplementation on Aerobic Performance, Blood Pro/Antioxidant Balance, and Serum Brain-Derived Neurotrophic Factor in Physically Active Men. Nutrients. 2017;9(803):1-11.
20. Cieza A, Maier P, Poppel E. Effects of Ginkgo biloba on Mental Functioning in Healthy Volunteers. 2003;34:373-81.
21. European Medicines Agency. Community herbal monograph on Rhodiola rosea L ., rhizoma et radix. 2012;44:1-5.
22. Punja S. Rhodiola rosea. Altern Med Rev.
2002;7(5):421-3.
23. Richard P. Brown MD, Patricia L. Gerbarg MD, Zakir Ramazanov, Ph.D. DS. Rhodiola rosea: a Phytomedicinal Overview.
HerbalGram. 2002;56:40-52.
24. Lekomtseva Y, Zhukova I, Wacker A.
Rhodiola rosea in Subjects with Prolonged or Chronic Fatigue Symptoms:
Results of an Open-Label Clinical Trial.
Complement Med Res. 2017;(24):46-52.
25. Yue K, Ye M, Zhou Z, Sun W, Lin X. The genus Cordyceps: a chemical and pharmacological review. J Pharm Pharmacol. 2013;1(65):474-493.
26. Liu Y, Wang J, Wang W, Zhang H, Zhang X, Han C. The Chemical Constituents and Pharmacological Actions of Cordyceps sinensis. Hindawi. 2015;2015(1):1-12.