• Tidak ada hasil yang ditemukan

2548 3250 1 PB Jurnal Indonesia

N/A
N/A
Fitroh Satrio

Academic year: 2023

Membagikan "2548 3250 1 PB Jurnal Indonesia"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pemberian Latihan Intensitas Sedang untuk Manajemen Kesehatan Kardiovaskuler pada Mencit Obesitas

Rama Agung Prakasa1, Khairun Nisa2, Tri Umiana Soleha3, Agustyas Tjiptaningrum4

1Mahasiswa Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

2Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

3Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

4Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak

Obesitas merupakan suatu kondisi abnormal tubuh dimana terjadi penumpukan lemak berlebih pada jaringan adiposa tubuh, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan berupa dislipidemia dan penyakit kardiovaskuler. Latihan fisik merupakan suatu upaya dalam menangani obesitas. Latihan fisik memiliki pengaruh yang baik terhadap tubuh, terutama dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler. Penelitian ini meneliti tentang pemberian latihan intensitas sedang terhadap penurunan kadar trigliserida dan peningkatan kadar high density lipoprotein (HDL) pada mencit obesitas.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium menggunakan posttest control group design. Penelitian dilakukan selama 35 hari. Sampel berupa mencit jantan dengan jumlah 36 sampel dibagi dalam 3 kelompok penelitian yaitu kelompok kontrol normal (K), kelompok kontrol obesitas (K2), kelompok perlakuan (P1) mencit obesitas + latihan intensitas sedang. Hasil uji analisis menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kelompok pemeriksaan trigliserida (p=0,027) dan kelompok pemeriksaan HDL (p=0,001). Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok K1 dengan kelompok K2 pada pemeriksaan trigliserida (p=0,042) dan perbedaan bermakna antara kelompok K2 dengan kelompok P1 pada pemeriksaan HDL (p=0,001). Latihan intensitas sedang tidak dapat menurunkan kadar trigliserida, namun dapat meningkatkan kadar HDL pada mencit obesitas. Berdasarkan hasil tersebut latihan dapat membantu dalam pencegahan penyakit kardiovaskuler.

Kata kunci : High density lipoprotein, kardiovaskuler, latihan intensitas sedang, obesitas, trigliserida.

Moderate Intensity Excercise as Cardiovascular Health Management in Obese Mice

Abstract

Obesity is an abnormal condition where there is an excess of lipid accumulation in adipose tissue, causing the occurrence of health problems, which is dyslipidemia and cardiovascular disease. Physical exercise is an effort in dealing with obesity.

Physical exercise has a good effect on the body, especially in the prevention of cardiovascular disease. This study investigated the provision of moderate intensity exercise to decreased triglyceride levels and elevated levels of high density lipoprotein (HDL) in obesity mice. This study is an experimental laboratory study using posttest control group design. The study was conducted for 35 days. Samples of 36 male mice were divided into 3 groups: normal control group (K), obesity control group (K2), treatment group (P1) obesity mice + medium intensity exercise. The results of the analysis showed significant differences in the triglyceride examination group (p = 0.027) and the HDL examination group (p = 0.001). There were significant differences between K1 group and K2 group on triglyceride examination (p = 0,042) and significant difference between group K2 and group P1 on HDL examination (p = 0,001). Moderate intensity exercise can not lower triglyceride levels, but can increase HDL levels in obesity mice. Based on these results, exercise can help in the prevention of cardiovascular disease.

Keywords : Cardiovascular, high density lipoprotein, moderate intensity exercise, obesity, triglyceride.

Korespondensi : Rama Agung Prakasa, jln. Abdul Muis Perumahan Griya Annisa Estate 2 No. 210 Gedong Meneng Rajabasa Bandar Lampung, HP 082185973080, email [email protected].

Pendahuluan

Obesitas merupakan kondisi abnormal dimana terjadi penumpukan lemak berlebih pada jaringan adiposa tubuh, menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan.1 Gangguan

kesehatan ini terus meningkat di negara berkembang yang sedang mengalami perubahan pola diet akibat urbanisasi dan modernisasi.2 Seiring dengan peningkatan kejadian obesitas secara global, peningkatan

(2)

risiko terjadinya penyakit komorbid yang menyertai juga terjadi.3

Berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi obesitas pada dewasa usia

>18 tahun di Indonesia sebesar 21,8%

dibandingkan tahun 2013 sebesar 14,8%.

Prevalensi kejadian obesitas sentral pada tahun 2018 sebesar 31% lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 26,6%.

Data terbesar penderita obesitas didapatkan pada daerah kota yang padat penduduk.4 Prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas pada tahun 2013 adalah 19,7%, lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%) sedangkan prevalensi obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) adalah 32,9%, naik 18,1% dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5%

dari tahun 2010 (15,5%).5

Tingginya angka kejadian obesitas berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit komorbid, diantaranya adalah penyakit kardiovaskuler, diabetes tipe 2, hipertensi, kanker, dan sleep apnea. Obesitas atau overweight dapat mempengaruhi fungsi jantung melalui faktor risiko yang disebabkan, seperti dislipidemia, hipertensi, intoleransi glukosa, dan hipoventilasi.6

Dislipidemia yang diakibatkan oleh obesitas memiliki komposisi low-density lipoprotein (LDL) yang tidak normal, penurunan kadar high-density lipoprotein (HDL), peningkatan kadar trigliserida, dan kadar free fatty acid (FFA) plasma yang tinggi.7 Keadaan tersebut dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler terutama penyakit jantung koroner.8

Salah satu upaya untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi pada obesitas adalah dengan melakukan latihan fisik.Latihan fisik memiliki fungsi protektif terhadap jantung dan meningkatkan kapasitas aerobik.

Latihan fisik memiliki efek jangka panjang pada kontrol terhadap faktor risiko dan penyakit kardiovaskuler, dan telah menunjukkan adanya penurunan mortalitas dan kejadian berulang penyakit jantung.9

Merupakan suatu fakta yang kuat bahwa latihan berhubungan dengan prognosis yang baik terkait perkembangan penyakit kardiovaskuler dan mortalitasnya .10 Hal inilah

yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian latihan intensitas sedang terhadap perubahan kadar profil lipid pada mencit obesitas sebagai pengembangan ilmu lanjut dalam modifikasi faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

Metode

Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian eksperimental laboratorium menggunakan posttest control group design.

Penelitian ini dilakukan selama 36 hari.

Sampel yang digunakan adalah hewan coba mencit jantan. Pada penelitian ini terdapat 3 kelompok penelitian, yaitu kelompok kontrol normal (K), kelompok kontrol obesitas (K2), kelompok perlakuan (P1) mencit obesitas + latihan intensitas sedang. Jumlah sampel yang digunakan adalah 9 sampel tiap kelompok.

Untuk menghindari drop out maka sampel yang dibutuhkan sebanyak 10 sampel, sehingga total sampel yang digunakan adalah 30 sampel. Pemeriksaan kadar trigliserida dan HDL dilakukan dengan metode GPO dan metode direct.

Subyek penelitian diaklimatisasi selama tujuh hari di laboratorium hewan coba dan diberi pakan ad libitum. Setelah proses adaptasi, semua subyek penelitian ditimbang berat badannya untuk dibagi kedalam tiga kelompok. Kelompok kontrol normal (K1) dan kelompok kontrol positif (K2) diberi pakan ad libitum kemudian di observasi selama satu bulan, sedangkan kelompok perlakuan (P1) diberi pakan ad libitum dan perlakuan latihan intensitas sedang.

Pemberian latihan intensitas sedang pada kelompok perlakuan 1 (P1) menggunakan protokol Souza dkk. Latihan fisik dilakukan dalam dua tahapan yaitu tahapan adaptasi dan tahapan latihan inti.

Tahapan adaptasi dilakukan selama 7 hari, dengan durasi 10 menit setiap hari dengan kecepatan 5 meter/menit.11 Latihan inti dilakukan pada minggu kedua dengan intensitas sedang (50% sampai 70% kecepatan lari maksimal), dimulai dari tahapan pemanasan selama 10 menit dengan kecepatan 5 meter/menit, dilanjutkan dengan

(3)

tahapan inti dengan kecepatan yang ditingkatkan secara bertahap setiap minggunya mulai dari 5 meter/menit sampai 20 meter/menit, kemudian dilanjutkan dengan tahapan pendinginan selama 10 menit dengan kecepatan 5 meter/menit.12

Tahapan inti diberikan dengan kecepatan 5 meter/menit selama 30 menit pada minggu pertama, ditingkatkan menjadi 11 meter/menit dengan waktu 30 menit pada minggu kedua, lalu ditingkatkan kembali menjadi 14 meter/menit dengan waktu 45 menit pada minggu ketiga, dan terakhir ditingkatkan kecepatannya sampai 20 meter/menit dengan durasi 1 jam pada minggu keempat. Latihan inti dilakukan diatas alat treadmill dengan interval antar latihan selama 1 hari, dilakukan sampai 5 hari dalam seminggu.12

Setelah pemberian latihan intensitas sedang selama 36 hari, kemudian diambil sampel darah hewan coba dan dilakukan pemeriksaan kadar trigliserida dan HDL.

Pemeriksaan kadar trigliserida menggunakan metode GPO dan pemeriksaan kadar HDL dengan metode direct. Hasil pemeriksaan kemudian dianalisis dengan uji One-Way ANOVA, dilanjutkan dengan uji PostHoc Bonferroni.

Hasil

Data rerata hasil pemeriksaan kadar trigliserida dan kadar HDL pada tiap kelompok dapat dilihat pada tabel 1. Dari data tersebut didapatkan hasil rerata kadar trigliserida tertinggi yaitu pada kelompok kontrol positif (K2) dengan hasil 86 ± 28,062 mg/dL, sedangkan hasil terendah yaitu pada kelompok kontrol normal (K1) dengan hasil 57,33 ± 22,057 mg/dL. Rerata kadar HDL tertinggi didapatkan pada kelompok perlakuan 1 (P1) yaitu sebesar 91,78 ± 15,442 mg/dL, sedangkan hasil terendah yaitu pada kelompok kontrol positif (K2) yaitu 63,22 ± 15,442 mg/dL.

Tabel 1. Rerata Kadar Trigliserida dan HDL Tiap Kelompok

Ke lompok

Rerata Profil Lipid ± SD (mg/dL)

Trigliserida HDL

K1 57,33 ±

22,057

76,78 ± 11,519

K2 86 ± 28,062 63,22 ±

14,412

P1 60,44 ±

17,444

91,78 ± 15,442

Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji One-Way ANOVA.

Sebelum uji One-Way ANOVA, dilakukan uji normalitas, hasilnya dapat dilihat pada tabel 2. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa kedua data terdistribusi normal sehingga dapat diteruskan dengan uji One-Way ANOVA. Dilakukan uji homogenitas terlebih dahulu yang hasilnya ditunjukkan pada tabel 3. Berdasarkan hasil pada tabel 3 didapatkan kedua data homogen. Hasil uji One-Way ANOVA dapat dilihat pada tabel 4. Hasil kedua data menunjukkan p<0,05 pada kedua kelompok data, dimana kadar trigliserida menunjukkan signifikansi p=0,027 dan kadar HDL menunjukkan angka p=0,001. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan latihan intensitas sedang bermakna secara statistik terhadap penurunan kadar trigliserida dan peningkatan kadar HDL. Data hasil pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan uji posthoc Bonferroni. Hasil uji posthoc Bonferroni dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 2. Uji Normalitas

Tabel 3. Uji Homogenitas

Profil Lipid P

Kadar Trigliserida ,149

Kadar HDL ,583

Tabel 4. Uji One-Way ANOVA

Profil Lipid p

Kadar Trigliserida ,027

Kadar HDL ,001

Hasil potshoc Bonferroni, dimana pada variabel kadar trigliserida terdapat perbedaan yang bermakna pada kelompok kontrol normal (K1) dengan kelompok kontrol positif (K2), dengan nilai signifikansi p=0,042. Pada kadar HDL didapatkan perbedaan yang

Kelompok P

Trigliserida HDL

K1 ,088 ,882

K2 ,361 ,408

K3 ,826 ,452

(4)

bermakna pada kelompok kontrol positif (K2) dengan kelompok perlakuan 1 (P1), dengan nilai signifikansi p=0.001.

Tabel 5. Uji Posthoc Bonferroni Variabel Perbandingan

Kelompok

p Kadar

Trigliserida

K1 dengan K2 ,042

K1 dengan P1 1,000

K2 dengan P1 ,080

Kadar HDL K1 dengan K2 ,148

K1 dengan P1 ,093

K2 dengan P1 ,001

Pembahasan

Hasil analisis univariat didapatkan hasil rerata trigliserida pada kelompok kontrol normal (K1) sebesar 57,33 ± 22,057, sedangkan pada kelompok kontrol positif (K2) sebesar 86 ± 28,062, dan kelompok perlakuan 1 (P1) sebesar 60,44 ± 17,444. Sedangkan, untuk rerata kadar HDL didapatkan kelompok kontrol normal (K1) sebesar 76,78 ± 11,519, kelompok kontrol positif (K2) sebesar 63,22 ± 14,412, dan kelompok perlakuan 1 (P1) sebesar 91,78 ± 15,442. Terdapat perbedaan antara mencit yang normal dan obesitas, dimana terdapat adanya peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kadar HDL. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Shaodong dkk, dimana didapatkan adanya peningkatan kadar trigliserida dan penurunan kadar HDL pada tikus dengan perlakuan diet tinggi lemak selama 28 hari.13

Kadar trigliserida yang lebih tinggi pada penderita obesitas dapat disebabkan karena penurunan tingkat ekspresi mRNA dari LPL di jaringan adiposa dan menurunnya aktivitas LPL di otot rangka.14 Selain itu, peningkatan sintesis dari VLDL pada hati, dapat menghambat lipolisis kilomikron yang akan menyebabkan keadaaan hipertrigliseridemia.15 Hal ini menjelaskan hasil penelitian adanya peningkatan kadar trigliserida pada sampel obesitas dibandingkan dengan sampel normal.

Keadaan tersebut juga lebih jauh akan memicu pertukaran dari trigliserida terhadap

kolesterol ester antara VLDL dan lipoporotein, yang kemudian akan menyebabkan penurunan konsentrasi kolesterol HDL dan reduksi dari konten trigliserida dalam LDL.7 Partikel VLDL bebas mengalami pertukaran secara enzimatik dengan partikel lipoprotein lain seperti HDL dan LDL, melalui cholesteryl ester transfer protein (CETP). Ketika partikel lipoprotein kaya trigliserida terpapar dengan lipase lainnya, maka partikel HDL akan menjadi lebih kecil dan mengalami metabolisme dan ekskresi oleh ginjal, sehingga hal ini dapat mengurangi kadar HDL dalam darah.15 Kadar HDL dalam penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan, dimana kadar HDL pada kelompok mencit normal lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok mencit obesitas.

Hasil analisis statistik dengan uji One- Way ANOVA menunjukkan nilai signifikasi pada kadar trigliserida p = 0,027 dan kadar HDL dengan nilai p = 0,001. Keduanya memiliki nilai signifikasi p<0,05 yang berarti bahwa latihan intensitas sedang memiliki pengaruh terhadap kadar trigliserida dan HDL. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan trigliserida antara kelompok kontrol positif (K2) dengan kelompok perlakuan 1 (P1), yaitu didapatkan adanya penurunan kadar trigliserida meskipun secara analisis statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna, dengan nilai signifikasi antara kelompok kontrol positif (K2) dengan kelompok perlakuan 1 (P1) sebesar p=0,08. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kannan dkk pada orang dewasa dengan obesitas, didapatkan hasil penurunan trigliserida dan peningkatan HDL pada kelompok yang diberi latihan intensitas sedang dengan nilai p<0,05 yang signifikan.16

Latihan kontinyu diketahui dapat meningkatkan aktivitas dari AMP-activated protein kinase (AMPK) di hati pada tikus.

Peningkatan aktivitas tersebut dapat mengarah ke penurunan aktivitas acetyl-CoA carboxylase (ACC) dan peningkatan aktivitas malonyl-CoA decarboxylase. Hal tersebut secara teori akan menyebabkan asam lemak lebih mengarah ke oksidasi dan menjauhi

(5)

proses esterifikasi menjadi trigliserida. Namun pada penelitian ini, tidak didapatkan penurunan yang bermakna dari latihan intensitas sedang terhadap penurunan kadar trigliserida. Pada penelitian oleh Tuazon dkk (2017) yang meneliti tentang pengaruh latihan terhadap sekresi trigliserida hepatik dengan menggunakan tikus, didapatkan bahwa tidak ada efek bermakna dari pemberian latihan interval intensitas berat terhadap sekresi trigliserida hepatik pada tikus laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan hasil pada kedua jenis kelamin ini disebabkan karena adanya perbedaan kadar ekspresi dari enzim metabolik yang terlibat.17

Salah satu mekanisme yang dapat mempengaruhi tingginya kadar trigliserida dalam tubuh adalah mekanisme resistensi insulin pada obesitas. Adanya gangguan pada proses pengiriman sinyal insulin terutama di hati, akan menyebabkan peningkatan lipolisis jaringan adiposa, sehingga meningkatkan pengiriman asam lemak ke hati dan menyebabkan peningkatan esterifikasi hepatik dari asam lemak untuk menghasilkan trigliserida. Resistensi insulin pada hati, dimana terjadinya kegagalan dari insulin untuk menekan produksi glukosa hepatik, sehingga terus menstimulasi lipogenesis, menyebabkan hyperglycemia, hyperlipidemia, dan steatosis hepatik.18

Tingginya kadar trigliserida meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Pada penelitian yang dilakukan oleh Lee dkk (2017) diapatkan hasil pada kelompok dengan kadar trigliserida yang tinggi meningkatkan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler sebesar 19% dibandingkan dengan kelompok yang normal.19 Pada Framingham Heart Study dilaporkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kada trigliserida dengan jaringan adiposa abdominal subkutan dan jaringan adiposa viseral pada laki-laki dan wanita dengan rata- rata usia 50 tahun. Jaringan adiposa viseral lebih berkontribusi dalam peningkatan kadar trigliserida dibandingkan dengan jaringan adiposa subkutan. Berlebihnya lemak viseral pada pasien akan meningkatkan kadar FFA pada hati melalui sirkulasi porta, dan

peningkatan ini akan berkontribusi pada sekresi VLDL. Sebagai hasilnya, akan terjadi deposisi lemak ektopik pada otot, hati, dan miokardium.20

Hipertrigliseridemia dihasilkan dari peningkatan produksi atau katabolisme dari triglyceride-rich lipoprotein (TRL) yang mempengaruhi metabolisme dan komposisi dari LDL dan HDL. Peningkatan VLDL akan merangsang CETP dan meningkatkan trigliserida pada LDL dan HDL. Konten trigliserida dalam partikel tersebut kemudian dihidrolisis oleh hepatic triglyceride lipase (HTGL) membentuk small-dense LDL dan partikel HDL. Peningkatan partikel aterogenik tersebut akan meningkatkan risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskuler.20 Selain itu, TRL dapat diambil langsung oleh makrofag untuk kemudian akan membentuk plak aterosklerosis, dimana partikel LDL perlu dimodifikasi melalui oksidasi untuk diambil oleh makrofag.21

Pada penelitian yang dilakukan oleh Trombold dkk, didapatkan bahwa latihan dengan intensitas yang lebih berat akan memberikan efek yang lebih signifikan dibandingkan dengan latihan dengan intensitas sedang terhadap kadar trigliserida.

Penggunaan energi yang lebih melalui oksidasi glikogen otot terjadi pada latihan intensias tinggi dibandingkan dengan intensitas sedang.

Hal ini menyebabkan pengosongan glikogen yang lebih cepat, sehingga pemecahan lemak sebagai energi akan lebih besar, dan berkontribusi pada penurunan kadar trigliserida yang lebih tinggi dibandingkan dengan latihan intensitas sedang.22 Hal ini menjelaskan hasil pada penelitian ini dimana kadar trigliserida pada mencit obesitas yang diberi latihan intensitas sedang lebih rendah dibandingkan dengan mencit obesitas yang tidak diberi latihan intensitas sedang, namun tidak bermakna secara statistik karena penurunan kadar trigliserida yang tidak lebih signifikan seperti pada latihan intensitas berat.

Hasil analisis dari pengaruh latihan intensitas sedang terhadap peningkatan kadar HDL didapatkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol positif (K2) dengan kelompok perlakuan 1 (P1),

(6)

dengan nilai signifikasi p = 0,001. Hal tersebut menunjukkan bahwa latihan intensitas sedang mampu meningkatkan kadar HDL pada mencit obesitas, seperti pada penelitian Shaodong dkk (2013), dimana tikus yang telah diberi latihan memiliki kadar HDL yang lebih tinggi dibanding tikus obesitas. Kadar HDL lebih sensitif terhadap latihan aerobik dibandingkan dengan kadar LDL dan trigliserida. Pada penelitian oleh Králová Lesná dkk didapatkan bahwa latihan mampu meningkatkan efluks kolesterol sebanyak 1,8% setelah 9 minggu.23 Mekanisme tidak langsung latihan mempengaruhi kadar HDL melalui peningkatan dari bioavailabilitas nitric oxide (NO), yang dapat mengurangi modifikasi oksidatif dari HDL, sehingga meningkatkan fungsinya. Latihan mampu meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase (LPL), dimana peningkatan aktivitas enzim tersebut berhubungan dengan pematangan dari partikel HDL. Pada berbagai penelitian didapatkan durasi dari latihan ditemukan sebagai faktor penentu yang penting dalam peningkatan kadar HDL. Peningkatan kadar HDL bervariasi pada setiap intensitas, frekuensi dan durasi dari latihan.24

Kadar HDL mencegah oksidasi dari LDL pada keadaan normal, namun pada keadaan yang patologis, seperti stres oksidatif, inflamasi, dan diabetes, HDL mengalami perubahan struktural dan kehilangan sifat antiaterosklerotik dan fungsi anti- inflamasinya, sehingga membentuk HDL disfungsional. Ketika kadar HDL menurun atau fungsinya terganggu, akan menyebabkan berbagai perubahan yang dapat merusak ginjal yang diobservasi melalui pembuluh darah. Ketika fungsi ginjal menurun, maka kadar atau fungsi HDL juga ikut menurun, sehingga pada pasien gagal ginjal kronik dengan gangguan distribusi HDL akan lebih berisiko untuk terjadi penyakit kardiovaskuler.

Obesitas dengan penurunan kadar HDL-C juga menyebabkan disfungsi HDL-C, dimana keadaan ini akan mempercepat terbentuknya lesi aterosklerotik pada karotis.25

Latihan dapat meningkatkan kadar HDL, dan memperbaiki disfungsi HDL itu sendiri.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Roberts

dkk menunjukkan bahwa kadar HDL disfungsional lebih rendah pada kelompok yang melakukan latihan dibandingkan dengan kelompok yang tidak melakukan latihan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa risiko dari gagal jantung dari obesitas akan berbeda bergantung pada kuatnya latihan. Aplikasi dari program latihan dapat efektif dalam menurunkan risiko dari penyakit kardiovaskuler dengan memperkuat fungsi anti-inflamasi dari HDL.25

Simpulan

Latihan intensitas sedang dapat meningkatkan kadar HDL pada mencit obesitas, namun latihan intensitas sedang tidak dapat menurunkan kadar trigliserida.

Hasil pemeriksaan kadar trigliserida didapatkan rerata pada kelompok kontrol normal (K1) sebesar 57,33 ± 22,057 mg/dl, pada kelompok kontrol positif (K2) sebesar 86

± 28,062 mg/dl, dan pada kelompok perlakuan 1 (P1) sebesar 60,44 ± 17,444 mg/dl. Hasil pemeriksaan kadar HDL didapatkan rerata pada kelompok kontrol normal (K1) sebesar 76,78 ± 11,519 mg/dl, pada kelompok kontrol positif (K2) sebesar 63,22 ± 14,412 mg/dl, dan pada kelompok perlakuan 1 (P1) sebesar 91,78 ± 15,442 mg/dl.

Latihan dengan intensitas sedang dapat membantu dalam mencegah dari terjadinya penyakit kardiovaskuler. Mekanisme perubahan pada profil lipid melalui latihan ini dapat mencegah untuk terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah, sehingga akan memberikan efek protektif terhadap kardiovaskuler terutama pada pasien-pasien dengan obesitas.

Berdasarkan simpulan diatas, peneliti memberi saran untuk penelitian selanjutnya dapat meniliti variabel-variabel lain yang dapat mendukung peneltian ini. Dapat juga dilakukan pengaruh kombinasi latihan dengan diet terhadap perubahan profil lipid.

Daftar Pustaka

1. Berawi KN, Hadi S, Lipoeto NI, Wahid I, Jamsari. Dyslipidemia incidents between general obesity and central obesity of

(7)

employees with obesity at universitas lampung. Biomed Pharmacol J. 2018;

11(1):201–7.

2. Popkin BM, Adair LS, Ng SW. NOW AND THEN: The Global Nutrition Transition:

The Pandemic of Obesity in Developing Countries. 2013; 70(1):3–21.

3. Segula D. Complications of obesity in adults: a short review of the literature.

Malawi Med J. 2014; 26(1):20–4.

4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Hasil Utama Riskesdas 2018.Lap Nas 2018. 2018; 1-88.

5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Lap Nas 2013. 2013;

:1–384.

6. Poirier P, Giles TD, Bray GA, Hong Y, Stern JS, Pi-Sunyer FX, et al. Obesity and cardiovascular disease: Pathophysiology, evaluation, and effect of weight loss.

Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2006;

26(5):968–76.

7. Jung U, Choi M-S. Obesity and Its Metabolic Complications: The Role of Adipokines and the Relationship between Obesity, Inflammation, Insulin Resistance, Dyslipidemia and Nonalcoholic Fatty Liver Disease. Int J Mol Sci. 2014; 15(4):6184–223.

8. Lavie CJ, Milani R V., Ventura HO. Obesity and Cardiovascular Disease. Risk Factor, Paradox, and Impact of Weight Loss. J Am Coll Cardiol. 2009; 53(21):1925–32.

9. Perez-Terzic CM. Exercise in cardiovascular diseases. PM R. 2012;

4(11):867–73.

10. Lind L, Carlsson AC, Siegbahn A, Sundström J, Ärnlöv J. Impact of Physical Activity on Cardiovascular Status in Obesity. 2016; .

11. Satria D, Yus TM, Rezeki S, Fisiologi B, Kedokteran F, Syiah U, et al. Pengaruh Latihan Fisik Teratur terhadap Kadar Glukosa Darah dan Hubungannya dengan Kadar Testosteron Total pada Tikus Model Diabetes Effects of Regular Physical Exercise on Blood Glucose Levels and Its Relationship to Total Testosterone Levels in Diabetic. 2013;

47(1):16–21.

12. Souza SBC, Flues K, Paulini J, Mostarda C, Rodrigues B, Souza LE, et al. Role of exercise training in cardiovascular autonomic dysfunction and mortality in diabetic ovariectomized rats.

Hypertension. 2007; 50(4):786–91.

13. Shaodong C, Haihong Z, Manting L, Guohui L, Zhengxiao Z, Ym Z. Research of influence and mechanism of combining exercise with diet control on a model of lipid metabolism rat induced by high fat diet. Lipids Health Dis. 2013; 12(21):1-4.

14. Klop B, Elte JWF, Cabezas MC.

Dyslipidemia in Obesity: Mechanisms and Potential Targets. Nutrients. 2013;

5:1218–40.

15. Kotsis V, Antza C, Doundoulakis G, Stabouli S. Obesity , Hypertension , and Dyslipidemia. Obesity, Endocrinol. 2017;

4:1–15.

16. Kannan U, Vasudevan K, Balasubramaniam K, Yerrabelli D, Shanmugavel K, John NA. Effect of exercise intensity on lipid profile in sedentary obese adults. J Clin Diagnostic Res. 2014; 8(7):8–10.

17. Tuazon MA, Mcconnell TR, Wilson GJ, Anthony TG, Henderson GC. Intensity- dependent and sex-specific alterations in hepatic triglyceride metabolism in mice following acute exercise. 2017; (40):61–

70.

18. Samuel VT, Shulman GI. The pathogenesis of insulin resistance : integrating signaling pathways and substrate flux. 2016; 126(1).

19. Lee JS, Chang P, Zhang Y, Kizer JR, Best LG, Howard B V. Triglyceride and HDL-C Dyslipidemia and Risks of Coronary Heart Disease and Ischemic Stroke by Glycemic Dysregulation Status : The Strong Heart Study. 2017; :1–9.

20. Miller M, Stone NJ, Ballantyne C, Bittner V, Criqui MH, Ginsberg HN, et al.

Triglycerides and cardiovascular disease:

A scientific statement from the American Heart Association. Circulation. 2011;

123(20):2292–333.

21. Nordestgaard BG. Triglyceride-Rich

(8)

Lipoproteins and Atherosclerotic Cardiovascular Disease: New Insights from Epidemiology, Genetics, and Biology. Circ Res. 2016; 118(4):547–63.

22. Trombold JR, Christmas KM, Machin DR, Kim I, Coyle EF. Acute high-intensity endurance exercise is more effective than moderate-intensity exercise for attenuation of postprandial triglyceride elevation. J Appl Physiol. 2013; 114:792–

800.

23. Wang Y, Xu D. Effects of aerobic exercise on lipids and lipoproteins. Lipid Heal Dis.

2017; 16(132):1–8.

24. Blazek A, Rutsky J, Osei K, Maiseyeu A, Rajagopalan S. Exercise-mediated changes in high-density lipoprotein : Impact on form and function. Am Heart J.

2013; 166(3):392–400.

25. Ahn N, Kim K. High-density lipoprotein cholesterol (HDL-C) in cardiovascular disease: effect of exercise training. Integr Med Res. 2016; 5(3):212–5.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efek propolis terhadap penurunan kadar trigliserida pada tikus galur Wistar jantan yang diinduksi diet tinggi lemak.. 1.4

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipoprotein, yang bermanifestasi pada peningkatan kadar total kolesterol, trigliserida, dan LDL, serta penurunan kadar HDL. Kadar

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar trigliserida tikus wistar jantan setelah diberikan diet tinggi lemak, mengetahui besar perubahan kadar trigliserida

PENGARUH PEMBERIAN SAMBILOTO (ANDROGRAPHIS PANICULATA NESS) TERHADAP KADAR KOLESTEROL HDL, LDL, DAN TRIGLISERIDA PADA TIKUS SPRAGUE DAWLEY YANG DIBERI PERLAKUAN

Perbedaan rata-rata penurunan kadar glukosa darah tikus hiperglike mia pada kelo mpok perlakuan dengan kadar asam klorogenat berbeda namun lama perebusan sama,

Pada penderita obesitas, terjadi suatu peningkatan kadar trigliserida (TG) dan kadar trigliserida yang tinggi dapat menurunkan kadar HDL dan meningkatkan kadar LDL (Singh et

kadar kolesterol HDL pada tikus putih ( Rattus norvegicus) yang diberikan diet

Pengaruh Pemberian Vitamin A terhadap Peningkatan Kadar HDL High Density Lipoprotein Tikus Putih Rattus Norvegicus Strain Wistar Model Diabetes Melitus Tipe 2 yang Diberikan Diet Tinggi