Hubungan Pencemaran Tanah oleh Telur Soil-Transmitted-Helminth (STH) dengan Kejadian Kecacingan pada Anak Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01
Krawangsari Natar
Sevfianti1, Betta Kurniawan2, Hanna Mutiara2, Jhons Fatriyadi Suwandi2
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Kejadian kecacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. 24% dari populasi dunia terinfeksi oleh Soil Transmitted Helminth (STH), yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale. Keadaan sosial ekonomi rendah, lingkungan dengan sanitasi buruk, tidak memperhatikan kebersihan makanan dan minuman, menyebabkan tingginya angka kejadian kecacingan terutama pada anak-anak usia prasekolah dan usia sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pencemaran tanah oleh telur STH dengan keajadian kecacingan pada anak. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Dilakukan pemeriksaan terhadap feses siswa SDN 01 Krawangsari Natar dan tanah halaman rumah siswa. Pemeriksaan dengan metode floating. Sampel feses dilarutkan dengan larutan NaCl jenuh.
Tambahkan NaCl jenuh sampai tabung reaksi penuh dan tutup dengan cover glass. 5-10 menit kemudian amati dibawah mikroskop. Pemeriksaan tanah dengan menggunakan larutan MgSO4 jenuh. Sampel yang telah dilarutkan disentrifuse, buang supernatan lalu tambahkan larutan MgSO4 jenuh dan sentrifuse kembali. Kemudian tambahkan MGSO4 sampai penuh, tutup dengan cover glass. 15-20 menit, amati dibawah mikroskop. Hasil uji Chi-Square pencemaran tanah terhadap kejadian kecacingan p=0,062. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna karena p>0.05. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pencemaran tanah oleh telur STH dengan kejadian kecacingan pada anak SDN 01 Krawangsari Natar.
Kata kunci: Kejadian kecacingan, pencemaran tanah, Soil Transmitted Helminth
Correlation of Soil Pollution by Soil Transmitted Helminth’s Eggs with Helminthiasis in Student of SDN 01 Krawangsari Natar
Abstract
Helminthiases incidence remains a public health problem. 24% of the world population is infected by STH. It is Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanus and Ancylostoma duodenale. Low socio-economic circumstances, environments with poor sanitation, did not pay attention to the cleanliness of food and drinks, causing high incidence of helminthiasis, especially in children of preschool and school age. This study was conducted to determine the relationship of soil contamination by STH’s eggs with helminthiases in children. This research is an observational analytic study with cross sectional design with total sampling techniques. In this research is doing stool examination for students of SDN 01 Krawangsari Natar and soil student home page. Stool examination is using floating method. Stool samples were dissolved with saturated NaCl solution. Add saturated NaCl until a full test tube and cover with a cover glass. After 5-10 minutes observed under a microscope. Examination of the soil by using a solution of saturated MgSO4. Samples were dissolved centrifuged, put off the supernatant and then added a solution of saturated MgSO4 and centrifuge back. Then add MgSO4 to the brim, cover with a cover glass. After 15-20 minutes observed under a microscope. The results of Chi-Square test of soil contamination on the incidence of helminthiases p = 0.062. Results showed that there was no significant corelation because of p> 0.05. There are no significant correlation of soil contamination by STH’s egg with helminthiases incidence in student of SDN 01 Krawangsari Natar.
Key word: Helminthiases, soil pollution, Soil Transmitted Helminth
Korespondensi: Sevfianti, alamat Jl.Gajah No.3 Sidodadi Kedaton Bandar Lampung, HP: 0822-8042-4791, Email: [email protected]
PENDAHULUAN
Kejadian kecacingan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Lebih dari satu miliar orang terinfeksi oleh Soil Transmitted Helminth (STH).1 Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 menyebutkan bahwa lebih dari 1,5 miliar orang
cacing yang ditularkan melalui tanah. Angka kejadian terbesar di Sub-Sahara Afrika, Amerika, Cina dan Asia Timur. Di Indonesia prevalensi penyakit kecacingan masih tinggi, yaitu 45-65%. Di wilayah-wilayah tertentu dengan sanitasi yang buruk prevalensi kecacingan bisa mencapai 80% (Chadijah,
2014). Prevalensi kecacingan di Provinsi Lampung pada tahun 2012 adalah 6,32%.2
Spesies utama yang menginfeksi manusia adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing kait (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Lebih dari 270 juta anak usia prasekolah dan lebih dari 600 juta anak usia sekolah tinggal di daerah yang banyak terdapat parasit ini.3 Cacing lain yang juga dapat menginfeksi manusia diantaranya Strongyloides stercoralis, beberapa spesies Trichostrongylus, Oxyuris vermicularis, dan Trichinella spiralis.4 Keadaan sosial ekonomi yang rendah, lingkungan dengan sanitasi yang buruk, tidak memperhatikan kebersihan makanan atau minuman, bermain di tanah, tidak mencuci tangan sebelum makan, BAB di sembarang tempat, dan pemanfaatan feses sebagai pupuk tanaman menjadi faktor risiko infeksi cacing.5
Infeksi STH ditularkan melalui telur cacing yang terdapat dalam feses manusia yang terinfeksi. Cacing dewasa yang tinggal di usus dapat menghasilkan ribuan telur setiap hari. Di daerah yang sanitasinya tidak memadai, telur- telur ini akan mencemari tanah dengan berbagai cara. Telur dapat melekat pada sayuran yang kemudian tertelan tanpa dicuci, dikupas dan dimasak dengan baik. Telur dapat tertelan dari sumber air yang terkontaminasi, dan telur tertelan oleh anak-anak yang bermain tanah yang terkontaminasi kemudian meletakkan tangan dimulut tanpa mencuci tangan. Selain itu, penularan cacing kait dapat menembus kulit yang terjadi pada orang-orang yang berjalan tanpa menggunakan alas kaki pada tanah yang terkontaminasi.3 Kejadian kecacingan banyak pada anak-anak dan orang- orang miskin.1 Anak-anak sering menderita kecacingan karena kurangnya kebersihan diri dan lingkungan, rendahnya pendidikan, beraktivitas tanpa menggunakan alas kaki, kesehatan dan status gizi yang buruk, serta sering bermain tanah.6 Chadijah (2014) dalam penelitiannya mengatakan bahwa anak usia Sekolah Dasar (SD) lebih sering diserang oleh infeksi cacing dikarenakan aktivitas mereka yang lebih banyak berhubungan dengan tanah.7 Selain itu, Kattula (2014) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa anak-anak yang tinggal di daerah kumuh memiliki risiko
tinggi infeksi STH daripada anak-anak yang tinggal di kota.8
Pencemaran tanah oleh feses yang terinfeksi merupakan media penularan yang baik bagi penularan STH. Samad (2009) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat korelasi bermakna antara jumlah telur cacing di tanah dengan intensitas infeksi Ascaris lumbricoides. Semakin banyak telur di tanah semakin bertambah tingkat intensitas infeksi cacing. Perbedaan terdapat pada Trichuris trichiura. Jumlah telur Trichuris trichiura di tanah tidak mempunyai korelasi yang bermakna dengan intensitas infeksi Trichuris trichiura.9 Anak-anak yang menderita infeksi STH namun tinggal di lingkungan yang tidak tercemar kemungkinan mendapatkan infeksi dari tempat bermain yang lingkungannya tercemar oleh feses yang mengandung telur cacing. Oleh karena itu, pengendalian lingkungan dari STH dapat menjadi upaya yang efektif untuk mencegah infeksi cacing.1
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan bahwa kejadian kecacingan masih banyak di Indonesia dan berkaitan dengan kontaminasi tanah oleh telur cacing, maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai hubungan pencemaran tanah oleh telur STH dengan kejadian kecacingan pada siswa SDN 01 Krawangsari Natar. SDN 01 Krawangsari Natar merupakan sekolah dasar yang lingkungannya masih berupa tanah.
Halaman rumah siswa-siswi pun masih berupa tanah. Di sekitar sekolah dan rumah mereka tidak ditemukan sungai. Saat bermain di lingkungan rumah dan sekolah, siswa-siswi ini sering tidak menggunakan alas kaki dan bermain tanah sehingga pada kuku kaki dan tangan siswa-siswi ini terdapat banyak kotoran yang dapat menjadi sumber penularan infeksi cacing.
METODE
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional yaitu melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat tertentu. Cara pengumpulan data sekaligus dalam suatu waktu dengan tujuan untuk mecari hubungan antara variabel independen (pencemaran tanah oleh telur STH) terhadap variabel dependen (kejadian
kecacingan). Selain itu dilakukan analisis klaster dan pemetaan.
Penelitian ini dilakukan di SDN 01 Krawangsari Natar. Pengambilan data berupa pengambilan feses dan pengambilan sampel tanah di halaman rumah siswa. Pemeriksaan sampel feses dan tanah dilakukan di Laboratorium Parasitologi dan Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
Penelitian ini di lakukan pada bulan Oktober 2015.
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi target pada penelitian ini adalah seluruh siswa SDN 01 Krawangsari Natar yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh siswa SDN 01 Krawangsari Natar yang berjumlah 74 orang yang memenuhi kriteria inklusi.
Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel pada penelitian adalah total sampling. Sampel diambil dari populasi penelitian dengan sejumlah sampel yang ditemukan pada periode penelitian. Alasan pemilihan total sampling karena jumlah populasi yang tersedia kurang dari 100.
Adapun kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
a. Siswa dan orangtua yang bersedia mengikuti penelitian dan telah mengisi lembar inform consent
b. Siswa yang tidak minum obat cacing dalam waktu 6 bulan terakhir
c. Orangtua yang bersedia untuk dilakukan pengambilan sampel tanah dihalaman rumahnya
d. Tanah tempat anak sering bermain
e. Tanah disekitar rumah yang dekat dengan tempat pembuangan sampah, kotoran dan jamban.
Adapun kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah:
a. Siswa yang halaman rumahnya semen b. Tanah yang tidak bisa diperiksa c. Tanah yang jumlahnya terlalu sedikit d. Lokasi rumah yang sulit dijangkau e. Tanah yang tergenang air.
HASIL
Hasil Univariat
Adapun hasil pada analisis univariat dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Karakteristik anak berdasarkan jenis kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki 32 62,7
Perempuan 19 37,3
Total 51 100
Gambar 1. Karakteristik anak berdasarkan usia.
Gambar 2. Persentase jumlah siswa per kelas
Tabel 2. Persentase Pencemaran Tanah oleh STH Pencemaran Tanah oleh STH Frekuensi Persentase (%)
Positif 19 37,3
Negatif 32 62,7
Total 51 100
Tabel 3. Persentase Kejadian Kecacingan pada Anak Kejadian Kecacingan Frekuensi Persentase (%)
Positif 29 56,9
Negatif 22 43,1
Total 51 100
Hasil Bivariat
Tabel 4. Hubungan Pencemaran Tanah oleh Telur STH dengan Kejadian Kecacingan pada Anak.
Kejadian Kecacingan Total Positif Negatif
Pencemaran Tanah oleh Telur STH Positif 14 5 19
73,7% 26,3% 100
%
Negatif 15 17 32
46,9% 53,1% 100
%
Total 29 22 51
56,9% 43,1% 100
%
Tabel 5. Hasil Analisis Hubungan Pencemaran Tanah oleh Telur STH dengan Kejadian Kecacingan pada Anak value df Asymp. Sig.
(2-sided) Hubungan Pencemaran tanah oleh telur STH
dengan kejadian kecacingan pada anak
3.493 1 .062
Gambar 3. Peta infeksi STH pada siswa SDN 01 Krawangsari Natar skala Kabupaten Lampung Selatan.
Gambar 4. Peta infeksi STH pada siswa SDN 01 Krawangsari Natar.
PEMBAHASAN
Analisis Univariat
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kejadian kecacingan pada anak SDN 01 Krawangsari Natar sebanyak 56,9% dan 43,1%
tidak terinfeksi STH. Dari keseluruhan persentase anak yang menderita kecacingan, 62,7% adalah laki-laki dan 37,3% adalah perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hairani (2014) yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak menderita kecacingan yaitu 7,83% dan perempuan 3,97%.
Berdasarkan usia, pada penelitian ini usia yang menderita kecacingan adalah 5-12 tahun dengan usia terbanyak pada 8 tahun (21,6%) dan 9 tahun (21,6%). Hal ini sejalan dengan teori dari WHO (2015) yang mengatakan bahwa infeksi kecacingan sangat berisiko pada anak usia prasekolah (4-6 tahun) dan usia sekolah (6-12 tahun).
Pemeriksaan tanah pada penelitian ini menunjukkan bahwa tanah rumah yang tercemar oleh STH sebesar 37,3%. Dari keseluruhan sampel tanah yang tercemar oleh telur STH, didapatkan tingkat infeksi tertinggi terjadi di Dusun Jepang, Talang Sawo, dan terendah di Dusun Krawangsari. Secara statistik, hasil yang didapat menunjukkan bahwa tanah yang tercemar oleh telur STH (37,3%) lebih sedikit daripada tanah yang tidak tercemar oleh telur STH (62,7%). Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pencemaran tanah menurut WHO (2004) yaitu faktor fisik, kimia dan biologi yang telah dijelaskan pada bab 2. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan yang baik akan mengurangi pencemaran pada tanah. Hasil yang berbeda ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Samad (2009) bahwa tanah yang tercemar lebih banyak (52,5%) daripada tanah yang tidak tercemar (47,5%).
Berdasarkan uji statistik, didapatkan nilai p-value 0.062 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pencemaran tanah oleh telur STH dengan kejadian kecacingan pada anak. Hal ini dapat disebabkan karena faktor lain seperti kebersihan perseorangan yang buruk yang telah diteliti dalam waktu dan tempat yang sama oleh peneliti lain.
Penularan STH dapat terjadi akibat kebersihan perseorangan yang buruk. Tidak memperhatikan kebersihan atau minuman seperti membiarkan adanya vektor (lalat) pada makanan, tidak mecuci bersih bahan makanan, tidak memasak makanan secara benar, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah BAB, dan pemanfaatan feses sebagai pupuk tanaman juga dapat menjadi faktor lain yang mendukung tingginya angka kejadian kecacingan meskipun terdapat angka pencemaran tanah yang rendah.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chadijah (2014) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, perilaku dan sanitasi lingkungan dengan angka kecacingan. Hal ini disebabkan karena terdapat angka kecacingan yang lebih kecil disebabkan karena personal higiene anak yang baik walaupun sanitasinya buruk.
Pada penelitian ini terdapat beberapa hasil yang tidak sesuai antara feses dan tanah.
Ada beberapa sampel feses anak yang terinfeksi telur STH namun sampel tanah tidak tercemar oleh telur STH. Hal ini dapat disebabkan oleh penularan STH yang terjadi tidak hanya melalui tanah rumah, tetapi bisa didapatkan dari tempat lain seperti sekolah.
Setelah melakukan beberapa kali kunjungan ke SDN 01 Krawangsari Natar, beberapa anak didapatkan tidak menggunakan sepatu dan bermain tanah di sekolah. Kegiatan observasi ini didukung dengan hasil pemeriksaan sampel tanah sekolah yang diambil dari beberapa bagian, yaitu tengah, belakang gedung, area WC, serta area pembuangan sampah. Hasil pemeriksaan tanah sekolah positif tercemar oleh telur STH dengan ditemukannya telur cacing Ascaris lumbricoides. Freeman et al (2015) mengatakan bahwa anak-anak yang menderita infeksi STH namun tinggal di lingkungan yang tidak tercemar kemungkinan mendapat infeksi dari tempat bermain yang lingkungannya tercemar oleh feses yang mengandung telur cacing.
Sebaliknya, terdapat beberapa sampel feses yang tidak terinfeksi telur STH namun sampel tanah tercemar oleh telur STH. Hal ini dapat disebkan oleh kebersihan diri perseorangan anak yang baik, serta sistem imun yang baik.
Berdasarkan jumlah sampel tanah dan feses yang terkumpul, dilakukan pengambilan data berupa titik koordinat dengan menggunakan alat GPS. GPS Singkatan dari Global Positioning System, merupakan sistem untuk menentukan posisi dan navigasi secara global dengan menggunakan satelit. Data yang sudah terkumpul kemudian dipetakan.
Pemetaan dilakukan untuk melihat jarak-jarak transmisi STH pada anak dan tanah. Hasil analisa klaster yang didapat adalah tidak terbentuk kluster dari penyebaran STH baik pada anak maupun pada tanah.
Pada pemetaan dapat terlihat titik koordinat yang menandakan hasil feses dan tanah positif. Terlihat penyebaran STH yang menyebar luas. Penyebaran STH dapat dipengaruhi oleh faktor seperti angin, air, vektor (lalat, tikus, anjing, babi, kucing) dan untuk daerah endemis dapat ditularkan dari orang ke orang. Penampakan peta yang tidak membentuk klaster dapat disebabkan oleh daya transmisi tiap vektor yang berbeda. Lalat (Musca domestica) dapat terbang sejauh 8 km.10 Tikus (Rattus argentiventer) dapat berpindah sejauh 1-2 km dari tempat semula.11
Penularan STH juga dapat terjadi melalui air. Desa Krawangsari Natar ini, setelah dilakukan kunjungan ke setiap rumah subjek penelitian tidak terlihat sungai yang memungkinkan adanya pengaliran air untuk meningkatkan penyebaran infeksi STH.
Ditemukan area persawahan dan beberapa kolam yang sudah kering dikarenakan cuaca panas saat pengambilan data dilakukan. Tidak terdapat genangan air namun terdapat beberapa rumah yang memiliki kandang ternak (sapi) di samping atau belakang rumah dengan tumpukan sejumlah kotoran.
Pada penelitian ini peneliti mengakui adanya beberapa kelemahan, diantaranya:
✓ Tanah yang diambil dari semua area digabung jadi satu, sehingga tidak bisa mengidentifikasi tanah bagian mana dari satu rumah yang tercemar oleh telur STH.
✓ Tidak mengelompokkan data rumah yang berdekatan dengan kandang ternak.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dan pembahasan mengenai hubungan pencemaran tanah oleh telur STH dengan kejadian kecacingan pada
anak SDN 01 Krawangsari Natar maka didapatkan kesimpulan sebagai barikut:
1. Prevalensi kejadian kecacingan pada anak SDN 01 Krawangsari Natar adalah 56,9%.
2. Prevalensi pencemaran tanah oleh telur STH di halaman rumah anak SDN 01 Krawangsari adalah 37,3%.
3. Distribusi pemetaan kejadian kecacingan pada anak di Desa Krawangsari Natar menunjukkan bahwa tidak adanya pembentukan klaster.
4. Distribusi pemetaan pencemaran tanah oleh telur STH di sekitar tempat tinggal siswa SDN 01 Krawangsari Natar menunjukkan bahwa tidak adanya pembentukan klaster.
5. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pencemaran tanah oleh telur STH di sekitar tempat tinggal siswa dengan kejadian kecacingan pada anak SDN 01 Krawangsari Natar.
DAFTAR PUSTAKA
1. Freeman MC, Chard AN, Nikolay B, Garm JV, Okoyo C, Kihara J, dkk. Associations between school- and house hold-level water, sanitation and hygiene conditions and soil-transmitted helminth infection among Kenyan school children. Parasites
& Vector s. 2015;8(1):412.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes berkomitmen eliminasi filariasis & kecacingan. Jakarta:
Kementerian kesehatan Republik Indonesia; 2013.
3. WHO. Helminthiasis. Geneva: World Health Organization; 2015.
4. Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indoneisa; 2011.
5. Rahayu N, Ramdani M. Risk factors of helminthiasis on Tebing Tinggi elementary school students in Balangan District South Kalimantan. Jurnal Buski. 2013;4(3):150- 154.
6. Alelign T, Degarege A, Erko B. Soil- transmitted helminth infections and associated risk factors among school children in Durbete Town Northwestern Ethiopia. J Parasitol. 2015;2010:1-6.
7. Khadijah S, Sumolang PPF, Veridiana NN.
Hubungan pengetahuan, perilaku dan
sanitasi lingkungan dengan angka kejadian kecacingan pada anak sekolah dasar di Kota Palu. Media Litbangkes. 2014;24(1):
50-6.
8. Kattula D, Sarkar R, Ajjampur SSR, Minz S, Levecke B, Muliyil J, dkk. Prevalence & risk factors for soil transmitted helminth infection among school children in south India. Indian J Med Res. 2014;139(1):76- 82.
9. Arrasyd NK. Kontaminasi tanah oleh soil- transmitted-helminth di Ambarita Pagururan Pulau Samosir. Dalam: Samad H. Hubungan infeksi dengan pencemaran
tanah oleh telur cacing yang ditularkan melalui tanah dan perilaku anak sekolah dasar di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung [thesis]. Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2009.
10. Hastutiek P, Fitri LE. Potensi Musca domestica linn Sebagai vektor beberapa penyakit. Jurnal Brawijaya. 2007;5(1):125- 36.
11. Ivakdalam LM. Pengendalian tikus sawah (Rattus argentiventer) menggunakan pengujian tiga jenis repelen. Agrilan.
2014;2(1):2302-52.