• Tidak ada hasil yang ditemukan

1918 2636 1 PB Jurnal Indonesia

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "1918 2636 1 PB Jurnal Indonesia"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Kautsar Ramadhan, Jenny Maria Carolina, Rika Lisiswanti|Hubungan Tingkat Stres dengan Frekuensi Merokok Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung

Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|118

Hubungan Tingkat Stres dengan Frekuensi Merokok Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung

Kautsar Ramadhan1 , Jenny Maria Carolina2, Rika Lisiswanti3

1

Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2

Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2

Bagian Pendidikan Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

ABSTRAK

Stres merupakan bagian yang tidak dapat dihindari termasuk oleh remaja khususnya mahasiswa kedokteran. Stres mahasiswa itu sendiri dapat dikarenakan stres dari dalam kampus seperti tugas, ujian, tuntutan akademik dan dari luar kampus seperti hubungan dengan keluarga, teman sebaya dan sebagainya. Jika mahasiswa tidak dapat melewati keadaan tersebut dengan baik maka mereka cenderung menurunkan stres mereka dengan cara merokok. Rokok mengandung nikotin yang mengandung zat adiktif dan psikoaktif yang dapat membuat perokok lebih tenang dan rasa cemas berkurang.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat stres dengan frekuensi merokok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan teknik sampel menggunakan total sampling dengan responden sebanyak 37 mahasiswa yang semuanya perokok aktif. Kuesioneryang digunakan adalah Hassles AssessmentScale for Student in Collage (Hass/Col) yang telah divalidasi dengan koefisien alpha 0,971 atau dalam kategori cukup baik. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 9 mahasiswa stres ringan, 19 mahasiswa stres sedang, 9 mahasiswa stres berat dan 14 mahasiswa perokok ringan, 13 mahasiswa perokok sedang dan 10 orang perokok berat. Pada analisis data dengan uji Somers’d (p<0,005) didapatkan p=0,000 yang berarti terdapat hasil yang bermakna. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat stres terhadap frekuensi merokok mahasiswa kedokteran Universitas Lampung.

Kata kunci: Frekuensi merokok, mahasiswa kedokteran, stres

The Relationship Between Stress and Smoking Frequency Medical Students Lampung University

ABSTRACT

Stress is a part that can not be avoided even by adolescents, especially medical students. Student Stress itself can be due to the stress of the campus such as assignments, examinations, academic demands and from outside the campus such as relationships with family, peers and so on. If the student can not pass the situation well then they tend to lower their stress by way of smoking. Cigarettes contain nicotine containing addictive and psychoactive substances which may make smokers more calm and anxiety is reduced. This study aimed to examine the relationship between stress levels with the frequency of smoking. The method used in this study was cross sectional with total sample technique uses sampling by respondents as many as 37 students who all active smokers. Kuesioneryang used is Hassles AssessmentScale for Student in Collage (Hass / Col), which has been validated by the alpha coefficient 0.971 or in a category quite well. The result showed mild stress as much as 9 students, 19 students were stress, student stress 9 and 14 students of light smokers, 13 students and 10 smokers were heavy smokers. In the data analysis Somers'd test (p <0.005) was obtained p = 0.000, which means that there are significant results. The conclusion from this study is there is a relationship between the level of stress on the frequency of smoking of medical students Lampung University.

Keywords: Medical student, smoking frequency, stress

Korespondensi: Kautsar Ramadhan, alamat Jl.Pagar Alam Nomor 28, Kedaton, Bandarlampung, HP 082185394846, e-mail [email protected]

Pendahuluan

Stres merupakan bagian yang tidak terhindar dari kehidupan dan dapat mempengaruhi setiap orang termasuk remaja.

Sumber stres pada remaja laki-laki dan perempuan pada umumnya sama, namun dampak beban ini berbeda pada remaja perempuan dan laki-laki1.

Remaja perempuan lebih peka terhadap lingkungannya. Menurut Nasution prestasi remaja perempuan baik dibanding remaja laki- laki. Nilai mereka di sekolah lebih baik,

mereka juga lebih menonjol. Tuntutan dan motivasi mereka lebih tinggi. Akibatnya remaja perempuan menderita beban psikis seperti cemas, tidak senang, sakit punggung dan sakit kepala. Sedangkan remaja laki-laki yang mengalami stres akan lebih sering merokok dan minum alkohol2.

Merokok dapat membuat orang tidak stres lagi. Perasaan ini tidak akan lama begitu selesai merokok mereka akan kembali merokok untuk tidak kembali stres. Keinginan ini kembali timbul karena ada hubungan

(2)

Kautsar Ramadhan, Jenny Maria Carolina, Rika Lisiswanti|Hubungan Tingkat Stres dengan Frekuensi Merokok Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung

Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|119 antara perasaan negatif dengan rokok yang

berarti perokok akan kembali merokok untuk mengurangi stres tapi kenyataanya berhenti merokok dapat mengurangi stres3.

Pengaruh bahan-bahan kimia yang dikandung rokok seperti nikotin, CO (karbon monoksida) dan tar dapat menimbulkan berbagai penyakit jika dilihat dari sisi kesehatan. Bahan kimia ini akan memacu kerja susunan saraf pusat dan susunan saraf simpatis sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan detak jantung bertambah cepat, menstimulasi penyakit kanker dan juga berbagai penyakit lainnya seperti penyempitan pembuluh darah, tekanan darah tinggi, jantung, paru-paru dan bronkitis kronis4.

Merokok terjadi akibat pengaruh lingkungan sosial. Modelling (meniru perilaku orang lain) menjadi salah satu determinan dalam memulai perilaku merokok. Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama akan meningkat sesuai dengan tahap perkembangan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka mengalami ketergantungan nikotin5,6.

Pada studi pendahuluan yang dilakukan tahun 2015 didapatkan mahasiswa yang merokok di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sebanyak 37 orang dengan rincian 12 orang pada angkatan 2014, 10 orang pada angkatan 2013, dan 15 orang pada angkatan 2012.

Metode

Desain penelitian ini adalah analitik korelatif dengan pendekatan pengambilan data Cross sectional. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil dari kuisioner.

Penelitian ini dilakukan di bulan Oktober sampai November tahun 2015 terhadap mahasiswa kedokteran aktif yang merokok di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Teknik pengumpulan sampel dalam peneltian ini adalah total sampling dimana semua populasi yang memenuhi criteria penelitian dijadikan responden setelah melalui informed consent.

Analisis kemaknaan dilakukan dengan Somers’d Test. Somers’d Test adalah uji korelasi yang digunakan untuk data 3x3 ordinal dan ordinal.

Hasil

Total responden pada penelitian ini sebanyak 37 orang yang dikategorikan menjadi angkatan yakni 12 orang pada angkatan 2014, 10 orang pada angkatan 2013 dan 15 orang pada angkatan 2012. Distribusi stres responden didapatkan mahasiswa dengan derajat stres ringan sebanyak 9 orang, mahasiswa dengan derajat stres sedang sebanyak 19 orang dan mahasiswa dengan derajat stres berat sebanyak 9 orang.

Distribusi stres mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2012 paling tinggi di tingkat sedang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 8 orang, tingkat stres ringan sebanyak 4 orang dan tingkat stres berat sebanyak 3 orang. Hal ini dikarenakan angkatan 2012 sudah ada di tingkat terakhir dan dianggap sudah menemukan mekanisme coping yang sesuai. Hasil ini sesuai dengan distribusi stres pada angkatan 2013 dan 2014 dimana tingkat stres sedang mendominasi.

Distribusi stres mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2012 paling tinggi di tingkat sedang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 8 orang, tingkat stres ringan sebanyak 4 orang dan tingkat stres berat sebanyak 3 orang. Untuk distribusi stres mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2013 paling tinggi di tingkat sedang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 6 orang, tingkat stres ringan sebanyak 2 orang dan tingkat stres berat sebanyak 3 orang. Dan distribusi stres mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2014 paling tinggi di tingkat sedang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 5 orang, tingkat stres ringan sebanyak 3 orang dan tingkat stres berat sebanyak 3 orang.

Frekuensi merokok mahasiswa kedokteran Universitas Lampung dengan derajat ringan sebanyak 14 orang, derajat sedang sebanyak 13 orang dan derajat berat sebanyak 10 orang. untuk distribusi frekuensi merokok mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2012 paling tinggi di tingkat ringan dengan jumlah mahasiswa sebanyak 8 orang, tingkat sedang sebanyak 3 orang dan tingkat berat sebanyak 4 orang.

Distribusi frekuensi merokok mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2013 paling tinggi di tingkat sedang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 7 orang, tingkat ringan sebanyak 2 orang dan tingkat berat

(3)

Kautsar Ramadhan, Jenny Maria Carolina, Rika Lisiswanti|Hubungan Tingkat Stres dengan Frekuensi Merokok Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung

Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|120 sebanyak 2 orang. sedangkan distribusi

frekuensi merokok mahasiswa kedokteran Universitas Lampung angkatan 2014 paling tinggi di tingkat ringan dan berat dengan jumlah mahasiswa sebanyak 4 orang, tingkat

sedang sebanyak 3 orang.

Pembahasan

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa distribusi stres setiap angkatan dalam kategori sedang, baik itu angkatan 2012,2013 maupun 2014. Dan total stres dari data total yang didapat adalah stres ringan sebanyak 24,3% mahasiswa, stres sedang sebanyak 51,4% orang dan stres berat sebanyak 24,3% orang.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Maulana (2013) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dimana telah dilakukan penelitian dengan 92 responden dan didapatkan hasil 4,3%

mahasiswa mengalami stres ringan, 71,7%

mahasiswa mengalami stres sedang dan 23,9% mahasiswa mengalami stres berat.

Tingkatan stres dengan kategori sedang mendominasi di setiap angkatan.

Dilihat dari data tersebut tingkat stres yang mendominasi mahasiswa kedokteran dari seluruh responden maupun per angkatan adalah stres sedang. Stres dapat terjadi pada mahasiswa kedokteran oleh beberapa faktor yang memengaruhi stres tersebut seperti masalah akademiknya, terutama dari tuntutan eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Stres dapat terjadi jika remaja tidak mampu mengatasi perubahan dalam diri maupun lingkungan dengan baik dan ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial menyebabkan remaja berada dalam kondisi di bawah tekanan atau stres sehingga berakibat pada perilaku negatif untuk menurunkan tingkat stres7. Selain itu menurut penelitian yang dilakukan Somaieh oleh mahasiswa kedokteran di Iran, penyebab stres mahasiswa kedokteran paling banyak dilihat dari segi akademiknya, hal ini dikarenakan tuntutan-tuntutan mereka untuk terus belajar8.

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan data mahasiswa angkatan 2012 mahasiswa dengan frekuensi merokok ringan sebanyak 8 orang, mahasiswa dengan frekuensi merokok sedang sebanyak 3 orang dan mahasiswa dengan frekuensi merokok

berat sebanyak 4 orang. Data mahasiswa angkatan 2013 mahasiswa dengan frekuensi merokok ringan sebanyak 2 orang, mahasiswa dengan frekuensi merokok sedang sebanyak 7 orang dan mahasiswa dengan frekuensi merokok berat sebanyak 2 orang.

Data mahasiswa angkatan 2014 mahasiswa dengan frekuensi merokok ringan sebanyak 4 orang, mahasiswa dengan frekuensi merokok sedang sebanyak 3 orang dan mahasiswa dengan frekuensi merokok berat sebanyak 4 orang. Dari data tersebut dapat dilihat frekuensi merokok ringan tertinggi terdapat di angkatan 2012 dari jumlah perokok yang ada. Frekuensi merokok sedang tertinggi terdapat diangkatan 2013 dari jumlah perokok yang ada. Untuk frekuensi merokok berat terbanyak terdapat diangkatan 2014 dari jumlah perokok yang ada.

Menurut Kurt Lewin ada beberapa alasan yang melatarbelakangi mahasiswa merokok diantaranya faktor dalam diri sendiri maupun dari faktor lingkungan, dimana pendapat ini sesuai dengan pendapat Green yang menyebutkan bahwa perilaku seseorang termasuk perilaku merokok dipengaruhi oleh faktor pendahulu (predisposing), yang meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, tradisi, nilai; faktor pemungkin (enabling), yang meliputi ketersediaan sumber-sumber maupun fasilitas, dan faktor penguat atau pendorong (reinforcing) yang meliputi sikap dan perilaku orang-orang disekitarnya9.

Pada penelitian yang dilakukan Abdullah pada mahasiswa kedokteran di Universitas King Saudi menyebutkan bahwa satu dari empat mahasiswa kedokteran adalah perokok, stres merupakan faktor tertinggi yang mengakibatkan mahasiswa untuk merokok. Selain faktor stres tersebut, faktor teman sebaya yang merokok juga memberi kontribusi peningkatan prevalensi merokok mahasiswa kedokteran10.

Faktor lain yang memengaruhi mahasiswa untuk merokok sesuai dengan penelitian yang dilakukan Komalasari sikap permesif orang tua member sumbangan tertinggi yaitu 40,9% dibanding faktor teman sebaya dan faktor lainnya. Hal ini yang membuat remaja khususnya mahsiswa lebih cenderung menurunkan tingkat stres mereka dengan merokok11.

(4)

Kautsar Ramadhan, Jenny Maria Carolina, Rika Lisiswanti|Hubungan Tingkat Stres dengan Frekuensi Merokok Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung

Medula|Volume 7|Nomor 5|Desember 2017|121 Pada uji Somers’d didapatkan bahwa

nilai p adalah 0,00 atau p< 0,005 yang berarti terdapat hubungan antara tingkat stres dengan frekuensi merokok pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan memiliki hubungan yang erat. Hal ini sesuai dengan Ha yaitu terdapat hubungan antara stres terhadap derajat merokok mahasiswa kedokteran universitas lampung angkatan 2012, 2013 dan 2014.

Penelitian ini sesuai bahwa perilaku merokok lebih tinggi ditemukan oleh orang yang mengalami stres. Dimana semakin tinggi tingkatan stres maka semakin tinggi juga minat untuk merokok. Data yang dihasilkan menyatakan bahwa para perokok yang mengalami stres atau mengalami kejadian hidup yang tidak menyenangkan sulit untuk berhenti merokok. Nikotin berperan dalam penurunan stres jika seseorang merokok.

Nikotin memiliki efek adiktif psikoaktif dan bukan zat karsinogenik yang mengakibatkan perokok akan merasakan kenikmatan maupun kecemasan berkurang11.

Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan tingkat stres yang dominan pada seluruh responden adalah kategori sedang. Dimana frekuensi merokok yang dominan pada seluruh responden adalah kategori ringan. Dan terdapat hubungan bermakna antara tingkat stres dengan frekuensi merokok mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung.

Daftar Pustaka

1. Baldwin., Debora, R., Shanette, M., Lana, N., Chambliss. Stress and Illness in Adolescence. Issues of Race and Gender.

2002;1(2):127-36.

2. Silalahi, N. Gambaran Stres pada Mahasiswa Tahun Pertama Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

[Skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2010.

3. Siquera. The role of nicotine dependence, stress and coping methods. Pediatr Adolesc Med. 2001;155(4):489-95.

4. Komalasari, D., Helmi, A. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press; 2000.

5. Smet, B. Psikologi Kesehatan. Semarang:

PT. Gramedia; 1994.

6. Oskamp, S. Applied Social Psychology.

New Jersey: Prentice Hall; 1984.

7. Carolin. Tingkat Stres Mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara [Skripsi]. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2010.

8. Keliat, B. Proses Keperawatan Kesehatan.

Jakarta: EGC; 1998.

9. Maria, A., Maria, A.B., Jomar, C.R., Rodolfo, F. An elective course as a possibility of help. Medical Student Stress. 2015;8:430

10. Aryal, U., Bhatta, D. Perceived benefits and health risks of cigarette smoking among young adults. Insights from a cross-sectional study. 2015;13(1):22.

11. Gondodiputro., Sharon. Bahaya Tembakau dan Bentuk-Bentuk Sediaan Tembakau. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran; 2007.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan Usia Ibu Dengan Kejadian Sindrom Down Rahmatullah Rayman1, Soraya Rahmanisa2, Giska Tri Putri3 1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2Bagian Biologi

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Shaodong dkk, dimana didapatkan adanya peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kadar HDL pada tikus dengan perlakuan diet

Iswandi Darwis., S.Ked., M.Sc., S.Pd Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung dr.Exsa Hadibrata., S.Ked., Sp.U Bagian Ilmu Bedah Urologi, Fakultas

Peran Ekspresi Gen Nitrit Oksida Sintase NOS3 Terhadap Kejadian Hipertensi Esensial Leni Amelia1, Asep Sukohar2, Gigih Setiawan2 1Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2Bagian

dimana tidak terdapat hubungan antara pendekatan belajar dan gaya belajar terhadap hasil ujian pada mahasiswa kedokteran.6 Penelitian lain oleh Lisiswanti mengenai hubungan pendekatan

Pterigium Derajat IV pada Pasien Geriatri Dwi Jayanti Tri Lestari1, Dian Revita Sari2, Paulus Dwi Mahdi3, Rani Himayani4 1,2Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

E ISSN 2599-0527 Majority | Volume 7| Nomor 1| November 2017| ii MITRA BESTARI Muhartono Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Asep Sukohar Bagian

E ISSN 2599-0527 Online ISSN 2337-3776 Cetak Majority I Volume 9 I Nomor 1 I Agustus 2020 I ii M Yusran Bagian Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Helmi