Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka secara umum penelitian ini ingin mengungkap strategi pengembangan budaya religius di SMK Negeri 1 Ponorogo. SMK Negeri 1 Ponorogo banyak mempunyai kegiatan keagamaan yang merupakan bagian dari budaya keagamaan yang ada.7.
Metode Analisis Data
Penyajian data adalah penyajian data dalam bentuk uraian singkat, peta hubungan antar kategori dan sejenisnya. Dengan menampilkan data maka akan lebih mudah untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang dipahami.16 Penyajian data ini mencakup strategi pengembangan budaya keagamaan sekolah.
Pengecekan Keabsahan Data
Jenis teknik triangulasi yang ketiga adalah menggunakan penelitian atau observasi lain untuk memeriksa derajat keandalan data. Teknik triangulasi yang keempat adalah teori, menurut Lincoln dan Guba dalam Lexy, didasarkan pada asumsi bahwa beberapa fakta tidak dapat diperiksa derajat keyakinannya dengan satu atau lebih teori.18.
Tahap-Tahap Penelitian
Pada fase ini, penulis menganalisis data yang dikumpulkan dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada tahap ini, penulis menyajikan temuan penelitian secara sistematis agar pembaca dapat memahami dan mengikuti alurnya.
Sistematika Pembahasan
Bab ini berisi tentang gambaran kegiatan pengembangan budaya keagamaan di SMKN 1 Ponorogo.
Religius
Pengertian Religius
Agama ialah segala tingkah laku manusia yang terpuji yang dilakukan untuk mendapatkan keredhaan Allah SWT.23 Dengan kata lain, agama boleh meliputi segala tingkah laku manusia dalam kehidupan. Perilaku itu akan membentuk manusia seutuhnya yang berakhlak mulia (akhlaqul karimah) berdasarkan kepercayaan atau keimanan kepada Allah SWT.
Nilai-Nilai Religius
Nilai-nilai agama merupakan nilai-nilai spiritual yang tertinggi dan mutlak, nilai-nilai agama tersebut bersumber dari keyakinan atau kepercayaan manusia. Nilai-nilai keagamaan dapat diajarkan kepada siswa melalui kegiatan sekolah yang bersifat religius.
Dimensi-Dimensi Religius
Antara dimensi akidah ialah kepercayaan tentang Tuhan, malaikat, nabi/rasul, kitab-kitab Tuhan, syurga dan neraka, dan qadha dan qadar Tuhan. Dimensi ini menunjukkan tahap ketaatan umat Islam dalam melaksanakan aktiviti ritual seperti yang diperintahkan dan dianjurkan oleh agama mereka. Antara dimensi amalan agama ialah solat, puasa, zakat, korban, haji, membaca al-Quran, solat, zikir, iktikaf di masjid pada bulan puasa, dan sebagainya.
Wujud dari dimensi pengalaman tersebut diantaranya adalah berdoa, merasa selalu ditolong oleh Tuhan, berbaring dalam rasa syukur, dan lain sebagainya. Wujud dari dimensi ilmu agama tersebut diantaranya adalah pengajian, pendampingan, pelajaran agama di kelas, membaca kitab agama, diskusi keagamaan. Dimensi praktik atau konsekuensi ini mengacu pada identifikasi konsekuensi dari keyakinan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan agama.
Dimensi amalan menunjukkan bagaimana umat Islam berperilaku yang dilatarbelakangi oleh ajaran agamanya, yaitu bagaimana individu mampu berhubungan dengan dunianya, khususnya dengan orang lain. Wujud dari dimensi amalan tersebut diantaranya adalah kedisiplinan, ketaatan, ketertiban, bertindak jujur, saling menghormati, menjaga lingkungan, tidak meminum minuman beralkohol, menghormati norma-norma Islam dalam perilaku seksual.
Budaya Religius
- Pengertian Budaya Religius di Sekolah
- Unsur-Unsur Budaya
- Urgensi Penciptaan Budaya Religius
- Model Pengembangan Budaya Religius
Terlebih lagi, pada tataran Moral Action, agar siswa dapat belajar (kebiasaan), mempunyai kemauan dan kompeten (competence) dalam merealisasikan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan tersebut, maka perlu diciptakan suasana keberagamaan di sekolah maupun di luar sekolah. sekolah. Padahal, ada dimensi lain, yaitu dimensi lunak, yang meliputi nilai-nilai, kepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma perilaku yang disebut dengan sisi kemanusiaan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana keagamaan di sekolah adalah dari; Pertama, mengenalkan siswa pada nilai-nilai agama secara kognitif.
Pada tahap pertama ini, siswa hanya diajak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam agama sebatas berpikir. Isi peringatan hari besar keagamaan dengan kegiatan yang mendukung internalisasi nilai-nilai agama dan meningkatkan komitmen beribadah. Melengkapi bahan kajian mata pelajaran umum bernuansa keislaman yang relevan dengan nilai-nilai agama/dalil teks Alquran atau Hadist.
Spiritualitas atau religiusitas seseorang sangat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mewujudkan nilai-nilai agama dalam hidupnya. Model penciptaan suasana keagamaan sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di mana model tersebut akan diterapkan serta penerapan nilai-nilai yang mendasarinya.50.
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Tesis berjudul Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dalam Pembentukan Kepribadian Unggul Siswa SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo oleh Saudara Ahmad Niayatulloh, siswi STAIN Ponorogo Jurusan Tarbiyah Program Studi PAI tahun 2007. Penelitian Saudara Ahmad Nihayatulloh ini menyampaikan kesimpulan sebagai berikut: (1) Strategi implementasi pendidikan budaya dan karakter bangsa di SMA Muhammdiyah 1 Ponorogo meliputi:. strategi sosialisasi, strategi keteladanan dan strategi penegakan disiplin. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Niayatulloh hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, yaitu baik kajian atau penelitian tentang budaya sekolah.
Bedanya, jika penelitian Ahmad Niayatulloh tentang budaya dan pendidikan karakter di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, maka penelitian penulis lebih fokus pada pengembangan budaya religius di SMKN 1 Ponorogo. Skripsi berjudul Inkulturasi Nilai-Nilai Keagamaan Melalui Metode Pembiasaan (Studi Kasus di SMKN 1 Ponorogo), yang ditulis oleh Wahid Hariyanto, siswi STAIN Ponorogo Jurusan Tarbiyah Program Studi PAI tahun 2009. Penelitian yang dilakukan oleh kakak Wahid Hariyanto ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : (1) Latar belakang usaha. Enkulturasi nilai-nilai agama ini dikarenakan siswa SMKN 1 Ponorogo berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda-beda.
Namun penelitian ini juga mempunyai perbedaan, yaitu penelitian Wahid Hariyant lebih fokus pada upaya transfer budaya keagamaan dari siswa terdahulu ke siswa selanjutnya. Sedangkan penelitian ini lebih fokus pada pengembangan budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo.
Deskripsi Data Umum
- Sejarah Berdirinya SMK Negeri 1 Ponorogo
- Letak Geografis
- Visi, Misi dan Tujuan Sekolah
- Struktur Organisasi Sekolah
- Keadaan Guru dan siswa SMK Negeri 1 Ponorogo a. Keadaan guru
- Kurikulum SMK Negeri 1 Ponorogo
SMK Negeri 1 Ponorogo secara geografis terletak di tengah kota Ponorogo, tepatnya di Jl. Jendral Sudirman 10 Ponorogo atau tepatnya di selatan alon-alon Ponorogo. Visi SMK Negeri 1 Ponorogo adalah menjadi lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi yang berstandar nasional/internasional, berwawasan unggul, kompetitif dan profesional berbasis IMTAQ. Begitu pula dengan SMK Negeri 1 Ponorogo juga menjamin adanya kerjasama yang baik antar individu untuk menciptakan atau mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Untuk terjalinnya kerjasama yang baik dalam mewujudkan visi dan misi serta tercapainya tujuan pendidikan di SMK Negeri 1 Ponorogo, diperlukan suatu struktur organisasi yang mempunyai fungsi dan peranan tersendiri. Selain itu sekolah juga akan lebih mudah melaksanakan program yang direncanakan, mekanisme kerja, tanggung jawab dan tugas akan dapat terlaksana, karena struktur organisasi biasanya menunjukkan garis komando (instruksi) dan garis koordinasi antar jabatan.55. Tenaga pengajar dan kependidikan di SMK Negeri 1 Ponorogo berjumlah 116 orang, terdiri dari tenaga pengajar dan pegawai.
Jumlah siswa SMKN 1 Ponorogo pada tahun ajaran 2015/2016 secara keseluruhan adalah 1.501 siswa dengan rincian sebagai berikut kelas X berjumlah 523 siswa, kelas XI berjumlah 549 siswa, dan kelas XII berjumlah 360 siswa.57. Sekolah kejuruan negeri menyelenggarakan pendidikan dan penelitian dalam berbagai program keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Deskripsi Data Khusus
Dimensi Budaya Religius yang Dikembangkan di SMK Negeri 1 Ponorogo
Kemudian yang informal, misalnya dengan menciptakan suasana agar anak-anak sedikit banyak dapat menggunakan budaya keagamaan tersebut, misalnya dilakukan upaya dan dimungkinkannya salat zuhur berjamaah, dan sebagai lembaga sekolah berusaha memberikan representasi yang cukup. masjid, antara lain.58. Banyak agenda kerohanian yang diagendakan, salah satunya anak-anak ada imtaq, salat dzuhur berjamaah, lalu ada tausiyah, lalu di peringatan keagamaan memotivasi anak-anak untuk ikut serta, lalu ada berbagai lomba yang berkaitan dengan sentuhan. hati anak-anak agar keimanan mereka bertambah. Kalau pelajarannya formal, anak-anak harus berdoa sebelum belajar, dan juga berdoa sepulang sekolah. 61.
Mengingat mayoritas siswa di SMK Negeri 1 Ponorogo adalah perempuan, maka guru PAI sangat agresif dalam memotivasi siswa perempuannya untuk menutupi auratnya. Dalam hal ini pihak sekolah tidak mewajibkan siswinya berhijab, namun mayoritas siswi SMK Negeri 1 Ponorogo hampir 80% berhijab saat berangkat ke sekolah. Anak dilatih menjadi baik, dilatih disiplin dalam bentuk shalat, dalam bentuk kegiatan keagamaan, kesejahteraan rohani.
Kemudian siswa menjadi lebih disiplin dalam beribadah, sikap siswa SMK disini cukup baik dibandingkan SMK lainnya. Anak-anak ini sebagian besar juga memakai jilbab, hanya sedikit yang tidak, melainkan memakai gaun panjang.
Model Pengembangan Budaya Religius di SMK Negeri 1 Ponorogo Pengembangan budaya religius berarti bagaimana mengembangkan
Implementasi pengembangan budaya religius di SMK Negeri 1 Ponorogo diawali dengan perumusan program, peraturan dan kebijakan. Agar program, peraturan dan kebijakan tersebut terlaksana dan menjadi kebiasaan siswa SMK Negeri 1 Ponorogo. Agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan sesuai harapan, maka seluruh komponen di sekolah dilibatkan dalam pengembangan budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo dengan guru agama sebagai penanggung jawab utama.
Tujuan dan manfaat adanya budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo salah satunya adalah untuk melindungi siswi dari budaya dan pengaruh buruk. Proses penanaman nilai-nilai keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo melalui beberapa tahapan, yaitu tahap pengenalan, tahap pengarahan, dan tahap pembiasaan. Pada tahap pengenalan, siswa diperkenalkan dengan budaya keagamaan SMK Negeri 1 Ponorogo melalui kegiatan MOS atau pesantren.
Kemudian pada fase pembiasaan, budaya keagamaan yang disepakati diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, hal ini juga didukung oleh seluruh guru di SMK Negeri 1 Ponorogo. Hal yang mendasari berkembangnya budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo adalah adanya pemahaman bahwa pentingnya nilai-nilai agama harus ditanamkan kepada siswa melalui kegiatan dan adat istiadat di sekolah.
PEMBAHASAN
Dimensi Budaya Religius yang dikembangkan di SMK Negeri 1 Ponorogo Muhaimin menjelaskan bahwa religiusitas dapat diwujudkan dalam
Dalam hal ini pihak sekolah tidak mewajibkan siswinya berhijab, namun mayoritas siswi di SMK Negeri 1 Ponorogo hampir 80%. Misalnya di SMK Negeri 1 Ponorogo berawal dari kesepakatan antar guru PAI yang telah merumuskan nilai-nilai agama yang baik untuk dikembangkan nantinya. Di SMK Negeri 1 Ponorogo, pengembangan budaya keagamaan di sekolah memerlukan kerjasama yang baik antara guru, baik guru mata pelajaran agama maupun umum, serta siswa itu sendiri.
Oleh karena itu, agar dapat mencapai hasil yang maksimal dan sesuai dengan harapan, maka pengembangan budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo melibatkan seluruh komponen sekolah seperti yang telah dijelaskan oleh Muhaimin di atas, dengan guru agama sebagai penanggung jawab utama. Pengembangan budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo dilandasi oleh nilai-nilai kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu keimanan, ibadah, dan akhlak. Tujuan pengembangan budaya keagamaan di SMK Negeri 1 Ponorogo termasuk dalam makna kualitatif.
Jika peneliti mengkaji ulang, jika model struktural bersifat top-down, maka pengembangan kebudayaan di SMK Negeri 1 Ponorogo bersifat bottom-up. Dengan demikian berdasarkan model dan sifatnya, peneliti memperkirakan model yang digunakan di SMK Negeri 1 Ponorogo adalah mekanika bottom-up.
PENUTUP
Saran
Guru PAI harus selalu berkomitmen dalam menerapkan dimensi nilai-nilai keagamaan karena guru adalah teladan bagi siswanya. Dan guru selain PAI juga membantu menjaga keberlangsungan budaya keagamaan dengan ikut serta dalam pelaksanaan program yang telah dibuat. Pendidikan karakter: Konsep dan implementasi terpadu dalam lingkungan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat.