Hubungan Usia Ibu Dengan Kejadian Sindrom Down
Rahmatullah Rayman1, Soraya Rahmanisa2, Giska Tri Putri3
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2
Bagian Biologi Molekuler, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
3
Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Sindrom Down merupakan kelainan kongenital yang ditandai dengan jumlah kromosom yang abnormal yaitu kromosom 21 berjumlah 3 buah sehingga jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah dan merupakan cacat pada anak yang paling sering terjadi di dunia. Pada manusia normal jumlah kromosom sel mengandung 23 pasangan kromosom. Kelainan kromosom ini menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental.
Penambahan materi genetik ini mempengaruhi perkembangan anak dan dapat menyebabkan karakteristik fisik khas yang berhubungan dengan sindrom Down. Insidensi ini terus meningkat pada usia ibu 30 tahun terdapat 1 dari 900 kelahiran yang menderita sindrom down.Terdapat 3 tipe sindrom Down berdasarakan patogenesisnya yaitu: nondisjunction pada 95% kasus, translokasi pada 4% kasus, dan mosaik pada 1% kasus. Sindrom Down nondisjunction berhubungan dengan usia ibu. Meiosis atau peristiwa pembentukan gamet telah dimulai sejak seorang anak perempuan masih dalam kandungan ibunya. Hal ini berkaitan dengan penuaan sel telur yang menyebabkan pembelahan sel selama meiosis menjadi nondisjunction yaitu gagalnya kromosom homolog untuk memisah dari oosit primer sehingga terbentuk kromosom dengan jumlah abnormal yaitu kromosom 21 berjumlah 3 buah yang menyebabkan kelainan konginetal.
Kata kunci: Sindrom Down, kromosom, usia ibu
Relationship Age of Mother With Syndrome Down Symptoms
Abstract
Down syndrome is a congenital aberration characterized by an abnormal number of chromosomes is chromosome 21 amounted to 3 pieces so that the total number of chromosomes reached 47 pieces and is the most common defect in children in the world. In normal humans the number of cell chromosomes contains 23 pairs of chromosomes. This chromosomal abnormality causes child developmental delays, and sometimes refers to mental retardation. The addition of this genetic material affects the child's development and can lead to typical physical characteristics associated with Down's syndrome. This incidence continues to increase at the age of 30 years of age there are 1 in 900 births suffering from Down syndrome. There are three types of Down syndrome based on its pathogenesis: nondisjunction in 95% of cases, translocation in 4% of cases, and mosaic in 1% of cases. Down syndrome nondisjunction associated with maternal age.
Meiosis or gamete formation has begun since a girl is still in her mother's womb. This is related to the aging of the egg cell that causes cell division during meiosis to nondisjunction ie the failure of homologous chromosomes to separate from the primary oocytes to chromosomes with abnormal amount of chromosome 21 amounted to 3 pieces that cause conginetal abnormalities.
Keywords: Chromosome, Down Syndrome, maternal age
Korespondensi: Rahmatullah Rayman, Alamat Jl. SS. Mangaraja Gg. Pemancar 1 No 4 RT 009 Gedong Air Tanjung Karang Barat, HP: 081212142401, e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Sindrom Down yang disebabkan kelainan kromosom, merupakan suatu cacat pada anak yang paling sering terjadi di dunia. Terdapat 4.000 anak dilahirkan dengan sindrom Down setiap tahunnya di Amerika, atau sekitar 1 dari 800-1000 kelahiran hidup (Idris, 2006). Faktor risiko kejadian sindrom down meningkat pada ibu yang usianya lebih dari 35 tahun saat hamil.1
Sindrom Down merupakan kondisi dimana terdapat kelainan kongenital yang ditandai dengan berlebihnya jumlah kromosom nomor 21 yang seharusnya dua buah menjadi tiga buah sehingga jumlah seluruh kromosom
mencapai 47 buah. Pada manusia normal jumlah kromosom sel mengandung 23 pasangan kromosom. Kelainan kromosom ini menyebabkan keterlambatan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental.2
Klasifikasi Sindrom Down berdasarkan patogenesisnya dimulai dari pembelahan sel (nondisjunction), Mosaic Down Syndrome yaitu terdapat campuran 2 tipe sel yang terdiri dari 46 kromosom dan 47 kromosom, serta adanya translokasi kromosom. Penderita yang mengalami kelainan jumlah kromosom ini pada umumnya memiliki karakteristik fisik yang khas diantaranya, bagian belakang kepala rata, mata
sipit, alis mata miring (slanting of the eyelids), telinga lebih kecil, mulut yang mungil, otot lunak, persendian longgar, dan tangan kaki yang mungil.3
Kejadian Sindrom Down bertambah sesuai dengan meningkatnya usia ibu hamil.
Penelitan di Amerika Serikat (Gambar1) menunjukkan terdapat 1 dari 2000 kelahiran yang menderita kecacatan ini. Insidensi ini
terus meningkat pada usia ibu 30 tahun terdapat 1 dari 900 kelahiran yang menderita sindrom down. Sementara itu pada ibu yang berusia lebih dari 35 tahun, insidensi meningkat sampai 1 dari 300 kelahiran.
Sedangkan pada ibu usia di atas 40 tahun, insidensi meningkat secara drastis mencapai 1 dari 10 kelahiran.4
Tabel 1. Insidensi Sindrom Down Berdasarkan Usia Ibu Maternal Age Incidence of Down Syndrome
20 1 in 2000
21 1 in 1700
22 1 in 1500
23 1 in 1400
24 1 in 1300
25 1 in 1200
26 1 in 1100
27 1 in 1050
28 1 in 1000
29 1 in 950
30 1 in 900
31 1 in 800
32 1 in 720
33 1 in 600
34 1 in 450
35 1 in 350
36 1 in 300
37 1 in 250
38 1 in 200
39 1 in 150
40 1 in 100
41 1 in 80
42 1 in 70
43 1 in 50
44 1 in 40
45 1 in 30
46 1 in 25
47 1 in 20
48 1 in 15
49 1 in 10
Riset yang dilakukan oleh National Down Syndrome Society menyatakan bahwa terdapat hubungan antara sindrom Down
“nondisjunction” dengan usia ibu. Hal ini berkaitan dengan kejadian nondisjunction yang terjadi pada oosit ibu yang tua. Nondisjunction yang terjadi menyebabkan embrio memiliki
tiga salinan kromosom 21, bukan dua salinan normal. Sebelum atau sewaktu konsepsi, sepasang kromosom 21 pada sperma atau ovum gagal membelah. Ketika embrio berkembang, kromosom ekstra tersebut direplikasi di dalam setiap sel tubuh.5
Pembahasan
Sindrom Down dikategorikan menjadi tiga macam berdasarkan patogenesisnya yaitu gagal memisah (nondisjunction), translokasi, dan mosaik. Kategori pertama yaitu gagal memisah memiliki frekuensi kemunculan tertinggi yaitu 95% dengan mekanisme gagalnya kromosom homolog untuk memisah selama pembelahan meiosis darioosit primer.
Kategori kedua yaitu translokasi memiliki frekuensi kemunculan 4% dengan mekanisme translokasi Robertsonian dimana seluruh atau sebagian dari kromosomekstra nomor 21 bergabung dengan kromosom 14. Kategori ketiga yaitu mosaik memiliki frekuensi kemunculan 1% dan merupakan campuran antara sel-sel normal diploid dan trisomi 21.
Mekanisme terjadinya mosaik adalah gagalnya kromosom untuk memisah selama pembelahan mitosis pada awal embriogenesis.6
Kategori sindrom Down nondisjunction berkaitan dengan usia ibu. Meiosis atau peristiwa pembentukan gamet (dalam hal ini
sel telur) telah dimulai sejak seorang anak perempuan masih dalam kandungan ibunya.
Profase I dimulai dan rekombinasi selesai sebelum kelahiran Setelah itu meiosis tertahan dalam tahapan diploten dan oosit primer tetap dalam keadaan seperti itu sampai menjelang ovulasi. Ketika setiap oosit primer mengalami ovulasi meiosis dilanjutkan dan pembelahan pertama selesai menghasilkan oosit sekunder.7
Pada tahapan ini meiosis tertunda iagi dan masih dalam kondisi tersebut sampai ada penetrasi spermatozoa ke dalam oosit sekunder. Pembelahan meiosis yang kedua terjadi sesaat sebelum inti sel telur dan inti sel sperma bersatu membentuk zigot. Oleh kerana itu usia ibu yang hamil berkaitan dengan lama tertahannya proses meiosis. Lamanya waktu memungkinkan kerusakan protein-protein yang berperan dalam proses memisahnya kromosom. Hal ini sesuai dengan penelitian prevalensi sindrom Down berdasarkan usia ibu hamil yang dilakukan oleh American Society Human of Genetic (Gambar 1).8
Gambar 1. Estimasi prevalensi Sindrom Down Berdasarkan Usia Hamil Ibu
Selain itu terdapat penelitian di Universitas Negeri Solo (UNS) yang menyatakan hubungan antara usia ibu dengan kejadian sindrom Down. Penelitian dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Surakarta dan lingkungan tempat tinggal ibu dan anak yang terpilih sebagai subjek penelitian. Dengan
teknik “fixed disease sampling”9, sampel terdiri atas 20 orang ibu dengan anak sindrom down dan 40 orang ibu dengan anak normal dipilih untuk penelitian ini. Hasil analisis hubungan usia ibu dengan sindrom down tercantum dalam gambar sebagai berikut:10
Gambar 2. Hasil Analisis Hubungan Usia Ibu dengan Sindrom Down
Gambar 2 menunjukkan terdapat hubungan antara usia ibu kejadian sindrom down. Usia ibu >35 tahun meningkatkan risiko untuk melahirkan anak dengan sindrom down 12 kali lebih besar dari pada usia ibu <35 tahun. Hubungan ini dapat dijelaskan dalam uraian patogenesisnya. Pada ibu usia tua, ovum yang dikeluarkan pada saat ovulasi merupakan hasil dari oosit yang cenderung telah berada dalam siklus meiosis yang terhenti cukup lama.11
Fase meiosis yang terhenti lama pada ovum memudahkan terjadinya akumulasi berbagai efek toksik sebagai dampak dari lingkungan, juga terjadi degradasi dari fase meiosis yang menyebabkan kesalahan meiosis I dan meiosis II (Girirajan, 2009). Pengamatan pada pembuahan in vitro membuktikan bahwa gelendong meiosis manusia bersifat tidak stabil dan juga sangat peka terhadap pengaruh eksternal. Struktur meiosis yang disebut spindles menjadi semakin rapuh seiring dengan meningkatnya usia ibu yang bersangkutan.12
Pada penelitian Faradz (2004) menyatakan pada sel telur wanita yang mengalami penuaan terjadi pembelahan selama fase meiosis menjadi nondisjunction yang disebabkan oleh faktor-faktor yaitu terputusnya benang-benang spindel atau komponen-komponennya, atau kegagalan dalam pemisahan nukleolus. Hal ini memudahkan terjadinya nondisjunction pada ovum selama pembelahan fase meiosis sehingga menghasilkan zigot dengan jumlah kromosom abnormal sehingga menyebabkan terbentuknya kromosom 21 berjumlah 3 buah (sindrom down).13
Ringkasan
Sindrom Down berhubungan dengan meningkatnya usia ibu saat hamil. Hal ini dikarenakan terjadi penuaan sel telur yang menyebabkan pembelahan sel selama meiosis menjadi nondisjunction yaitu gagalnya kromosom homolog untuk memisah dari oosit primer sehingga terbentuk kromosom dengan jumlah abnormal yaitu kromosom 21 berjumlah 3 buah.
Simpulan
Terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian sindrom Down.
Daftar Pustaka
1. Faradz SMH. Retardasi mental pendekatan seluler dan molekuler. Pidato pengukuhan Undip. 2004;1:6-20.
2. Idris R, Beatrice A, Hadi H. Penderita sindrom Down berdasarkan analisis kromosom di Laboratorium Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Antara Tahun 1992-1994. Profesi Medika.
2006;6(1):35-45.
3. Coad J, Melvyn D. Anatomi dan fisiologi untuk bidan. Jakarta: EGC; 2007.
4. Sitomorang C. Hubungan Sindroma Down dengan umur Ibu, Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, dan Faktor Lingkungan. Jurnal UNS. 2011;2:97-100.
5. NDSS. What causes down syndrome? New York: National Down Syndrome Society;
2013.
6. Kothare S, Neera S, Usha D. Maternal age and chromosomal profile in 160 Down syndrome cases-experience of a tertiary genetic centre from India. IJHG. 2002;2(1):
49-53.
7. Beiguelman B, Henrique K, da Silva LM.
Maternal age and Down syndrome in Southern Brazil. Brazilian Journal of Genetics. 1996;19(4): 637-40.
8. Girirajan S. Parental-age effects in Down syndrome. Journal of Genetics. 2009;88 (1):9-14.
9. Nicolaidis P, Petersen MB. Origin and mechanisms of non-disjunction in human autosomal trisomies. Human Reproduction. 1998;13(2):313-9.
10. National Human Genome Research Institute. Learning about Down syndrome.
Bethesda: Communications and Public Liaison Branch National Human Genome Research Institute; 2011.
11. Center for Housing and Settlement Studies. Pengelolaan lingkungan permukiman kumuh menuju habitat kota hijau lestari. Yogyakarta: UGM; 2010.
12. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEMFE UI). Angka kemiskinan pasca pemilu. Jakarta: UI; 2007.
13. Lidyana V. Melahirkan di atas usia 30 Tahun. Jakarta: Restu Agung; 2004.
14. Murti B. Desain dan ukuran sampel untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif di bidang kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2006.
15. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak.
Jakarta: EGC; 1995. hal 211-221.